Rabu, 16 Februari 2011

Batin Kita Menjadi Sejuk Karena Dhamma

 
Batin Kita Menjadi Sejuk Karena Dhamma
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Cittaguna
 


Sabbam Rasam Dhammaraso Jināti, Sabbam Ratim Dhammaratī Jinatiti.


Rasa Kebenaran mengalahkan segenap rasa lainnya. Kegembiraan dalam Kebenaran mengalahkan segenap kegembiraan lainnya.
(Dhammapada. 354)
 
Sesuai dengan ajaran penyejuk rohani yang kita tekuni selama ini, sebagai pengikut yang setia, kita selalu menemukan bisikan-bisikan rohani yang membujuk kita untuk selalu sadar setiap saat. Mengapa demikian? Sebab, apabila kita tidak memperhatikan dan menyadari akan diri kita sendiri, kita cenderung mengambil sikap yang kita anggap baik dan benar namun sesungguhnya keliru. Mari kita telusuri dengan baik apa yang akan kita temukan di dalam uraian ini.

Batin tidak mengenal Dhamma jadi panas.
Jika seseorang tidak mengenal bahkan tidak mau mengenal dan justru cara hidupnya bertentangan dengan Dhamma, maka itulah yang menyebabkan dia tidak pernah hidup bahagia. Bagaimana bisa merasakan kesejukan Dhamma, cara untuk meraih dan menikmati kabahagiaan hidup itu sendiri tidak diketahuinya. Karena tidak dikenalnya cara yang sesungguhnya (cara yang baik dan benar) untuk mendapatkan hasil yang baik dan memuaskan, maka orang menempuh cara yang salah supaya bisa memiliki dan merasakan apa yang diinginkannya. Kalau ini yang terjadi, berarti orang semacam itu tidak mengetahui tentang kebenaran dan kenyataan bahwa hidup ini terjadi karena dikondisikan oleh pikiran. Pikiran yang tidak pernah dilatih dan tidak dikendalikan, akan menyebabkan pikiran itu sendiri menjadi liar sehingga semakin sulit untuk mengenal dan merasakan kepuasan.

Karena tidak pernah tersentuh oleh siraman air Dhamma sedikitpun, maka dapat kita bayangkan betapa panasnya pikiran manusia dalam kondisi seperti itu. Apabila kondisi yang panas tersebut tidak pernah diperhatikan dan tidak dibantu dengan memberikan kondisi yang baru dan dingin, maka kebakaran dan kehangusan terjadi di dalam sampai ke seluruh tubuh.

Seseorang yang memiliki kondisi seperti di atas tidak suka memberi, anadikata mau juga hanya memberi sesuatu yang dia sendiri terlebih dahulu sudah nikmati (sisa). Jadi dia mengembangkan sesuatu yang tidak baik. Di dalam bukunya, "Human Life and Problems", halaman 208, Bhante Dr. K. Sri Dhammananda Mahānāyaka Thero mengatakan, "Banyak orang yang harus mengalami frustrasi dan gangguan urat syaraf sebab mereka tidak pernah melatih pikirannya untuk merasakan kepuasan. Mereka hanya mengembangkan nafsu keinginan (tanha) demi kepuasan indria saja. Bagi mereka, pengembangan adalah hanya pengambangan tañha".

Untuk merasakan kegembiraan, orang seperti ini mengalami kesulitan dengan munculnya berbagai hambatan, tantangan dan gangguan yang bertubi-tubi. Meraih kesegaran batin jauh dari harapan yang mungkin ada pada dirinya.

Batin Sejuk karena Siraman Air Dhamma
Kita mengetahui bahwa di waktu kita merasa haus dan kepanasan, mengharapkan ada air minum dan air untuk mandi. Demikian pula bahwa kita bisa mengerti sesungguhnya batin kita setiap saat memerlukan siraman air Dhamma untuk mengkondisikan timbulnya kesegaran rohani. Kalau batin kita sering dikondisikan dengan diisi kebutuhan-kebutuhan yang dapat menyegarkan batin itu sendiri, maka kesejukan siraman air Dhamma akan dapat dirasakan sehingga kondisi baru yang sejuk dan segar itu akan membantu memper-tahankan ketenangan pikiran. Jika pikiran bisa bertahan dalam keadaan tenang cukup lama, maka ini pertanda bahwa pikiran itu sejuk.

Dengan kondisi yang sudah dalam keadaan sejuk dan tenang, dan tetap dilatih serta dikendalikan dengan penuh pengertian, maka pikiran akan bisa diajak untuk berpikir dan bersikap menyesuaikan diri dengan segala keadaan. Seseorang akan bisa melakukan berbagai bentuk perbuatan baik bilamana pikirannya tidak kering lagi dengan siraman air Dhamma. Ia akan dapat dengan mudah mencerna berbagai hal yang perlu diproses dalam pikiran yang jernih dan akan dengan mudah pula mengambil keputusan yang sesuai. Oleh karena itu, ia dapat merasakan kesejukan Dhamma yang menjadi sumber keselamatan, kedamaian, kesejahteraan, keharmonisan dan kebahagiaan hidup yang sangat sulit untuk diperoleh. Semua itu memang timbulnya dari dalam diri sendiri yang bersumber dari pikiran tenang, bersih dan jernih, tanpa noda.

Dapat menikmati keindahan Dhamma
Dhamma yang kita pelajari, yang diwariskan oleh guru agung kita Buddha Gotama adalah indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, indah pada akhirnya. Artinya, Dhamma itu tidak pernah timbul kemudian bertahan dan lenyap. Dhamma bersifat universal. Buddha hanya menemukan Dhamma itu kemudian mengajarkannya kepada umat manusia dan makhluk lain di alam semesta ini. Jadi, walaupun tidak ditemukan oleh Buddha, Dhamma itu tetap ada. Dhamma itu bisa kita kenal karena ditemukan dan diajarkan oleh Buddha. Dhamma, yang dikatakan hanya dapat dimengerti oleh orang bijaksana itu, telah dibuktikan oleh orang bijaksana pula, yaitu para Ariya Sangha. Itulah sebabnya mengapa kita, sebagai umat atau pengikut Buddha, harus menyatakan berlindung kepada Tiratana, Buddha, Dhamma dan Sangha.

Supaya kita dapat menikmati keindahan Dhamma, memang kita harus mengenal Tiratana itu dengan baik dan sungguh-sungguh. Kita menjadi penganut Buddha Dhamma yang benar-benar, kalau kita bisa mengerti konsep yang sesungguhnya tentang Tiratana dan bisa melaksanakannya pula dengan sungguh-sungguh. Kita sebenarnya bisa berbuat baik seperti Buddha, walaupun sedikit demi sedikit, dengan mempelajari dan mengerti serta dapat mempraktekkan Dhamma Ajaran Beliau.Semua hal yang berkaitan dengan Dhamma yang ditemukan Buddha dapat dipelajari melalui guru Dhamma (para bhikkhu sangha) sekaligus tuntunan cara prakteknya yang baik dan benar.

Jadi, kalau kita ingin meraih kebahagiaan kita harus mencoba terlebih dahulu untuk memiliki batin yang sejuk. Untuk memiliki batin yang sejuk kita harus bisa menciptakan kondisi yang dapat menimbulkan ketenangan pikiran. Setelah itu baru kita akan dapat merasakan keindahan Dhamma sampai akhirnya pada tingkat kebahagiaan sejati.

Pikiran tenang, Pikiran sejuk, Pikiran bahagia.

[ Dikutip dari Berita Dhammacakka Edisi 31 Januari 1999 ]

Selasa, 15 Februari 2011

Bagaimana Mengajarkan Agama Buddha Kepada Anak


Bagaimana Mengajarkan Agama Buddha Kepada Anak
 

Eko:"Wah, pusing nih, besok kalau gue meninggal kayaknya kagak disembahyangi nih, habis pegang hio, pasang foto gue dibilangin sama anak tidak boleh"

Sue: "Bukan loe aja, kalau bini gua beli banyak buah-buahan buat sembahyang, anak gue kagak ada satupun yang mau makan, katanya nggak boleh karena bekas sembahyang. Jadi daripada mesti buang, akhirnya beli seadanya saja"

Sugi:"Itu mah belum parah, yang parah tuh kalau gue lagi sembahyang leluhur dibilangin lagi sembah berhala, entar bisa jatuh ke Neraka"

Contoh pembicaraan di atas adalah cuplikan yang tidak jarang kita dengar, saat kita melayat di rumah duka. Apakah hanya sebatas itu yang Anda harapkan dari anak Anda? Apakah Anda takut tidak ada yang menyembah-yangkan sesudah Anda meninggal, atau sekadar ingin dia hanya ikut pasang-pasang hio, dan sebagainya.

Tidak demikian, sesung-guhnya yang kita inginkan adalah agar anak kita dapat tumbuh menjadi anak yang baik, berbakti, pintar, bermoral, mempunyai ketahanan yang baik dalam menghadapi segala jenis masalah hidup, dan sebagainya. Aspek spiritual adalah aspek yang sangat mendasar dan paling penting dalam kehidupan baik bagi Anda maupun anak anda.

Masalah yang diungkapkan di atas, jika diartikan secara lebih khusus adalah, "Bagaimana orangtua Buddhis dapat mengajarkan ajaran Buddha dengan baik kepada anak-anaknya?"  

