Minggu, 22 Agustus 2010

Jantung Kemanusiaan



Jantung Kemanusiaan


Oleh Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera


Sekarang kita telah memasuki bulan Februari, yang di dalam agama Buddha dikenal dengan sebutan bulan Magha. Pada saat bulan purnama sempurna di bulan Februari umat Buddha memperingati hari suci Magha.

Hari suci Magha merupakan hari yang sangat bersejarah, hari keramat bagi umat Buddha. Bersejarah, keramat, dan istimewa; karena hari suci ini ditandai dengan empat tanda istimewa, yaitu:

  1. Pada saat bulan purnama sempurna di bulan magha atau bulan Februari, 1250 bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat kesucian sempurna atau Arahat, datang bertemu di Veluvana Arama di kota Rajagaha.

  2. Keseribu dua ratus lima puluh bhikkhu yang kesemuanya telah mencapai Arahat tersebut, datang dari tempat yang berlain-lainan berkumpul ke Veluvana Arama di kota Rajagaha untuk menjumpai Sang Buddha, tanpa janji, tanpa musyawarah, tanpa persetujuan sebelumnya. Mereka datang serempak pada hari dan di tempat yang sama dengan spontan.

  3. Seribu dua ratus lima puluh bhikkhu tersebut, kesemuanya, pada waktu ditahbiskan sebagai bhikkhu, ditahbiskan langsung oleh Sang Buddha sendiri. Karena itu kesemuanya dikenal dengan sebutan Ehi Bhikkhu Upasampada, yang artinya: para bhikkhu yang ditahbiskan langsung oleh Sang Buddha sendiri.

  4. Pada kesempatan yang keramat dan istimewa ini, Sang Buddha membabarkan khotbah Tiga Bait yang merupakan inti dari Dhamma. Sari dari ajaran Beliau. Khotbah tiga bait ini terkenal sekali dengan sebutan Ovada patimokkha, Anjuran Penghayatan Dhamma. Apakah isinya? Pada kesempatan ini marilah kita ulangi dan kita renungkan bersama isi dan makna dari khotbah tiga bait tersebut. Demikianlah yang Sang Buddha babarkan:

Kesabaran adalah cara membina diri yang paling baik,
Buddha menyatakan, Nibbana - Kebebasan - adalah yang tinggi,
Bukanlah seorang petapa,
bukanlah seorang yang telah meninggalkan hidup keduniawian.

Bila mereka menyakiti atau menindas orang lain,
Menghindari semua perbuatan jahat,
Menambah kebaikan,
Membersihkan pikiran sendiri,
Inilah ajaran semua Buddha.

Tidak berbicara jahat, tidak menyakiti,
Mengendalikan diri sesuai dengan penghayatan Dhamma,
Makan sesuai dengan kebutuhan,
Tinggal di tempat yang tepat,
Berusaha meluhurkan pikiran,
Inilah ajaran semua Buddha

    "Menghindari semua perbuatan jahat, menambah kebaikan, membersihkan pikiran sendiri, inilah ajaran semua Buddha". Bait ini sungguh tersusun dari kalimat-kalimat yang sederhana. Namun, kalau kita mau merenungkan dalam-dalam, sesungguhnya kalimat-kalimat sederhana tersebut adalah jantung dari kemanusiaan. Jantung dan tuntutan setiap umat manusia di muka bumi ini. "Menghindari semua perbuatan jahat, menambah kebaikan; dan membersihkan pikiran sendiri".

    "Tidak berbuat jahat" adalah tuntutan semua ajaran agama. "Tidak berbuat jahat" adalah suara hati sanubari manusia yang paling murni dan paling dalam. Kejahatan adalah pembawa penderitaan bagi makhluk lain, bahkan penyebab utama bencana bagi dunia ini. Dan lebih dari pada itu, kejahatan adalah perusak kehidupan kita sendiri. Karena itu, janganlah kita berbuat jahat. "Jangan berbuat jahat" adalah permintaan kita kepada diri kita sendiri. Juga permintaan kita kepada setiap umat manusia. Kejahatan tidak pernah disetujui oleh hati nurani umat manusia. Kejahatan tidak pernah disetujui oleh hati nurani umat manusia. Kejahatan tidak pernah mendapat kompromi dari semua ajaran agama.

    Pada waktu Sang Buddha ditanya oleh Yakkha Alavaka, tentang apakah yang harus dibunuh; maka jawab Sang Buddha dengan tegas, “Kejahatan yang harus dibunuh!”. Dan yang paling utama, kejahatan dalam diri kita sendirilah yang harus kita bunuh.

    “Tambahlah kebaikan”, adalah tuntutan kuat bagi setiap umat manusia. Tuntutan dari semua ajaran agama. Dalam kehidupan ini berusahalah kita berbuat baik. Sekali lagi, berbuat baik. Berbuat baik dengan hati yang tulus. Berbuat baik hanya dengan tujuan, supaya orang lain mendapat kebaikan, dan kebaikan dalam diri kita sendiri menjadi bertambah. Karena kita sadar sesadar-sadarnya, bahwa hanya kebaikanlah yang akan membuat kita bahagia. Yang akan membuat kita mampu bertahan menghadapi segala macam problem dan ketegangan dalam kehidupan ini.

    Bahkan, bukan kekerasan, bukan pula kekuasaan, bukan peperangan, bukan materi; tetapi hanyalah kebaikan, kebaikan yang tulus, yang akan menciptakan perdamaian di bumi ini di manapun juga. Janganlah kita berbuat baik dengan pamrih yang lain, misalnya: pamrih materi, pamrih kedudukan, pamrih nama, pamrih itu dan ini, dan bermacam-macam pamrih rendah lainnya. Meskipun susah, berusahalah semampu mungkin menolong mereka yang membutuhkan pertolongan, mereka yang sedang menderita. Berusahalah menghibur mereka yang sedang sedih, bantulah mereka; dengan niat berbuat baik yang murni, tanpa embel-embel. Kebaikan inilah modal terbesar bagi kita untuk mencapai semua cita-cita luhur kita. Tanpa kebaikan, kehidupan kita akan cepat hancur.

    Kalau kita berusaha berbuat baik dengan setulus-tulusnya, maka kita pasti, merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan sejati, yang lain daripada kebahagiaan-kebahagiaan lainnya.

    Memang, dalam dunia ini, dalam kacamata materi, kebaikan itu kelihatan lemah. Kebaikan itu berbeda jauh dengan kekuasaan, dengan kegaiban, kekayaan, dan benda-benda dunia lainnya. Namun kebaikan mampu mengatasi segala-galanya. Meskipun kita, mungkin, pada suatu ketika terkena salah pengertian, ataupun fitnah, atau perbuatan-perbuatan jahat lainnya, hendaknya kita tetap teguh dalam niat baik kita yang tulus. Niat baik inilah yang akan mengangkat kehidupan kita dari semuanya itu.

    Memang susah untuk membuktikan secara teori, bahwa kebaikan yang kelihatan lemah mampu mengatasi kekerasan dan kejahatan. Tetapi kebenaran ini akan membuktikannya. Alangkah menyedihkan, bila di dunia ini sebagian besar umat manusia sudah tidak mempunyai keyakinan lagi terhadap kebaikan yang tulus dan murni. Alangkah menyedihkan, bila di dunia ini banyak di antara kita yang berbuat baik, tetapi baik hanya tampak luarnya saja, sedangkan di balik itu bersembunyi pamrih, pamrih nama. pamrih kedudukan, kemenangan, materi, dan seribu satu macam yang lain. Bila demikian, maka dunia kita ini akan dilanda krisis kebaikan.

    Di antara semuanya, kebaikanlah yang paling unggul. Di antara senjata, kebaikan senjata yang paling tajam. Di antara kekuatan, kebaikan kekuatan yang paling hebat. Di antara segala ilmu gaib, kebaikan adalah kesaktian yang paling ampuh. Di antara semua materi, kebaikan adalah kekayaan yang paling luhur. Di semesta alam ini, tidak ada yang bisa menaklukkan kebaikan. Meskipun dewa Brahma turun ke bumi, kebaikan tetap di atas segala-galanya.

    Seorang umat Buddha hendaknya selalu hidup dengan tenang menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari. Apapun bentuknya. Karena seorang umat Buddha, demikian juga kita semua, hendaknya selalu mempunyai keyakinan yang teguh kuat terhadap kebaikan. Kebaikan yang tulus dan murni. Seandainya, kita sudah di ujung maut; kalau kita masih mempunyai karma-karma baik, karma baik itulah yang akan menyelamatkan kita. Berbahagialah saudara yang tetap teguh di dalam kebaikan.

    Akhirnya, pada khotbah keramat dalam bait kedua tersebut Sang Buddha mengatakan, “Bersihkan pikiran sendiri”. Tidak berbuat jahat, dan selalu menambah kebaikan dengan niat yang tulus, adalah pangkal kebersihan pikiran. Pikiran ini harus kita bersihkan sendiri. Karena tidak seorang pun, sekalipun dewa, bisa membuat pikiran kita menjadi bersih. Dengan pikiran yang bersih kita akan bertahan dalam kehidupan ini. Breseri-seri di mana pun juga. Batin kita tenang dan cemerlang.

