Tampilkan postingan dengan label zen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zen. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Agustus 2011

Bodhidharma, Sesepuh Zen



Bodhidharma, Sesepuh Zen



Agama  Buddha Chan (Chan Zhong) sebuah tradisi utama lainnya dari agama Buddha Mahayana, muncul sebagai akibat kunjungan bersejarah ke Tiongkok yang dilakukan oleh seorang suciwan agung dari India, Bodhidharma. Bodhidharma tiba di Kanton (Guang Dong) pada tahun 520 Masehi. Chan adalah terjemahan dari istilah Sanskerta DHYANA, yang berarti meditasi. Dengan demikian, agama Buddha Chan mensyaratkan para umatnya untuk mempraktikkan praktik-praktik meditasi yang ketat dan dalam, yang memotong habis intelektualisme. Ini terkadang membuat orang menjadi percaya bahwa praktik ini sangat mirip dengan praktik Tanah Suci. Praktik Tanah Suci juga menyingkirkan pengetahuan intelektual, serta mengajarkan para umatnya untuk berkeyakinan penuh terhadap Buddha Amitabha untuk memperoleh keselamatan, sekalipun bagi agama Buddha Chan keselamatan bukanlah "JALAN MUDAH". Bagi agama Buddha Chan, keselamatan membutuhkan kekuatan dan upaya diri untuk mencapai keselamatan, serta tidak bergantung pada Buddha mana pun untuk membantu pencapaian Pencerahan. Namun, kedua tradisi ini sama-sama populer bagi orang Tionghoa, dan kemudian juga bagi orang Jepang di abad ke-12. Di Jepang, agama Buddha Chan ini dikenal sebagai agama Buddha Zen. Dua aliran utama yang muncul dari tradisi ini adalah RINZAI (LIN CI) dan SOTO (CAO DONG), yang hanya berbeda dalam cara pendekatannya menuju Pencerahan.

Bodhidharma (470-543 Masehi) adalah sesepuh ke-28 agama Buddha, sekaligus sebagai sesepuh pertama dari agama Buddha Chan, tradisi yang didirikannya di Tiongkok. Ajarannya diwariskan turun-temurun dengan apa yang dikenal sebagai "TRANSMISI BATIN/PEWARISAN BATIN" terhadap sejumlah sesepuh. Salah satu sesepuh yang paling terkenal adalah HUI NENG (637-713 Masehi), yang merupakan sesepuh ke enam.

Sesampainya di Tiongkok, Bodhidharma dipanggil menghadap ke istana oleh Kaisar WU DI dari Dinasti Liang, yang juga merupakan sesosok umat Buddha yang penuh semangat serta yang membanggakan dirinya karena banyak mendukung agama Buddha. Karena bangga atas pengetahuannya akan agama Buddha serta sumbangsih yang telah diberikannya kepada Sangha, ia bertanya kepada sang suciwan, "seberapa banyak jasa kebajikan yang telah diperolehnya?".

"Tidak ada jasa kebajikan apa pun" adalah jawaban yang mengejutkan dari Bodhidharma.

Sang Kaisar sering kali mendengarkan ajaran dari para guru terkenal yang berkata, "jika berbuat baik, Engkau akan menerima kebaikan. Jika berbuat buruk, Engkau akan menerima keburukan. Hukum Karma tak berubah, akibat timbul dari penyebab laksana bayang-bayang mengikuti bendanya'. Namun sekarang sang suciwan menyatakan bahwa Kaisar belum memperoleh jasa kebajikan apa pun. Kaisar merasa sangat kebingungan.

Mengapa Bodhidharma menjawab seperti itu? Mungkin karena beliau tengah mencoba berkata, dengan sedikit kata-kata, bahwa jika seseorang melakukan perbuatan baik dengan niat untuk memperoleh jasa kebajikan bagi dirinya sendiri, itu bukan lagi praktik Buddhis. Itu berarti bahwa orang itu tidak benar-benar tengah mempraktikkan Dharma, namun lebih untuk memuaskan egonya sendiri ataupun meningkatkan kesejahteraannya sendiri, dan malah mungkin supaya dikenal dan dihargai. Dalam hal ini, bagaimana mungkin ada jasa kebajikan apa pun dalam perbuatan seperti ini? Dan sebagai guru Zen, ia tidak berkata banyak. Karena itu, ia hanya menjawab, "Tidak ada jasa kebajikan apa pun".

Merasa terkejut, Kaisar lalu menanyakan pertanyaan berikutnya, "Lalu, apa inti agama Buddha itu?"

Bodhidharma segera menjawab. "Kekosongan di mana-mana, tiada inti apa pun". Jawaban ini membuat Kaisar tertegun karena ia tak mampu memahami makna yang mendalam dari istilah "Tiada inti apa pun" dalam ajaran Buddha. Para guru lainnya telah bersusah-payah menjelaskan bahwa inti ajaran agama Buddha terkandung dalam doktrin-doktrin seperti Hukum Sebab Akibat (Hukum Karma), Empat Kebenaran Mulia, Cita-cita Bodhisatwa, dan sebagainya. Namun orang yang dianggapnya sebagai sosok sesepuh agung agama Buddha ini hanya menyatakan bahwa "tidak ada inti apa pun"

Lalu Kaisar menanyakan pertanyaannya yang terakhir, "Karena Engkau menyatakan bahwa dalam agama Buddha semua hal tidak memiliki inti, lalu siapakah yang tengah berbicara di hadapankun saat ini?" Bodhidharma menjawab, "Saya tidak tahu". Sang Kaisar sangat terkejut, karena ia tidak mampu memahami maksud Bodhidharma.

Dengan penuh kebingungan, Kaisar lalu menyuruh sang suciwan pergi dari istana. Demikianlah, untuk pertama kalinya Tiongkok mencicipi ajaran Chan.

Setelah itu, Bodhidharma menyendiri lagi, merenung, "Karena sesosok ahli yang terpelajar dan hebat seperti Kaisar pun tidak mampu memahami apa yang aku tengah coba sampaikan, mungkin kondisinya belum matang bagiku untuk mengajar......" Ia lalu menyendiri di sebuah gua di Biara Shao Lin (Shao Lin Si) yang terkenal itu. Disana, ia duduk dalam perenungan yang mendalam seraya menghadap ke dinding gua selama sekitar sembilan tahun, menunggu waktu yang tepat, saat ajaran-ajarannya bisa dipahami dan diterima rakyat disana.

Bodhidharma datang ke Tiongkok untuk memberikan ajarannya yang khusus, yang bisa dikatakan terkandung dalam syair ini :
                               PEWARISAN AJARAN SECARA KHUSUS DI LUAR KITAB SUCI,
                              TAK BERGANTUNG PADA KATA ATAUPUN HURUF,
                              LANGSUNG MENEMBUS KE HATI,
                              MELIHAT KE DALAM SIFAT DIRI SENDIRI.

