Tampilkan postingan dengan label Mahayana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahayana. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Agustus 2011

Bodhidharma, Sesepuh Zen



Bodhidharma, Sesepuh Zen



Agama  Buddha Chan (Chan Zhong) sebuah tradisi utama lainnya dari agama Buddha Mahayana, muncul sebagai akibat kunjungan bersejarah ke Tiongkok yang dilakukan oleh seorang suciwan agung dari India, Bodhidharma. Bodhidharma tiba di Kanton (Guang Dong) pada tahun 520 Masehi. Chan adalah terjemahan dari istilah Sanskerta DHYANA, yang berarti meditasi. Dengan demikian, agama Buddha Chan mensyaratkan para umatnya untuk mempraktikkan praktik-praktik meditasi yang ketat dan dalam, yang memotong habis intelektualisme. Ini terkadang membuat orang menjadi percaya bahwa praktik ini sangat mirip dengan praktik Tanah Suci. Praktik Tanah Suci juga menyingkirkan pengetahuan intelektual, serta mengajarkan para umatnya untuk berkeyakinan penuh terhadap Buddha Amitabha untuk memperoleh keselamatan, sekalipun bagi agama Buddha Chan keselamatan bukanlah "JALAN MUDAH". Bagi agama Buddha Chan, keselamatan membutuhkan kekuatan dan upaya diri untuk mencapai keselamatan, serta tidak bergantung pada Buddha mana pun untuk membantu pencapaian Pencerahan. Namun, kedua tradisi ini sama-sama populer bagi orang Tionghoa, dan kemudian juga bagi orang Jepang di abad ke-12. Di Jepang, agama Buddha Chan ini dikenal sebagai agama Buddha Zen. Dua aliran utama yang muncul dari tradisi ini adalah RINZAI (LIN CI) dan SOTO (CAO DONG), yang hanya berbeda dalam cara pendekatannya menuju Pencerahan.

Bodhidharma (470-543 Masehi) adalah sesepuh ke-28 agama Buddha, sekaligus sebagai sesepuh pertama dari agama Buddha Chan, tradisi yang didirikannya di Tiongkok. Ajarannya diwariskan turun-temurun dengan apa yang dikenal sebagai "TRANSMISI BATIN/PEWARISAN BATIN" terhadap sejumlah sesepuh. Salah satu sesepuh yang paling terkenal adalah HUI NENG (637-713 Masehi), yang merupakan sesepuh ke enam.

Sesampainya di Tiongkok, Bodhidharma dipanggil menghadap ke istana oleh Kaisar WU DI dari Dinasti Liang, yang juga merupakan sesosok umat Buddha yang penuh semangat serta yang membanggakan dirinya karena banyak mendukung agama Buddha. Karena bangga atas pengetahuannya akan agama Buddha serta sumbangsih yang telah diberikannya kepada Sangha, ia bertanya kepada sang suciwan, "seberapa banyak jasa kebajikan yang telah diperolehnya?".

"Tidak ada jasa kebajikan apa pun" adalah jawaban yang mengejutkan dari Bodhidharma.

Sang Kaisar sering kali mendengarkan ajaran dari para guru terkenal yang berkata, "jika berbuat baik, Engkau akan menerima kebaikan. Jika berbuat buruk, Engkau akan menerima keburukan. Hukum Karma tak berubah, akibat timbul dari penyebab laksana bayang-bayang mengikuti bendanya'. Namun sekarang sang suciwan menyatakan bahwa Kaisar belum memperoleh jasa kebajikan apa pun. Kaisar merasa sangat kebingungan.

Mengapa Bodhidharma menjawab seperti itu? Mungkin karena beliau tengah mencoba berkata, dengan sedikit kata-kata, bahwa jika seseorang melakukan perbuatan baik dengan niat untuk memperoleh jasa kebajikan bagi dirinya sendiri, itu bukan lagi praktik Buddhis. Itu berarti bahwa orang itu tidak benar-benar tengah mempraktikkan Dharma, namun lebih untuk memuaskan egonya sendiri ataupun meningkatkan kesejahteraannya sendiri, dan malah mungkin supaya dikenal dan dihargai. Dalam hal ini, bagaimana mungkin ada jasa kebajikan apa pun dalam perbuatan seperti ini? Dan sebagai guru Zen, ia tidak berkata banyak. Karena itu, ia hanya menjawab, "Tidak ada jasa kebajikan apa pun".

Merasa terkejut, Kaisar lalu menanyakan pertanyaan berikutnya, "Lalu, apa inti agama Buddha itu?"

Bodhidharma segera menjawab. "Kekosongan di mana-mana, tiada inti apa pun". Jawaban ini membuat Kaisar tertegun karena ia tak mampu memahami makna yang mendalam dari istilah "Tiada inti apa pun" dalam ajaran Buddha. Para guru lainnya telah bersusah-payah menjelaskan bahwa inti ajaran agama Buddha terkandung dalam doktrin-doktrin seperti Hukum Sebab Akibat (Hukum Karma), Empat Kebenaran Mulia, Cita-cita Bodhisatwa, dan sebagainya. Namun orang yang dianggapnya sebagai sosok sesepuh agung agama Buddha ini hanya menyatakan bahwa "tidak ada inti apa pun"

Lalu Kaisar menanyakan pertanyaannya yang terakhir, "Karena Engkau menyatakan bahwa dalam agama Buddha semua hal tidak memiliki inti, lalu siapakah yang tengah berbicara di hadapankun saat ini?" Bodhidharma menjawab, "Saya tidak tahu". Sang Kaisar sangat terkejut, karena ia tidak mampu memahami maksud Bodhidharma.

Dengan penuh kebingungan, Kaisar lalu menyuruh sang suciwan pergi dari istana. Demikianlah, untuk pertama kalinya Tiongkok mencicipi ajaran Chan.

Setelah itu, Bodhidharma menyendiri lagi, merenung, "Karena sesosok ahli yang terpelajar dan hebat seperti Kaisar pun tidak mampu memahami apa yang aku tengah coba sampaikan, mungkin kondisinya belum matang bagiku untuk mengajar......" Ia lalu menyendiri di sebuah gua di Biara Shao Lin (Shao Lin Si) yang terkenal itu. Disana, ia duduk dalam perenungan yang mendalam seraya menghadap ke dinding gua selama sekitar sembilan tahun, menunggu waktu yang tepat, saat ajaran-ajarannya bisa dipahami dan diterima rakyat disana.

Bodhidharma datang ke Tiongkok untuk memberikan ajarannya yang khusus, yang bisa dikatakan terkandung dalam syair ini :
                               PEWARISAN AJARAN SECARA KHUSUS DI LUAR KITAB SUCI,
                              TAK BERGANTUNG PADA KATA ATAUPUN HURUF,
                              LANGSUNG MENEMBUS KE HATI,
                              MELIHAT KE DALAM SIFAT DIRI SENDIRI.

Bodhidharma selanjutnya tinggal di Tiongkok selama sekitar 50 tahun, mengajar di saat yang tepat, dan menggunakan LANKAVATARA SUTRA (LENG JIA JING) dalam ajarannya. Ia digantikan oleh para sesepuh berikut ini :
                      - Sesepuh ke-2 : Hui Ke (486-593 Masehi)
                      - Sesepuh ke-3 : Seng Can (wafat tahun 606 Masehi)
                      - Sesepuh ke-4 : Dao Xin (580-651 Masehi)
                      - Sesepuh ke-5 : Hong Reng (602-675 Masehi)
                      - Sesepuh ke-6 : Hui Neng (638-713 Masehi)

Adalah Hui Neng, seorang pandai kayu yang buta huruf, yang akhirnya membuat agama Buddha Chan berkembang subur di Tiongkok, lebih dari sebelumnya.

Mungkin menarik untuk dicatat disini bahwa setelah kepergian Bodhidharma, Kaisar Wu Di membicarakan kejadian tersebut dengan guru spiritualnya, BAO ZHI. Sang guru bertanya kepada sang Kaisar, "Apakah Yang Mulia mengetahui siapakah orang ini sesungguhnya? Beliau ini adalah Avalokitesvara Mahasatva yang tengah mewariskan Jejak Hati Buddha....."