    Inilah tiga kalimat sederhana yang keramat dan suci, yang menjadi tuntutan suci sanubari setiap umat manusia. Jantung kemanusiaan, dan jalan kebahagiaan. “Menghindari semua perbuatan jahat, menambah kebaikan, membersihkan pikiran sendiri

[ Dikutip dari buku Kumpulan Dhammadesana, Sri Pannavaro Thera Jilid II ]

Jalur Kehidupan

Jalur Kehidupan
Oleh: Alm Yang Mulia Bhikkhu Girirakkhito Mahathera


Saya ingin memberi penjelasan kepada saudara-saudara, bahwa sebagai manusia, apalagi sebagai seorang umat beragama, akan baru bisa disebut mempunyai tujuan apabila di dalam hidup ini telah ada usaha kita untuk mencapai tujuan; dan tujuannya adalah mencapai kebebasan. Maksud dari mencapai kebebasan itu yaitu di dalam perjuangan hidup kita sebagai manusia ini, dapat tercapai cita-cita kita yaitu mencapai keadaan yang tidak terikat; jadi mencapai Kebebasan di dalam hidup ini. Itu baru dikatakan kita mencapai tujuan. Apabila tidak mempunyai tujuan demikian maka hidup ini belum dikatakan mempunyai cita-cita atau mempunyai tujuan, karena tujuan orang hidup itu adalah memang satu-satunya untuk menikmati Kebebasan. Yang dinamakan Kebebasan itu adalah tidak mempunyai keterikatan dengan hal-hal yang membuat diri kita terikat.

Di dalam Buddha Dhamma dijelaskan bahwa tujuan dari hidup ini adalah untuk mengerti tentang kehidupan ini, bahwa hidup ini terdiri atas jasmani dan rohani/batin. Oleh karena itu, jasmani ini harus mendapat makanan, demikian pula dengan rohani/batin. Tetapi rohani ini dikatakan lebih banyak daripada hanya sekedar jasmani. Dengan mempunyai rohani/batin itu, kita harus memberikan makanan kepada apa yang dinamakan phassa atau kontak. Jadi, terjadilah kontak dengan pikiran, kontak dengan perasaan, kontak dengan kesadaran. Jadi itu harus diberikan makanan, maka disebutlah makanan bagi phassa/kontak. Kemudian pikiran, itu juga harus diberikan makanan, yang di dalam bahasa Pali disebut Mano Sancetana Ahara, makanan untuk pikiran. Makanan untuk pikiran, tentu jelas bahwa pikiran ini harus diberikan makanan yang sehat-sehat, yang baik-baik, yang terpilih, supaya pikiran itu mejadi sehat. Kemudian makanan untuk kesadaran, Vinnana Ahara.

Saudara-saudara, di dalam falsafah agama Buddha yang tinggi sekali, makanan untuk jasmani, makanan untuk kontak, makanan untuk pikiran, dan makanan untuk kesadaran itu pada hakekatnya adalah kita memperpanjang penderitaan, yang akan mengakibatkan kita lahir lagi, terus-menerus demikian, sehingga kesengsaraan itu jadi bertambah panjang. Tetapi itu adalah falsafah Buddhis yang sangat tinggi. Tentu bagi kita yang masih sebagai orang awam, kalau mengikuti falsafah yang tinggi ini maka kita akan menemui kesulitan. Jadi maksudnya adalah begini saudara, kita mempunyai jasmani, kita mempunyai alat untuk kontak dengan yang patut bisa berhubungan dengan diri kita, walaupun pada hakekatnya itu disebut menambah kesengsaraan tetapi bagi kita orang awam, jasmani itu perlu makanan, pikiran itu perlu makanan, kesadaran itu perlu makanan. Karena itu semuanya adalah untuk merawat alat-alat kita ini, yang terdiri atas jasmani, kontak, pikiran, dan kesadaran. Itu harus dirawat. Karena perjalanan hidup ini sangat panjang sekali, maka hal-hal yang diperlukan untuk menempuh kehidupan yang panjang ini harus dirawat dengan baik, harus diberikan makanan, kalau rusak harus diperbaiki, begitulah seterusnya. Jadi yang penting kita harus mengerti bahwa badan ini adalah sarana, adalah alat untuk mencapai tujuan.

Sama halnya dengan kita kalau berlayar pakai perahu, pakai kapal, pakai apa saja, itu adalah sarana. Kapal, perahu, atau yang lain-lainnya sebagai sarana itu haruslah dipelihara dengan baik. Kalau perahu atau kapal itu sudah bocor, harus didempul; kalau catnya sudah luntur, supaya kayunya bisa tahan lama, harus dicat kembali; mesin-mesinnya harus dirawat kembali, dengan demikian kapal ini bisa berlayar mengarungi lautan yang luas sekali untuk mencapai tujuan daratan yang akan kita tuju.

Di dalam kehidupan ini, daratan itu sebenarnya adalah tujuan untuk berlabuh, untuk mendapatkan kenyamanan di dalam tempat berlabuh itu. Maka sering ada perumpamaan dalam berlayar itu. Kalau si nakhoda kapal tidak tahu arah mana yang harus ditempuh untuk mencapai daratan, maka zaman dulu, nakhoda kapal itu katanya mempunyai burung gagak yang dilepas untuk mencari tahu di mana ada daratan. Kalau burung itu sudah menemukan daratan, dia akan balik lagi ke perahu atau ke kapal itu. Kalau belum, dia akan terbang terus untuk bisa melihat daratan tempat berlabuh itu. Maksudnya di sini burung itu adalah simbol, kalau belum melihat pantai atau daratan, di mana daratan itu tidak lain adalah perumpamaan dari pantai nibbana, maka burung itu akan berusaha terus, dan kemudian kembali lagi ke kapal kalau sudah melihat pantai/daratan.

Memang untuk mencapai pantai nibbana ini kita harus mengarungi lautan kehidupan, suka-duka, dan lain sebagainya. Panjang sekali perjalanan kapal kehidupan ini. Maka oleh karena itu, sarana-sarana seperti jasmani, pikiran, dan kesadaran yang kita punyai itu harus dirawat dengan baik sekali, digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan akhir. Jadi, kalau ada orang mengatakan bahwa "untuk apa memelihara jasmani ini, memelihara pikiran ini, itu menambah beban saja, menambah lamanya sengsara saja", itu adalah perlu dikaji lagi. Sebab jasmani ini perlu makanan, pikiran itu perlu makanan, alat kontak atau phassa itu perlu makanan. Jadi dia harus dipelihara dengan sebaik-baiknya. Maksudnya supaya badan jasmani ini, yang diumpamakan sebagai kapal yang mengarungi kehidupan yang maha luas ini, bisa dipakai terus sampai tujuan tercapai. Jadi kita harus merawat jasmani ini, merawat pikiran ini, jangan sembarangan pikiran itu dikasih makanan yang kurang menguntungkan pikiran itu.

Sekarang ini, terutama orang-orang yang sedang bersaing, sedang berlomba-lomba untuk mencapai rezeki yang diharapkan maka orang itu berlomba-lomba, bersaing untuk mencapai tujuan itu. Tetapi dia lupa bahwa kalau tujuan belum tercapai, maka dari persaingan itu lalu terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya di Jakarta ini, sekarang apakah sudah terlaksana atau belum, akan ada seminar. Seminar untuk membahas "Apakah perlu ambisi itu dipelihara atau dipupuk dengan baik supaya tujuan bisa tercapai?" Begitulah pandangan orang yang sekarang ini. Sebab dalam keadaan kehidupan yang penuh persaingan, ambisi itu katanya perlu dipelihara. Padahal di dalam Agama Buddha, tidak ada istilah yang persis untuk "ambisi" itu. Mungkin yang bisa mirip adalah "lobha", itu mirip dengan "ambisi". Katanya kalau tidak ambisi, nanti tersingkir; barang siapa yang melaksanakan pekerjaan dengan penuh ambisi itu biasanya dia akan dapat sukses, tetapi kalau tidak ambisi maka akan ketinggalan, tersingkir, tersisihkan, begitu. Ada beberapa umat di Jakarta yang datang kepada saya sebelum seminar itu dilaksanakan. Saya dimintai pendapat atau pandangan bagaimana ambisi itu menurut agama Buddha. Tentu saya katakan bahwa istilah ambisi itu tidak ada, yang ada adalah lobha, dosa, moha; itu ada. Jadi kalau orang dengan dasar lobha itu berjuang, mungkin tingkah lakunya menurut agama Buddha menjadi aneh. Dengan kelobhaan ini dia termasuk melakukan hal-hal yang kurang wajar. Sebab kata "lobha" itu asal katanya dari "lob". Lob artinya mengait. Jadi apa yang dilihat, apa yang diketemukan, lalu disenangi, lalu dikait, diseret untuk menjadi miliknya. Itulah pengertian tentang "lob", atau kemudian berkembang menjadi lobha. Sudah tentu bagi agama Buddha, hal yang demikian itu benar-benar bisa menambah problem, menambah masalah, dan kemudian menjadi susah sendiri. Nah, sekarang banyak orang berpendapat bahwa kalau tidak ambisi, kalau tidak lobha —kalau ambisi sama dengan lobha—, akan celaka sekali, akan tersisih sekali, tidak akan berhasil apa-apa. Tapi kalau dia mempunyai ambisi, mempunyai lobha, baru dia berhasil. Begitu juga di dalam persaingan mencari pekerjaan di perusahaan-perusahaan, harus ada lobha. Jadi lobha ini harus ditonjolkan, kalau tidak ya tersingkir; begitulah pandangan mereka.

Saudara-saudara, kadang-kadang orang tidak begitu berhati-hati, bahkan dengan mempunyai lobha itu dia bertindak hantam kromo. Ini disebabkan karena mereka tidak menyadari bahwa hidup itu ada jalurnya sendiri. Jadi di dalam kehidupan ini, yang dinamakan pikiran, maka pikiran ini mempunyai jalurnya. Ini yang sering sekali tidak disadari oleh orang banyak, oleh orang awam. Dia akan melakukan apa saja yang dianggap menguntungkan, padahal pikiran itu mempunyai jalur. Kalau ini kurang dimengerti maka akan merusak rezekinya sendiri. Maka itu, orang harus mengerti bahwa jalur kehidupan itu memang tidak kelihatan nyata, tetapi kita harus waspada sekali bahwa kalau kita hantam kromo, nanti jalan untuk mencapai tujuan malah terhambat. Juga kita jangan menganggap bahwa jalur kehidupan itu tidak ada. Dalam kehidupan ini, menurut agama Buddha, dikenal ada dua macam jalan. Jalan untuk materi dan jalan untuk rohani, untuk pikiran. Jalan yang biasa disebut Pakati Magga. Pakati Magga ini adalah jalan yang dilalui oleh kaki, oleh kuda, sekarang sudah adan jalan aspal di zaman kemajuan ini, itu dilalui oleh mobil; kemudian ada jalan di sungai itu dilalui oleh perahu; jalan di lautan luas, itu juga dilalui oleh kapal. Kemudian ada jalan di udara yang dilalui oleh kapal udara; itu kenyataannya sekarang. Tetapi jalan yang dilalui oleh kehidupan, itu adalah di dalam batin disebut Patipada Magga.