Bodhidharma selanjutnya tinggal di Tiongkok selama sekitar 50 tahun, mengajar di saat yang tepat, dan menggunakan LANKAVATARA SUTRA (LENG JIA JING) dalam ajarannya. Ia digantikan oleh para sesepuh berikut ini :
                      - Sesepuh ke-2 : Hui Ke (486-593 Masehi)
                      - Sesepuh ke-3 : Seng Can (wafat tahun 606 Masehi)
                      - Sesepuh ke-4 : Dao Xin (580-651 Masehi)
                      - Sesepuh ke-5 : Hong Reng (602-675 Masehi)
                      - Sesepuh ke-6 : Hui Neng (638-713 Masehi)

Adalah Hui Neng, seorang pandai kayu yang buta huruf, yang akhirnya membuat agama Buddha Chan berkembang subur di Tiongkok, lebih dari sebelumnya.

Mungkin menarik untuk dicatat disini bahwa setelah kepergian Bodhidharma, Kaisar Wu Di membicarakan kejadian tersebut dengan guru spiritualnya, BAO ZHI. Sang guru bertanya kepada sang Kaisar, "Apakah Yang Mulia mengetahui siapakah orang ini sesungguhnya? Beliau ini adalah Avalokitesvara Mahasatva yang tengah mewariskan Jejak Hati Buddha....."

Betapa menyesalnya Kaisar karena telah menyuruhnya pergi dari istana. Bertahun-tahun kemudian, tatkala mengetahui sang suciwan telah wafat, Kaisar sangat berduka. Ia lalu membuatkan sebuah pahatan untuk mengenang sang sesepuh agung tersebut. Pahatan itu berbunyi :
              "ADUHAI! AKU MELIHATNYA TAPI TAK MELIHATNYA,
               AKU BERJUMPA DENGANNYA TAPI TAK BERJUMPA DENGANNYA,
               AKU BERTEMU DENGANNYA TAPI TAK BERTEMU DENGANNYA,
               SEKARANG, DAN SEBELUM INI, SUNGGUH AKU MENYESALINYA!."

Bodhidharma memiliki banyak umat yang penuh bakti, dan hari wafatnya diperingati pada tanggal 5 bulan 10 penanggalan bulan. Beliau sering kali dilukiskan sebagai sesosok biksu kelana, atau dilukiskan berdiri menjejak sebatang ilalang yang membawanya menyeberang sungai, suatu mukjizat yang membuat orang -orang yang menyakini kekuatannya ini menganggap beliau sebagai seorang ARHANT atau LUO HAN, suatu istilah dalam bahasa Mandarin yang artinya "DEWA ABADI". Menurut tradisi Tionghoa, Bodhidharma adalah salah satu dari 18 Luo Han yang sangat dekat dengan umat manusia. Lukisan kelompok Luo Han ini umumnya terdapat di banyak wihara, dan para Luo Han ini digambarkan memiliki aneka jenis kekuatan adialami, yang dilambangkan oleh hewan-hewan liar yang merunduk jinak di samping mereka, dan atau oleh benda-benda khusus yang dihubungkan dengan mereka ini. Sekalipun para Luo Han ini berada satu tataran di bawah tataran Bodhisatwa, mereka ini adalah makhluk-makhluk yang telah Tercerahkan, yang patut kita hormati. Oleh umat Buddha, Bodhidharma atau DA MO dipuja sebagai pendiri TRADISI PERENUNGAN AGUNG atau CHAN/ZEN. Dan oleh orang-orang lainnya, ia dipuja atas kekuatan perlindungannya, atau sebagai suciwan agung dari Biara Shao Lin.

Sumber : Buddha dan Bodhisatwa dalam agama Buddha Tionghoa
Penerbit : Yayasan Serlingpa Dharmakirti

Minggu, 12 Desember 2010

KEBENARAN


KEBENARAN
Oleh Thich Thanh Tu, Master Zen


Penerjemah : Rudy Dharmali
Editor         : Tim AB

©2010 Artikel Buddhis (AB)


Anda dipersilahkan menyalin, merubah bentuk, mencetak, mempublikasi, dan mendistribusikan karya ini dalam media apapun, dengan syarat:
(1) Tidak diperjualbelikan;
(2) Dinyatakan dengan jelas bahwa segala turunan dari karya ini (termasuk terjemahan) diturunkan dari dokumen sumber ini; dan
(3) menyertakan teks lisensi ini lengkap dalam semua salinan atau turunan dari karya ini. Jika tidak, maka hak penggunaan tidak diberikan.


Pendahuluan

Ajaran Buddha sangat sederhana dan mudah untuk dimengerti dalam hal kejelasan dan penerapannya. Buddha tidak mengajarkan hal yang bersifat mistis: Tidak ada Tuhan yang akan menyelamatkanmu. Hanya kamulah yang dapat menyelamatkan dirimu sendiri.

Semua yang Beliau ajarkan diperoleh dari pengalaman Beliau sendiri melalui pengamatan dan meditasi. Sebagai contoh, pada saat bermeditasi tentang kehidupan bunga teratai di sebuah kolam berlumpur, Beliau menyimpulkan bahwa semua makhluk hidup, terutama manusia, memiliki sifat ke-Buddha-an (Bodhi = Intelek). Jika sekuntum teratai dapat muncul dari air yang keruh ke permukaan menuju kilauan matahari dan memperlihatkan kuntumnya yang penuh warna dan harum, demikian pula seorang manusia. Ia dapat bebas dari kesengsaraan dan bekerja keras untuk mencapai potensi yang ada dalam dirinya sehingga dapat menyumbangkan sesuatu yang berguna dan indah bagi kehidupan, tanpa menghiraukan siapa pun dia – baik seorang petani, pekerja ataupun profesional.

Seluruh ajaran Buddha berasal dari kebenaran-kebenaran nyata yang sekarang para ahli ilmu pengetahuan menyebutnya ‘Hukum’; yaitu Hukum Ketidakkekalan, Hukum Sebab Akibat dan Hukum  Musabab yang Saling Bergantung.

Hukum Ketidakkekalan

Buddha selalu mengingatkan para pendengarnya bahwa segala sesuatu adalah tidak tetap/permanen, termasuk kehidupan. Segala sesuatu selalu berubah. Beliau selalu mengajak pengikutnya untuk mengamati dan bermeditasi sehingga mereka dapat mengenali ketidakkekalan itu sebagai pengalaman awal.

