Tampilkan postingan dengan label Moralitas Buddhis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Moralitas Buddhis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Oktober 2010

Perbuatan Baik Dalam Praktik






Perbuatan Baik Dalam Praktik
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Sudhammajivo

Panca Sila, sebagaimana halnya hukum negara, membantu umat Budha untuk mendisilpinkan diirnya dan mengikuti Jalan Mulia Beruas Delapan. Pancasila sebenarnya nilai-nilai maunsia yang mendasar, yang membawa manfaat besar bagi mereka yang melaksanakannya. Lima aturan itu adalah menjauhi diri dari pembunuhan, pencurian, prilaku seks yang menyimpang, berbohong dan mengkonsumsi bahan-bahan beracun.

Pertama adalah aturan menahan diri dari pembunuhan. Aturan ini berkenaan degnan pembunuhan yang dilakukan secara langsung oleh diri sendiri atau dilakukan secara tidak langsung dengan menyebabkan orang lain membunuh. Lebih jauh lagi, tidak hanya itu bukan hanya menyangkut manusia, tetapi juga makhluk hidup lai. Sila ini dibangun secara kuat atas asar pengakuan kesamaan hakiki dari semua makhluk hidup dan saling timbal balik hubungan. Dalam hal ini, aturan ini tidak berbeda dari dan tentu asja, menciptakan pla bagi sila kedua, ketiga, dan keempat dn hanya sila kelima yang agak berbeda. Secara khusus, kesamaan berarti bahwa semua makhluk hidup sama dalam menginginkan hidup dan takut akan kematian. Saling timbal balik berarti sebagaimana orang tidka mau dibunuh, begitu juga semua makhluk hidup tidak mau dibunuh. Sang Buddha menganjurkan semua oang untuk membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain dan dengan demikian menahan diri dari pembunuhan. Sang Buddha mengajarkan prinsip tanpa kekerasan (ahimsa) dan mendorong orang untuk meninggalkan niat jahat dan kemarahan. Sila yang pertama menjga agar sikap yang tidak baik ini tidak berwujud dalam tindakan. Sebagaimana penerapan positif sila pertama adalah melindungi kehidupan atau memberi perlindungan, praktek Buddhis tradisional untuk prinsip ini adalah dengan membeli hewan-hewan yang terkurung (mislanya: burung, kura-kura, ikan, dan katak yang akan dibunuh) dan melepaskannya. Selain itu umat Buddha kadang-kadang memperluas penerapan ila pertama ke kebiasan diet mereka. Dalam kaitan ini, mereka menjadi vegetarian dengan keyakinan bahwa dengan makan daging binatang berarti mendukung praktek pembunuhan binatang. Bila Buddhis membiasakan praktek vegetarian, mereka terutama didorong oleh penghormatan akan hidup dan bukan karena pandangan bahwa diet vegetarian itu baik untuk kesehatan atau bahwa daging pada dasarnya tidak suci.

Kedua adalah aturan menahan diri dari pencurian. Orang dapat mencuru secara langsung, yaitu dilakukan oleh diri sendiri, atau menyebabkan orang lain untuk mencuri. Oleh karena itu kata-kata dan tindakan sekali lagi dapat memainkan peranana dalam pelanggaran sila ini. Umat Buddha selalu diperingati untuk menghindari keserakahan, dan keinginan untuk memiliki berlebihan. Sila kedua menjaga agar sikap ini tidak diekspresikan dalam tindakan yang akan mengakibatkan ketidakbahagiaan bagi semua orang. Lebih jauh lagi, sila kedua menganjurkan agar kira mencari nafkah dengan cara-cara yang benar.

Ketiga adalah aturan menahan diri dari perilaku seksual yang menyimpang. Seperti halnya menciri, perilaku sekual yang menyimpang pada dasarnya didorong oleh hasrat yang berlebihan atau keserakahan. Sang Buddha menganjurkan orang untuk menahan kecenderungan dari perilaku seksual yang salah, Beliau menganjurkan pengobatan khusus untuk masalah ini. Beliau mengajurkan orang untk menganggap lawan jenis yang menjadi pasangan orang lain sebagai ibu/ayah, saudara/i, putra/i sesuai dengan usia mereka. Kalau hal ini gagal untu menundukkan hasrat yang berlebihan, mereka dianjurkan untuk merenungkan kekotoran tubuh. Karena melanggar sila ini, beberapa orang terlahir dengan cacat organ tubuh. AIDS dan penyakit yang ditularkan secara seksual juga teruatma disebabkan oleh pelanggaran sila ini. Tak ada jalan keluar yang lebih baik daripada berpantang melakukan hubungan seksual yang salah. Pencegaha lebih baik daripada penyembuhan. Hubungan suami istri tidak dianggap sebagai pelanggaran seksual yang menyimpang. Hal ini diterima bagi umat Buddha awam yang menjalani hidup berumah tangga.

Keempat adalah aturan menahan diri dari kebihingan. kebenaran sangat penting bgai agama Buddha yang mengajarkan bahwa seseorang dapat mencapai Penerangan Sempurna dengan mengetahui kebenaran. Pangeran Siddharta meninggalkan hidup dalam istana ayahnya untuk mencari kebenaran dan kemudian beliau dikenal sebagai "Raja Kebenaran". Oleh karena itu tidaklah mengherankan bahwa penghargaan atas Kebenaran haruslah dijunjung tinggi dalam aturan perilaku yang baik sebagai sila keempat, yaitu menahan diri dari berkata bohong. Membunuh sering kali brekaitan denga niat jahat dan kemarahan, pencurian berkaitan dengan nafsu. Sedangkan seseorang dapat berkata bohong bisa karena niat jahat dan kemarahan karena ia ingin merusak nama baik orang lain, atau karena nafsu atau keserakahan dalam rangka memperoleh benda yang ia inginkan. Berpantang diri dari berbohong bukan hanya mencakup kebohongan biasa, tetapi juga semua jenis penipuan dan pernyataan yang melebih-lebihkan. Disini, menghasut orang lain untuk berbohong juga merupakan pelanggaran sila keempat. Bahkan lebih tajam lagi, dalam sila keempat juga tersirat menahan diri dari penipuan diri, yaitu membohongin diri sendiri. Orang yang terbiasa membohongi diri takkan mampu maju memcapai kebahagian dan penerangan.

Kelima adalah aturan menahan diri dari mengkonsumsi (memakan atu meminum) bahan-bahan beracun. Sebagaimana ditunjukkan sebelumnya, sila kelima adalah turan yang bebeda dari keempat sila sebelumnya, karena makanan dan minuman yang beracun bukanlah pelanggaran prinsip penghargaan atas hidup, hal memiliki harta benda, hubungan pribadi dan kebenaran yang terwujud dalam sila lainnya. Namun mengkonsumsi barang-barang beracun cenderung menciptakan keadan yang dapat melanggar sila yang lain. Selain itu, jika melenggar keempat sila pertama secara lansung melukai orang lain, melanggar sila kelima secara langsung melukai diri sendiri. Selain menjaga pelaksaan keempat sila sebelumnya denagn menjaga, pemusatan pikian, sila kelima juga melawan ketumpulan pikiran. Yang kedua, sila kelima menyiapkan pikiran untuk praktek mengembangkan mental yang mengembangkan mental yang menuju ke Kebijaksanaan. Dengan demikian sila kelimat bukan semata-mata atau bhakan mungmin erutama prinsip moral, melainkan bagian praktek yang berguna untuk maju dalam tingkat-tingkat yang lebih tinggi dalam jalan menuju penerangan.

Pancasila adalah penerapan khusus dan pribadi dari aturan perbuatan baik. Kalau dilaksanakan secara menyeluruh akan menghasilakn terbentuknya masyarakat yang ideal. Bahkan kalaupun oleh pribadi dan secara sebagian. Pancasila mneyediakan dasra bagi kebahagiaan sekarang dan yang akan datang. Hal ini karena kalau panca sila dilaksanakan akan mencegah penyebaran tindakan tidak baik dari tubuh, ucapan, dan pikiran yang mengakibatkan penderitaan menurut hukum kamma. Oleh karena itu bila dengan melaksanakan sila-sila itu orang menghindari pembunuhan, pencurian, prilaku seks yang salah dan berbohong, orng menjga dirinya supaya tidak menderita drai perbuatannya seperti pedek umur, kemelekatan, atau kesengsaraan perkawinan dn seterusnya, yang merupakan akibat dari tindakan-tindakan tidak baik itu. Dengan demikian pembunuhan semut ataupun nyamuk atau musuh pada masa perang, walaupun masih merupakan unsur dari sila pertama, mungkin tidak membawa akibat kamma yang penuh karena kondisi dimana hal itu terjadi.

Pelaksanaan delapan aturan (Attha Sila) pada tanggal satu dan lima belas pada penanggalan bulan, juga disebut sebagai Uposattha namaknya dimulai sebagai semacam pelengkap bagi umat awam atas pengulangan aturan kebiaraan bagi para bhikkhu. Pelaksanaan delapan sila bagi umat awam dapat ditelusuri kembali pada masa Sang Buddha. Dalam kotbah kepada Visakha, pengikut awam yang saleh, Sang Buddha menganjurkan pelaksanaan delapan sila pada hari-hari tertentu. Secara khusus, melaksanakan delapan sila dikatakan bseagai tiruan dari disiplin para Arahat. Delapan sila bukan hanya membuat penghargaan atas pelepasan dan merenungkan ajaran Sang Buddha, tetapi juga jasa-jasa yang berarti yang berakibat kebahagiaan di maas yang akan datang. Delapan sila mencegah makan pada waktu yang tidak layak, menari, menyanyi, musik dan tontonan yang tidak pantas; dari penggunaan untaian bunga, wewangian, dan polesan; dari benda-benda yang bertujuan mempercantik dan menghias diri. Penggunaan tempat tidur yang tingi dan besar juga dilarang untuk mencegah kemalasan dan mendorong kerendahan diri, sebagaimana secara tradisional, penggunaan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi diperuntukkan bagi orang yang berstatus tinggi dan mengakibtkan perasaan diri sebagai orang penting. Dengan hanya menahan diri dari waktu ke waktu dengan cara ini sehingga seseorang akan dapat mengatasi keresahan dan mampu mengendalikan dirinya. Latihan ini, melatihnya untuk tidak kewcewa bila ia tidak mendapatkan kesenangan inderawi. Para bhikkhu dan bhikkhuni yang telah meninggalkan kesenangan duniawi melaksanakan prinsip-prinsip ini sepanjang waktu. Sebaliknya umat Buddha awam melaksanakan delapan aturan ini sewaktu-waktu saja. Namun semua umat Buddha yang melaksanakan lima aturan setiap hari.

Pelaksanaan sila membantu orang untuk menanam lima kebaikan mulia yang berkaitan dengan masing-masing sila. Yang pertama adalah mengembangkan belas kasihan; yang kedua kedermawanan dan ketidakmelekatan; yang ketiga adalah rasa puas; yang keempat kebenaran, dan yang kelima adalah perhatian penuh dan kejernihan pikiran.

Setiap umat Buddha selayaknya melaksanakan kelima sila untuk dapat meningkatkan dirinya secara moral dan spiritual. Moralitas adalah langkah pertama dalam jalan menuju kebahagiaan abadi. Moralitas adalah pondasi spiritual yang mendasar. Tanpa ladasan ini, takkan ada kemajuan manusia dan kemajuan spiritual. Setelah menegakkan fondasi moral, seseorang dapat melanjutkan untuk mengembangkan pikiran dan kebijaksanaannya. Praktek ini akan menuntunya dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat-tingkat perkembangan mental yang lebih tinggi, dan akhirnya menuju puncak dari semua pencapaian yaitu penerangan.


[ Dikutip dari Majalah Dhammacakka No. 12/Tahun IV/1998, diterjemahan secara bebas oleh Sukaria, S.Psi ]

Senin, 20 September 2010

Peranan Orang Tua Menentukan Masa Depan Anak





Oleh: Yang Arya Bhikkhu Uttamo Thera



"Orang bijaksana mengharapkan anak yang meningkatkan martabat keluarga,
dan mempertahankan martabat keluarga,
dan tidak mengharapkan anak yang merendahkan martabat keluarga;
yang menjadi penghancur keluarga"
(Khuddaka Nikaya, 252)



PERMASALAHAN

"Anakku sulit diatur!"
"Anakku tidak berbakti."
"Anakku semaunya sendiri !"
"Anakku benci orangtuanya sendiri."