Inilah yang kadang-kadang banyak orang tidak mengetahui yang disebut Jalan Kehidupan. Itu jalurnya tentu ada di dalam pikiran, perasaan, kesadaran. Jadi ini harus dibangun! Seperti kita membangun jalan, pakai aspal, pakai hotmix, supaya perjalanan yang ditempuh oleh mobil menjadi lebih lancar, lebih cepat, demikian pula dengan jalan kehidupan ini adalah dibentuk di dalam pikiran, di dalam kesadaran. Maka oleh karena itu, kita harus waspada dan hati-hati sekali dengan perjalanan dari kehidupan yang jalurnya adalah di dalam kesadaran. Maka oleh karena itu, kita harus waspada dan hati-hati sekali dengan perjalanan dari kehidupan yang jalurnya adalah di dalam batin ini. Kalau kita tidak memperhatikan syarat-syaratnya maka kita akan merusak kehidupan kita sendiri. Jadi umpama saudara-saudara, kita menganggap kalau berbuat curang, berbuat tidak baik itu, tidak apa-apa asal nanti kita dapat untung, dapat hoki, dapat rezeki. Ini adalah pandangan keliru. Kalau kita kita sudah membentuk jalan yang keliru itu maka justru rezeki itu akan menjadi terhambat, hoki itu akan menjadi terhalang. Ini yang sering tidak disadari oleh orang-orang awam. Maka moral itu harus dan perlu dipelihara, sila harus dipelihara, sebab itu adalah "jalan kehidupan". Jadi jangan mengabaikan itu. Jangan lantas karena tergiur oleh keuntungan yang datangnya cepat, datangnya segera, lalu moral diabaikan; akhirnya akan menghambat rezeki/hoki kita sendiri. Maka cobalah amati dalam pengambilan sila yang diberikan oleh para bhikkhu, kan jelas begitu —Silena Sugatim Yanti, Silena Bhogasampada, Silena Nibbutim Yanti, Tasma Silam Visodhaye. Itu maknanya dalam sekali. Jadi moral harus kita lakukan dengan sebaik-baiknya, sebab kebahagiaan akan datang dari sana; kemudian kebebasan juga akan datang dari sana, kemakmuran juga akan datang dari sana. Jadi untuk mencapai rezeki, jangan sekali-kali mengabaikan moral, mengabaikan sila itu. Itu akan menghambat diri kita sendiri. Itulah makna dari sabda Sang Buddha yang sederhana saja, seperti dalam pengambilan sila. Jadi lakukanlah sila dengan sebaik-baiknya. Dari situ nanti akan datang rezeki, kemakmuran, kebebasan, bahkan kebahagiaan surgawi dan kebahagiaan nibbana akan bisa dicapai melalui pelaksanaan moral/sila yang baik. Itulah JALAN KEHIDUPAN yang dibangun di dalam batin.

Saudara-saudara, apabila jalan aspal itu, di kota misalnya, ada peraturan-peraturan, tanda-tanda yang banyak sekali dipasang oleh polisi lalu lintas; itu tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjaga ketertiban, keharmonisan pengemudi-pengemudi. Jadi kalau semuanya main labrak saja, tidak hirau dengan dengan tanda-tanda, maka akhirnya tidak ada yang disiplin. Lalu lintas seperti di kota-kota besar kalau tidak disiplin, tidak mentaati peraturan-peraturan lalu lintas, pasti akan terjadi kecelakaan atau mengganggu pengemudi yang banyak. Persis begitu saudara. Jadi peraturan itu harus ditaati. Saya ulangi, peraturan ini harus ditaati! Bukan harus dipuja, bukan harus disembahyangi tetapi peraturan harus ditaati, harus penuh disiplin melaksanakannya. Umpamanya kalau di tengah jalan ada lampu merah, di mana kita harus stop, maka tidak bisa lampu itu dikasih dupa, dikasih bunga, dikasih buah-buahan, agar kita dibela oleh lampu merah itu, tidak bisa begitu. Itu hanya harus ditaati saja.

Saudara-saudara sekalian, kalau ini sudah kita pahami, kita sudah mentaati peraturan dan berdisiplin mengikuti aturan-aturan, maka keselamatan akan dapat kita raih. Banyak orang yang sebenarnya tidak paham tentang apa yang saya katakan tadi. Saudara-saudara sekalian, saya ingin juga menjelaskan bahwa kehidupan ini yang tadi saya katakan mempunyai jalur, mempunyai jalan, itu juga sama begitu, harus ditaati sekali. Oleh karena itu, moral harus ditaati, peraturan-peraturan juga harus ditaati, sehingga kita sudah terbiasa dengan melaksanakan moral dan taat kepada aturan-aturan. Sebenarnya ketaatan kepada aturan-aturan inilah, yang membuat diri kita selamat, tidak terkena bahaya apa-apa karena kita taat kepada aturan. Oleh karena itu kita harus memperhatikan sekali apa yang saya sampaikan tadi. Kemudian yang perlu lagi diketahui dan dipahami adalah kita harus tahu sekali bahwa jalan kehidupan itu jalurnya adalah demikian. Jadi tidak boleh salah. Maka oleh karena itu kita tidak boleh mengabaikan. "Ah, kalau salah, nanti bisa kita perbaiki lagi", sering kita mempunyai pendapat demikian. Seratus kali salah, seratus kali diperbaiki, kadang-kadang begitu kita punya pendapat. Padahal itu tidak patut demikian. Jadi kita harus berhati-hati sekali, waspada sekali, jangan sampai salah. Karena salah itu membawa penyimpangan-penyimpangan, dan kalau sudah ada penyimpangan, maka lambat-laun itu menjadi lebih besar dan lebih besar lagi. Oleh karena itu kita harus berusaha supaya tidak sampai menyimpang dari aturan-aturan yang sudah ada, jadi usahakan supaya tidak banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan.

Yang sekarang saya maksudkan adalah seperti apa yang saya katakan tadi, di Jakarta ada seminar dimana yang dibahas tentang ambisi, "Apakah jelek ambisi itu?" Padahal ada yang mengatakan bahwa ambisi itu perlu sekali, kalau tidak maka kita akan ketinggalan. Jadi dasarnya mulai dari pengertian salah, lalu dianggap ambisi itu perlu dan harus dilakukan. Padahal seperti saya katakan tadi, ambisi itu akan merusak jalan yang akan ditempuh oleh pikiran itu. Pikiran akan terganggu pada waktu itu dan kemudian akan merusak sendiri jalan yang harus dilalui oleh pikiran. Siapa yang merusak? Kita sendiri.

Begitulah saudara-saduara. Maka tidak ada yang lebih baik daripada teliti sekali, telaten sekali dan waspada sekali, agar jangan terjadi kesalahan-kesalahan. Kalau kesalahan-kesalahan itu sudah tidak ada maka jalur dari jalan kehidupan itu akan aman, selamat, dan kemudian tidak menghambat datangnya rezeki, kedudukan, atau kehormatan, dan lain sebagainya, itu tidak terganggu, itu yang lebih baik daripada terganggu. Nah, ini harus dicamkan sekali. Kemudian saudara-saudara, saya ingin menyampaikan bahwa jalan kehidupan ini seperti apa yang saya katakan tadi, adalah terdapat di dalam pikiran. Kalau pikiran baik, jalan kehidupan juga akan baik; kalau pikiran tidak baik, jalan kehidupan juga akan tidak baik. Itu harus benar-benar dicamkan! Hendaknyalah saudara-saudara benar-benar mengerti hal ini. Jangan sembrono. Kalau kita berlomba-lomba mencari rezeki, mencari hoki, jangan melupakan atau mengabaikan yang dinamakan jalur kehidupan itu! Jangan ini dirusak, karena kalau rusak nanti malah tambah ruwet. Pokoknya yang mulus saja. Umpamanya berbohong, berdusta, memang kelihatannya, "Ah, cuma bohong, itu nantinya akan akhirnya toh kita yang untung", itu salah, saudara-saudara. Nanti malah justru keuntungan itu jadi lebih jauh, makin tidak tercapai. Maka lebih yang betul-betul mulus. Apa yang harus ditaati, diikuti seperti aturan-aturan itu, lebih baik kita ikuti dengan seksama. Jangan meniru kiri-kanan melakukan itu lalu dia untung, lalu dia dapat rezeki banyak, jangan itu diikuti. Sekarang rezeki, tapi kemudian setelah akibatnya datang, malah menjadi "bo-hoki’. Sering terjadi begitu. Jadi kita harus waspada sekali, introspeksi sekali, jangan dibiarkan pikiran itu melantur, tapi harus kita rem, harus kita kendalikan supaya kita tidak merusak jalan kita sendiri yang ada di dalam batin. Kalau kita tidak merusak jalan kita sendiri yang ada di dalam batin, maka semuanya akan menjadi lancar. Karena itu perhatikan sekali, jangan mudah menyerah atau ikut-ikutan dengan orang banyak. Jadi sekarang kendalikan diri. Itu akan lebih baik. Lakukan hal yang mulus, yang jujur. Saya membuktikan sekali, karena saya introspeksi terus. Lebih baik bekerja dengan mulus, dengan jujur, dengan sebaik-baiknya, maka kehormatan, rezeki, penghargaan, pujian, itu akan betul-betul datang dengan baik sekali. Dan lebih baik kita menikmati hal-hal yang demikian daripada mencari jalan pendek untuk mendapatkan untung atau kemajuan. Demikianlah saudara-saudara, sekilas tentang tujuan dari kehidupan.

