Tampilkan postingan dengan label Ven K. Sri Dhammananda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ven K. Sri Dhammananda. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2011

Buddhisme Dan Politik

Buddhisme Dan Politik

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu K. Sri. Dhammananda Nayaka Mahathera
 


Sang Buddha berasal dari sebuah kasta ksatria dimana Beliau banyak bergaul dengan para raja, pangeran, dan menteri.Walaupun demikian, Beliau tidak pernah memaksakan pengaruh kekuatan politik untuk memperkenalkan ajaranNya. Ataupun memperbolehkan ajaranNya disalahgunakan untuk memperoleh kekuatan politik. .Tetapi saat ini banyak politisi mencoba menyeret nama agama Buddha ke dalam politik dengan memperkenalkan Beliau sebagai komunis, kapitalis, atau bahkan seorang imperialis. Mereka telah lupa bahwa filosofi politik baru sebagaimana yang telah kita kenal benar-benar berkembang di dunia barat, jauh setelah masa Sang Buddha.

Usaha untuk mencampuradukkan agama dengan politik pun sering terjadi. Padahal, kalau dilihat agama berdasarkan pada moralitas, kemurnian, dan keyakinan, sedangkan dasar politik adalah kekuatan. Dilihat dari sejarah masa lalu, agama telah sering digunakan untuk memberi hak bagi orang-orang yang berkuasa. Agama digunakan untuk membenarkan perang dan penaklukan, penganiayaan, kekejaman, pemberontakan, penghancuran karya~karya seni dan kebudayaan.

Ketika agama.digunakan sebagai perantara tindakan-tindakan politik, agama tidak lagi dapat memberikan keteladanan moral yang tinggi dan derajatnya direndahkan oleh kebutuhan-kebutuhan politik duniawi.

Tujuan Buddha Dhamma tidak diarahkan pada penciptaan lembaga-lembaga politik baru dan menyusun rencana-rencana politik. Pada dasarnya, agama mencari pendekatan masalah-masalah kemasyarakatan dengan memperbaiki individu-individu dalam masyarakat tersebut dan menganjurkan beberapa prinsip umum untuk dituntun ke arah nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Memperbaiki kesejahteraan anggota-anggotanya dan lebih adil dalam membagi sumber daya-sumber daya.

Sistem politik dapat menjaga kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat, tapi ada batasannya, Bagaimanapun idealnya suatu sistem politik, tidak dapat menimbulkan kedamaian dan kebahagiaan selama orang-orang dalam sistem tersebut dikuasai keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Sebagai tambahan, tidak peduli sistem politik apa yang diambil, ada faktor-faktor universal tertentu yang harus dialami anggota-anggota masyarakat, yaitu pengaruh-pengaruh kamma baik dan buruk, kurangnya kepuasan sejati atau kebahagiaan abadi dalam dunia yang bersifat dukkha (ketidakpuasan), anicca (ketidakkekalan), anatta (tanpa keakuan). Bagi umat Buddha tiada tempat dalam samsara di mana ada kebebasan sejati bahkan tidak di surga-surga atau dunia para Brahma.

Meskipun suatu sistem politik yang baik dan adil menjamin hak asasi manusia dan mengawasi keseimbangan, penggunaan kekuatan adalah suatu kondisi penting bagi suatu kehidupan bahagia dalam masyarakat. Masyarakat seharusnya tidak membuang-buang waktunya dengan pencarian tanpa akhir bagi sistem politik muktahir di mana manusia dapat bebas sepenuhnya. Karena kebebasan penuh tidak dapat ditemukan dalam sistem apapun melainkan hanya dalam batin yang bebas. Untuk menjadi bebas, orang-orang harus mencari ke dalam pikiran mereka sendiri dan bekerja ke arah pembebasan diri mereka sendiri dari belenggu kebodohan dan keinginan.

Kebebasan dalam arti sebenarnya hanya mungkin ketika manusia menggunakan Dhamma untuk mengembangkan sifatnya melalui perkataan, perbuatan yang baik dan melatih pikirannya sedemikian rupa untuk mengembangkan potensi mentalnya dan mencapai tujuan akhir yaitu penerangan.

Sementara mengetahui manfaat memisahkan agama dari politik dan keterbatasan sistem politik dalam menimbulkan kedamaian dan kebahagiaan. Ada beberapa aspek dari ajaran Sang Buddha yang mempunyai hubungan dekat dengan perencanaan politik masa kini.

Pertama-tama, Sang Buddha berbicara tentang kesamaan dari semua manusia jauh sebelum Abraham Lincoln. Dan kelas-kelas juga kasta~kasta adalah pembatas buatan yang didirikan oleh masyarakat. Satu-satunya klasifikasi manusia, menurut Sang Buddha, adalah berdasarkan pada kualitas perbuatan moral mereka.

Kedua, Sang Buddha mendorong jiwa kerjasama sosial dan partisipasi aktif dalam masyarakat modern.

Tiga, karena tak seorang pun ditunjuk oleh Sang Buddha sebagai penerus, anggota-anggota Sangha dituntun oleh Dhamma dan Vinaya, atau singkatnya, Aturan Hukum. Hingga hari ini setiap anggota Sangha mematuhi Aturan Hukum yang menentukan dan menuntun perbuatan mereka.

Keempat, Sang Buddha mendorong jiwa konsultasi dan proses demokrasi. Ini diperlihatkan dalam kelompok Sangha yang semua anggotanya mempunyai hak untuk memutuskan masalah-masalah umum. Ketika.suatu pernyataan serius timbul dan membutuhkan perhatian, persoalan-persoaian dihadapkan kepada para bhikkhu dan dibahas dalam sikap demokrasi sistem dewan perwakilan rakyat yang digunakan masa kini. Prosedur pemerintahan ini mungkin meqgejutkan bagi banyak orang yang mengetahui bahwa dalam majelis agama Buddha di India lebih dari 2500 tahun yang lalu dapat ditemukan dasar praktek dewan perwakilan rakyat mesa kini. Seorang petugas khusus serupa dengan "Tuan Pembicara" ditunjuk untuk menjaga martabat majelis. Petugas kedua, yang berperan serupa dengan kepala penggerak dewan perwakilan rakyat, juga ditunjuk untuk melihat apakah kuorum terjamin. Masalah-masalah diajukan dalam bentuk suatu mosi yang terbuka untuk diskusi. Dalam beberapa kasus hal itu dilakukan satu kali, dalam kasus lain tiga kali. Demikian praktek dewan perwakilan rakyat, suatu rancangan dibaca tiga kali sebelum menjadi hukum. Jika diskusi memperlihatkan suatu perbedaan pendapat, hal itu harus diselesaikan dengan pengambilan suara mayoritas melalui pemungutan suara.