Mari kita mencoba beberapa pengamatan. Dari manusia hingga materi dunia, tidak ada satu pun yang tidak berubah. Di dalam tubuh manusia, sel-sel membelah, tumbuh dan mati secara terus-menerus. Melalui berbagai proses, sel-sel mentransformasikan sebuah sel telur dan sebuah sel sperma menjadi seorang bayi yang lucu, seorang bayi menjadi remaja; seorang remaja menjadi seorang perempuan muda yang cantik; seorang perempuan muda menjadi seorang istri yang lembut dan seorang Ibu yang menawan hati; kemudian, semua karakteristik kecantikan dari suatu kehidupan yang energik dengan cepat akan memudar dan digantikan oleh sesosok manusia yang rapuh dan tidak cantik menunggu saat-saat kematian tiba. Sungguh menyedihkan dan sesaat hidup ini! Bahkan di Amerika, walaupun perkembangan obat-obatan dan teknologi dapat memperpanjang kehidupan menjadi lebih dari 100 tahun, manusia tidak dapat tetap kuat dan terbebas dari penyakit. Semua orang yang tua ingin berlalu dari tahun-tahun mereka yang sudah tidak produktif. Demikianlah Hukum Ketidakkekalan ini berlaku untuk semua makhluk. Tidak ada yang dapat lepas dari hukum ini karena hukum ini adalah kebenaran yang mutlak.

Atau, lihatlah sebuah mobil keluaran terbaru. Tidak peduli betapa pun perawatan Anda pada mobil Anda, setelah tiga sampai lima tahun, mobil tersebut akan menunjukkan tanda-tanda kekusaman dan kerusakan. Akhirnya, mobil tersebut akan menjadi rongsokan.

Dan lihatlah pada segala jenis hubungan. Tidak ada satu pun yang akan bertahan selamanya. Seiring berjalannya waktu, tetangga kita akan pindah, persahabatan musnah, bahkan pertalian keluarga akan meregang dan begitu juga hubungan perkawinan yang saling mencintai.

Kita menderita karena kita tidak mengerti ataupun mengakui keberadaan hukum itu. Kita berharap untuk awet muda, terhindar dari kesakitan dan kematian. Kita mengeluh ketika kita sakit dan takut ketika kematian datang mendekat.

Atau, kita ingin selalu menjadi kaya, menjalani hidup dalam kenyamanan dan kepuasan, memiliki keluarga yang bahagia dengan seorang suami yang tampan atau istri yang cantik dan anak-anak yang pintar. Kita takut pada kesengsaraan dan perubahan apa pun.

Dengan alasan itu, beberapa dari kita datang ke hadapan Buddha, bukan untuk mendapatkan kebenaran dalam ajarannya melainkan meminta agar Buddha mengabulkan apa yang kita inginkan. Tidak heran jika banyak orang menjadi lebih serakah dan sengsara, meskipun kenyataannya mereka sering mengunjungi wihara.

Sebaiknya kita memahami dan mengenali Hukum Ketidakkekalan, kita dapat mengubah perspektif kita terhadap kehidupan. Kita akan menerima kehidupan apa adanya, tidak peduli perubahan atau kesengsaraan apa pun yang kita hadapi. Itulah ajaran Buddha. Kita akan berani dan bijaksana dalam segala situasi dan lebih simpati terhadap orang lain. Kita tidak akan pernah lagi menangis ketika menghadapi suatu kecelakaan, kesakitan, atau bahkan kematian. Hal ini adalah pandangan benar, yang dituangkan dalam sebuah syair oleh seorang Master Zen Van Hanh pada zaman Dinasti Lý, mengenai kehidupan dan kondisi manusia:

Tubuh manusia, seperti petir, muncul dan lenyap,
Seperti pohon yang tumbuh saat musim semi dan layu di musim gugur.
Walaupun Ia tumbuh atau hancur, kita tidak mesti terkejut,
Semua layaknya embun di ujung rerumputan, begitulah adanya.

Akan tetapi, banyak kritik yang menginterpretasi bahwa pandangan Buddhis selalu mengecilkan hati bahkan membahayakan. Jika semuanya selalu berubah dan kehidupan manusia telah dikodratkan untuk menderita dan mati, mengapa kita bersusah payah mempertahankan kehidupan yang layak dan baik? Anggapan ini tidak hanya salah mengartikan ajaran Buddha; anggapan ini merupakan pemikiran yang dangkal.

Dengan pengamatan yang sungguh-sungguh, memang benar bahwa hidup selalu berubah. Akan tetapi, dalam menghadapi kenyataan, seseorang dapat bersikap negatif atau positif, tergantung pada pandangannya. Ajaran Buddha, pada kenyataannya, menyebarkan pandangan yang positif. Syair yang telah disebutkan di atas telah membuktikannya. Hidup ini sesingkat petir, muncul dan lenyap dalam sekejap, atau seperti pohon yang tumbuh subur saat musim semi dan layu di musim gugur. Tidak ada yang tidak berubah. Walaupun dikelilingi oleh perubahan, seorang yang telah tercerahkan akan mengakui perubahan tersebut apa adanya, menganggap perubahan tersebut seperti embun di ujung rerumputan.

(Setetes embun sangatlah indah, terutama di bawah sinar matahari pagi. Akan tetapi, tidak akan bertahan lama. Dan tentunya, tidak ada seorang pun yang akan menangis ketika embun tersebut menguap; karena begitulah apa adanya embun tersebut).

Selain itu, Pangeran Siddhàrtha menjadi seorang Buddha hanya karena pandangan positifnya. Setelah menyaksikan kepahitan dari rakyatnya yang miskin, sakit dan sekarat. Beliau bersumpah untuk mencari sebuah Jalan yang dapat menghapus semua penderitaan manusia. Dengan kata lain, Beliau bercita-cita untuk membawa kebahagiaan untuk semua makhluk di dunia ini.

Untuk merealisasi sumpahnya, Beliau dengan berani meninggalkan kemewahan dan martabatnya sebagai seorang pangeran dan pergi menuju hutan belantara untuk menjalani hidup sebagai seorang petapa. Selanjutnya, setelah memperoleh Jalan tersebut, Buddha menyatakan bahwa, agar dapat berhasil mengikuti jejaknya, seseorang harus melatih kebijaksanaan, cinta kasih dan keberanian.

Hukum Sebab Akibat

 Sebagai tambahan Hukum Ketidakkekalan, Buddha mengajarkan Hukum Sebab Akibat. Di mana ada sebab, maka akan ada akibat. Akibat akan mengikuti penyebabnya secara langsung atau belakangan, dari kehidupan lampau ke kehidupan sekarang, dan bahkan kehidupan yang akan datang. Tentunya, sebab yang baik akan menghasilkan akibat yang baik dan sebab yang buruk akan menghasilkan akibat yang buruk. Singkatnya, Buddha menganjurkan pada pengikutnya,:“Jika kalian ingin mengetahui apa yang kalian lakukan di kehidupan lampau, lihatlah apa yang kalian dapatkan di kehidupan ini. Untuk memprediksi apa yang akan kalian dapatkan di kehidupan mendatang, perhatikan dengan seksama apa yang kalian lakukan sekarang.”