Menurut agama Buddha, kalau orang yang telah mencapai kebersihan, ketidakterikatan dan semuanya dilakukan menurut aturan dan sebagainya, maka dia diumpamakan bebas seperti burung yang terbang di angkasa. Burung yang terbang di angkasa tidak dapat dilihat bekasnya, kemana burung itu terbang. Lain halnya kalau harimau berjalan di daratan itu jelas ada bekas kakinya, apakah kukunya yang tajam itu menekan tanah sehingga tampak jelas sekali. Orang-orang yang betul-betul bersih, betul-betul suci, diibaratkan seperti burung yang terbang itu, tidak ada bekasnya. Jadi karena beliau sama sekali tidak melekat kepada apapun, maka dinamakan bebas seperti burung yang terbang itu. Kalau kita, wah gampang sekali kena jerat, gampang kena jaring, pokoknya beda. Orang yang tidak melekat kepada apapun diumpamakan seperti burung yang terbang di angkasa, tidak dapat diketahui. Nah, itu cerita tentang orang suci zaman dahulu, tidak bisa diketahui bekas-bekasnya. Saudara-saudara, ada lagi perumpamaan, kalau burung —yang punya sayap—, hinggap di dahan yang kering, karena kesusu, lalu dahan itu jatuh, burung itu juga ikut jatuh, tetapi setelah jatuh, burung itu bisa terbang kembali. Lain halnya dengan buah kelapa atau buah mangga atau buah durian, kalau jatuh, tidak bisa bangun lagi. Kalau buah itu jatuh tidak bisa bangun lagi karena tidak punya sayap. Tapi burung itu punya sayap. Kita sebagai manusia harus berusaha menjadi seperti burung itu. Jadi biarpun jatuh tapi bisa terbang kembali, sehingga tidak terus jatuh konyol, begitulah. Ini maksudnya adalah tidak melekat kepada hal-hal tertentu. Jadi dengan demikian kita seperti burung, kalau jatuh tidak tenggelam tetapi terbang lagi. Begitu dianjurkan. Kalau kita belajar, itu supaya nanti punya sayap seperti burung; jatuh tidak terus jatuh, tetapi terbang lagi.

Saudara-saudara, memang dari jalur kehidupan sampai kepada perumpamaan burung, sudah cukup jelas sekali bahwa kita harus berusaha punya sayap. Tentu bukan berarti sayap seperti bidadari-bidadari yang ada sayapnya, bukan begitu maksudnya. Kita sebagai manusia harus bisa tidak melekat kepada hal-hal yang dianggap seperti jatuh itu. Jadi kalau kita jatuh, kita berusaha seperti burung itu, bangun lagi, terbang lagi. ini yang lebih baik. tidak seperti buah kelapa, kalau jatuh malah menggelinding terus mencari tempat yang paling rendah. Tidak demikian tujuan daripada kehidupan ini. Saudara-saudara, di dalam hidup ini memang kemungkinan untuk jatuh itu ada saja. Tetapi walaupun jatuh kita berusaha seperti burung itu bisa terbang kembali. Artinya bagaimana? Jadi orang yang tidak melekat kepada hal-hal yang dianggap sebagai miliknya, dianggap sebagai kepunyaannya, itu dia tidak melekat lagi. Itu namanya seperti burung. Kalau orang dagang umpamanya, dia rugi, tapi walaupun rugi dia bisa terbang kembali, jadi tidak melekat, tidak menangisi kerugian itu, tetapi tetap tegar, lalu dia terbang kembali. Hendaknyalah kita juga bisa hidup seperti burung itu.

[ Dikutip dari Mutiara Dhamma ]

Minggu, 15 Agustus 2010

Lima Penyakit Manusia



Lima Penyakit Manusia


Apa yang harus kita lakukan terhadap semua problem ciptaan dari pikiran kita?

Ketika kita mengalami penderitaan, akan sangat beguna untuk berusaha menganalisa hakekat-dasar dari penderitaan tersebut. Penderitaan dapat hadir dalam bentuk ketamakan, kemarahan, kebodohan (ketidak-tahuan), arogansi, atau keragu-raguan.

Bila kita dapat merenungkan hakekat dari penderitaan kita, kita bisa sangat mengurangi intensitasnya. Perhatikan bahwa Buddhisme tidak peduli pada asal sebab-musabab dari delusi dan penderitaan seseorang . Buddhisme hanya fokus pada pengenalan serta pengeliminasiannya. Kekuatan untuk melakukan itu ada di dalam pikiran seseorang.


Ketamakan

Ketamakan adalah hasrat untuk mendapatkan apa yang kita maui. Sebuah contoh dari ketamakan adalah dorongan untuk menaklukkan. Orang yang menderita keinginan ini ingin meningkatkan apa yang mereka miliki dan memperluas pengaruhnya. Sebagian berusaha menjadi terkenal sementara sebagian lainnya memakai kekuasaan untuk menaklukkan secara langsung mereka-mereka yang menentangnya. Pertarungan kekuasaan yang disebabkan oleh hasrat ini bisa terjadi di antara negara ataupun di dalam keluarga. Seorang istri bisa berusaha menaklukkan suaminya atau sebaliknya. Hasrat untuk menguasai orang lain semacam ini, sesungguhnya, hanyalah berpusat-diri (self-centered).

Bilamana ketamakan menyebabkan kita menderita, kita harus berefleksi, melihat ke dalam diri sendiri: "Aku tamak. Hasratku menggebu. Inilah sumber penderitaanku". Maka kekesalan tamak tersebut akan menyusut.


Kemarahan

Bila kita menderita karena kemarahan, kita bisa berefleksi: "Mengapa aku sedemikian marah? Kesusahanku terkait langsung dengan kemarahanku". Dengan cara ini kemarahan dan kesusahan tersebut akan mulai surut. Lihatlah ke-dalam, bukan ke-luar. Bukan "problem"-nya, tetapi pikiran anda sendirilah yang harus anda periksa.


Ketidak-tahuan

Bila telah berbuat sesuatu yang bodoh, akan sangat membantu meringankan penderitaan dan kekesalan kita, kalau kita mengakui kesalahan kita. Kebodohan mencakup ketidak-pahaman serta tak menerima akan ketidak-permanenan (fana). Atau dengan kata lain, menyangka bahwa kita bisa bergantung pada benda-benda.


Arogansi

Arogansi timbul karena menganggap bahwa pencapaian kita seluruhnya merupakan hasil dari kemampuan serta kehebatan kita sendiri, dan bukan dari sebab dan kondisi. Sikap ini jelas berpusat pada 'diri' yang kuat. Arogansi dapat menjadikan kita tak berperasaan dan tidak menghargai orang lain. Seseorang yang arogan bisa percaya bahwa ia mempunyai hak untuk menyakiti orang lain atau menyingkirkan mereka dengan sesuka hati.

Keputus-asaan yang disebabkan oleh kegagalan untuk mencapai sasaran-sasaran yang diingini adalah kebalikan dari arogansi. Seseorang yang mengalami gangguan ini akan kehilangan semua kepercayaan pada dirinya sendiri dan juga kerap kali akan menyalahkan orang lain.

Mengenali gangguan arogansi, keputus-asaan, dan sumbernya yakni keberpusat-dirian, serta awas akan penderitaan yang disebabkannya tatkala kita mengalaminya, bakal membantu kita mengatasinya.


Keragu-raguan

Keragu-raguan adalah juga suatu tipe kekesalan dan penyebab penderitaan. Keragu-raguan menghalangi kita membuat keputusan. Keragu-raguan membuat diri mustahil untuk mempercayai orang lain dan mempercayai diri sendiri. Ini sungguh merupakan penderitaan!

Jikalau anda tahu bahwa anda menderita karena keragu-raguan, anda harus berpikir sebagai berikut: "Aku ingin melaksanakan tugas ini, jadi lebih baik aku percaya bahwa aku punya kemampuan dan bahwa inilah hal benar yang harus dikerjakan". Kalau anda bisa percaya hal ini, anda akan mampu mencurahkan diri pada apa yang ingin anda kerjakan.

Keragu-raguan dapat mempunyai pengaruh yang mengerikan pada hidup kita. Bayangkan bahwa anda telah memutuskan untuk menikah, tetapi anda dilanda keragu-raguan. Anda bertanya-tanya apakah pernikahan tersebut akan berakhir dengan perceraian. Akankah pasangan anda meninggalkan anda setelah menikah? Apakah pasangan anda bohong, atau apakah ia menyembunyikan sesuatu yang penting dari anda? Jika kesangsian anda tak terkendali, anda akan sengsara saat anda bersiap untuk pernikahan dan sengsara di dalam pernikahan tersebut. Bahkan jika tidak ada alasan nyata bagi anda dan pasangan anda untuk berpisah, kesangsian itu sendiri dapat memberi alasan.

Jika anda menderita karena kesangsian semacam ini, anda bisa bilang kepada diri sendiri, "Jika aku punya sedemikian banyak kesangsian, tolol jika aku menikah. Jika aku ingin menikah, aku harus menerima pasanganku sebagaimana adanya dan mempercayainya secara mutlak". Jika anda tidak bisa memelihara sikap semacam itu, pernikahan hanya akan mendatangkan kesengsaraan bagi anda.

Adakah di antara kalian yang tidak punya kesangsian? Saya belum pernah berjumpa seseorang yang sama sekali tidak punya.