Pada kenyataaannya, aspek ini hampir terabaikan begitu saja. Bandingkan dengan para orangtua dari non-Buddhis, yang sejak kecil anaknya sudah dibaptis ataupun dipermandikan menjadi pengikut agama yang telah diyakini oleh orangtuanya. Orangtua Buddhis cenderung bersifat acuh tak acuh, dan dengan argumen bahwa biarlah kelak dia bisa memilih agamanya sendiri, yang penting semua agama sama, mengajarkan kebaikan. Apakah benar demikian?

Artikel ini dimaksudkan untuk dapat menjadi bahan perenungan bagi para orangtua Buddhis, yang sebagian disadurkan dari buku "How To Teach Buddhism to Children", Bodhi Leaves No.B.9. 1961, BPS, Sri Lanka (edisi ke-2, tahun 1975), karangan Dr. Helmuth Klar. Dari tahun penerbit dapat diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya masalah ini telah lama menjadi topik yang begitu diperhatikan oleh para bhikkhu dan para pengikut Buddhisme di Srilangka maupun di dunia Barat.

Dalam makalahnya, Dr. Helmuth Klar berbagi pengalaman praktik dengan anaknya sendiri dan juga dengan anak-anak Barat lainnya, karena beliau tidak ingin berteori saja. Namun banyak sekali manfaat yang kita dapatkan dari pengalamannya tersebut.

Jika kita berada di negara Buddhis, di tengah-tengah tradisi Buddhis yang telah berabad-abad lamanya, posisi seorang anak Buddhis jauh lebih mudah. Namun tidak demikian dengan di Indonesia, di mana Buddhis merupakan minoritas dan dikelilingi oleh berbagai agama lain, sehingga dapatlah dimengerti peran orangtua merupakan faktor yang terpenting dalam menanamkan keyakinan pada anaknya.

Dan perlu disadari penanaman keyakinan pada anak kita secara otomatis akan berkaitan dengan cara hidup yang benar. Tanamkan keyakinan pada anak Anda sejak kecil mengenai kebesaran dan keagungan Sang Buddha.

Suatu ide yang sangat penting, bila sejak kecil anak-anak harus dilatih untuk yakin akan keagungan dan kemuliaan Sang Buddha. Penggunaan patung ataupun gambar Sang Buddha adalah suatu ide yang bagus untuk mengajarkan anak kita memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, sebagai guru yang agung untuk manusia. Jelaskan bahwa itu bukanlah penyembahan berhala seperti yang sering diajarkan oleh para pendidik agama non-Buddhis yang mengharuskan anak kita mengikuti pelajaran agamanya di sekolah yang berada dalam naungan suatu agama tertentu. Penggunaan patung Buddha sebagai objek konsentrasi penghormatan kepada Sang Buddha akan menjadi lebih efektif mengingatkan kita kepda Sang Guru Agung dibandingkan simbol-simbol lain. Ibarat seseorang menyimpan foto orangtuanya akan memudahkan dia untuk mengingat sifat-sifat luhur orangtua dibandingkan dengan barang-barang yang langsung pernah diberikan kepadanya.

Demikian juga penghormatan terhadap anggota Sangha dengan bersujud ataupun bernamaskara, perlu dijelaskan bahwa itu merupakan cara penghormatan yang tidak lain seperti penghormatan pada tradisi-tradisi lain, dan bukanlah menyembah orangnya.

Aspek filsafat dari Buddhisme yang cenderung terlalu dalam untuk dimengerti anak-anak dapat dituangkan dalam upacara-upacara sederhana yang lebih praktis untuk anak-anak. Latihlah anak-anak untuk melakukan upacara-upacara sederhana seperti persembahan air, dupa, lilin, ataupun bunga di altar patung/gambar Sang Buddha. Bahkan perlu juga dijelaskan secara seder-hana arti dari per-sembahan-persembahan tersebut. Dengan demikian akan mengembangkan kebiasaan menghormat dan merenungkan sifat-sifat mulia Sang Buddha sejak kecil.

Memberikan visudhi kepada anak juga merupakan suatu hal yang sangat baik untuk mempertebal keyakinan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha.
Memberikan contoh yang baik

Cara penanaman keyakinan sesungguhnya sangat tergantung pada usia anak-anak kita, namun satu hal yang pasti dan paling penting adalah bila orangtuanya hidup sesuai Dhamm. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa anak-anak cenderung akan mengikuti apa yang dilihat dan didengarnya saat itu juga.

Penanaman keyakinan kepada anak sangatlah tergantung pada seberapa besar orangtuanya merealisasikan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Contoh sederhana, orangtua (ayah dan ibu) yang tidak berbakti kepada orangtuanya (nenek dan kakek), akan menyebabkan anak-anaknya cenderung akan meniru sifat orangtuanya dan akan mengakibatkan penanaman sifat tidak berbakti dari sang anak kepada orangtua, yang sangat bertentangan dengan Dhamma.

Anda harus merealisasikan Dhamma dan tidak sekadar pembicaraan saja untuk dapat membuat diri Anda hidup dengan cara benar sehingga membawa kebahagiaan bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, khususnya keluarga. Dengan cara itu berarti Anda telah memberikan contoh yang baik kepada anak Anda.

Menyampaikan cerita-cerita Buddhis kepada anak Anda

Anak-anak umum-nya suka dengan berbagai macam cerita, adalah suatu usaha yang baik, di mana orangtua Buddhis dapat menyisakan waktu sedikit, apakah setiap hari, dua hari sekali ataupun seminggu sekali, membacakan cerita-cerita Buddhis yang ringan, sesuai dengan usia anaknya, sehingga secara bertahap menanamkan keyakinan pada Buddha Dhamma lewat intisari cerita-cerita tersebut. Dapatlah diambil contoh, cerita-cerita Buddhis seperti Jataka, kisah asal usul syair Dhammapada (Dhammapada Atthakata), Petavatthu (cerita kisah peta), Vimanavatthu (cerita kisah dewa/dewi), kehidupan Pangeran Siddhattha hingga mencapai Buddha, kehidupan sosial selama kehidupan Sang Buddha, dan masih banyak lagi.

Karena secara psikologi anak-anak, mereka akan lebih mudah mengerti dan melekat di pikiran lewat cerita-cerita dari pada diberikan suatu motto yang ‘wah’ sekalipun. Dalam cerita-cerita sederhana yang umumnya menggambarkan orang jahat akan mengalami penderitaan dan orang yang baik ataupun berhati mulia akan mendapatkan kebahagiaan, secara sadar anak-anak kita akan berusaha menghindari perbuatan yang tidak terpuji di kemudian hari.

Anda juga dapat memperdengarkan cerita-cerita Buddhis lewat kaset, VCD, dan sebagainya, yang sudah tersedia.

Menerangkan Dhamma dengan cara sederhana

Tumbuhkanlah semangat Dhamma pada anak-anak sejak kecil, misalnya dengan mengajarkan ajaran dasar Buddhisme.

Ajarkanlah dan tunjukkan Metta (cinta kasih), Karuna (kasih sayang), dan Mudita (simpati) yang merupakan komponen penting dalam Buddhisme kepada anak sejak dini.

Latihlah anak Anda dengan lima sila dasar (tidak melaku-kan pembunuhan, tidak melakukan pencurian, tidak melakukan per-buatan asusila, tidak melakukan ucapan yang tidak benar, dan tidak meminum-minuman keras yang melemahkan kesadaran) dan apa yang harus dilakukan oleh seorang umat Buddha dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh umat Buddha.

Ajarkanlah dengan sederhana apa yang dimaksud dan mengapa harus melatih sila-sila tersebut dengan cara yang sederhana dan jangan dengan filsafat-filsafat yang kelihatannya hanya akan dimengerti oleh orang orang dewasa. Dapatlah diambil contoh, pelatihan untuk tidak berbohong, berikanlah penjelasan singkat mengapa tidak baik, beritahu anak Anda bahwa jika berbohong, dapat menyebabkan orang lain tidak akan mau percaya lagi apapun yang diucapkan lain kali.

Memperkenalkan syair-syair yang mudah, seperti bait-bait Dhammapada juga akan menambah wawasan anak-anak. Misalkan untuk mengembangkan sifat tidak membenci, bagi anak-anak dapatlah diterangkan syair Dhammapada 5 (Yamaka Vagga – Syair berpasangan):
"Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian. Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci, Inilah hukum abadi."

Perlu juga adanya persiapan referensi buku-buku Dhamma yang cocok untuk anak, misalkan buku ‘Ketika Anak Bertanya’ karangan Dhamma K.Widya, ‘Sang Buddha Pelindungku’ seri I sampai VI, terbitan Sangha Thervada Indonesia, dan banyak lagi buku lain yang dapat Anda peroleh di vihara-vihara sekitar Anda.

Selain itu anak-anak mempunyai kecenderungan yang tinggi terhadap musik/lagu, oleh karena itu orangtua dapat memperdengarkan lagu-lagu Buddhis kepada anak-anak sejak dini. Saat ini sudah banyak sekali lagu-lagu Buddhis untuk anak-anak yang dapat dibeli di bursa-bursa vihara maupun toko-toko Buddhis.

