Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Februari 2011

Bebas Dari Kejahatan

 
Bebas Dari Kejahatan
Oleh: U. HuseinPutta
 


Kejahatan Mengintai Kita", "Sadisme, Bentuk Kekerasan Baru", "Kekerasan Merebak" hanyalah sebagian dari sekian banyak ungkapan yang dapat dijumpai dalam media massa akhir-akhir ini. Memang, pelbagai bentuk kejahatan yang terjadi dimasyarakat luas tak pernah absen diberitakan media massa baik elektronik maupun cetak.

Namun, belakangan ini berita tentang merebaknya bentuk-bentuk kejahatan yang tercermin pada beberapa ungkapan diatas semakin hangat dibicarakan masyarakat luas dan menjadi polemik di media massa.

Tampaknya, jenis kejahatan dengan segala macam bentuknya semakin menggejala dan dahsyat. Kekerasan dan sadisme makin menggejala dan mengintai siapa saja. Terjadinya tindak kriminalitas yang kerapkali dikaitkan dengan tubuh kekar bertato, raut muka yang sangar, dan sorot mata yang keras bukan merupakan jaminan lagi. Pendapat ini bukan tanpa alasan. Dalam kenyataan sekarang, kejahatan yang disertai kekejian, kekejaman, dan tindak kesadisan yang luar biasa bisa dilakukan siapa saja; entah dia seorang guru, terpelajar, ibu rumah tangga, remaja, karyawan, kuli bangunan, pengemudi becak, atau bahkan sanak keluarga sendiri.

Tindakan sadisme para pelaku delik kejahatan akhir-akhir ini sudah barang tentu menjadi sorotan masyarakat luas. Betapa tidak! sudah cukup banyak korban berjatuhan akibat dari kejahatan yang semakin marak ini. Konon ini merupakan kenyataan baru yang harus dihadapi. Senada dengan ini, Prof.Dr. Asma Affan M. Nasution MPA seorang pengamat sosial dari Universitas Sumatera Utara (USU) Medan pernah berujar demikian:"Rakyat Indonesia dulu terkenal kelemahlembutannya, kini berubah kasar dan ganas". Nah, kalau begitu, wajarlah apabila timbul pertanyaan apa sesungguhnya yang sedang terjadi di masyarakat kita?.

Banyak para pakar dan pejabat kepolisian berpandangan bahwa kasus-kasus sadisme itu bermotif ekonomi. Ada pula yang mengatakan itu pengaruh televisi, film, dan video. Pendapat lain mengatakan tidak mesti semata-mata segi ekonomi. Dengan kata lain, tidak mesti kalau orang miskin menjadi penjahat. Situasi yang penuh persaingan, materialistis, ketidakpuasan pada diri sendiri,situasi kehidupan yang padat memang diakui mempunyai andil mendorong agresivitas meningkat yang dapat menimbulkan kejahatan. Ketimpangan ekonomi dan perubahan sosial kerapkali dijadikan faktor yang ikut berperan sebagai pemicu terjadinya kejahatan. Masalah ekonomi jelas tak kalah pentingnya dengan masalah lain dalam kehidupan umat manusia. Perubahan sosial akibat kemajuan zaman senantiasa menciptakan tantangan baru yang semakin kompleks bagi kehidupan umat manusia. Ada sementara orang tidak mempunyai kesulitan sedikitpun dalam segi ekonomi. Sebaliknya, ada yang sudah berupaya semaksimal mungkin namun kegagalan senantiasa menimpanya. Bagi mereka yang gagal ini bukanlah tak mungkin terpaksa harus mengambil "jalan pintas" untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Agama Buddha mengakui bahwa masalah ekonomi dapat menimbulkan tindakan kriminal. Dalam Kutadanta Sutta, Sang Buddha menyatakan bahwa kesejahteraan, kedamaian, dan kebersihan dari tindakan kriminal dapat diwujudkan dengan peningkatan penghidupan umat manusia. Sementara itu, dalam pandangan Agama Buddha paham "Roh" sesungguhnya merupakan biang keladi dari segala kejahatan di dunia ini. Sifat mementingkan diri sendiri dengan tidak segan-segan merugikan makhluk lain (Egoisme), keangkuhan, kesombongan, kecongkakan, dan banyak kekotoran batin lainnya, semuanya bersumber dari paham "Roh". Kebanyakan umat manusia tidak menyadari bahwa paham "Roh" adalah racun ganas bagi mereka. Pikiran negatif tentang adanya "Roh", "Aku", dan "Milikku" yang ditimbulkan dari paham tersebut merupakan sumber dari semua kejahatan dan perselisihan dalam dunia ini, dari perselisihan kecil dalam keluarga, sampai dengan tindakan kejahatan dan peperangan antar bangsa.

Tidaklah dapat ditelusuri sejak kapan gagasan tentang adanya "Aku/Roh" itu mulai muncul. Yang Jelas, gagasan ini diajarkan oleh kebanyakan kepercayaan dan keagamaan di dunia ini. Bagaimana pun, segala macam gagasan/paham "Aku" ditolak dalam agama Buddha.Jika dipercayai ada suatu "Diri/Aku" yang kekal, maka orang yang pada awalnya jahat akan tetap selamanya jahat. Kalau begitu, tentunya sangat sia-sia semua praktek keagamaan, terutama penempuhan kehidupan suci. Berdasarkan pengkajian dan pengalaman empiris,tertampak bahwa tiada suatu bukti apa pun yang dapat menopang adanya keberadaan "Aku" yang kekal. Paham "Aku" hanyalah suatu khayalan semata, yang timbul karena ketakpuasan hasrat rendah umat manusia apabila dalam dirinya tidak terdapat sesuatu yang kekal.Jadi, dalam realita tidak ada suatu "Roh", "Aku", atau "Diri"; yang ada hanyalah gagasan/konsep/paham "Aku" itu sendiri.

Apabila masih terdapat kemelekatan terhadap paham "Aku" dan ketergantungan terhadap pandangan sesat, selama itu pula muncul kesedihan, ratapan, penderitaan jasmaniah, duka-cita, dan keputusasaan. Apabila ada paham "Aku", timbullah kemelekatan bahwa ada aku miliknya. Oleh karena itu, sangatlah beralasan apabila Sang Buddha Gotama, berujar, "Duhai para Bhikkhu, Saya tidak pernah melihat adanya suatu teori "Roh" yang apabila diterima tidak akan menimbulkan kekecewaan, ratap tangis, kesedihan, kesengsaraan, dan penderitaan." (Alagaddupama Sutta, Majjhima Nikaya 22).

Ada tiga sebab-dasar yang membuat suatu makhluk melakukan kejahatan, yaitu: kelobaan atau kebencian, atau/dan kedunguan. Jenis kejahatan seperti pembunuhan, pemakian, itikat jahat mempunyai kebencian atau/dan kedunguan sebagai sebab-dasar; Pencurian, pendustaan, penghasutan, pengobrolan kosong mempunyai kelobaan atau kebencian atau/dan kedunguan sebagai sebab-dasar; Perzinahan, hasrat rendah, pandangan sesat mempunyai kelobaan atau/dan kedunguan sebagai sebab-dasar. Tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan umat manusia masih memiliki kekotoran batin tersebut diatas. Namun, agama Buddha menolak kesahihan teori yang mengajarkan bahwa secara alami manusia pada dasarnya berdosa, dan untuk menjadi baik seseorang tidak dapat melakukannya dengan kemampuan dan kekuatan sendiri tanpa berdoa dan memohon bantuan dari Makhluk Adikodrati tertentu. Dampak negatif teori itu ialah merongrong keyakinan seseorang atas kemampuan diri sendiri untuk menghindari kejahatan, dan membuatnya bergantung pada makhluk lain bahkan untuk berbuat kebajikan.