Sumber:
Chan: Gerbang Tanpa Gerbang
Sebuah Panduan Praktek Ch'an (Chinese Zen)
oleh Chan Master Sheng Yen,
SUWUNG, 2002.

Chan Indonesia

Jataka 57: KISAH MONYET DAN BUAYA

Jataka 57

KISAH MONYET DAN BUAYA


Suatu ketika, seekor monyet berdiam di pinggir sungai. Dia sangat kuat dan peloncat yang hebat. Ditengah sungai ada sebuah pulau yang indah yang dipenuhi buah mangga, nangka dan banyak pohon buah-buahan yang lain. Di tengah tengah antara pulau dan pinggir sungai terdapat batu karang. Meskipun kelihatannya tak mungkin, si monyet biasanya melompat dari pinggir sungai ke batu karang kemudian dari batu karang ke pulau itu.


Dia bisa memakan buah sepanjang hari dan kemudian kembali ke rumah dengan rute yang sama setiap sore. Di dekat situ ada pasangan Pak Buaya dan Bu Buaya. Mereka sedang mengerami telur bayi buaya pertama mereka. Karena hamilnya, Bu Buaya kadang kadang menginginkan makanan yang aneh. Sehingga ia meminta hal hal yang aneh kepada suaminya yang setia. Bu Buaya sering terkagum-kagum, seperti hewan hewan lain, dengan cara si monyet melompat bolak-balik ke pulau itu. Suatu hari ia mengidam ingin makan jantung Monyet! Dia mengatakan keinginannya kepada Pak Buaya. Untuk memenuhi keinginannya, dia berjanji akan membawakan jantung monyet saat makan malam. Pak Buaya pergi dan bersandar di bawah batu karang diantara pinggir sungai dan pulau. Dia menunggu si monyet kembali sore itu untuk menangkapnya. Seperti biasanya, si Monyet menghabiskan waktunya di pulau itu. Saat akan kembali ke rumah dari pinggir sungai, dia menyadari bahwa batu karang itu kelihatan bertambah besar, kelihatan lebih tinggi dari air daripada yang pernah diingatnya. Sehingga ia curiga atas kelicikan Pak Buaya. Untuk meyakinkan hal ini, dia berteriak menghadap batu karang itu, "Halo yang disana, Tuan Karang! Apa kabar?" Dia meneriakkan kata-kata ini tiga kali. Kemudian lanjutnya, "Kamu biasanya menjawabku saat aku menanyaimu. Tetapi hari ini kau tidak mengatakan apapun. Ada apa dengan kamu, Tuan Karang?" Pak Buaya berpikir, "Tak salah lagi, pasti batu karang ini biasanya berbicara dengan monyet itu. Aku tak bisa menunggu karang bodoh ini untuk menjawab! Aku akan menjawabnya dan mengibuli monyet itu. Sehingga dia berteriak, "Aku baik-baik saja, Tuan Monyet. Apa yang kau inginkan?" si Monyet bertanya, "Siapa kamu?" Tanpa berpikir, buaya menjawab, "Aku Pak Buaya." "Kenapa kamu bersandar disana?" tanya Tuan Monyet. Pak Buaya menjawab, "Aku akan mengambil jantungmu! Kamu tak akan bisa lari Tuan Monyet." Monyet pintar ini berpikir,"Aha! Dia benar - tak ada jalan lain menuju pinggir sungai. Maka aku harus menipunya." Kemudian dia berteriak dengan lantang, "Pak Buaya, sahabatku, kelihatannya kamu bisa mendapatkan aku. Aku akan memberikan jantungku. Bukalah mulutmu dan ambillah saat aku datang."


Saat Pak Buaya membuka mulutnya, dia membukanya sebesar mungkin, sehingga matanya tertutup. Saat Tuan Monyet melihat ini, dia langsung melompat ke kepala buaya dan langsung ke pinggir sungai. Saat Pak Buaya menyadari bahwa dia telah tertipu, dia mengakui kemenangan Tuan Monyet. Seperti dalam pertandingan olahraga, dia mengakui kekalahannya. Dia berkata, "Tuan Monyet, tujuanku kepada kamu sebenarnya tidak sungguh-sungguh - aku ingin membunuh dan mengambil jantungmu hanya untuk menyenangkan hati istriku. Tetapi kamu hanya menyelamatkan diri dan tidak menyakiti siapapun. Selamat! Kemudian Pak Buaya kembali ke Bu Buaya. Awalnya Bu Buaya tak senang dengan hal ini, tetapi ketika telur bayi mereka menetas, mereka telah melupakan masalah itu.

Pesan moral :

Pecundang yang baik adalah lelaki sejati.

Jataka 55: PANGERAN LIMA SENJATA DAN SI RAMBUT-LENGKET

Jataka 55

PANGERAN LIMA SENJATA DAN SI RAMBUT-LENGKET

{Senjata Batu Intan}


Suatu ketika, Sang Boddhisatva terlahir sebagai putra Raja dan Ratu Benares. Pada hari pemberian nama, 800 peramal diudang ke istana. Dan sebagai hadiah, mereka diberi apapun yang mereka inginkan untuk menyenangkan mereka. Dan mereka diminta untuk meramalkan nasib sang pangeran kecil, agar mereka dapat memberikan nama yang sesuai untuknya. Salah satu peramal ahli dalam membaca tanda tanda di badan. Ia berkata, "Tuanku, ini adalah berkah dari jasa-jasa anda. Dia akan menjadi raja penerus kerajaan ini." Para peramal itu sangat pandai. Mereka mengatakan apapun yang ingin diketahui raja dan ratu. Mereka mengatakan, "Anakmu akan menjadi ahli 5 senjata. Dan akan menjadi orang terhebat dalam menguasai 5 senjata ini di seluruh India." Berdasarkan hal ini, raja dan ratu memberi nama kepada anaknya 'Pangeran Lima Senjata'

Saat pangeran berusia 16 tahun, raja memutuskan agar ia pergi belajar. Dia berkata, "Pergilah anakku, ke kota Takkasila. Disana kamu akan menemui guru yang paling terkenal. Pelajari apapun yang kamu bisa darinya. Dan berikan uang ini sebagai pembayarannya". Dia memberikan seribu uang emas dan mengantarkan perjalanannya. Pangeran pergi ke guru terkenal di Takkasila ini. Dia belajar dengan rajin dan menjadi murid terbaik sang guru. Saat sang guru telah mengajarkan semua ilmu yang dimilikinya, dia memberikan pangeran hadiah khusus untuk kelulusannya. Dia memberikan sang pangeran lima buah senjata dan mengembalikan sang pangeran ke Benares.

Dalam perjalanan pulang, dia melewati hutan yang dihuni oleh raksasa. Para penduduk memperingatkan Pangeran Lima-Senjata, "Anak muda, jangan lewati hutan itu. Disana ada raksasa mengerikan yang bernama Rambut-Lengket. Dia membunuh semua yang dilihatnya!" Tetapi sang pangeran percaya diri dan tidak takut bagaikan seekor singa muda. Sehingga dia memasuki hutan, dan akhirnya menemui raksasa yang menakutkan itu. Raksasa itu setinggi pohon, dengan kepala sebesar atap rumah dan matanya sebesar piring makan. Dia memiliki dua taring kuning dan besar yang kelihatan keluar dari mulutnya yang menyeringai dengan giginya yang coklat jelek. Dia memiliki perut yang sangat besar dan bertotol-totol putih serta memiliki tangan dan kaki berwarna biru. Raksasa itu meraung dan menggeram kepada sang pangeran, "Kemana kau akan pergi, manusia kecil? Kamu kelihatannya enak sekali. Aku akan menelan kamu!" Pangeran baru menyelesaikan pelajarannya dan telah memenangkan penghargaan tertinggi dari gurunya. Sehingga ia merasa telah mengetahui segalanya, dan dapat melakukan segalanya. Dia menjawab, "Oh mahluk kejam, aku adalah Pangeran Lima-Senjata, dan aku sengaja datang ke sini untuk menemui kamu. Aku menantang kamu beradu kekuatan! Aku akan membunuh kamu hanya dengan dua senjata - busur dan panah beracunku." Kemudian dia membidik panahnya ke raksasa itu. Tetapi panah itu lengket ke rambutnya, seperti lem, tanpa melukai raksasa itu sama sekali. Kemudian pangeran terus membidik raksasa sampai 50 panah beracunnya habis. Tetapi semuanya langsung lengket ke rambutnya, sehingga dinamai Rambut-Lengket. Kemudian mahluk itu mengguncangkan badannya, dari kepalanya yang jelek seukuran atap rumah sampai kakinya yang berwarna biru. Dan semua panah itu jatuh ke tanah.

Pangeran Lima-Senjata memakai senjatanya yang ketiga, pedang sepanjang 33 inchi. Dia menusukkannya ke musuhnya. Tetapi pedang itu juga langsung lengket ke rambut yang lengket dan tebal itu. Kemudian dengan senjata keempatnya, dia menombak si raksasa, dan langsung melekat di rambut lengket. Setelah itu, ia menyerang dengan senjata terakhirnya yang kelima, dan langsung tongkatnya juga lengket ke rambut itu. Kemudian sang pangeran berteriak, "Hey kamu, raksasa, pernahkan kamu mendengar namaku, Pangeran Lima-Senjata? Aku memiliki lebih dari lima senjata. Aku memiliki kekuatan dari badanku yang muda. Akan kupatahkan badanmu berkeping-keping!" Dia memukul Rambut-Lengket dengan kepalan kanannya, seperti petinju. Tetapi tangannya lengket ke rambutnya, dan tak bisa melepaskannya. Kemudian dia memukul dengan tangan kirinya, tetapi ini juga melekat erat di rambut itu. Kemudian dia menendang dengan kaki kiki kemudian kaki kanan, seperti ahli ilmu bela-diri, tetapi keduanya juga lengket ke rambut yang berantakan itu. Kemudian dia menyerang raksasa itu dengan kepalanya sekeras mungkin seperti pegulat dan akhirnya kepalanya pun tak bisa lepas dari rambut raksasa itu.

