Tampilkan postingan dengan label Ceramah Dhamma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ceramah Dhamma. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Mei 2011

Bhikkhu Sangat Di Hormati Tetapi Tidak Ditiru



Bhikkhu Sangat Di Hormati Tetapi Tidak Ditiru



Bagi setiap umat Buddha, bhikkhu adalah figur yang sangat dihormati. Bhikkhu dianggap sebagai “simbol” dari kebajikan, simbol keluhuran Dhamma, dan tempat yang meminta nasihat. Kehidupan bhikkhu yang begitu sederhana, selalu berpijak pada peraturan kedisiplinan (vinaya) yang tinggi serta pengabdi yang tak mengenal pamrih ini benar-benar merupakan suri teladan yang sangat dihormati oleh setiap umat Buddha maupun anggota masyarakat yang lainnya.


Aturan-aturan kedisiplinan yang begitu ketat membuat kehidupan seorang bhikkhu menjadi sangat jauh dari segala bentuk kejahatan, tipu muslihat, kelicikan dan dengki. Mereka selalu berusaha untuk membasmi semua bentuk pikiran, ucapan dan perbuatan yang tidak baik dalam dirinya, dan selalu berusaha untuk membangkitkan nilai-nilai kebajikan dari dalam dirinya untuk kemajuan batinnya dan demi kepentingan masyarakat.


Mereka selalu memberikan bimbingan Dhamma, mencerdaskan umat Buddha agar bisa mengerti dan memahami Kebenaran yang diajarkan oleh Sang Buddha, membimbing kita semua agar selalu berjalan dalam Dhamma untuk mencapai kebahagiaan, serta selalu menjadi “kawan” terbaik yang bisa memberikan nasihat di setiap saat kita menghadapi berbagai problema kehidupan.


Oleh karena itu, seorang bhikkhu sangat dihormati oleh setiap umat Buddha. Dimanapun kita menjumpai satu atau beberapa orang bhikkhu, kita tak segan-segan untuk merangkapkan kedua tangan didepan dada – beranjali – sambil menundukkan kepala sebagai perwujudan rasa hormat yang mendalam. Bahkan tidak jarang kita membungkukkan badan, sehingga kepala menyentuh tanah untuk bernamaskara kepada seorang Bhikhu.


Begitu hormatnya seorang umat Buddha kepada bhikkhu, sehingga ia rela bersujud sampai kepala yang sangat dihormatinya itu menyentuh tanah. Umat Buddha sangat menghormati keteladanan yang telah ditunjukkan oleh para bhikkhu melalui praktek kehidupan yang sangat sederhana tetapi penuh dengan keluhuran.


“Bhikkhu memang sangat dihormati, tetapi bhikkhu sangat berbeda dengan guru. Kalau bagi masyarakat Jawa, “guru” itu digugu dan dituru, namun, seorang bhikku hanya digugu tetapi tidak ditiru.” Demikian petikan dari salah sebuah ceramah yang pernah disampaikan oleh Sri Pannavaro Sanghanayaka Thera, bhikkhu muda yang sangat mahir dalam membabarkan Dhamma.


Mengapa bhikkhu hanya digugu tapi tidak ditiru? Meskipun semua orang begitu menghormati bhikkhu, berapa persenkah diantara mereka yang mau meniru kehidupan seorang bhikkhu? Berapa orang diantara sekian juta umat Buddha di Indonesia yang bersedia menjadi bhikkhu? Bhikkhu memang dihirmati, disanjung dan bahkan disujuti, tetapi... masih terlampau sedikit umat yang mau “meniru” kehidupan bhikkhu.


Melepaskan Kebahagiaan Duniawi.


Banyak perbuatan baik yang bisa dilakukan oleh setiap orang. Misalnya berdana kepada mereka yang memerlukan, membangun rumah sakit, mengunjungi panti asuhan, menyokong ayah dan ibu, saling membantu jika ada yang menghadapi kesusahan, memaafkan kesalahan orang lain, dan lain-lain. Perbuatan-perbuatan bajik seperti ini sering kita lakukan dimana dan kapan saja.


Namun, ada satu jenis kebajikan yang mungkin akan sangat sulit dilakukan oleh setiap orang. Tidak semua orang dapat dan mampu melakukannya. Apalagi dalam zaman modern seperti sekarang ini, dimana setiap orang berusaha untuk memenuhi setiap keinginan untuk memuaskan diri pribadi.


Kebajikan yang sangat sulit dilakukan ini hanya dapat ditempuh dengan keinginan yang luar biasa kuatnya, keinginan yang bisa mengalahkan setiap ambisi. Keinginan ini sesungguhnya merupakan keinginan unuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebuh besar dari apa yang bisa dicapai oleh mereka yang enggan menempuh kebajikan ini.


Apakah sesungguh perbuatan bajik yang sangat luar biasa ini?


Kebajikan ini tak lain adalah memutuskan semua keinginan duniawi, mengalahkan setiap godaan nafsu, untuk kemudian memasuki kehidupan sederhana yang sangat minim kebutuhannya – menjalankan kehidupan kebhikkhuan.


Tidak semua orang bisa melakukan kebajikan ini. Sebab terlalu banyak hal yang membelenggu dan mencegah umat manusia untuk memasuki dunia kebhikkhuan. Nafsu keinginan dan keterikatan pada hal-hal duniawi adalah faktor utama yang teramat sulit untuk dipatahkan.


Oleh karena itu, mereka yang mempunyai tekad yang kuat dan berhasil melangkah memasuki kehidupan kebhikkhuan, sesungguhnya merupakan orang-orang yang sangat gigih dan ulet dalam perjuangan moralnya. Orang seperti ini sangat langkah dalam dunia modern sekarang ini.


Dalam kitab suci Dhammapada ayat 103 tercantum sabda Sang Buddha:


“Walaupun seribu kali seseorang apat menakllukkan seribu musuh dalam satu pertempuran, namun orang yang bisa menaklukkan dirinya sendiri sesungguhnya merupakan penakluk terbesar.”


Setiap umat Buddha menyadari hal ini, sehingga mereka semua memberi hirmat yang sangat besar kepada setiap orang yang menjalankan kebhikkhuan. Mereka menghormati bhikkhu karena kemampuannya untuk melepaskan ikatan duniawi, karena kemurniannya dalam menjalankan peraturan hidup sederhana, dan karena bimbingan-bimbingan Dhamma yang diperoleh untuk menuju kebahagiaan.


Kegiatan Bhikkhu Sehari-hari.


Setiap bhikkhu memiliki kewajiban untuk mengembangkan batinnya sendiri dan membimbing dalam jalan yang benar. Di samaping melayani kebutuhan ritual, seorang bhikkhu harus tekun mempelajari Dhamma dan bermeditasi untuk mengembangkan kebijaksanaan, disamping menjalankan sejumlah peraturan kebhikkhuan.


Secara umum, corak kehidupan bhikkhu bisa dibedakan atas dua jenis, yaitu:

  • Bhikkhu yang mengutama latihan yaitu para bhikkhu yan senang bermeditasi dihutan-hutan atau ditempat-tempat terpencil untuk mengembangkan kebijaksanaannya. Mereka umumnya hidup menyepi, jauh dari keramaian, dan hanya mengunjungi umat pada saat pindapata untuk menerima persembahan dana makanan.
  • Bhikkhu yang mengutamakan pelayanan terhadap umat yaitu para bhikkhu yang hidup dalam lingkungan masyarakat. Ada yang menjadi guru agama, melayani kebutuhna umat untuk melakukan upacara ritual, menjadi penerjemah, ikut aktif dalam organisasi sosial keagamaan, dan lainlain.
Kedua kelompok bhikkhu ini mempunyai penekanan dalam praktik yang berbeda. Namun bukan berarti bahwa kelimpok yang satu tidak melayani masyarakat dan yang lainnya tidak pernah bermeditasi untuk mengembangkan batin. Kedua kelompok ini sama-sama harus melaksanakan praktik meditasi maupun pelayanan kepada masyarakat, hanya saja penekanannya berbeda.


Tak mungkin ada bhikkhu yang mengutamakan latihan kemudian hidup tanpa memerlukan umat. Ia tetap masih memerlukan partisipasi umat, dan ia masih tetap berkomunikasi dengan umat jika ada yang datang meminta nasihat kepadanya. Begitu pula, kelompok bhikkhu yang mengutamakan pelayanan kepada masyarakat pun harus memikirkan perkembangan batinnya. Ia harus tetap tekun menjalankan sila dan bermeditasi agar bisa tercapai cita-citanya sebagai bhikkhu.


Dalam sebuah vihara, biasanya terdapat semacam peraturan yang disepakati bersama oleh setiap bhikkhu sebagai jadwal kegiatan rutin. Pagi hari, biasanya mereka melakukan pembacaan paritta pagi dan melakukan meditasi sebelum tiba saat untuk sarapan pagi.


Setelah itu, para bhikkhu menerima umat/tamu, berbincang-bincang atau memberikan wejangan Dhamma. Ada bhikkhu yang memenuhi permintaan umat untuk membacakan paritta, ada pula yang belajar.membaca ajaran-ajaran Sang Buddha di perpusktaan, dan sebagainya.


Bhikkhu akan makan siang sekitar pukul 11-12 siang. Setelah berisirahat sebentar, para bhikkhu ada yangmenerima tamu, ada yang memberikan ceramah, ada yang mengajar di sekolah sebagai dosen, ada yang mengerjakan tugas organisasi, ada yang belajar Dhamma, dan lain-lain.


Menjelang malam hari, para bhikkhu kembali membacakan paritta senja dan melakukan meditasi. Malam hari biasanya para bhikkhu diundang untuk membacakan paritta di rumah-rumah duka, memberikan ceramah dalam kebaktian, dan sebagainya.


Pada setiap hari uposatha, para bhikkhu akan berkumpul di depan altar Sang Buddha di Uposathagara untuk mendengarkan pembacaan patimokkha (aturan kedisplinan), yang biasanya diawali dengan pemberitahuan atau saling meminta maaf atas pelanggaran-pelanggaran terhadap vinaya.


Sehari sebelum hari uposatha para bhikkhu melakukan dandakamma (mencukur rambut, kumis dan jenggot).


Bagi bhikkhu yang tinggal di kota-kota besar, kegiatan untuk melayani umat sering merupakan kegiatan terbanyak. Sebab tidak sedikit umat yang mengundang bhikkhu untuk kepentingan ritualnya, antara lain untuk pemberkatan rumah/usaha baru, menerima undangan makan, membaca paritta untuk orang sakit/ meninggal, dan lain-lain.


Disamping itu, tak jarang bhikkgu harus menjadi “pendengar” yang baik ats semua keluhan/penderitaan yang dialami oleh umat, kemudian berusaha untuk memberikan jalan keluarnya berdasarkan ajaran Sang Buddha. Entah disadari atau tidak, mayoritas umat Buddha pasti mengharapkan agar bhikkhu bisa membantunya untuk menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapinya, baik itu persoalan keluarga, dagang, hubungan antar manusia, dan sebagaianya.