Dalam pada itu, agama Buddha bertolak belakang dengan pandangan pesimis dan suram tersebut diatas. Justru untuk mengarahkan diri secara benar dalam arti segala perubahan dari sesuatu yang dipandang oleh agama, tradisi, dan kebudayaan sebagai hal yang negatif beralih ke hal yang positif, hal yang paling penting adalah haruslah dilakukan oleh diri sendiri. Usaha ini tidak mungkin dapat dilimpahkan atau diserahkan kepada orang lain. Agama Buddha mengajarkan umat manusia untuk dapat berdiri diatas kaki sendiri, dan membangkitkan keyakinan umat manusia akan kemampuan sendiri sehingga dapat menolong dirinya sendiri terbebas dari kejahatan. Dengan kalimat bersahaja yang mudah dimengerti, Sang Buddha bersabda: "Oleh diri sendiri kejahatan diperbuat. Karena diri sendiri seseorang menjadi ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan tak diperbuat. Karena diri sendiri seseorang menjadi suci. Kesucian atau ketaksucian adalah milik masing-masing. Tak seorang pun dapat menyucikan orang lain." (Dhammapada, Atta Vagga 165). Selanjutnya dalam kesempatan lain, Beliau menyerukan demikian: "Menghindari kejahatan, dapatlah dilakukan. Apabila tidak dapat dilakukan, Saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena dapat dilakukan, Saya berkata padamu: 'Hindari Kejahatan'. Apabila dengan menghindari kejahatan akan membawa kehilangan dan kekesalan, Saya tidak akan menganjurkan untuk melakukannya. Tapi karena itu membawa keberuntungan dan kebahagiaan, Saya menganjurkan engkau: 'Hindari Kejahatan'."

"Mengembangkan kebajikan, dapatlah dilakukan. Apabila tidak dapat dilakukan, Saya tidak akan menganjurkan engkau untuk melakukannya. Tapi karena dapat dilakukan, Saya berkata padamu: 'Kembangkan Kebajikan'. Apabila dengan mengembangkan kebajikan membawa kehilangan dan kekesalan, Saya tidak akan menganjurkan untuk melakukannya. Tapi karena itu mem bawa keberuntungan dan kebahagiaan, Saya menganjurkan engkau: 'Kembangkan Kebajikan'." (Anguttara Nikaya I:58).

Segala jenis kejahatan adalah noda dalam dunia sekarang maupun mendatang. Kejahatan bukanlah suatu hal yang gampang dikendalikan. Karena itu orang bijak tak membiarkan kejahatan menyeretnya kedalam penderitaan sepanjang waktu. Manusia harus menyadari bahwa kelambanan dalam berbuat kebajikan akan membuat pikiran bergembira dalam kejahatan. Dengan demikian, bergegaslah dalam berbuat kebajikan dan cegahlah pikiran dari kejahatan. Apabila telah telanjur berbuat jahat, seseorang hendaknya tidak mengulangi kejahatan itu. Jangan pula membangkitkan kepuasan atas kejahatan itu. Sebab, penimbunan kejahatan mengakibatkan penderitaan.

Dan sebaliknya, apabila berbuat bajik, seseorang hendaknya sering-ering mengulangi kebajikan itu. Ia hendaknya merasa puas dalam kebajikan itu. Sebab, penimbunan kebajikan membuahkan kebahagiaan.(Dhammapada, Papa Vagga 117-118).

Pelaku delik kejahatan kerapkali tidak menyadari perangai buruknya. Perbuatan jahat yang kecil dianggapnya hal yang biasa. Mereka menjadi buta dan tidak menyadari bahwa sesungguhnya perbuatan tersebut sedikit demi sedikit memenuhi dirinya dengan kejahatan. Terdapat kemungkinan besar pelaku kejahatan melihat perbuatannya sebagai hal yang baik selama suatu kejahatan belum menimbulkan akibat. Akan tetapi, tatkala kejahatan itu menimbulkan akibat buruk, ia menyadarinya sebagai hal yang buruk. Selanjutnya, biasanya penyesalan akan timbul setelah seseorang menyadari bahwa dirinya telah berbuat kejahatan.

Penyesalan sesungguhnya suatu hal yang sama sekali tidak dianjurkan dalam agama Buddha. Mengapa demikian? Upaya 'menyadari kejahatan' dalam arti insaf/sadar hendaknya benar-benar dibedakan dengan 'menyesali kejahatan'. Penyesalan merupakan suatu pembentukan kamma buruk yang baru. Penyesalan adalah suatu keadaan batin yang berpadu dengan kemarahan, yang muncul bersama dengan kekecewaan. Penyesalan termasuk pikiran yang berakar pada kebencian, yang muncul karena memikirkan sesuatu yang tidak diharapkan atau dikehendaki. Sedangkan keinsafan kemunculannya terjadi pada saat seseorang dapat membedakan antara kebaikan dan kejahatan, dan berpihak pada kebenaran. Oleh karena itu, keinsafan adalah suatu pembentukan kamma baik yang baru. Perlu dicamkan bahwa suatu kejahatan yang telah telanjur diperbuat tidaklah dapat diubah menjadi suatu kamma baik kendatipun disesali sepanjang waktu. Penyesalan hanyalah akan memperberat suatu kejahatan. Seyogianya ia secepatnya menginsafi atau menyadarinya dan selanjutnya mengarahkan diri secara benar yang merupakan langkah awal yang mutlak harus dikerjakannya dalam upaya menuntun diri menuju kemajuan, peningkatan dan perkembangan batiniah yang pesat.

Dalam satu hal semua makhluk mempunyai persamaan, yakni mendambakan kebahagiaan dan senantiasa berusaha menghindari penderitaan. Bertolak dari pemahaman ini, kita dapat menyimpulkan bahwa segala hal yang dapat menyakitkan bagi diri sendiri juga akan menyakitkan bagi orang lain. Suatu perbuatan yang tidak dikehendaki dilakukan orang lain pada diri sendiri, hendaknya juga tidak dilakukan pada orang lain yang juga mereka tak kehendaki. Salah satu contohnya, kita dapat merenungkan demikian: "Saya menyenangi kehidupan, tidak mengharapkan kematian, menyenangi kenikmatan dan tidak menyukai penderitaan. Apabila seseorang bermaksud membunuhku, saya tidak menyukainya. Begitu juga, apabila saya bermaksud membunuh orang lain, dia juga tidak akan menyukainya. Sebab, sesuatu yang saya tidak sukai, pasti pula tidak disukai orang lain; bagaimana mungkin saya dapat membebani orang lain seperti itu?". Berdasarkan perenungan tersebut, seseorang hendaknya bertekad tidak membunuh, menganjurkan orang lain untuk demikian pula, dan senantiasa menghargai tekad itu. (Samyutta Nikaya V:354). Dengan kalimat yang tidak begitu berbeda, dalam Dhammapada, Danda Vagga 129-130, juga terdapat sabda Sang Buddha sebagai berikut: "Semua orang gentar terhadap hukuman, semua makhluk takut menghadapi kematian. Setelah membandingkan diri sendiri dengan yang lain, seseorang hendaknya tidak membunuh sendiri atau menyuruh orang lain untuk membunuh."

"Semua orang gentar terhadap hukuman, semua makhluk mencintai kehidupannya. Setelah membandingkan diri sendiri dengan yang lain, seseorang hendaknya tidak membunuh sendiri atau menyuruh orang lain untuk membunuh."

Dengan cara yang sama, dalam segala tindakan yang akan dilakukan hendaknya seseorang menyadari azas universalitas ini. Disamping itu, apabila manusia menganggap dirinya sebagai makhluk yang mempunyai peradaban luhur, maka menjadi tugasnya untuk melindungi, memelihara, serta membina kesejahteraan, kebahagiaan, kesentosaan dan perdamaian di dunia ini.