Kebanyakan orang, karena kurangnya pengetahuan tentang Hukum Sebab Akibat, percaya bahwa kemalangan yang dideritanya dibuat oleh Sang Pencipta. Dengan kepercayaan ini, orang-orang hanya menggantungkan nasibnya pada malaikat/dewa yang mengatur ‘takdir’ mereka. Sebagai hasilnya, orang-orang berdoa kepada segala jenis Tuhan yang dapat dipikirkannya untuk melindungi mereka, melimpahkan keberuntungan dan menjauhkan kesialan. Sering kali, orang-orang dengan suka rela mengakui bahwa mereka telah berdosa dan siap untuk merelakan jiwa mereka pada pengampunan oleh Sang Pencipta yang tidak nyata dan sangat hebat. Dengan pola pikir yang seperti itu, seorang manusia tidak memiliki martabat dan kebebasan; Ia bukanlah apa-apa melainkan sebuah boneka Sang Penciptanya.

Bagi Buddha, kepercayaan seperti itu tidak didasarkan pada kebenaran. Kenyataannya adalah setiap orang bebas mengatur hidup mereka sendiri. Ia bertanggung jawab pada tindakannya sendiri dan Ia pula yang menuai hasilnya. Kebahagiaan atau kesengsaraan, kesuksesan atau kegagalan… semuanya bergantung pada apa yang telah atau sedang dilakukannya. Perbuatan baik akan membawa kebahagiaan; perbuatan jahat akan menghasilkan kesengsaraan. Seperti kata pepatah: “Ia yang menciptakan angin akan mendapatkan badai.”

Hukum Sebab Akibat tidak hanya berlaku pada tindakan manusia, hukum ini bersifat universal. Sebuah pohon jeruk akan menghasilkan buah jeruk; sebuah pohon jeruk limun akan menghasilkan buah jeruk limun. Saat hari mendung dan awan gelap berkumpul, seseorang dapat menyimpulkan bahwa akan turun hujan. Dan seorang anak terlalu malas mengerjakan tugasnya, orangtuanya dapat memastikan bahwa Ia akan gagal di kelas.

Perhatikanlah segala kejadian di sekitar kita. Kita akan menyadari bahwa tidak ada yang tidak tersentuh oleh Hukum Sebab Akibat. Di sisi yang sama, kita tidak akan menemukan adanya campur tangan Tuhan. Itulah alasan mengapa Bodhisattwa selalu melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk. Bodhisattwa telah memahami hukumnya. Oleh karena itu, hidupnya bebas dari ketakutan-ketakutan akan nasib yang diatur oleh Tuhan. Ia hanya takut pada dirinya sendiri, pada tiga kekotoran batinnya (keserakahan, kebencian dan Kekelirutahuan) yang akan mengakibatkan perbuatan jahat. Ia tidak takut pada segala macam kutukan dari dewa mana pun.

Sebaliknya, kebanyakan orang membuat hidupnya sengsara karena tindakan jahat mereka sendiri. Mereka berbohong, memalsukan kenyataan, berkata kotor dan bahkan berniat untuk menyakiti orang lain demi keuntungan mereka sendiri. Singkatnya, mereka bertindak atas dasar keserakahan, kemarahan atau kemelekatan. Secara alamiah, ketika sebuah benih kotor ditabur, sebuah akibat yang buruk akan menghampiri penaburnya cepat atau lambat. Sudah jelas bahwa hanya si pelaku yang akan bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, bukan Tuhan ataupun Sang Pencipta. Tidak ada doa atau pemberkatan yang dapat menyelamatkan seseorang dari tindakan jahatnya.

Sebagai bukti, suatu ketika Buddha bertanya pada sekelompok Brahmana terkenal, yang mengaku bahwa mereka mempunyai kekuatan untuk berbicara kepada Tuhan, dan secara rutin mengadakan sesi doa bagi orang kaya dengan imbalan emas dan uang. Pertanyaan pertama adalah : “Jika seseorang mendorong sebongkah batu yang berat ke dalam sumur dan meminta Anda untuk mendoakan agar batu tersebut mengapung, dapatkah Anda menyanggupinya?” “Tidak!”, jawab si Brahmana. “Batu tersebut terlalu berat, dan kami tidak dapat meminta Tuhan untuk membuatnya terapung. Batu tersebut pasti tenggelam bagaimanapun caranya.”

  Pertanyaan selanjutnya adalah: “Jika seseorang menuangkan seember minyak ke dalam sebuah sumur dan meminta Anda untuk mendoakan agar minyak tersebut tenggelam di dasar sumur, dapatkah Anda menyanggupinya?” “Tidak!”, jawab si Brahmana. “Minyak terlalu ringan; apa pun yang kami lakukan, kami tidak dapat membuatnya tenggelam.”

Buddha kemudian menyimpulkan: “Dengan cara yang sama, jika seseorang selalu melakukan perbuatan baik, karmanya akan seringan minyak. Ia tidak harus berdoa untuk takdirnya. Sebaliknya, jika seseorang hanya melakukan perbuatan jahat, karmanya akan seberat bongkahan batu dan akan menariknya ke neraka. Doa apa pun kepada Tuhan agar dirinya diselamatkan akan sia-sia.”

Untuk lebih memahami pentingnya Hukum Sebab Akibat, dalam ceramahnya yang pertama, Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Mulia :
(1) Adanya penderitaan.
(2) Kebiasaan dan perbuatan yang menyebabkan penderitaan.
(3) Lenyapnya penderitaan.
(4) Jalan menuju lenyapnya penderitaan.