Karakter anak

Sang Buddha mengajarkan Dhamma kepada para raja, pengemis, tuan tanah, petani, prajurit, pedagang, budak, filsuf, dan sebagainya. Beliau mengerti sepenuhnya karakter dari setiap orang yang berbeda, dan menyampaikan Dhamma yang mudah dimengerti dan dipahami dengan cara-cara yang disesuaikan dengan karakter masing-masing. Dengan cara yang sama kita harus berusaha mempelajari dan memahami karakter anak-anak kita agar kita dapat mengajarkan Dhamma pada mereka dengan cara paling efektif. Misalkan anak suka menggambar, berikan buku menggambar dan mewarnai tentang kisah-kisah Buddhis. Dan orangtua dapat menjelaskan arti-arti dari gambar tersebut secara sederhana.

Kegiatan-kegiatan spiritual

Anak-anak perlu diajak untuk selalu mengikuti peringatan-peringatan keagamaan, seperti menghadiri hari raya Waisak, Asadha, Kathina, Magha Puja, maupun hari-hari Uposatha, supaya merasa senang dan puas. Mengunjungi vihara-vihara di dalam maupun di luar kota bisa merupakan alternatif lainnya. Anak-anak perlu juga diajak untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah bernuansa Buddhis, seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, dan kalau mampu dapat mengunjungi tanah suci kelahiran Pangeran Siddharta (Lumbini), tempat direalisasikannya Penerangan Sempurna (Bodhgaya), tempat Maha parinibbana (Kusinara), ataupun negara-negara Buddhis lainnya.

Jika usia anak sudah cukup, perlu memotivasi mereka untuk ikut serta dalam kegiatan bakti sosial ke rumah jompo, panti asuhan, kerja bakti di vihara, dan lain-lain. Mengunjungi sanak famili dan juga para bhikkhu adalah hal yang sangat dianjurkan untuk menumbuhkan rasa kepedulian terhadap suatu hubungan. Mengunjungi para bhikkhu dapat dimanfaatkan sebagai usaha untuk menambah keyakinan terhadap Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Jika ada liburan sekolah, dapat juga melakukan dharmawisata ke desa-desa yang cenderung masih lebih alamiah, dan menunjukkan kepada anak-anak bagaimana mengembangkan cinta kasih terhadap sesama manusia maupun binatang. Bagaikan seorang pramuka yang baik, ajarkanlah untuk menolong wanita tua untuk membawa keranjang atau mendorong kereta dorong, dan sebagainya. Ajarkan untuk membawa seekor ikan yang hampir mati karena kurang air ke dalam kolam yang airnya cukup.

Kekebalan terhadap ajaran non-Buddhis dan materilisme

Orangtua harus memberikan perhatian dengan penuh kewaspadaan agar anak-anak tidak ditarik ke dalam jaring ‘ajaran lain’ dan juga materialisme, sehingga membuat pikirannya terbuka pada pancaran sinar Dhamma.

Perlu disadari, khususnya di Indonesia, agama Buddha merupakan agama minoritas dan di kelilingi oleh agama-agama ‘non-Buddhis’ dengan fasilitas dan sarana yang jauh di atas agama Buddha. Contoh paling sederhana penjaringan terjadi melalui beberapa sekolah bermutu yang dikelola oleh lembaga dari suatu ‘agama’ tertentu, sehingga banyak sekali anak-anak yang orangtuanya Buddhis menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah tersebut. Memang tidak wajib untuk menyekolahkan anak kita di sekolah-sekolah Buddhis karena mutunya yang kurang bagus, namun kita harus benar-benar mem-perhatikan perkem-bangan anak kita, sehingga tetap berpegang pada Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Mengingat kondisi-kondisi lingkungan yang dijelaskan di atas, sangat perlu dijelaskan perban-dingan-perbandingan antara agama Buddha dengan agama-agama lain kepada anak kita. Kita harus menunjukkan keistimewaan ajaran Buddha dibandingkan dengan yang lain, sehingga membuat anak-anak kita kebal terhadap pengaruh-pengaruh luar, termasuk materialisme.

Di samping itu, saat anak-anak kita menanjak dewasa dan terutama selama masa remaja yang romantis, ada beberapa ritual yang menarik perhatian mereka, khususnya melalui musik, lagu, panduan suara, dan lain sebagainya. Untuk mencegah anak kita tertarik ke suatu ajaran non-Buddhis hanya karena musik semata-mata, dianjurkan supaya anak-anak sejak dini dikenalkan dengan musik, terutama yang bernuansa Buddhis, untuk mencegah mereka tergiur dengan mendengar lagu-lagu non-Buddhis.

Satu hal penting yang harus ditanamkan terus pada anak-anak kita adalah tanggung jawab diri sendiri. Misalnya setiap malam, ketika anak-anak lain berdoa, anak-anak Buddhis harus melewatkan waktu sedikit dengan meditasi dan merenungkan hal-hal yang telah dilakukannya. Bila mereka menyadari bahwa diri mereka belum berpikir, bicara dan bertindak sesuai ajaran Buddha, maka mereka harus berusaha untuk mengerti bagaimana menghindari kesalahan itu di lain waktu. Bila mereka menyadari bahwa diri mereka tidak dapat menghindari pikiran ataupun perbuatan buruk, maka orangtua harus membantu mereka, sehingga dapat pergi tidur dengan tekad untuk berbuat yang lebih baik pada esok harinya. Di pagi hari mereka dapat memulai hari yang baru dengan merenungkan kembali tekad mereka. Dengan cara ini, anak-anak akan mampu mengembangkan kekuatan dari pikiran mereka sendiri, sambil memurnikan pikiran dengan menanamkan kebaikan atau ketrampilan berpikir, berkata dan bertindak. Demikian juga jika anak-anak non-Buddhis melakukan doa sebelum makan, anak-anak Buddhis dapat diajarkan untuk merenungkan fakta bahwa makanan yang mereka makan adalah berfungsi untuk kesehatan fisik dan mental, bukan untuk berfoya-foya atau bersenang-senang.

Hukum karma akan menunjukkan kepada anak-anak kita lebih jelas dibandingkan dengan janji-janji indah yang didogmakan oleh ajaran tertentu. Anak-anak kita akan dituntun untuk melihat hukum sebab-akibat, ibarat biji pepaya akan tumbuh jadi buah pepaya dan tidak akan menjadi buah semangka, penebar kebajikan akan mendapatkan kebahagiaan sedangkan penebar kejahatan akan mendapatkan penderitaan.

Tanggung jawab diri sendiri yang ditanamkan dengan baik akan membentuk dan mengembangkan kualitas batin anak kita, sehingga akan membentuk dan memperkuat benteng alamiah terhadap agama kepercayaan lain di satu sisi dan menghindari penyalahgunaan filsafat mengenai materialisme di sisi lain.

Dengan uraian singkat di atas, semoga setiap orangtua Buddhis bisa terbuka dan mau melihat betapa pentingnya dan berharganya ‘pendidikan melalui keluarga’ terhadap anak-anak kita. Orangtua mempunyai peranan yang sangat penting bagaimana diri sang anak dibentuk.

Semoga kita tidak lagi mendengar pendapat: ‘Anak kami dapat memilih agamanya nanti, tepat seperti yang kita lakukan, dan kita tidak mempunyai hak untuk menentukannya.’

Anda sebagai orangtua, pasti sudah pernah mencari kesana kemari, dan menemukan bahwa agama Buddha adalah yang paling bagus ataupun cocok buat anda, mengapa anda masih ingin membiarkan anak anda mencari sendiri, setelah ajaran-ajaran dogma ataupun materialisme telah bekerja, dan anak-anak kita tidak lagi mempunyai kebebasan intelektual. Kita telah kalah ‘start’, di mana anak-anak sudah di-dogma sejak masuk sekolah dan hampir setiap hari dilakukan penanaman kepercayaan lain secara bertahap, sedangkan kita tidak melakukan apa-apa, apakah itu masih ‘adil’ bagi anak Anda?

Di dalam misi penyebaran Dhamma, Sang Buddha bersabda kepada enam puluh Arahat: "Kotbahkanlah Dhamma yang mulia pada awal, mulia pada pertengahan, mulia pada akhir. Umum-kanlah tentang kehidupan suci yang benar-benar suci dan sempurna dalam ungkapan dan dalam hakekatnya, demi keselamatan dan kesejahteraan semua makhluk".

Mengapa anda yang sudah mengenal Dhamma tidak anda sebarkan dan ajarkan kepada anak, yang pasti merupakan orang yang paling anda sayang?Membiarkan anak anda memilih agamanya tanpa dibimbing mengenai Buddha Dhamma adalah bagaikan melepaskan anak buta di hutan yang berbahaya tanpa diberi perlengkapan apapun, salah-salah bisa tertusuk duri, dimakan binatang buas, masuk jurang ,dsb.

Ingatlah, bahwa dari segala jenis pemberian baik materi maupun non-materi, pemberian Dhamma adalah pemberian yang paling berharga, bagaimana anda sebagai orangtua Buddhis bertanggung jawab karena kelalaian memberikan hadiah ini kepada anak anda?