Umat manusia yang perkembangan batinnya belum sempurna memang mempunyai kecenderungan untuk berbuat kesalahan, kekeliruan, kekhilafan, kesilapan, kegalatan atau kejahatan. Namun, hal-hal semacam itu tidak seharusnya dibiarkan terjadi berulang-ulang dan terus menerus hingga menjadi kaprah. Upaya perbaikan dan notabene meningkatkan kebajikan, keluhuran, kemuliaan, dan keagungan yang telah dimiliki hingga menjadi sempurna ini sesungguhnya telah dikumandangkan Sang Buddha dalam Mangala Sutta. Usaha perbaikan tersebut dalam Mangala Sutta dikatakan "Mengarahkan Diri secara Benar". Bagi setiap orang yang mendambakan kemajuan, peningkatan dan perkembangan batiniah yang pesat, langkah awal yang mutlak harus dikerjakan adalah mengarahkan diri secara benar. Dengan mengarahkan diri secara benar tentunya tidak hanya membuahkan manfaat terbatas bagi diri sendiri saja, melainkan juga bagi orang-orang lainnya. Ditinjau dari segi sosial, seseorang yang mengarahkan diri secara benar tentunya tidak akan menjadi ancaman atau bahaya apa pun bagi masyarakat luas disekelilingnya. Bahkan lebih jauh dari itu, ia dapatlah dianggap telah ikut serta secara nyata dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera, bahagia, makmur, damai, dan sentosa.

Pengertian "Mengarahkan diri secara benar" mempunyai empat cakupan, yaitu: 1) Menyadari kejahatan yang telah muncul dalam dirinya, dan selanjutnya bertekad serta berusaha agar kejahatan yang sama tidak terulang lagi pada masa mendatang;2) Mencegah timbulnya kejahatan yang belum muncul;3) Menimbulkan kebajikan yang belum muncul dan 4) Mempertahankan atau mengembangkan kebajikan yang sudah muncul.

Beberapa contoh sikap yang nyata dalam mengarahkan diri secara benar misalnya, seseorang yang dahulunya tidak mempunyai kesilaan/kemoralan tetapi kemudian menjaga kesilaan; atau seseorang yang dahulunya tidak mempunyai keyakinan tetapi kemudian membangkitkan keyakinan; atau seseorang yang dahulunya kikir / pelit tetapi kemudian mengembangkan kemurahan hati atau kedermawanan; atau seseorang yang dahulunya jahat berubah menjadi baik,dari biadab berubah menjadi beradab, dari kejam berubah menjadi welas asih, dari culas berubah menjadi jujur, dari ceroboh berubah menjadi waspada, dari malas berubah menjadi rajin, dari berkhianat berubah menjadi berbakti, dari pemarah berubah menjadi penyabar, dari pendendam berubah menjadi pemaaf, dan lain sebagainya.

Dalam berbagai kesempatan, Sang Buddha senantiasa mengingatkan betapa penting upaya mengarahkan diri secara benar. Ini tertampak pada beberapa kutipan berikut ini:

"Pikiran yang terarahkan secara benar membuat seseorang menjadi mulia dan memperoleh pahala baik; melebihi apa yang dapat diberikan oleh ibu, ayah atau sanak keluarga." (Dhammapada, Citta Vagga 43)

"Menyadari bahwa diri sendirilah yang [paling] dicintai, seseorang hendaknya menjaga diri dengan baik. Orang bijak patut mawas diri kalau bukan dalam ketiga masa kehidupan, paling tidak dalam satu masa." (Dhammapada, Atta Vagga 157)

"Barangsiapa yang sebelumnya lengah tetapi kemudian mawas diri, ia niscaya menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan." (Dhammapada, Loka Vagga 172)

"Barangsiapa menanggalkan kejahatan yang pernah dilakukannya dengan berbuat kebajikan niscaya menerangi dunia ini bagaikan bulan yang terbebas dari awan." (Dhammapada, Loka Vagga 173)

Mengarahkan diri secara benar merupakan cara yang paling sangkil untuk meningkatkan kemajuan, peningkatan, dan perkembangan batiniah yang pesat yang dapat menciptakan kehidupan yang sejahtera, bahagia, makmur, damai, dan sentosa. Dengan menyadari manfaat yang besar tersebut, sudah selayaknya jika setiap orang berusaha mengarahkan diri secara benar. Memang, cukup sukar untuk dapat mengintrospeksi atau melihat kesalahan, kekeliruan, kekhilafan, kesilapan, kegalatan atau kejahatan yang terdapat dalam diri sendiri. Jauh lebih sulit lagi ialah memperbaiki kesalahan, kekeliruan.... atau kejahatan yang telah terlihat. Namun, ini semua bukanlah suatu hal yang mustahil. Senantiasa terpampang kesempatan yang luas bagi setiap orang untuk memperbaiki serta meningkatkan tataran batinnya hingga mencapai kesempurnaan. Kesempurnaan tidaklah dimonopoli oleh satu makhluk tertentu saja.

Dalam keadaan merebaknya kejahatan yang menjadi bagian kenyataan kehidupan masyarakat kita, peranan agama benar-benar sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan kesadaran dan keinsafan akan pentingnya nilai-nilai moral, nilai-nilai kemanusiaan, dengan begitu masyarakat kita akan dapat menemukan, menegakkan dan membangun kembali identitas dan kepribadiannya. Kebenaran agamis tidak sangkil jika hanya disakralkan di tempat-tempat kebaktian; tetapi juga harus mampu diresapkan dan ditanamkan dalam sanubari mereka yang paling dalam sehingga apa pun pikiran, ucapan, dan tindakan yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari dimasyarakat luas dapat benar-benar terarahkan pada kebajikan. Untuk memenuhi tugas mulia ini, agama harus berusaha memulihkan keyakinan masyarakat akan pentingnya tanggung jawab moral, kepedulian sosial, dan pentingnya peningkatan penghidupan umat manusia dalam menciptakan kehidupan sejahtera, bahagia, makmur, damai, dan sentosa baik pada masa sekarang maupun pada masa yang akan datang; Suatu kehidupan yang bebas dari kejahatan atau setidaknya kejahatan tidak bersimaharajalela di dunia ini.

Tidak melakukan segala kejahatan, menyempurnakan kebaikan, dan menyucikan pikiran; inilah ajaran para Buddha."(Dhammapada, Buddha Vagga 183 )

Catatan:

Ungkapan 'kebajikan yang belum muncul' pada butir ketiga itu mencakup kebajikan duniawi yang belum pernah muncul dalam kehidupan sekarang, dan kebajikan-jalan (magga-kusala) yang belum pernah muncul baik dalam kehidupan lampau maupun sekarang. Kebajikan Jalan (magga-kusala) mempunyai empat tataran, yaitu: Sotapatti-magga, Sakadagami-magga, Anagami-magga, dan Arahatta-magga.

Ungkapan 'mengembangkan kebajikan yang sudah muncul' pada butir terakhir itu hanya semata-mata mencakup kebajikan duniawi seperti memberi dana, memelihara kesilaan, dan melatih meditasi yang pernah dilakukan baik dalam kehidupan lampau maupun sekarang. Ini sama sekali tidak merujuk pada kebajikan-jalan. Alasannya ialah bahwa suatu magga-kusala hanyalah mungkin muncul sekali saja sepanjang kehidupan suatu makhluk. Setelah muncul sekali dan segera lenyap kembali, kebajikan-jalan ini tidak akan muncul lagi. Hanya kebajikan-jalan yang lebih luhur tatarannya daripada kebajikan-jalan yang sudah muncul dalam dirinya saja yang mungkin bisa muncul.