Dengan mengikuti ajarannya, seseorang dapat terbebas dari penderitaan tanpa bantuan dari dewa atau malaikat mana pun. Untuk membuat seseorang mengerti dengan jelas dan masuk akal, Buddha menjelaskan bahwa penderitaan manusia berasal dari sebab-sebab yang dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan yang biasanya tidak baik, pada dasarnya. Dari kehidupan ke kehidupan berikutnya, sebab-sebab yang tidak baik ini diulangi dan diteruskan. Sebagai hasilnya, Ia yang melakukan harus membayar konsekuensinya. Dengan kata lain, penderitaan yang harus dipikul pada kebenaran pertama (1) dari Empat Kebenaran Mulia adalah efek yang dihasilkan oleh kebenaran kedua (2). Sekarang, ada sebuah Jalan untuk mengakhiri penderitaan tersebut. Untuk mencapai lenyapnya penderitaan pada kebenaran ketiga (3), seseorang harus mempraktikan Jalan tersebut sebagai sebab yang baik, disebutkan pada kebenaran keempat (4). Jalan tersebut yang terdiri dari delapan faktor didesain untuk mencabut secara tuntas ketiga akar kejahatan (keserakahan, kebencian dan kekelirutahuan) yang pada banyak kehidupan sangat memengaruhi perilaku manusia, menyebabkan pikiran dan tindakan yang jahat. Jalan mulia berfaktor delapan ini mencakup: Pandangan Benar (Samma Ditthi), Perniatan Benar (Samma Sankappa), Perkataan Benar (Samma Vaca), Perbuatan Benar (Samma Kammanta), Penghidupan Benar (Samma Ajiva), Pengupayaan Benar (Samma Vayama), Penyadaran Benar (Samma Sati) dan Pemusatan-pikiran Benar (Samma Samadhi). Sekarang ini, dalam mempraktikkan Hukum Sebab Akibat untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik, kita dapat dengan bangga menyatakan bahwa Buddhisme tidaklah bersifat mistis, tetapi sangat kompetitif dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan. Sebagai faktanya, keberadaan Sains saat ini didasarkan pada Hukum Sebab Akibat; yang mana, sebagai esensinya, bukanlah sesuatu yang baru bagi ajaran Buddha sejak lebih dari 2500 tahun yang lalu.

Hukum Musabab yang Saling Bergantung

Di samping Hukum Ketidakkekalan dan Sebab Akibat, Buddha juga mengajarkan Hukum Musabab yang Saling Bergantung. Melalui meditasinya, Buddha mengamati bahwa sesuatu tidak mungkin ada dengan sendirinya. Setiap eksistensi adalah sebuah kombinasi. Tanpa kombinasi tersebut, tidak ada yang benar-benar muncul. Eksistensi adalah proses yang tersusun dari formasi sebab-sebab dan kondisi-kondisi.

Marilah kita mencoba beberapa pengamatan seperti yang dilakukan oleh Buddha. Para ilmuwan sekarang telah menyatakan bahwa tubuh manusia adalah kombinasi dari seratus triliun sel yang membentuk formasi darah, tulang dan organ-organ dalam seperti otak, jantung, paru-paru, ginjal, perut, isi perut dan organ-organ luar seperti mata, telinga, hidung, mulut, kulit, dll. Kekurangan salah satu komponen ini, tubuh tidak berfungsi dengan baik.

Hukum Musabab yang Saling Bergantungan menunjukkan bahwa dalam diri manusia, tidak ada yang disebut ‘ego’ atau ‘diri’. Konsep ‘Aku’ atau ‘Kamu’, yang mendasari ide bahwa ‘Milikku’ selalu lebih baik daripada ‘Milikmu’ adalah suatu delusi/kekelirutahuan. Sesungguhnya, jika ‘kondisiKu’ lebih baik dari pada ‘kondisiMu’, itu hanya karena karma kehidupan lampau tidaklah sama, bukan karena ’tubuhKu’ lebih bagus daripada ‘tubuhMu’.

Sebagai tambahan, walaupun jasmani ini terbuat dari hubungan sel-sel dan organ-organ yang sempurna, tidak akan bertahan lama jika tidak ada persediaan udara segar, makanan yang sehat dan air yang dapat diminum.

Dengan kata lain, Hukum Musabab yang Saling Bergantung ini juga berarti: “Sesuatu hanya muncul ketika ada cukup sebab yang terjadi bersamaan dalam suatu kondisi yang baik; dan segala sesuatu akan hancur jika sebab-sebab atau kondisi-kondisinya terpisah.”

Jelas bahwa menjadi seorang manusia, ada banyak sebab dan kondisi yang bercampur dan menciptakan sebuah kehidupan. Dari saat sebuah sel telur matang bertemu dengan sebuah sel sperma yang sehat dan tumbuh di dalam rahim, ada banyak sekali sebab dan kondisi yang dapat meniadakan kesempatan janin terlahir sebagai seorang bayi yang sehat.

Statistik menunjukkan bahwa di dalam ‘Dunia Ketiga’ (istilah dunia ketiga merujuk pada negara-negara yang tidak memihak pada saat Perang Dunia II dan seterusnya dipakai untuk istilah negara-negara miskin), persentase anak-anak yang berhasil bertahan setelah berusia tujuh tahun di lingkungan mereka yang keras juga sangat rendah. Ternyata, mereka yang terlahir di dalam Dunia Ketiga memiliki faktor penyebab dan kondisi yang kurang baik dibandingkan dengan negara-negara yang terindustrialisasi.

Buddha menjelaskan bahwa dengan pengamatan secara mendalam pada setiap kejadian di kehidupan sehari-hari, seseorang akan dapat mengenali bahwa tidak ada yang terjadi tanpa melibatkan banyak faktor/sebab dan kondisi.

Secara normal, sebab-sebab dan kondisi-kondisi tersebut muncul dalam manifestasi yang tak terhitung jumlahnya dan menghasilkan kejadian yang baik atau buruk, tergantung karma seseorang. Ketika karma terbentuk dan faktor penyebab serta kondisi-kondisi memenuhi, tidak ada siapa pun lagi yang dapat mengontrol suatu kejadian yang akan terjadi; bahkan Tuhan sekalipun.

Saat ini para Ilmuwan juga mengekspresikan hal yang sama mengenai Hukum Musabab yang Saling Bergantung. Jika terdapat cukup Oksigen dan Hidrogen dalam proporsi yang tepat dan jika kondisi lingkungan memungkinkan, akan terbentuk air (2H + O = H2O). Jika sebaliknya, tidak akan ada air yang terbentuk. Hukum ini berlaku untuk semua aspek dalam kehidupan, termasuk keluarga, politik, ekonomi dan aktivitas sosial.



================================================

The Truth
by Thich Thanh Tu, Zen Master
Translated by Minh Tâm



Contents
  • 1 Introduction
  • 2 Law of Impermanence
  • 3 Law of Cause and Effect
  • 4 Law of Causation
Introduction

The teaching of Buddha is very simple and understand, in terms of clarity and applicability. The Buddha preached of no mystics: There is no God to save you. Only you can save ourself.

All of what he said was derived from his direct experiences through observations and meditations. For example, during the meditation about the life of lotus plants in a muddy swamp, he concluded that living things, especially human beings, possess Bodhi-nature (Bodhi=Brillance). If a lotus plant can emerge from the murky water to reach the dazzling sun and produce its colorful and fragrant flowers, a human being can emerge from his adversity and work hard to reach his potentiality in order to contribute something useful and beautiful to life - regardless if one is a farmer, a worker, or a professional.

