Sabtu, 20 November 2010

Perdukunan




Perdukunan
Oleh UP. Dharma Mitra (Peter Lim)

Beberapa waktu yang lalu , masyarakat kota Medan disentakkan dari lamunan , yang seakan akan bagaikan mimpi yaitu dengan ditemukannya 42 korban kebiadaban, dukun Ahmad Suraji (AS) alias Nasib Kelewang (Datuk), di dusun I Aman Damai, Desa Sei Semayang Kecamatan Sunggal Deli Serdang. Semua korbannya adalah wanita, yang dijadikan tumbal untuk kesempurnaan ilmu hitam, yang di dalami (dituntut). Jasa praktek perdukunan, sudah merupakan rahasia umum, yang diharapkan bagi segelintir orang orang, yang tidak tahan di dalam menghadapi rintangan rintangan hidup atau tidak memiliki kepercayaan diri, menatap kenyataan kenyataaan yang telah terjadi. Di daerah daerah yang masih terpencil dan jauh dari jangkauan teknologi, praktek perdukunan sangat dominan mempengaruhi pola hidup masyarakat di sekitarnya. Di saat menghindari rintangan hidup, misalnya untuk mendapatkan kesembuhan, meminta hujan, menolak bencana alam atau mendapatkan kesejahteraan hidup, jasa dukun sangatlah diharapkan, apakah memberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan atau tidak, itu adalah nomor dua. Yang terpenting, sang dukun telah berusaha, untuk memenuhi apa yang diminta (diinginkan). Kalau praktek perdukunan terjadi di daerah yang terpencil, itu adalah hal yang sangat lumrah dan umum dijumpai serta rasanya, tidaklah perlu diherankan lagi, karena kondisi masyarakatnya masih lugu, polos dan taraf pendidikannya, masih sangat minim. Tetapi di era teknologi yang serba canggih ini, terutama sekali di perkotaan, ternyata praktek perdukunan, juga tidak mengalami penurunan dalam hal "omzet : pemasukan", dan tidak sedikit yang dijumpai, baik yang datang secara terang terangan maupun sembunyi sembunyian. Dengan terungkapnya kasus Dukun Ahmad Suraji ( AS), yang telah membantai 42 orang korbannya dengan sadis, nampaklah dengan jelas bahwa praktek perdukunan, sesungguhnya lebih banyak dampak negatifnya, daripada yang diharapkan. Kasus korban dukun Ahmad Suraji (AS), bisa saja hanya merupakan satu, diantara sekian banyak kasus korban, yang dirugikan oleh praktek perdukunan, yang telah berhasil diketemukan (dibongkar) oleh aparat keamanan. Seperti yang telah diuraikan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pada umumnya, seseorang menggunakan jasa perdukunan adalah:
  1. Kurangnya rasa percaya diri, dalam arti kata, tidak memiliki suatu keyakinan bahwa dia mampu, untuk menyelesaikan problema problema yang sedang atau yang telah terjadi.
  2. Tidak sabar dan ingin secepatnya meraih atau menyelesaikan, apa yang diharapkan.
  3. Tidak yakin akan adanya hukum karma, bahwa setiap makhluk pasti akan memiliki, mewaisi dan terlindung oleh perbuatannya masing masing.
Selanjutnya, faktor faktor lain yang menjadi penyebab, sampai terjeremusnya seseorang menggunakan jasa perdukunan, pada umumnya adalah :
  1. MASALAH PERJODOHAN
    Hingga saat ini, masih terdapat anggapan keliru yang menyatakan bahwa hidup berdampingan alias sampai berumah tangga adalah hidup yang sesungguhnya. Sehingga dengan adanya anggapan yang keliru ini, bagi yang masih lajang / gadis, akan berusaha untuk mendapatkan pasangan yang didambakan, baik secara halus maupun kasar. Yang halus misalnya dengan menggunakan jasa dukun, yang salah satu wujudnya adalah dengan cara memasang "pemanis" untuk memikat yg diinginkan. Sedangkan cara yang kasar adalah dengan menculik atau menggunakan kekerasan lainnya. Ada juga pameo yang mengatakan jika " cinta