Dalam Kitab Suci Dhammapada terbitan LPD Publisher, Jan Sanjivaputta mengulaskan bahwa kehidupan manusia terbagi menjadi tiga masa, yaitu masa kanak-kanak, masa dewasa, dan masa tua. Sungguh baik apabila seseorang dapat mawas diri dalam ketiga masa kehidupannya. Contohnya ialah Samanera Sopaka yang telah berhasilmeraih kesucian sejak berusia tujuh tahun. Dalam pada itu, kalauseseorang pada masa kanak-kanaknya tidak mawas diri karena suka bermain-main, ia hendaknya mawas diri dalam masa-masa lainnya. Demikian pula, apabila seseorang tidak mawas diri dalam masa kanak-kanaknya dan juga dalam masa mudanya karena sibuk merawat anak istrinya, ia hendaknya paling tidak dapat mawas diri dalam masa tuanya.

Sumber Acuan:
Harian Kompas; 12 & 13 Maret 1996.
Dasar Pandangan Agama Buddha, Ven. S. Dhammika.
Kitab Suci Dhammapada, Terbitan LPD Publisher.
MANGALA Berkah Utama, Jan Sanjivaputta.


[ Dikuti[ dari Gema Dhammavaddhana ] 

Selasa, 15 Februari 2011

Bagaimana Mengajarkan Agama Buddha Kepada Anak


Bagaimana Mengajarkan Agama Buddha Kepada Anak
 

Eko:"Wah, pusing nih, besok kalau gue meninggal kayaknya kagak disembahyangi nih, habis pegang hio, pasang foto gue dibilangin sama anak tidak boleh"

Sue: "Bukan loe aja, kalau bini gua beli banyak buah-buahan buat sembahyang, anak gue kagak ada satupun yang mau makan, katanya nggak boleh karena bekas sembahyang. Jadi daripada mesti buang, akhirnya beli seadanya saja"

Sugi:"Itu mah belum parah, yang parah tuh kalau gue lagi sembahyang leluhur dibilangin lagi sembah berhala, entar bisa jatuh ke Neraka"

Contoh pembicaraan di atas adalah cuplikan yang tidak jarang kita dengar, saat kita melayat di rumah duka. Apakah hanya sebatas itu yang Anda harapkan dari anak Anda? Apakah Anda takut tidak ada yang menyembah-yangkan sesudah Anda meninggal, atau sekadar ingin dia hanya ikut pasang-pasang hio, dan sebagainya.

Tidak demikian, sesung-guhnya yang kita inginkan adalah agar anak kita dapat tumbuh menjadi anak yang baik, berbakti, pintar, bermoral, mempunyai ketahanan yang baik dalam menghadapi segala jenis masalah hidup, dan sebagainya. Aspek spiritual adalah aspek yang sangat mendasar dan paling penting dalam kehidupan baik bagi Anda maupun anak anda.

Masalah yang diungkapkan di atas, jika diartikan secara lebih khusus adalah, "Bagaimana orangtua Buddhis dapat mengajarkan ajaran Buddha dengan baik kepada anak-anaknya?"  

Pada kenyataaannya, aspek ini hampir terabaikan begitu saja. Bandingkan dengan para orangtua dari non-Buddhis, yang sejak kecil anaknya sudah dibaptis ataupun dipermandikan menjadi pengikut agama yang telah diyakini oleh orangtuanya. Orangtua Buddhis cenderung bersifat acuh tak acuh, dan dengan argumen bahwa biarlah kelak dia bisa memilih agamanya sendiri, yang penting semua agama sama, mengajarkan kebaikan. Apakah benar demikian?

Artikel ini dimaksudkan untuk dapat menjadi bahan perenungan bagi para orangtua Buddhis, yang sebagian disadurkan dari buku "How To Teach Buddhism to Children", Bodhi Leaves No.B.9. 1961, BPS, Sri Lanka (edisi ke-2, tahun 1975), karangan Dr. Helmuth Klar. Dari tahun penerbit dapat diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya masalah ini telah lama menjadi topik yang begitu diperhatikan oleh para bhikkhu dan para pengikut Buddhisme di Srilangka maupun di dunia Barat.

Dalam makalahnya, Dr. Helmuth Klar berbagi pengalaman praktik dengan anaknya sendiri dan juga dengan anak-anak Barat lainnya, karena beliau tidak ingin berteori saja. Namun banyak sekali manfaat yang kita dapatkan dari pengalamannya tersebut.

Jika kita berada di negara Buddhis, di tengah-tengah tradisi Buddhis yang telah berabad-abad lamanya, posisi seorang anak Buddhis jauh lebih mudah. Namun tidak demikian dengan di Indonesia, di mana Buddhis merupakan minoritas dan dikelilingi oleh berbagai agama lain, sehingga dapatlah dimengerti peran orangtua merupakan faktor yang terpenting dalam menanamkan keyakinan pada anaknya.

Dan perlu disadari penanaman keyakinan pada anak kita secara otomatis akan berkaitan dengan cara hidup yang benar. Tanamkan keyakinan pada anak Anda sejak kecil mengenai kebesaran dan keagungan Sang Buddha.

Suatu ide yang sangat penting, bila sejak kecil anak-anak harus dilatih untuk yakin akan keagungan dan kemuliaan Sang Buddha. Penggunaan patung ataupun gambar Sang Buddha adalah suatu ide yang bagus untuk mengajarkan anak kita memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, sebagai guru yang agung untuk manusia. Jelaskan bahwa itu bukanlah penyembahan berhala seperti yang sering diajarkan oleh para pendidik agama non-Buddhis yang mengharuskan anak kita mengikuti pelajaran agamanya di sekolah yang berada dalam naungan suatu agama tertentu. Penggunaan patung Buddha sebagai objek konsentrasi penghormatan kepada Sang Buddha akan menjadi lebih efektif mengingatkan kita kepda Sang Guru Agung dibandingkan simbol-simbol lain. Ibarat seseorang menyimpan foto orangtuanya akan memudahkan dia untuk mengingat sifat-sifat luhur orangtua dibandingkan dengan barang-barang yang langsung pernah diberikan kepadanya.

Demikian juga penghormatan terhadap anggota Sangha dengan bersujud ataupun bernamaskara, perlu dijelaskan bahwa itu merupakan cara penghormatan yang tidak lain seperti penghormatan pada tradisi-tradisi lain, dan bukanlah menyembah orangnya.

Aspek filsafat dari Buddhisme yang cenderung terlalu dalam untuk dimengerti anak-anak dapat dituangkan dalam upacara-upacara sederhana yang lebih praktis untuk anak-anak. Latihlah anak-anak untuk melakukan upacara-upacara sederhana seperti persembahan air, dupa, lilin, ataupun bunga di altar patung/gambar Sang Buddha. Bahkan perlu juga dijelaskan secara seder-hana arti dari per-sembahan-persembahan tersebut. Dengan demikian akan mengembangkan kebiasaan menghormat dan merenungkan sifat-sifat mulia Sang Buddha sejak kecil.

Memberikan visudhi kepada anak juga merupakan suatu hal yang sangat baik untuk mempertebal keyakinan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Memberikan contoh yang baik

Cara penanaman keyakinan sesungguhnya sangat tergantung pada usia anak-anak kita, namun satu hal yang pasti dan paling penting adalah bila orangtuanya hidup sesuai Dhamm. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak cenderung akan mengikuti apa yang dilihat dan didengarnya saat itu juga.

Penanaman keyakinan kepada anak sangatlah tergantung pada seberapa besar orangtuanya merealisasikan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Contoh sederhana, orangtua (ayah dan ibu) yang tidak berbakti kepada orangtuanya (nenek dan kakek), akan menyebabkan anak-anaknya cenderung akan meniru sifat orangtuanya dan akan mengakibatkan penanaman sifat tidak berbakti dari sang anak kepada orangtua, yang sangat bertentangan dengan Dhamma.

Anda harus merealisasikan Dhamma dan tidak sekadar pembicaraan saja untuk dapat membuat diri Anda hidup dengan cara benar sehingga membawa kebahagiaan bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, khususnya keluarga. Dengan cara itu berarti Anda telah memberikan contoh yang baik kepada anak Anda.