Inilah beberapa pernyataan bernada negatif yang sekarang amat sering diucapkan oleh para orangtua dalam menghadapi sikap anak-anaknya. Bahkan dengan pesimistis Bette Davis menulis dalam karyanya The Lonely Life,jika engkau belum pernah dibenci oleh anakmu maka engkau berarti belum pernah menjadi orangtua (INFOPEDIA). Kelihatannya sebagian besar orangtua jaman sekarang seakan telah kehilangan segala akal dan ilmu untuk dapat memahami tingkah laku anak-anak mereka. Mereka sering menanyakan pada diri sendiri maupun pada para penasehat, karma buruk apakah yang sedang mereka jalani saat ini. Pertanyaan ini terus menggema tanpa menemukan jawabnya. Sedihnya, mereka kadang memperoleh jawaban yang menuduh bahwa semua bentuk kesalahan dan kenakalan anak-anak adalah akibat ketidakmampuan orangtua mendidik anak. Benar, mungkin memang mereka tidak mampu mendidik anak tetapi tentunya ada jalan keluar untuk mengatasi hal ini. Tentunya ada cara atau pedoman untuk memperbaiki sekaligus melatih orangtua untuk menghadapi situasi kurang menyenangkan ini.

Sesungguhnya, mendidik anak memang lebih sulit daripada melahirkan anak. Oleh karena itu, sebagai calon orangtua ataupun yang telah menjadi orangtua, hendaknya dibekali dengan pengetahuan yang memadai tentang pendidikan anak. Pada masa sekarang sebenarnya telah banyak buku diterbitkan membahas tentang pendidikan anak. Hanya saja, mungkin para calon orangtua maupun para orangtua belum sempat membacanya. Dalam agama Buddha, Sang Buddha juga telah mengajarkan para orangtua cara mendidik anak dengan baik.

Dalam kaitan dengan pembahasan ajaran Sang Buddha tentang pendidikan anak itulah maka makalah ini disusun.

PEMBAHASAN

Dalam masa serba materi ini persaingan untuk memenuhi kebutuhan hidup terasa semakin bertambah. Akibatnya, kesibukan setiap orang juga semakin bertambah. Pada pagi hari, mereka sibuk mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja dan kelelahan pada sore hari sepulang kerja. Bahkan kini juga ada kecenderungan suami istri bekerja bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan sehari-hari. Akibat perubahan gaya hidup ini, waktu untuk berkomunikasi dalam keluarga, termasuk komunikasi antara orangtua dan anak, menjadi kurang diperhatikan. Anak kebanyakan hanya bertemu orangtua pada pagi hari ketika akan berangkat sekolah dan malam hari menjelang tidur. Sepanjang hari di rumah, anak hanya bersama dengan pembantu dan pengasuh yang akan memberikan pengarahan sesuai dengan kemampuan mereka, tentunya. Padahal Brian Tracy menyebutkan bahwa peranan tunggal sebagai orangtua yang paling penting adalah mencintai dan memelihara anak-anak, serta membangun dalam diri mereka perasaan harga diri dan keyakinan tinggi (hal. 318). Peran penting ini jelas tidak dapat digantikan oleh pembantu rumah tangga maupun pengasuh. Agar dapat melaksanakan peran sebagai orangtua yang bermanfaat bagi anak-anaknya dibutuhkan sikap saling pengertian antara orangtua dan anak. Sikap penuh pengertian ini adalah salah satu tonggak keharmonisan rumah tangga. Sikap ini dapat dicapai dengan meningkatkan kelancaran komunikasi setiap individu pembentuk rumah tangga tersebut. Merintis hubungan baik dalam keluarga dapat dimulai dengan menyediakan waktu untuk makan bersama minimal sekali dalam satu hari, misalnya. Acara makan ini sebaiknya terbebas dari berbagai macam gangguan, misalnya pembicaraan yang rumit tentang pekerjaan maupun acara televisi. Dengan demikian, kegiatan makan ini akan memberikan banyak kesempatan kepada seluruh anggota keluarga untuk saling bertukar pikiran dan berbagi rasa. Kelihatannya memang sepele, namun apabila dilaksanakan akan dapat menghasilkan keharmonisan keluarga yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Jika acara makan bersama telah dapat dijadikan tradisi dalam keluarga maka selanjutnya orangtua dapat berperan sebagai teman yang baik bagi anak-anaknya. Teman yang mampu dan mau mendengarkan segala keluh-kesah maupun kebahagiaan yang sedang mereka rasakan. Pada saat itulah orangtua dapat mengarahkan anak dengan memberikan nasehat dan bimbingan moral yang diperlukan sebagai bekal dalam menghadapi masa depan mereka yang mandiri dan penuh percaya diri. Hal ini tentu membutuhkan sedikit pengorbanan waktu orangtua yang amat berharga. Hanya saja, bila kita tidak ingin berkorban untuk anak saat ini, di masa depan kita akan banyak mendapatkan kesulitan hidup karena masalah yang disebabkan oleh anak-anak. Bila tiba saat seperti demikian, maka penyesalan orangtua terhadap kegagalan hasil pendidikan anak barulah muncul. Segala cara ditempuh, semua biaya dikeluarkan dengan hasil yang belum tentu sesuai dengan harapan. Tampaknya, sungguh sulit hidup ini.

Oleh karena itu, masalah komunikasi antara orangtua dan anak adalah sangat penting dalam meningkatkan peranan orangtua terhadap masa depan anak. Dengan bekal komunikasi dalam keluarga yang baik, orangtua dapat mengarahkan anak-anak menuju tercapainya sikap mandiri dalam masyarakat dan memiliki kebaikan serta kebijaksanaan sesuai dengan ajaran Sang Buddha. Pada saat memberikan pengarahan hendaknya orangtua memperhatikan lima kondisi ideal yaitu berilah pengarahan pada saat yang tepat, bahaslah masalah yang sesuai dengan kenyataan bukan mengada-ada, katakanlah nasehat dan pengarahan itu dengan lemah lembut dan berbicaralah tentang tujuan bukan metoda serta bicaralah dengan pikiran penuh cinta kasih (Anguttara Nikaya III, 195).Sedangkan pengarahan orangtua dalam membimbing anak-anaknya adalah dengan berpedoman pada Ajaran Sang Buddha yang terdapat dalam Digha Nikaya III, 189 yaitu:

1. MENCEGAH ANAK BERBUAT JAHAT
Kejahatan anak dimulai dari kebiasaan buruk anak sejak kecil yang dibiarkan oleh orangtuanya. Anak kecil sejak umur awal (kira-kira 18 bulan) telah berusaha memaksakan kehendak pada orangtuanya (Dobson, hal. 133). Pemaksaan ini dapat dilakukan misalnya pada saat menentukan makanan yang disukai dan menggunakan saat istirahatnya. Anak sering rewel karena tidak suka dengan makanan yang telah disediakan oleh orangtuanya. Menghadapi pemaksaan semacam ini seringkali orangtua kemudian mengalah. Inilah awal kekerasan anak pada orangtua. Inilah awal ketidaktaatan anak kepada orangtua. Seharusnya orangtua dengan tegas namun bijaksana dan penuh kasih sayang berusaha menyadarkan bahwa anak harus makan makanan sesuai dengan yang telah disediakan orangtuanya. Caranya adalah dengan mengajak anak bermain-main dahulu sampai datang rasa laparnya dan selanjutnya dihadapkan kembali pada makanan yang telah disediakan tadi. Pertamanya mungkin anak tetap tidak menyukainya, namun lama-kelamaan karena lapar tentu akhirnya ia mau juga. Tidur pun ternyata dapat menjadi alat yang efektif anak memaksa orangtua. Ketika anak diingatkan waktu tidur telah tiba, sering anak beralasan untuk menentang orangtuanya. Untuk menghadapi masalah ini, anak dapat diberikan cerita-cerita menarik sebelum tidur sehingga anak merasakan bahwa kegiatan tidur adalah kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan. Cerita menarik itu dapat diambil dari cerita Buddhis yang dapat dibaca dari buku maupun didengar dari sekolah minggu Buddhis di vihara-vihara terdekat. Memang untuk mempersiapkan hal itu membutuhkan perhatian dan pengorbanan orangtua, namun mengingat besar manfaatnya dimasa datang, kenapa masih ada orangtua yang tidak ingin melakukannya?

Apabila anak sejak dini sudah dapat didisplinkan sehingga menurut kehendak orangtua, kini tiba saatnya orangtua mengisi batin anak-anak dengan kemoralan. Ajarkan pada mereka hal-hal yang perlu dihindari. Pokok dasar pendidikan ini adalah dengan menerapkan pengertian bahwa bila kita tidak ingin dicubit maka janganlah mencubit orang lain. Sebagai seorang umat Buddha maka pengenalan Pancasila Buddhis sejak awal adalah langkah terbaik menuju masa depan anak yang bersusila. Pancasila Buddhis adalah lima latihan kemoralan yang terdiri dari latihan untuk mengurangi pembunuhan dan penganiayaan; latihan untuk mengurangi mengambil barang-barang yang tidak diberikan secara sah / mencuri; latihan untuk mengurangi tindakan yang melanggar kesusilaan; latihan untuk mengurangi mengucapkan kata-kata yang tidak benar/berbohong; serta, latihan untuk mengurangi makan dan minum barang-barang yang memabukkan (Anguttara Nikaya III, 203). Pengenalan ini dapat diberikan selain pada saat acara makan bersama juga pada saat orangtua menemani anak-anak menonton televisi. Arahkan mereka sehingga dapat menentukan tokoh mana yang tidak baik agar perbuatannya dapat dihindari dan tokoh mana yang baik untuk ditiru. Jadikanlah televisi sebagai alat pelajaran kemoralan. Oleh karena itu, sering-seringlah menemani anak bila ia sedang menonton televisi. Jangan terlalu sering membiarkan anak menonton televisi sendirian. Sebab, acara televisi kadang kurang sesuai untuk pertumbuhan batin anak-anak bila tanpa bimbingan orangtua. Sesungguhnya, televisi bila digunakan dengan benar akan dapat memberikan manfaat besar bagi dunia pendidikan.

Disamping menganjurkan anak melaksanakan Pancasila Buddhis, anak hendaknya juga dikenalkan dengan berbagai bentuk perbuatan buruk selain perbuatan yang disebutkan dalam Pancasila Buddhis, misalnya memaki, memfitnah, berjudi dlsb. Terangkanlah bahwa perbuatan-perbuatan tersebut dapat merugikan atau tidak menyenangkan lingkungan. Pengenalan ini dapat menggunakan media surat kabar ataupun cerita-cerita Buddhis sederhana dan mudah diterima anak-anak. Tujuannya jelas, agar mereka tahu dan berusaha tidak melakukannya.

2. MENGANJURKAN ANAK BERBUAT BAIK
Selain mencegah kejahatan sebagai bentuk aktif negatif, kita juga harus mengarahkan anak melakukan tindakan aktif positif yaitu mengembangkan kebaikan. Tentu saja untuk hal ini juga dibutuhkan beberapa alat bantu. Salah satunya adalah dengan kembali memanfaatkan televisi seperti yang telah disebutkan di atas. Selain itu, usaha membacakan atau menceritakan cerita-cerita Buddhis setiap malam sebelum tidur kepada anak-anak akan menumbuhkan konsep berpikir positif yang sesuai dengan Buddha Dhamma dalam diri anak-anak. Anak-anak, menurut Dr. Charles Schaefer, cenderung meniru orang-orang lain yaitu orang yang mereka kagumi dan hormati serta orang-orang yang mereka sayangi yaitu para tokoh masyarakat dan pahlawan dari cerita yang mereka baca atau ketahui (hal. 19). Cerita-cerita Buddhis yang banyak mengambil suasana alam binatang akan lebih mudah diterima dan ditiru anak-anak. Memang, dalam usia tertentu anak akan lebih mudah meniru nasehat yang diberikan oleh tokoh-tokoh binatang. Suatu bukti nyata, tokoh kartoon yang disukai anak-anak kebanyakan adalah tokoh binatang. Selain itu juga, ajarilah anak-anak menyanyikan lagu-lagu Buddhis sehingga Ajaran Sang Buddha secara sederhana dapat mereka hafalkan melalui lagu yang mereka nyanyikan. Hafal syair lagu ini diharapkan akan membantu anak untuk memiliki keyakinan yang kuat dan pedoman hidup sesuai dengan Buddha Dhamma.