Pendekatan agama Buddha terhadap politik adalah moralisasi dan tanggung jawab penggunaan kekuatan masyarakat. Sang Buddha mengkotbahkan Tanpa Kekerasan dan Kedamaian sebagai pesan universal. Beliau tidak menyetujui kekerasan atau penghancuran kehidupan dan mengumumkan bahwa tidak ada satu hal yang dapat disebut sebagai suatu perang 'adil'. Beliau mengajarkan, "Yang menang melahirkan kebencian, yang kalah hidup dalam kesedihan. Barang siapa yang melepaskan keduanya baik kemenangan dan kekalahan akan berbahagia dan damai". Sang Buddha tidak hanya mengajarkan Tanpa Kekerasan dan Kedamaian, Beliau mungkin guru agama pertama dan satu-satunya yang pergi ke medan perang secara pribadi untuk mencegah pecahnya suatu perang. Beliau menguraikan ketegangan antara suku Sakya dan suku Koliya yang siap berperang atas air Sungai Rahini. Beliau juga meminta Raja Ajatasattu supaya jangan menyerang Kerajaan Vajji.

Sang Buddha mendiskusikan penting dan perlunya suatu pemerintahan yang baik. Beliau memperlihatkan bagaimana suatu negara dapat menjadi korup, merosot nilainya dan tidak bahagia ketika kepala pemerintahan menjadi korup dan tidak adil. Beliau berbicara menentang korupsi dan bagaimana suatu pemerintahan harus bertindak berdasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan.

Suatu kali Sang Buddha berkata, "Ketika penguasa suatu negara adil dan baik para menteri menjadi adil dan baik; ketika para menteri adil dan baik, para pejabat tinggi adil dan baik; ketika para pejabat tinggi adil dan baik, rakyat jelata menjadi baik; ketika rakyat jelata menjadi baik, orang-orang menjadi adil dan baik". (Anguttara Nikaya)

Di dalam Cakkavatti Sihananda Sutta, Sang Buddha berkata bahwa kemerosotan moral dan kejahatan seperti pencurian, pemalsuan, kekerasan, kebencian, kekejaman, dapat timbul dari kemiskinan. Para raja dan aparat pemerintah mungkin menekan kejahatan melalui hukuman, tetapi menghapus kejahatan malalui kekuatan, takkan berhasil.

Dalam Kuradanda Sutta, Sang Buddha menganjurkan pengem'bangan ekonomi sebagai ganti. Kekuatan untuk mengurangi kejahatan. Pemerintahan harus menggunakan sumber daya negara untuk memperbaiki keadaan ekonomi negara. Hal itu dapat dimulai pada bidang pertanian dan pengembangan daerah pedalaman, memberikan dukungan keuangan bagi pengusaha dan perusahaan, memberi upah yang cukup bagi pekerja untuk menjaga suatu kehidupan yang layak sesuai dengan martabat manusia.

Dalam Jataka, Sang Buddha telah memberikan10 aturan untuk pemerintahan yang baik, yang dikenal sebagai "Dasa Raja Dhamma". Kesepuiuh aturan ini dapat diterapkan bahkan pada masa kini oleh pemerintahan manapun yang berharap dapat mengatur negaranya. Peraturan-peraturan tersebut sebagai berikut :

  1. Bersikap bebas/tidak picik dan menghindari sikap mementingkan diri sendiri.
  2. Memelihara suatu sifat moral tinggi.
  3. Siap mengorbankan kesenangan sendiri bagi kesejahteraan rakyat.
  4. Bersikap jujur dan menjaga ketulusan hati.
  5. Bersikap.baik hati dan lembut.
  6. Hidup sederhana sebagai teladan rakyat.
  7. Bebas dari segala bentuk kebencian.
  8. Melatih tanpa kekerasan.
  9. Mempraktekkan kesabaran, dan
  10. Menghargai pendapat masyarakat untuk meningkatkan kedamaian dan harmoni.

Mengenai perilaku para penguasa, Beliau lebih lanjut menasehatkan:

  • Seorang penguasa yang baik harus bersikap tidak memihak dan tidak berat sebelah terhadap rakyatnya.
  • Seorang penguasa yang baik harus bebas.dari segala bentuk kebencian terhadap rakyatnya.
  • Seorang penguasa yang baik harus tidak memperlihatkan ketakutan apa pin dalam penyelenggaraan hukum jika itu dapat dibenarkan.
  • Seorang penguasa yang baik harus memiliki pengertian yang jernih akan hukum yang diselenggarakan. Hukum harus diselenggarakan tidak hanya karena penguasa mempunyai wewenang untuk menyelenggarakan hukum. Dan.dikerjakan dalam suatu sikap yang masuk akal dan dengan pikiran sehat, (Cakkavati Sihananda Sutta)

Dalam Milinda Panha dinyatakan: Jika seseorang yang tidak cocok, tidak mampu tidak bermoral, tidak layak, tidak berkemampuan, tidak berharga atas kedudukan sebagai raja, telah mendudukkan dirinya sendiri sebagai seorang raja atau seorang penguasa dengan wewenang besar, dia akan menjadi sasaran penyiksaan. Menjadi sasaran berbagai macam hukuman oleh rakyat. Karena dengan keberadaannya yang tidak cocok dan tidak berharga, dia telah menempatkan dirinya secara tidak tepat dalam kedudukannya. Sang penguasa seperti halnya orang lain yang kejam dan melanggar moral etika dan aturan dasar dari semua hukum-hukum sosial umat manusia, adalah sebanding sebagai sasaran hukuman dan lebih lagi, yang pantas menjadi kecaman adalah penguasa yang berbuat sendiri sebagai seorang perampok masyarakat. Dalam suatu cerita Jataka, disebutkan bahwa seorang penguasa yang menghukum orang yang tidak bersatah dan tidak menghukum orang telah melakukan kejahatan, tidak cocok untuk mengatur suatu negara.