[ Dikutip dari Majalah Dhammacakka  ]

Senin, 14 Februari 2011

Bagaimanakah yang Disebut Upasaka Upasika Itu


Bagaimanakah yang Disebut Upasaka Upasika Itu
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Shanti Bhadra Mahathera



Dalam bahasa Pali umat Buddha laki-laki disebut Upasaka, sedangkan wanita disebut Upasika. Kata "upasaka" berarti seseorang yang mengenal dekat dan akrab Tiratana (Tiga Permata) —Buddha (orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna), Dhamma (ajaran), dan Sangha (persaudaraan dari orang yang meninggalkan keduniawian). Ketika seseorang menerima Tiga Perlindungan atau menganggapnya sebagai pedoman hidup, umumnya dapat dikatakan sebagai seorang umat Buddha.
 
Saat menerima ajaran Sang Buddha sebagai pedoman hidup, dia harus menjalani suatu bentuk latihan, yaitu kemoralan (Sila). Lima bentuk latihan sebagai dasar dari kemoralan (Sila). Kelima Sila itu dilaksanakan dengan pengendalian diri, bukan dengan diperintah. Dan melakukan Sila itu berdasarkan pengertian untuk mengurangi kadar dari tiga akar kejahatan yakni lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan).

Dengan melatih diri menghindari diri dari pembunuhan, pencurian, perzinahan, kebohongan, dan mabuk-mabukan; dan berdasarkan ini memupuk diri dengan kemurahan hati (alobha), cinta kasih (adosa), dan pengertian benar (amoha).

Lima Pencapaian
Sang Buddha telah menunjukkan bahwa seorang upasaka yang mempunyai lima hal berikut ini dengan baik dapat diumpamakan seperti bunga teratai merah (paduma), teratai putih (pundarika), dan permata (ratana). Kelima hal tersebut adalah:
  1. Saddha (keyakinan pada Buddha, Dhamma, dan Sangha
  2. Sila (kemoralan, etika).
  3. Tidak yakin pada Kotuhala Mangalika (menerima sesuatu yang baik dan buruk yang ia anggap sebagai pertanda keberuntungan dan kemalangan).
  4. Yakin pada Hukum Kamma (Hukum sebab dan akibat).
  5. Nabahida dakkhinineyyan gaveseti (pencarian di manapun, di luar ajaran Sang Buddha, untuk berdana baik segi materi maupun non materi; dan mengulurkan tangan pertama-tama pada kebenaran, sebagai pengamalan ajaran Sang Buddha).
Melalaikan hal-hal tersebut berarti menodai upasaka yang dapat diumpamakan seperti orang buangan (chandala), noda (malan), dan orang dari keturunan rendah (patikuttha).

Sepuluh Pengertian
Dalam Milinda Panha (pertanyaan Raja Milinda), Bhikkhu Nagasena dalam percakapannya dengan Raja Yunani, menjelaskan garis besar sepuluh kualitas seorang upasaka.
  1. Dia selalu menginginkan kesejahteraan Sangha. Dhamma menempati kedudukan yang utama dalam kehidupannya.
  2. Dia selalu memberi dengan kemurahan hati.
  3. Bila dia melihat tanda kemunduran dari ajaran Sang Buddha (sasana), dia berbuat dengan sekuat tenaga untuk menolong dan menegakkan kembali.
  4. Dia terbebas dari takhyul tentang pertanda dan tanda-tanda yang memberikan keberuntungan atau kemalangan. Dan ia memiliki pengertian yang benar.
  5. Kalaupun ada kejadian dalam kehidupannya, ia tidak memikirkan orang lain selain Sang Buddha sebagai Gurunya.
  6. Dia tertib, dalam ucapan dan perbuatannya.
  7. Dia rukun dan harmonis dalam hubungan antar manusia.
  8. Dia tidak bersifat iri hati.
  9. Dia tidak menggunakan agama Buddha untuk menipu orang lain atau untuk memperoleh nama dan kemashyuran.
  10. Dia menerima Perlindungan (berpedoman pada) Buddha, Dhamma, Sangha.
Manfaat dan Bantuan
Dalam percakapan dengan Mahanama, salah seorang saudara sepupu Sang Buddha, Beliau menguji delapan tanda seorang upasaka yang melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan memberikan berkah serta bantuan kepada orang lain. Delapan ciri tersebut adalah:
  1. Dia memiliki kepercayaan dan menanamkannya pada orang lain.
  2. Dia memiliki kebajikan dan disiplin serta mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.
  3. Dia memiliki kemurahan hati dan menjelaskan perbuatan baik tersebut kepada orang lain.
  4. Dia senang bertemu dengan bhikkhu dan juga mengajak orang lain untuk bergabung bersama-sama.
  5. Dia gemar mendengarkan diskusi Dhamma dan mendorong ketertarikannya pada Dhamma itu kepada orang lain; dan dia memulainya untuk berbuat demikian.
  6. Dia menunjang Dhamma yang telah ia dengarkan dan merenungkan dalam batin pada waktu senggang untuk memperdalam pengertiannya. Dia menganjurkan orang lain berbuat demikian.
  7. Dia mengkaji dan menerapkan Dhamma secara terus menerus dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama.
  8. Dia mempraktikkan Dhamma dalam kehidupannya sehari-hari, mendorong dan membangkitkan orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Seorang Upasaka seharusnya tidak melakukan sejumlah pekerjaan yang merugikan orang lain. Yaitu menghindari lima jenis perdagangan:
berdagang peralatan perang, budak, daging/binatang, makanan yang dapat memabukkan, dan racun.

Dua Upasaka Pertama
Tapussa dan Bhallika adalah dua pedagang bersaudara yang pertama kali mempersembahkan makanan sejenis gandum dan madu kepada Sang Buddha setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna. Mereka juga menjadi upasaka pertama yang menerima Dua Perlindungan pada Buddha dan Dhamma. Saat itu belum ada Sangha.

Tercatat, mereka bertemu Sang Buddha lagi setelah empat atau lima bulan di Rajagaha. Mereka mendengarkan ajaran Sang Buddha. Dan Tapussa mencapai tingkat kesucian yang pertama (Sotapana) dan tetap sebagai upasaka. Sedang Bhallika mencapai Arahat dan kemudian menjadi anggota Sangha.

Perubahan Besar
Kisah tentang upasaka pertama yang menerima Tiga Perlindungan sangat menarik. Di kota kuno Benares, tinggal seorang pedagang kaya yang mempunyai seorang putra bernama Yasa. Dia dibesarkan di lingkungan yang mewah. Bosan dengan hidupnya dalam sangkar kemewahan, dia menempuh hidup dengan kesenangan indera yang melemahkan dan dangkal. Dia mengungkapkan dirinya demikian,
Aduh, letih aku dalam kesibukan duniawi, apakah gunanya semua nafsu dan kesakitan ini, datang, datanglah kedamaian, kedamaian yang indah, ke dalam dadaku(Goethe)
Pada suatu pagi, dia meninggalkan rumahnya dengan sembunyi-sembunyi dan berangkat menuju Sarnath (Taman Rusa), mencari kedamaian dan ketenangan batin.

Ketika itu Sang Buddha tinggal di Sarnath bangun di pagi hari dan berjalan mondar-mandir di suatu ruangan terbuka. Saat Beliau melihat seorang pemuda —Yasa datang mendekatinya, Beliau duduk dan menunggunya. Yasa datang kepada Sang Buddha, memberikan hormat, dan duduk di dekatnya. Sang Buddha tahu bahwa pikiran Yasa sedang tak menentu. Diawali dengan uraian tentang kehidupan sehari-hari, perlahan-lahan Sang Buddha mengantarkannya menuju khotbah yang lebih berkembang dan mendasar tentang Empat Kesunyataan Mulia.

Seperti halnya kain yang masih bersih tanpa noda hitam atau kotoran, akan mudah dicelup warna, demikian juga dengan setiap rangkaian, kesucian dan kemurnian pandangan Dhamma —bangkit dalam pikiran Yasa. Dan dia mencapai tingkat kesucian pertama, Sotapana.

Tidak lama kemudian, Ayah Yasa datang mencarinya. Sang Buddha menjumpainya dengan senyum yang memancarkan cinta kasih, menghibur dan membuatnya gembira dengan sebuah khotbah yang dalam maknanya. Pada akhir khotbah ayah Yasa berkata, Luar biasa, luar biasa, Sang Bhagava.

( Dikutip dari Majalah Jalan Tengah No.58 ) 

Sabtu, 12 Februari 2011

Bahasa Tubuh dan Bahasa Dhamma

 
Bahasa Tubuh dan Bahasa Dhamma
Oleh Pandita D. Henry Basuki


Menurut para ahli sejarah, seseorang itu dapat dikatakan sebagai orang baik atau tidak, nanti kalau sudah mati. Pada saat hari kematiannya itulah akan menjadi cermin bagi seseorang dikatakan baik atau tidak sepanjang perjalanan hidupnya. Artinya perhatian dan penghormatan yang diberikan oleh sanak keluarga, kerabat jauh atau dekat, pengakuan dari warga masyarakat, serta penghargaan dari bangsa dan negara, terhadap seseorang pada hari kematiannya itulah dapat menjadi ukuran seberapa besar kebaikan yang dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Semakin besar jasa kebajikannya, semakin besar pula perhatian, penghormatan, pengakuan dan penghargaan ditujukan kepadanya.