Pokok-pokok perbuatan baik yang perlu dikenalkan kepada anak-anak terutama adalah pengembangan kerelaan, kemoralan dan konsentrasi. Sebagai contoh dalam mengembangkan sikap kerelaan pada anak dapat dilakukan dengan membiasakan anak memberikan uang atau makanan kepada pengemis yang datang ke rumah. Dapat juga anak dibiasakan berbagi barang-barang kesukaannya dengan saudara-saudaranya, misalnya saja, mainan ataupun makanan kesukaannnya. Bila hal ini telah dilatih sejak dini maka anak akan memiliki watak penuh welas asih dan akan lebih mudah memaafkan orang lain, lebih-lebih lagi, anak akan lebih menyayangi orangtuanya. Sebagai contoh latihan menyayangi orangtua dapat dibangkitkan dengan jalan membiasakan anak mengingat ulang tahun ayah dan ibunya. Pada hari ulang tahun ayah dan ibunya, anak hendaknya diminta, misalnya menyediakan sebuah bingkisan hadiah atau mungkin memberikan sebagian uang sakunya. Perlu ditekankan di sini, bukan nilai materinya yang penting melainkan nilai perhatian dan kasih sayangnya. Semakin banyak hari dalam setahun yang digunakan untuk mengingat jasa ayah dan ibunya, akan semakin dekat hubungan orangtua dengan anak, begitu pula sebaliknya. Hal ini akan menjadikan anak selalu ingat jasa kebajikan yang telah orangtua berikan kepadanya. Dengan demikian, sampai orangtua pikun dan renta pun anak-anak masih sayang dan ingin merawat mereka. Anak-anak akan selalu teringat bahwa dalam Dhamma telah disebutkan bahwa anak yang tidak merawat ayah dan ibunya ketika tua; tidaklah dihitung sebagai anak (Khuddaka Nikaya, 393).

Kemoralan yang pada intinya pelaksanaan Pancasila Buddhis pada hari-hari biasa dan pelaksanaan Atthasila atau Delapan Sila pada hari-hari Uposatha dapat dikenalkan pada anak-anak sedikit demi sedikit. Tentu saja contoh dan teladan orangtua amatlah diperlukan. Artinya perbuatan orangtua yang sesuai dengan sila akan lebih mudah ditiru anak daripada nasehat belaka tanpa contoh nyata. Sang Buddha juga bersabda, sebagaimana ia mengajar orang lain, demikianlah hendaknya ia berbuat (Dhammapada XII, 3). Hal senada juga dikatakan oleh Mr. Sigourney, jika Anda menginginkan anak Anda untuk sesuatu ...berusahalah menunjukkan sesuatu itu dalam hidup Anda dan dalam pembicaraan Anda sendiri. Sesungguhnya, tenaga yang paling potensial untuk membuat anak menjadi mahluk sosial adalah dengan mengamati perbuatan oranglain, terutama orangtuanya. Dengan demikian, usahakan setiap hari Uposatha (tanggal 1, 8, 15 dan 23 menurut penanggalan bulan) di cetiya di rumah diadakan pembacaan paritta khusus oleh ayah, ibu dan anak-anak pada pagi hari dan dilanjutkan dengan tekad melaksanakan Delapan Sila pada hari itu. Karena orangtua ikut aktif bersama dengan anak-anak, maka tidak akan ada lagi kesempatan bagi anak-anak untuk tidak melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari mereka. Anak-anak akan berbahagia memiliki orangtua yang bijaksana dan penuh kasih. Dengan demikian, mereka akan memiliki panutan hidup yang jelas. Mereka akan hormat dan kagum pada orangtuanya. Dan Dr. J.C. Dobson pun menuliskan, jika anak-anak dibawa untuk menghormati serta mengagumi orangtuanya, maka banyak kenakalan anak-anak dan kecerobohan dapat dihindari (hal. 105).
Konsentrasi dapat dikenalkan dengan melatih anak bermeditasi sejenak (kira-kira 15 menit) setiap hari. Sebaiknya dua kali sehari yaitu pagi sore setelah membaca paritta bersama ayah dan ibu. Ajarkan anak duduk bersila sesuai dengan petunjuk meditasi yang pernah didapat kemudian anjurkan anak mengucapkan kata "Bud-dho" sebanyak dua puluh kali, misalnya. Karena diucapkan, maka apabila pikiran anak menyimpang kita akan lebih gampang mengawasinya dan kemudian membenahinya. Tunjukkanlah manfaat meditasi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, bila anak telah bersekolah, meditasi akan dapat membantu meningkatkan kecerdasan anak. Tentunya jika prestasi sekolah anak meningkat maka orangtua pun akan merasa bangga. 

3. MEMBERIKAN PENDIDIKAN
Pendidikan yang dimaksudkan di sini meliputi pendidikan lahir dan batin. Pendidikan anak sesungguhnya diawali dari rumah artinya diperoleh dari orangtua si anak sendiri. Disebutkan dalam Buddha Dhamma bahwa ayah dan ibu adalah guru yang pertama (Khuddaka Nikaya, 286). Oleh karena itu, sebaiknya pendidikan anak sudah dilakukan sejak anak masih dalam kandungan. Tentu saja pendidikan sejak dalam kandungan lebih bersifat batin daripada badan. Pendidikan batin di sini, salah satunya adalah pendidikan agama yaitu Agama Buddha. Ketika perkawinan sepasang suami istri telah diresmikan di sebuah vihara maka pada saat itulah mereka mulai mempersiapkan diri untuk memberikan pendidikan kepada calon anak-anaknya. Pasangan yang baru hendaknya selalu berusaha menjaga segala bentuk pikiran, ucapan dan perbuatannya agar ditujukan pada kebaikan. Dengan kata lain, mereka mendidik diri mereka sendiri dahulu sebelum memulai mendidik anaknya. Mereka hendaknya berusaha memiliki sebuah cetiya / altar di rumah. Setiap pagi dan sore sediakanlah waktu khusus untuk membaca paritta dan bermeditasi bersama. Pada hari Minggu atau hari kebaktian lainnya, suami istri kiranya dapat meluangkan waktunya untuk pergi ke vihara untuk melaksanakan puja bhakti serta mendengarkan dan berdiskusi Dhamma. Apabila kebiasaan ini terus dilanjutkan pada saat telah terjadi kehamilan, maka sesungguhnya kedua calon orangtua tersebut telah siap mengawali tanggung jawab pendidikan anak yang amat penting. Dalam usia kehamilan tertentu, tujuh bulan misalnya, dapat mengundang teman-teman maupun para bhikkhu untuk membacakan paritta agar anak dalam kandungan memperoleh keselamatan begitupula ayah dan ibunya hendaknya memperoleh kebahagiaan. Menjelang kelahiran dan kemudian beberapa hari setelah kelahiran, alangkah baiknya bila juga mengundang teman maupun bhikkhu untuk membacakan paritta untuk keselamatan ayah, ibu dan anak. Demikian pula ketika ada peringatan-peringatan penting lainnya, ulang tahun misalnya, maka sungguh amat bermanfaat orangtua mengundang rekan vihara dan juga para bhikkhu untuk membaca paritta di rumah. Dengan demikian, anak telah dikenalkan tradisi Buddhis sejak usia dini. Disebutkan Dobson, hendaknya latihan kerohanian sudah dimulai sebelum anak-anak bisa memahami apakah artinya semua itu (hal. 123). Hal ini menyebabkan dimasa datang anak akan tetap menjadikan Buddha Dhamma sebagai pedoman hidupnya. Karena, meskipun anak-anak akhirnya akan membuat pilihan mereka sendiri dan menentukan arah kehidupan mereka, tetapi keputusan-keputusan itu akan dipengaruhi oleh dasar-dasar yang telah diletakkan oleh orangtuanya (Dobson, hal. 125).

Selain mengundang teman membaca paritta, hal yang jelas tidak boleh dihentikan apalagi dilupakan adalah kegiatan membaca paritta serta meditasi pagi-sore di cetiya di rumah oleh seluruh anggota keluarga. Dalam kegiatan membaca paritta bersama ini dapat pula dilakukan pembahasan Dhamma oleh ayah atau ibu atau mendengarkan pembabaran Dhamma yang terdapat di kaset-kaset rekaman.

Apabila telah tiba saatnya seorang anak masuk sekolah, maka anak akan memperoleh pendidikan ganda. Anak akan tetap memperoleh pendidikan di rumah namun sekaligus juga di sekolah yang telah ditentukan oleh orangtua. Penentuan sekolah ini merupakan hal penting pula. Perlu dijadikan dasar pemikiran pada saat memilih sekolah adalah faktor lingkungan, pergaulan, agama yang dominan di sekolah tersebut di samping masalah jarak rumah ke sekolah dan juga mutu sekolah tentunya. Perlu diingat, bahwa pergaulan anak amat menentukan corak watak anak dimasa depan. Ibarat kayu cendana yang wangi akan memberikan keharuman bagi kertas yang membungkusnya, sebaliknya daging busuk juga akan menyebarkan kebusukannya pada daun yang membungkusnya. Oleh karena itu, sekali lagi, berhati-hatilah memilihkan teman bergaul anak-anak agar tidak menjadikan penyesalan bagi semua fihak nantinya.

Dengan demikian jelas di sini bahwa yang dimaksudkan dengan pendidikan bukan hanya di sekolah saja. Sekolah selain sebagai tempat pendidikan sebenarnya lebih cenderung menjadi tempat pengajaran. Namun, rumah dengan kondisi rumahtangga yang damai dan harmonis antara setiap individu pembentuk rumah tangga adalah menjadi tempat pendidikan anak yang baik sekali.

4. MENYETUJUI CALON PASANGAN HIDUP ANAK
Satu hal wajar dalam proses kehidupan setelah anak beranjak dewasa adalah menentukan teman hidup. Di masa sekarang, pada umumnya anak memilih sendiri calonnya, tinggal tugas orangtua menyeleksi dan memberikan persetujuannya. Apabila calon menantu telah memenuhi persyaratan tertentu dari orangtua maka anak dapat meneruskan hubungan mereka ke jenjang perkawinan. Namun, apabila orangtua kurang berkenan dengan pilihan anak maka hendaknya anak disarankan untuk mencari lagi calon pasangan hidup yang lebih sesuai. Di sinilah peranan orangtua dalam menentukan masa depan anak menjadi amat penting. Orangtua hendaknya dengan bijaksana dan penuh kasih menyelesaikan tugas mulia ini. Orangtua dapat menghindarkan diri dari kebingungan di belakang hari karena masalah memilih calon menantu dengan cara seperti yang telah disinggung di atas, yaitu dengan memilihkan anak lingkungan yang sesuai. Bila anak telah terarah pada lingkungan yang benar, maka tentunya calon pasangan hidup pilihannya pun cenderung akan sesuai dengan harapan orangtua. Pilihan yang sesuai tentu saja harus memenuhi kriteria kepantasan dasar yang berlaku dalam satu kelompok masyarakat tempat keluarga tersebut tinggal. Kriteria kepantasan ini bersifat relatif. Sedangkan kriterian memilih menantu yang terdapat dalam Buddha Dhamma sebagai yang telah disebut dalam Maha Manggala Jataka bahwa pedoman memilih menantu perempuan, ia hendaknya ramah tamah, usia sepadan, setia, baik hati dan mampu memberikan keturunan, memiliki keyakinan, memiliki kemoralan serta berasal dari keluarga baik-baik (Jataka X, 453). Sedangkan kriteria memilih menantu laki-laki, ia hendaknya setia tidak tergolong lelaki hidung belang, pemabuk, penjudi dan pemboros(Parabhava Sutta, 16).

Selain kriteria di atas ada beberapa persyaratan penting lainnya yang perlu diketahui orangtua dalam memilih dan menentukan calon menantu. Persyaratan ini penting karena memperoleh menantu yang sesuai akan dapat menumbuhkan kebahagiaan untuk anak. Sedangkan kebahagiaan anak adalah pasti merupakan kebahagiaan orangtua pula. Pada kitab Anggutara Nikaya II, 59 Sang Buddha memberikan minimal empat kesamaan sebagai persyaratan agar rumah tangga berbahagia. Persyaratan itu adalah memiliki kesamaan dalam keyakinan yaitu yakin dengan Agama Buddha, kemoralan, kedermawanan serta kebijaksanaaan sesuai dengan Dhamma. Bila keempat kesamaan ini dapat dipenuhi maka kebahagiaan pasangan tersebut akan dapat tercapai.

5. MEMBERIKAN WARISAN PADA SAAT YANG SESUAI
Masalah memberikan warisan sering dihindari dalam pembicaraan masyarakat sehari-hari padahal urusan ini banyak menimbulkan perkara antar anggota keluarga bila orangtua telah meninggal. Oleh karena itu dalam tradisi Buddhis, memberikan warisan sebaiknya ketika orangtua masih hidup. Hal ini mempunyai maksud, bila anak ternyata tidak mampu memenuhi harapan orangtua maka orangtua masih dapat memberikan dukungan maupun nasehat yang diperlukan sehingga anak akhirnya akan mampu memperoleh kemajuan sesuai harapan orangtua.