ditolak maka dukun pun bertindak " Di dalam sabdanya, Sang Buddha menyabdakan, bahwa kebahagiaan bisa diraih, selain melalui jalur berumah tangga juga "non" berumah tangga, misalnya menjadi anggota Sangha (Bhikkhu / ni). Hidup berpasangan yang katanya "setia sehidup semati" , tidaklah bertentangan dengan Buddha Dharma, sejauh diraih dengan jalur yang benar dan tidak dengan cara cara yang kurang terpuji alias pemaksaan, misalnya melalui jasa perdukunan. Di media massa, hampir setiap hari bisa dijumpai berita berita perceraian, yang pada umumnya terjadi setelah beranak satu atau dua. Mengapa perihal ini sampai terjadi……? Ini merupakan salah bukti yang nyata bahwa jalur percintaan yang diawali dengan ketulusan hingga ke pelaminan, tidaklah menjamin kebahagiaan hingga ke anak cucu dan apalagi jika diraih dengan cara yang tidak benar, misalnya melalui jasa perdukunan (pemakaian "susuk ", " pemanis " atau " guna - guna ") Kalau demikian halnya, untuk apakah hidup berdampingan jika kebahagiaan jauh keberadaannya…? Bukankah setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan…? Bagi pasangan yang mendambakan kebahagiaan yang sesungguhnya, Sang Buddha menyabdakan bahwa terdapat empat syarat yang harus dipenuhi.
    Pertama : milikilah samma saddha : keyakinan yang sama " Jika:
    1. Yakin bahwa setiap perbuatan (baik /jahat), pasti akan berdampak negatif maupun positif bagi si pembuat.
    2. Yakin bahwa ketidak kekalan, pasti akan dialami oleh setiap makhluk.
    3. Yakin bahwa kebahagiaan maupun penderitaan, sumber utamanya adalah diri sendiri .
    4. Yakin bahwa Triratna (Buddha, Dhamma dan Sangha) adalah tiga permata mulia, yang merupakan acuan, untuk mencapai pantai seberang NIBBANA/ NIRWANA dan seterusnya… maka milikilah pasangan yang demikian, agar jalur kehidupan yang dilalui, tidak saling bertentangan.
    Kedua : milikilah " samma sila : moral yang sama baik". Kalau pada dasarnya, kita memiliki sifat yang selalu berusaha, untuk menghindari pembunuhan, pencurian, perzinahan, pendustaan dan memakan/ meminum yang menyebabkan, hilangnya kesadaran (bermabuk-mabukkan), maka carilah pasangan yang penuh dengan cinta kasih, jujur, setia,lemah lembut tutur katanya dan senantiasa mawas diri.
    Ketiga : milikilah " samma caga : keluhuran budi yang sama". Di kala kita berkenan melepaskan beban derita makhluk lain, hendaknya dia pun menyokong niat mulia ini. Dikala kita beraktivitas sosial, hendaknya dia pun ikut berpartisipasi dan seterusnya.
    Keempat : milikilah " samma panna : kebijaksanaan yang sama ". Di dalam tutur kata dan tindakan, hendaknya sama sama tidak merugikan, pihak manapun juga.
    Dengan dimilikinya ke empat (berkeyakinan, bermoral, berkeluhuran budi dan berkebijaksanaan yang sama) persamaan ini, maka pasangan (jodoh) yang dijumpai adalah yang abadi, di kehidupan ini maupun mendatang akan senantiasa bersama. Apakah dalam hal ini, jasa perdukunan masih dibutuhkan…?
  2. Masalah Materi
    Memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa di era yang serba materialistis ini, semua kedudukan dan ada kalanya kehormatan seseorang, ditakar atau diukur dari jumlah meteri yang dimiliki. Tetapi apakah materi yang berlimpah ruah, akan menjamin kebahagiaan bagi si pemilik……? Fakta telah membuktikan bahwa sejumlah hartawan yang hartanya ada dimana-mana , hidupnya berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan, misalnya ketakutan, stress dan bahkan ada yang melakukan bunuh diri agar terlepas dari cengkraman problema problema kehidupan