Meskipun lengket di lima tempat, sang pangeran tetap tidak takut. Si Rambut-Lengket berpikir, "Sangat aneh, dia lebih mirip singa daripada manusia. Bahkan terjebak dengan raksasa ganas seperi aku, dia tidak takut. Selama ini, aku telah membunuh banyak orang dalam hutan ini, tak ada seorangpun seperti pangeran ini. Mengapa dia tidak takut sama sekali? Karena Pangeraa Lima-Senjata tidak seperti orang-orang lain, si Rambut-Lengket takut untuk langsung memakannya. Sehingga dia bertanya, "Anak muda, mengapa kamu tidak takut akan kematian?" Pangeran menjawab, "Mengapa aku harus takut mati? Tak ada yang meragukan setiap yang dilahirkan pasti mati!"

Kemudian Sang Boddhisatva berpikir, "Lima senjata yang diberikan oleh guru yang paling terkenal di dunia ini telah tak berguna. Bahkan kekuatanku yang seperti singa tak berguna. Di luar guruku, badanku, aku harus mendapatkan senjata dari pikiranku, satu-satunya senjata yang aku perlukan." Pangeran kemudian melanjutkan,"Ada hal kecil, hai raksasa, yang belum aku katakan kepadamu. Senjata rahasiaku ada di perutku, sebuah batu intan yang tak dapat kau cerna. Itu akan memotong ususmu sampai hancur jika kamu menelanku. Sehingga jika aku mati, maka kamu mati! Sehingga aku tak takut padamu." Dengan cara ini, sang pangeran menggunakan kekuatan kekuatan dari dalam dirinya sendiri untuk meyakinkan si Rambut-Lengket. Dia sekarang mengerti bahwa senjata terbaik ada dalam pikirannya sendiri, yaitu batu intan yang berharga yang dinamakan kecerdasan. Rambut-Lengket berpikir, "Tak salah lagi, pasti orang pemberani ini menyatakan kebenaran. Bahkan jika aku makan potongan badannya sebesar kacang polong, aku tak akan bisa mencernanya. Aku akan membebaskannya." Takut akan kematiannya sendiri, ia membebaskan Pangeran Lima-Senjata. Dia berkata, "Kau adalah orang yang hebat. Aku tak akan memakan dagingmu. Aku bebaskan kamu, seperti bulan yang muncul setelah gerhana, kau pun akan bersinar diantara sahabat dan keluargamu."

Sang Boddhisatva telah mengalami pertempuran melawan raksasa Rambut-Lengket dan telah mengetahui bahwa senjata yang paling berharga adalah kecerdasan, bukan senjata yang ada di luar. Dan dengan senjata ini, dia juga mengetahui bahwa mencabut jiwa mahluk hidup hanya akan mengakibatkan penderitaan bagi si pembunuh. Dengan penuh terima kasih dia megatakan kepada raksasa yang tak beruntung itu, "Oh Rambut-Lengket, kamu terlahir sebagai mahluk pembunuh pemakan daging, karena perbuatan jahatmu yang lampau. Kamu hanya akan pergi dari kegelapan ke kegelapan yang lain. Sekarang kamu telah membebaskan aku, kamu tak akan bisa membunuh dengan gampang. Dengarlah, membunuh mahluk hidup akan membawa kesengsaraan dalam dunia, dan kemudian akan terlahir di neraka, atau sebagai hewan atau setan kelaparan. Bahkan jika kamu cukup beruntung untuk terlahir menjadi manusia, kamu akan memiliki umur pendek!" Pangeran Lima-Senjata kemudian terus mengajar Rambut-Lengket, sehingga raksasa itu setuju menjalankan lima aturan kemoralan.

Dengan cara ini dia berubah dari raksasa menjadi peri penjaga hutan yang bersahabat. Dan ketika dia meninggalkan hutan, pangeran menceritakan tentang berubahnya raksasa itu kepada penduduk sekitar. Dan untuk selanjutnya mereka memberi makan kepadanya secara teratur dan hidup dengan damai. Pangeran Lima-Senjata kembali ke Benares. Kemudian dia menjadi raja. Akhirnya ia meninggal dan terlahir di alam yang sesuai.

Pesan moral :

Senjata satu-satunya yang kamu perlukan ada didalam dirimu sendiri.

Reformasi Batin




Reformasi Batin

Oleh : V.Nyana


Prolog

Ketika sedang di depan televisi, terlihat dengan jelas bagaimana situasi tanah air saat ini yang diwarnai dengan peristiwa kekerasan, kerusuhan, krisis moneter, pertarungan politik, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa ini sedang berada dalam arus reformasi, dimana dituntut suatu perubahan sistem secara teratur dan sistematis. Proses reformasi ini memakan korban yang tidak sedikit jumlahnya. Namun yang dibahas disini bukanlah reformasi seperti ini, namun yang dimaksud adalah reformasi sangat diperlukan oleh setiap orang, yang akan merubah tatanan berpikir seseorang, yang akan membawa kebahagiaan bagi setiap orang. Reformasi ini adalah Reformasi Batin kita sendiri.

Pada Awalnya

Saat Sang Boddhisatta sedang mencari obat untuk mengatasi lahir, tua, sakit dan mati, beliau mempraktekkan cara-cara yang biasa dilakukan oleh para pertapa, Brahmana, maupun para Resi di masa tersebut. Sang Boddhisatta bertekad bahwa beliau tidak akan menyerah walaupun darah beliau mengering, badannya menjadi sangat kurus seperti tengkorak hidup akibat bertapa menyiksa diri dengan sangat keras. Suatu saat Sang Boddhisatta menyadari bahwa jalan yang ditempuh keliru, beliau kemudian melepaskan keterikatan pada pandangan yang salah. Beliau menyadari bahwa jalan yang dilaksanakan adalah jalan yang salah. Reformasi telah terjadi, beliau melepaskan keterikatan pada pandangan yang salah. Kemudian beliau mencari sendiri dan menemukan jalan tengah untuk mencapai penerangan sejati dan menjadi seorang Buddha.

Masa kini

Kini, jaman sudah jauh berbeda dengan jaman ketika Sang Buddha Gotama hidup. Dahulu kalau seseorang ingin berkunjung ke tempat lainnya, memerlukan waktu yang lama, bahkan bisa berhari-hari. Sekarang orang dengan mengendari kendaraan bermotor, dapat dengan cepat sampai di tujuan. Bahkan untuk jarak yang sangat jauhpun dapat ditempuh dengan waktu yang singkat dengan pesawat terbang. Dahulu, sangat sulit bagi seseorang bila ingin bercakap-cakap kalau tidak bertatap muka. Sekarang walaupun seseorang terpisah, orang tersebut tetap dapat bercakap-cakap dengan pesawat telpon. Jaman yang modern ini telah juga membawa kemajuan yang sangat pesat di bidang pengelolaan sumber daya alam, ilmu pengobatan, serta semua fasilitas hiburan yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh orang-orang yang hidup pada masa 20-30 tahun yang lalu.

Singkatnya Ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat dunia ini semakin maju dan menjadi semakin sempit. Kemajuan jaman ini juga menuntut setiap orang yang berkecimpung di dalamnya untuk survive atau menyesuaikan diri sehingga dapat menjaga kelangsungan hidupnya. Dalam menjaga kelangsungan hidupnya, setiap individu dituntut untuk berusaha lebih keras, sehingga tidak terlindas oleh kemajuan jaman. Tuntutan jaman yang lebih keras ini akan menyebabkan timbulnya berbagai masalah bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Sehingga timbullah suatu penyakit yang tidak pernah dirasakan oleh orang-orang terdahulu, yang kini dikenal dengan penyakit Stress.

Saat ini, banyak sekali manusia modern, terutama yang hidup di kota-kota besar, walaupun memiliki semua kemudahan dan fasilitas hiburan yang sangat beragam namun tidak pernah memuaskan mereka. Diibaratkan seperti seseorang yang meneguk air laut, semakin banyak di teguk, semakin haus saja rasanya. Perjuangan untuk hidup di jaman modern ini menuntut kerja yang lebih giat, sehingga timbulah ketegangan-ketegangan.Disamping itu aktivitas sehari-hari yang monoton juga menyebabkan seseorang terjebak dalam lingkaran kebosanan yang tidak habis-habisnya. Ketegangan dan kebosanan ini biasanya dikendurkan melalui aktivitas-aktivitas yang positif melalui relaksasi dan rekreasi. Berolahraga, mendaki gunung, rekreasi ke luar kota maupun mengunjungi tempat-tempat hiburan merupakan sarana untuk mengendurkan urat saraf yang lelah. Banyak juga yang mencari aktivitas yang negatif, seperti mengkonsumsi minuman keras dan obat-obat terlarang.

Cara-cara semacam ini dapat menghilangkan ketegangan dan kebosanan dalam kehidupan sehari-hari, namun hanya bersifat sementara. Semakin seseorang tenggelam dalam hiburannya, maka dia akan semakin merasa tidak puas. Tidak pernah ada pemuasan dari indera-indera kita. Biasanya akan timbul ketegangan yang lebih hebat lagi dibandingkan dengan sebelumnya, sehingga orang tersebut akan menuntut hiburan yang lebih dan lebih lagi. Kalau memang demikian siapa yang disalahkan ? Jaman yang modern ?, tuntutan pekerjaan untuk hidup ?, orang di sekitar kita ? Ilmu pengetahuan ? atau diri kita sendiri ?