Raja yang selalu memperbaiki dirinya sendiri dan secara hati-hati memeriksa tingkah lakunya baik perbuatan, ucapan dan pikiran, mencoba untuk rnenemukan dan mendengar pendapat publik apakah dia telah bersalah atau tidak atas kesalahan atau kekeliruan dalam mengatur kerajaannya. Jika ditemukan bahwa dia telah mengatur secara tidak benar, masyarakat akan mengeluh bahwa mereka telah dihancurkan oleh penguasa yang jahat dengan perlakuan yang tidak adil, hukuman, pajak, atau tekanan-tekanan lain termasuk korupsi dalam segala bentuk, dan mereka akan bereaksi menentangnya dalam satu atau lain cara. Sebaliknya, jika seorang penguasa mengatur dengan cara yang benar mereka akan memberkahinya dengan "Panjang umur Yang Mulia" (Majjhima Nikaya)

Penekanan Sang Buddha pada tugas moral dari seorang penguasa untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat telah mengilhami Raja Asoka pada abad ketiga Sebelum Masehi untuk berbuat demikian. Raja Asokaa, contoh seorang raja berhasil dengan prinsip ini, berketetapan untuk hidup menurut Dhamma dan mengkhotbahkan Dhamma serta melayani rakyatnya dan semua umat manusia. Dia mengajarkan tanpa kekerasan kepada tetangga-tetangganya, meyakinkan mereka dan mengirim utusan kepada para raja membawa pesan perdamaian dan tanpa agresi. Dengan penuh semangat mempraktekkan kebajikan moral, .kejujuran, ketulusan, welas asih, kebaikan hati, tanpa kekerasan, penuh perhatian dan toleransi terhadap semua manusia, tidak tinggi hati, tidak tamak, dan melukai binatang. Beliau mendorong kebebasan beragama dan secara berkala.membabarkan Dhamma kepada orang-orang di pedalaman. Beliau menangani pekerjaan kebutuhan masyarakat, seperti: mendirikan rumah sakit-rumah sakit untuk manusia dan binatang, memasok obat-obatan, menanam hutan-hutan kecil dan pohon-pohon di tepi jalan, menggali sumur-sumur, dan membangun tanggul-tanggul air dan rumah-rumah peristirahatan. Beliau juga melarang bertindak kejam terhadap binatang-binatang.

Kadang-kadang Sang Buddha dikatakan sebagai pembaharu sosial. Antara lain Beliau mencela sistem kasta, memperkenalkan persamaan manusia, berbicara akan kebutuhan untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi, memperkenalkan pentingnya pembagian kekayaan yang lebih pantas diantara yang kaya dan yang miskin, meningkatkan status wanita, menganjurkan memasukkan kemanusiaan dalam pemerintahan dan administrasi, dan mengajarkan bahwa suatu masyarakat harus dijalankan tanpa keserakahan. Tetapi dengan penuh pertimbangan dan welas asih bagi rakyat.

Meskipun demikian, kontribusiNya terhadap umat manusia jauh lebih besar. Karena Beliau mulai pada titik yang tidak pernah dilakukan oleh pembaharuan sosial lain, yaitu, dengan masuk ke akar yang terdalam dari penyakit manusia yang ditemukan dalam batin manusia. Hanya di dalam batin manusia pembaharuan sejati dapat berpengaruh. Pembaharuan yang dipaksakan mempunyai usia yang .sangat pendek karena tidak mempunyai akar atau pondasi. Tetapi pembaharuan yang bersemi sebagai hasil transformasi kesadaran dalam (diri) manusia tetap berakar. Sementara cabang-cabangnya menyebar keluar, menarik makanan dari sumber yang tak pernah gagal yaitu bawah sadar yarig penting seka!i bagi aliran kehidupan itu sendiri. Jadi pembaharuan muncul ketika pikiran manusia telah menyiapkan jalan untuk mereka, dan mereka hidup selarna manusia menghidupkannya kembali dengan sumber cinta mereka sendiri akan kebenaran dan keadilan, terhadap sesama manusia.

Doktrin yang dikhotbahkan Sang Buddha tidak berdasarkan pada filosofi politik. Bukan pula sebuah doktrin yang mendorong manusia menuju kesenangan duniawi. Doktrin tersebut menyiapkan jalan ke Nibbana. Dengan kata lain tujuan akhirnya adalah untuk mengakhiri keinginan (tanha) yang membuat manusia tetap terikat pada dunia. Sebuab bait dari Dhammapada (75) menyarikan dengan baik pernyataan ini, "Jalan yang menuntun kepada perolehan duniawi adalah satu, dan jalan-jalan yang menuntun ke Nibbana (dengan menjalani suatu kehidupan agama) adalah lain".

Betapapun, ini tidak berarti bahwa agama Buddha tidak dapat atau harus tidak terlibat dalam proses politik, yang merupakan suatu realitas sosial. Bagaimanapun kehidupan anggota masyarakat dibentuk oleh hukum-hukum dan peraturan-peraturan, aturan-aturan ekonomi, lembaga-lembaga, yang dipengaruhi oleh penataan politik dari masyarakat tersebut. Namun, jika seorang umat Buddha berharap untuk terlibat dalam politik, dia harus tidak menyalahgunakan agama untuk memperoleh kekuatan politik. Juga tidak dianjurkan bagi mereka yang telah melepaskan kehidupan duniawi untuk menjalani suatu kehidupan agama yang murni untuk secara aktif terlibat dalam politik.

Sumber: What Buddhist Believe, Kuala Lumpur, Buddist Misionary Society, 1987, pp 229-236.
Diterjemahkan dari Buddhism and Politics, Buddhist Digest English Series 25 Oleh: Ven. K. Sri Dhammananda.
Dimuat di dalam Majalah "Buddha Cakkhu" No. 05/XVII/96. 