ini. Bagi yang berpengertian benar, harta materi hanya dimanfaatkan sebatas sarana, untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik bagi diri sendiri maupun makhluk lain yang membutuhkan uluran tangannya. Materi yang diraih dengan jalur yang benar, penuh dengan semangat dan kesabaran serta tanpa menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain, juga merupakan salah satu modal awal, untuk dinikmatinya dengan penuh kebahagiaan. Oleh Sang Buddha ditekankan bahwa kelebihan materi yang berhasil diraih juga bisa dijadikan motivasi awal, untuk meraih kebahagiaan apabila diperoleh dengan cara yang benar serta tidak melanggar kesilaan. Akan adakah manfaatnya, jika kelebihan materi yang berlimpah ruah ini, mengisi kehidupan dengan segala perasaan yang tidak menentu, misalnya: " was was, takut, kecewa dan cemas"? Dan dapatkah dalam hal ini jasa pedukunan membuat orang menjadi kaya bagaikan mie yang serba " instant : segera "….? Kalau dapat, mengapa realitanya para dukun, kebanyakan dijumpai masih berada dalam kondisi melarat (miskin), sedangkan disisi yang sebaliknya, kelebihan materi adalah dambaan setiap orang….? Adakah dukun yang mengharamkan kekayaan materi bagi dirinya ….? Bukankah ini suatu hal yang cukup ironis….? Sesuai dengan konsep hukum karma yang diajarkan oleh Sang Buddha, sesuai dengan apa yang ditanam maka itulah yang akan dipetik. Jika jagung yang ditanam maka jagung pulalah yang akan dipanen dan tidaklah mungkin tomat dan sebaliknya. Dan jika sering berdana dalam bentuk materi maka akan terlimpahi dengan kelebihan - kelebihan meteri. Mengapa pula harus gelisah dan takut, untuk menghadapi masa mendatang, bukankah kitalah penentuannya….? Ingin kaya, maka rutinlah berdana dalam bentuk materi !, itulah satu satunya cara yg terlogis, yang seharusnya diterapkan agar terbebas dari dampak negatif yg tidak diharapkan.
  3. Masalah Penyakit
    Yang namanya makhluk hidup adalah ladang yang tersubur, untuk diserang oleh bibit bibit penyakit. Kalau berdasarkan " diagnosa " dokter disimpulkan bahwa kita menderita sakit A, B atau C, maka alangkah bijaksananya, sesegera mungkin membeli obat - obatan yang telah diresepkan . Tetapi pada kenyataannya, masih ada juga yang telah berobat ke dokter, masih menjumpai dukun untuk memohon penyembuhan. Alhasil apa yang didapatnya….? Umumnya adalah kekecewaan dan diluar dari yang dikehendaki.
    Di alam pemikiran yang logis, apakah mungkin dengan hanya mengumandangkan sejumlah kalimat, yang menurut empunya memiliki kekuatan gaib dan ampuh, serta bisa menyembuhkan beragam penyakit..? Kalau benar adanya, ngapain lagi seseorang mengikuti kuliah yang lamanya, bisa saja puluhan tahun, untuk mengambil spesialis ini dan itu…? Sering dijumpai, kasus yang seharusnya bisa diselamat,eeeeh akhirnya menjadi tamat (mati) karena tidak meyakini, akan hasil diagnosa dokter. Dibawah ini terdapat sebuah kisah nyata, yang pernah terjadi pada seorang usahawan yang cukup sukses. Suatu hari, usahawan tersebut mengeluh kesakitan, di sekitar sebelah kiri dadanya bagaikan ditusuk jarum halus. Setelah di diagnosa oleh seorang dokter spesialis jantung (cardiologist) maka disimpulkan bahwa dia menderita "angina pectoris: penyumbatan pembuluh darah jantung " dan disarankan agar sesegera mungkin, menjalani " coronary bypass : operasi jantung " dan jika tidak, maka kemungkinan hidup hanya 50 % saja. Usahawan yang termasuk kaum "behave : beruang " ini, , bukannya mengikuti nasehat dokter, malahan mencari dukun. Setelah dikonsultasikan dengan