Warisan dapat diartikan peninggalan orangtua pada anak baik yang bersifat materi maupun bukan. Warisan yang bukan materi misalnya pendidikan, sopan santun, sikap hidup dan sebagainya. Sedangkan warisan yang dimaksudkan di sini lebih cenderung pada warisan yang bersifat materi. Hal yang penting ditekankan di sini adalah bukan besarnya nilai materi warisan yang diberikan tetapi kegunaan dan kemampuan anak memanfaatkan warisan yang diterimanya. Kemampuan ini tentunya merupakan hasil pendidikan orangtuanya pula. Oleh karena itu, peranan orangtua dalam mengarahkan anak agar memiliki ketrampilan tertentu untuk mempertahankan kehidupan dan menjadi mandiri setelah dewasa adalah menjadi salah satu tanggung jawab utama orangtua. 

KESIMPULAN
Masa depan anak, kesuksesan maupun kegagalan banyak dipengaruhi oleh peranan orangtua di masa kecil anak. Komunikasi yang dibina dengan semaksimal mungkin akan memberikan dasar terpenting dalam pendidikan anak. Dasar pembinaan komunikasi adalah dengan menanamkan pengertian pada diri orangtua bahwa bayi adalah manusia sepenuhnya sejak kelahiran (Dobson, hal. 32). Hal inilah yang sering dilupakan oleh orangtua. Orangtua cenderung menganggap anaknya tidak tahu apa-apa. Orangtua merasa tidak perlu memberikan kesempatan untuk mengkomunikasikan pikirannya kepada anak-anaknya. Mereka menganggap anak-anaknya belum saatnya berbicara dan berdiskusi tentang sesuatu masalah dalam keluarga tersebut. Padahal mungkin masalah itu berkaitan dengan anak tersebut. Sikap inilah yang akan menghambat komunikasi orangtua dengan anak. Namun apabila hal ini dapat disadari dan diperbaiki maka komunikasi akan dapat terjalin baik. Apabila komunikasi telah terbina, maka nilai-nilai apapun yang hendak orangtua tanamkan pada anak akan lebih gampang diterima. Penanaman watak yang penting adalah meningkatkan mutu kebajikan dalam segala bentuk tingkah laku, ucapan dan cara berpikir anak yang benar dan sesuai dengan Ajaran Sang Buddha. Cara penanaman watak baik ini dapat menggunakan beberapa dorongan sebagai pertolongan. Jeremy Benthan, seorang ahli filsafat abad 19, mengatakan bahwa dalam diri manusia terdapat dua tenaga pendorong yaitu kesenangan dan kesakitan. Oleh karena itu, sistem memberikan hadiah dan hukuman bila diperlukan dapat diterapkan dengan bijaksana dan penuh kasih pada anak-anak. Perlu ditambahkan di sini bahwa hukuman atau pengendalian secara fisik haruslah merupakan metoda terakhir dalam usaha mengendalikan anak. Dr. Charles Schaefer menegaskan bahwa paksaan secara fisik bukanlah merupakan hukuman tetapi suatu pencegahan agar anak tidak berbuat hal-hal yang berbahaya dan merusak bagi dirinya sendiri, orang lain, atau benda-benda di sekitarnya (hal. 117).

Dr. Charles Schaefer pernah membuat survey terhadap 2000 orang anak yang menanyakan mereka tentang perubahan apakah yang mereka kehendaki atau inginkan terjadi dalam kehidupan keluarga mereka. Jawaban terbanyak bila diurutkan adalah pelajaran agama lebih banyak, kemudian komunikasi yang lebih baik dan ketiga adalah waktu yang lebih banyak untuk bersama-sama sebagai satu keluarga (hal. 160).

Menyadari sedemikian rindunya anak-anak generasi penerus kita pada kebersamaan dan komunikasi dengan orangtuanya yang telah hilang ditelan kebutuhan, maka renungkanlah sebuah slogan yang mulai sering terdengar:SUDAHKAH ANDA PELUK ANAK ANDA HARI INI ?

RENUNGAN
Anak-anak Mempelajari Hal yang Mereka Hayati dalam Hidup

Kalau seorang anak hidup dengan kritik,
Dia akan belajar mengecam.
Kalau seorang anak hidup dengan kebencian,
Dia akan belajar berkelahi.
Kalau seorang anak hidup dengan ejekan,
Dia akan belajar menjadi pemalu.
Kalau seorang anak hidup dengan rasa malu,
Dia akan belajar merasa bersalah.
Kalau seorang anak hidup dengan toleransi,
Dia akan belajar sabar.
Kalau seorang anak hidup dengan dorongan,
Dia akan belajar memiliki keyakinan.
Kalau seorang anak hidup dengan pujian,
Dia akan belajar menghargai.
Kalau seorang anak hidup dengan kejujuran,
Dia akan belajar adil.
Kalau seorang anak hidup dengan rasa aman,
Dia akan belajar mempunyai iman.
Kalau seorang anak hidup dengan persetujuan,
Dia akan belajar menyukai dirinya sendiri.
Kalau seorang anak hidup dengan penerimaan dan persahabatan,
Dia akan belajar menemukan cinta di dunia.

(Dorothy Noltie, dikutip Brian Tracy hal. 328-329)

SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA.
 

Minggu, 15 Agustus 2010

Reformasi Batin




Reformasi Batin

Oleh : V.Nyana


Prolog

Ketika sedang di depan televisi, terlihat dengan jelas bagaimana situasi tanah air saat ini yang diwarnai dengan peristiwa kekerasan, kerusuhan, krisis moneter, pertarungan politik, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa ini sedang berada dalam arus reformasi, dimana dituntut suatu perubahan sistem secara teratur dan sistematis. Proses reformasi ini memakan korban yang tidak sedikit jumlahnya. Namun yang dibahas disini bukanlah reformasi seperti ini, namun yang dimaksud adalah reformasi sangat diperlukan oleh setiap orang, yang akan merubah tatanan berpikir seseorang, yang akan membawa kebahagiaan bagi setiap orang. Reformasi ini adalah Reformasi Batin kita sendiri.

Pada Awalnya

Saat Sang Boddhisatta sedang mencari obat untuk mengatasi lahir, tua, sakit dan mati, beliau mempraktekkan cara-cara yang biasa dilakukan oleh para pertapa, Brahmana, maupun para Resi di masa tersebut. Sang Boddhisatta bertekad bahwa beliau tidak akan menyerah walaupun darah beliau mengering, badannya menjadi sangat kurus seperti tengkorak hidup akibat bertapa menyiksa diri dengan sangat keras. Suatu saat Sang Boddhisatta menyadari bahwa jalan yang ditempuh keliru, beliau kemudian melepaskan keterikatan pada pandangan yang salah. Beliau menyadari bahwa jalan yang dilaksanakan adalah jalan yang salah. Reformasi telah terjadi, beliau melepaskan keterikatan pada pandangan yang salah. Kemudian beliau mencari sendiri dan menemukan jalan tengah untuk mencapai penerangan sejati dan menjadi seorang Buddha.

Masa kini

Kini, jaman sudah jauh berbeda dengan jaman ketika Sang Buddha Gotama hidup. Dahulu kalau seseorang ingin berkunjung ke tempat lainnya, memerlukan waktu yang lama, bahkan bisa berhari-hari. Sekarang orang dengan mengendari kendaraan bermotor, dapat dengan cepat sampai di tujuan. Bahkan untuk jarak yang sangat jauhpun dapat ditempuh dengan waktu yang singkat dengan pesawat terbang. Dahulu, sangat sulit bagi seseorang bila ingin bercakap-cakap kalau tidak bertatap muka. Sekarang walaupun seseorang terpisah, orang tersebut tetap dapat bercakap-cakap dengan pesawat telpon. Jaman yang modern ini telah juga membawa kemajuan yang sangat pesat di bidang pengelolaan sumber daya alam, ilmu pengobatan, serta semua fasilitas hiburan yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh orang-orang yang hidup pada masa 20-30 tahun yang lalu.

Singkatnya Ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat dunia ini semakin maju dan menjadi semakin sempit. Kemajuan jaman ini juga menuntut setiap orang yang berkecimpung di dalamnya untuk survive atau menyesuaikan diri sehingga dapat menjaga kelangsungan hidupnya. Dalam menjaga kelangsungan hidupnya, setiap individu dituntut untuk berusaha lebih keras, sehingga tidak terlindas oleh kemajuan jaman. Tuntutan jaman yang lebih keras ini akan menyebabkan timbulnya berbagai masalah bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Sehingga timbullah suatu penyakit yang tidak pernah dirasakan oleh orang-orang terdahulu, yang kini dikenal dengan penyakit Stress.

Saat ini, banyak sekali manusia modern, terutama yang hidup di kota-kota besar, walaupun memiliki semua kemudahan dan fasilitas hiburan yang sangat beragam namun tidak pernah memuaskan mereka. Diibaratkan seperti seseorang yang meneguk air laut, semakin banyak di teguk, semakin haus saja rasanya. Perjuangan untuk hidup di jaman modern ini menuntut kerja yang lebih giat, sehingga timbulah ketegangan-ketegangan.Disamping itu aktivitas sehari-hari yang monoton juga menyebabkan seseorang terjebak dalam lingkaran kebosanan yang tidak habis-habisnya. Ketegangan dan kebosanan ini biasanya dikendurkan melalui aktivitas-aktivitas yang positif melalui relaksasi dan rekreasi. Berolahraga, mendaki gunung, rekreasi ke luar kota maupun mengunjungi tempat-tempat hiburan merupakan sarana untuk mengendurkan urat saraf yang lelah. Banyak juga yang mencari aktivitas yang negatif, seperti mengkonsumsi minuman keras dan obat-obat terlarang.

Cara-cara semacam ini dapat menghilangkan ketegangan dan kebosanan dalam kehidupan sehari-hari, namun hanya bersifat sementara. Semakin seseorang tenggelam dalam hiburannya, maka dia akan semakin merasa tidak puas. Tidak pernah ada pemuasan dari indera-indera kita. Biasanya akan timbul ketegangan yang lebih hebat lagi dibandingkan dengan sebelumnya, sehingga orang tersebut akan menuntut hiburan yang lebih dan lebih lagi. Kalau memang demikian siapa yang disalahkan ? Jaman yang modern ?, tuntutan pekerjaan untuk hidup ?, orang di sekitar kita ? Ilmu pengetahuan ? atau diri kita sendiri ?

Diri Sendiri

Kalau seseorang mau melihat dirinya dengan jujur dan benar, maka akan diketahui bahwa dari diri sendirilah semua masalah dan ketegangan itu timbul. Oleh diri sendirilah penderitaan muncul dan oleh diri sendirilah penderitaan dapat dihilangkan. Sang Buddha dalam kitab Dhammapada mengatakan bahwa ' Pikiran adalah pelopor, pikiran adalah pemimpin, bila seseorang berbuat dengan pikiran bajik, maka kebahagiaan yang akan diperolehnya, sebaliknya bila seseorang berbuat dengan pikiran yang buruk, penderitaaanlah yang akan diperolehnya'. Sehingga hanya orang yang dapat MENGENDALIKAN PIKIRANNYA- lah yang dapat mendapatkan kebahagiaan. Jaman boleh saja berubah, fasilitas dan sarana boleh saja bertambah maju dan modern, namun dari dahulu kala hingga saat ini semua permasalahan manusia selalu berawal dari pikirannya sendiri. Pikiran yang tidak pernah dilatih pasti selalu menimbulkan masalah. Oleh sebab itu kalau seseorang menyadari dengan baik, dia tidak akan menyalahkan orang lain atas segala kondisi yang ada, sehingga tidak akan pernah ada ketegangan-ketegangan dan kebosanan dalam hidupnya.

Namun sungguh sulit untuk dapat mengendalikan pikiran sendiri. Dalam Dhammapada, Sang Buddha menyatakan bahwa seseorang yang mampu menaklukkan beribu-ribu musuh di medan peperangan tidak dapat dibandingkan dengan seseorang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Untuk dapat mengendalikan diri sendiri diperlukan suatu LATIHAN yang teratur. Latihan ini bukanlah program satu dua hari, satu dua bulan atau hanya dilaksanakan untuk beberapa tahun. Namun latihan ini adalah program untuk seumur hidup. Dari tahap inilah REFORMASI BATIN dimulai. Reformasi batin inilah yang nantinya akan membawa seseorang mampu mengatasi masalahnya sendiri dalam kehidupan sehari-hari, bahkan pada tingkat yang lebih tinggi lagi dapat membawa seseorang pada pemahaman yang sejati dari semua yang ada.

Reformasi batin ini harus dimulai dengan mengubah pola pikir seseorang bahwa semua permasalahan berasal dari dirinya sendiri. Reformasi berpikir ini akan mengantar seseorang pada sikap sabar dan toleran dalam menjalani latihan. Ini merupakan suatu hal yang sangat mudah untuk diucapkan, namun sangat sulit untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Sang Buddha menyatakan bahwa sabar adalah tapa yang paling tinggi, sehingga tidaklah salah bila mengatakan kesabaran adalah hal yang tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. Setelah seseorang dapat mengubah pandangan salahnya, maka ia akan menjadi lebih mudah dalam menjalani latihan untuk mengendalikan pikirannya sendiri.