[Sumber: What Buddhist Believe, Kuala Lumpur, Buddist Misionary Society, 1987, pp 229-236. Diterjemahkan dari Buddhism and Politics, Buddhist Digest English Series 25 Oleh: Ven. K. Sri Dhammananda. Dikutip dari Majalah "Buddha Cakkhu" No. 05/XVII/96. ]  

Kamis, 10 Februari 2011

Bagaimana Menemukan Kebahagiaan Sejati

 
 

 
“Kebahagiaan merupakan hadiah yang harus dicari
diperjuangkan oleh umat mansuai dengan penuh kesabaran;
Setengah jalan telah kita tempuh, kini marilah terus maju,
Tujuan sudah berada di depan kita.”
 
Apakah anda ingin bahagia? Jawabannya pasti “ya”. Kita semua – tanpa kecuali – ingin bahagia, walaupun pengertian mengerti kebahagiaan itu sendiri dan cara untuk mencapainya berbeda-beda.

Seorang penulis berkata, ‘Bahagia, menurut kebanyaan orang merupakan tujuan yang paling banyak dicari. Bagi orang-orang yang bernasib kruang baik, kebahagiaan seperti ujing dari pelangi yang berupa pot emas. Mereka mengejar pelangi selama hidupnya seperti mengejar bayangan masing-masing karena tidak mungkin mengejar sesuatu yang letaknya di dalam diri kita sendiri.

Kebahagiaan berada dalam jalan mencapainya dan bukan pada tujuan yagn hendak dicapai. “Ia bahagia jika memiliki cita-cita yagn tinggi dan mulia. Ia bahagia jika dapat memperkaya kehidupannya, membiarkan orang-orang lain hidup damai, memberikan sumbangan agar dunia menjadi tempat tinggal yagn lebih baik. Ia bahagia jika pekerjaan, kewajiban, dan tugas sehari-harinya diliputi oleh kasih sayang.”

Setiap maunsia mengharapkan kebahagiaan. Mereka bekerja siang malam untuk mendapat kebahagiaan walaupun sekejap saja. Tetapi, betapapun keras usaha mereka, seringkali tujuan merek abahkan bertambah jauh, mengapa hal ini dapat terjadi?

Mencari Kebahagiaan

Kehidupan modern adalah perjuangan untuk memperoleh imbalan materi, kesenangan, dan kemewahan. Corak hidup ini membawa kegelisahan dan stress, bukan kebahagiaan. Dalam hidup seseorang terdapat momen-momen pentign di masa semua materi memiliki nilai yang kecil jika dibandingkan dengan kesenagnan bathin akibat pelepasan ari hal-hal duniawi.

Dalam kehidupan awam, pentingnya kesejahteraan ekonomi untuk mencapai hidup layak tak dapat diabaikan. Kita tidak dapat menganggap orang-orang dapat berbahagia jika mereka kelaparan dan hidup dalam keadaan yang menyedihkan. Kemiskinan dan kehidupan di daerah kumuh dapat melumpuhkan kebahagiaan manusia. Sungguh menyedihkan jika sebuah keluarga besar harus hidup, makan, tidur, dan “bereproduksi” di suatu pondok yang kecil di daerah yang kumuh. Keadaan menyedihkan dari lingkungan dan kehidupan para penghuninya sering menjadikan daerah tesebut sebagai lokasi pertumbuhan kegetiran dan kejahatan kecuali daerah itu merupakan kumpulan dari orang-orang suci yang mencari kedamaian di dalam kemiskinan.

Bagaimanapun juga, kaya dan miskin, kebahagiaan dan kesengsaraan adalah istilah-istilah yang saling berhubungan. Seseorang dapat saja kaya tetapi tidak bahagia, orang lain mungkin miskin tapi bahagia. Kekayaan adalah berkah jika digunakan dengan benar dan bijaksana. Tetapi bagian yagn tragis dari kaum miskin adalah keegoisan mereka akan benda-benda materiil. Jika idaman mereka tidak terpenuhi, mereka hidup di dalam kebencian. Tragedi dari si kaya adalah kemelekatan pada harta mereka. Karena itu kebahagiaan tidak ditemukan pada kedua pihak, baik miskin maupun kaya.

Sejumlah orang menganggap bahwa seorang teman hidup yang cocok dan menyenangkan adalah sumber kebahagiaan. Hal ini mungkin saja terjadi. Lainnya menganggap bahwa anak-anak adalah sumber kebahagiaan lain, tetapi hal inipun bukan keadaan yang stanil. Seorang teman hidup dapat meninggal atau meninggalkan mereka, sementara itu ada anak-anak yang lebih banyak menimbulkan penderitaan dari pada kebahagiaan bagi orang tua mereka.

Kita harus belajar untuk puas dan bahagia dengan apa yang telah kita dapat, betapapun sedikitnya. Bahkan kita harus gembira dan puas dengan keadaan kita sekarang walaupun tidak sesuai dengan keinginan itu.

Seorang Istri Tanpa Anak

Suatu ketika terdapat pasangan miskin yang tidak mempunyai anak. Walaupun mereka bahagia dalam hal-hal lain, sang istri sangat menginginkan anak sendiri. Sang suami menyarankan untuk mengadopsi seorang anak tetapi sang istri tetap menginginkan anak yang beerasal dari darah dagingnya sendiri. Mereka mencoba segala rencana tetapi tidak berhasil; sang istri bertambah tertekan dan rasa gelisah dna kekurangan bertambah kuat dan mulai mempengaruhi bathinnya. Tetapi sang suami berangsur-angsur mulai melihat perubahan pada diri istrinya. Sang istri berpura-pura hamil, lalu ketika ia pulang, ditemukannya sang istri sedang menggendong sebuah buntelan kecil dengan gembira. Ia memeriksa buntalan tersebut dan ternyata hanya merupakan sepotong kayu kecil. Sang istri merawat “bayi”nya, memakaikan baji seperti layaknya seorang ibu. Ia bahkan membuat ranjang bayi yang hangat dan menina-bobokan “bayi”nya. Sebenarnya ia mulai berprilaku seperti seseorang anak kecil yang bermain dengan bonekanya. Sang suami yang sangat khawatir dengan keadaan istrinya, membawanya ke psikiater terkenal. Psikiater tersebut memeriksanya dengan seksama dan mencapai kesimpulan yang megnejukan tapi sangat manusiawi, yaitu wanita tersebut akhirnya menemukan kebahagiannya dengan membayangkan sesuatu yang tak dapat diraihnya dalam kenyataan. Sang psikiater memberi nasehat bahwa merenggut kebahagiaannya akan jauh lebih kejam daripada berusaha menyadarkannya dan membuang potongan kayu tersebut.