Perilaku Umat Terhadap Bhikkhu


Di dalam Sigalovada Sutta, Sang Buddha berkata kepada seorang pemuda yang bernama Sivali:


“Dengan enam cara seorang bhikkhu akan melayani umat”
  1. Mencegah mereka berbuat jahat.
  2. Menganjurkan mereka berbuat kebajikan.
  3. Mencintai mereka dengan penuh kasih sayang.
  4. Mengajar sesuatu yang mereka belum pernah dengar.
  5. Memperbaiki dan menjelasskan sesuatu yang mereka pernah dengar.
  6. Menunjukkan jalan ke Nibbana.
Dan, dengan lima cara seorang umat akan melayani para bhikkhu:
  1. Dengan perbuatan yang penuh kasih sayang.
  2. Dengan ucapan yang ramah tamah.
  3. Dengan pikiran yang penuh kasih sayang.
  4. Dengan selalu membuka pintu untuk mereka.
  5. Dengan memberikan keperluan hidup mereka.
Sang Buddha mengajarkan tentang perilaku timbal-balik antara bhikkhu dan umat./ Setiap bhikkhu mempunyai kewajiban terhadap umat, dan setiap umat pun harus melaksanakan kewajibannya kepada bhikkhu. Cara hidup yang saling menguntungkan, saling bantu-membantu, dan saling menyokong ini hendalnya selalu kita terapkan.

Kesediaan bhikkhu untuk selalu melayani umat membuat para bhikkhu semakin dekat di hati umat. Suasana keakraban tercipta lewat keramahan para bhikkhu. Lambat laun hal ini membuat umat semakin terbiasa dengan kebiasaan para bhikkhu. Sehingga keakraban ini kadang kala membuat umat menjadi lupa diri. Tanpa disadari sering terlontar ucapan-ucapan yang tidak pantas untuk disampaikan kepada seorang bhikkhu.

Misalnya: kata-kata “guyonan’ yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi teman sebaya, “Hei, Bhante.” “Dasarn, Bhante.” “Kesini dong, Bhante.” Dan masih banyak lagi contoh-contoh sapaan lain yang tapa sadar terlontar dari mulut umat yang akhirnya mengabaikan tata krama karena “merasa’ sudah cukup “akrab” dengan para bhikkhu.

Pernah suatu ketika, seorang ibu yang cukup lanjut usia datang ke sebuah vihara. Dengan muka yang cukup sedih dia masuk ke kuti. Kebetukan ada seorang bhikkhu di dalamnya. Dengan kesedihannya, ibu ini datang menghampiri bhikkhu seraya ingin memegang tangan bhikkhu untuk memberikans alam. Tentu saja bhikkhu ini buru-buru menghindar untuk mencegah “kontak” yang tidak perlu. Ketidak-tahuan membuat ibu ini berbuat demikian.

Ada lagi kasus lain yang pernah terjadi di sebuah vihara. Seorang gadis menelephon untuk minta bicara dengan seorang bhikkhu. Kebetulan bhikkhu itu tidak berada ditempat. Gadis ini denga kalimatnya yang cengene terus memaksaakan ingin bertemu dengan bhikkhu yang dicarinya.

Pantaskah tindakan ini bagi seorang umat yang menghormati bhikkhunya?

Disaat seseorang mengalami musibah, menghadapai persoalan atau mengalami depresi, seorang bhikkhu sering menjadi tempat untuk meminta bimbingan dan nasihat yang paling tepat. Umat yang demikian akan sering mengunjungi bhikkhu untuk berkonsultasi, dan bhikkhu pun akan selalu siap untuk membantu.

Lama kelamaan, umat akan semakin mengagumi bhikkhu. Ia akan melihat bhikkhu sebagai seorang insan yang sangat baik dan sangat bijaksana. Bhikkhu adalah orang yang penuh pengertian, yang bisa memahami kesulitan yang kita hadapi dan bisa membantu kita dalam suka dan duka.

Pandangan yang penuh kekaguman ini lambat laun akan berkembamng, berkembang, dan berubah, menjelam menjadi perasaan simpati, akhirnya berubah wujud menjadi “kemelekatan”. Beruntunglah kalau umat dan bhikkhu segera menyadari hal ini. Jarak tetap akan dijaga.

Namun, bagaimana kalau hal sebaliknya yang terjadi?

Bhikkhupun Perlu Dukungan.

Hendaknya umat menyadari pengabdian seorang bhikkhu yang tanpa pamrih. Pelayanan bhikkhu terhadap umat seharusnya dibalas dengan perilaku yang baik dan sopan. Pengethuan umat tentang peraturan yang dijalankan oleh para bhikkhu mutlak diperlukan agar bisa membantu para bhikkhu dalam menjaga kemurnian sila.

Kelanggengan kebhikkhuan seseorang sangat diperlukan, baik oleh bhikkhu itu sendiri maupun oleh umat Buddha. Seorang bhikkhu perlu mempertahankan keteguhannya dalam menjalankan vinaya, agar cita-cita luhurnya bisa tercapai. Umat pun perlu mengusahakan agar setiap bhikkhu dapat hidup dengan layak, jauh dari segala godaan yang bisa mempengaruhi pratik kehidupan sucinya, sehingga para bhikkhu tetap bisa memberikan pelayanan ritual dan bimbingan Dhamma kepada kita semua.

Dengan sangat sulit untuk melepaskan ikatan keduniawian. Sangat sulit untuk melangkah memasuki dunia kebhikkhuan. Oleh karena itu, sangat langka bhikkhu yang baik di tanah air kita.

Dengan menyadari hal ini, dengan mengutamakan kepentingan orang banuyak, marilah kita ciptakan kondisi yang baik untuk seorang bhikkhu melaksanakan kehidupan sucinya. Mereka pun butuh dukunga moral dari setiap umat Buddha, sebagaimana kita membutuhkan bimbingan Dhamma dari mereka.
[ Dikutip dari Majalah Dhamam Cakkhu No.24/XIII/92 ]

Kamis, 05 Mei 2011

Sudahkah Anda Mencintai Diri Sendiri?

Sudahkah Anda Mencintai Diri Sendiri?
Oleh Bhikkhu Dhammadhīro 

 
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa
Attānañce Piyaṁ Jaññā. Rakkheyya Naṁ Surakkhitanti
Jika seseorang sadar bahwa diri sendiri paling dicinta, sepatutnya, ia merawat dirinya dengan baik.
(Dhammapada, 157)

Ada dua kata yang perlu dijelaskan dari kutipan di atas, yaitu: cinta dan diri sendiri. Apakah yang disebut ‘cinta’? 

Banyak batasan makna kata tentang cinta ini. Namun apapun batasan makna yang diberikan, pada dasarnya ‘cinta’ bermakna perasaan puas dengan menjadi lengket melekat pada sesuatu atau seseorang. Sehingga, sesuatu atau seseorang yang dicinta biasanya mendapat perlakuan yang istimewa dari orang yang mencintainya, mendapat penjagaan dari segala hal yang dapat membahayakan keberadaannya. Semua hal yang dilakukan pecinta adalah demi menjaga keberadaan rasa puas yang dimiliki terhadap yang dicintai. Kalau yang dicinta itu berupa barang, barang itu tidak dibiarkan rusak, cacat, atau dirampas orang. Kalau yang dicinta itu berupa orang, orang itu diharap tidak berpaling darinya, syukur-syukur dapat membalas cintanya dengan cinta padanya. Sehingga, betapa menyenangkan orang yang mencintai seseorang yang mencintai dirinya, pucuk dicinta ulam tiba. Sebaliknya, apabila orang yang dicintai itu berpaling darinya, menjauhinya; cinta yang muncul dan berkembang itu bisa berubah menjadi kebencian, benci karena perasaan puasnya untuk lengket melekat tidak terpenuhi.

Yang disebut ‘diri sendiri’ artinya bukan orang lain, bukan pihak lain, atau dengan istilah lain yaitu ‘aku’. Kata ‘diri’ itu sendiri meliputi tubuh dan batin.

Jadi, mencintai diri sendiri artinya adalah mencintai tubuh dan batin sendiri. Sebagaimana seseorang yang mencintai tubuhnya sendiri, ia akan merawat tubuh dengan memberinya makan dan minum, menjaganya dari hal-hal yang dapat membahayakan tubuh, mengobatinya bila sakit, membersihkannya dari kotoran yang melekat, dsb. Seseorang mencintai batin sendiri dengan mencari hal-hal yang memuaskan perasaan sendiri, melihat bentuk-bentuk yang menyenangkan, mendengarkan suara-suara yang menyenangkan, mencium bau-bauan yang menyenangkan, merasakan rasa-rasa yang menyenangkan, menyentuh sentuhan-sentuhan yang menyenangkan, memikirkan hal-hal yang menyenangkan, dsb.

Kebanyakan orang apabila ditanya, ”Sudahkah Anda mencintai diri sendiri?” akan menganggap pertanyaan itu sebagai pertanyaan bodoh, pertanyaan orang blo’on. Adakah orang yang tidak mencintai diri sendiri? Tiap orang mengatakan bahwa sudah tentu ia mencintai diri sendiri. Memang benar, setiap orang mencintai diri sendiri. Dalam Sattakanipāta, Aṅguttaranikāya, Sang Buddha pun bersabda ‘Attā hi paramo piyo’ yang artinya diri sendiri adalah yang paling dicinta. Apa pun yang seseorang kerjakan adalah berdasar pada kecintaannya pada diri sendiri.

Namun, apabila ditanya lagi dengan sebuah penekanan, ”Sudahkah Anda benar-benar mencintai diri sendiri?” kebanyakan orang juga akan terperanjat, mundur selangkah, urung untuk menganggapnya sebagai pertanyaan bodoh, pertanyaan orang blo’on. Di sinilah letak perbedaannya. Orang mencintai diri sendiri, tetapi sudah benar-benar mencintai diri sendirikah ia? Hampir setiap orang, dengan alasan demi diri sendiri, mengatasnamakan demi kepentingan sendiri, demi kepuasan dan kebahagiaan diri sendiri, berpikir, berbicara dan bertindak-tanduk, apapun bentuk pikiran, kata-kata yang diucapkan dan perbuatan yang dilakukan.

Pangeran Viḍūḍabha, karena dendamnya terhadap bangsa Sakya, membunuh hampir semua bangsa Sakya. Pangeran Viḍūḍabha dalam melakukan perbuatannya di atas beralasan demi cinta terhadap dirinya, tidak berkenan harga dirinya diinjak orang. Masih banyak contoh perbuatan-perbuatan buruk yang dilakukan orang dengan mengatasnamakan cintanya pada diri sendiri. Bahkan, tidak sedikit didengar orang berpandangan bahwa perbuatan buruk, perbuatan curang adalah satu kebodohan apabila seseorang tidak melakukannya saat berkesempatan.