Betapa menyesalnya Kaisar karena telah menyuruhnya pergi dari istana. Bertahun-tahun kemudian, tatkala mengetahui sang suciwan telah wafat, Kaisar sangat berduka. Ia lalu membuatkan sebuah pahatan untuk mengenang sang sesepuh agung tersebut. Pahatan itu berbunyi :
              "ADUHAI! AKU MELIHATNYA TAPI TAK MELIHATNYA,
               AKU BERJUMPA DENGANNYA TAPI TAK BERJUMPA DENGANNYA,
               AKU BERTEMU DENGANNYA TAPI TAK BERTEMU DENGANNYA,
               SEKARANG, DAN SEBELUM INI, SUNGGUH AKU MENYESALINYA!."

Bodhidharma memiliki banyak umat yang penuh bakti, dan hari wafatnya diperingati pada tanggal 5 bulan 10 penanggalan bulan. Beliau sering kali dilukiskan sebagai sesosok biksu kelana, atau dilukiskan berdiri menjejak sebatang ilalang yang membawanya menyeberang sungai, suatu mukjizat yang membuat orang -orang yang menyakini kekuatannya ini menganggap beliau sebagai seorang ARHANT atau LUO HAN, suatu istilah dalam bahasa Mandarin yang artinya "DEWA ABADI". Menurut tradisi Tionghoa, Bodhidharma adalah salah satu dari 18 Luo Han yang sangat dekat dengan umat manusia. Lukisan kelompok Luo Han ini umumnya terdapat di banyak wihara, dan para Luo Han ini digambarkan memiliki aneka jenis kekuatan adialami, yang dilambangkan oleh hewan-hewan liar yang merunduk jinak di samping mereka, dan atau oleh benda-benda khusus yang dihubungkan dengan mereka ini. Sekalipun para Luo Han ini berada satu tataran di bawah tataran Bodhisatwa, mereka ini adalah makhluk-makhluk yang telah Tercerahkan, yang patut kita hormati. Oleh umat Buddha, Bodhidharma atau DA MO dipuja sebagai pendiri TRADISI PERENUNGAN AGUNG atau CHAN/ZEN. Dan oleh orang-orang lainnya, ia dipuja atas kekuatan perlindungannya, atau sebagai suciwan agung dari Biara Shao Lin.

Sumber : Buddha dan Bodhisatwa dalam agama Buddha Tionghoa
Penerbit : Yayasan Serlingpa Dharmakirti

Kamis, 24 Februari 2011

Sakyamuni Buddha: Guru Kita Yang Sebenarnya oleh Yang Mulia Bhiksu Ching Kung

 
Sakyamuni Buddha: Guru Kita Yang Sebenarnya
Oleh Yang Mulia Bhiksu Ching Kung
 


      
Buddhisme adalah ajaran tentang lingkungan kehidupan di sekitar kita dan diri kita sendiri. Buddha mengajarkan kita untuk mengenal diri kita sendiri; pikiran, perkataan dan perbuatan kita serta yang lebih penting adalah akibat yang dapat ditimbulkannya. Buddha menginginkan kita untuk mengembalikan keaslian dan kebijaksanaan diri yang sempurna. Beliau mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk mencapai pengertian akan hidup dan alam semesta yang sempurna dan hanya karena ilusi yang membuat kita tidak sanggup menyadarinya. Kita dibutakan oleh diskriminasi, pemikiran yang tidak menentu dan keterikatan serta melupakan pemikiran murni kita yang sesungguhnya tentang diri kita. Dengan cara  ini,   kita  telah menyebabkan penderitaan yang tidak perlu pada diri kita sendiri.

 
      Buddha juga mengajarkan kita untuk memandang lingkungan hidup kita dengan jelas. Lingkungan meliputi semua obyek yang kita jumpai setiap hari. 

       Ketika hati kita bebas dari pikiran diskriminasi dan keterikatan, kita akan dapat melihat segala sesuatu dengan jelas dan berhubungan dengan mereka secara benar. Dengan demikian, kita dapat hidup harmonis dengan yang lain dan berhasil dalam semua usaha kita.

       Apa maksud Buddha ketika mengajarkan kita untuk menanam? Keinginan utama agar kita terhindar dari kekeliruan  dan keterikatan. Jika kita menyimpulkan Enam Praktek Dasar yang diajarkan Buddha, kita akan menyadari bahwa perbuatan memberi merupakan praktek yang terpenting. Memberi secara sederhana dapat diartikan sebagai melepaskan. Jika kita dapat melepaskan ketamakan, kemarahan dan kebodohan dan keangkuhan, maka kita akan selalu berpikir dengan jernih. Jika kita dapat melepaskan semua perbedaan, kesusahan dan keterikatan, kita akan mencapai kedamaian, kebebasan spiritual, kesehatan dan umur yang panjang. Jika kita dapat melepaskan pandangan kita sendiri dan bekerja sama demi kepentingan orang lain, kita akan mencapai keselarasan dengan hidup orang lain, masyarakat dan akhirnya dunia yang damai. Dari sini, kita dapat melihat bahwa dasar utama dari ajaran Buddha tidak lain adalah memberi.

       Pada waktu Buddha Sakyamuni masih ada di dunia, Beliau tidak hanya menggunakan kata-kata untuk mengajar, tetapi membuat dirinya sendiri sebagai contoh bagi semua makhluk hidup untuk diteladani. Beliau melepaskan   semua    keinginan, kesenangan duniawi, popularitas dan kekayaan dengan meninggalkan rumah. Beliau hidup sederhana., murni dalam pikiran dan jasmani dan bahagia. Orang biasa mungkin akan melihat hal ini sebagai kepahitan dan menyedihkan, tetapi ini hanya disebabkan oleh kekurangpahaman mereka. (Seseorang yang bijaksana akan memandang hal dengan berbeda).  Orang yang bijaksana akan melihat kehidupan Sang Buddha sebagai sebuah kebebasan yang sebenarnya, kebahagiaan dan pemenuhan hidup. Buddha tidak mempunyai pikiran yang tidak berguna, membeda-bedakan, terikat atau kesusahan. Betapa senangnya Beliau! Beliau sesuai dengan semua kondisi dan memancarkan kebijaksanaan dalam setiap pikiran dan tindakan untuk mengajar semua makhluk berperasaan di dunia ini. 

       Para Buddha menjalani hidup dengan kebijaksanaan, sementara orang biasa menjalani hidup dengan penderitaan. Ajaran Buddha Sakyamuni menunjukkan kepada kita bagaimana mengubah hidup penuh derita menjadi hidup penuh kebijaksanaan. Dari ajaran ini, kita akan belajar bagaimana mengubah hidup derita menjadi hidup penuh kebijaksanaan. Dari ajaran ini, kita akan belajar bagaimana memperoleh kebijaksanaan yang sempurna dan kemampuan dari sifat dasar kita sendiri, yang akan membuat kita mampu mencapai jalan kebahagiaan dan kemakmuran yang sebenarnya. Inilah yang disebut dengan Ajaran Sang Buddha
 
Sumber Asli: Art of Living BAB I Saykamuni Buddha, Our Real Teacher. Diterbitkan oleh Amitabha Buddhist Society                       Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Bodhi Buddhist Centre Indonesia.

Selasa, 07 Desember 2010

Tiga Perlindungan



Tiga Perlindungan






Untuk menjadi seorang Umat Buddha, kita tidak perlu menjalankan upacara khusus seperti pembaptisan, "mencukur rambut", atau memakai jubah tertentu. Pengikut beberapa agama tertentu mengharuskan memelihara jenggot bagi pria dan model rambutnya pun ditentukan. Ada pula agama yang mengharuskan pemeluknya memakai tanda berwarna di kening mereka. Dalam agama Buddha hal seperti itu tidak ada. Satu-satunya cara yang paling nyata untuk menjadi seorang Buddhis adalah dengan mempelajari ajaran Sang Buddha, untuk kemudian mempraktekkannya. Tetapi umumnya, orang yang telah memutuskan untuk menjadi pemeluk Buddha lebih suka mengadakan sebuah perayaan kecil sebagai pernyataan bahwa ia telah menbuat keputusan yang penting ini. Perayaan yang biasanya kita lakukan dikenal sebagai "Berlindung pada Tiga Permata dan Menjalankan Lima Sila". Sebenarnya apakah Tiga Permata itu dan apa arti Tiga Permata bagi kita?

Tidaklah penting perayaan atau upacara itu dilakukan dalam bahasa Pali, Sansekerta, Inggris, atau Indonesia. Yang paling penting adalah apa yang ada di hati. Ada makna yang sangat dalam yang dikandung pernyataan Berlindung ini dan kita dapat melihatnya dari beberapa segi, tiap segi ini menambahkan arti dan menambah nilai bagi kita. Dibawah ini merupakan pernyataan berlindung itu dalam bahasa Indonesia.