Ultimately, the Buddha's Teaching derives from the observable truths that in present day scientists call "laws"; namely the Law of Impermanence, the Law of Cause and Effect, and the Law of Causation.

Law of Impermanence

Buddha had always reminded his audience that things are impermanent, including life. Everything is forever changing. He insisted that his followers shoud observe and meditate on those in order to recognize them as a first-hand experience.

Let us try some observations. From the human to the material world, there is nothing that does not change. In the human body, cells split, grow and die incessantly. Through the processes, the cells transform an egg and a sperm into a cute baby; a baby into a youthful teenager; a teenager into a loving, beautiful young woman; a young woman into a delicate wife and an adorable mother; and then, all traits of beauty of an energetic life eventually fade away and are replaced by a frail, unpleasant silhouette waiting for disintegration. How pitiful and ephemeral human life is! Even in the United States where the advancement of medicine and technology can prolong life to over a hundred years, people cannot stay strong and free from illness. All elderly people are dying to pass away from their unproductive years. This Law of Impermanence, thus, applies to all beings. No one can escape it. Because it is an eternal truth.

Or take a look at a brand new car. No matter how much care you put into it, after three to five years the car shows signs of wear and tear. Finally, it will be winding into a wreckage.

And look at any relationship. None of them will last forever. As time passes, neighbors move out, friendships disappear, even kinship loosens, not to mention marital loves.

We are suffering because we do not understand the law, nor do we acknowledge it. We wish to stay young forever, avoiding sickness and death. We lament our health when sick, and are terrified when death shows up at our doorstep.

Or we want to be always rich, to experience a comfortable life or satisfaction, to have a wonderful family with a handsome or beautiful spouse and smart children. We are afraid of adversity and of any changes.

Therefore, some of us come to Buddha, unfortunately, not for the truth in his teachings, but because of wrong thoughts that we can pray Buddha for whatever we want. No wonder people become increasingly greedy and miserable, despite the fact that they go to temple very often.

Shoud we understand and recognize the Law of Impermanence, we could change our perspective toward life. We would admit life as it is, no matter what kind of change or adversity we encounter. That is the teaching of Buddha. We would be brave and wise in any circumstance, and more sympathetic to others. Never again would we cry when facing a mishap, an illness, or even death. And that is the appropriate view, from which Zen Master Va.n Ha.nh in the Lý dynasty put into verse, regarding life and human conditions:


The human body, like lightning, appears and departs, 
As tree grow in Spring and droop in Fall. 
Despite its growth or ruin, we should be not alarmed, 
Considered dewdrops on tips of grass as they are all.


However, there are critics who interpret Buddhist viewpoint to be discouraging, or even fatalistic. If things are always changing and human lives are predetermined to suffer and die, why do we bother to maintain a constructive and decent life? Not only does this interpretation misconstrue the Teaching; it represents a shallow thought.

With an earnest observation, it is true that life is forever changing? But facing a truth, one can react either negatively or positively, depending or his or her point of view. The Buddhist teaching, in reality, broadcasts a positive viewpoint. The aforementioned verse has proved it. Life is as short as a ligtning, which appears and departs in a blink, or as trees that grow in the Spring and droop in the Fall. Nothing remain unchanged. Despite many changes, an enlightened would recognize them as they are, considering them as dewdrops on tips of grass.

(A dewdrop is so beautifull, especially under the early morning sun. But it won't last long. And certainly nobody is going to cry when a dewdrop liquefies; because that is the way it is).

Moreover, Prince Shidharta became Buddha only because of his positive outlooks. After witnessing the pain and bitterness of his destitute, sick, and dying people through his rare outing trips, he took a solemn promise to search for a Way capable of erasing all human suffering. In other words, his wished to bring happiness to all human in this painful world.

In order to realize his vows, he bravely renounced his life of luxury and prestige and went into the wilderness for an ascetic life. Later on, after attaining the Way, the Buddha proclaimed that to successfully follow his path, one should arm oneself with some degrees of intelligence, compassion, and courage.

Law of Cause and Effect

In addition to the Law of Impermanence, Buddha preached the Law of Cause and Effect. Where there is a cause, there will be an effect. The effect may follow the cause immediately or eventually, from previous life to present, and even future life. Of course, a good cause will produce a good effect and a bad cause will give rise to a bad one. In brief, Buddha advised his audience, :"Would you like to know what you were doing in a previous life, see what you have inherited in this life. To predict what you will be receiving in the next life, carefully observe what you are doing now".

Most people, due to lack of knowledge of the Law of the Cause and Effect, believe that their misfortunes were contrived by a Creator. With this common belief, people heavily become dependent of a heavenly deity who control their fates. As a result, people like to pray to all sorts of Gods they can think of to protect them, to bestow on them good fortunes over the bad ones. More often, people willingly admin that they have sinned, and readily succumb themselves to the forgiveness of an imaginary but powerful Creator. In that line of thinking, a human being inherits no dignity and freedom; he is nothing but a puppet of his creator.

To Budhha, that belief is not based on the truth. The truth is that everyone is free to control his or her own life. He is solely responsible for his actions and he is the only one who bears the results. Happiness or misery, success or failure... it all depends on what he had done or has been doing. Good deeds will bring happiness; evil action will breed misery. As an old saying dictated: "He who sows winds, reaps the storm".

Not only does the Law of Cause and Effect govern human actions, it also is universal. An orange tree will produce orange fruit; a lemon tree will provide lemon ones. When dark, heavy clouds gather, one can be sure that rain is going to fall. And a boy is too lazy to do this homework, his parents can be certain that he is going to fail his class.

Just observe any event around us. We will realize that nothing is untouched by the law. By the same token we won't see any interference from Gods. That is why Bodhisattva is always doing only good deeds, and staying away from evil actions. After all, the Bodhisattva understands the law. His life, therefore, is free of god-controlled fears. He is only afraid of himself, of his three poisons (Greed, Hatred, and Delusions) which will inflict evil behaviors on him, he is not afraid of any heavenly deities' curses.

On the contrary, common people make their lives miserable due to their evil actions. They life, they cheat, they fabricate stories, they speak evil, and they even have plans to hurt other for their own gain. In brief, they act under the stipulations of greed, anger, or attachment. Naturally, when a bad seed is sowed, an evil effect will sooner or later be delivered. It is clear that only the doer is responsible for the result of what he has done not a God or a Creatoe. Neither praying, nor blessing can save one from one's own devilish actions.