Benarkah perbuatan-perbuatan di atas dikatakan sebagai bentuk cinta pada diri sendiri? Benarkah perbuatan-perbuatan di atas dikatakan sebagai bentuk pengharapan baik bagi diri sendiri? Banyak orang salah langkah dalam upaya mencintai diri sendiri, berpengharapan baik bagi diri sendiri, menganggap hal yang buruk sebagai upaya hal yang baik untuk diri sendiri. Benar seperti yang disabdakan Sang Buddha dalam pustaka Dhammapada 119,

          ”Pāpopi passati bhadraṁ 
             yāva pāpaṁ na paccati
yadā ca paccati pāpaṁ
atha pāpāni passatîti.
Pelaku keburukan menganggap keburukan adalah baik sepanjang keburukan itu belum masak. Tetapi, setelah keburukan itu masak, ia baru menyadari bahwa keburukan adalah hal yang buruk.

Di pustaka lain, yakni di Dukanipāta, Aṅguttaranikāya, Sang Buddha bersabda kepada para bhikkhu,

“Akusalañca hidaṁ bhikkhave pahînaṁ, ahitāya dukkhāya saṁvatteyya, nāhaṁ evaṁ vadeyyaṁ, ‘Akusalaṁ bhikkhave pajahathāti. Yasmā ca kho bhikkhave akusalaṁ pahînaṁ, hitāya sukhāya saṁvattati, tasmāhaṁ evaṁ vadeyyaṁ ‘Akusalaṁ bhikkhave pajahathāti.
“Wahai para Bhikkhu, apabila keburukan yang telah disingkirkan itu demi celaka, demi derita, Aku tak akan mengatakan, ‘Wahai para Bhikkhu, singkirkanlah keburukan.’ Akan tetapi, karena keburukan yang telah disingkirkan itu demi manfaat dan kebahagiaan, Aku mengatakan, ‘Wahai para Bhikkhu, singkirkanlah keburukan.”

Bentuk cinta pada diri sendiri yang dimaksud oleh para bijaksanawan adalah menanamkan kebaikan dalam diri sendiri, berlatih untuk berkeyakinan pada ajaran benar, bersemangat, ulet, bijaksana, murah hati, rendah hati, dsb. Cinta diri sendiri bukan sikap egois, karena tindakan egois adalah tindakan pemuasan nafsu kesenangan bagi diri sendiri dengan merampas hak-hak orang lain. Cinta diri sendiri justru sebagai sikap logis. Siapa utamanya yang bisa membuat diri sendiri kalau bukan diri sendiri. Orang-orang yang telah banyak memupuk kebajikan, menyempurnakan paramita adalah cara ideal dalam upaya mencintai diri sendiri. Para suciwan adalah bukti orang-orang yang mencintai diri sendiri secara sempurna. 

21 Januari 2007
Berita Dhammacakkha Januari 2007

Selasa, 29 Maret 2011

Berikan yang Terbaik








Berikan yang Terbaik

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Sucitto




Di dunia ini, sulit mencari orang yang menginginkan sesuatu yang buruk. Semua orang pasti menginginkan yang terbaik. Sesuatu itu, baik berupa barang, pelayanan, penghormatan, dan nasihat serta segala macam keperluan lainnya. Sayangnya, tidak jarang segala sesuatu yang terbaik —yang diinginkan oleh setiap orang tersebut— tidak kunjung tiba. Sebaliknya hal-hal yang buruk, bahkan yang paling buruk menurut anggapan kita, yang kita terima.

Di samping kesulitan mencari yang terbaik —menurut anggapan kita sendiri yang batasannya tidak sama— juga ada jenis kesulitan lainnya. Sangat sulit mencari orang yang mampu memberikan sesuatu yang terbaik. Demikianlah, mendapatkan yang terbaik dan memberikan yang terbaik kepada orang lain merupakan dua hal yang sulit dicari.

Manusia yang memiliki sifat serakah (lobha) menyebabkan mereka tidak akan pernah merasa cukup dan merasa puas dengan apa yang sudah ia miliki. Semua orang hanya menginginkan yang terbaik dari orang lain, tetapi tidak pernah mau memberikan yang terbaik kepada orang lain sesuai dengan kebutuhan orang itu.

Apabila tindakan di atas kita lalaikan, maka sulit untuk mendapatkan hal yang terbaik, yang kita inginkan. Kita selalu merasa kurang dan tidak mengerti apa yang sesungguhnya yang terbaik, yang kita miliki.

Bagaimana mungkin kita dapat memberikan sesuatu yang terbaik kepada orang lain jika kita tidak tahu sesuatu yang baik,yang kita miliki. Kita tidak bisa memberi kepada orang lain jika kita tetap merasa selalu kekurangan.

Sebaliknya, jika kita memberikan yang terbaik untuk orang lain, apakah sesuatu yang terbaik yang dapat kita berikan? Apakah kita memiliki hal yang terbaik tersebut? Apakah kita tahu sesuatu yang baik itu?

Jawabannya tergantung pada kita masing-masing. Karena ada orang yang memiliki sesuatu yang terbaik tetapi dia sendiri tidak mengetahuinya dan tidak mampu memberikannya. Hal ini disebabkan karena kemelekatan orang itu sendiri.

Semua orang boleh saja berkata;

"Apa yang bisa saya berikan? Saya orang miskin, tidak punya apa-apa, kaum papa, orang bodoh, dan selalu kalah. Tidak ada yang bisa saya berikan".

Ucapan yang demikian seharusnya tidak perlu muncul karena akan mengembangkan rasa rendah diri, merasa pesimis. Ucapan seperti ini sama sekali tidak pantas, tidak sesuai.

Kita boleh mengaku sebagai orang yang miskin, tidak punya, kaum papa, orang bodoh, orang yang selalu kalah atau yang lainnya. Tetapi di balik semuanya itu, sesungguhnya masih banyak yang bisa kita berikan sebagai pemberian yang terbaik, asal kita melihat dan mengerti cara memberikannya.

Kita tidak punya materi, tetapi kita masih memiliki yang lainnya. Kita dapat memberikan pikiran yang baik, yang tidak diliputi keserakahan dan kebencian. Kita bisa memberikan nasihat, petunjuk, saran-saran, anjuran, dan yang sejenis. Inilah pemberian yang terbaik yang mampu kita berikan.

Apakah perbuatan yang telah kita lakukan kepada orang lain tersebut akan dibalas dengan kebaikan atau tidak? Ini merupakan masalah yang sering menjadi dilema.

Janganlah mengharapkan balasan, pamrih atau akibat yang akan diterima terlebih dahulu. Jika dibalas dengan kebaikan, terimalah sebagaimana adanya. Jika dibalas dengan perhuatan buruk, itupun kita terima dengan tangan terbuka, juga tidak menjadi masalah. Semuanya tidak kita harapkan sebelumnya.

Bila kita memiliki sesuatu yang terbaik dan memberikan yang terbaik kepada orang lain, mengapa harus menuntut balasan yang terbaik? Perbuatan ini telah menunjukkan sifat manusia yang serakah, tidak ikhlas dalam membantu orang lain karena mengharapkan balasan. Apakah kita tidak mau disebut sebagai manusia serakah? Tentu saja, tidak!

Tanpa dimintapun, bila perbuatan baik pasti akan mendatangkan kebahagiaan dan perbuatan buruk akan menghadirkan penderitaan. Ini sudah merupakan hukum alam yang abadi, berlaku kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja; tanpa memandang segala macam perbedaan yang ada.

Dengan kenyataan tersebut, sudah seharusnya kita memberikan sesuatu yang terbaik kepada setiap orang yang sesungguhnya juga dibutuhkan oleh semua orang. Kalau orang bisa melakukan, maka dia akan mengerti bahwa ada sesuatu yang terbaik di dalam dirinya.

Sesuatu hal yang mustahil jika seseorang dapat memberikan sesuatu yang terbaik kepada orang lain tanpa memiliki yang terbaik di dalam dirinya. Dengan memberikan yang terbaik kepada orang lain, orang dapat mengikis keserakahan yang ada di dalam dirinya sendiri.

Dengan memberikan yang terbaik, kita akan merasa bahagia walaupun pemberian tersebut bukan berupa materi. Kita akan memiliki sahabat yang banyak, tidak ada perasaan cemas, takut, khawatir, dan prasangka buruk yang lainnya. Kehidupan kita akan penuh dengan kedamaian, ketentraman, kebahagiaan dan kesejahteraan.

Ini semua adalah akibat dari perbuatan baik yang kita praktikkan dalam kehidupan ini. Apalagi jika telah menyadari kebenaran Hukum Kamma yang telah ditunjukkan oleh Sang Buddha —Guru Agung junjungan kita— sejak 2500 tahun yang silam, tentunya kita semua tidak ingin mendapatkan hal-hal yang buruk di masa yang akan datang.

Kita semua mengharapkan segala sesuatunya lebih baik dari hari ini. Jika kita ingin yang baik di masa yang akan datang, marilah kita menanam perbuatan baik terlebih dahulu di masa sekarang. Jangan hanya berharap tapi tanpa pernah menanam. Tidak ada buah yang akan dipetik tanpa bibit yang ditanam.

Siapkan diri anda untuk menanam (memberikan) yang terbaik kepada orang lain dan anda pasti akan menerima yang terbaik di masa yang akan datang? Apakah anda sudah siap sekarang.

[ Dikutip dari Jalan Tengah No. 31/Tahun Ke 3/9 April 1991, editor: Dhana Putra ]

Senin, 28 Maret 2011

Berdana di Bulan Kathina





Berdana di Bulan Kathina

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Candakaro



Memberikan dana dengan penuh keyakinan, hendaknya Sila selalu dilaksanakan, rajin melatih Samadhi, maka ia akan dapat terlahir di alam Surga.


Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari hubungan antar sesama, ia masih membutuhkan bantuan atau dukungan dan dorongan dari pihak lain. Demikian pula umat mempunyai hubungan yang sangat erat terhadap para Bhikkhu, salah satunya adalah menyokong kebutuhannya, (Sigalovada Sutta, Diggha nikaya III, 31).

Apakah kebutuhan para Bhikkhu itu? Mengenai hal ini adalah empat macam kebutuhan pokok, yaitu: Sandang, pakaian (jubah), makanan, tempat tinggal dan obat-obatan, itu adalah kebutuhan yang pokok. Oleh karena itu para umat Buddha menyokongnya dengan cara berdana, seperti halnya pada hari Kathina. Setelah masa Vassa (berdiam di satu tempat selama tiga bulan pada musim hujan) selesai, ada hari yang disebut: Pavarana (mengundang) tiga bulan setelah Vassa pada bulan purnama, para Bhikkhu mengakhiri Vassa dengan mengadakan Pavarana bersama-sama, yaitu: saling mengundang Bhikkhu yang satu dengan yang lainnya untuk memberikan nasehat atau memberi maaf, barangkali ada kesalahan. Kemudian ada hari yang disebut: Berdana Kathina di dalam Ajaran Sang Buddha.