Lain dengan pendapat para ahli ilmu kemanusiaan. Para ahli ilmu kemanusiaan menyanggah pendapat ahli sejarah, bahwa seseorang dapat dinilai sebagai orang baik atau tidak nanti sesudah meninggal dunia, pernyataan itu tidak seluruhnya tepat, benar dan pasti. Sebab kalau kebaikan seseorang hanya dapat dilihat apabila nanti setelah ia meninggal dunia, kemudian bagaimana dengan seseorang yang masih hidup dan apa yang dapat untuk dinilai dalam perjalanan hidupnya sebagai orang baik atau tidak ?

Maka menurut para ahli ilmu kemanusiaan, seseorang dinilai sebagai orang baik atau jahat, dapat diamati melalui pola pikir, gaya hidup, dan kecenderungannya. Dalam bahasa seni hidup kemanusiaan, atau menurut bahasa tubuh dalam ilmu kejiwaan, sekurang-kurangnya terdapat tiga hal bisa dijadikan alat bantu untuk mengukur seseorang itu baik atau tidak. Rumusnya sebagai berikut, pertama miraga, kedua mirama, dan ketiga mirasa.
  1. Miraga, meliputi hal-hal yang bersifat fisik, jasmaniah. Artinya secara lahiriah dapat dilihat dengan mata terbuka secara nyata. Pendek kata bagaimana cara menata diri. Ini semua merupakan pantulan dari dalam lubuk hatinya.
  2. Mirama, adalah hal-hal yang mengandung unsur gerak. Artinya gerak gerik tubuh, maupun anggota badan jasmani. Dapat dilihat dari bagaimana seseorang cara berjalan, cara duduk, cara makan, cara tertawa, cara tidur. Singkatnya saja seluruh gerak gerik anggota tubuh menggambarkan watak dan kecenderungan perilaku seseorang.
  3. Mirasa, artinya jalan pikiran, termasuk cara bicara dan apa yang dibicarakannya. Dari cara bicara seseorang bisa dengan mudah diprakirakan termasuk golongan kaum terpelajar atau kaum kurang ajar. Adapun menurut bahasa Dhamma, mano kamma, vaci kamma, dan kaya kamma. Seseorang terpuji maupun tercela adalah berasal dari apa yang ia lakukan, ia ucapkan, dan apa yang ia pikirkan.
Pesan para ahli kemanusiaan, untuk menyimpulkan seseorang itu baik atau tidak, hendaknya dilihat dari semua sisi dengan teliti dan telaten. Sebab banyak kebaikan ditunjukkan oleh seseorang akan tetapi segera ternyata, kebaikannya itu untuk menutupi kejahatannya. Atau sebaliknya menurut ukuran dari satu sisi orang itu jelas-jelas culas jelek dan jahat, akan tetapi bila dilihat dari sisi lain ternyata positif, menunjukkan angka-angka besar bernilai kebaikan. Oleh karena itu menurut para ahli ilmu kemanusiaan, tiga aspek tersebut itu tadi merupakan cermin pribadi seseorang tanpa kecuali. Melalui tiga aspek itu pula dapat dinilai sejauh mana kebaikan maupun kejahatan seseorang dalam dirinya.

Sungguh obyektif pesan Dhamma, lihatlah segala sesuatu itu dari sisi yang berbeda sekalipun dengan jelas, dan lihatlah sesuatu itu apa adanya, jangan hanya dilihat apa nampaknya. Kata Buddha, segala sesuatu yang dilihat dari sisi yang berbeda dengan jelas, teliti dan telaten, akan menghasilkan sebuah kesimpulan spektakuler, bukan hanya merupakan sebuah keputusan sepihak dari satu sisi bersifat popular.

Cermin kepribadian dalam beragama

Ternyata banyak juga yang masih belum paham betul arti sesungguhnya apa yang dimaksud sebagai pemeluk agama atau pengikut agama. Sehingga membingungkan juga orang-orang yang nampaknya sudah beragama itu, tetapi pola pikir, gaya hidup dan perilakunya tidak mencerminkan sebagai umat beragama. Ada perbedaan cukup jelas bahwa meskipun sudah sebagai pemeluk agama belum tentu ia sebagai pengikut agama yang dianutnya. Yang dimaksud pengikut adalah mereka yang mendengar nasehat-nasehat, mengikuti petunjuk-petunjuk, serta meniru perilaku para pendiri agama yang dianutnya. Tetapi pemeluk, meskipun sudah memeluk, belum tentu mengikuti petunjuk-petunjuknya, meniru perilaku pendiri agamanya. Untuk itu, meskipun sebagai pemeluk, belum tentu sekaligus sebagai pengikut. Misalnya, Sang Buddha telah meninggalkan bentuk keakuan, atau kekuasaan. Sementara umat-umatnya malah sibuk mencari apa saja yang sudah ditinggalkan oleh Sang Buddha, ke-Aku-an dan kekuasaan.

Selain miraga, mirama, dan mirasa, bagaimana mengukur tinggi rendahnya kadar keimanan umat beragama. Terdapat tiga hal paling tidak bisa menjadi tolok ukur tinggi rendahnya kadar keimanan seseorang dalam beragama secara individu maupun sosial. Tiga hal dimaksud adalah, pertama menjadi umat beragama di tempat ibadah, kedua menjadi umat beragama di rumah, dan ketiga menjadi umat beragama di masyarakat. Pada umumnya belum semua umat beragama dapat mewujudkan tiga aspek hidup beragama di tempat ibadah, di rumah, dan di masyarakat, dengan penuh rasa tanggung jawab secara pribadi, ataupun terhadap keluarganya.

Ada saja seseorang dalam beragama hanya aktif di tempat ibadah, di rumah, atau di masyarakat. Sehingga tidak sedikit para pemuka agama yang amat menonjol di masyarakat akan tetapi keluarganya sendiri justru tidak terurus dengan baik secara agama. Anak pertama pemabuk, anak yang kedua penyabung ayam. Anak ketiga penjudi, sedangkan perilaku anak keempat dan seterusnya semua yang terlarang diterjang. Atau ada seseorang yang bukan main tekunnya ibadah di rumah, bahkan tidak pernah putus (barang satu menit) hubungannya dengan tuhannya, tetapi bertahun-tahun bicara dengan gaya bahasa tidak baku terhadap ayah dan ibu kandung sendiri, dan tidak saling tegur sapa dengan mertuanya yang memberi istri. Karena itu adalah umat beragama paling ideal terpuji kualitas tinggi, apabila bisa menerapkan ketiga cara beragama tersebut secara simultan dan pasti dalam hidup sehari-hari.

Dalam pandangan agama-agama, dan terutama menurut pandangan Buddhis terdapat empat tingkat pola dasar pendidikan moral yang amat berpengaruh pada pembentukan watak jiwa kepribadian seseorang dalam beragama. Empat hal tersebut adalah : etika, estetika, dogma, dan keempat doktrin.
  1. Etika : adalah meliputi budi pekerti, sopan santun, tata krama dalam pergaulan.
  2. Estetika : meliputi aspek-aspek keindahan seni.
  3. Dogma : dimaksud di sini adalah cara menumbuhkan hakekat keyakinan melalui tahu, mengerti dan mengalami sendiri.
  4. Doktrin : di sini adalah hal-hal yang serba logika.
Dalam bahasa Dhamma, dana, sila, samadhi dan pañña. Dari dana, sila, samadhi yang utuh, sebagai wujud nyata dari kerelaan peduli, terhadap orang lain secara santun penuh cinta kasih dan kasih sayang. Memberi karena welas, dan tidak menuntut dibalas. Menjadi manusia yang penuh metta dan pañña seimbang.

Akan tetapi kaum intelek mengatakan agama Buddha anti dogma, yang harus diajarkan adalah hal-hal yang bersifat doktriner imajiner saja, dogma adalah fanatik sempit. Dari cara pandang itu, akibatnya, banyak umat Buddha yang serba logika, tapi lupa akan nilai-nilai etika. Lantaran kurang peduli dengan keindahan seni, pergi ibadah pakai baju mini. Padahal dari dogma yang berdasarkan tahu, mengerti, dan mengalami sendiri akan timbul dari keyakinan yang tidak mudah goyah secara kontekstual.

Kalau saja ketiga-tiganya dapat ditanamkan sejak dini kepada anak-anak didik, terhadap umat-umat beragama, dan kepada masyarakat luas. Pasti dapat diharapkan pertumbuhan anak-anak kelak tahu sopan santun, mengerti budi pekerti, bisa praktek tata krama. Perkembangan umat beragama akan menjadi mantap tidak mudah goyah, meyakini agama sendiri yang terbaik, tidak dengan menjelek-jelekkan agamanya orang lain. Perilaku masyarakat akan mencerminkan watak penuh kepedulian sosial yang merata, serta bisa melestarikan keindahan lingkungannya.

[ Artikel Berita Dhammacakka, edisi : 17 Desember 2000 ]

Jumat, 11 Februari 2011

Bahagia Dalam Dhamma

Bahagia Dalam Dhamma
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Dhammakaro



Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci;
di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa benci.
 

Dalam perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang sangat pesat dewasa ini, hampir merambah ke semua sendi-sendi kehidupan. Tetapi bagaimanapun canggihnya teknologi, masih belum bisa menyentuh sisi yang justru merupakan aspek inti dalam kehidupan, yakni aspek batiniah. Justru belaian dari keindahan dan kegemerlapan materi telah membuat mabuk kepayang umat manusia, yang dijanjikan dengan kemudahan-kemudahan untuk memperoleh kebutuhan materi tersebut sehingga memberikan dampak buruk dengan menurunnya daya tahan manusia lahir maupun batin.