EGO

Kalau seseorang mau menyelidiki pikiran sendiri, maka ia akan menjumpai masalah klasik yang sama, dimana ketegangan dan kebosanan selalu timbul bila pikiran meminta sesuatu kepada orang lain. Biasanya seseorang berpikir 'Apa yang bisa dia berikan kepada saya ? ' Jarang sekali seseorang mau berpikir 'Apa yang bisa saya berikan kepadanya ?' Ego inilah yang sering membawa kita kepada banyak masalah yang pada akhirnya menimbulkan stres, bosan dan sebagainya... Oleh karena itu untuk mengendalikan pikiran agar terbebas dari semua masalah yang ada, diperlukan REFORMASI CARA BERPIKIR sehingga sedikit demi sedikit seseorang akan mampu melepaskan diri dari pikiran yang selalu mementingkan diri sendiri. Untuk itu setiap orang harus mempunyai pola pikir yang MELEPAS, bukan MEMINTA.

LATIHAN MELEPAS

Cara yang paling mudah adalah dengan cara BERDANA. Berdana adalah melepas sebagian bahkan seluruh milik kita untuk kebahagiaan orang lain. Yang paling penting dari berdana ini adalah pikiran selalu terlatih untuk melepas, sehingga ego semakin lama akan semakin berkurang. Cara yang lebih tinggi adalah dengan melaksanakan moralitas atau SILA. Melatih diri untuk tidak membunuh berarti melepas kekejaman seseorang untuk menghilangkan nyawa mahluk lainnya. Melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan berarti melepas keserakahan seseorang terhadap milik orang lain. Melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila, berarti melepas keinginan-keinginan yang tidak patut. Melatih diri untuk tidak mengeluarkan ucapan yang tidak benar berarti melepas keinginan untuk berbohong dan menjelekkan orang lain. Melatih diri untuk tidak minum minuman keras yang memabukkan berarti melepas keinginan akan benda-benda yang dapat menghilangkan kesadaran. Ke-lima sila inilah yang akan menyebabkan seseorang menjadi harmoni dengan orang lainnya dan kelima sila ini selalu berintikan pada pikiran yang MELEPAS. Latihan yang lebih tinggi lagi adalah MEDITASI. Meditasi akan melihat dan menganalisa pikiran secara langsung pada pusatnya. Meditasi inilah yang akan membawa seseorang pada pemahaman akan kehidupan ini beserta semua aspeknya.

PENUTUP

Melepas berarti berusaha untuk tidak melekat, mengetahui sifat-sifatnya dengan jelas dimana semuanya itu bersifat selalu berubah(Anicca), tidak memuaskan (Dukkha) dan tanpa inti (Anatta). Semua sarana dan fasilitas yang ada di kehidupan modern ini tidak akan menjadi musuh, tidak akan menjadi sesuatu yang menakutkan dan tidak akan ada alasan untuk timbulnya ketegangan dan kebosanan, karena pikiran sudah dapat dikendalikan sehingga tidak lagi mementingkan diri sendiri serta mampu untuk melepas. Pada saat inilah kebahagiaan sejati akan timbul, kebahagiaan yang timbul dari MELEPAS, bukan dari benda-benda yang ada.Inilah REFORMASI BATIN yang sangat diperlukan oleh manusia modern saat ini.

Homoseksual Dan Ajaran Theravada



Homoseksual Dan Ajaran Theravada

Oleh AL. De. Silva


Oleh karena homoseksual tidaklah secara eksplisit dibicarakan dalam khotbah Buddha, kita hanya bisa mengasumsikan bahwa masalah ini juga bisa dievaluasi dengan cara yang sebagaimana adanya heteroseksual. Dan sesungguhnya atas dasar inilah, homoseksual tidak secara khusus dikupas. Dalam kehidupan umat awam antara pria dan wanita, dimana ada kesepakatan bersama, dimana tidak ada perbuatan penyelewengan, dan di mana hubungan seksual adalah ungkapan rasa cinta, hormat, kesetiaan, dan kehangatan, ini semua tidaklah melanggar sila ke-3.

Homoseksualitas sudah dikenal di zaman India kuno; masalah ini secara eksplisit. Disinggung dan dilarang di dalam Vinaya. Akan tetapi, tidak dituding secara khusus, melainkan disebutkan di antara banyak jenis perilaku penyimpangan seksual lain yang bertentangan dengan keharusan hidup seharusan hidup selibat seorang biarawan/wati. Hubungan seksual, apakah dengan pasangan sejenis atau lawan jenis, di mana organ seks memasuki vagina, mulut, atau anus, adalah tindakan yang bisa mengakibatkan dikeluarkannya seseorang dari Sangha. Tindakan seksual lainnya seperti saling masturbasi, walaupun bukan dianggap sebagai pelanggaran berat dan tidak mengakibatkan dikeluarnnya dari sangha, tetapi harus diakui di depan anggota sangha.

Tipe orang yang disebut dengan “pandaka” seringkali disunggung dalam Vinaya untuk menggambarkan seseorang yang berperilaku seksual tidak tepat. Vinajau juga menetapkan bahwa para pandaka tidak diperbolehkan untuk ditahbiskan, dan apabila secara tidak disengaja telah ditahbiskan, orang tersebut akan dikeluarkan dari sangha. Menurut penjelasana kitab, hal ini disebabkan para pandaka tersebut ‘penuh dengan nafsu, haus akan birahi, dan didominasi oleh keinginan seksual”. Kata “pandaka” diterjemahkan sebagai banci atau kaum homoseksual yang berperilaku seperti layaknya perempuan. Oleh karena Buddha mempunyai pemahaman yang mendalam akan sifat manusia, dan sungguh-sungguh bebas dari segala pasangka, dan karena tidak ada bukti bahwa kaum homoseksual mempunyai tingkat birahi yang lebih tinggi atau lebih sulit mempertahankan hidup sebagai biarawan/wati. Oleh karenanya, istilah “pandaka” kemungkinan besar tidak mengacu kepada homoseksual secara umum, melainkan segelintir kaum homoseksual yang feminis, yang secara terang-terangan berpenampilan seperti wanita di depan umum.

Kajian tentang homoseksualitas
Oleh karena homoseksual tidaklah secara eksolisit dibicarakan dalam khotbah Buddha, kita hanya bisa mengasumsikan bahwa masalah ini juga bisa dievaluasi dengan cara yang sama sebagaimana adanya heteroseksual. Dan sesungguhnya atas dasar inilah, homoseksual tidak secara khusus dikupas. Dalam kehidupan umat awam antara pria dan wanita, di mana ada kesepakatan bersama, dimana tidak ada perbuatan penyelewengan, di mana hubungann seksual adalah ungkapan rasa cintam hormat, kesetiaan dan kehangatan, ini semua tidaklah melanggar sila ke-3. Dan sama pula halnya apabila kedua orang tersebut berjenis kelamin sama. Tindakan seperti penyelewengan dan pengabaian perasaan pasangan kita akan menjadikan suatu perbuatan seksual tidak tepat, nbaik itu homoseksual aaupun heteroseksual. Semua prinsip yang kita gunakan untuk mengevaluasi hubungan heteroseksual akan kita gunakan pula untuk mengevaluasi hubungan homoseksual.

Di dalam agama Buddha, bisa kita katakan bahwa buknlah ojel dari nafsu seksual seseorang yang menentukan apakah suatu hubungan seksual seseorang yang baik atau tidak, melainkan sifat dari emosi dan maksud yangmelandasinya.Walaupun demikian, Buddha kadangkala menganjurkan untuk menghinari perilaku tertentu, bukan karena hal ini salah ari sudut pandang etika melainkan akan menjadi seseorang aneh di dalam lingkungan sosial, atau karena akan mengakibatkan sanksi akibat pelanggaran hukum yang berlaku. Dalam hal-hal seperti ini, Buddha berkata bahwa menjauhkan diri dari perilaku seperti itu akan membebaskan seseorang dari kecemasan dan rasa malu yang disebabkan oleh ketidaksetujuan sosial atau ketakutan akan sanksi hukum. Homoseksualitas tentu saja akan masuk dalam kategori perbuatan ini. Dalam hal ini, seorang homoseksual haruslah memutuskan apakah ia akan mengikuti arus harapan masyarakat umum atau mencoba mengubah sikap publik.

Pandangan yang menolak homoseksualitas
Sekarang kita akan secara ringkas menelaah berbagai penolakan terhadap homoseksualitas dan memberikan pandangan penolakan dari sisi ajaran Buddha. Penolakan yang paling umum di dalam masyarakat adalah karena homoseksualitas tidaklah alami dan melanggar hukum alam. Tampaknya sedikit sekali landasan bagi pendapat seperti ini. Miriam Rothschild, seorang ahli biologi ternama, telah menunjukkan bahwa perilaku homoseksualitas juga telah ditemukan dalam hampir semua jenis spesies hewan. Kedua, walaupun bisa disanggah bahwa funsi biologis dari seks adalah reproduksi, kebanyakan hubungan seksual dewasa ini bukanlah untuk tujuan reproduksi, melainkan sebagai hiburan dan pemuasan emosi, dan bahwa ini juga merupakan fungsi sah dari hubungan seksual. Dengan demikian, walaupun hubunga homoseksual tidaklah alami dalam arti tidak bisa menghasilkan fungsi reproduksi, hubungan ini adalah alami karena bisa memberikan pemuasan fisik dan emosi bagi pelakunya.

Kita seringkali mendengar, “Jika homoseksual bukanlah illegal, akan banyak orang, termasuk kaum muda, akan menjadi gay.” Pernyataan seperti ini menggambarkan kesalahpahaman yang serius terhadap homoseksualitas, atau mungkin suatu potensi homoseksualitas dalam diri orangyang membuat pernyataan tersebut. Hal ini sama bodohnya dengan mengatakan bahwa apabila bunuh diri bukanlah perbuatan yang melanggar hukum, semua orang akan melakukannya. Apapun penyebab homoseksualitas (akan banyak sekali perdebatan tentang masalah ini), seseorang pastilah tidak akan “memilih” untuk menjadi orientasi seks sesama jenis, seperti layaknya memilih minum teha atau kopi. Orientasi ini adalah hasil bawaan lahir atau berkembagn sejak dini dalam diri seseorang, sama halnya dengan heteroseksualitas. Mengubah hukum yang berlaku tidaklah bisa mengubah orientasi seksual seseorang.

Beberapa orang berpendapat bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres dalam diri seorang homoseksual karena begitu banyaknya kaum homoseksual yang jiwa atau emosinya yang terganggu. Sekilas, tampak ada benarnya pernyataan ini. DI barat, setidak-tidaknya banyak kaum homoseksual yang menderita masalah kejiwaan, kecanduan alkohol, dan menujukkan perilaku seksual yang sangat menggoda. Dalam pengelompokan data, kaum homoseksual menduduki peringkat tertinggi dalam kasus bunuh diri. Kemungkinan sekali bahwa kaum homoseksual lebih menderita akibat perlakuan sosial masyarakat terhadapa mereka atas dasar orientasi seksual mereka, dan apabila mereka akan menunjukkan gejala yang sama pula. Sesungguhnya, inilah yang menjadi argumen terkuat untuk menerima dan memahami homoseksualitas.

Walaupun di negara-negara yang banyak penganut agama Buddha, homoseksual tidak ditentang secara nyata-nyata dalam hukum yang berlaku, bukanlah berarti homoseksualitas bisa diterima di negara-negara tersebut. Hal ini lebih disebabkan karena pengaruh agama Buddha yang berlandaskan manusiawi dan penuh toleransi. Walaupun demikian, seringkali ditemui adanya prasangka dan diskriminasi terhadap kaum homoseksual di negara-negara tersebut. Sekali lagi perlu dijelaskan bahwa tidak ada bagian dalam agama Buddha yang mmebenarkan adanya kutukan, hukuman, maupun penolakan terhadap kaum homoseksual atau perilaku homoseksual.

[ Dikutip dari Majalah Manggala ]

Senin, 02 Agustus 2010

Hubungan Bikkhu dan Umat



Hubungan Bikkhu dan Umat
Sumber : Bikkhu Subalaratano, Dharma K.Widya, Pengantar Vinaya, STAB Nalanda, Jakarta 1993


Hubungan Antara Bikkhu dan Umat merupakan hubungan yang bersifat moral-religius dan bersifat timbal balik, sebagaimana telah dijelaskan Sang Buddha dalam Sigalovada Sutta :

Umat hendaknya menghormati bikkhu dengan membantu dan memperlakukan mereka dengan perbuatan, perkataan dan pikiran yang baik, membiarkan pintu terbuka untuk mereka dan memberikan makanan serta keperluan yang sesuai untuk mereka.