Diri Sendiri

Kalau seseorang mau melihat dirinya dengan jujur dan benar, maka akan diketahui bahwa dari diri sendirilah semua masalah dan ketegangan itu timbul. Oleh diri sendirilah penderitaan muncul dan oleh diri sendirilah penderitaan dapat dihilangkan. Sang Buddha dalam kitab Dhammapada mengatakan bahwa ' Pikiran adalah pelopor, pikiran adalah pemimpin, bila seseorang berbuat dengan pikiran bajik, maka kebahagiaan yang akan diperolehnya, sebaliknya bila seseorang berbuat dengan pikiran yang buruk, penderitaaanlah yang akan diperolehnya'. Sehingga hanya orang yang dapat MENGENDALIKAN PIKIRANNYA- lah yang dapat mendapatkan kebahagiaan. Jaman boleh saja berubah, fasilitas dan sarana boleh saja bertambah maju dan modern, namun dari dahulu kala hingga saat ini semua permasalahan manusia selalu berawal dari pikirannya sendiri. Pikiran yang tidak pernah dilatih pasti selalu menimbulkan masalah. Oleh sebab itu kalau seseorang menyadari dengan baik, dia tidak akan menyalahkan orang lain atas segala kondisi yang ada, sehingga tidak akan pernah ada ketegangan-ketegangan dan kebosanan dalam hidupnya.

Namun sungguh sulit untuk dapat mengendalikan pikiran sendiri. Dalam Dhammapada, Sang Buddha menyatakan bahwa seseorang yang mampu menaklukkan beribu-ribu musuh di medan peperangan tidak dapat dibandingkan dengan seseorang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Untuk dapat mengendalikan diri sendiri diperlukan suatu LATIHAN yang teratur. Latihan ini bukanlah program satu dua hari, satu dua bulan atau hanya dilaksanakan untuk beberapa tahun. Namun latihan ini adalah program untuk seumur hidup. Dari tahap inilah REFORMASI BATIN dimulai. Reformasi batin inilah yang nantinya akan membawa seseorang mampu mengatasi masalahnya sendiri dalam kehidupan sehari-hari, bahkan pada tingkat yang lebih tinggi lagi dapat membawa seseorang pada pemahaman yang sejati dari semua yang ada.

Reformasi batin ini harus dimulai dengan mengubah pola pikir seseorang bahwa semua permasalahan berasal dari dirinya sendiri. Reformasi berpikir ini akan mengantar seseorang pada sikap sabar dan toleran dalam menjalani latihan. Ini merupakan suatu hal yang sangat mudah untuk diucapkan, namun sangat sulit untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sang Buddha menyatakan bahwa sabar adalah tapa yang paling tinggi, sehingga tidaklah salah bila mengatakan kesabaran adalah hal yang tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. Setelah seseorang dapat mengubah pandangan salahnya, maka ia akan menjadi lebih mudah dalam menjalani latihan untuk mengendalikan pikirannya sendiri.

EGO

Kalau seseorang mau menyelidiki pikiran sendiri, maka ia akan menjumpai masalah klasik yang sama, dimana ketegangan dan kebosanan selalu timbul bila pikiran meminta sesuatu kepada orang lain. Biasanya seseorang berpikir 'Apa yang bisa dia berikan kepada saya ? ' Jarang sekali seseorang mau berpikir 'Apa yang bisa saya berikan kepadanya ?' Ego inilah yang sering membawa kita kepada banyak masalah yang pada akhirnya menimbulkan stres, bosan dan sebagainya... Oleh karena itu untuk mengendalikan pikiran agar terbebas dari semua masalah yang ada, diperlukan REFORMASI CARA BERPIKIR sehingga sedikit demi sedikit seseorang akan mampu melepaskan diri dari pikiran yang selalu mementingkan diri sendiri. Untuk itu setiap orang harus mempunyai pola pikir yang MELEPAS, bukan MEMINTA.

LATIHAN MELEPAS

Cara yang paling mudah adalah dengan cara BERDANA. Berdana adalah melepas sebagian bahkan seluruh milik kita untuk kebahagiaan orang lain. Yang paling penting dari berdana ini adalah pikiran selalu terlatih untuk melepas, sehingga ego semakin lama akan semakin berkurang. Cara yang lebih tinggi adalah dengan melaksanakan moralitas atau SILA. Melatih diri untuk tidak membunuh berarti melepas kekejaman seseorang untuk menghilangkan nyawa mahluk lainnya. Melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan berarti melepas keserakahan seseorang terhadap milik orang lain. Melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila, berarti melepas keinginan-keinginan yang tidak patut. Melatih diri untuk tidak mengeluarkan ucapan yang tidak benar berarti melepas keinginan untuk berbohong dan menjelekkan orang lain. Melatih diri untuk tidak minum minuman keras yang memabukkan berarti melepas keinginan akan benda-benda yang dapat menghilangkan kesadaran. Ke-lima sila inilah yang akan menyebabkan seseorang menjadi harmoni dengan orang lainnya dan kelima sila ini selalu berintikan pada pikiran yang MELEPAS. Latihan yang lebih tinggi lagi adalah MEDITASI. Meditasi akan melihat dan menganalisa pikiran secara langsung pada pusatnya. Meditasi inilah yang akan membawa seseorang pada pemahaman akan kehidupan ini beserta semua aspeknya.

PENUTUP

Melepas berarti berusaha untuk tidak melekat, mengetahui sifat-sifatnya dengan jelas dimana semuanya itu bersifat selalu berubah(Anicca), tidak memuaskan (Dukkha) dan tanpa inti (Anatta). Semua sarana dan fasilitas yang ada di kehidupan modern ini tidak akan menjadi musuh, tidak akan menjadi sesuatu yang menakutkan dan tidak akan ada alasan untuk timbulnya ketegangan dan kebosanan, karena pikiran sudah dapat dikendalikan sehingga tidak lagi mementingkan diri sendiri serta mampu untuk melepas. Pada saat inilah kebahagiaan sejati akan timbul, kebahagiaan yang timbul dari MELEPAS, bukan dari benda-benda yang ada.Inilah REFORMASI BATIN yang sangat diperlukan oleh manusia modern saat ini.

Sejarah Agama Buddha Theravada


Sejarah Agama Buddha Theravada


Tanggal sesungguhnya dari kelahiran Sang Buddha tidak diketahui dengan pasti. Menurut tradisi Buddhist, Sang Buddha lahir pada tahun 624 BCE ( Before Common Era), dan juga terdapat beberapa perkiraan lainnya terhadap tahun kelahiran Sang Buddha. Tahun 560 BCE adalah tahun yang diterima secara umum sebagai tahun kelahiran Sang Buddha. Kejadian pada garis waktu sebelum tahun 250 sebelum masehi ditunjukkan dengan dua tahun masehi yang berbeda.

Pertama adalah tahun kelahiran Sang Buddha yang ditulis berdasarkan pada sumber "tradisi" yaitu 624 BCE, kemudian diikuti dengan tahun kelahiran Sang Buddha yang berdasarkan pada tahun "sejarah" 560 sebelum masehi. Setelah tahun 250 sebelum masehi, tahun "sejarah" dapat dihilangkan karena waktu dari peristiwa berikutnya diketahui dengan lebih tepat. Cara perhitungan tahun masehi yang berhubungan dengan kejadian dari penanggalan Buddhis tradisional dilakukan dengan melakukan pengurangan dari tahun Buddhis (BE - Buddhist Era) sebanyak 544 tahun

BE __

BE Tahun Masehi (CE - Common Era)

-80 -624/-560

Bodhisatta atau calon Buddha, lahir di Lumbini (Nepal saat ini) sebagai Siddhata, pangeran dari suku Sakya.

-51 -595/-531

Boddhisatta meninggalkan kehidupan keduniawian

-45 -589/-525

Selama meditasi di bawah pohon Boddhi di hutan Gaya (Sekarang Bodhgaya, India), saat bulan purnama Siddhi di Bulan Mei, Sang Boddhisata mencapai Kebuddhaan. Selama bulan purnama di bulan Juli, Sang Buddha membabarkan ajarannya yang pertama di daerah dekat Varanasi, menunjukkan kepada dunia Empat Kasunyataan Mulia dan memulai pembabaran Dhamma dan Vinaya selama 45 tahun.

1

-544/-480 Sang Buddha Parinibbana di Kusinara (Sekarang Kusinagar, India) pada usia 80 tahun Selama masa musim hujan, setelah Sang Buddha parinibbana, diadakan Persamuan Agung pertama di Rajagaha, India yang dihadiri oleh 500 orang bikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian arahat, yang dipimpin oleh Ven Bikkhu Mahakassapa Thera. Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka.

Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka.

100 -444/-380

100 tahun setelah sang Buddha parinibbana, diselenggarakan Persamuhan Agung kedua di Vesali. Pada Persamuhan Agung ini dibahas mengenai perbedaan yang terjadi saat itu mengenai aturan Vinaya. Keretakan sangha yang pertama timbul antara sekte Mahasanghika dan Sthaviravadins yang tradisional. Permasalahannya adalah Mahasanghika tidak mau menerima sutta dan vinaya sebagai sumber terakhir dari ajaran sang Buddha. Mahasanghika kemudian berkembang menjadi Mahayana yang mendominasi agama Buddha di utara Asia (Cina, Tibet, Jepang dan Korea).

294 -250

Persamuhan Agung ketiga yang didukung oleh Raja Asoka di Pataliputra (India). Perselisihan perbedaan doktrin yang kemudian menimbulkan keretakan, melahirkan sekte Sarvastivadin dan Vibhajjavadin. Abhidhamma Pitaka diulang kembali pada persamuhan ini, dengan tambahan Khuddaka Nikaya. Kitab suci Tipitaka Pali telah lengkap secara keseluruhan.

297 -247

Raja Asoka mengirim putranya, Ven Bikkhu Mahinda Thera ke Sri Lanka dengan misi menyebarkan agama Buddha di Sri Lanka. Kemudian Raja Sri Lanka Devanampiya Tissa memeluk agama Buddha.