Ada beberapa pengertian tentang yang disebut berdana Kathina dengan sempurna, yaitu:
  1. Di Vihara itu minimal ada 5 orang Bhikkhu yang berVassa.
  2. Kelima orang Bhikkhu itu harus memasuki masa Vassa yang sama.
  3. Harus menyelesaikan masa Vassa pada waktu yang sama dan sempurna.
  4. Kathina itu harus diselenggarakan di Uposathagara.
  5. Pada upacara itu, kelima orang Bhikkhu yang berVassa di vihara itu menerima persembahan Kathina dusam (kain pembuat jubah Kathina) yang dipersembahkan oleh umat.
  6. Kelima orang Bhikkhu itu kemudian serentak membuat sangha kamma, memutuskan siapakah Bhikkhu yang berhak menerima jubah Kathina pada waktu itu.
Keputusan itu ditempuh dengan suatu cara prosedur yang demokratis. Seorang atau beberapa orang Bhikkhu mengajukan usul, bhikkhu yang lain memperkuat dan yang lain menyetujui. Dan akhirnya jubah Kathina itu diserahkan kepada Bhikkhu yang berhak untuk menerima. Bahan jubah itu harus dipotong, dijahit, dicelup pada hari itu juga dan sebelum fajar menyingsing, jubah harus sudah siap dan diserahkan kepada bhikkhu yang berhak. Inilah yang disebut Jubah Kathina, inilah Kathina puja yang sesungguhnya.

Demikianlah yang dijelaskan oleh Sang Buddha, betapa besar manfaat bagi seseorang yang bisa mempersembahkan Kathina dana, sebab Kathina dana tak dapat dipersembahkan setiap saat.

Kathina dana hanya bisa dipersembahkan di suatu vihara dan hanya berhak menyelenggarakan Kathina satu kali pada waktu tahun itu.

Pada upacara kathina, selain mempersembahkan jubah kepada Sangha, para umat nampaknya juga mempersembahkan empat kebutuhan pokok bagi para Bhikkhu. Banyak umat yang tidak sempat mempersiapkan empat kebutuhan pokok ini, maka umat buddha menggantikan dengan wujud uang. Kita sebagai umat buddha tentunya perlu sekali mengerti dengan benar, bagaimana cara berdana yang baik itu. Dana yang diberikan seseorang akan menjadi dana yang bermanfaat, kalau berdana dengan baik dan benar.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu:
  1. Cetana-sampada

    Kalau saudara Ingin berdana, hendaknya saudara mempunyai pikiran yang ikhlas, senang dan bahagia. Mengenai hal ini adalah:
    • Sebelum berdana merasa senang dan bahagia.
    • Pada waktu berdana merasa senang dan bahagia.
    • Sesudah berdana merasa senang dan bahagia.
    Dari ketiga hal ini, yang paling penting adalah yang ketiga, Walaupun yang kesatu dan kedua juga penting.
    Misalnya : sebelum berdana senang, waktu memberikan ikhlas, sesudahnya menyesal. Ini sangat disayangkan, karena mengurangi nilai kebaikannya. Didalam Kitab Suci dijelaskan, orang yang mempunyai kebiasaan seperti ini, waktu muda ia akan hidup makmur, kaya raya dan sejahtera. Tapi itu semua hanya bertahan separuh umur. Jaya hanya kira-kira sampai lima puluhan tahun, sesudah itu mengalami kemerosotan dan akhirnya menjadi miskin. Yang paling baik dan jasanya dapat bertahan lama adalah merasa bahagia, ikhlas, gembira dan bahagia, baik sebelum, pada saat maupun sesudah berdana.

  2. Vatthu-sampada

    Barang yang didanakan sebaiknya barang-barang yang bersih, yang didapat dari tidak melanggar Negara dan Agama dan dana ini haruslah baik, yang disebut Sami Dana. Janganlah berdana yang tak bisa dipergunakan lagi baik oleh diri sendiri maupun orang lain.

    Dana untuk para Bhikkhu, orang tua, guru, disebut: Puja Dana (dana sebagai persembahan perhormatan). Tidak sama dengan berdana untuk orang miskin, gelandangan, pegawai saudara, ini disebut: Anugaha Dana (berdana sebagai hadiah, sebagai anugerah).

  3. Puggala-sampada

    Berdana kepada siapa? Sang Buddha pernah dituduh seseorang: "Apakah benar Sang Bhagava mengajarkan bahwa berdana kepada orang tidak punya moral itu tidak ada gunanya?" Sang Buddha kemudian menjawab:"Aku tidak pernah mengatakan bahwa berdana tidak ada gunanya, meskipun orang membuang sisa-sisa dari satu panci atau mangkuk kedalam sebuah tambak atau telaga dan mengharap agar para makhluk hidup di dalamnya dapat memperoleh makanan, perbuatan inipun merupakan sumber dari kebaikan, apalagi dana yang diberikan kepada sesama manusia".Inilah yang Tathagatha ajarkan, (Anguttaranikaya III, 57). Sang Buddha menyatakan: "Berdana kepada Sangha sangat besar jasanya".

    Di dalam Velumakkha-Sutta disebutkan: "Berdana kepada orang yang bermoral lebih besar jasanya daripada berdana kepada orang yang tidak punya moral. Kepada Sotapanna lebih besar dari orang yang bermoral. Kepada seorang Sakadagami lebih besar dari 100 Sotapanna. Kepada seorang Anagami lebih besar dari 100 Sakadagami. Kepada seorang Arahat lebih besar dari 100 Anagami. Kepada seorang Paccekka Buddha lebih besar dari 100 Arahat. Kepada seorang Sammasam-buddha lebih besar dari 100 Paccekka Buddha. Berdana kepada Sangha lebih besar jasanya dari berdana kepada seorang Samma-sambuddha. Dana kepada Sangha tak pernah sia-sia, sekalipun sampai seratus ribu kalpa lamanya".

    Berdana kepada sangha itu lebih besar manfaatnya, karena tidak mengenal favoritisme. Berbeda dengan berdana hanya untuk seorang bhikkhu, yang disebut: Puggala Dana (dana untuk individu). Sang Buddha juga menguraikan, masih ada yang lebih besar jasanya daripada berdana untuk Sangha, yaitu melaksanakan sila, sebagai orang awam menjalankan Pancasila lebih besar manfaatnya daripada Sangha Dana, yaitu meditasi sampai mencapai Jhana (tingkatan konsentrasi). Dan yang lebih besar lagi adalah meditasi Vipassana, karena meditasi Vipassana ini akan menumbuhkan Panna (kebijaksanaan). Dengan Panna inilah yang akan dapat membebaskan seseorang dari dukkha untuk selama-lamanya (mencapai kebebasan sempurna nibbana).

    Sang Buddha pernah menyatakan, "Siapa yang suka berdana ia akan dicintai dan disukai". Ini manfaat yang langsung dapat dipetik pada kehidupan sekarang ini.

    Sedangkan manfaat yang dijelaskan dalam Nidhikhanda Sutta, Samyuta Nikaya I, 2: "Wajah cantik, suara merdu, kemolekkan dan kejelitaan, kekuasaan serta mempunyai banyak pengikut, semua itu dapat diperoleh dari pahala perbuatan baik, yaitu berdana".

    Ada kalanya, orang berdana hanya karena ingin dipuji dan dicintai, supada dapat terlahir dialam surga, supaya menjadi kaya dan mempunyai kekuasaan, maka orang itu hanya akan mendapatkan itu saja. Tetapi sesungguhnya ada tujuan yang tertinggi, yaitu untuk mengurangi keserakahan, kemelekatan, kekikiran, kebencian dan untuk dapat mencapai kebebasan (kesucian batin). Maka kalau cita-citanya tinggi seperti itu, tujuan yang tengah-tengah dan bawah pasti akan tercapai juga.

    Orang yang tak suka berdana yang walaupun kecil atau sedikit, ia akan besar keserakahannya, ia akan mengumpulkan dan terus mengumpulkan, nama, kekayaan, pangkat dan pujian. Ia senang mengumpulkan, bahkan mengumpulkan problem, kesan yang tidak baik, pengalaman pahit, kemarahan, kejengkelan dan ketidaksenangan. Orang yang tidak suka berdana ia akan menderita, karena tidak suka melepas miliknya, ia akan semakin melekat, karena tidak bisa melepaskan segalanya. Padahal apa yang kita cintai, apa yang kita miliki toh akhirnya akan ditinggalkan, tidak ada sedikitpun yang dibawa ke alam sana, yang dibawa hanyalah kamma baik dan kamma buruknya. Makan tidak enak, tidur pun tak nyenyak dengan tidak melepas kesan yang buruk, problem yang berhubungan dengan sesama makhluk akan menumbuhkan kebencian dan dendam. Janganlah semua itu disimpan, dikumpulkan, tetapi buang lepaskan semuanya, maka kita akan merasa lega, tentram, damai dan bahagia.

    Hidup ini sudah banyak macam persoalan alamiah, Sang Buddha mengatakan: "Hidup yang bagaimanapun bentuknya adalah dukkha, janganlah menambah persoalan ekstra, lepaskanlah semua itu". Dan kita bisa mulai berlatih untuk melepas dengan meningkatkan kemurahan hati dan mengurangi kekikiran juga kemelekatan dengan berdana (memberi kepada mereka yang patut menerima). Dana bukan berarti hanya berupa materiil semata: uang, makanan dan barang. Tetapi bisa juga berupa moril: nasehat-nasehat, pertolongan, dorongan, perhatian dan pemberian maaf. Kalau orang yang tidak pernah berdana, maka suatu saat kalau jasa kebaikannya habis pasti ia akan menderita, seperti contoh: Orang punya kacang lima butir, tapi kacang itu hanya dinikmati dan dimakan semuanya. Maka kacang itu habis, akan tetapi kalau misalnya kacang itu disisihkan satu atau dua butir dan ditanam diladang yang baik dan subur, maka kelak jika kacang itu berbuah akan dapat ia nikmati. Seperti halnya orang yang berdana, itu bagaikan orang menanam bibit.

    Orang berdana bagaikan menabung, yaitu menabung kamma baik yang akan bisa menolongnya dan yang akan menyelamatkannya.

    Menurut Dhamma, memberi bukan berarti berkurang, namun memberi sesungguhnya adalah bertambah (bertambah kamma baiknya). Didalam Kitab Itivutaka, 18 Sang Buddha menjelaskan: "Seandainya semua makhluk mengetahui seperti Aku (Tathagatha) mengetahui tentang manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati semua yang mereka miliki tanpa membaginya dengan makhluk lain (yang membutuhkan), juga tidak akan membiarkan noda kekikiran mengoda dan menetap didalam batinnya. Bahkan jika apa yang mereka miliki merupakan sedikit makanan terakhir yang dipunyai, mereka tidak akan menikmati tanpa membaginya (berdana), seandainya ada makhluk lain yang sangat membutuhkannya".

    Kita sebagai umat Buddha, mestinya harus mengerti manfaat yang paling besar dari berdana, yaitu: tidak hanya dipuji, terkenal, menjadi kaya dan terlahir di Alam Dewa. "Manfaat yang paling besar dari berdana adalah bebas dari kekotoran batin". Kalau ada orang berdana (memberi bantuan) hanya ingin dipuji, maka itu adalah sangatlah rendah, apalagi bila keinginannya untuk dipuji itu tidak didapatkan, pasti kecewa dan menderita.

    Menurut Dhamma, kalau seseorang ingin menjadi kaya, berjuanglah dengan sungguh-sungguh, kerja keras, rajin, tekun, ulet, hemat (tidak boros), jujur dan banyak berbuat baik. Cita-cita itu pasti akan tercapai, karena itu adalah hukumnya.