SAYA BERLINDUNG PADA BUDDHA
SAYA BERLINDUNG PADA DHARMA
SAYA BERLINDUNG PADA SANGHA

tetapi, untuk sementara orang pernyataan berlindung ini dapat diungkapkan dengan lebih berkesan, seperti berikut ini:

SAYA BERSUJUD MOHON BIMBINGAN PADA YANG TERANG SEMPURNA
SAYA BERSUJUD MOHON BIMBINGAN PADA AJARANNYA YANG SUCI
SAYA BERSUJUD MOHON BIMBINGAN PADA PERSAUDARAAN SUCI PARA SISWANYA

Ungkapan lainnya yang dapat digunakan untuk pernyataan berlindung ini adalah:

SAYA MENEMUKAN KEBENARAN DALAM SANG BUDDHA
SAYA MENEMUKAN KEBENARAN DALAM AJARANNYA
SAYA MENEMUKAN KEBENARAN DALAM PERSAUDARAAN SUCINYA

Perlu diingat bahwa sebaik apapun kata-kata itu diucapkan, namun tidak akan bermakna bila yang diucapkan tidak selaras dengan apa yang ada alam hati. Seseorang yang bertempat tinggal jauh dari masyarakat Buddhis dan tidak pernah melihat Bhikkhu, bisa saja merupakan pengikut Buddha sejati jika ia bertekad untuk menjadi siswa Sang Buddha dan mengikuti Ajaran-Nya.

Sang Buddha adalah Guru kita, Dharma adalah penawar derita kita, yang menunjukkan jalan menuju lenyapnya ketidak-bahagiaan, dan Sangha adalah sahabat kita. Setiap anak buddhis seygoyanya mempunyai doa yang diucapkan pada saat mau tidur maupun pada saat bangun tidur. Siapa saja dapat mengingat doa Tiga Perlindungna ini dengan sangat mudah. Dan, Tiga Perlindungan merupakan doa yang sangat baik dilaksanakan kapan saja dan dimana saja. Tetapi, dalam dunia Buddhis, diuakini bahwa palng baik memulai hari dengan mengingat Tiga Permata atau Tiga Perlindungan, dan menjadikannya sebagai penutup hari sebelum kita tidur. meskipun doa ini singkat, namun, perlu diingat bahwa Ia meliputi seluruh Ajaran Buddhis.

Buddha, Guru Agung kita dan penunjuk jalan kehidupan bagi kita. Dharma, merupakan Ajaran yang diwariskan-Nya kepada kita sebagai "Pedoman" dalam menempuh kehidupan ini. Sedangkan angha, atau persaudaraan para Bhikkhu, melambangkan penjaga Dharma dan merupakan sahabat kita.

Pada zaman dahulu, di Korea, hiduplah sebuah keluarga miskin yang hidup dari mengumpulkan kayu hutan untuk kemudian dibuat arang. keluarga ini mempunyai sepasang anak. Meskipun hidup mereka susah, mereka tetap bahagia. Hingga suatu hari, penyakit "Singgah" di gubuk mereka. Ayah dan ibu mereka mulai cemas. Tetangga yang terdekat berada beberapa mil dari tempat mereka, dan untuk meminta bantuan kesana, banyak gunung yang harus dilalui. Akhirnya, setelah beras habid dan tak ada lagi obat-obatan yang bisa digunakan, suami istteri itu meminta anak-anak mereka meminta pertolongan. Mereka dengan seksama memberikan petunjuk pada anak-anaknya agaimana melewato ginung-gunung yang tinggi, dan sebelum anak-anak itu berangkat, mereka tidak lupa berdoa pada Sang Buddha. Mereka memulai dan mengakhiri doa mereka dengan memanjatkan Tiga Perlindungan. Maka, berangkatlah kedua anak kecil itu mencari pertolongan untuk ayah ibu mereka yang sakit.

Akhirnya, setelah berjalan berjam-jam, dan dalam keadaan yang sangat lelah, mereka berhasil tiba di kampung terdekat. Orang-orang kampung yang baik memberikan mereka obat-obatan dan makanan, seorang ibu menawarkan diri untuk pulang bersama mereka agar bisa membantu merawat orang tua mereka yang sakit.

ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang, tiba-tiba muncul seorang merampok menghadap di tengah jalan, dengan golok ditangan, dan mengancam akan membunuh mereka. Wanita tua sangat ketakutan, ia lari terbiri-birit. Anak-anak tidak berdaya, mereka masih kecil, mereka tidak kuat berlari jauh. Akhirnya, mereka berlutu, memejamkan mata, dan memanjatkan doa Tiga Perlindungan.

Ketika perampok tersebut melihat hal ini, mendengar Tiga Perlindungan, badannya menjadi lemas. Ia teringat waktu masih kecil, ibunya juga mengajarkan doa Tiga Perlindungan kepadannya. Ia kemudian menangis. Doa Tiga Perlindungan telah menggugah hatinya. Sejak itu, ia berjanji untuk menjadi orang baik dan jujur. Ia mencari wanita tua yang lari tadi, kemudian memikul beras, obat-obatan, bersama anak-anak kembali ke gubuk mereka.

Ia tinggal di sana, dan membantu menebang kayu dan membuat arang hingga orang tua anak-anak itu sembuh. kemudian, orang yang pernah menjadi perampok buas ini tinggal disebuah vihara di gunung Intan di Korea, dan dalam usia tuanya dikenal sebagai orang suci.

Sampai saat ini, di atas batu nisannya terukir kata-kata "Perampok yang menjadi orang suci". Tetapi mari kita ingat baik-baik, pertobatan perampok itu diawali oleh anak-anak yang memanjatkan doa Tiga Perlindungan dengan sepenuh hati mereka.


[ Dikutip dari Majalah Buddhis Indonesia edisi 78 ]

Minggu, 21 November 2010

Manfaat Menjadi Bhikkhu



Manfaat Menjadi Bhikkhu
Oleh Edi Kurniawan


Tiap orang memiliki pandangan-pandangan berbeda tentang seorang bhikku. Jika ditinjau dari umur, pendapat remaja lain dengan pendapat orang dewasa. Remaja berpendapat bahwa menjadi bhikku berarti mencukur rambut mengenakan jubah, melaksanakan sila-sila, dan mengendalikan hawa nafsu. Ini tak sesuai dengan jiwa meraka. Jiwa yang penuh dengan gejolak nafsu. Sangat sulit bagi mereka yang mengendalikan nafsu keinginan. Bagi mereka, masa remaja harus diisi dengan kesenangan-kesenangan dan pergaulan. Menjadi bhikku adalah urusan di hari tua nanti.

Orang dewasa memiliki pandangan lain lagi. Mereka mungkin menyatakan, menjadi bhikku berarti berusaha menghindari kenyataan-kenyataan hidup. Menurut mereka, hidup adalah suatu tantangan yang harus mereka hadapi.

Cara seseorang memandang keadaan bhikku juga di pengaruhi oleh tingkat kesadaran yang dimilikinya. Pada umumnya, makin bertambah umur seseorang makin bertambah pula kesadarannya. Sehingga lama kelamaan ia dapat mengetahui hakekat untuk apa sebenar nya menjadi bhikku. Dalam kitab suci Dhammapada, Vagga II (Appamada Vagga = Kewaspadaan), ayat 21, sang Buddha menyatakan :

“Kesadaran adalah jalan menuju kehidupan, ketidaksadaran adalah jalan menuju kematian. Orang yang sadar tidak akan mati, yang tidak sadar seolah-olah telah masuk kubur.” Dalam menjalani proses kehidupan, seseorang memperoleh pengalaman-pengalaman hidup. Apabila ia tak dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan atas pengalaman-pengalaman yang dialami nya, ornag tersebut berada dalam keadaan”tak sadar”. Ia seakan-akan buta terhadap keadaan di sekelilingnya. Perasaannya tidak peka. Hal sebalik nya dialami oleh orang yang proses kesadarannya bertambah. Ia selalu mengamati perasaan-perasaan yang timbul. Berpikir tentang segala kejadian yang pernah di alaminya. Lalu ia merasa tidak puas atas apa yang pernah di peroleh nya. Ia bertanya,”inikah yang dikatakan hidup?”. Bila seseorang memiliki jalan pikiran seperti ini, ia dikatakan “ menuju kesadaran “.