Bikkhu mempunyai kewajiban kepada umat : melindungi dan mencegah mereka dari melakukan perbuatan jahat, memberi petunjuk untuk melakukan perbuatan baik, menerangkan ajaran yang belum didengar atau diketahui, menjelaskan apa yang belum dimengerti, dan menunujukkan jalan untuk menuju Pembebasan.

Bikkhu tidak mempunyai "kekuasaan" terhadap umat dan tidak memberikan "sanksi" pada umat. Namun, kepada umat yang berbuat tidak pantas atau melakukan penghinaan terhadap Dhamma-Vinaya, maka bikkhu akan "berpaling" dari mereka dengan tidak menerima segala persembahannya. Dengan demikian, umat tersebut dianggap tidak pantas mempersembahkan sesuatu kepada bikkhu(atau Sangha), sehingga umat itu kehilangan kesempatan yang baik untuk melakukan perbuatan baik atau jasa.

Sebaliknya, umat pun dapat "berpaling" dari bikkhu yang melakukan perbuatan melanggar Dhamma-Vinaya dengan tidak melayani atau memberi persembahan kepadanya. Ada beberapa hal mengenai kebikhhuan yang perlu kiranya diketahui oleh umat Buddha.

Dalam hubungannya dengan wanita, seorang bikkhu tidak boleh dengan nafsu indriya menyentuh seorang wanita(Sanghadisesa ke-2) dan tidak boleh pula duduk berdua dengan wanita di tempat tertutup (Pacittiya ke-44).

Sang Buddha mengajarkan kepada Yang Ariya Ananda (Maha Parinibbana Sutta) :

"Jangan melihat kepada seorang wanita; Kalau mesti juga, maka janganlah berbicara dengannya; Kalau mesti juga, maka berbicaralah tentang Dhamma dan Sila dan sebutlah Sang Buddha dengan segala kekuatan batinmu."

Selain itu, bikkhu tidak boleh menjadi perantara dalam hubungan perjodohan antara pria dan wanita (Sanghadisesa ke-5). Bikkhu tidak boleh menumpuk kekayaan emas, perak dan lain-lain. (Nissagiya Pacittiya ke-18), atau terlibat dalam perdagangan atau jual-beli (Nissagiya Pacittiya ke-20). Ia tidak boleh berbohong(Pacittiya ke-1), tidak boleh mencaci-maki(Pacittiya ke-2) atau menfitnah(pacittiya ke-3), tidak boleh pula menjawab secara menghindar dan menimbulkan kesulitan dengan berdiam diri(Pacittiya ke-12). Selain itu, ia melatih diri untuk tidak menonton pertunjukan/nyanyian/tarian dan segala sesuatu yang membawanya ke arah kenikmatan indriya. Ia melatih diri untuk tidak mempergunakan tempat tidur atau tempat istirahat yang mewah dan membatasi kebutuhan hidup sesederhana mungkin.

Hendaknya bikkhu tidak menolak persembahan yang dibutuhkan, mengambil sikap atau mengatur tingkah laku seseorang, menyalahgunakan hak, mempersalahkan orang lain atau memperolok, mencapai sesuatu dengan menyiarkan kabar bohong atau menfitnah, berlomba mencari barang-barang lahiriah dengan barang-barang lahiriah (Visudhi Magga). Juga ia tidak demi penghidupannya, meramal dengan melihat suratan tangan, meramal sesuatu yang akan terjadi, penujuman, mempersembahkan korban, mendapatkan jawaban sabda para dewa, dan berpraktek sebagai "dokter" - yang merupakan tipu daya rendah untuk mendapatkan penghidupan.(Digha Nikaya, I)

Penghormatan tingkah laku yang menunjukkan kerendahan hati pada lainnya merupakan hal yang baik dan terpuji (untuk bikkhu dan umat). Ada beberapa cara penghormatan yang diperkenankan Sang Buddha :

1.Vandana(berlutut - "menunjukkan penghormatan dengan lima titik" - dahi,kedua lengan __bawah,kedua lutut).

2.Utthana (berdiri untuk menyambut).

3.Anjali (merangkap kedua telapak tangan untuk menghormat).

4.Samicikamma (cara-cara lain yang baik dan terpuji untuk menunjukkan kerendahan hati).

Cara penghormatan yang sama dilakukan oleh umat kepada bikkhu. Umumnya bikkhu akan menerima penghormatan tersebut dengan mengatakan : "Sukhi hotu" - Semoga engkau berbahagia (di Sri Lanka) atau "Ayu vanno sukham balam" (di Mungthai). Sang Buddha sendiri tidak pernah menetapkan bahwa bentuk penghormatan begini atau begitu harus dilakukan kepada para bikkhu. Dalam hubungan penghormatan ini perlu kiranya diingat bahwa si pelakulah -- bukan si penerima -- yang akan mendapat manfaat dengan memberikan penghormatan kepada yang patut dihormat karena hal itu merupakan suatu perbuatan baik dan akan mengembangkan punna pada si pelaku.

" Pada mereka yang senantiasa menghormat pada orang yang lebih tua akan bertambah empat hal : panjang umur, kecantikan, kebahagiaan, kekuatan"

(Dhammapada 109)

"Tak bergaul dengan orang yang tak bijaksana, Bergaul dengan mereka yang bijaksana. Menghormat mereka yang patut dihormat, Itulah Berkah Utama. "

( Mangala Sutta)

Sumber : Bikkhu Subalaratano, Dharma K.Widya, Pengantar Vinaya, STAB Nalanda, Jakarta 1993

Sabtu, 31 Juli 2010

Terbitnya Matahari Kemanusiaan


Terbitnya Matahari Kemanusiaan
oleh Sri Paññavaro MahaThera
      Tanggal 11 Juli 1987, kita sekalian umat Buddha memperingati hari yang amat bersejarah bagi kehidupan umat manusia, tidak lain adalah hari suci Asadha. Tepat dua bulan setelah mencapai kebuddhaan yaitu pada saat purnama sidhi di bulan Asadha, yang bersamaan dengan bulan Juli; sang Buddha mengajarkan Kebenaran ariya untuk pertama kalinya. Peristiwa yang dikenal juga dengan Kotbah Pertama ini terjadi ditamam rusa Isipatana, dekat kota Benares. Lima orang petapa bekas teman berjuang yang dahulu meninggalkan Beliau, merupakan orang-orang paling berbahagia yang mendengarkan Kebenaran untuk pertama kalinya. mereka itu adalah, yang Mulia: Kondanna, Bhadduiya, Vappa, Mahanama, dan Assaji.

      Apakah sesungguhnya yang telah Beliau kumandangkan kepada dunia, pada waktu Beliau menyampaikan kotbah-Nya yang pertama? Hingga peristiwa itu mempunyai arti yang amat penting, bahkan mempunyai nilai keramat bagi kemanusiaan. Dalam kotbah pertama Beliau itulah Beliau menyampaikan hakekat kehidupan umat manusia, dan tujuan kehidupan ini. dan lebih dari pada itu, Beliau menunjukkan jalan yang Agung, Yang Suci, unutk membebaskan manusia dari penderitaan sdan kemelaratan batin. Semuanya Beliau simpulkan dalam Empat Kebenaran Ariya yang sangat terkenal; jantung dan sumber dari seluruh ajaran Beliau.

      Sekarang marilah kita tinjau apakah Kebenaran Ariya yang pertama itu. kebenaran Ariya pertama adalah kebenaran tentang adanya derita yang mencengkram kehidupan ini.
      Dari lahir sampai akhir hayat kita, proses jasmani yang melalui usia tua, melewati bermacam-macam penyakit; semuanya adalah bentuk-bentuk dari derita. Inilah derita secara jasmaniah. Semua aspek mental yang tidak menyenangkan sedih, putus-asa, kegagalan, dan 1001 macam gangguan batin, adalah bentuk-bentuk penderitaan mental kita . Penderitaan jasmani dan mental ini merupakan penderitaan yang sangat terasa menyengat hidup kita (dukkha-dukka). Namun, sesungguhnya apapun juga yang tunduk pada sifat ketidakkekalan, yang senantiasa berubah-ubah, yang tidak pernah memuaskan, adalah derita (viparinama-dukka). Dan pada hakekatnya kehidupan kita ini adalah timbunan dari kelompok-kelompok derita (sankhara-dukkha).

      Derita inilah yang pertama-pertama dihadapkan oleh Sang Buddha kepada kita, yang Beliau kumandangkan sebagai jeritan umat manusia sepanjang masa. Kita tidak boleh menutup mata pada kebenaran tentang adanya penderitaan dalam kehidupan. Kita harus menghadapi dan menyadarinya. kebenaran Ariya yang kedua adalah kebenaran tentang sebab timbulnya penderitaan itu. Sebab itu tidak lain adalah nafsu-nafsu keinginan (tanha). Nafsu keinginan untuk memuaskan rangsangan pikiran dan lima pintu-indria kita, adalah sumber derita. Suatu ketika kekayaan yang dikumpulkan dengan tekun, rumah yang megah bertingkat, habis musnah, karena masuk ke mata, atau masuk ke mulut, atau ke indria-indria lainnya. Inilah nafsu keinginnan indria (kama tanha) yang sangat ganas pada suatu ketika; merupakan sumber derita yang amat dasyat.

      Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul nafsu keinginan untuk senang terus; untuk berbahagia terus, untuk muda terus, untuk hidup terus; dengan bermnaca-macam cara ditempuhnya keinginannya itu. Inipun termasuk nafsu keinginan hidup terus (bhavatanha), merupakan sumber penderitaan juga. Dan , kalau pada suatu ketika usaha gagal, kalau keluarga tidak harmoni, kalau dikejar-kejar penyesalan; timbullah keinginan untuk cepat-cepat meninggal, untuk bunuh diri, untuk memusnahkan hidupnya sendiri; karena beranggapan sesudah kematian tidak ada lagi sesuatu di baliknya. Ini adalah nafsu-keinginan untuk memuaskan hidup ( vibha-tanha), yang menjadikan juga sebab timbulnya penderitaan ini.

      Bahkan penderitaan yang kecil-kecil sampai yang amat mengerikan, seperti misalnya: cekcok rumah-tangga, pertengkaran, penyelewengan,tindak pidanma; sampai peperangan yang menelan korban ribuan umat manusia. Apakah sebabnya?Dimanakah sumbernya? Tidak lain, bersumber dari nafsu-nafsu keinginan. Inilah jawaban yang paling tepat.

      Apakah yang Beliau sampaikan tentang Kebenaran Ariya ketiga? Kebenaran ariya ketiga adalah kebenaran tentang Kebahagian Tertinggi yang mampu dicapai oleh setiap orang. Bila mereka mau, dan mau berusaha dengan tekun, engan penuh semangat, untuk melenyapkan sebab-sebab penderitaa itu secara mutlak.

      Kebenaran Ariya keempat menuntut penghayatan dari setiap orang. Karena Kebenaran Ariya keempat ini adalah Jalan Agung, Jalan Yang Ampuh untuk melenyapkan sebab-sebab penderitaan. Hingga mereka yang menghayatinya pasti mencapai Kebahagian Tertinggi atau Nibbana. Jalan Keramat itu sesungguhnya hanyalah satu, namun terdiri dari delapan unsur yang tidak bisa dipisah-pisahkan satu dari yang lainnya.Jalan berunsur delapan ini disebut juga Jalan Tengah. Karena Jalan ini tidak berkompromi dengan pendapat yang menganggap bahwa dengaa memenuhi nafsu-nafsu indria kebahagian sejati bisa dicapai; dan juga jalan ini tidak berkompronomi dengan pendapat yang mengatakan bahwa dengan menyakiti atau menyiksa badan jasmani, kebahagiaan bisa tercapai.

      Setiap orang yang melangkahkan kaki di atas Jalan Tengah Keramat harus mengembangkan tiga latihan, yaitu:
      1. SILA
      Sila adalah latihan dari: Ucapan benar, perbuatan benar, dan mata-pencaharian benar. Sila adalah menjaga dan mengendalikan pintu-pintu indria kita. Bila Saudara hidup dengan mempunyai sila yang baik, Saudara menjadi pengawas bagi hidup Saudara sendiri.

      2. SAMADHI
      Samadhi berarti: mengembangkan semua perbuata baik. Berusaha mengerjakan segala sesuatu yang bertalian dengan kebaikan, dengan penuh perhatian dan kesadaran. Berjuang sungguh-sungguh membangun keluarga, masyarakat, nusa dan bangsa. Inilah arti dari mengembangkan latihan Samadhi. Dengan latihan latihan Samadhi, Saudara akan menjadi manusia pembangun yang sejati.