    Kekayaan tidak bisa didapat hanya dengan cara memohon, berdoa dan sembahyang, namun kekayaan bisa didapat kalau orang bekerja atau berkarya menurut hukum kebenaran.

Senin, 07 Maret 2011

Berdana Dengan Pengertian




Berdana Dengan Pengertian
Oleh: Yang Arya Bhikkhu Uttamo Thera
 

Berdana dan melaksanakan Dhamma adalah Berkah Utama Saat ini akan dijelaskan tentang Sangha Dana, atau mempersembahkan dana kepada anggota Sangha diluar masa Kathina. Walaupun saat tersebut sudah tidak lagi di bulan Kathina tetapi bukan berarti perbuatan baik yang akan dilakukan kemudian menjadi kecil manfaatnya. Sebagai gambaran, kita akan melihat permainan bulu tangkis. Dalam permainan ini ada beberapa peraturan dasar yang harus kita patuhi. Ada garisnya, ada cocknya, ada pemainnya, ada raket, kemudian pakaiannya pun khusus. Kita tidak dapat membayangkan andaikata permainan bulu tangkis ini tidak mempergunakan cock melainkan mempergunakan bola bekel, misalnya. Bagaimana bila bolanya di-smash dan kena kepala lawan main, pasti benjol! Bola bekel untuk bulu tangkis tidak akan cocok. Atau mungkin kita bisa membayangkan bulu tangkis dengan mempergunakan cock tetapi bulunya tinggal satu helai. Jadi kalau dipukul muntir-muntir. Tidak mungkin dipakai. Kita juga bisa tahu bahwa para pemain bulu tangkis membutuhkan pakaian tertentu, celana pendek dan kaos. Bayangkan saja bila kita sekarang bermain bulu tangkis dengan mengenakan jas. Juga tidak mungkin, memang bukan pada tempatnya. Demikianlah ibarat bermain bulu tangkis demikian pula berdana. Kalau kita melihat permainan bulu tangkis ada yang memukul dan ada pula yang menerima, pukul lagi, terima lagi, konsep berdana juga sama, ada yang memberi dan ada yang menerima. Tapi si penerima tidak hanya menerima saja melainkan juga diumpan kembali, terima lagi-umpan lagi, demikian seterusnya. Karena seperti bulu tangkis yang membutuhkan beberapa aturan, maka berdanapun untuk mencapai nilai puncak, mencapai point tinggi, juga membutuhkan peraturan ataupun persyaratan. Persyaratan pertama, dalam mempersembahkan dana kita hendaknya juga memperhatikan barang yang hendak didanakan. Barang yang kita persembahkan hendaknya barang yang bersih. Pengertian 'bersih' disini bukan berarti barang yang steril, misalnya piring yang disterilkan. 'Barang bersih' artinya kita mempersembahkan barang yang didapatkan dari perbuatan atau usaha yang baik, bukan dari mencuri maupun merampok. Namun sering muncul pertanyaan bagaimana kalau ada orang yang menjadi perampok budiman, merampoki orang kaya kemudian hasilnya dibagikan kepada orang yang miskin. Apakah perbuatan ini juga termasuk berdana? Sebenarnya perbuatan ini dapat dimasukkan sebagai berdana tetapi berdana yang tidak sehat. Kalau ibarat bulu tangkis tadi cocknya bulunya cuma satu helai, bisa dipergunakan untuk bermain, tetapi bila dipukul akan muntir, tidak karuan dan membingungkan. Jadi orang yang berdana bingung dan si penerima dana juga bingung. Dana dengan cara sebagai perampok budiman akan menghasilkan buah yang kecil. Hal ini disebabkan karena barang yang didanakan didapat dari tindakan yang tidak benar. Akan jauh lebih baik bila kita berdana dengan barang yang bersih, barang yang kita dapatkan dari hasil keringat kita sendiri. Barang hasil perjuangan kita sendiri inilah yang memiliki nilai tinggi sekali. Oleh karena itu, umat hendaknya mempersiapkan persembahan dana Kathina ini dengan matang. mempersiapkan diri jauh sebelum bulan Kathina datang. Menyiapkan diri dengan menabung setiap hari sebagian penghasilannya sehingga bila telah tiba hari Kathina, tabungan dibuka dan dipersembahkan.

Ada sebuah cerita dari negara Buddhis, Thailand. Di Thailand para bhikkhu biasanya setiap pagi keluar vihara untuk memberi kesempatan umat berbuat baik dengan mempersembahkan dana makan. Kegiatan ini disebut Pindapatta. Pada waktu Pindapatta para bhikkhu berjalan perlahan sambil membawa mangkuk melewati tempat-tempat umum, kampung dan pasar. Pada suatu saat pernah terjadi seorang bhikkhu yang sedang berjalan membawa mangkuknya. Ia melihat di pinggir sebuah jembatan ada seorang pengemis yang sedang duduk. Pengemis itu memang setiap hari kerjanya duduk di situ. Mengemis. Namun dia tidak pernah mengemis kepada para bhikkhu. Suatu hari pengemis ini hendak mempersembahkan dana makan berupa nasi bungkus kepada bhikkhu tersebut. Si bhikkhu kaget dan berusaha menghindari si pengemis. Si bhikkhu berpikir bahwa si pengemis ini sudah sulit hidupnya karena itu tidak perlu mempersembahkan dana makan kepadanya. Akan tetapi, si pengemis malah meratap dan bertanya apakah ia sebagai pengemis miskin tidak diberi kesempatan berbuat baik? Mendengar kata-kata si pengemis, sang bhikkhu timbullah hati welas asihnya dan diterimalah persembahan dana makan dari si pengemis. Ternyata, si pengemis memang telah bertekad bahwa sebagian dari jumlah uang yang diterimanya pada pagi itu akan dipersembahkan kepada bhikkhu. Dana semacam ini dapat dikelompokkan sebagai dana yang bersih. Dana yang bersih ini bila diibaratkan dengan cock bulu tangkis tadi adalah bagaikan cock yang baru, mulus, timbangannya cocok, tidak oleng-oleng kemana-mana. Oleh karena dana yang diberikan ini betul-betul mulus, murni dari hasil dirinya sendiri.

Persyaratan kedua, barangnya baik. Barang baik adalah barang yang tidak rusak sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tujuannya. Misalnya, kita sekarang bekerja keras karena mengetahui bahwa besok pagi akan mempersembahkan dana makan kepada para bhikkhu. Dengan hasil yang telah dikumpulkan, kita mempersiapkan makanan, tapi barangnya tidak baik, misalnya makanan yang sudah basi. Hal itu termasuk barang yang bersih tetapi bukan barang baik. Keadaan itu ibarat sebuah cock dengan timbangan baik, tetapi bulunya sudah kusut tidak karuan karena terkena banyak smash.

Selain barang bersih, barang baik, persyaratan ketiga adalah barang layak. Barang layak artinya adalah barang yang sesuai dengan si penerima. Pantas. Janganlah kita mempersembahkan sisir rambut kepada para bhikkhu. Sisir baru yang dibeli dengan uang hasil kerja dalam hal ini memang barang yang bersih dan baik tetapi tidak sesuai untuk dipergunakan para bhikkhu. Begitu pula dengan mempersembahkan dana sepatu kepada para bhikkhu, tidak layak, tidak pantas. Barang-barang semacam ini adalah barang yang tidak sesuai.

Oleh karena itu, sebelum kita mempersembahkan dana, hendaknya kita renungkan terlebih dahulu apakah barang yang kita persembahkan itu telah sesuai untuk para bhikkhu ataukah kurang sesuai. Sesungguhnya para bhikkhu hanya membutuhkan empat kebutuhan pokok saja yaitu sandang, pangan, papan dan obat-obatan. Tidak ada yang lain. Sandang atau pakaian untuk para bhikkhu hanyalah satu set jubah. Pangan atau makanan yang diperlukan oleh para bhikkhu juga agak terbatas, terbatas waktu makannya. Para bhikkhu paling banyak sehari hanya makan dua kali saja sebelum tengah hari. Setelah jam 12 siang, para bhikkhu berpuasa, tidak makan lagi, minum pun terbatas jenisnya. Papan atau tempat tinggal untuk para bhikkhu biasanya berupa vihara atau untuk beberapa waktu dapat tinggal di rumah yang disediakan oleh umat. Obat-obatan untuk para bhikkhu biasanya juga telah banyak tersedia di vihara. Keadaan ini kadang membuat para umat berpikir, bagaimana umat dapat ber-pindapatta, padahal umat sering baru mempunyai waktu ke vihara setelah jam 12 siang. Kemudian umat juga melihat bahwa para bhikkhu telah memiliki cukup sandang, pangan, dan papan atau tempat tinggal, serta obat-obatan di vihara. Sedangkan kebutuhan para bhikkhu hanyalah empat saja, dan kebutuhan ini pun tidak selalu diperlukan setiap saat, kecuali kebutuhan pangan. Oleh karena itu, kemudian umat mewujudkan empat kebutuhan pokok, sandang, pangan, papan dan obat-obatan ini dalam bentuk materi penggantinya atau dalam bentuk uang. Persembahan empat kebutuhan pokok dalam bentuk uang ini kemudian dimasukkan ke dalam amplop. Namun, walaupun pada waktu itu yang dipersembahkan adalah uang hendaknya dalam pikiran kita tetap merenungkan bahwa kita berdana empat kebutuhan pokok yaitu, sandang, pangan, papan dan obat-obatan seharga nilai nominal uang yang dipersembahkan. Dengan mengingat hukum sebab dan akibat bahwa sesuai dengan benih yang ditanam demikian pula buah yang akan dipetik, persembahan dana empat kebutuhan pokok itu akan dapat membuahkan kebahagiaan dalam bentuk kecukupan empat kebutuhan pokok dalam kehidupan kita. Sandangnya banyak macam, makanannya berlimpah ruah, tempat tinggalnya lebih dari satu, fasilitas obat-obatan lengkap, dapat berobat kemana-mana.