Bila seseorang ingin menjadi bhikku, tentu ia dilandasi oleh dorongan-dorongan. Dari sekian banyak motivasi-motivasi, secara umum dapat dikelompokkan atas 3 bagian, yaitu :
  1. Dorongan (motivasi) yang berasal dari keinginan- keinginan rendah misalnya : karena ingin mendapat makanan secara gratis, karena ingin disanjung-sanjung, ataupun ingin dilihat sebagai seseorang yang taat beragama.
  2. Dorongan yang berasal dari sifat-sifat luhur terdiri dari :
    • Metta, cinta kasih yang menyeluruh, bebas dari sifat mementingkan diri sendiri. Bila seseornag memiliki sifat Metta, ia akan melihat bahwa menjadi bhikku memberikan peluang besar bagi dirinya untuk menyebarkan sifat metta kepada semua makhluk.
    • Karuna, belas kasihan melihat penderitaan makhluk hidup, sehingga ia ingin membebaskan mereka dari penderitaan. Perasaan ingin menolong makhluk hidup menyebabkan seseorang mencari cara untuk itu. Dan cara yang terbaik adalah menjadi bhikku.
    • Mudita, perasaan bahagia melihat orang lain berbahagia, sehingga timbul rasa simpati yang bebas dan iri hati.
    • Upekkha, suatu kejadian bathin yang seimbang dan tidak tergoncangkan. Dengan sikap ini, seseorang tidak akan ragu-ragu lagi untuk menjadi bhikku. Ia tidak mudah tergoda nafsu-nafsu duniawi.
  3. Dorongan-dorongan selain hal-hal diatas, misalnya: rasa ingin tahu, terdesak oleh keadaan, dan lain-lain.
Selanjutnya, akan kita tinjau apasebenarnya manfaat-manfaat yagn dapat diperoleh kalau seseorang bersungguh-sungguh menjalankan tugas sebagau seorang Bhikkhu. Sang Buddha telah menguraikan hal ini da;am “Samana Phala Sutta”.

Menurut Sang Buddha, faedah-faedah menjadi Bhikkhu antara lain:
  1. Setelah menjadi Bhikkhu, ia hidup mengejedalikan diri sesuai dengan Patimokkha (peraturan-peraturan Bhikkhu), sempurna kelakuan dan latihannya, dapat melihat bahayadalam kesalahan-kesalahan yagn paling kecil sekalipun. Ia menyesuailkan dan melatih dirinya dalamperaturan-peraturan. Menyempurnakan perbuatan-perbuatan dan ucapannya. Suci dalam cara hidupnya, sempruna silanya, terjaga pintu-pintu inderanya. Ia memiliki perhatian murni dan pengertian jelas dan hidup puas.
  2. Tugas utama seorang Bhikkhu adalah menyingkirkan lima rintangan (Panca Nivarana) dari dirinya. Lima rintangan tersebut adalah:
    • Kerinduan terhadap dunia (Kamachanda-Nivarana)
    • Itikad- itikad jahat (Vyapada-Nivarana)
    • Kemalasan dan kelambanan (Thinamiddha-Nivarana)
    • Kegelisahan dan kekhawatiran (Uddhacca-Kukkucca- Nivarana)
    • Keragu-raguan (Vicikiccha-Nivarana)
    Bila ia menyadari bahwa lima rintangan ini telah disingkirkan dari dalam dirinya, maka timbulla kegembiraan, karena gembira maka timbullah kegiuran (piti), karena bathin tergiur, maka seluruh tubuhnya terasa nyaman. Kemudian ia akan merasa bahagia, karena bahagia maka pikirannya terpusat. Lalu setelah terpisah dari nafsu-nafsu, jauh dari kecenderungan-kecenderungan tidak baik, maka ia masuk dan berdiam dalam jhana pertama, suatu keadaan bathin yang tergiur dan bahagia (piti-sukha), yang timbul dari kebebasan, yang masih disertai Vitakka (pengarah pikiran pada obyek) dan Vicara (mempertahankan pikiran pada obyek). Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, dan diresapi serta diliputi dengan perasaan tergiur dan bahagia, yang timbul dari ‘kebebasan’. Semua bagian tubuhnya diliputi oleh perasaan tergiur dan bahagia.
  3. Seorang Bhikkhu yang telah membebaskan diri dari Vitakka dan Vicara, memasuki dan berdiam dalam jhana kedua, yaitu keadaan bathin yang tergiur dan bahagia, yang timbul dari ketenangan konsentrasi, tanpa disertai dengan Vitakka dan Vicara, keadaan batin yang memusat. Semua bagian dari tibuhnya diluputi oleh perasaan tergiur dan bahagia yang timbul dari ‘konsetrasi’.
  4. Seorang Bhikkhu yang telah membebaskan dirinya dari perasaan tergiur, berdiam dalam keadaan yang seimbang dan disertai dengan perhatian murni dan pengertian murni dan pengertian jelas. Tubuhnya diliputi dengan perasaan bahagia, yang dikatakan oleh para ariya sebagai ‘kebahagiaan yang dimiliki oleh mereka yang bathinmua seimbang dan penuh perhatian murni’, ia memasuki dan berdiam dalam jhana ketiga. Seluruh tubuhnya dipenuhi, digenangi, diresapi serta diliputi dengan perasaaan bahagia yang tanpa disertai perasaan tergiur.
  5. Dengan menyingkirkan perasaan bahagia dan tidak bahagia, dengan menghilangkan perasaan-perasaan senang dan tidak senang yang telah dirasakan sebelumnya, bhikkhu itu memasuki dan berdiam dalam jhana keempat, yaitu suatu keadaan yang benar-benar seimbang, yang memiliki perhatian murni (sati parisuddhi). Bebas dari perasaan bahagia dan tidak bahagia. Demikian ia duduk disana, meluuyti seluruh tubuhnya dengan perasaan bathin yang bersih dan jernih.
  6. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya ke pandangan terang yang timbul dari pengetahuan (nana-dassana). Maka ia mengerti: ‘Tubuhku ini mempunyai bentuk terdiri aas 4 unsur pokok (unsur padat, cair, api dan angin), berasal dari ayah dan ibu, timbul dan berkembang karena perawatan yang terus-menerus, bersifat tidak kekal, dapat mengalami kerusakan, kelapukan, kehancuran dan kematian. Begitu pula dengan kesadaran (vinnana) yang terikat dengannya.
  7. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada penciptaan ‘tubuh-ciptaan-bathin (mano-maya-kaya), yang memiliki bentuk, memiliki anggota-anggota dan bagian-bagian tubuh lengkap, tanpa kekurangan sesuatu organ apapun.
  8. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada bentuk-bentuk iddhi (perbuatan-perbuatan gaib)
  9. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan,, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada kemampuan-kemampuan dibbasoa (telinga dewa). Dengan kemampuan-kemampuan dibbasota yang jernih, yang melebihi telinga manusia, ia mendengarkan suara manusia dan dewa, yang jauh atau yang dekat.
  10. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan,, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada ceto-pariyanana (pengetahuan untuk membaca pikiran orang lain). Dengan menembus pikirannya sendiri, ia mengetahui pikiran-pikiran makhluk lain.
  11. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia mempergunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang ubenivasanusati (ingatan terhadap kelahiran-kelahiran lampau). Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan, ia memperginakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang timbul dan lenyapnya makhluk-makhluk (cutupapata-nana), dan dengan kemampuan dibbacakkhu (mata dewa) yang jernih, melebihi mata manusia, ia melihat bagaimana setelah makhluk-makhluk berbalu dari satu perwujudan, muncul dalam perwujudan lain; rendah, mulia, indah, jelek, bahagia dan menderita. Ia melihat bagaimana makhluk-makhluk itu muncul sesuai dengan perbuatan-perbuatannya.
  12. Dengan pikiran yang telah terpusat, bersih, jernih, bebas dari nafsu, bebas dari noda, lunak, siap untuk dipergunakan, teguh dan tidak dapat digoncangkan,, ia menpergunakan dan mengarahkan pikirannya pada pengetahuan tentang penghancuran noda-noda bathin (asava)…… ia mengetahui sebagaimana adanya “Inilah jalan yang menuju pada lenyapnya asava”.Dengan mengetahui, melihat demikian, maka pikirannya terbebaskan dari noda-noda nafsu (kamasava), noda-noda pewujudan (bhavasava), noda-noda ketidaktahuan 9avijjasava). Dengan terbebas demikian, maka timbullah pengetahuan tentang kebebasannya. Dan ia mengetahui; ‘Berakhirlah kelahiran kembali, terjalani kehidupan suci, selesailah apa yang harus dikerjakan, tiada lagi kehidupan sesudah ini.’
Faedah-faedah yang telah diterangkan diatas adalah faedah-faedah yang dapat diperoleh bhikkhu itu sendiri. Menjadi bhikkhu juga memberi manfaat kepada orang lain, misalnya:

Menjadi ladang bagi orang-orang yang hendak menanamkan karma baik. Bhikkhu adalah tempat berdana, yang akan menghasilak buah kekayaan/kemakmuran dalam satu kehidupan kepada orang itu. Bhikkhu juga sering berkhotbah tentang Dharma (Dharmadesana) dengan sungguh-sungguh akan mendapat pahala dengan bertambhanya kebijaksanaan. Ada pula orang-orang yang memiliki persoalan-persoalan hidup. Lalu ia menanyakan cara penyelesaiannya kepada seorang Bhikkhu. Berdasarkan sifat karuna, bhikkhu tersebut tentu akan berusaha untuk mencari jalan keluarnya.

Demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa manfaat menjadi Bhikkhu ini banyak sekali. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

( Dikutip dari Majalah Buddhis Indonesia Edisi 62 ) 

Minggu, 14 November 2010

Hidup Harmonis di Dalam keluarga


Hidup Harmonis di Dalam keluarga
Oleh Biksu Thich Nhat Hanh

Berikut adalah cuplikan ceramah Biksu Thich Nhat Hanh kepada peserta retret anak-anak dan remaja di Plum Village, Perancis. Ia menjelaskan kepada anak-anak pentingnya belajar untuk mendengarkan secara mendalam di dalam keluarga, di antara ibu, ayah, dan anak-anak, agar tercipta suasana yang harmonis.

Ada yang bertanya, “Dapatkah Anda memberitahu saya apakah ayah yang ideal itu?”

Orang yang lain menjawab, “Ayah yang ideal adalah ayah yang tahu bagaimana mencintai Ibu dan bagaimana membuat Ibu bahagia.”

Sepertinya ini adalah jawaban sangat sederhana, namun juga sangat dalam. Apa yang paling dibutuhkan seorang bocah? Apakah dia butuh uang untuk membeli hadiah? Apakah ia butuh uang untuk membeli mainan? Apa yang paling dibutuhkan seorang anak? Yang paling dibutuhkan seorang anak adalah kasih sayang ayahnya.

Ada banyak anak yang punya begitu banyak mainan dan begitu banyak uang saku, akan tetapi mereka tidak bahagia karena ayah mereka selalu membuat ibu menderita. Dan sering kali anak-anak itu begitu sedih. Mereka ingin kabur saja karena atmosfir dalam keluarga terasa begitu berat, seperti keadaan sebelum datangnya badai. Atmosfir itu adalah atmosfir penderitaan, di dalam rumah maupun di dalam keluarga. Ayah menghadirkan atmosfir ini ketika ia membuat ibu menderita. Sehingga si anak ingin melarikan diri, tapi lari kemana?

Dulu kita mungkin mempunyai rumah dan kebun yang indah, dengan sebuah kolam kecil, banyak kamar, dan anak bisa lari keluar ke kebun serta duduk di dekat kolam. Atau lari ke tetangga, menemui seorang bibi atau paman di desa ….

Akan tetapi sekarang, kita mungkin tinggal di apartemen yang tinggi dan anak yang berada di dalam lingkungan ini tidak ada tempat untuk lari – hanya ada satu tempat, yaitu toilet atau kamar mandi, tutup pintu dan melarikan diri ke sana.

Atmosfir yang berat dan menyesakkan ini menghancurkan dan membuat layu si anak, sehingga dia ingin lari, namun tidak tahu mau lari ke mana. Maka larilah ia ke toilet dan menangis di sana. Tapi bahkan di dalam toilet pun dia tidak merasa aman, karena masih dapat mendengar suara tangisan ibunya atau bicara ayahnya.

Anak-anak yang hidup di tengah atmosfir yang demikian tidak bisa tumbuh dalam cara yang segar dan indah. Bagaikan pohon di taman yang tidak mendapatkan sinar matahari ataupun siraman air hujan, atau tukang kebun yang merawat. Ketika pohon itu besar, ia akan berkeluarga: ia akan mempunyai istri, suami, dan anak-anak. Tapi dia tidak tahu bagaimana membuat keluarganya bahagia, karena anak itu belum pernah belajar dari ayah.

Anak itu tidak tahu bagaimana mencintai ibu, bagaimana merawat ibu. Ayah tidak tahu bagaimana merawat ibu dan karena anak belum pernah melihat ayah merawat ibu, maka dia tidak berkesempatan belajar bagaimana mencintai. Ketika anak itu menikah, dia ulang kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh ayah ataupun ibunya dan kesalahan-kesalahan ini kembali akan membawa derita kepada orang-orang yang dikasihi. Inilah yang kita sebut samsara, yang artinya lingkaran tunimbah lahir yang tidak pernah berhenti dan derita ini diturunkan terus-menerus dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

Ayah tidak tahu bagaimana merawat ibu dan karena anak belum pernah melihat ayah merawat ibu, maka dia tidak berkesempatan belajar bagaimana mencintai. Ketika anak itu menikah, dia ulang kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh ayah ataupun ibunya dan kesalahan-kesalahan ini kembali akan membawa derita kepada orang-orang yang dikasihi. Inilah yang kita sebut samsara ....

Hanya ketika dapat bersentuhan dengan ajaran sejati dan belajar cara-cara praktek, kita dapat mematahkan lingkaran derita yang disebuat samsara ini.

Ketika anak-anak datang ke sini, di Plum Village, mereka bisa belajar cara-cara untuk mematahkan lingkaran ini, sehingga mereka dapat membuka area baru di mana ayah akan mempunyai kapasitas, seni membawakan kebahagiaan, kepedulian, dan cinta kasih kepada isterinya. Banyak oarang muda mengatakan bahawa hadiah paling berharga yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka adalah kebahagiaan orang tua itu sendiri.

Anak-anak tidak butuh banyak: yang mereka butuhkan adalah kedua orang tua mereka dapat bahagia bersama dan itu sudah cukup buat anak-anak untuk menjadi bahagia. Jadi jika kita adalah seorang ibu atau ayah, kita harus tahu bahwa hal yang paling dibutuhkan anak kita adalah kebahagiaan kita dan kebahagiaan kita dengan pasangan kita. Itulah hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita.

Dan jika kedua orang tua kita ingin membahagiakan satu sama lainnya, paling tidak mereka perlu tahu bagaimana mempraktekkan Latihan Perhatiah Murni Keempat. Latihan Perhatian Murni Keempat adalah kapasitas untuk mendengarkan secara mendalam dan berbicara dengan lembut dan penuh cinta kasih. Inilah yang perlu dipelajari semua orang tua dan mereka akan mampu membangun komunikasi, dan tidak membuat satu dan lainnya menderita. Lalu mereka akan dapat memberikan anak-anak mereka banyak kebahagiaan.

Mendengar secara mendalam adalah sesuatu yang harus kita pelajari untuk dapat melakukannya – kita tidak bisa melakukannya begitu saja. Saat orang lain bicara, dia sedang berusaha mengungkapkan kesulitan maupun deritanya, dan membutuhkan kita mendengarkan hal-hal itu. Tapi jika kita tidak mampu mendengarkan, orang yang sedang bicara tidak akan merasa deritanya berkurang sedikitpun dan akhirnya akan berhenti bicara.

Jadi, tatkala kita mencintai seseorang, isteri kita, suami kita, anak-anak kita, ayah kita, kita perlu berlatih untuk mendengarkan orang itu secara mendalam. Mungkin ayah kita tidak tahu bagaimana mendengarkan ibu kita dan ibu tidak tahu bagaimana mendengarkan ayah secara mendalam. Tapi bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita tahu bagaimana mendengarkan ayah dan ibu secara mendalam? Kadang kita berkata, “Ibu tidak mendengarkan ayah, ayah tidak mendengarkan ibu.”