304 -240

Ven Bikkhu Mahinda Thera mendirikan Mahavihara di Anuradhapura, Sri Lanka. Komunitas sekte Vibhajjavadin yang berdiam di Sri Lanka kemudian berkembang menjadi Theravadin . Kemudian Saudara perempuan Bikkhu Mahinda, Bikkhuni Sanghamitta, tiba di Sri Lanka dengan membawa potongan pohon Boddhi dan mendirikan Sangha Bikkhuni di Sri Lanka.

444 -100

Peristiwa kelaparan dan perpecahan yang terjadi di Srilanka menyebabkan kitab suci Tipitaka ditulis untuk menjaga kelangsungan agama Buddha. Raja Vattagamani mengadakan Persamuhan Agung keempat dengan 500 bikkhu dan ahli tulis dari Mahavihara untuk menulis Kitab Tipitaka Pali untuk pertama kalinya pada daun palem.

544 1

Dimulainya tahun Masehi (Common Era). Tahun 1 AD atau tahun 1 masehi.

644 100

Agama Buddha Theravada muncul pertama kalinya di Burma dan bagian tengah Thailand.

744 200

Universitas Buddhis Nalanda berkembang di India , merupakan pusat pelajaran agama Buddha kurang lebih selama 1000 tahun.

969 425

Ven Bikkhu Buddhaghosa Thera (Sri Lanka) membuat komentar dari kitab Tipitaka Pali (Atthakatha).

1594 1050

Komunitas Bikkhu dan Bikkhuni di Anuradhapura hancur karena invasi dari India bagian selatan.

1604 1060

Berkembangnya Theravada di Pagan, Burma.

1614 1070

Bikkhu-bikkhu dari Pagan tiba di Polonnaruwa, Sri Lanka untuk mengembalikan kembali garis pentahbisan bikkhu Theravada di Sri lanka.

1744 1200

Polonnaruwa hancur oleh invasi asing.

1780 1236

Bikkhu-bikkhu dari Kancipuram, India tiba di Sri Lanka untuk membangkitkan kembali sekte Theravada.

1831 1287

Pagan dihancurkan oleh invasi Mongol. Jaman kemunduran dimulai.

1900 1300s

Tradisi hutan dari Sri Lanka berkembang di Burma dan Thailand. Theravada juga menyebar di Laos.

2000 1400s

Tradisi hutan lainnya dari Sri Lanka juga berkembang di Ayudhaya, ibu kota Thailand saat itu. Tradisi yang baru ini juga berkembang di Burma.

2300 1700s

Burma menyerang Ayudhaya. Raja Thailand Rama I membantu pemulihan Theravada dengan membawa duplikat kitab Tipitaka Pali dari Sri Lanka.

2400 1800s

Keadaan Sangha Sri Lanka memburuk dibawah tekanan pemerintahan tiga negara kolonial (Portugis, Belanda dan Inggris). Raja Rama IV dan Rama V dari Thailand mengadakan perubahan pada Sangha Thailand, pada kepemimpinan formasi sekte Dhammayut dan Mahanikaya.

2406 1862

Terjemahan pertama Dhammapada ke dalam bahasa barat (Jerman).

2412 1868

Persamuhan Agung kelima diselenggarakan di Burma. Kitab Tipitaka Pali ditulis pada 729 batu pualam.

2423 1879

Sir Edwin Arnold mempublikasikan syair "Light of Asia", yang kemudian menjadi buku yang paling laris terjual di Inggris dan Amerika, menyebabkan tertariknya orang-orang barat akan agama Buddha.

2424 1880

Helena Blavatsky dan Henry Steel Olcott, pendiri dari Theosophical Society, tiba di Sri Lanka dari USA, kemudian memeluk agama Buddha dan memulai kampanye pengembangan agama Buddha dengan mendorong pertumbuhan dan perkembangan sekolah-sekolah Buddhist di Sri Lanka.

2425 1881

Pali Text Society didirikan di Inggris oleh T.W.Rhys Davids. Selama lebih dari 100 tahun , banyak bagian dari Tipitaka dipublikasikan dalam tulisan romawi dengan terjemahan ke bahasa Inggris.

2434 1890s

Vihara Theravada pertama didirikan di Australia oleh para pekerja mutiara di pulau Thursday yang berasal dari Sri Lanka.

2443 1899

Bikkhu Theravada barat pertama (Gordon Douglas) ditahbiskan di Burma


2444 1900

Ven. Bikkhu Ajaan Mun dan Ven Bikkhu Ajaan Sao membangkitkan kembali meditasi dengan tradisi hutan di Thailand

2469 1925

"The Little Circle of The Dhamma" didirikan oleh Max Dunn, Max Taylor dan David Maurice di Melbourne, merupakan kelompok Theravada pertama yang didirikan oleh bangsa barat.

2484 1940

Vihara Theravada pertama di Vietnam, vihara Buu Quang (Ratana Ramsyarama) didirikan di Saigon. Kepala viharanya adalah Ven Bikkhu Ho Tong (Vansarakkhita) yang ditahbiskan di Kamboja oleh Ven Bikkhu Chuon Nath, Sangharaja Komboja.

2491 1947

Ven Bikkhu Mahasi Sayadaw menjadi kepala pengajar pada pusat meditasi yang disponsori oleh pemerintah Burma di Ranggon.

2494 1950

World Fellowship of Buddhist (WFB) atau Persahabatan Buddhis Sedunia didirikan di Colombo, Sri Lanka oleh 500 utusan dari 26 negara. Kemudian oleh semua utusan, disetujui penggunaan Bendera Buddhis dan waktu untuk merayakan kelahiran Sang Buddha (saat bulan penuh di bulan Mei) yang sama .

2495 2495 1951 Bikkhuni Dhammadinna (berkebangsaan Amerika) yang ditahbiskan di Sri Lanka, berkunjung ke Australia dan memimpin perayaan Waisak pertama di negeri tersebut.
2498 Pemerintah Burma mensponsori Persamuhan Agung keenam di Rangoon.
2500 1956 Tahun Buddha Jayanti, memperingati 2500 tahun agama Buddha.
2502 1958

Ven. Bikkhu Nyanaponika Thera mendirikan Buddhist Publication Society, Perhimpunan Publikasi Buddhis di Sri Lanka untuk mempublikasikan buku-buku Theravada berbahasa Inggris. Pergerakan Sarvodaya Shramadana didirikan di Sri Lanka untuk membawa agama Buddha dalam misi penanggulangan berbagai masalah sosial. Dua orang kebangsaan Jerman ditahbiskan di kedutaan besar Kerajaan Thailand di London. Mereka merupakan orang yang pertama kali ditahbiskan secara Theravada di negara barat.

2509 1965 Vihara Buddhis didirikan di Washington D.C, merupakan vihara Theravada pertama di Amerika Serikat.
2514 1970

Timbul banyak perhimpunan ikatan persaudaraan Buddhis di Amerika dan Eropa, yang disebabkan oleh penolakan perang di Vietnam, komboja, dan Laos.

2519 1975

Ven Bikkhu Ajaan Chah mendirikan Wat Pah Nanachat, vihara hutan di Thailand yang khusus digunakan untuk latihan bagi bikkhu berkebangsaan barat. Insight Meditation Society (IMS), atau Perhimpunan Meditasi Pandangan Terang, didirikan di Massachusetts, Amerika oleh tiga guru (Joseph Goldstein, Sharon Salzberg, Jack Kornfield) yang belajar dibawah bimbingan berbagai guru Buddha dan Hindu di Asia. Vihara Buddharangsee didirikan di Sidney, Australia oleh Bikkhu Khantipalo (Inggris) dan tiga bikkhu Thailand.

2521 1977

Ven Bikkhu Ajaan Chah mengadakan perjalanan ke Inggris bersama-sama dengan Ven Bikkhu Ajaan Sumedho (berkebangsaan Amerika yang berlatih di Thailand) untuk memimpin perhimpunan bikkhu di Vihara Hamsptead, yang kemudian pindah ke Sussex, Inggris berubah menjadi Vihara Pah Cittaviveka (vihara hutan Chithurst).

2522 1978

Vihara Phap Van, vihara Theravada dari vietnam yang pertama kali didirikan di Pomona, California oleh Ven Bikkhu Tinh Duc.

2524 1980

Pusat-pusat meditasi menjadi terkenal di Amerika Serikat dan Eropa.

2526 1982

Di West Virginia, Amerika Serikat didirikan vihara Theravada dengan tradisi hutan yang pertama.

2528 1984

Vihara Amaravati didirikan di Inggris oleh Ven Bikkhu Ajaan Sumedho. Vihara Bodhinyana didirikan oleh Ven Bikkhu Jagaro (Australia) dan Ven Bikkhu Brahmavamso, yang semuanya merupakan murid-murid dari Ajaan Chah.

2534 1990

Vihara Hutan Metta, yang merupakan pusat meditasi dengan tradisi hutan dari Thailand, didirikan di selatan California, Amerika Serikat, dengan kepala vihara Ajaan Suwat.

2541 1997

Ven Bikkhu Aggasami (Khanh Hy) mendirikan vihara Theravada Vietnam yang pertama kalinya di Montreal, Kanada, yaitu Pusat Meditasi Pannarama atau Bat Nha Thien Vien.

2542 1998

Vihara Dhammasara didirikan di dekat Perth, Australia oleh Buddhist Society of Western Australia.

Tahun Masehi atau Common Era (CE) sama dengan tata nama BC ('Before Christ') dan AD ('Anno Domini'). Sebagai contoh, 100 BCE (Before Common Era) atau -100 CE sama dengan 100 BC; 100 CE sama dengan 100 AD. Pada pola CE, tahun 1 BCE diikuti dengan tahun 1 CE. Tidak ada tahun Nol.

Sumber dalam Bahasa Inggris : Http://World .std.com/~metta/history.html

Terjemahan : Patria Jatim