Berbicara tentang barang yang kita berikan kalau ibarat bulutangkis tadi adalah bolanya, maka disamping itu, bulutangkis juga perlu memperhatikan ketepatan waktu. Waktu memukul bola hendaknya dilakukan bila bola sudah datang, jangan bolanya masih dipegang musuh, kita sudah memukulnya, ketika bola datang kita malah diam tidak bergerak. Hal ini salah. Jadi, waktu atau saat memukul ini penting. Demikian pula, kapankah waktu kita berdana? Segera dilaksanakan, adalah merupakan persyaratan yang keempat. Apabila pikiran baik kita muncul, pada saat itu juga segera kerjakanlah. Jikalau kita menunda mengerjakan suatu perbuatan baik maka ada kemungkinan kita malahan membatalkan niat melakukan perbuatan baik itu, pikiran memang mudah berubah. Pikiran yang baik bila diproses secara lambat malahan hasilnya kita tidak jadi melakukan perbuatan apa-apa. Oleh karena itu, kapankah kita melakukan perbuatan baik? Pada saat terpikir, pada saat itu juga! Tidak perlu menunggu waktu lagi. Misalnya, kita akan berdana kepada para bhikkhu, tidak perlu menunggu nanti hari Kathina tahun depan saja. Kalau kita masih hidup. Kalau sudah meninggal? Hilanglah kesempatan kita berbuat baik. Kita juga tidak perlu menunggu jumlah bhikkhu yang hadir genap sembilan orang. Kalau bhikkhunya tidka datang semua? Atau kita harus menunggu kalau jumlah bhikkhunya mencapai empat orang karena jumlah itulah yang dapat disebut dengan Sangha. Itupun pendapat yang salah. Biarlah, seadanya bhikkhu saja. Justru bukan jumlah bhikkhu yang perlu kita pikirkan tetapi menjaga kondisi pikiran kita agar tetap memiliki niat baik itulah yang penting. Oleh karena itu, bila pikiran baik muncul, segera kerjakanlah.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul keinginan berdana tetapi jarang menjumpai bhikkhu. Kesulitan ini dapat diatasi dengan cara mempersiapkan di rumah sebuah kotak dana terkunci. Anak kunci kotak ini dapat dititipkan pada seorang bhikkhu atau di vihara, misalnya. Jadi begitu timbul pikiran baik segera masukkan uang ke kotak dana tadi. Perbuatan ini dapat kita ulang setiap saat. Bila telah dirasa cukup dan masanya pun telah tiba, bolehlah kotak dana tadi dibuka dan isinya diserahkan ke vihara. Beres. Oleh karena itu, dalam berbuat kebaikan, hendaknya barangnya baik, bersih, sesuai, kemudian waktunya pun hendaknya segera dilaksanakan.

Sebagai persyaratan kelima, persembahan hendaknya sering dilakukan. Artinya bukan berdana sekali seumur hidup dalam jumlah sebesar-besarnya kemudian tidak pernah melaksanakannya lagi. Itu keliru. Contohnya, seseorang melaksanakan pelepasan satwa sejumlah 1000 ekor burung tetapi kemudian seumur hidup sudah tidak pernah dilakukannya lagi. Sikap ini juga kurang tepat, hal ini berarti orang hanya mempunyai pikiran dan perbuatan baik sekali itu saja. Dalam pengertian agama Buddha kita hendaknya sering memberi kondisi pikiran dan perbuatan kita untuk melakukan kebaikan. Jadi, kalau memang kita telah bertekad dalam satu tahun akan membebaskan makhluk sebanyak seribu ekor, maka cobalah dibagi menjadi 20 kali melepas, misalnya; jadi setiap kali melepas sekitar 50 ekor. Dengan demikian, pikiran akan terkondisi untuk lebih sering berbuat baik. Jadi sering-seringlah untuk melakukan kebaikan seperti badminton yang tidak gampang turun bolanya karena para pemainnya trampil mengolah bola. Itu baru permainan menarik. Tapi apabila baru sekali pukul kemudian bolanya sudah jatuh, dipukul lagi, jatuh lagi. Sungguh permainan yang tidak menarik. Hal itu sama dengan orang yang setahun sekali baru berbuat baik, kurang besar manfaat bagi dirinya.

Apabila kita telah dapat melaksanakan dana secara rutin, maka hendaknya kita berdana dengan pikiran yang baik. Pikiran yang baik adalah persyaratan keenam. Diibaratkan pakaian orang bermain badminton harus bercelana pendek dan memakai kaos olah raga. Sulit dibayangkan bila seseorang hanya memakai salah satu dari pakaian perlengkapan bermain badminton tadi. Hanya pakai celana tanpa baju atau mengenakan baju tanpa celana.... Pikiran yang baik ini adalah pikiran bahagia pada saat kita mempersiapkan, mempersembahkan dan setelah mempersembahkan dana. Ada sebuah cerita tentang orang yang berdana. Hatinya senang ketika sedang mempersiapkan dana. Pada waktu mempersembahkan dana, ia masih merasa senang, namun setelah mempersembahkan dana timbullah penyesalan. Kondisi pikiran ini akan membuahkan kelahiran kembali sebagai anak orang kaya. Sejak kecil banyak harta dimilikinya. Kondisi kebahagian ini berlangsung sampai dengan ia dewasa. Akan tetapi, di masa tuanya ia jatuh miskin. Penderitaan di hari tua ini adalah buah penyesalannya setelah mempersembahkan dana tadi.

Sebaliknya, ada orang pada awalnya merasa tidak senang melakukan perbuatan baik. Pada waktu mempersembahkan dana juga memiliki pikiran yang kurang simpatik. Namun, setelah mempersembahkan dana ia merasakan kebahagiaan. Apakah buah karma pikiran semacam ini? Apabila ia terlahir kembali maka dimasa kecilnya ia menderita; pada usia dewasa ia juga masih menderita namun dihari tuanya ia akan berbahagia. Jadi kondiisi pikiran sebelum mempersembahkan dana mewakili keadaan kita di masa kecil dalam kehidupan yang akan datang. Kondisi pikiran ketika mempersembahkan dana mewakili usia dewasa. Kondisi pikiran setelah mempersembahkan dana mewakili usia tua. Oleh karena itu, sejak kecil, dewasa, sampai tua bahkan seumur hidup kita akan bahagia bila pada waktu mempersiapkan, mempersembahkan dan setelah mempersembahkan dana pikiran kita selalu berbahagia.

Kembali tentang perumpamaan permainan bulu tangkis. Dalam permainan ini dibutuhkan para pemain. Para pemain hendaknya telah mengetahui aturan mainnya. Dengan mengikuti aturan main bulu tangkis maka permainan akan tertib, tidak kacau. Begitu pula dalam berdana, si pemberi dan si penerima hendaknya mempunyai kemoralan sila yang sama, minimal Pancasila Buddhis. Oleh karena itu, masalah tentang perampok budiman di atas adalah seperti permainan bulu tangkis yang tidak seimbang pemainnya. Seperti orang yang pandai badminton melawan orang yang baru saja belajar. Pusing. Demikian pula perampok yang mempersembahkan hasil rampokannya untuk vihara.

Begitu pula bila seorang wanita tuna susila mempersembahkan dana. Dana yang dipersembahkan diperoleh dari perbuatan yang melanggar sila. Memang dana itu masih tetap dapat diterima, sebab bila tidak diterima, kapan lagi mereka memiliki kesempatan berbuat baik dan memperbaiki keadaan? Jadi walaupun orang yang diberi dan yang memberi ini tidak seimbang, tetapi tetap, tetap bisa membawa manfaat. Seperti orang main badminton yang satu mengenakan jas sedangkan pemain yang lainnya mengenakan pakaian olah raga. Juga tidak apa-apa, masih tetap bisa bermain, hanya saja tidak seimbang.

Oleh karena itu, sebaiknya sebelum berdana kita memohon sila terlebih dahulu, minimal Pancasila Buddhis. Walaupun di luar gerbang Vihara ini kita telah melanggar salah satu sila atau bahkan kelima-limanya, tetapi kalau di dalam kompleks Vihara hendaknya kemoralan kita diperbaiki. Caranya adalah dengan memohon tuntunan Pancasila Buddhis yang terdiri dari tekad untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, bohong dan mabuk-mabukkan. Dengan menjalankan tuntunan itu, minimal selama dalam kompleks Vihara kemoralan kita menjadi lebih baik. Sehingga antara fihak yang memberi dan yang diberi sudah seimbang kemoralannya. Hal ini akan memperbesar manfaat dan buah kebjikannya. Permainan badmintonnya akan enak dinikmati. Para umat memberi, para bhikkhu pun memberi. Para umat memberikan materi yang diperoleh dari bekerja keras dalam masyarakat. Sedangkan para bhikkhu memberikan buah kebajikan yang besar kepada para umat yaitu dengan cara pengolahan diri sesuai Ajaran Sang Buddha, pelaksanaan kemoralan dengan sebaik-baiknya. Sehingga para umat benar-benar seperti menanam di ladang yang subur. Dana dari umat akan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sepiring nasi yang dipersembahkan bukan hanya untuk main-main tetapi akan diolah oleh tubuh para bhikkhu menjadi tenaga untuk menjaga kesehatan, menyambung kehidupan dan sekaligus untuk tenaga membabarkan Buddha Dhamma. Dengan demikian, sepiring nasi yang dipersembahkan, nilainya bukan lagi harga nominal sepiring nasi sewaktu dibeli. Bukan. Sepiring nasi ini nilainya menjadi nilai Dhamma, karena telah diubah menjadi tenaga untuk membabarkan dan melestarikan Buddha Dhamma. Di dalam Dhammapada XXIV, 21 dikatakan bahwa Pemberian Kebenaran (Dhamma) mengalahkan segenap pemberian lainnya. Dengan sepiring nasi yang dipersembahkan kepada para bhikkhu sama dengan melaksanakan Dhammadana. Jenis dana yang paling tinggi untuk dipersembahkan. Dengan menerima persembahan kebutuhan sandang, pangan, papan dan obat-obatan, para bhikkhu dapat memanfaatkannya untuk pembabaran Dhamma di daerah-daerah lain. Dengan demikian, hasil setiap tetes keringat yang diberikan kepada para bhikkhu akan diubah menjadi Dhammadana. Buah Dhammadana ini juga akan dinikmati sendiri oleh si pemberi dalam kehidupan ini.

Itulah hal yang bisa dilakukan dalam permainan bulu tangkis perbuatan baik ini. Para umat memberikan dukungan moral, kemudian memberikan dukungan material, menunjang kehidupan para bhikkhu. Para bhikkhu pun memberikan dukungan mental kepada para umat dengan memberikan contoh moral serta berjuang dalam kebajikan. Para bhikkhu pun selalu merenungkan dan mengingatkan diri sendiri, bahwa para umat telah menunjang kehidupan para bhikkhu selama menjalani kehidupan kebhikkhuan. Jadi, bila seorang bhikkhu telah 23 tahun menjadi bhikkhu, berarti selama 23 tahun pula hidupnya disokong oleh umat. Padahal, para umat bukanlah sanak maupun keluarganya. Umat dengan rela dan ikhlas telah menyantuni kehidupan para bhikkhu sampai sekian lama. Apakah sekarang balas jasa para bhikkhu kepada umat? Seperti dalam permainan bulu tangkis tadi, bila seorang pemain setelah mendapatkan bola hendaknya segera mengembalikannya kepada pemain yang lain. Demikian pula dengan para bhikkhu, setelah menerima persembahan hendaknya mengembalikannya lagi kepada umat dengan cara meningkatkan semaksimal mungkin perjuangan dalam Dhamma dan pelaksanaan peraturan kemoralan. Sehingga semakin banyak umat menanam kebajikan, semakin lebat pula buah kebajikan yang diterimanya.

Dalam Manggala Sutta disebutkan bahwa berdana dan melaksanakan Dhamma adalah Berkah Utama. Para umat Buddha yang melaksanakan Dhamma dengan mempersembahkan dana kepada Sangha dapat juga disebut sebagai Dhammadana. Sebab, apapun yang dipersembahkan kepada para bhikkhu akan diubah menjadi Dhammadana, menjadi sarana pembabaran Dhamma kepada orang lain sehingga buah lebatnya akan dapat dimiliki si pemberi.