Namun kita sendiri juga tidak mendengarkan ibu ataupun ayah secara mendalam. Oleh karena itu, ibu, ayah, mapun anak, ketika ke wihara, ketika pergi ke pusat meditasi, mereka harus berlatih mendengarkan secara mendalam, karena mendengarkan secara mendalam adalah praktek Bodhisattwa Awalokiteshwara. Pagi ini para biksu dan biksuni telah melantunkan puji-pujian tentang Bodhisattwa Awalokiteshwara, yang memiliki cara yang sangat terampil dalam mendengarkan secara mendalam. Itulah sebabnya Ia disebut Quan The Am (Kuan Se Im) yang berarti “memperhatikan suara yang datang dari dunia.”

... hal yang paling dibutuhkan anak kita adalah kebahagiaan kita dan kebahagiaan kita dengan pasangan kita. Itulah hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita.

Orang-orang yang menderita, yang mempunyai perasaan yang disembunyikan jauh di dalam lubuk hati mereka, yang belum mampu mereka ungkapkan, mereka butuh kesempatan untuk mengungkapkan derita ini. Jika tidak ada seorang pun yang duduk mendengarkan mereka, bagaiamana mereka bisa memperoleh kesempatan untuk mengungkapkan perasaan-perasaan derita yang disembunyikan itu? Oleh karena itu kita perlu berupaya memahami mereka secara mendalam dan itulah cara untuk menunjukkkan bahwa kita mengasihi mereka.

Jika kita adalah seorang ayah dan kita ingin mendengarkan anak-anak, kita bisa duduk berdampingan dengan mereka di dalam hening kemudian berkata, “Anakku sayang, tolong beritahu Papa, apakah kamu ada kesulitan? Apakah kamu ada penderitaan? Kasih tahu Papa. Papa ingin dengar sehingga Papa bisa melihat apakah Papa dapat membantu.”

Jadi ayah mengatakan ini dengan setulus hati. Dan jika kita adalah seorang isteri dan kita tahu suami kita ada derita dan kesulitan yang belum sanggup ia utarakan, kita hampiri suami kita, duduk dengan hening, dengan sangat segar, di sisinya, lalu kita katakan, “Suamiku sayang, apakah engkau ada penderitaan apapun? Apakah engkau ada kesulitan yang disembunyikan dalam hatimu? Beritahukanlah aku hal-hal itu.”

Isteri harus mengatakan itu. Jika kita adalah seorang suami atau seorang ayah dan kita punya penderitaan – kita semua punya penderitaan, sebagian dari kita punya banyak, sebagian dari kita punya sedikit – saat orang lain mengatakan itu kepada kita, kita melihat kesempatan untuk mengatakan apa yang ingin kita ungkapkan. Awalnya sulit bagi kita untuk mengatakannya. Sebelumnya belum pernah ada orang yang berusaha untuk mendengarkan kita dan sekarang, ketika ada orang mengundang kita untuk mengungkapkannya, kita tidak yakin apakah kita benar-benar dapat mempercayainya.

Akan tetapi isteri atau siapa pun yang menanyakan pertanyaan, patut bersabar dan berkata, “Harap beritahukanlah aku. Mungkin ini dikarenakan ketidak-terampilanku, kebodohanku, engkau menderita, aku ingin mendengarnya. Harap beritahu aku jika aku ada melakukan sesuatu yang bodoh atau ceroboh yang telah membuatmu menderita. Aku berjanji akan duduk di sampingmu dengan sangat tenang dan hening dan mendengarkan, karena aku sedang berlatih sebagai murid Bodhisatwa Awalokisteshwara.

“Aku tidak akan menghakimi, aku tidak akan bereaksi, aku tidak akan marah. Guru dan Sangghaku sudah memberitahu aku bagaimana cara berlatih menjadi damai dan tenang, bagaimana makan dengan damai, berjalan dengan damai, bagaimana duduk dengan damai, dan sekarang aku sudah mampu untuk duduk dan mendengarkan. Aku sudah tidak seperti diriku yang dulu.”

Kita bisa berusaha membujuk suami kita seperti itu, sehingga dia dapat mengungkapkan kesulitan-kesulitannya kepada kita untuk didengar.

Jika kita adalah anak-anak, jangan pikir hanya kita saja yang menderita, sebagai anak. Ayah menderita. Ayah punya berbagai kesulitan. Maka dari itu, kita bisa berlatih dan kita bisa mengatakan, “Papa, saya tahu Papa adalah ayah saya, tapi saya tahu Papa ada kesulitan. Kadang Papa marah kepada saya, kadang Papa kecewa kepada saya, kadang saya tidak melakukan apa yang Papa inginkan. Tapi itu terjadi karena saya belum tahu hati Papa, saya belum tahu kesulitan-kesulitan Papa. Dan sekarang saya ingin mendengarkan Papa. Saya ingin mendengar hal-hal yang tidak Papa sukai dari saya, yang menurut Papa bisa saya perbaiki.

“Saya  akan mendengarkan Papa, saya akan mendengarkan dengan hati Bodhisattwa Awalokiteshwara karena saya sudah pergi ke pusat meditasi. Saya sudah bertemu dengan biksu dan biksuni. Saya sudah bertemu dengan Sanggha dan saya sudah belajar bagaimana untuk duduk dan mendengarkan secara mendalam. Jadi tolong Pa, beritahukan kepada saya, dan saya akan menjadi seperti Bodhisattwa Awalokiteshwara. Saya akan duduk dan mendengarkan dengan sangat seksama.

“Saya akan mendengar dengan kedua telinga saya, bukan dengan satu telinga dan saya akan mendengar dengan hati saya, karena Awalokiteshwara adalah orang yang dapat mendengarkan dengan dua telinga dan hati, dan dapat mendengarkan seperti itu selama satu jam.”

Ketika anak mendengarkan ayah seperti itu selama satu jam, ayah akan merasa jauh lebih baik.

Kita semua harus berlatih dalam keluarga: ibu, ayah, dan anak. Tidak bisa kita langsung dapat mendengarkan secara mendalam hanya karena kita ingin melakukannya. Kita harus berlatih terlebih dahulu, karena jika kita berhenti mendengar setengah jalan, orang lain akan merasa, “Buang-buang waktu saja!”

Jika kita mendengarkan dan orang-orang mengatakan hal-hal yang sama sekali tidak benar – mereka sepenuhnya keliru memahami kita – ketika mereka menjelaskan hal-hal ini, kita rasakan kurangnya loyalitas mereka kepada kita, kita rasakan kesalah-pahaman mereka, kita dengar mereka menyalahkan dan mengritik kita. Sementara mendengarkan mereka, apa yang kita dengar menyirami semua benih derita kita. Kita bisa balik menghardik mereka atau lari keluar. Akan tetapi, jika melakukan salah satunya, kita belum berhasil dalam latihan mendengarkan secara mendalam.

... kita rasakan kesalah-pahaman mereka, kita dengar mereka menyalahkan dan mengritik kita. Sementara mendengarkan mereka, apa yang kita dengar menyirami semua benih derita kita. Kita bisa balik menghardik mereka atau lari keluar. Akan tetapi, jika melakukan salah satunya, kita belum berhasil dalam latihan mendengarkan secara mendalam.

Sudah berhasilkan ayah dan ibu dalam latihan mendengarkan secara mendalam? Jika ibu dan ayah belum berhasil, kita sebagai anak harus membantu mereka. Kita harus mendengarkan ayah dan ibu. Kita harus buktikan bahwa sebagai anak, kita mampu mendengarkan secara mendalam. Kita mampu memahami ayah kita, mampu mendengarkan dan memahami ibu kita.

Kita bisa mendatangi ibu kita sambil berkata, “Ma, Mama tahu saya datangi Papa. Saya dengarkan Papa secara mendalam dan sekarang saya sudah memahami Papa. Saya lihat Papa sudah tidak begitu menderita. Mohon Mama lakukah hal yang sama. Saya akan bantu Mama untuk menjadi mampu duduk dan mendengarkan Papa secara mendalam.”

Jika Anda hanyalah seorang bocah, kendati masih kecil, walaupun belum mempunyai kebijaksanaan besar, namun Anda sudah bersentuhan dengan Buddha, Dharma, dan Sanggha, dengan para biksu dan biksuni. Dan Anda juga bisa membantu ayah Anda. “Papa, Papa sudah latihan mendengarkan Mama belum? Mama ada begitu banyak kesulitan dan kesedihan dalam hatinya, banyak hal yang belum Papa ketahui. Jadi, tolong Pa, dengarkan Mama secara mendalam. Saya sudah berlatih mendengarkan Mama secara mendalam dan saya tahu Papa juga dapat melakukannya. Saya akan dukung Papa. Papa tolong dengarkanlah Mama secara mendalam.