Kita melihat disini bahwa kadang-kadang keputusan kita mengenai orang lain harus didasari oleh perasaan dan bukan intelegensi semata-mata. Sambil lalu juga dapat dikatakan jika kita menginginkan sesuatu melewati batas, akan mempengaruhi bathin kita dan menganggu kestabilan perasaan kita.

Keadaan menyenangkan dalam lingkungan politik, ekonomi, dan sosial seseorang berperan penting bagi kebahagiaannya dalam masyarakat. Sir Philip Gibbs dalam bukunya, Jalan Pelepasan, berkata “Apa yang dicari oleh manusia dalam pencarian abadinya tentang kebahagiaan, adalah sejumlah sistem pemerintahan dan masyarakat yang akan memberikan setiap individu suatu kesempatan penuh dan adil untuk mengembangkan kepribadiannya sepenuhnya: melalui pekerjaan yang menyenangkan dan secukupnya; melalui keamanan bagi diri sendiri, keluarga, serta teman-temannya; seseorang yagn peka dan dermawan tak ada bahagia jika rakyat di sekitarnya menderita; melalui kesenangan minimum yang sepantasnya, dan kebebasan berpikir dan bertindak yang dibatasi hanya oleh kdoe etik untuk tidak merugikan ettangga-tetangganya. Dalam kebebasan berpikir dan bertindak tersebut, ia berkesempatan berpikir untuk berpetualang dan bersenang-senang; untuk menikmati keindahan, lebih mendalami pengetahuan, mengendalikan diri sendiri dan sekelilingnya, mencapai segala sesuatu yang bermanfaat untuk pikiran dan tubuh.

Agama Buddha mengajarkan kita untuk mengadopsi cara-cara yang benar dan tidak merugikan untuk meraih kebahagiaan. Tidak ada artinya berbahagia di atas penderitaan orang atau makhluk lain. Hal ini diuraikan oleh Sang Buddha sebagai berikut: ’Dapat hidup tanpa merugikan pihak lain adalah berkah utama.’

Unsur-unsur Kebahagiaan

Dalam usaha untuk mencapai hidup yang bahagia dan mempunyai arti, kita harus melatih rasa belas kasihan dan kebijaksaan kita, dua hal yang dapat menuntun manusia menuju puncak kesempurnaan manusiawi. Jika kita ingin mengembangkan segi perasaan saja tanpa pikiran, akan membuat kita menjadi sitolol yang berhati emas, sementara berkembangnya pikiran tanpa perasaan akan membentuk pribadi pintar berhati batu tanpa perasaan. Menurut Sang Buddha, rasa belas kasihan dan kebijkasanaan harus dikembangkan bersama-sama oleh manusia untuk mencapai kebebasan. Hidup yang baik adalah hidup yang dilandasi oleh cinta dan bimbingan oleh pengetahuan.

Apakah rasa belas kasihan itu? Rasa belas kasihan adalah cinta, kemurahan hati, keramahan dan toleransi. Belas kasihan tersebut berperan pada cinta dan perhatian terutama jika berada dalam situasi yang menguntungkan.

Dan aapa pula kebijaksanaan itu> Kebijaksanaan adalah pikiran yang melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, berperan dalam sifat-sifat mulia dari pikiran. Jika seorang pria melihat seorang wanita cantik dan terpikat olehnya, maka ia berharap untuk dapat melihatnya kembali. Ia memperoleh kenikmatan dan kepuasan dari kehadiran wanita tersebut. Tetapi jika situasi berubah dan ia tidak dapat melihatnya lagi, ia tidak boleh bertindak bodoh dan tidak masuk akal. Keadaan tak menyenangkan ini adalah kenyataan yang harus dihadapi oleh manusia. Jika ia tidak memiliki kemelekatan, ia akan bebas dari penderitaan tersebut. Walaupun tidak ada bantahan terhadap kebahagiaan yang diperoleh dari kesenangan indria, sebenarnya kesenangan hidup bersifat singkat dan tidak memberikan kebahagiaan abadi. Menyadari hal ini adalah bijaksana. Kebahagiaan meliputi unsur-unsur yang sederhana dan merupakan keadaan pikiran. Hal ini tak dapat ditemui dalam benda-benda materi disekitar kita, seperti harta, kekuasaan, atau popularitas. Orang-orang yang mengumpulkan harta melebihi yang diperlukan selama hidupnya, akan kecewa pada saat mereka menyadari bahwa semua uang didunia ini tidak dapat membeli kebahagiaan, dan semuanya sudah terlambat. Pengejaran kesenagnan tak dapat disamakan dengan pengejaran kebahagiaan. Kesenangan berlalu begitu saja dan tidak memberikan kebahagiaan abadi. Kesenangan dapat dibeli, tetapi kebahagiaan tidak. Kebahagiaan berasal dari dalam diri kita, berdasarkan kebaikan dan suara hati. Tak seorangpun yang bahagia jika ia tidak puas dengan dirinya sendiri. Pengejaran ketenanga bathin hanya dapat dilakukan melalui pengembangan bathin atau meditasi. Banyak yang harus dilakukan, dan baru sedikit yang dikerjakan.Hanya dengan memahami dan membersihkan diri sendiri, benih-benih kejaikan kita yang tersembunyi dapat tumbuh dan menunjukkan sifat-sifat manusiawi kita. Tugas ini tidak mudah dan memerlukan ketekunan, ketegaran hati dan usaha. Kebahagiaan adalah parfum yang tak dapat kita semprotkan kepada orang-orang lain tanpa kecipratan sedikit untuk diri sendiri.