Sesungguhnya belaian keindahan dan kegemerlapan duniawi tidak hanya terjadi dewasa ini, melainkan telah terjadi juga dua puluh lima abad yang lampau, dimana saat Pangeran Siddhattha dilahirkan, dan pada saat pertapa Gotama melaksanakan sammasamadhi di Buddha Gaya. Saat Beliau menjalankan praktek pertapaannya, mara berdatangan untuk menghalang-halangi dan menggoda pertapa Gotama dalam usaha untuk Mencapai Penerangan Sempurna. Tiga mara penggoda yang menyamar atau menyerupai wanita-wanita cantik adalah wujud dari keindahan materi yang dapat membuat orang terlena dan terbuai. Tetapi Pertapa Gotama adalah salah satu manusia yang memiliki daya tahan batiniah yang tertinggi sehingga dapat melepaskan diri dari belaian keindahan dan tercapailah kesempurnaan sejati menjadi Buddha.

Perjuangan yang dilakukan oleh Pertapa Gotama merupakan tumpuan dan contoh otentik yang kini diwariskan kepada kita semua untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, agar kita mencapai apa yang kita dambakan. Karena semua yang dilakukan oleh umat manusia dengan penuh kekuatan hati dan pikiran; dengan perjuangan yang gigih, semangat dan tekad yang membara adalah untuk satu tujuan "Hidup Bahagia". Tetapi hendaknya kita selalu ingat apa yang telah diperjuangkan oleh Pertapa Gotama, bahwa majunya materi bukanlah jaminan untuk memperoleh kebahagiaan hakiki. Hal itu telah terbukti jelas pada kehidupan saat ini.

Melimpah ruahnya materi yang dimiliki seseorang bila tidak hati-hati dalam memanfaatkannya, justru akan menambah keserakahan dan kebencian, walau dalam prakteknya mereka selalu mengatasnamakan demi kepentingan orang banyak. Tetapi mereka lupa pada nilai-nilai spiritual yang lebih berharga daripada nilai materi itu sendiri, sehingga pada saat prakteknya mereka sering menekan, memojokkan dan mengorbankan kehidupan orang lain. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu ingat dengan apa yang telah disabdakan oleh Guru Agung Buddha Gotama dalam Dhammapada ayat 197 dan 199) yang berbunyi, "Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci; di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci. Sungguh bahagia kita hidup tanpa keserakahan di antara orang-orang yang serakah; di antara orang-orang yang serakah kita hidup tanpa keserakahan."

Begitu jelas bahwa kebahagiaan hidup dapat diperoleh justru dengan mengikis dan melenyapkan sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita yakni, ketidaksukaan atau benci, dendam, irihati, keserakahan, congkak, mau menang sendiri, berpegangan pada pandangan salah dan lain-lainnya. Kemudian kita mengembangkan nilai-nilai kebajikan yakni, toleransi yang mendalam dan tanpa pamrih, cinta kasih dan kasih sayang, simpati dengan keberhasilan orang lain, berpegang teguh pada nilai spritual, berpandangan dan berpikiran benar dan berkeyakinan pada hukum kebenaran (Dhamma).

Terdapat orang yang memberikan argumentasi demikian, apakah bukan dengan melimpah ruahnya materi sehingga seseorang dapat memuaskan nafsu-nafsu keinginannya dan di situlah rasa bahagia dapat diperoleh ? Karena, ibarat seseorang yang ingin sekali makan makanan yang khusus (bubur sarang walet ...), dan ia memiliki banyak uang untuk membeli makanan itu sebanyak-banyaknya sehingga memuaskan keinginannya, maka di situlah kebahagiaan diperoleh.

Argumen dan alasan tersebut sangat masuk akal dan nampaknya benar sekali, tetapi kita harus ingat dengan yang Sang Buddha ajarkan dalam Empat Kesunyataan Mulia tentang berhenti dan lenyapnya dukkha (dukkhanirodha), bahwa bahagia dapat diperoleh dengan terhentinya dukkha dan dukkha akan hilang dan lenyap dengan padamnya nafsu keinginan (tanha). Kemudian bagaimana dengan pemuasan keinginan, apakah bukan malah menambah kuatnya cengkraman keterikatan dalam dirinya, dan menumbuhkan dukkha lara yang mendalam ? Seperti seorang pemuda yang bertemu dengan seorang gadis belia nan molek dan akhirnya tertarik dan menyenangi gadis belia tersebut. Setiap hari bahkan setiap saat pemuda tersebut dirundung oleh keinginan untuk selalu bertemu dan bergandengan dengan sang gadis itu, dan sekali dua kali ia tercapai keinginannya sehingga sang pemuda tersebut semakin cinta dan sayang yang mendalam kepada sang gadis molek itu, bahkan ia ingin sekali memilikinya. Pada suatu ketika tanpa diduga dan dikira sang gadis tersebut dipinang oleh seorang pemuda lain untuk dijadikan istri. Maka apa gerangan yang terjadi pada pemuda yang pertama tadi ? Sang pemuda menjadi kecewa, jengkel, kesal dan marah. Intinya ia menderita batin yang begitu dalam, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Apakah yang menyebabkan sang pemuda menderita ? Apakah karena mencintai dan mengasihi gadis belia itu ? Tidak. Pemuda itu menderita karena keterikatannya atau kemelekatannya sendiri yang mencengkeram batinnya. Kemudian bagaimana dengan gadis belia itu ? Gadis belia tersebut adalah sunyata atau hakekat yang ada. Gadis belia adalah fenomena alam, sama halnya dengan indahnya ombak di samudera lepas yang kita lihat. Siapa saja yang melihat pasti menyenangi dan mencintai, tetapi siapa yang ingin memiliki bersiap-siaplah untuk menderita. Maka dengan kata lain pemuda itu tidak cinta yang sesungguhnya pada gadis itu, karena cinta yang sejati adalah cinta yang universal. Cinta sejati adalah tidak terikat apalagi harus memiliki.

Bagaimana dengan pemuda kedua dan gadis belia itu yang menjadi suami-istri ? Itulah manfaatnya kita belajar Dhamma (hukum kebenaran), maka dengan menyelami Dhamma kita akan mengetahui tentang rahasia kehidupan yang pelik, unik dan rumit ini. Mengapa seseorang menjadi suami-istri ? Karena mereka memiliki kesamaan-kesamaan atau kecocokan kamma, itulah jodoh. Kesamaan yang dimaksud adalah Saddha (keyakinan), Sila (moralitas), Caga (kemurahhatian) dan Pañña (kebijaksanaan). Oleh karena itu, marilah kita memahami dan menghayati Dhamma, agar kita selalu hidup bahagia.

Berkeyakinan pada Dhamma nan agung. Tanpa nafsu, tenang dan penuh bahagia.
Berkeyakinan pada Sangha nan agung. Ladang pembuat jasa yang tiada bandingnya.

[ Dikutip dari Artikel Berita Dhamamcakka Edisi 09 Juli 2000 ]

Kamis, 10 Februari 2011

Bagaimana Menemukan Kebahagiaan Sejati

 
 

 
“Kebahagiaan merupakan hadiah yang harus dicari
diperjuangkan oleh umat mansuai dengan penuh kesabaran;
Setengah jalan telah kita tempuh, kini marilah terus maju,
Tujuan sudah berada di depan kita.”
 
Apakah anda ingin bahagia? Jawabannya pasti “ya”. Kita semua – tanpa kecuali – ingin bahagia, walaupun pengertian mengerti kebahagiaan itu sendiri dan cara untuk mencapainya berbeda-beda.

Seorang penulis berkata, ‘Bahagia, menurut kebanyaan orang merupakan tujuan yang paling banyak dicari. Bagi orang-orang yang bernasib kruang baik, kebahagiaan seperti ujing dari pelangi yang berupa pot emas. Mereka mengejar pelangi selama hidupnya seperti mengejar bayangan masing-masing karena tidak mungkin mengejar sesuatu yang letaknya di dalam diri kita sendiri.

Kebahagiaan berada dalam jalan mencapainya dan bukan pada tujuan yagn hendak dicapai. “Ia bahagia jika memiliki cita-cita yagn tinggi dan mulia. Ia bahagia jika dapat memperkaya kehidupannya, membiarkan orang-orang lain hidup damai, memberikan sumbangan agar dunia menjadi tempat tinggal yagn lebih baik. Ia bahagia jika pekerjaan, kewajiban, dan tugas sehari-harinya diliputi oleh kasih sayang.”

Setiap maunsia mengharapkan kebahagiaan. Mereka bekerja siang malam untuk mendapat kebahagiaan walaupun sekejap saja. Tetapi, betapapun keras usaha mereka, seringkali tujuan merek abahkan bertambah jauh, mengapa hal ini dapat terjadi?

Mencari Kebahagiaan

Kehidupan modern adalah perjuangan untuk memperoleh imbalan materi, kesenangan, dan kemewahan. Corak hidup ini membawa kegelisahan dan stress, bukan kebahagiaan. Dalam hidup seseorang terdapat momen-momen pentign di masa semua materi memiliki nilai yang kecil jika dibandingkan dengan kesenagnan bathin akibat pelepasan ari hal-hal duniawi.