Menyampaikan cerita-cerita Buddhis kepada anak Anda

Anak-anak umum-nya suka dengan berbagai macam cerita, adalah suatu usaha yang baik, di mana orangtua Buddhis dapat menyisakan waktu sedikit, apakah setiap hari, dua hari sekali ataupun seminggu sekali, membacakan cerita-cerita Buddhis yang ringan, sesuai dengan usia anaknya, sehingga secara bertahap menanamkan keyakinan pada Buddha Dhamma lewat intisari cerita-cerita tersebut. Dapatlah diambil contoh, cerita-cerita Buddhis seperti Jataka, kisah asal usul syair Dhammapada (Dhammapada Atthakata), Petavatthu (cerita kisah peta), Vimanavatthu (cerita kisah dewa/dewi), kehidupan Pangeran Siddhattha hingga mencapai Buddha, kehidupan sosial selama kehidupan Sang Buddha, dan masih banyak lagi.

Karena secara psikologi anak-anak, mereka akan lebih mudah mengerti dan melekat di pikiran lewat cerita-cerita dari pada diberikan suatu motto yang ‘wah’ sekalipun. Dalam cerita-cerita sederhana yang umumnya menggambarkan orang jahat akan mengalami penderitaan dan orang yang baik ataupun berhati mulia akan mendapatkan kebahagiaan, secara sadar anak-anak kita akan berusaha menghindari perbuatan yang tidak terpuji di kemudian hari.

Anda juga dapat memperdengarkan cerita-cerita Buddhis lewat kaset, VCD, dan sebagainya, yang sudah tersedia.

Menerangkan Dhamma dengan cara sederhana

Tumbuhkanlah semangat Dhamma pada anak-anak sejak kecil, misalnya dengan mengajarkan ajaran dasar Buddhisme.

Ajarkanlah dan tunjukkan Metta (cinta kasih), Karuna (kasih sayang), dan Mudita (simpati) yang merupakan komponen penting dalam Buddhisme kepada anak sejak dini.

Latihlah anak Anda dengan lima sila dasar (tidak melaku-kan pembunuhan, tidak melakukan pencurian, tidak melakukan per-buatan asusila, tidak melakukan ucapan yang tidak benar, dan tidak meminum-minuman keras yang melemahkan kesadaran) dan apa yang harus dilakukan oleh seorang umat Buddha dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh umat Buddha.

Ajarkanlah dengan sederhana apa yang dimaksud dan mengapa harus melatih sila-sila tersebut dengan cara yang sederhana dan jangan dengan filsafat-filsafat yang kelihatannya hanya akan dimengerti oleh orang orang dewasa. Dapatlah diambil contoh, pelatihan untuk tidak berbohong, berikanlah penjelasan singkat mengapa tidak baik, beritahu anak Anda bahwa jika berbohong, dapat menyebabkan orang lain tidak akan mau percaya lagi apapun yang diucapkan lain kali.

Memperkenalkan syair-syair yang mudah, seperti bait-bait Dhammapada juga akan menambah wawasan anak-anak. Misalkan untuk mengembangkan sifat tidak membenci, bagi anak-anak dapatlah diterangkan syair Dhammapada 5 (Yamaka Vagga – Syair berpasangan):
"Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci, Inilah hukum abadi."

Perlu juga adanya persiapan referensi buku-buku Dhamma yang cocok untuk anak, misalkan buku ‘Ketika Anak Bertanya’ karangan Dhamma K.Widya, ‘Sang Buddha Pelindungku’ seri I sampai VI, terbitan Sangha Thervada Indonesia, dan banyak lagi buku lain yang dapat Anda peroleh di vihara-vihara sekitar Anda.

Selain itu anak-anak mempunyai kecenderungan yang tinggi terhadap musik/lagu, oleh karena itu orangtua dapat memperdengarkan lagu-lagu Buddhis kepada anak-anak sejak dini. Saat ini sudah banyak sekali lagu-lagu Buddhis untuk anak-anak yang dapat dibeli di bursa-bursa vihara maupun toko-toko Buddhis.

Karakter anak

Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada para raja, pengemis, tuan tanah, petani, prajurit, pedagang, budak, filsuf, dan sebagainya. Beliau mengerti sepenuhnya karakter dari setiap orang yang berbeda, dan menyampaikan Dhamma yang mudah dimengerti dan dipahami dengan cara-cara yang disesuaikan dengan karakter masing-masing. Dengan cara yang sama kita harus berusaha mempelajari dan memahami karakter anak-anak kita agar kita dapat mengajarkan Dhamma pada mereka dengan cara paling efektif. Misalkan anak suka menggambar, berikan buku menggambar dan mewarnai tentang kisah-kisah Buddhis. Dan orangtua dapat menjelaskan arti-arti dari gambar tersebut secara sederhana.

Kegiatan-kegiatan spiritual

Anak-anak perlu diajak untuk selalu mengikuti peringatan-peringatan keagamaan, seperti menghadiri hari raya Waisak, Asadha, Kathina, Magha Puja, maupun hari-hari Uposatha, supaya merasa senang dan puas. Mengunjungi vihara-vihara di dalam maupun di luar kota bisa merupakan alternatif lainnya. Anak-anak perlu juga diajak untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah bernuansa Buddhis, seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, dan kalau mampu dapat mengunjungi tanah suci kelahiran Pangeran Siddharta (Lumbini), tempat direalisasikannya Penerangan Sempurna (Bodhgaya), tempat Maha parinibbana (Kusinara), ataupun negara-negara Buddhis lainnya.

Jika usia anak sudah cukup, perlu memotivasi mereka untuk ikut serta dalam kegiatan bakti sosial ke rumah jompo, panti asuhan, kerja bakti di vihara, dan lain-lain. Mengunjungi sanak famili dan juga para bhikkhu adalah hal yang sangat dianjurkan untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap suatu hubungan. Mengunjungi para bhikkhu dapat dimanfaatkan sebagai usaha untuk menambah keyakinan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Jika ada liburan sekolah, dapat juga melakukan dharmawisata ke desa-desa yang cenderung masih lebih alamiah, dan menunjukkan kepada anak-anak bagaimana mengembangkan cinta kasih terhadap sesama manusia maupun binatang. Bagaikan seorang pramuka yang baik, ajarkanlah untuk menolong wanita tua untuk membawa keranjang atau mendorong kereta dorong, dan sebagainya. Ajarkan untuk membawa seekor ikan yang hampir mati karena kurang air ke dalam kolam yang airnya cukup.

Kekebalan terhadap ajaran non-Buddhis dan materilisme

Orangtua harus memberikan perhatian dengan penuh kewaspadaan agar anak-anak tidak ditarik ke dalam jaring ‘ajaran lain’ dan juga materialisme, sehingga membuat pikirannya terbuka pada pancaran sinar Dhamma.

Perlu disadari, khususnya di Indonesia, agama Buddha merupakan agama minoritas dan di kelilingi oleh agama-agama ‘non-Buddhis’ dengan fasilitas dan sarana yang jauh di atas agama Buddha. Contoh paling sederhana penjaringan terjadi melalui beberapa sekolah bermutu yang dikelola oleh lembaga dari suatu ‘agama’ tertentu, sehingga banyak sekali anak-anak yang orangtuanya Buddhis menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah tersebut. Memang tidak wajib untuk menyekolahkan anak kita di sekolah-sekolah Buddhis karena mutunya yang kurang bagus, namun kita harus benar-benar mem-perhatikan perkem-bangan anak kita, sehingga tetap berpegang pada Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Mengingat kondisi-kondisi lingkungan yang dijelaskan di atas, sangat perlu dijelaskan perban-dingan-perbandingan antara agama Buddha dengan agama-agama lain kepada anak kita. Kita harus menunjukkan keistimewaan ajaran Buddha dibandingkan dengan yang lain, sehingga membuat anak-anak kita kebal terhadap pengaruh-pengaruh luar, termasuk materialisme.