Jika anda ingin hidup damai dan bahagia, biarkanlah orang lain untuk hidup damai dan bahagia pula. Tanpa prinsip tersebut tidak mungkin ada kebahagiaan dan kedamaian di dunia. Dan jangan mengharapkan terima kasih dari orang lain. Dale Carnegie berkata, “Jika kita ingin menemukan kebahagiaan, jangan memikirkan terima kasih dan marilah berdana karena kepuasan yagn terkandung didalamnya.”

Manusia umumnya tidak menghargai segala sesuatu yang mudah didapat. Tetapi baru menghargainya jika sesuatu tersebut diambil. Udara dan organ-organ tubuh kita semuanya seperti sebagaimana mestinya dan kita bahkan menyalahgunakannya, kadang-kadang sudah terlambat. Seperti seekor ikan yang tidak mengetahui betapa berharganya air sampai ia dikeluarkan dari air.

“Menurut pengamatan saya, manusia merasa bahagia jika mereka berkeinginan untuk bahagia,” kata Abraham Lincoln.

Anda tak dapat memperoleh kebahagiaan dan kedamaian hanya dengan membaca paritta, tetapi perlu disertai dengan bekerja. Percaya akan dewa dan membacakan paritta untuk berkah perlindugnan tidak ada salahnya, tetapi anda pun harus mengunci pintu rumah anda, karena tidak ada jaminan bahwa dewa tersebut akan menjaga rumah anda sampai anda pulang. Anda tidak boleh mengabaikan tanggung jawab anda. Jika anda berbuat sesuai dengan etika moral, pasti akan tercipta surga di dunia ini. Tetapi jika anda melanggarnya, anda dapat merasakan api neraka di dunia ini. Manusia menggerutu jika mereka tak dapat hidup wajar sesuai dengan hukum karmma dan menciptakan masalah mereka sendiri. Jika setiap orang mencoba untuk hidup terhormat, kita semua dapat menikmati kebahagiaan surgawi didunia. Tidak perlu menciptakan surga sebagai imbalan bagi kebajikan atau nereka untuk menghukum perbuatan jahat. Kebajikan dan kejahatan memiliki balasannya masing-masing. Salah satu pertanyaan yang paling membingungkan umat manusia adalah apakah benar-benar ada tempat yang disebut ‘surga; dan ‘neraka’. Manusia tidak memiliki pengertian yang jelas tentang konsep ini.

Dimanakah surga dan neraka> Suatu ketika ada seorang bhikkhu yang gemar berkhotbah tentang sruga dan neraka. Salah satu umatnya yang merasa bosan mendengar hal ini terus , suatu hari berdiri dan bertanya: ‘Katakan dimana adanya surga dan neraka? Jika engkau tidak dapat menjawab, berarti engkau pembohong!’. Sang bhikkhu menjadi takut dan terdiam. Hal ini semakin menambah amarah umat tersebut dan ia terteriak; ‘Jawab atau kupukul kau!” Sang bhikkhu cepat-cepat memutar otaknya dan menjawab, ‘Neraka ada disekitarmu sekarang, bersama amarahmu’.

Menyadari kebenaran yang ada, umat tersebut menjadi tenang, dan mulai tertawa. Kemudian ia bertanya: ‘Lalu dimanakah surga?’ yang dijawab oleh Sang bhikkhu, ‘Surga ada di sekitarmu sekarang, bersama gelak tawamu.’ Surga dan neraka terjadi dalam hidup kita dan muncul di dalam setiap bagian di dunia dimana terdapat makhluk hidup, tanpa terpisah-pisah.

Dimanakah Kebahagiaan?

Dimanakah kita mencari kebahagiaan? ‘Didalam dirimu’, kata Sang Buddha. Tak seorangpun yang membantah bahwa kebahagiaan adalah keadaan hidup yang paling diinginkan. Kebahagiaan tidak terjadi demikian saja. Kebahagiaan adalah keadaan pada saat sadar yang tidak tergantung pada nafsu jasmani. Pria yang Puas Tanpa Baju.

Seorang raja Timru yang sangat tidak bahagia menemui seorang ahli filsafat. Ahli tersebut mensehatkan Sang Raja untuk mencari pria yang paling bahagia dan senang dalam kerajaannya dan mengenakan baju. Setelah pencarian yang lama Sang Raja akhirnya menemukan pria tersebut tetapi ia tidak memiliki baju. Seorang penulis terkenal berkata: [Berpedoman pada Sang Buddha] Jika engkau ingin menemukan pria yang paling senang dan bahagia di dunia ini, carilah pangeran dalam pakaian pengemis.

Keinginan yang tak terpuaskan adalah penyebab utama ketidak-bahagiaan. Singkirkan keinginan, dan anda akan bebas dari ketidak bahagiaan anda. ‘Aku hanya mengajarkan satu hal, kata sang Buddha ‘penyebbab dukkha dan jalan menuju lenyapnya dukkha. Seperti laut yang memiliki satu rasa, begitu juga halnya dengan ajaran-Ku yang berhubungan dengan dukkha dan lenyapnya dukkha. Aku akan menunjukkan anda jalan dari khayal menuju nyata, dari gelap ke terang, dan dari kematian menuju kekekalan.’

Damai atau kepuasan juga bergantung pada kebutuhan seseorang. Anjing menyukai tulang bukan rumput. Sapi menyukai rumput bukan tulang. Begitu pula, sejumlah orang lebih menyukai kegembiraan dari pada damai; bagi orang lain damai lebih penting dari pada kegembiraan. Seperti makanan yang lezat bagi seseorang, tetapi dapat merugikan orang lain; obat yang menyembuhkan penyakit seseorang dapat menyebabkan kematian bagi orang lain. Kesenangan seseorang dapat menyusahkan orang lain.