To prove this viewpoint, one day the Buddha raised questions to a group famous Brahmins who, claiming that they had power to talk to God, regularly held prayer sessions for rich people in return for gold and money. They first question was: "If a man pushes a big chunk of heavy rock down into a well and asks you to pray that it floats, can you do that?". - "No!" replied the Brahmin: "The rock is so heavy, and we cannot pray God for it to float. It has to sink, no matter what".

The next question was: "If a man pour a bucket of oil into a well and asks you to pray that the oil can sink to the bootom, can you do that?". - "No!" came the reply: "Oil is so light; no matter what we do, we cannot make it submerge".

The Buddha, then, concluded: "By the same token, if a person is always doing good deed, his karma will be as light as oil. He does not have to pray for his fate. Conversely, if one only indulges in evil actions, his karma will be as a big chunk of rock and will pull him down to Hell. Any praying to God for him to be saved would be futile".
To emphasize the importance of the Law of Cause and Effect, in his first lecture, the Buddha preached the Four Basic Truth:
1.     The sufferings.
2.     The customs and habits that lead to sufferings.
3.     The cessation of sufferings.
4.     The Way that procures cessation

By the following his teaching, one can save him or herself without the salvation of any deities. To make himself clearly and logically understood, Buddha explained that human sufferings are derived from causes creact by customs and habits, which are generally devilish, by nature. From generation to generation, from one life to the next these devilish cause are repeated and carried over. As result, he who has created these evil causes has to repay the debts afterwards. In order words, the suffering that humans must endure in number (1) is the produced by number (2). Now, there is a way to end those suffering. To reach the cessation as effect in number (3), one has to practice the Way as the good cause governed by number (4). The Way, consisting of the Eightfold Path is devised to completely eradicate the three poisons (greed, hatred, and delusion) which, for many lives, seriously infest human behaviors and cause diabolical thoughts and actions. The Eightfold Path includes: Appropriate Views, Appropriate Thoughts, Appropriate Language, Appropriate Actions, Appropriate Livelihood, Appropriate Effort, Correct Mindfulness and Correct Medication. Nowadays, in practicing the Law of Cause and Effect to change our lives for the better, we can proudly declare that Buddhism is not mysticism, but very competitive to the advancement of Science. As a matter of face, the very existence of Science today is based on the Law Of Cause and Effect; which, in the essence, is nothing new to the teaching of Buddha since over 2500 years ago.

Law of Causation

Besides the Laws of Permanence and Cause and Effect, the Buddha also preached the Law of Causation. Through his meditation, Buddha observed that a thing does not exist independently by itself. Every existence is a combination. Without such as a composition, nothing actually exists. To be is to be under the formation of causes and conditions.

Let's try some observations as the Buddha did. Scientists now confirm that the human body is a combination of one hundred trillion cells which create the formation of blood, bones, and inner organs such as the brain, heart, lungs, kidneys, stomach, intestines... and of outer organs such as eyes, ears, nose, mouth, skin, ect... Lacking one or more of these components, a body does not function properly or simply cannot exist.

The Law of Causation shows that in humans, there is no such thing called the "ego" or "self". The concept of "I" or "You", with the underlying idea that "Mine" is always better than "Yours" is a delusion. Actually, if "my" condition is better than "yours", it is only because the karma of previous life is not the same, rather than because my body is better than yours.

In addition, even if the body is make from a perfect junction of cells and organs, it will not last long if there is no proper provision of fresh air, nutritious food, and potable water.

In other words, the Law of Causation also means that: "Things only exist when there are enough causes which come together under favorable conditions; and things will disintegrate when causes or conditions are scattered".

Obviously, to be a human, there are numerous causes and conditions that blend together and create an existence. From the day a mature egg met a healthy sperm and grew in a womb, there are countlees unfavorable causes and conditions that may abolish the chance of being born a healthy human child.

Statistics shows that in the Third World, the percentage of young children who survive their harsh environment after seven years of age is also very low. Apparently, being born in the Third Wold is having less favorable causes and conditions than in the industrialized world.

The Buddha explained that the earnest observations on any events in daily life, one can recognize that nothing happens without numerous causes and conditions involved.

Normally, they appear in innumerable form that result in good or bad occurences, depending on one's karma. When karma is formed and causes and conditions cast on, it is not in anyone's hand to control the event any more; not even Gods.

Scientists today express the same about the Law of Causation. If there is enough Oxygen and Hydrogen in proper proportions and if the condition, if favorable, it will product Water (2H + O = H2O). Othervise, no water exists. This same law applies to all aspects of the human world, including family structures, politics, economics, and social activities.

Senin, 15 November 2010

Tanya Jawab Dengan Ven.Sheng Yen: Soal Latihan

Tanya Jawab Dengan Ven. Sheng Yen: 
Soal Latihan


Question :
Apa keuntungan dan kerugian dari latihan sendiri, berkelompok dan dengan seorang guru ?

Answer :
Latihan bisa dilakukan dalam berbagai cara: latihan perorangan, latihan berkelompok, latihanjangka pendek, latihan jangka panjang, latihan keseharian, dan latihan periodik yang intensif. Latihan per-orangan bisa periodik intensif, jangka pendek, atau jangka panjang, begitu pula dengan latihan berkelompok. Kita juga bisa memandang bentuk latihan dari sudut pandang orang awam dan orang selibat. 

Dalam semua kasus, apakah sendiri atau berkelompok, apakah perumah tangga atau yang selibat, lebih baik berlatih di bawah bimbingan guru yang piawai. Latihan tanpa bimbingan seorang guru kemungkinan tak akan membuahkan hasil yang memuaskan. Berlatih dengan seorang guru bisa menghemat waktu anda. Pengertian dan pengalaman seorang guru bisa menolong anda untuk menggenggam hakikat latihan dan memupuk pandangan yang benar terhadap Buddha-Dharma. Dengan seorang guru, waktu yang tadinya dihabiskan untuk mempelajari Sutra dan merisaukan takut salah jalan, bisa dikonsentrasikan sepenuhnya untuk melatih diri.

Tetapi ada juga orang yang memiliki akar karma dalam dan tajam, yaitu mereka yang sudah melatih diri dalam banyak kehidupan di masa lampau. Orang-orang seperti ini akan lebih cepat maju terlepas dari apakah mereka dibimbing seorang guru atau tidak. Mereka akan memahamiBuddha-Dharma dan tidak akan tergelincir dari sang jalan. Contoh-nya Sakyamuni Buddha banyak berguru sebelum mecapai penerangan sempurna, tetapi karena dia tidak puas dengan ajaran guru-guru itu, dia berlatih sendiri selama enam tahun. Beliau tidak mencapai pencerahan sebelum beliau melepaskan semua keterikatan-nya. Sakyamuni Buddha memang memiliki banyak guru, tetapi dia mencapai pencerahan dengan usaha sendiri. Sesepuh ke-enam Hui Neng, juga mengalami pencerahan tanpa bimbingan seorang guru. Mendengar sebaris Sutra Intan saja sudah cukup baginya. Kemudian sesepuh ke-lima menegaskan pengalaman-nya tersebut. Dalam hal ini, Sutra Intan adalah gurunya. Seperti yang bisa anda lihat, orang-orang seperti beliau-beliau itu sangat sulit ditemui. Terkecuali kalau praktisi merasa diri-nya setingkat dengan sesepuh kita tersebut, saya menyarankan mereka untuk mencari bimbingan dari seorang guru.