Di samping itu, saat anak-anak kita menanjak dewasa dan terutama selama masa remaja yang romantis, ada beberapa ritual yang menarik perhatian mereka, khususnya melalui musik, lagu, panduan suara, dan lain sebagainya. Untuk mencegah anak kita tertarik ke suatu ajaran non-Buddhis hanya karena musik semata-mata, dianjurkan supaya anak-anak sejak dini dikenalkan dengan musik, terutama yang bernuansa Buddhis, untuk mencegah mereka tergiur dengan mendengar lagu-lagu non-Buddhis.

Satu hal penting yang harus ditanamkan terus pada anak-anak kita adalah tanggung jawab diri sendiri. Misalnya setiap malam, ketika anak-anak lain berdoa, anak-anak Buddhis harus melewatkan waktu sedikit dengan meditasi dan merenungkan hal-hal yang telah dilakukannya. Bila mereka menyadari bahwa diri mereka belum berpikir, bicara dan bertindak sesuai ajaran Buddha, maka mereka harus berusaha untuk mengerti bagaimana menghindari kesalahan itu di lain waktu. Bila mereka menyadari bahwa diri mereka tidak dapat menghindari pikiran ataupun perbuatan buruk, maka orangtua harus membantu mereka, sehingga dapat pergi tidur dengan tekad untuk berbuat yang lebih baik pada esok harinya. Di pagi hari mereka dapat memulai hari yang baru dengan merenungkan kembali tekad mereka. Dengan cara ini, anak-anak akan mampu mengembangkan kekuatan dari pikiran mereka sendiri, sambil memurnikan pikiran dengan menanamkan kebaikan atau ketrampilan berpikir, berkata dan bertindak. Demikian juga jika anak-anak non-Buddhis melakukan doa sebelum makan, anak-anak Buddhis dapat diajarkan untuk merenungkan fakta bahwa makanan yang mereka makan adalah berfungsi untuk kesehatan fisik dan mental, bukan untuk berfoya-foya atau bersenang-senang.

Hukum karma akan menunjukkan kepada anak-anak kita lebih jelas dibandingkan dengan janji-janji indah yang didogmakan oleh ajaran tertentu. Anak-anak kita akan dituntun untuk melihat hukum sebab-akibat, ibarat biji pepaya akan tumbuh jadi buah pepaya dan tidak akan menjadi buah semangka, penebar kebajikan akan mendapatkan kebahagiaan sedangkan penebar kejahatan akan mendapatkan penderitaan.

Tanggung jawab diri sendiri yang ditanamkan dengan baik akan membentuk dan mengembangkan kualitas batin anak kita, sehingga akan membentuk dan memperkuat benteng alamiah terhadap agama kepercayaan lain di satu sisi dan menghindari penyalahgunaan filsafat mengenai materialisme di sisi lain.

Dengan uraian singkat di atas, semoga setiap orangtua Buddhis bisa terbuka dan mau melihat betapa pentingnya dan berharganya ‘pendidikan melalui keluarga’ terhadap anak-anak kita. Orangtua mempunyai peranan yang sangat penting bagaimana diri sang anak dibentuk.

Semoga kita tidak lagi mendengar pendapat: ‘Anak kami dapat memilih agamanya nanti, tepat seperti yang kita lakukan, dan kita tidak mempunyai hak untuk menentukannya.’

Anda sebagai orangtua, pasti sudah pernah mencari kesana kemari, dan menemukan bahwa agama Buddha adalah yang paling bagus ataupun cocok buat anda, mengapa anda masih ingin membiarkan anak anda mencari sendiri, setelah ajaran-ajaran dogma ataupun materialisme telah bekerja, dan anak-anak kita tidak lagi mempunyai kebebasan intelektual. Kita telah kalah ‘start’, di mana anak-anak sudah di-dogma sejak masuk sekolah dan hampir setiap hari dilakukan penanaman kepercayaan lain secara bertahap, sedangkan kita tidak melakukan apa-apa, apakah itu masih ‘adil’ bagi anak Anda?

Di dalam misi penyebaran Dhamma, Sang Buddha bersabda kepada enam puluh Arahat: "Kotbahkanlah Dhamma yang mulia pada awal, mulia pada pertengahan, mulia pada akhir. Umum-kanlah tentang kehidupan suci yang benar-benar suci dan sempurna dalam ungkapan dan dalam hakekatnya, demi keselamatan dan kesejahteraan semua makhluk".

Mengapa anda yang sudah mengenal Dhamma tidak anda sebarkan dan ajarkan kepada anak, yang pasti merupakan orang yang paling anda sayang?Membiarkan anak anda memilih agamanya tanpa dibimbing mengenai Buddha Dhamma adalah bagaikan melepaskan anak buta di hutan yang berbahaya tanpa diberi perlengkapan apapun, salah-salah bisa tertusuk duri, dimakan binatang buas, masuk jurang ,dsb.

Ingatlah, bahwa dari segala jenis pemberian baik materi maupun non-materi, pemberian Dhamma adalah pemberian yang paling berharga, bagaimana anda sebagai orangtua Buddhis bertanggung jawab karena kelalaian memberikan hadiah ini kepada anak anda?

[ Dikutip dari Majalah Dhammacakka  ]

Rabu, 09 Februari 2011

Awan Yang Memberi Hujan

 
Awan Yang Memberi Hujan
Oleh: Raju Anandani


Seorang filsuf pernah mengatakan kepada saya, "Hiduplah seperti kayu cendana yang selalu memberikan keharuman kepada setiap orang didekatnya, bahkan ia tetap memberikan keharuman kepada orang yang memotongnya dengan gergaji, bahkan kepada gergaji yang memotongnya"………

Sejarah penuh dengan kisah orang-orang yang tetap mencintai dan mengasihani musuhnya yang berbahagia di alam sini maupun di alam sana. Juga orang yang membenci dan iri hati kepada musuh, kawan, dan keluargannya, yang akan menderita di alam sini maupun di alam sana.

Ada seorang jahat yang hendak memukul seorang pertapa, namun ia terpeleset dan jatuh. Karena kasih sayang dan rasa kasihan sang petapa menolongnya, tetapi orang yang ditolong malah memfitnahnya.

Sang pertapa hanya berlalu dan tersenyum. Kita pun sebaiknya menydari sifat dunia dimana kita hidup.

Dhamma tetap rekevan untuk masa kini dan cocok untuk raktya jelata maupun kaum intelektual di timur dan barat.

Negara asal Buddhisme, India, memiliki kebudayaan tertinggi di dunia bersama-sama dengan RRC, Mesir dan mesopotania. Ada 4 agama besar yang berasal dari negara tersebut (Aryan Religion), yaitu Hindu, Buddha, Sikh dan Jain. Semuannya mempunyai ajaran tentang meditasi. Ribuan tahun yang lalu Sang Buddha telah mengetahui apa yang baru saja ditemukan ilmuwan barat beberapa tahun yang lalu, misalnya yang disebut dengan partikel atom kecil, kehidupan di palnet dan lain-lain. Ilmuan Albert Einstein, pernah mempelajari Buddhism dan Teosofi di India Selatan. Ia mengatakan bahwa agama tanpa ilmu pengetahuan adalah pincang, tetapi ilmu pengetahuan tanpa agama adalah buta, India adalah negara ke-6 didunia yang berhasil dalam program angkasa luar dan teknolig nuklir untuk perdamaian tetap mempertahankan ajaran agama yang telah berusia 5000 tahun. 