Sang dukun maka disimpulkan bahwa bedah jantung tidaklah diperlukan dan semua keluhan yang dirasakan, tidak lain penyebab utamanya adalah gangguan dari makhluk halus. Setelah dijampi jampi dengan sejumlah kalimat yang sukar sekali dimengerti, si usahawan dinyatakan sembuh. Sebulan kemudian, si usahawan diberitakan meninggal mendadak akibat dari penyumbatan di pembuluh darah jantung. Dan masih banyak lagi kisah kisah nyata, yang tidak sepantasnya terjadi, eeeeh malahan terjadi….Siapakah yang bodoh dalam hal ini…….? Sang Buddha kalau sakit tetap makan obat, mengapa kita sebagai siswanya mau dipengaruhi untuk mempercayai sesuatu yang tak seyogyanya diyakini…..? Inilah yang namanya "moha : kebodohan" ! 
  4. Masalah Kegagalan, Kekuasaan dan Masa Depan
    Kegagalan….. siapa sich yang tidak pernah mengalaminya…? Berawal dari belajar merangkak, berjalan dan berlari, rasanya sudah tak terhitung lagi, kita mengalami jatuh bangun…? Demikian juga halnya, dikala ingin meraih juara satu, tetapi kenyataannya, jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Setelah dewasa, begitu berkeinginan memikat si A, ternyata sudah di booking orang (ada yang punya) dan seterusnya. Berdasarkan pada pengalaman ini, haruskah kita mencari jalan pintas, dengan menggunakan jasa perdukunan agar terbebas dari kegagalan…..? Begitu pula halnya dengan kekuasaan, siapapun pasti mendambakannya. Tetapi jika diraih dengan jalur yang tidak benar, akankah bermanfaat..? Bukankah, alangkah nikmatnya hidup ini jika kita selalu disegani daripada ditakuti…? Dan sudah merupakan hukum alamnya bahwa jika kita disegani maka akan menimbulkan rasa enggan dan simpati, dan tiada niat jahat dari pihak manapun juga, untuk mau menyakiti dan apalagi mencederai diri kita. Tetapi jika kita selalu ditakuti oleh orang lain maka konsekwensinya adalah bersiap sedialah 24 jam non-stop, menyewa seorang tukang pukul agar hidup ini bisa berjalan normal dan selamat. Pada umumnya, unsur ketakutan bisa muncul kepermukaan karena adanya perasaan yang tertekan oleh kekuasaan yang otoriter/diktator, tetapi rasa segan/kagum bisa muncul (timbul) karena adanya rasa simpati yang mendalam disertai oleh unsur kelembutan serta keluwesan. Selanjutnya, berbicara mengenai masa depan…apakah perlu dirisaukan…? Sesuai dengan konsep hukum karma bahwa keberadaan atau kondisi yang dimiliki/dirasakan hari ini, tidaklah terlepas daripada timbunan perbuatan perbuatan yang telah diperbuat. Kalau ingin (mengharapkan) kondisi masa depan yang lebih bahagia dan sejahtera maka kuncinya hanya satu yaitu dengan menimbun kebajikan sebanyak banyaknya.
KESIMPULAN :
Praktek perdukunan tidaklah sesuai dengan Konsep Buddhis. Di dalam " Vinaya : peraturan kebhikkuan " ditekankan bahwa seorang Bhikkhu yang meramal - ramal masa depan siapapun juga akan dikenakan sanksi. Untuk terhindar dari jeratan prakter perdukunan, marilah kita tingkatkan;
  1. Rasa percaya diri yang kuat Yakinlah selalu bahwa dia bisa mengapa pula aku tidak…?
  2. Memiliki kesabaran dalam segala hal. Oleh bersabarlah baru kita bisa melatih diri dengan baik.
  3. Yakinlah hukum karma dengan sebaik - baiknya jangan mencari perlindungan diluar dirimu dan berlindunglah dengan kekuatan dari karma (perbuatan baik) yang diperbuat.
    Semoga dengan adanya pengertian yang benar, hendaknya kita tidak lagi terjerumus kepandangan- pandangan salah, untuk meraih sesuatu yang diluar logika…. Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu- sabbe satta bhavantu sukhitata…sadhu….sadhu……… .sadhu……