Dalam kehidupan awam, pentingnya kesejahteraan ekonomi untuk mencapai hidup layak tak dapat diabaikan. Kita tidak dapat menganggap orang-orang dapat berbahagia jika mereka kelaparan dan hidup dalam keadaan yang menyedihkan. Kemiskinan dan kehidupan di daerah kumuh dapat melumpuhkan kebahagiaan manusia. Sungguh menyedihkan jika sebuah keluarga besar harus hidup, makan, tidur, dan “bereproduksi” di suatu pondok yang kecil di daerah yang kumuh. Keadaan menyedihkan dari lingkungan dan kehidupan para penghuninya sering menjadikan daerah tesebut sebagai lokasi pertumbuhan kegetiran dan kejahatan kecuali daerah itu merupakan kumpulan dari orang-orang suci yang mencari kedamaian di dalam kemiskinan.

Bagaimanapun juga, kaya dan miskin, kebahagiaan dan kesengsaraan adalah istilah-istilah yang saling berhubungan. Seseorang dapat saja kaya tetapi tidak bahagia, orang lain mungkin miskin tapi bahagia. Kekayaan adalah berkah jika digunakan dengan benar dan bijaksana. Tetapi bagian yagn tragis dari kaum miskin adalah keegoisan mereka akan benda-benda materiil. Jika idaman mereka tidak terpenuhi, mereka hidup di dalam kebencian. Tragedi dari si kaya adalah kemelekatan pada harta mereka. Karena itu kebahagiaan tidak ditemukan pada kedua pihak, baik miskin maupun kaya.

Sejumlah orang menganggap bahwa seorang teman hidup yang cocok dan menyenangkan adalah sumber kebahagiaan. Hal ini mungkin saja terjadi. Lainnya menganggap bahwa anak-anak adalah sumber kebahagiaan lain, tetapi hal inipun bukan keadaan yang stanil. Seorang teman hidup dapat meninggal atau meninggalkan mereka, sementara itu ada anak-anak yang lebih banyak menimbulkan penderitaan dari pada kebahagiaan bagi orang tua mereka.

Kita harus belajar untuk puas dan bahagia dengan apa yang telah kita dapat, betapapun sedikitnya. Bahkan kita harus gembira dan puas dengan keadaan kita sekarang walaupun tidak sesuai dengan keinginan itu.

Seorang Istri Tanpa Anak

Suatu ketika terdapat pasangan miskin yang tidak mempunyai anak. Walaupun mereka bahagia dalam hal-hal lain, sang istri sangat menginginkan anak sendiri. Sang suami menyarankan untuk mengadopsi seorang anak tetapi sang istri tetap menginginkan anak yang beerasal dari darah dagingnya sendiri. Mereka mencoba segala rencana tetapi tidak berhasil; sang istri bertambah tertekan dan rasa gelisah dna kekurangan bertambah kuat dan mulai mempengaruhi bathinnya. Tetapi sang suami berangsur-angsur mulai melihat perubahan pada diri istrinya. Sang istri berpura-pura hamil, lalu ketika ia pulang, ditemukannya sang istri sedang menggendong sebuah buntelan kecil dengan gembira. Ia memeriksa buntalan tersebut dan ternyata hanya merupakan sepotong kayu kecil. Sang istri merawat “bayi”nya, memakaikan baji seperti layaknya seorang ibu. Ia bahkan membuat ranjang bayi yang hangat dan menina-bobokan “bayi”nya. Sebenarnya ia mulai berprilaku seperti seseorang anak kecil yang bermain dengan bonekanya. Sang suami yang sangat khawatir dengan keadaan istrinya, membawanya ke psikiater terkenal. Psikiater tersebut memeriksanya dengan seksama dan mencapai kesimpulan yang megnejukan tapi sangat manusiawi, yaitu wanita tersebut akhirnya menemukan kebahagiannya dengan membayangkan sesuatu yang tak dapat diraihnya dalam kenyataan. Sang psikiater memberi nasehat bahwa merenggut kebahagiaannya akan jauh lebih kejam daripada berusaha menyadarkannya dan membuang potongan kayu tersebut.

Kita melihat disini bahwa kadang-kadang keputusan kita mengenai orang lain harus didasari oleh perasaan dan bukan intelegensi semata-mata. Sambil lalu juga dapat dikatakan jika kita menginginkan sesuatu melewati batas, akan mempengaruhi bathin kita dan menganggu kestabilan perasaan kita.

Keadaan menyenangkan dalam lingkungan politik, ekonomi, dan sosial seseorang berperan penting bagi kebahagiaannya dalam masyarakat. Sir Philip Gibbs dalam bukunya, Jalan Pelepasan, berkata “Apa yang dicari oleh manusia dalam pencarian abadinya tentang kebahagiaan, adalah sejumlah sistem pemerintahan dan masyarakat yang akan memberikan setiap individu suatu kesempatan penuh dan adil untuk mengembangkan kepribadiannya sepenuhnya: melalui pekerjaan yang menyenangkan dan secukupnya; melalui keamanan bagi diri sendiri, keluarga, serta teman-temannya; seseorang yagn peka dan dermawan tak ada bahagia jika rakyat di sekitarnya menderita; melalui kesenangan minimum yang sepantasnya, dan kebebasan berpikir dan bertindak yang dibatasi hanya oleh kdoe etik untuk tidak merugikan ettangga-tetangganya. Dalam kebebasan berpikir dan bertindak tersebut, ia berkesempatan berpikir untuk berpetualang dan bersenang-senang; untuk menikmati keindahan, lebih mendalami pengetahuan, mengendalikan diri sendiri dan sekelilingnya, mencapai segala sesuatu yang bermanfaat untuk pikiran dan tubuh.

Agama Buddha mengajarkan kita untuk mengadopsi cara-cara yang benar dan tidak merugikan untuk meraih kebahagiaan. Tidak ada artinya berbahagia di atas penderitaan orang atau makhluk lain. Hal ini diuraikan oleh Sang Buddha sebagai berikut: ’Dapat hidup tanpa merugikan pihak lain adalah berkah utama.’

Unsur-unsur Kebahagiaan

Dalam usaha untuk mencapai hidup yang bahagia dan mempunyai arti, kita harus melatih rasa belas kasihan dan kebijaksaan kita, dua hal yang dapat menuntun manusia menuju puncak kesempurnaan manusiawi. Jika kita ingin mengembangkan segi perasaan saja tanpa pikiran, akan membuat kita menjadi sitolol yang berhati emas, sementara berkembangnya pikiran tanpa perasaan akan membentuk pribadi pintar berhati batu tanpa perasaan. Menurut Sang Buddha, rasa belas kasihan dan kebijkasanaan harus dikembangkan bersama-sama oleh manusia untuk mencapai kebebasan. Hidup yang baik adalah hidup yang dilandasi oleh cinta dan bimbingan oleh pengetahuan.

Apakah rasa belas kasihan itu? Rasa belas kasihan adalah cinta, kemurahan hati, keramahan dan toleransi. Belas kasihan tersebut berperan pada cinta dan perhatian terutama jika berada dalam situasi yang menguntungkan.

Dan aapa pula kebijaksanaan itu> Kebijaksanaan adalah pikiran yang melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, berperan dalam sifat-sifat mulia dari pikiran. Jika seorang pria melihat seorang wanita cantik dan terpikat olehnya, maka ia berharap untuk dapat melihatnya kembali. Ia memperoleh kenikmatan dan kepuasan dari kehadiran wanita tersebut. Tetapi jika situasi berubah dan ia tidak dapat melihatnya lagi, ia tidak boleh bertindak bodoh dan tidak masuk akal. Keadaan tak menyenangkan ini adalah kenyataan yang harus dihadapi oleh manusia. Jika ia tidak memiliki kemelekatan, ia akan bebas dari penderitaan tersebut. Walaupun tidak ada bantahan terhadap kebahagiaan yang diperoleh dari kesenangan indria, sebenarnya kesenangan hidup bersifat singkat dan tidak memberikan kebahagiaan abadi. Menyadari hal ini adalah bijaksana. Kebahagiaan meliputi unsur-unsur yang sederhana dan merupakan keadaan pikiran. Hal ini tak dapat ditemui dalam benda-benda materi disekitar kita, seperti harta, kekuasaan, atau popularitas. Orang-orang yang mengumpulkan harta melebihi yang diperlukan selama hidupnya, akan kecewa pada saat mereka menyadari bahwa semua uang didunia ini tidak dapat membeli kebahagiaan, dan semuanya sudah terlambat. Pengejaran kesenagnan tak dapat disamakan dengan pengejaran kebahagiaan. Kesenangan berlalu begitu saja dan tidak memberikan kebahagiaan abadi. Kesenangan dapat dibeli, tetapi kebahagiaan tidak. Kebahagiaan berasal dari dalam diri kita, berdasarkan kebaikan dan suara hati. Tak seorangpun yang bahagia jika ia tidak puas dengan dirinya sendiri. Pengejaran ketenanga bathin hanya dapat dilakukan melalui pengembangan bathin atau meditasi. Banyak yang harus dilakukan, dan baru sedikit yang dikerjakan.Hanya dengan memahami dan membersihkan diri sendiri, benih-benih kejaikan kita yang tersembunyi dapat tumbuh dan menunjukkan sifat-sifat manusiawi kita. Tugas ini tidak mudah dan memerlukan ketekunan, ketegaran hati dan usaha. Kebahagiaan adalah parfum yang tak dapat kita semprotkan kepada orang-orang lain tanpa kecipratan sedikit untuk diri sendiri.