Vipassana Research Institute, yang berpusat di India, terus melakukan riset ilmiah terhadap teori dan praktek meditasi Vipassana, dan lain lain. Berkat jasa S.N.Goenka, meditasi Vipassana dan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha ribuan tahun yang lalu telah berkembang dan diajarkan hampir keseluruh dunia, di berbagai negara di enak benua, termasuk di Indonesia. Kadang-kadang lobha, dosa dan moha dapat menyebabkan para pimpinan, ilmuwan dan masyarakat menyalahgunakan teknologi untuk kehancuran. Sang Buddha bersabda. "Penyebab penderitaan adalah kamma, tindakan mental, yaitu reaksi buta terhadap lobha, dosa dan sankhara." Beliau juga bersabda, semua sankhara adalah tidak kekal, jika engkau memahami hal ini dengan pandangan terang sejati, maka engkau tidak melekat pada penderitaan, itulah jalan penyucian."

Tak ada istilah terlambat untuk seorang yang mau melaksanakan Dhamma. Angulimala telah membunuh puluhan orang namun akhirnya mencapai tingakat kesucian Arahat.

Ajaran-ajaran Buddhis masih tetap relevan untuk masa kini sebagaimana halnya pada ribuan tahun yang lalu. Falsafah yang universal dan abadi ini, merupakan sumber kebijaksanaanbagi semua orang tanpa pandanga agama, kasta, jenis kelamin, warna kulit, dan kepercayaan. Juga memberikan jawaban terhadap semua pertanyaan mengenai tujuan hidup dan eksistensi manusia, sebagaia pedoman bagi para pemeluknya dalam menyelesaikan semua konflik dan masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melakukan perbuatan baik dan benar. Juga memberikan panduan dan azas-azas bagi kehidupan yang baik dan benar serta dasar-dasar bagi manusia untuk membedakan antara yang benar dengan yagn salah serta menyadarkan individu yang hanya menyibukkan diri dengan ritual-ritual sehingga mereka lupa akan tujuan hidup yagn sebenarnya yaitu untuk mencapai pemahaman akan kebenaran (truth), Sang Buddha bersabda:

"Dari pemahaman benar maju ke Pikiran benar
Dari pikiran benar maju ke ucapan yang benar
Dari ucapan benar maju ke tindakan benar
Dari tindakan benar maju ke mata-pencaharian benar
Dari mata-pencaharian benar maju ke usaha yang benar
Dari usaha benar maju ke kesadaran benar
Dari kesadaran benar maju ke konsentrasi benar
Dari konsentrasi benar maju ke kebijaksanaan benar
Dari kebjiksanaan benar maju ke pembebasan besar"

Buddhsm bersifat universal, abadi, dan mengajarkan toleransi serta menerima berbagai pemikiran, kepercayaan, dan agama. Jadi bukanlah bersifat sempit, dokmatis, totaliter, dan tidak meremehkan filsafat filsafat lain. Setiap individu dapat menarik manfaat karena kehidupan di masa lampau takkala akaran ini dikumandangkan, tidak jauh berbeda dengan kehidupan masa kini. Manusia telah menciptakan aneka ragam warna dalam sebuah pelangi. Multi bentuk ini merupakan pencerminan dari berbagai aspel dalam alam manusia.

Kewajiban-kewajiban terhadap ajaran Buddhism telah dirumuskan ribuan tahun yang lalu, termasuk tindakan untuk menegakkan kebenaran dengan melaksanakan kewajiban, moral, dan sosial kita. Apabila seorang individu dibimbing oleh Dhamma, barulah dia dapat mencapai Nibbana.

Sang Buddha bersabda: "Sekalipun seseorang telah memberikan dana yang besar, masih jauh bear buah yang ditermanya bila ia berlindung dengan sepenuh hati pada yang tercerahkan, Dhamma dan semua orang suci. Seandainya ia melakukan itu, maka jauh lebih besar buahnya jika ia menjalakan pancasila dengan sepenuh hati; Dan bila melakukan itu, maka jauh lebih besar buahnya jika ia mengembangkan niat baik terhadap semua makhluk walapun hanya selama waktu yang dibutuhkan untuk memerah sapi. Bila ia melakukan semua itu, masih jauh lebih besar buahnya jika ia mengembangkan kesadaran akan ketidakkekalan(anicca) selama satu jentikan jari."

Berbuat sesuai dengan ajaran Buddhis adalah tindakan yang penting terhormat dan termulia, melalaikan tanggung-jawab dapat menciptakan kekacauan, akibatnya menimbulkan perbuatan salah yang dapat memperlemah, akhirnya meruntuhkan struktur sosial. Tindakan haruslah didasarkan pada keadilan, kebenaran, dan tanpa pamrih. Dengan kata lain, dibimbing oleh moralitas dan etika, apakah itu dalam bidang politik, perdagangan, dan ilmu pengetahuan.

Akhir kata, Sang Buddha bersabda "Dengan melakukan kesalahan sendiri, engkau mengotori dirimu sendiri. Dengan tidak melakukan sesuatu yang salah sendiri, engkau menyucikan dirimu sendiri."

Hiduplah seperti pohon cendana yang memberikan keharuman. Seperti awan yang memberikan hujan yang bermanfaat bagi semua makhluk. Kehidupan adalah kehidupan yang sesungguhnya bagi insan yang dapat memberikan kehidupan bagi insan lain.

Dalam kegelapan malam yang tidak mempunyai sinar matahari yang terang, jadilah cahaya lilin yang dapat memberikan terang bagi diri sendiri.

Apabila seorang insan tidak dapat menjadi cahaya matahari bagi insan lain, maka jadilah cahaya lilin bagi insan lain.

Perjalanan yang kita tempuh dapat sana penuh dengan bunga yang indah atau duri yang tajam, tetapi tetaplah berjalan dan berpegangan pada jalan Dhamma.

Sang Buddha bersabda, "Buatlah kebajikan hari ini seolah-olah tidak ada hari esok……"
 
[ Dikutip dari Majalah Dhammacakka No.14/Tahun V/1999 ]

Minggu, 05 Desember 2010

Suara Keheningan



Suara Keheningan
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Ajahn Sumedho