Kebahagiaan adalah keadaan bathin yang dapat diperoleh melalui pengembangan pikiran. Sumber-sumber luar seperti harta, popularitas kedudukan sosial, dan nama besar hanya merupakan sumber kebahagiaan sementara dan bukan sumber sejati dari kebahagiaan. Sumber yang sejati adalah pikiran yang terkendali dan dikembangkan. Pendapat bahwa ketenangan bathin tak dapat dicapai adalah salah. Setiap orang dapat mengembangkan kedamaian dan ketenangan di dalam dirinya melalui pembersihan pikiran.

[Sumber: How to live without fear and worry. Dikutip dari Buddha Cakkhu No.24/XIII/92 ]

Selasa, 16 November 2010

TELAAH MUSIBAH

 
TELAAH MUSIBAH
Oleh Dr. K. Sri Dhammananda Maha Nayaka Thera
 
 
Pembabar adalah bhikkhu asal Sri Lanka yang menjadi Ketua Sangha Malaysia dan Singapura. Artikel ini dituliskan berdasarkan ceramah yang disampaikan dalam "Dewan Berkah Dharma untuk Korban Tsunami", di Stadium Negara, Kuala Lumpur, Malaysia, pada tanggal 15 Januari 2005. Sumber: The Buddhist Channel, 24 Februari 2005. Judul asal: The Anatomy of Disaster. Penerjemah: Suheryati, Palembang. Penyunting: Handaka Vijjananda, Yangon. Pelansir: Ehipassiko Foundation.

 
Prahara tsunami yang melanda negara-negara yang berbatasan dengan Samudera Hindia pada Desember tahun lalu telah mempertontonkan kedahsyatan kekuatan alam dengan berbagai cara. Banyak orang mempertanyakan penyebab terjadinya bencana semacam itu; apakah ini suatu pertanda "murka Tuhan" untuk menghukum umat manusia atas segala kesalahan yang diperbuat di bumi?
 
Sebelum kita melangkah dan membuat asumsi-asumsi bahwa beberapa kekuatan eksternal adalah penyebab kerusakan besar-besaran seperti itu, terlebih dahulu kita harus belajar memahami sifat hakiki keberadaan, khususnya keberadaan manusia.
 
Kata "manusia" diturunkan dari kata Sanskerta "manussa" yang berarti 'manusia'. Kata "manussa" berasal dari "mana" yang berarti 'pikiran'. Di antara segenap alam kehidupan, manusia adalah satu-satunya makhluk yang berkesempatan untuk menjadi Buddha. Manusia mempunyai kesempatan ini karena mereka memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan untuk mempertanyakan keberadaan mereka, bagaimana dan mengapa mereka terlahirkan di dunia ini, dan tentang arti kehidupan itu sendiri.
 
Melalui pengerahan kecerdasan seperti itu, manusia mampu mengembangkan pengetahuan mendalam tentang sifat kehidupan, apa yang membentuk kehidupan manusia, dan sifat makhluk itu sendiri. Melalui penyelidikan seperti ini, Buddha mengajarkan kepada kita bahwa segenap makhluk hidup dan alam semesta merupakan gabungan berbagai unsur dan energi.
 
Unsur-unsur ini—tanah, angin, air, dan panas—diatur oleh hukum-hukum kosmik alamiah dan universal yang berlangsung dalam siklus abadi pemunculan, pertumbuhan, penuaan, dan pelenyapan. Dunia objek-objek bernyawa dan tak bernyawa ini eksis di atas berbagai dasar kondisi dan keberlangsungan fenomena mental dan fisik yang diatur oleh hukum-hukum alam (dhammaniyama).
 
Buddha berbicara tentang lima hukum alam, salah satunya adalah hukum energi (utuniyama). Energi, dalam kedua wujud panas dan dingin, menyebabkan banyak perubahan di dalam tubuh dan lingkungan. Energi selalu dalam keadaan mengalir, terus berubah, dan selalu mencari keseimbangan. Inilah kaidah yang mengatur perubahan-perubahan di dalam tubuh, seperti usia tua dan sakit, atau dalam konteks ekologis berkenaan dengan hal-hal seperti iklim, musim, dan pergerakan bumi.
 
Buddha telah menerangkan dengan sangat gamblang bahwa kerja hukum ini tidak terbatas pada dunia fisik ini saja, tetapi juga di segenap alam semesta. Hukum ini mempengaruhi setiap tata surya dan semua bentuk metafisika kosmik, baik berupa materi maupun non-materi. Semua unsur ini mengalami perubahan, mengalami ketidakseimbangan dari waktu ke waktu.
 
Begitu pula kehidupan, kehidupan manusia dan bumi dikendalikan oleh hukum-hukum alam. Mereka menjadi renta, mati, dan lahir, lagi dan lagi, tunduk pada suatu siklus kosmik nan tak berkesudahan. Bencana terjadi dari waktu ke waktu karena unsur-unsur dasar seperti air, tanah, angin, dan api senantiasa dalam perubahan konstan dan perlu mencari keseimbangan. Karena itulah Buddha mengatakan bahwa kehidupan manusia adalah tidak memuaskan (dukkha), karena manusia juga mengalami perubahan semacam itu. Dikarenakan perubahan universal ini, tanpa pandang status atau spesies, setiap makhluk mengalami dukkha.
 
Di satu sisi, ajaran Buddha mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah arsitek dari nasib kita sendiri dan bahwasanya sebagai manusia pada akhirnya kita dapat mengendalikan kekuatan kamma kita, namun demikian, umat buddha tidak menganut kepercayaan bahwa segala sesuatu disebabkan oleh kamma belaka. Umat Buddha tidak mengabaikan peran yang dimainkan oleh kekuatan-kekuatan lain dari alam. Seperti yang kita lihat, kamma hanyalah salah satu aspek dari hukum alam. Oleh karena itu, paham yang menggampangkan bahwa semua pengalaman hidup hanya disebabkan oleh kamma adalah tidak benar.
 
Pemahaman adanya berbagai unsur yang bersemayam di alam fisik dan mental ini akan membantu kita untuk memperoleh pemahaman yang lebih jernih mengenai bagaimana suatu kejadian tunggal bisa diakibatkan oleh lebih dari satu penyebab dan bagaimana berbagai faktor penentu bisa serempak terlibat dalam pengondisian peristiwa atau pengalaman tertentu. Biasanya, ketika ada lebih dari satu kaidah yang bekerja, kaidah yang lebih dominanlah yang akan berlaku.
 