Sebagai seorang praktisi, anda mestinya punya metoda dan paham tujuan latihan anda. Anda mestinya menyisihkan waktu setiap hari untuk berlatih. Sebagai tambahan bagi latihan anda sehari-hari, anda seharusnya juga meluangkan waktu yang lebih panjang untuk latihan khusus: satu hari penuh setiap minggu, satu akhir minggu penuh setiap bulan dan sebagai-nya.

Bila anda ingin menjalani penyunyian selama sebulan, setahun, atau bahkan beberapa tahun, kriteria tersebut harus anda penuhi dulu. Anda harus matang dalam Buddha-Dharma dan latihan. Kesehatan fisik dan psikologi anda harus cukup kuat untuk menahan keras-nya penyunyian jangka panjang. Kenali dan lancarkan metode anda; dengan kata lain, anda terus menerus membenahi dan memperhalus pengertian Dharma sesuai dengan kemajuan latihan yang dicapai. Dalam kebanyakan kasus, pengalaman akan menjadi suatu khayalan bila anda tak mampu menentukan apakah pengalaman itu benar atau tidak. Sikap terbaik adalah mengabaikan segala fenomena, sensasi, pemikiran dan perasaan luar biasa yang muncul selama latihan. Sungguh penting untuk tidak melekat, tidak mencari dan bersikap tenang. Ingatlah, saya menyinggung pengalaman yang timbul dari latihan. Bila anda jatuh sakit atau melukai diri, sungguh bodoh untuk mengabaikan-nya. Bila semua kriteria itu tidak terpenuhi, anda hanya akan memperoleh gangguan fisik dan mental yang serius, serta tak akan tahu cara menangani kerasnya penyunyian itu.

Maka dari itu saya anjurkan, pemula mestinya tidak mengikuti penyunyian dulu. Sebenarnya, saya tak akan menganjurkan-nya untuk kebanyakan orang. Untuk mengikuti suatu penyunyian, sangat banyak dibutuhkan syarat-syarat-nya.

Kebanyakan orang lebih baik berlatih berkelompok, lebih disukai lima orang atau lebih, dengan atau tanpa guru. Kalau seorang anggota punya masalah, yang lain bisa membantunya.



Question :
Tetapi bagaimana bisa yang lain-nya tahu bahwa mereka berkata atau berbuat benar ? Mereka malah bisa saja merugikan orang itu dari-pada membantunya.

Answer :
Jika mereka bertanya,anda menjawab sesuai dengan yang anda tahu, itu sudah membantu. Memang lebih baik kalau setidaknya ada satu orang anggota kelompok yang berpengalaman.



Question :
Apa paling baik menyuruh mereka untuk selalu mengabaikan saja apa yang mereka alami ?

Answer :
Tidak selalu. Jika mereka mengalami sensasi fisiologi atau psikologi umum, boleh-boleh saja menyuruh mereka mengabaikan-nya, tetapi jika mereka bertanya tentang metode Dharma, orang yang berpengalaman mestinya menjawab. Kalau anda tak tahu jawaban-nya, katakan saja anda tidak tahu.

Latihan berkelompok juga lebih baik daripada latihan sendiri, karena jadwalnya bisa lebih teratur. Bila sendirian, anda mudah menjadi malas atau melewatkan latihan di sini dan di sana. Dalam suatu kelompok anda akan merasa berkewajiban untuk mengikuti latihan dan berlatih dengan baik. Melihat orang lain berlatih biasanya memercik-kan niat anda untuk berlatih.

Sebagai perumah-tangga, anda mestinya berusaha membentuk kelompok latihan. Kalau anda tinggal di dekat pusat meditasi akan lebih mudah, karena tempat dan jadwal sudah ada. Kalau anda tidak tinggal di dekat pusat meditasi, anda terpaksa harus ber-improvisasi. Kelompok bisa juga menyisihkan satu hari setiap minggu atau satu akhir minggu setiap bulan untuk latihan yang lebih intensif.



Question :
Apa ada suatu batas waktu aman yang pasti untuk penyunyian tanpa seorang guru ?

Answer :
Tidak baik rasanya buat yang belum berpengalaman untuk berlatih intensif terlalu lama tanpa seorang guru. Anda harusnya tidak mengikuti aturan "tidak" yang keras dari penyunyian tujuh hari intensif. Suasana-nya lebih baik santai saja. Contohnya jika anda menjalani penyunyian tujuh hari tanpa guru, anda bisa mengijinkan orang-orang untuk berbicara selama waktu istirahat.

Ada bentuk latihan lain yang tidak sekeras meditasi seperti membaca paritta atau melafal Sutra. Umat Vihara tempat aku tinggal di Taiwan terkadang mengadakan pelafalan tujuh hari tanpa saya. Dalam semua situasi, telah saya jelaskan bahwa lebih gampang dan lebih baik untuk berlatih dalam kelompok. Sungguh sulit untuk melaksanakan penyunyian per-orangan dan menaati jadwal-nya. Sejumlah gangguan pasti akan datang menyela latihan anda. Latihan benar seorang diri membutuhkan kekuatan tekad yang besar.

Saya selalu menekankan pentingnya latihan keseharian. Sungguh penting untuk membuat jadwal meditasi yang teratur. Tetapi meditasi tidak berakhir begitu saja tak kala anda bangkit dari tempat duduk. Kesadaran harus tetap dijaga dalam setiap situasi. Apakah anda berbuat sesuatu yang disukai atau tidak, apakah menguntungkan atau tidak, anda tidak menempatkan diri anda seperti di atas panggung. Buang rasa ke-aku-an anda, kembangkan welas asih. Yang terpenting: tak-kala anda melakukan sesuatu, lakukan-lah dengan kesadaran yang terpusat. Jangan malas dan membiarkan pikiran berkelana. Ini namanya latihan keseharian.

Bagi kebanyakan orang, gaya hidup seperti ini agaknya susah dilakukan. Agar bisa berlatih seperti ini, penting untuk bermeditasi setiap hari, dan mengikuti penyunyian yang lebih intensif secara teratur.

Sumber : Zen : Pengetahuan dan Tindakan, Master Sheng yan