“Tolong lakukan dalam hening dan ketika Mama mengatakan sesuatu yang tidak benar, jangan marah Pa. Bernafaslah dan dengarkanlah secara sepenuh hati sehingga Mama tidak begitu menderita. Jangan dengarkan secara mendalam agar dapat menyalahkan, agar dapat mengritik. Jika Papa belum sanggup melakukannya, silahkan pergi ke pusat meditasi dan belajarlah meditasi jalan, belajarlah meditasi duduk, belajarlah bagaimana berjalan dalam Perhatian Murni dan makan dalam Perhatian Murni. Selang beberapa hari Papa akan mampu berlatih mendengarkan secara mendalam.”

Mendengarkan secara sungguh-sungguh adalah praktek Buddha dan Bodhisattwa Awalokiteshwara yang paling menakjubkan. Saat kita menyebut nama Bodhisattwa Awalokteshwara, itu berarti kita menerima Awalokiteshwara sebagai guru kita. Awalokiteshwara memiliki kapasitas untuk mendengarkan secara mendalam.

“Mama, Papa, mana hadiah saya? Hadiah saya adalah kebahagiaan Papa dan Mama. Jika Papa dan Mama tidak memberikan saya hadiah itu, saya akan sangat menderita.”

Oleh karena itu, jika kita adalah murid Awalokiteshwara, kita juga harus berlatih mendengarkan secara mendalam. Hari ini, kalian anak-anak yang masih sangat kecil telah mendengar hal ini. Ingatlah kata-kata yang baru saja saya ajarkan. Kita ayah dan ibu tidak bahagia bersama, kalian harus menggabungkan kedua telapak tangan dan berkata kepada mereka, “Mama, Papa, mana hadiah saya? Hadiah saya adalah kebahagiaan Papa dan Mama. Jika Papa dan Mama tidak memberikan saya hadiah itu, saya akan sangat menderita.”

Itulah Lonceng Kesadaran untuk membangunkan ibu dan ayah. Setelah itu ibu dan ayah akan mencoba untuk berlatih.

Hari ini, apa yang telah berusaha saya sampaikan kepada kalian, anak-anak, adalah belajarlah untuk mengatakan kepada orang tua kalian, “Mama dan Papa tercinta, hadiah terbesar yang dapat Mama dan Papa berikan kepada saya adalah kebahagiaan Mama dan Papa sendiri. Mohon berikanlah saya hadiah tersebut.”

            Hari ini juga, kita mulai belajar tentang metode mendengarkan secara mendalam. Seperti yang sudah kita ketahui, kita harus berlatih sebelum dapat mendengarkan secara mendalam. Kadang “mendengar secara mendalam” bisa juga kita terjemahkan sebagai mendengarkan dengan kasih sayang. Kita mendengar dengan hanya satu tujuan: kita mendengar bukan untuk mengritik, menyalahkan, mengoreksi orang yang sedang bicara atau menyalahkan orang tersebut. Kita mendengar hanya dengan satu tujuan, yaitu, mengurangi derita orang yang sedang kita dengarkan.

            Kita harus duduk dengan diam, kita harus duduk dengan kebebasan dari dalam. Tubuh dan batin kita harus hadir seratus persen, mendengarkan sehingga orang lain dapat meringankan deritanya. Jika orang itu mengatakan hal-hal yang tidak benar, yang merupakan persepsi yang keliru, mungkin timbul niat untuk menanggapi, untuk mengatakan, “Itu tidak benar!”

Lalu berdebat dengan mereka. Namun, jangan lakukan itu – kita harus duduk dan mendengarkan. Jika kita dapat duduk selama satu jam, maka satu jam tersebut adalah satu jam yang gemilang. Satu jam tersebut adalah satu jam yang dapat menyembuhkan dan mengubah.

Kita mendengar hanya dengan satu tujuan, yaitu mengurangi derita orang yang sedang kita dengarkan....

Kita bisa melakukan jauh lebih baik daripada para psikoterapis, karena ada psikoterapis yang belum belajar bagaimana mendengarkan secara mendalam, belum belajar mendengarkan dengan kasih sayang. Para psikoterapis punya penderitaan mereka sendiri, mungkin banyak sekali penderitaan, sehingga kapasitas untuk mendengarkan secara mendalam mereka tidak besar. Kita tidak tahu banyak teori psikoterapis, namun kita sudah berlatih berhenti dan melihat secara mendalam. Kita sudah berlatih mendengarkan secara mendalam. Oleh karena itu, kita bisa lakukan lebih baik daripada para psikoterapis.

            Kita gunakan metode mendengar secara mendalam, pertama kepada orang yang kita cintai dan keluarga kita. Begitu berhasil dengna keluarga, kita bisa membantu teman-teman kita. Kita bisa mendengar dengan sepenuh hati sehingga derita dunia berkurang: itulah praktek kita. Tentu saja, psikoterapis harus belajar bagaimana mendengarkan secara mendalam sesuai latihan ini agar dapat menjadi psikoterapis yang baik.

            Saat sudah dapat mendengarkan secara mendalam, saat sudah tahu bagaimana melakukannya, saat sudah tahu bagaimana bicara dengan penuh kasih sayang, semuanya ini berfungsi menghidupkan kembali komunikasi di antara dua insan. Sebenarnya, saat tahu bagaimana mendengarkan secara mendalam, kita dengan sendirinya sudah bicara dengan kasih sayang. Pada ceramah berikut, kita akan belajar tentang menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih dan itu merupakan bagian dari Latihan Perhatian Murni Keempat. Kita akan belajar lebih banyak mengenai hal-hal ini dalam diskusi Dharma kita.

            Di zaman sekarang, tehnologi komunikasi sudah sedemikian maju. Kita punya segala jenis media komunikasi, seperti email, faksimil, dan telepon. Oleh karenanya, kita dapat berhubungan satu dengan yang lain dengan cepat sekali dan dalam tempo beberapa jam saja, berita bisa datang dari satu ujung dunia ke ujung dunia lainnya. Namun, ada hambatan dalam komunikasi antar insan di dalam keluarga, antara ayah dan anak, antara isteri dan suami. Maka dari itu, sungguh sangat penting bagi kita untuk belajar bagaimana mendengarkan secara sungguh-sungguh.

            Anak-anak telah mengatakan yang sebenarnya: alasan ayah dan ibu saling membuat diri mereka menderita adalah karena mereka tidak saling memahami, mereka tidak tahu bagaimana saling mendengarkan secara betul-betul. Mereka tidak punya kapasitas untuk menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih.

Ayah dan ibu tidak tahu, saat tengah membuat diri masing-masing menderita, mereka juga membuat anak-anak mereka menderita. Dan siapakah anak-anak mereka? Anak-anak mereka adalah kelanjutan mereka sendiri. Dengan kata lain, anak-anak kita adalah diri kita sendiri.

Saat membuat diri kita menderita, saat membuat suami atau isteri kita menderita, kita juga membuat anak-anak kita menderita. Anak-anak kita akan membuat cucu-cucu kita menderita, karena kita belum mempunyai kapasitas untuk menunjukkan seni menciptakan kebahagiaan atau seni membuat pasangan kita bahagia kepada anak-anak kita. Dan bagaimana anak-anak mempelajari hal-hal tersebut jika mereka tidak dapat mempelajarinya dari kita?

Jika mereka tidak belajar hal itu, mereka akan tumbuh besar dan melakukan kesalahan yang sama seperti yang sudah kita lakukan, dan lingkaran samsara ini akan terus berlanjut dalam diri anak-anak kita. Derita kita akan diturunkan kepada anak-anak kita, lalu derita anak-anak kita akan diturunkan kepada cucu-cucu kita, sehingga lingkaran samsara ini tidak akan pernah berakhir.

Kita harus mengakhiri lingkaran ini dengan metode mendengarkan secara mendalam dan menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih...

Kita harus mengakhiri lingkaran ini dengan metode mendengarkan secara mendalam dan menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih. Menggunakan cara bicara yang penuh cinta kasih dan mendengarkan secara mendalam akan menbangun komunikasi. Ketika ada komunikasi dan pengertian di antara kita, kebahagiaan akan hadir di sana.