Sebagai contoh, suhu (utuniyama) yang ekstrem dapat mempengaruhi kondisi pikiran (cittaniyama) dan mengakibatkan seseorang gampang merasa tidak nyaman; atau kekuatan tekad membaja (cittaniyama) mungkin untuk sementara waktu mengatasi pengaruh lingkungan (utuniyama) negatif dan buah kamma (kammaniyama). Dalam kasus bencana alam, energi kamma menjadi non-aktif karena dahsyatnya daya pergerakan tanah dan air, seperti gempa bumi dan tsunami. Pemusnahan akibat bencana tsunami Asia adalah suatu perunjukan tak berdayanya hukum kamma terhadap hukum alam (utuniyama).
 
Gelombang pemusnah yang merenggut ratusan ribu kehidupan berlangsung tanpa pandang kebaikan para korban. Mereka yang punya kamma baik dan punya kamma buruk sama-sama menderita. Tak seorang pun, dan apa pun, mampu melarikan diri dari kekuatan seperti ini, yang menunjukkan bahwa ketidak-kekalan adalah sesuatu yang kekal adanya. Ajaran Buddha dilandaskan pada penerimaan akan kebenaran universal ini. Memiliki pemahaman mendalam mengenai pengetahuan tersebut akan memungkinkan kita untuk menerima dengan batin seimbang apa yang tidak dapat diubah, dan oleh karena itu memungkinkan kita menyalurkan energi positif untuk penggunaan yang lebih produktif, lebih spiritual.
 
Mengembangkan belas kasih dan mempertahankan kebaikan adalah hal yang penting bagi manusia sebagai cara untuk belajar hidup dengan perubahan yang terus-menerus seperti itu. Untuk hidup tenang tidak berarti kita harus menaklukkan alam. Kita perlu memiliki pemahaman dan penghargaan mendalam terhadap kekuatan-kekuatan alam. Inilah alasan yang tepat; menyalahkan kekuatan-kekuatan eksternal (seperti Tuhan) atas petaka besar akibat bencana tsunami adalah hal yang keliru. Tak perlu menyalahkan siapa pun, dan tak ada apa pun yang perlu dipersalahkan.
 
Tidak perlu mencari-cari alasan tindakan Tuhan karena bencana tsunami dengan jelas telah menunjukkan kefanaan unsur-unsur bumi. Hal ini telah nyata-nyata membuka mata kita terhadap keterkondisian alam, kefanaan, dan ketiadaan inti yang ajek. Inilah pula alasan bahwa kita perlu belajar untuk tidak mengembangkan nafsu keinginan terhadap hal-hal duniawi. Kemelekatan terhadap diri fisik kita sendiri dan terhadap lingkungan pasti akan membuat kita lebih menderita karena kelahiran kembali pada masa mendatang bisa membuat kita mengalami kekuatan-kekuatan hukum alam yang tak terduga seperti itu. Kita bahkan dapat menggunakan peristiwa ini sebagai suatu pelajaran demi keselamatan, yaitu untuk berusaha terlahir di "tempat yang sesuai" (patiropadesavaso, dari Mangala Sutta, Ceramah Tentang Berkah), bebas dari penderitaan yang disebabkan oleh hukum-hukum alam seperti itu.
 
Bencana ini juga merupakan pengingat tepat waktu bagi kita untuk mengkaji kembali bagaimana kita hidup, dan untuk meninjau kembali hubungan kita dengan alam. Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan (paticcasamuppada) menjelaskan tentang kejadian pikiran dan tubuh dalam suatu ikatan saling interaksi dan ketergantungan. Apa yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan membawa dampak jauh melampaui keberadaan jasmani kita ini. Jika kita mencemari tanah, dampaknya akan datang menghantui kita melalui air yang tercemar. Jika kita mengambil sikap selalu ingin menaklukkan alam, berpikir bahwa kepandaian kita adalah yang paling unggul, kita harus siap-siap menghadapi konsekuensi kemurkaan alam.
 
Bencana adalah suatu pengingat bagi kita untuk kembali menyikapi kebenaran silam akan kebersahajaan. Ini terasa benar dalam masa-masa dewasa ini, ketika pembangunan yang berlebihan telah menyebabkan menganganya ketidakseimbangan ekologis. Studi menunjukkan bahwa jika gosong karang di lepas pantai Sri Lanka masih utuh, itu akan berperan sebagai penyangga untuk mengurangi dampak ombak yang menghantam pantai. Sepanjang pantai India, keberadaan rawa bakau telah menunjukkan dengan jelas bahwa karya alam semacam itu dapat membantu mencegah musibah yang lebih besar.
 
Hidup bersahaja dalam masyarakat dewasa ini tidak berarti menyerah pada kemiskinan. Hal ini berarti memiliki kemampuan dan kesadaran untuk hidup selaras dengan alam sekitar. Itu berarti tidak merusak alam dan menciptakan llingkungan buatan untuk memuaskan selera kita. Hidup dalam kebersahajaan berarti saling mendorong untuk menjadi baik dan berbelas kasih, sehingga nilai-nilai kemanusiaan mengungguli hasrat-hasrat keduniawian.
 
Tatkala dunia berduka untuk para korban, marilah kita memupuk rasa belas kasih dan melimpahkan jasa bagi mereka yang meninggal. Kita dapat melakukan hal ini dengan berbagai cara. Satu, kita berbuat jasa dengan kita sendiri memberikan usaha pertolongan, sehingga kita dapat memberikan bantuan langsung bagi mereka yang menderita. Yang kedua, kita memancarkan energi batin positif untuk orang-orang yang meninggal agar mereka terlahir kembali dengan lebih baik. Yang ketiga, mari kita juga memancarkan pikiran cinta kasih untuk para relawan penolong yang pada saat ini tengah berbuat yang terbaik untuk menyokong para korban.
 
Semoga kita semua belajar untuk menjadi sadar dan lebih peka terhadap diri kita dan alam sehingga kita dapat hidup selaras dengan alam dan semesta.