Berdana dan melaksanakan Dhamma adalah Berkah Utama Saat ini akan dijelaskan tentang Sangha Dana, atau mempersembahkan dana kepada anggota Sangha diluar masa Kathina. Walaupun saat tersebut sudah tidak lagi di bulan Kathina tetapi bukan berarti perbuatan baik yang akan dilakukan kemudian menjadi kecil manfaatnya. Sebagai gambaran, kita akan melihat permainan bulu tangkis. Dalam permainan ini ada beberapa peraturan dasar yang harus kita patuhi. Ada garisnya, ada cocknya, ada pemainnya, ada raket, kemudian pakaiannya pun khusus. Kita tidak dapat membayangkan andaikata permainan bulu tangkis ini tidak mempergunakan cock melainkan mempergunakan bola bekel, misalnya. Bagaimana bila bolanya di-smash dan kena kepala lawan main, pasti benjol! Bola bekel untuk bulu tangkis tidak akan cocok. Atau mungkin kita bisa membayangkan bulu tangkis dengan mempergunakan cock tetapi bulunya tinggal satu helai. Jadi kalau dipukul muntir-muntir. Tidak mungkin dipakai. Kita juga bisa tahu bahwa para pemain bulu tangkis membutuhkan pakaian tertentu, celana pendek dan kaos. Bayangkan saja bila kita sekarang bermain bulu tangkis dengan mengenakan jas. Juga tidak mungkin, memang bukan pada tempatnya. Demikianlah ibarat bermain bulu tangkis demikian pula berdana. Kalau kita melihat permainan bulu tangkis ada yang memukul dan ada pula yang menerima, pukul lagi, terima lagi, konsep berdana juga sama, ada yang memberi dan ada yang menerima. Tapi si penerima tidak hanya menerima saja melainkan juga diumpan kembali, terima lagi-umpan lagi, demikian seterusnya. Karena seperti bulu tangkis yang membutuhkan beberapa aturan, maka berdanapun untuk mencapai nilai puncak, mencapai point tinggi, juga membutuhkan peraturan ataupun persyaratan. Persyaratan pertama, dalam mempersembahkan dana kita hendaknya juga memperhatikan barang yang hendak didanakan. Barang yang kita persembahkan hendaknya barang yang bersih. Pengertian 'bersih' disini bukan berarti barang yang steril, misalnya piring yang disterilkan. 'Barang bersih' artinya kita mempersembahkan barang yang didapatkan dari perbuatan atau usaha yang baik, bukan dari mencuri maupun merampok. Namun sering muncul pertanyaan bagaimana kalau ada orang yang menjadi perampok budiman, merampoki orang kaya kemudian hasilnya dibagikan kepada orang yang miskin. Apakah perbuatan ini juga termasuk berdana? Sebenarnya perbuatan ini dapat dimasukkan sebagai berdana tetapi berdana yang tidak sehat. Kalau ibarat bulu tangkis tadi cocknya bulunya cuma satu helai, bisa dipergunakan untuk bermain, tetapi bila dipukul akan muntir, tidak karuan dan membingungkan. Jadi orang yang berdana bingung dan si penerima dana juga bingung. Dana dengan cara sebagai perampok budiman akan menghasilkan buah yang kecil. Hal ini disebabkan karena barang yang didanakan didapat dari tindakan yang tidak benar. Akan jauh lebih baik bila kita berdana dengan barang yang bersih, barang yang kita dapatkan dari hasil keringat kita sendiri. Barang hasil perjuangan kita sendiri inilah yang memiliki nilai tinggi sekali. Oleh karena itu, umat hendaknya mempersiapkan persembahan dana Kathina ini dengan matang. mempersiapkan diri jauh sebelum bulan Kathina datang. Menyiapkan diri dengan menabung setiap hari sebagian penghasilannya sehingga bila telah tiba hari Kathina, tabungan dibuka dan dipersembahkan.

Ada sebuah cerita dari negara Buddhis, Thailand. Di Thailand para bhikkhu biasanya setiap pagi keluar vihara untuk memberi kesempatan umat berbuat baik dengan mempersembahkan dana makan. Kegiatan ini disebut Pindapatta. Pada waktu Pindapatta para bhikkhu berjalan perlahan sambil membawa mangkuk melewati tempat-tempat umum, kampung dan pasar. Pada suatu saat pernah terjadi seorang bhikkhu yang sedang berjalan membawa mangkuknya. Ia melihat di pinggir sebuah jembatan ada seorang pengemis yang sedang duduk. Pengemis itu memang setiap hari kerjanya duduk di situ. Mengemis. Namun dia tidak pernah mengemis kepada para bhikkhu. Suatu hari pengemis ini hendak mempersembahkan dana makan berupa nasi bungkus kepada bhikkhu tersebut. Si bhikkhu kaget dan berusaha menghindari si pengemis. Si bhikkhu berpikir bahwa si pengemis ini sudah sulit hidupnya karena itu tidak perlu mempersembahkan dana makan kepadanya. Akan tetapi, si pengemis malah meratap dan bertanya apakah ia sebagai pengemis miskin tidak diberi kesempatan berbuat baik? Mendengar kata-kata si pengemis, sang bhikkhu timbullah hati welas asihnya dan diterimalah persembahan dana makan dari si pengemis. Ternyata, si pengemis memang telah bertekad bahwa sebagian dari jumlah uang yang diterimanya pada pagi itu akan dipersembahkan kepada bhikkhu. Dana semacam ini dapat dikelompokkan sebagai dana yang bersih. Dana yang bersih ini bila diibaratkan dengan cock bulu tangkis tadi adalah bagaikan cock yang baru, mulus, timbangannya cocok, tidak oleng-oleng kemana-mana. Oleh karena dana yang diberikan ini betul-betul mulus, murni dari hasil dirinya sendiri.

Persyaratan kedua, barangnya baik. Barang baik adalah barang yang tidak rusak sehingga dapat dipergunakan sesuai dengan tujuannya. Misalnya, kita sekarang bekerja keras karena mengetahui bahwa besok pagi akan mempersembahkan dana makan kepada para bhikkhu. Dengan hasil yang telah dikumpulkan, kita mempersiapkan makanan, tapi barangnya tidak baik, misalnya makanan yang sudah basi. Hal itu termasuk barang yang bersih tetapi bukan barang baik. Keadaan itu ibarat sebuah cock dengan timbangan baik, tetapi bulunya sudah kusut tidak karuan karena terkena banyak smash.

Selain barang bersih, barang baik, persyaratan ketiga adalah barang layak. Barang layak artinya adalah barang yang sesuai dengan si penerima. Pantas. Janganlah kita mempersembahkan sisir rambut kepada para bhikkhu. Sisir baru yang dibeli dengan uang hasil kerja dalam hal ini memang barang yang bersih dan baik tetapi tidak sesuai untuk dipergunakan para bhikkhu. Begitu pula dengan mempersembahkan dana sepatu kepada para bhikkhu, tidak layak, tidak pantas. Barang-barang semacam ini adalah barang yang tidak sesuai.

Oleh karena itu, sebelum kita mempersembahkan dana, hendaknya kita renungkan terlebih dahulu apakah barang yang kita persembahkan itu telah sesuai untuk para bhikkhu ataukah kurang sesuai. Sesungguhnya para bhikkhu hanya membutuhkan empat kebutuhan pokok saja yaitu sandang, pangan, papan dan obat-obatan. Tidak ada yang lain. Sandang atau pakaian untuk para bhikkhu hanyalah satu set jubah. Pangan atau makanan yang diperlukan oleh para bhikkhu juga agak terbatas, terbatas waktu makannya. Para bhikkhu paling banyak sehari hanya makan dua kali saja sebelum tengah hari. Setelah jam 12 siang, para bhikkhu berpuasa, tidak makan lagi, minum pun terbatas jenisnya. Papan atau tempat tinggal untuk para bhikkhu biasanya berupa vihara atau untuk beberapa waktu dapat tinggal di rumah yang disediakan oleh umat. Obat-obatan untuk para bhikkhu biasanya juga telah banyak tersedia di vihara. Keadaan ini kadang membuat para umat berpikir, bagaimana umat dapat ber-pindapatta, padahal umat sering baru mempunyai waktu ke vihara setelah jam 12 siang. Kemudian umat juga melihat bahwa para bhikkhu telah memiliki cukup sandang, pangan, dan papan atau tempat tinggal, serta obat-obatan di vihara. Sedangkan kebutuhan para bhikkhu hanyalah empat saja, dan kebutuhan ini pun tidak selalu diperlukan setiap saat, kecuali kebutuhan pangan. Oleh karena itu, kemudian umat mewujudkan empat kebutuhan pokok, sandang, pangan, papan dan obat-obatan ini dalam bentuk materi penggantinya atau dalam bentuk uang. Persembahan empat kebutuhan pokok dalam bentuk uang ini kemudian dimasukkan ke dalam amplop. Namun, walaupun pada waktu itu yang dipersembahkan adalah uang hendaknya dalam pikiran kita tetap merenungkan bahwa kita berdana empat kebutuhan pokok yaitu, sandang, pangan, papan dan obat-obatan seharga nilai nominal uang yang dipersembahkan. Dengan mengingat hukum sebab dan akibat bahwa sesuai dengan benih yang ditanam demikian pula buah yang akan dipetik, persembahan dana empat kebutuhan pokok itu akan dapat membuahkan kebahagiaan dalam bentuk kecukupan empat kebutuhan pokok dalam kehidupan kita. Sandangnya banyak macam, makanannya berlimpah ruah, tempat tinggalnya lebih dari satu, fasilitas obat-obatan lengkap, dapat berobat kemana-mana.