Sewaktu Anda menjadi semakin tenang, Anda akan dapat mengalami suara keheningan di pikiran. Anda mendengarnya sebagai bunyi yang berfrekwensi tinggi, suatu bunyi dering yang selalu ada. Biasanya bunyi itu tidak pernah diperhatikan. Kini ketika Anda mulai bisa mendengar suara keheningan, bunyi itu merupakan tanda kekosongan - tanda keheningan pikiran. Anda selalu dapat kembali padanya. Bila Anda berkonsentrasi pada suara itu dan melihatnya, maka suara itu dapat membuat Anda merasa sangat damai dan bahagia. Sementara bermeditasi dengan obyek keheningan itu, Anda membiarkan kondisi-kondisi pikiran berhenti tanpa menekannya dengan kondisi yang lain. Kalau tidak, Anda hanya akan berakhir dengan tumpukan satu kondisi di atas kondisi-kondisi lainnya.
Proses menumpuk suatu kondisi di atas kondisi-kondisi lain itulah yang dimaksud dengan "membuat kamma". Misalnya, ketika Anda merasa marah, kemudian Anda mulai memikirkan hal lain untuk melarikan diri dari kemarahan itu. Anda tidak menyukai apa yang sedang terjadi di sini, jadi Anda menoleh ke sana. Berarti Anda melarikan diri. Tetapi jika Anda memiliki cara untuk berpindah dari fenomena yang terkondisi menuju yang tidak terkondisi, maka tidak akan ada kamma yang dibuat, dan kebiasaan-kebiasaan yang terkondisi itu akan memudar serta berhenti. Ini seperti suatu "katup pengaman" di pikiran, suatu jalan keluar, sehingga bentukan-bentukan kamma (sankhara) Anda, mempunyai jalan keluar, jalan untuk mengalir ke luar, bukan berlipat-ganda menciptakan sankhara-sankhara baru.
Satu masalah dalam meditasi adalah: banyak orang yang menganggap meditasi itu membosankan. Orang menjadi bosan dengan kekosongan. Lalu ingin mengisi kekosongan itu dengan sesuatu. Maka kita harus benar-benar sadar, bahwa walaupun pikiran tampaknya sangat hening, namun nafsu-nafsu keinginan dan kebiasaan-kebiasaan lama masih ada di sana. Nafsu-nafsu dan kebiasaan-kebiasaan itu akan datang dan menginginkan sesuatu yang menarik. Karena itu Anda harus sabar, bersedia untuk tidak memberikan perhatian pada kebosanan itu dan tidak menanggapi nafsu keinginan untuk melakukan sesuatu yang menarik. Merasa puaslah dengan kekosongan dari suara keheningan itu. Dan Anda harus bertekad kuat untuk memperhatikan kekosongan dari suara keheningan itu.
Tetapi ketika Anda mulai bisa mendengarkan dan memahami pikiran dengan lebih baik, ada kemungkinan bagi kita untuk merealisasikannya. Setelah berlatih bertahun-tahun, bentukan-bentukan kamma yang kasar akan melemah, sedangkan yang lebih halus juga mulai memudar. Pikiran menjadi lebih tenang dan jernih. Tetapi ini semua membutuhkan kesabaran, daya tahan, kesediaan untuk terus berpraktek di dalam segala kondisi, serta kesediaan untuk melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang paling disenangi.
Orang mungkin percaya bahwa suara keheningan itu memang ada, atau bahwa itu merupakan suatu pencapaian. Tetapi yang penting dalam meditasi sebenarnya bukan pencapaian ini atau itu, melainkan perenungan kebijaksanaan tentang apa yang Anda alami. Cara untuk berefleksi adalah: bahwa apapun yang datang akan pergi; dan latihan ini merupakan latihan untuk mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya.
Saya tidak akan memberi Anda identitas apapun —tidak ada apapun yang dapat dilekati. Ketika mendengar suara itu, beberapa orang ingin tahu, "Apakah itu tingkat sotapanna (pemasuk arus)?" atau "Apakah kita memiliki jiwa?" Kita amat melekat pada konsep-konsep. Apa yang dapat kita ketahui hanyalah bahwa kita ingin mengetahui sesuatu, kita ingin memiliki label untuk "diri" kita. Jika ada keraguan tentang sesuatu hal, keraguan akan muncul dan kemudian ada nafsu yang menginginkan sesuatu. Tetapi latihan ini adalah latihan untuk melepas. Kita bertahan dengan apa yang ada saat itu, mengenali kondisi sebagai kondisi dan mengenali yang tak-terkondisi sebagai tak-terkondisi. Sesuatu yang sangat sederhana, sebenarnya.
Bahkan aspirasi keagamaan pun harus dilihat sebagai suatu kondisi saja! Bukan berarti bahwa Anda lalu tidak boleh memiliki aspirasi, tetapi Anda harus mengenali aspirasi itu sendiri sebagai sesuatu yang terbatas. Dan kekosongan pun bukanlah "diri". Kemelakatan terhadap ide kekosongan itupun kemelekatan, jadi itu harus dilepas! Dengan demikian, prakteknya menjadi praktek memalingkan diri dari fenomena yang terkondisi, bukan menciptakan kondisi baru lagi di sekeliling kondisi-kondisi yang sudah ada. Dengan demikian, apapun yang muncul di dalam kesadaran Anda - kemarahan atau keserakahan atau apapun - Anda tahu bahwa hal itu ada di sana, namun Anda tidak melakukan apapun terhadapnya. Anda dapat menoleh pada kekosongan pikiran, pada suara keheningan. Ini memberi jalan keluar bagi suatu kondisi (misalnya kemarahan) untuk berhenti; Anda membiarkannya pergi.
Kita memiliki kenangan tentang apa yang telah kita lakukan di masa lampau, bukan? Kenangan-kenangan itu muncul di dalam kesadaran bila ada kondisi-kondisi yang pas untuk memunculkannya. Itu adalah buah kamma karena kita telah melakukan sesuatu di masa lampau, telah bertindak karena kebodohan batin, dan melakukan sesuatu karena keserakahan, kebencian dan salah pandangan, dan sebagainya... Bila kamma itu datang di masa kini, orang masih mamiliki dorongan bagi keserakahan, kebencian dan salah pandangan yang muncul di pikiran sebagai buah kamma. Jika kita bodoh sehingga melakukan sesuatu karena bereaksi terhadap ini semua, jika kita tidak memiliki perhatian/kewaspadaan (sati), maka kita semakin banyak menciptakan kamma lagi.
Ada dua cara bagi kita untuk menciptakan kamma: dengan mengikutinya, atau berusaha untuk terbebas darinya. Jika kita berhenti melakukan kamma, siklus kamma memiliki kesempatan untuk berhenti. Buah kamma yang telah munculpun mempunyai jalan keluar, mempunyai "katup lolos" untuk dapat menuju penghentian.


Pengabdian Tiada Henti, 20 th Abdi Dhamma Sangha Theravada Indonesia(Naskah Asli: The Sound of Silence, Diambil dari buku: THE WAY IT IS, Penerbit: Amaravati Buddhist Monastrery-England.)

Rabu, 24 November 2010

Wujud Indah Kwan Im

Wujud Indah Kwan Im
Oleh Willy Yandi Wijaya



Mungkin kita tidak asing lagi dengan Avalokitesvara Boddhisattwa atau lebih terkenal dengan sebutan “dewi Kwan Im”.

Beliau dikenal sebagai dewi yang ‘mendengar’ setiap orang yang menderita…
Lalu…
Apakah kita tahu esensi dari wujud beliau….??

Terlepas dari apakah Kwan Im betul-betul nyata atau tidak secara historis, konsep Kwan Im adalah sangat indah sekali….(renungkanlah)

Beliau melambangkan suatu keadaan batin yang paling indah dan damai, yaitu welas-asih. Yang berarti cinta kasih kepada mereka yang menderita. Karena itulah beliau diwujudkan dalam bentuk seorang wanita yang memiliki seribu tangan dan seribu mata. Seribu tangan dan seribu mata yang ada di setiap telapak tangan beliau melambangkan bahwa beliau dapat melihat dengan mata-Nya dan menolong dengan tangan-Nya ke segala penjuru dunia....

Yang perlu dipahami oleh kita adalah bahwa wujud beliau yang sangat ber-welas-asih yang perlu kita tiru ketika kita memuja beliau, bukan hanya sekedar memohon-mohon. Justru ketika kita mengembangkan welas-asihlah, segala permohonan kita akan tercapai dikarenakan akibat dari perbuatan kita yang disertai dengan welas-asih.

Jika kita meyakini beliau dengan pengertian yang jelas yaitu setiap saat mengembangkan welas-asih kepada semua makhluk yang menderita dan lebih lanjut kita dapat mengembangkan cinta kasih kepada semua makhluk tanpa batas, maka kita telah selangkah lebih maju menjadi seorang Buddha.

Setiap saat—kapan dan di mana pun—kita harus senantiasa mengembangkan welas-asih dengan mengingat wujud Kwan Im dan berusaha bertindak seperti beliau yang selalu menolong mereka yang menderita

Ketika tindakan kita semua dilandasi dengan welas-asih maka…
            tidak akan ada kebencian lagi, semua akan saling mencintai
                        tidak akan ada kekerasan lagi, semua akan saling memaafkan
                                    tidak akan ada perang lagi, semua akan saling mengalah
                                                tidak akan ada kehancuran lagi, dan semua akan saling menjaga
                        Dan kehidupan kita semua akan menjadi damai…

Itulah esensi perwujudan Kwan Im yang paling indah yang perlu kita pahami dan perlu kita wujudkan dalam kehidupan nyata.