Sumber: Biksu Thich Nhat Hanh, “Hidup Bersama Secara Harmonis”, Penerbit Dian Dharma dan Pustaka Dharmajala, Jakarta, 2007

Senin, 18 Oktober 2010

Memilih Buddha Dhamma



Memilih Buddha Dhamma
Oleh: Karma Jigme Rofin B.A. (Hons)

Setelah 2500 tahun lebih Buddha Dhamma dibabarkan oleh Sang Buddha, semakin hari semakin banyak pula terjadi penafsiran yang berbeda-beda tentang AjaranNya. Mereka yang merasa paling mengerti Dhamma mulai memisahkan diri dengan menarik pengikutnya untuk mendirikan sekte-sekte atau aliran kepercayaan Buddha dan mengklaim bahwa hanya merekalah yang mempratekkan ajaran murni dan praktis yang dibabarkan oleh Sang Buddha.

Agar umat Awam tidak salah memilih jalan menuju pencerahan, ada baiknya kita mengetahui ciri-ciri dari Buddha Dhamma yang pernah diajarkan oleh Sang Tathagatha.

Sang Guru Manusia dan Para Dewata

Dalam kitab suci Tipitaka dikatakan pula bahwa apa yang diajarkan oleh Sang Buddha bukanlah merupakan ciptaan Sang Buddha, tetapi melainkan hukum alam (kesunyataan) yang ditemukan oleh-Nya. Oleh sebab itu, inti ajaran yang diajarkan oleh semua Buddha adalah sama, hanya cara penyampaiannya yang mungkin berbeda. Bila ada yang menyatakan bahwa ajaran sektenya benar dan ajaran Sang Buddha Gotama telah berlalu, hal ini tentu tidak sesuai dengan Buddha Dhamma itu sendiri. Sebab dalam kitab suci Buddha juga telah dikatakan bahwa hanya Manusia Buddha (Manussa Buddha) yang menurunkan ajaranNya ke dunia, sedangkan Dhayani Buddha dan Pacekka Buddha tidak menurunkan ajaran.

Dari kitab suci Buddha, kita juga tahu bahwa Manusia Buddha baru akan di lahirkan di dunia apabila ajaran Buddha terdahulu telah dilupakan orang. Dengan kata lain, Bodhisatva Maitreya yang sekarang berdiam di surga Tusita baru akan lahir di dunia apabila umat manusia tidak lagi mengenal Buddha Dhamma.Dengan demikian untuk masa sekarang ini tidak mungkin ada Manusia Buddha yang baru hidup didunia ini karena masih banyak peninggalan kitab suci Buddha yang berisi ajaran Sang Buddha Gotama, yang bahkan sekarang ini kitab suci Buddha telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia, misalnya Bahasa Thai, Bahasa English, Bahasa Chinese, dan tentunya sebahagian juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia..

Apabila ada yang memiliki kekuatan gaib, bisa mengetahui apa yang sedang anda pikirkan, bisa mengetahui masa lalu dan sejenisnya; kita jangan langsung mengatakan orang itu adalah seorang Buddha. Sebaliknya sebagai umat Buddha kita tidak boleh terikat oleh hal-hal seperti itu yang tidak dapat membawa manfaat diakhir kehidupan kita. Hal ini merupakan sesuatu yang biasa yang dapat dimiliki oleh manusia biasa sekalipun. Kekuatan gaib seperti mata dewa, telinga dewa, membaca hati orang lain merupakan hasil dari pencapaian dalam meditasi yang tidak permanen.

Dhamma AjaranNya
Dalam kitab suci Buddha tepatnya di Kalama Sutta, Sang Buddha menasehati kita agar jangan mudah percaya kepada sesuatu ajaran tertentu hanya karena memiliki umat yang banyak, sesuai dengan pandangan kita atau karena tercatat dalam kitab suci. Tetapi kita hendaknya meneliti terlebih dahulu, apakah ajaran tersebut bermanfaat bagi orang banyak dan diri kita sendiri, tidak menyusahkan atau menyebabkan orang menderita. Nah bila memang positif baru kita mempercayainya. Bahkan Sang Buddha juga meminta umat yang baru akan bergabung mengikuti ajaranNya juga mengevaluasi sendiri, tidak seperti ajaran lain yang meminta kita percaya kepada ajaran mereka tanpa boleh bertanya mengenai ajaran tersebut. Dalam agama Buddha, itu dikenal pula dengan istilah Ehipassiko, yang artinya datang, buktikan dan baru percaya.

Bila Anda dijanjikan iming-iming naik kesurga setelah Anda bergabung dengan sekte/aliran tertentu yang mengaku agama Buddha, sudah bisa dipastikan sekte/aliran tersebut tidak mengajarkan Ajaran Sang Buddha walaupun kadang mereka mengutip sedikit dari kitab suci Buddha. Tujuan akhir umat Buddha adalah untuk mencapai Nirvana, bukan hanya masuk surga karena dalam agama Buddha kelahiran di alam surga adalah tidak kekal. Seseorang yang jasa pahala kebajikannya telah habis akan terlahir di alam yang lain sesuai dengan jasa pahala yang tersisa. Sang Buddha sendiri bahkan tidak pernah menjanjikan surga kepada.pengikutnya. Bisa bahagia atau tidak, bisa mencapai pembebasan atau tidak, semuanya tergantung pada diri kita sendiri. Para Buddha hanya penunjuk jalan, Dhamma adalah jalan yang telah dibabarkan, kita sendiri yang menentukan kemana kita akan dilahirkan.

Dan yang lebih penting lagi bahwa tidak ada ajaran yang bersifat rahasia di dalam Dharma. Sang Buddha mengajarkan Dhamma demi kebahagiaan semua makhluk, jadi bila ada sekte Buddha yang mengajarkan anda beberapa kata rahasia yang tidak boleh diberikan kepada orang lain tentu itu bukan merupakan Dhamma. Bahkan menurut anggota dari sekte tersebut, kata-kata rahasia tersebut juga tidak boleh diberikan kepada istri, suami, atau orang tuanya sendiri.,Padahal dalam ajaran Sang Buddha, jelas ditekankan agar kita sebagai anak harus berbakti kepada orang tuanya sehingga dapat dipastikan bahwa sekte yang demikian bukanlah sekte Agama Buddha.

Penyembuhan spiritual terdapat dalam setiap agama termasuk Agama Buddha, akan tetapi dapat disembuhkan atau tidak seseorang semuanya dilihat dari ada tidaknya kamma baik yang ditanamkan orang tersebut. Dalam agama lain, ada juga yang tidak tersembuhkan oleh penyembuhan spiritual, tetapi hal yang kurang menguntungkan bagi mereka biasanya dipendam sehingga yang kita tahu adalah beberapa orang yang sembuh dibandingkan dengan jumlah yag lebih besar yang tidak tersembuhkan. 

Umat Budha hendaknya tidak seharusnya berpaling dari Dhamma karena hal ini, karena penyebuhan itu tidaklah kekal, hanya sesaat. Siapapun yang disembuhkan akhirnya seseorang juga harus mati. Ini adalah fakta dari kehidupan. Apakah manfaatnya bila seseorang disembuhkan dari sakit untuk sakit sekali lagi, seperti halnya dibangkitkan dari kematian untuk mati sekali lagi. Itu hanya akan membuat anggota keluarganya bersedih berulang kali. Oleh sebab itu, umat Buddha yang bijaksana akan mencari obat 'Dhamma' yang dapat terhindar dari kematian, bukan terhindari dari sakit karena lahir, tua, SAKIT, dan mati merupakan hukum alam yang akan menimpa manusia. 

Sangha
Siapakah Sangha ? Sangha adalah kumpulan Bhikkhu / Bhiksu / Bhiksuni, yakni umat Buddha tidak berkeluarga yang menjalani kehidupan suci untuk melatih diri memperoleh kebebasan. Biasanya anggota sangha menjalankan sila dan vinaya, mempratekkan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari, misalnya melaksanakan meditasi untuk memperoleh pandangan terang. Agar lebih mudah dikenali, biasanya anggota sangha mengenakan jubah kebhikkhuan dan tidak memelihara rambut (alias botak) 

Bila ada sekte yang memiliki sangha tetapi anggota sangha tersebut boleh berkeluarga (misalnya punya istri atau anak), tidak menjalankan sila (misalnya suka membicarakan sesuatu yang tidak sopan, mengenakan perhiasan, nonton TV dan sebagainya) maka itu bukan merupakan sekte Agama Buddha.

Semoga dengan penjelasan yang singkat ini dapat membawa manfaat bagi umat Buddha terutama umat awam yang baru ingin belajar Dhamma.