Jika anda ingin hidup damai dan bahagia, biarkanlah orang lain untuk hidup damai dan bahagia pula. Tanpa prinsip tersebut tidak mungkin ada kebahagiaan dan kedamaian di dunia. Dan jangan mengharapkan terima kasih dari orang lain. Dale Carnegie berkata, “Jika kita ingin menemukan kebahagiaan, jangan memikirkan terima kasih dan marilah berdana karena kepuasan yagn terkandung didalamnya.”

Manusia umumnya tidak menghargai segala sesuatu yang mudah didapat. Tetapi baru menghargainya jika sesuatu tersebut diambil. Udara dan organ-organ tubuh kita semuanya seperti sebagaimana mestinya dan kita bahkan menyalahgunakannya, kadang-kadang sudah terlambat. Seperti seekor ikan yang tidak mengetahui betapa berharganya air sampai ia dikeluarkan dari air.

“Menurut pengamatan saya, manusia merasa bahagia jika mereka berkeinginan untuk bahagia,” kata Abraham Lincoln.

Anda tak dapat memperoleh kebahagiaan dan kedamaian hanya dengan membaca paritta, tetapi perlu disertai dengan bekerja. Percaya akan dewa dan membacakan paritta untuk berkah perlindugnan tidak ada salahnya, tetapi anda pun harus mengunci pintu rumah anda, karena tidak ada jaminan bahwa dewa tersebut akan menjaga rumah anda sampai anda pulang. Anda tidak boleh mengabaikan tanggung jawab anda. Jika anda berbuat sesuai dengan etika moral, pasti akan tercipta surga di dunia ini. Tetapi jika anda melanggarnya, anda dapat merasakan api neraka di dunia ini. Manusia menggerutu jika mereka tak dapat hidup wajar sesuai dengan hukum karmma dan menciptakan masalah mereka sendiri. Jika setiap orang mencoba untuk hidup terhormat, kita semua dapat menikmati kebahagiaan surgawi didunia. Tidak perlu menciptakan surga sebagai imbalan bagi kebajikan atau nereka untuk menghukum perbuatan jahat. Kebajikan dan kejahatan memiliki balasannya masing-masing. Salah satu pertanyaan yang paling membingungkan umat manusia adalah apakah benar-benar ada tempat yang disebut ‘surga; dan ‘neraka’. Manusia tidak memiliki pengertian yang jelas tentang konsep ini.

Dimanakah surga dan neraka> Suatu ketika ada seorang bhikkhu yang gemar berkhotbah tentang sruga dan neraka. Salah satu umatnya yang merasa bosan mendengar hal ini terus , suatu hari berdiri dan bertanya: ‘Katakan dimana adanya surga dan neraka? Jika engkau tidak dapat menjawab, berarti engkau pembohong!’. Sang bhikkhu menjadi takut dan terdiam. Hal ini semakin menambah amarah umat tersebut dan ia terteriak; ‘Jawab atau kupukul kau!” Sang bhikkhu cepat-cepat memutar otaknya dan menjawab, ‘Neraka ada disekitarmu sekarang, bersama amarahmu’.

Menyadari kebenaran yang ada, umat tersebut menjadi tenang, dan mulai tertawa. Kemudian ia bertanya: ‘Lalu dimanakah surga?’ yang dijawab oleh Sang bhikkhu, ‘Surga ada di sekitarmu sekarang, bersama gelak tawamu.’ Surga dan neraka terjadi dalam hidup kita dan muncul di dalam setiap bagian di dunia dimana terdapat makhluk hidup, tanpa terpisah-pisah.

Dimanakah Kebahagiaan?

Dimanakah kita mencari kebahagiaan? ‘Didalam dirimu’, kata Sang Buddha. Tak seorangpun yang membantah bahwa kebahagiaan adalah keadaan hidup yang paling diinginkan. Kebahagiaan tidak terjadi demikian saja. Kebahagiaan adalah keadaan pada saat sadar yang tidak tergantung pada nafsu jasmani. Pria yang Puas Tanpa Baju.

Seorang raja Timru yang sangat tidak bahagia menemui seorang ahli filsafat. Ahli tersebut mensehatkan Sang Raja untuk mencari pria yang paling bahagia dan senang dalam kerajaannya dan mengenakan baju. Setelah pencarian yang lama Sang Raja akhirnya menemukan pria tersebut tetapi ia tidak memiliki baju. Seorang penulis terkenal berkata: [Berpedoman pada Sang Buddha] Jika engkau ingin menemukan pria yang paling senang dan bahagia di dunia ini, carilah pangeran dalam pakaian pengemis.

Keinginan yang tak terpuaskan adalah penyebab utama ketidak-bahagiaan. Singkirkan keinginan, dan anda akan bebas dari ketidak bahagiaan anda. ‘Aku hanya mengajarkan satu hal, kata sang Buddha ‘penyebbab dukkha dan jalan menuju lenyapnya dukkha. Seperti laut yang memiliki satu rasa, begitu juga halnya dengan ajaran-Ku yang berhubungan dengan dukkha dan lenyapnya dukkha. Aku akan menunjukkan anda jalan dari khayal menuju nyata, dari gelap ke terang, dan dari kematian menuju kekekalan.’

Damai atau kepuasan juga bergantung pada kebutuhan seseorang. Anjing menyukai tulang bukan rumput. Sapi menyukai rumput bukan tulang. Begitu pula, sejumlah orang lebih menyukai kegembiraan dari pada damai; bagi orang lain damai lebih penting dari pada kegembiraan. Seperti makanan yang lezat bagi seseorang, tetapi dapat merugikan orang lain; obat yang menyembuhkan penyakit seseorang dapat menyebabkan kematian bagi orang lain. Kesenangan seseorang dapat menyusahkan orang lain.

Kebahagiaan adalah keadaan bathin yang dapat diperoleh melalui pengembangan pikiran. Sumber-sumber luar seperti harta, popularitas kedudukan sosial, dan nama besar hanya merupakan sumber kebahagiaan sementara dan bukan sumber sejati dari kebahagiaan. Sumber yang sejati adalah pikiran yang terkendali dan dikembangkan. Pendapat bahwa ketenangan bathin tak dapat dicapai adalah salah. Setiap orang dapat mengembangkan kedamaian dan ketenangan di dalam dirinya melalui pembersihan pikiran.

[Sumber: How to live without fear and worry. Dikutip dari Buddha Cakkhu No.24/XIII/92 ]

Asal Usul Pujian : NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMA SAMBUDDHASA

 
Asal Usul Pujian :
NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMA SAMBUDDHASA


Demikianlah yang telah saya dengar: Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang menetap di dekat Savatthi di Hutan Jeta, di Vihara Anathapindika. Saat itu brahmana Janussoni sedang keluar dari Janussoni melihat pertapa Pitolika sedang mendatanginya dari jarak tertentu dan melihatnya, ia berkata demikian kepada pertapa Pitolika: "Tuan, saya datang atas kehadiran pertapa Gotama".

"Bagaimana menurutmu, Vacchayana? Apakah pertama Gotama memiliki kebijaksanaan yang luhur? Apakah menurutmu Beliau bijaksana?"

"Namun, sipakah saya ini, Tuan, sehingga saya seyogiannya mengetahui apakah pertapa Gotama memiliki kebijaksanaan luhur atau tidak? Tentu saja hanya orang seperti Beliau yang dapat mengetahui apakah pertapa Gotama memiliki kebijaksanaan luhur".

"Tak diragukan lagi, dengan pujian yang luhur bahwa yang terhormat Vacchayana memuji pertapa Gotama".

"Namun, siapakah saya ini, Tuan, sehingga saya segoyianya memuji pertapa Gotama? Dipuji oleh yang patut dipuji itulah Yang Mulia Gotama, pemimpin para dewa dan manusia".

Ketika hal ini telah diucapkan, brahmana Janussoni turun dari kendaraannya yang serba putih, dan setelah merapikan pakaian atasnya ke bahu, setelah bernamaskara kepada Sang Bhagava, beliau memuji Sang Buddha tiga kali dengan pujian berikut:

"Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa !
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa !
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa"

Serta merta, kalimat yang merupakan ekspresi pujian dan pujian ini cukup luas diketahui, sehingga beberapa umat awam, beberapa umat Buddha dan beberapa brahmana serta sedikitnya seorang Raja, telah mengucapkan kata-kata pujian ini. Oleh karena itu, bilamana saat ini kita membacakan kta-kata ini, ini merupakan rangkaian suara sejak masa lalu, sejak zaman sang Buddha masih hidup. Kita dapat membacakannya seperti brahmana ini melakukannya:

NAMO TASSA BHAGAVATO ARAHATO SAMMA SAMBUDDHASSA !

Sebanyak tiga kali di dalam bahasa Pali, atau dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, yang artinya : "Terpujilah Sang Bhagava, Yang Maha Suci, Yang Telah Mencapai Penerangan Sempurna".

[Dikutip dari Mutiara Dhamma XIV ]