Berbicara tentang barang yang kita berikan kalau ibarat bulutangkis tadi adalah bolanya, maka disamping itu, bulutangkis juga perlu memperhatikan ketepatan waktu. Waktu memukul bola hendaknya dilakukan bila bola sudah datang, jangan bolanya masih dipegang musuh, kita sudah memukulnya, ketika bola datang kita malah diam tidak bergerak. Hal ini salah. Jadi, waktu atau saat memukul ini penting. Demikian pula, kapankah waktu kita berdana? Segera dilaksanakan, adalah merupakan persyaratan yang keempat. Apabila pikiran baik kita muncul, pada saat itu juga segera kerjakanlah. Jikalau kita menunda mengerjakan suatu perbuatan baik maka ada kemungkinan kita malahan membatalkan niat melakukan perbuatan baik itu, pikiran memang mudah berubah. Pikiran yang baik bila diproses secara lambat malahan hasilnya kita tidak jadi melakukan perbuatan apa-apa. Oleh karena itu, kapankah kita melakukan perbuatan baik? Pada saat terpikir, pada saat itu juga! Tidak perlu menunggu waktu lagi. Misalnya, kita akan berdana kepada para bhikkhu, tidak perlu menunggu nanti hari Kathina tahun depan saja. Kalau kita masih hidup. Kalau sudah meninggal? Hilanglah kesempatan kita berbuat baik. Kita juga tidak perlu menunggu jumlah bhikkhu yang hadir genap sembilan orang. Kalau bhikkhunya tidka datang semua? Atau kita harus menunggu kalau jumlah bhikkhunya mencapai empat orang karena jumlah itulah yang dapat disebut dengan Sangha. Itupun pendapat yang salah. Biarlah, seadanya bhikkhu saja. Justru bukan jumlah bhikkhu yang perlu kita pikirkan tetapi menjaga kondisi pikiran kita agar tetap memiliki niat baik itulah yang penting. Oleh karena itu, bila pikiran baik muncul, segera kerjakanlah.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering muncul keinginan berdana tetapi jarang menjumpai bhikkhu. Kesulitan ini dapat diatasi dengan cara mempersiapkan di rumah sebuah kotak dana terkunci. Anak kunci kotak ini dapat dititipkan pada seorang bhikkhu atau di vihara, misalnya. Jadi begitu timbul pikiran baik segera masukkan uang ke kotak dana tadi. Perbuatan ini dapat kita ulang setiap saat. Bila telah dirasa cukup dan masanya pun telah tiba, bolehlah kotak dana tadi dibuka dan isinya diserahkan ke vihara. Beres. Oleh karena itu, dalam berbuat kebaikan, hendaknya barangnya baik, bersih, sesuai, kemudian waktunya pun hendaknya segera dilaksanakan.

Sebagai persyaratan kelima, persembahan hendaknya sering dilakukan. Artinya bukan berdana sekali seumur hidup dalam jumlah sebesar-besarnya kemudian tidak pernah melaksanakannya lagi. Itu keliru. Contohnya, seseorang melaksanakan pelepasan satwa sejumlah 1000 ekor burung tetapi kemudian seumur hidup sudah tidak pernah dilakukannya lagi. Sikap ini juga kurang tepat, hal ini berarti orang hanya mempunyai pikiran dan perbuatan baik sekali itu saja. Dalam pengertian agama Buddha kita hendaknya sering memberi kondisi pikiran dan perbuatan kita untuk melakukan kebaikan. Jadi, kalau memang kita telah bertekad dalam satu tahun akan membebaskan makhluk sebanyak seribu ekor, maka cobalah dibagi menjadi 20 kali melepas, misalnya; jadi setiap kali melepas sekitar 50 ekor. Dengan demikian, pikiran akan terkondisi untuk lebih sering berbuat baik. Jadi sering-seringlah untuk melakukan kebaikan seperti badminton yang tidak gampang turun bolanya karena para pemainnya trampil mengolah bola. Itu baru permainan menarik. Tapi apabila baru sekali pukul kemudian bolanya sudah jatuh, dipukul lagi, jatuh lagi. Sungguh permainan yang tidak menarik. Hal itu sama dengan orang yang setahun sekali baru berbuat baik, kurang besar manfaat bagi dirinya.

Apabila kita telah dapat melaksanakan dana secara rutin, maka hendaknya kita berdana dengan pikiran yang baik. Pikiran yang baik adalah persyaratan keenam. Diibaratkan pakaian orang bermain badminton harus bercelana pendek dan memakai kaos olah raga. Sulit dibayangkan bila seseorang hanya memakai salah satu dari pakaian perlengkapan bermain badminton tadi. Hanya pakai celana tanpa baju atau mengenakan baju tanpa celana.... Pikiran yang baik ini adalah pikiran bahagia pada saat kita mempersiapkan, mempersembahkan dan setelah mempersembahkan dana. Ada sebuah cerita tentang orang yang berdana. Hatinya senang ketika sedang mempersiapkan dana. Pada waktu mempersembahkan dana, ia masih merasa senang, namun setelah mempersembahkan dana timbullah penyesalan. Kondisi pikiran ini akan membuahkan kelahiran kembali sebagai anak orang kaya. Sejak kecil banyak harta dimilikinya. Kondisi kebahagian ini berlangsung sampai dengan ia dewasa. Akan tetapi, di masa tuanya ia jatuh miskin. Penderitaan di hari tua ini adalah buah penyesalannya setelah mempersembahkan dana tadi.

Sebaliknya, ada orang pada awalnya merasa tidak senang melakukan perbuatan baik. Pada waktu mempersembahkan dana juga memiliki pikiran yang kurang simpatik. Namun, setelah mempersembahkan dana ia merasakan kebahagiaan. Apakah buah karma pikiran semacam ini? Apabila ia terlahir kembali maka dimasa kecilnya ia menderita; pada usia dewasa ia juga masih menderita namun dihari tuanya ia akan berbahagia. Jadi kondiisi pikiran sebelum mempersembahkan dana mewakili keadaan kita di masa kecil dalam kehidupan yang akan datang. Kondisi pikiran ketika mempersembahkan dana mewakili usia dewasa. Kondisi pikiran setelah mempersembahkan dana mewakili usia tua. Oleh karena itu, sejak kecil, dewasa, sampai tua bahkan seumur hidup kita akan bahagia bila pada waktu mempersiapkan, mempersembahkan dan setelah mempersembahkan dana pikiran kita selalu berbahagia.

Kembali tentang perumpamaan permainan bulu tangkis. Dalam permainan ini dibutuhkan para pemain. Para pemain hendaknya telah mengetahui aturan mainnya. Dengan mengikuti aturan main bulu tangkis maka permainan akan tertib, tidak kacau. Begitu pula dalam berdana, si pemberi dan si penerima hendaknya mempunyai kemoralan sila yang sama, minimal Pancasila Buddhis. Oleh karena itu, masalah tentang perampok budiman di atas adalah seperti permainan bulu tangkis yang tidak seimbang pemainnya. Seperti orang yang pandai badminton melawan orang yang baru saja belajar. Pusing. Demikian pula perampok yang mempersembahkan hasil rampokannya untuk vihara.

Begitu pula bila seorang wanita tuna susila mempersembahkan dana. Dana yang dipersembahkan diperoleh dari perbuatan yang melanggar sila. Memang dana itu masih tetap dapat diterima, sebab bila tidak diterima, kapan lagi mereka memiliki kesempatan berbuat baik dan memperbaiki keadaan? Jadi walaupun orang yang diberi dan yang memberi ini tidak seimbang, tetapi tetap, tetap bisa membawa manfaat. Seperti orang main badminton yang satu mengenakan jas sedangkan pemain yang lainnya mengenakan pakaian olah raga. Juga tidak apa-apa, masih tetap bisa bermain, hanya saja tidak seimbang.

Oleh karena itu, sebaiknya sebelum berdana kita memohon sila terlebih dahulu, minimal Pancasila Buddhis. Walaupun di luar gerbang Vihara ini kita telah melanggar salah satu sila atau bahkan kelima-limanya, tetapi kalau di dalam kompleks Vihara hendaknya kemoralan kita diperbaiki. Caranya adalah dengan memohon tuntunan Pancasila Buddhis yang terdiri dari tekad untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, bohong dan mabuk-mabukkan. Dengan menjalankan tuntunan itu, minimal selama dalam kompleks Vihara kemoralan kita menjadi lebih baik. Sehingga antara fihak yang memberi dan yang diberi sudah seimbang kemoralannya. Hal ini akan memperbesar manfaat dan buah kebjikannya. Permainan badmintonnya akan enak dinikmati. Para umat memberi, para bhikkhu pun memberi. Para umat memberikan materi yang diperoleh dari bekerja keras dalam masyarakat. Sedangkan para bhikkhu memberikan buah kebajikan yang besar kepada para umat yaitu dengan cara pengolahan diri sesuai Ajaran Sang Buddha, pelaksanaan kemoralan dengan sebaik-baiknya. Sehingga para umat benar-benar seperti menanam di ladang yang subur. Dana dari umat akan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sepiring nasi yang dipersembahkan bukan hanya untuk main-main tetapi akan diolah oleh tubuh para bhikkhu menjadi tenaga untuk menjaga kesehatan, menyambung kehidupan dan sekaligus untuk tenaga membabarkan Buddha Dhamma. Dengan demikian, sepiring nasi yang dipersembahkan, nilainya bukan lagi harga nominal sepiring nasi sewaktu dibeli. Bukan. Sepiring nasi ini nilainya menjadi nilai Dhamma, karena telah diubah menjadi tenaga untuk membabarkan dan melestarikan Buddha Dhamma. Di dalam Dhammapada XXIV, 21 dikatakan bahwa Pemberian Kebenaran (Dhamma) mengalahkan segenap pemberian lainnya. Dengan sepiring nasi yang dipersembahkan kepada para bhikkhu sama dengan melaksanakan Dhammadana. Jenis dana yang paling tinggi untuk dipersembahkan. Dengan menerima persembahan kebutuhan sandang, pangan, papan dan obat-obatan, para bhikkhu dapat memanfaatkannya untuk pembabaran Dhamma di daerah-daerah lain. Dengan demikian, hasil setiap tetes keringat yang diberikan kepada para bhikkhu akan diubah menjadi Dhammadana. Buah Dhammadana ini juga akan dinikmati sendiri oleh si pemberi dalam kehidupan ini.

Itulah hal yang bisa dilakukan dalam permainan bulu tangkis perbuatan baik ini. Para umat memberikan dukungan moral, kemudian memberikan dukungan material, menunjang kehidupan para bhikkhu. Para bhikkhu pun memberikan dukungan mental kepada para umat dengan memberikan contoh moral serta berjuang dalam kebajikan. Para bhikkhu pun selalu merenungkan dan mengingatkan diri sendiri, bahwa para umat telah menunjang kehidupan para bhikkhu selama menjalani kehidupan kebhikkhuan. Jadi, bila seorang bhikkhu telah 23 tahun menjadi bhikkhu, berarti selama 23 tahun pula hidupnya disokong oleh umat. Padahal, para umat bukanlah sanak maupun keluarganya. Umat dengan rela dan ikhlas telah menyantuni kehidupan para bhikkhu sampai sekian lama. Apakah sekarang balas jasa para bhikkhu kepada umat? Seperti dalam permainan bulu tangkis tadi, bila seorang pemain setelah mendapatkan bola hendaknya segera mengembalikannya kepada pemain yang lain. Demikian pula dengan para bhikkhu, setelah menerima persembahan hendaknya mengembalikannya lagi kepada umat dengan cara meningkatkan semaksimal mungkin perjuangan dalam Dhamma dan pelaksanaan peraturan kemoralan. Sehingga semakin banyak umat menanam kebajikan, semakin lebat pula buah kebajikan yang diterimanya.

Dalam Manggala Sutta disebutkan bahwa berdana dan melaksanakan Dhamma adalah Berkah Utama. Para umat Buddha yang melaksanakan Dhamma dengan mempersembahkan dana kepada Sangha dapat juga disebut sebagai Dhammadana. Sebab, apapun yang dipersembahkan kepada para bhikkhu akan diubah menjadi Dhammadana, menjadi sarana pembabaran Dhamma kepada orang lain sehingga buah lebatnya akan dapat dimiliki si pemberi.

[ Dikutip dari Website Samaggi-Phala WWW.samaggi-phala.or.id ]