      3. PANNA
      Mengembangkan Panna berarti: mengembangkan kebijaksanaan; yaitu dengan jalan memumpuk pengertian yang benar tentang kehidupan ini, dan menjaga pikiran dari timbulnya keserakahan, kekejaman, dan kekerasa. Mengetahui antara yang benar dan yang tidak benar. Antara yang berguna dan yang tidak berguna. Menyadari bahwa tugas kita belum selesai, kita harus berjuang dengan tekun, dengan gigih, dan ulet. Inilah ynga disebut dengan kebijaksanaan. Latihan dari ketiganya: Sila, Samadhi, dan Kebijaksanaan, adalah latihan melaksanakan Jalan Tengah Keramat yang membawa terbebasnya hidup kita masing-masing dari cengkeraman deria, baik lahir maupun batin. Makna kotbah pertama yang disampaikan oleh Sang Buddha pada hari suci Purnama Siddhi Asahda lebih dari 2500 tahun yang lalu, tetap bergema, tetap segar dan menjiwai hidup kita, laksana terbitnya matahari kemanusiaan.

Disadur dari, "Kumpulan Dhammadesana oleh Sri Paññavaro Thera Jilid I"

Jumat, 30 Juli 2010

Jangan Menaruh Dendam di Hati

Jangan Menaruh Dendam di Hati
oleh Sri Paññavaro MahaThera
      Dalam kehidupan ini kita tidak mungkin hidup sendiri. Sebagai anggota keluarga, kita hidup di tengah-tengah anak istri, atau anak dan suami kita. Dalam pekerjaan, kita hidup di tengah-tengah teman-teman kita sekantor, atau ditengah-tengah kawan-kawan kita satu pabrik. Sebagai pelajar, kita hidup di tengah-tengah pelajar atau mahasiswa lainnya. Sebagai anggota masyarakat, kita hidup di tengah-tengah ribuan, bahkan jutaan sesama kita. Memang kenyataan, kehidupan di bumi bukan kehidupan di sorga. Di tengah-tengah lingkungan kita ini, kita tidak bisa membayangkan keharmonian dan ketentraman sampai nanti kita menutup mata. Suatu saat, teman kita sendiri, atau mungkin orang yang tidak kita kenal, berbuat sesuatu yang tidak kita sukai kepada kita.

      Apakah di dalam pekerjaan, apakah dalam dunia usaha, apakah sebagai pelajar, bahkan juga di tengah-tengah pengabdian sosial; kita sering mendapat perlakuan yang tidak kita senangi, tetapi juga sering mereka mengganggu, merugikan, dan merusak kita. Dengan seribu satu macam alasan mereka-mereka itu melakukantindakannya kepada kita. Mungkin hanya karena salah faham. Mungkin juga karena kita yang memang salah. Tetapi, juga mungkin, karena iri hati kepada kita. Tidak rela kita menjadi maju, atau tidak setuju kita jadi seperti ini; dan sebagainya, masih banyak lai. kemudian, kita kena makian, kena hinaan. Kena fitnah, kena damprat. Milik kita, mungkin hilang, kita tetipu, atau kadang-kadang diminta dengan paksa. dan masih banyak lagi yang bisa kita lihat di dalam kehidupan kita sendiri, juga pada kehidupan di sekitar kita.

      Kalau kita melihat dengan kacamata duniawi, kita memang melihat, bahwa pelaku-pelaku terhadap diri kita ini adalah: si A, si saudaraku B, si suamiku sendiri, si C, si D, si dia, si itu, dan lain-lain. Dalam satu artikel pernah diumpamakan; maka kemudian pikiran kita ini seperti buku telepon yang tebal saja; yang hanya berisi berderet-deret daftar nama-nama orang saja. Nama-nama dari sekian banyak orang yang menjekelkan kita, yang menyakitkan hati kita, yang merusak milik kita. Semua itu adalah orang-orang yang masuk di dalam daftar dendam kita. dan setiap saat, nama-nama itu muncul berganti-ganti menganggu ketenangan hidup kita. Kita ditarik-tarik oleh hawa nafsu untuk membalas kebencian kepada mereka satu-persatu; tidak peduli apakah dia atau kita yang sebenarnya salah.

      Kalau pikiran sudah sedemikian itu maka kita akan susah tidur. Susah untuk mempunyai ketenangan di dalam. Kehidupan kita gelisah; mudah tersinggung, dan batin kita menjadi beku. Sebaliknya, kalau kia meletakkan kacamata duniawi, dan memakai kacamata atau lensa Kesunyataan unutk melihat kejadian-kejadian pada diri kita ini, maka pakah yang kita lihat? Yang kita lihat adalah: Apa yang sebenaarnya terjadi! Sesungguhnya bukan sang suami yang menyakiti saya, bukan si dia yang mengikari janji, bukan si A, si B, si C, bukan si ini atau si itu yang membuat semuanya ini terjadi pada diri kita sendiri. Karena kita, semua itu terjadi, menimpa diri kita.

      Oleh karena, di dunia di mana pun juga, tidak ada satupun peristiwa, apakah peristiwa menyenangkan,yang terjadi dengan begitu saja. Semua yang terjadi pada kita, itu adalah akibat dari perbuatan kita masing-masing; baik yang kita perbuat pada kehidupan ini, maupun yang telah kita perbuat pada kehidupan kita yang lampau, yang berbuah. Oleh karenanya, jaganlah kita dendam. Apaun yang terjadi pada diri kita, adalah akibat dari perbuatan kita masing-masig. Bukan dibuat oleh orang lain kemudian dilemparkan kepada kita. Bukan! Ini adalah hukum Kesunyataan, hukum karama yang universal.

      Jangan menyalahkan, apalagi membenci orang lain, siapa pun juga. Karena, kita harus mengerti, apapun yang terjadi pada kita itu, adalah apa yang harus kita terima adalah akibat dari perbuatan kita masing-masing. Itulah keadaan kita yang sesungguhnya kalau kita mau melihatnya dengan kacamata Kesunyataan, dengan Kesunyataan dengan kacamat Dharma. Kemudian timbul satu pertanyaan. Lalu bagaimana sikap kita pada mereka yang mengganggu ketentaman kita? Bagaimankah tindakan kita pada mereka yang berbuat jahat pada kita? Apakah kita harus toleran terhadap mereka? Dan apakah mereka itu tidak membuat karma jelek baru? Sikap untuk menyadari, bahwa apapun yang menimpa kita adalah akibat dari perbuatan jelek kita sendiri, yang memang harus kita terima; adalah sikap kita yang pertama. Tetapi, bukan berarti hanya pertama itu saja kemudian kita berhenti. Langkah pertama untuk menyadari bahwa yang terjadi pada kita adalah akibat dari karma kita masing-masing, adalah sikap berpikir yang amat penting. Oleh karena dengan menyadari hal itu, kita tidak akan menaruh dendam pada mereka-mereka yang berbuat jahat ada kita. Dan kalau rasa dendam ini berusaha kita atasi, maka usah baik yang tulus. Karena kalau rasa dendam yang membakar dada kita belum kita atasi lebih dahulu, maka semua nasehat kita, petunjuk-petunjuk kita, untuk mereka menjadi pelampiasan dendam dan benci kepada mereka.

      Dan juga, sesungguhnya kita harus kasihan melihat mereka yang berbuat jahat; baik berbuat jahat kepada kita maupun kepada orang lain. Mengapa kita kasihan, dan kemudian membantu mereka supaya mereka jangan melanjutkan atau mengulangi perbuatan-perbuatan jahat itu lagi? Kita kasihan, karena kita mengerti, bahwa mreka yang berbuat jahat itu, pada suatu saat, pasti, memetik penderitaan sebagai akibatnya. Ini adalah hukum Ilahi. Hukum Karma yang universal.
      Kalau seadainya hukum Karma itu tidak ada, maka tidak ada gunanya kita menghindari kejahatan. Kalau seandainya hukum Karma itu tidak ada, tidak ada gunanya undang-undang ynag mengatur manusia, supaya tidak berbuat jahat. Hukum Karma adalah Kesunyataan Universal. Kita harus menerima akibat dari setiap perbuatan kita. Apakah kita lupa pada perbuatan kita, apakah kita mengharap buahnya atau tidak; akibat dari setiap perbuatan pasti datang pada kita.

      Oleh karena itu, marilah kita bertekad untuk meiuhurkan bangsa dan negara kita ini dengan banyak berbuat baik. Jangan kita menjadi anggota masyarakat yang suka berbuat jahat. karena selain merugikan orang lain, kejahatan itu akan menghancurkan kita sendiri. Dan kita semua, satu persatu, tidak ada yang ingin hidupnya hancur. Dalam Samyutta Nikaya dicatat kata-kata Kesunyataan sang Buddha yang sangat terkenal :
      “Yadidam vaphate bijam, tadisam labhate phalam,
      Kalyanakari ca kalyanam, papakari ca papakam.”
      Artinya :
      “Sesuai dengan bibit yang disebar
      Begitulah buah yang kan dipetik
      Pembuat kebaikan akan memetik kebaikan
      Pembuat kejahatan akan memetik kejahatan.”

      Demikian juga dalam Dharmmapada 110, Sang Budddha mengatakan:
      “Mereka yang hidup seratus tahun, berbuat jahat dan tidak mengendalikan diri, maka hidup sehari saja adalah lebih baik bagi orang yang mempunyai sila dan selalu sadar.”
      Jangan kita main tipu, jangan kita main clurit, main bajak, atau main paksa; hanya untuk mencari harta. Seorang yang mengerti,akan mempunyai sikap hidup demikian: Lebih baik kita hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan; seperti yang telah dianjurkan oleh setiap ajaran agama, dan juga oleh Pemerintahan kita. Hendaknya kita hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan, tetapi mempunyai moral dan ahlak yang biak. dari pada hidup dengan harta berlebihan tetapi banyak kejahatan yang diperbuat.

      Pada suatu saat, nanti tengah malam, besok atau beberapa tahun kemudian, kita semua akan mati. Setelah kematian, bukan harta yang mengikuti kita, tetapi perbuatan kita yang akan selalu ikut ke mana kita pergi; baik perbuatan-perbuatan yang baik maupun perbuat-perbuatan yang jelek.
      Kalau kita mengerti hukum karma, merenungkan hukum Karma, dan yakin pada hukum Karma, maka kita akan takut berbuat jahat. Takut pada akibat berbuat jahat. Takut pada akibat kejahatan. Karena akibat kejahatan itu adalah kehancuran bagi kita sendiri.

      Bahkan, kalau kita berpikir lebih jauh, maka kan kita lihat jelas lagi. Kalau kita berbuat jahat pada satu orang, bukan hanya satu orang itu saja yang kita rugikan. Mereka yang lain kan ikut merasa takut, merasa khawatir. Mereka khawatir, jangan-jangan pada kesempatan lain kita berbuat jahat seperti itu kepada mereka. Kehadiran kita membuat rasa tidak aman bagi banyak orang. Tetapi sebaliknya, kalau kita mengendalikan hawa nafsu kita, tiadak berbuat jahat, mempunyai moral baik, menjalankan sila dengan baik, bisa dipercaya, tidak menipu; itu berarti kita sudah nmemberikan kepada mereka.Abhaya dana: Rasa aman. Rasa aman ini diperlukan setiap orang, termasuk kita masing-masing.

      Dengan pengertian hukum Karma yang merasuk, merasuk sampai ke tulang sumsum kita; mendarah mendaging pada hidup kita, kita akan bersemangat dalam perbuatan baik. Perbuata baik yang luhur dan tulus. Karena kita mengerti benar, bahwa kebaikan akan membawa kebahagian, keharmonian, dan kedamaain; bagi banyak orang, maupun bagi masing-masing kita. Damai di luar, dan juga damai di dalam batin.

      Akhirnya, sekali lagi, mari kita bertekad: Jaganlah kita menaruh dendam pada siapapun juga. Berusaha sungguh-sungguh menyadari bahwa, apapun yang terjadi pada kita adalah akibat dari karma kita masing-masing. Kemudian, berusaha sebanyak mungkin menambah dan mengisi terus kehuidupan ini dengan kebaikan.

Disadur dari, "Kumpulan Dhammadesana oleh Sri Paññavaro Thera Jilid I"

Kamis, 29 Juli 2010

Berkah Kehidupan


Berkah Kehidupan
oleh Sri Paññavaro MahaThera
      Kalau suatu keluarga sudah lama belum mempunyai putra, kemudian lahir seorang putra, maka keluarga ini merasa mendapat berkah. Tetapi, ada suatu keluarga yang lain, yang merasa sial, karena anak pertamanya adalah wanita. Mereka berpendapat anak wanita hanya ikut-ikutan saja. Kalau nanti suami masuk sorga, sang istri ikut; kalau masuk neraka tersangkut. wanita harganya hanya separo laki-laki. Adapula suatu keluarga, yang meskipun anak pertamanya wanita, tetapi karena anaknya lahir pada hari dan bulan yang baik, maka mereka merasa anak tersebut adalah berkah bagi hidupnya. Menurut keluarga ini, anak yang lahir pada hari dan bulan baik, meskipun wanita, kelak pasti mampu mengangkat derajat orang tuanya.

      Berlainan dengan hal tersbut di atas, berkah akan menjadi lain bila terjadi di dunia keuntungan. Suatu hari pedagang sayur merasa mendapatkan keuntungan. Suatu hari pedagang sayur merasa mendapatkan berkah, karena hari itu keuntungan Rp. 5.000,- sudah masuk kedalam kantong. Keuntungan ini dua kali lipat bila dibandingkan pada hari-hari biasa. Tetapi, si pedagang roti hari itu merasa sial. Baginya keuntungan bersih Rp. 5.000,- sehari hampir tidak pernah dialami. Paling kecil Rp. 25.000,- sehari. Sebenarnya, keduanya mendapatkan keuntungan dengan jumlah yang sama, tetapi yang pertama merasa mendapatkan berkah, sedangkan yang kedua merasa sial.

      Demikian juga umat Buddha. Bila umat Buddha mengikuti upacara, puja bakti, atau peringatan-peringatan hari suci lainnya, akan merasa menerima berkah kalau mendapat percikan air paritta. Apakah benar air paritta adalah berkah, dan mereka yang tidak hadir atau tidak mendapatkan air paritat adalah tidak mendapatkan berkah? Sesungguhnya persoalan berkah ini sudah ada sejak zaman sang Buddha. Pernah masyarakat pada waktu itu memberikan tentang berkah. Kelompok yang satu mempunyai pandangan lain dengan kelompok yang lain. Orang yang satu mempunyai pengertian berbeda dengan yang lainnya. Dikisahkan bahwa persolan berkah yang sesungguhnya itu menjadi ramai dibicarakan sampai 12 tahun lamanya. Tidak ada kesepakatan yang dicapai. Sampai-sampai di dalam kitab suci dicatat, persoalan berkah masuk juga ke alam dewa. Mereka memperdebatkan juga dengan sengit, apakah berkah itu?

      Akhirnya, persoalan berkah ini sampai kepada Sang Buddha. Kepada Beliau yang sempurna pengetahuannya, yang telah menemukan dan mencapai jalan Ketuhanan. Yang telah menunjukkan kepada kita tentang adanya Yang Mutlak, Yang Esa, sehingga tumbuh harapan dan keyakinan bagi kita untuk bisa bebas dari lingkaran penderiataan ini. Sang Buddha memberi jawaban tentang persoalan berkah ini dengan sangat unik. Suatu jawaban yang tidak pernah kita duiga-duga sebelumnya. Sang Buddha sama sekali tidak pernah memberi jawaban demikian:
      “O, air yang sudah disembahyangkan, dan kemudian dipercikan kepadamu, itulah berkah!”
      Atau:
      “Mempunyai anak yang lahir pada hari ini atau itu, dalam bulan ini atau itu; itulah yang Ku-nyatakan berkah!”
      Tetapi Sang Buddha memberikan jawaban tentang berkah, bahkan utama, pada bagian pertama sekali dalam kotbah Beliau tentang berkah adalah demikian:

      “Tidak bergaul dengan orang bodoh
      Bergaul dengan mereka yang bijaksana
      Menghormati mereka yang patut dihormati
      Itulah Berkah Utama”

      Manggala Sutta atau kotbah tentang Berkah yang diberikan Sang Buddha tersebut berisi uraian berkah dari yang paling rendah sampai ke berkah yang paling tinggi. Pertama sekali Sang Buddha menunjukkan bahwa, tidak bergaul dengan orang-orang bodoh adalah berkah. Siapakah sesungguhnya orang-orang bodoh itu?Yang dimaksud dengan orang bodoh adalah; yang menganggap bahwa membunuh, mencuri, berzina bukan perbuatan jahat. Mereka-mereka menganggap bahwa perbuatan baik dan jahat sama sekali tidak berakibat. Mereka-mereka inilah orang-orang bodoh yang harus kita hindari. manusia tidak lepas dari pengaruh sekelilingnya,. Kita pun belum mencapai kesucian

      Kalau kita selalu bergaul dengan orang-orang yang tidak memperdulikan moral, maka kita bisa ikut menjadi tidak bermoral. memang sudah seharusnya kita sayang kepada mereka. Kita perlu menuntun kehidupan mereka ke arah yang benar. Tetapi kita harus ingat juga;bahwa bukannya tidak mungkin kita terpengaruh oleh cara -cara hidup mereka. oleh karena itu, kita harus menjaga diri dengan baik pada saat berhubungan dengan mereka yang tidak mengindahkan nilai-nilai moral. Janganlah kita menganggap bahwa kita adalah orang yang sama sekali tidak bisa terpengaruh.
      Selanjutnya dinyatakan dalam Manggala Sutta bahwa, mempunyai kesempatan bergaul dengan orang-orang yang bijaksana adalah berkah. Orang bijaksana selalu memberi semangat kepada kita pada waktu kita lupa. Bergaul dengan orang yang bijaksana akan memberi manfaat besar bagi kehidupan kita. Kemudian kalimat selanjutnya: Bisa memberi penghormatan kepada mereka yang sudah selayaknya dihormati adalah berkah.

      Dalam bagian selanjutnya, Sang Buddah menyatakan demikin :
      “ Hidup di negara yang tepat
      Mempunyai kebajikan dalam hidup yang lampau
      Menuntun diri ke arah yang benar
      Itulah Berkah Utama”

      Hidup di negara yang tepat adalah suatu berkah. Apakah yang dimaksud dengan negara yang tepat, yang merupakan berkah itu? Negara yang merupakan berkah, adalah bila di negara itu hidup ajaran Dharma, hidup ajaran agama. Sebaliknya, bila seseorang hidup di suatu negara yang tidak memperhatikan dan bahkan melarang kehidupan beragama. Negara yang rakyatnya harus menganggap bahwa kehidupan ini tidak ada akibat atau pertanggungan jawab lagi atas perbuatan-perbuatan kita. Di negara yang tidak bisa menghayati ajaran agama, ajaran Dharma, untuk mencapai kebahagiaan lahir dan keluhuran batin. Maka berarti hidup di negara yang tidak memungkinkan seseorang menempuh jalan untuk mengakhiri penderitaan.

      Berbahagialah kita yang lahir di tanah air ini, di negara Indonesia, dimana Pancasila menjadi landasan berdirinya kemerdekaan. Di negara Pancasila, Ketuhanan Yng Maha Esa diletakkan di tempat utama, bukan disisihkan. Disini kehidupan beragama, ajaran agama, ajaran Dharma, tumbuh dengan, baik , bahkan pemerintah memberikan perhatian sangat besar. Kehidupan keagamaan adalah kehidupan yang membentuk manusia berketuhanan. Di negara yang berketuhanan kita mendapatkan kesempatan menghayati Dharma. Dasar Ketuhanan Yang Maha Esa memperkuat harapan bagi umat Buddha, memperkuat, keyakinan umat Buddha untuk mencapai kebebasan mutlak. Sebaliknya di suatu negara yang Ketuhananya disisihkan, bahkan dimusuhi, maka harapan umat Buddha dibuat suram dan keyakinan mereka untuk bebas dari penderitaan dihancurkan. Itulah sebabnya Sang Buddha menunjukkan kepada kita, bahwa hidup di negara yang tepat ( Patirupadesavaso), di negara di mana ajaran agama, ajaran Dharma hidup dengan baik adalah merupakan berkah. Bagi umat Buddha negara merdeka, negara Pancasila kita ini, adalah negara yang membawa berkah utama. Dan sesungguhnya atas Pancasila itulah yang membuat negara ini memenuhi definisi Dharma untuk tepat disebut sebagai: Negara Berkah Utama.

      Selanjutnya marilah kita ikuti jawaban Sang Buddha tentang apakah berkah utama yang lain. hal tersebut dapat dilihat pada penjelasan di bawah:
      “Memiliki pengetahuan dan kertrampilan
      Terlatih baik dalam tata susila
      Ramah tamah dalam ucapan
      Itulah Berkah Utama

      Membantu ibu dan ayah
      Mendukung anak dan istri
      Bekerja tanpa cela
      Itulah Berkah Utama

      Berdana dan hidup sesuai Dharma
      Menolong sanak saudara
      Bekerja tanpa cela
      Itulah Berkah Utama

      Menjahui, tak melakukan kejahatan
      Menghindari minuman keras
      Tekun melaksanakan Dharma
      Itulah Berkah Utama

      Selalu hormat dan rendah hati
      Merasa puas dan terima kasih
      Mendengarkan Dharma pada saat yang sesuai
      Itulah Berkah Utama

      Sabar, rendah hati bila diperingatkan
      Mengunjungi para Samana
      Membahas Dharma pada saat yang sesuai
      Itulah Berkah Utama

      Bersemangat, menjalani hidup suci
      Menembus Empat Kebenaran Ariya
      Serta mencapai kebebasan sejati
      Itulah Berkah Utama

      Meskipun tergoda hal-hal duniawi
      Namun batin tak tergoyahkan
      Tiada susaah, tanpa noda, penuh damai
      Itulah Berkah Utama.”

      Dari jawaban Sang Buddha di atas, akan terlihat bahwa memiliki pengetahuan luas dan ketrampilan adalah termasuk memiliki pengetahuan sempit, yang malas menuntut ilmu, yang tidak mempunyai ketrampilan, adalah orang-orang yang tidak memiliki berkah Utama. Sang Buddha sendiri menunjukkan bahwa pengetahuan dan ketrampilan adalah berkah utama. Dan memang pengetahuan dan ketrampilan adalah salah satu syarat untuk berhasilnya pembangunan lahir-batin kita. Sejak dahulu Sang Buddha mengingatkan kepada kita untuk mempunyai berkah dalam kehidupan ini, salah satunya adalah dengan menuntut ilmu seluas mungkin dan mempunyai ketrampilan.
      Jadi tidak benar, kalau ada sementara pendapat yang mengatakan bahwa agama Buddha mengajarkan hal-hal yang serba supra-natural, acuh tak acuh dengan kehidupan sosial kemasyarakatan, bahwkan menyuruh umatnya untuk menjadi petapa di hutan -hutan . Hal ini sama sekali tidak benar.

      Selanjutnya Sang Buddha pun menyatakan: Orang, yang bisa memberikan bantuan kepada ibu dan ayah yang bisa memberikan bantuan kepada ibu dan ayah, selalu memenuhi kewajiban kepada anak dan istri, atau suami, bekerja bebas dari pertentangan : adalah juga berkah Utama.
      Lebih tinggi lagi, Sang Buddha menunjukkan: kalau kita mempunyai kerendahan hati, kalau bisa mempunyai kerendahan hati, kalau bisa mempunyai rasa puas dan tahu berterima kasih; inilah berkah utama. Jadi sebaliknya, orang yang tinggi hati, sombong adalah orang yang tidak memiliki berkah. Orang yang keserakahannya besar, yang tidak mengenal puas, artinya:selalu menuntut hasil jauh lebih besar dari usaha yang dilakukan ;orang itu tidak memiliki berkah.

      Sang Buddha menunjukkan: orang yang sabar adalah orang memiliki berkah utama. Orang yang bersemangat adalah orang memiliki berkah utama. Hidup dalam kerukunan dan persatuan adalah kebahagian, tetapi orang yang mengusahakan persatuan dan kerukunan serta orang yang mempunyai tapo, artinya: semangat untuk membangun kerukunan dan persatuan adalah orang yang memiliki berkah utama.

      Akhirnya Sang Buddha menyatakan: mencapai kebebasan dari lingkaran penderitaan, tiada susah, tanpa noda dan penuh damai, inilah berkah utama tertinggi. Kalau diperinci, terdapat 38 berkah utama dan, pada penutup Kotbah tentang Berkah yang terkenal itu, Sang Buddha mengatakan:
      “Karena dengan mengusahakan hal-hal itu
      Manusia tak terkalahkandi mnanapun juga
      Serta berjalan aman ke man saja
      Itulah Berkah Utama mereka.”

      Dengan berkah kehidupan ini, marilah kita bangun kehidupan kita masing-masing lahir dan batin. Karena dengan mulai membangun keluarga dan masyarakat di mana kita hidup secara bersama-sama. Sungguh bahagia, dapat membangun lahir dan batin dalam Berkah Utama ini.

Disadur dari, "Kumpulan Dhammadesana oleh Sri Paññavaro Thera Jilid I"