Kamis, 18 November 2010

Pelindung Sejati



Pelindung Sejati

Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari.  
(Dhammapada XII, 160)

Pendahuluan

Hari berganti menjadi minggu, menjadi bulan, tahun dan akhirnya milenium baru akan segera tiba. Banyak kemajuan di segala bidang telah dicapai oleh umat manusia. Segala kemajuan itu ditunjuk agar manusia bisa hidup lebih nyaman. Akan tetapi, sebagaimana kenyataan yang selalu terjadi di dunia bahwa segala sesuatu pasti memiliki, paling tidak, dua sisi, seperti sekeping mata uang. Kemajuan memang dapat memberikan dampak positif atas kehidupan seseorang di samping tentu ada pula dampak negatifnya. Akibat kemajuan jaman, banyak orang, dalam hal ini di Indonesia, telah berada di jalan keliru. Mereka telah menyalahgunakan kemudahan yang didapatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mudahnya menemukan obat untuk mengurangi rasa sakit yang serius malahan digunakan untuk memanjakan diri, seperti dalam penggunaan narkotik, misalnya. Begitu pula dengan obat penenang yang mestinya dibuat untuk menolong mereka yang memperoleh kesulitan tertentu, malahan dikonsumsi oleh orang yang seharusnya tidak perlu menggunakannya. Demikian pula dengan maraknya sarana komunikasi serta transportasi, kadang malah disalahgunakan untuk mempermudah mengkoordinir tawuran massal bahkan pengeroyokan pada seseorang yang disangka sebagai ‘dukun santet.’ Masih banyak kejadian memprihatinkan yang dengan mudah dijumpai di sekitar kita. Kondisi yang memprihatinkan ini jelas mengetuk hati banyak fihak untuk dapat menemukan cara pemecahan atas masalah ini.

Oleh karena itu, dalam usaha menyikapi dan memberikan alternatif pemecahan atas gejala masyarakat yang kurang sehat itulah, maka makalah ini disusun. Alternatif pemecahan masalah tersebut didasari atas adanya syair Dhammapada di awal tulisan ini. Pada syair tersebut, tampak jelas bahwa tujuan beragama Buddha adalah untuk memiliki dan meningkatkan kemampuan pengendalian diri. Karena, seseorang memang tidak akan pernah bisa selalu menggantungkan diri dengan fihak lain untuk dapat memperoleh perlindungan sejati menghadapi segala bentuk kesulitan, termasuk menghadapi dampak negatif kemajuan jaman tersebut. Dalam Ajaran Sang Buddha ada tiga pokok dasar prilaku yang penting yaitu kerelaan, kemoralan dan konsentrasi (Anguttara Nikaya IV, 241). Ketiganya tidak bisa dilepaskan satu dari yang lainnya. Ketiganya secara bersama-sama, apabila dilaksanakan, akan membentuk sikap hidup yang baik lahir dan batin. Secara lahiriah, dia akan dapat melaksanakan kebajikan sesuai dengan tuntutan agama maupun harapan masyarakat, secara batiniah dia tidak akan pernah memiliki dua muka (munafik) yaitu memiliki perbedaan sikap dan pikiran ketika di depan ataupun di belakang seseorang. Adapun makna kerelaan adalah latihan untuk mengurangi kemelekatan yang dimulai dengan menghindari kemelekatan terhadap benda-benda yang dimiliki. Dalam latihan ini, seseorang diberikan kesempatan untuk memberikan benda yang sesuai kepada mereka yang membutuhkan, misalnya dalam perayaan ulang tahun teman sampai pada perayaan Kathina. Tujuan dari latihan kerelaan ini adalah agar seseorang dapat memberikan perhatian demi kebahagiaan fihak lain. Inilah hasil tertinggi dari kerelaan. Kemoralan adalah latihan pengendalian diri agar tidak melakukan, paling tidak, lima perbuatan yang tidak baik, yaitu pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan (Anguttara Nikaya III, 203). Tujuan pelaksanaan latihan ini adalah agar seseorang dapat membebaskan diri sendiri dari rasa bersalah, sehingga ia dapat bepergian ke mana saja, tanpa mempunyai rasa takut maupun kurang percaya diri. Sedangkan konsentrasi adalah latihan menyadari segala sesuatu yang sedang dipikirkan sehingga apabila timbul pikiran baik, bisa segara diwujudkan dalam perbuatan, sebaliknya apabila muncul pikiran negatif, maka dapat segera dikendalikan agar tidak memberikan kesempatan menambah karma buruk. Tujuan memiliki kesadaran pada segala gerak-gerik pikiran ini adalah untuk menyelaraskan antara perbuatan dengan pikiran. Melenyapkan kesempatan menjadi orang munafik.

Permasalahan

Landasan seseorang bersikap dan berperilaku, dalam Ajaran Sang Buddha disebutkan karena adanya tiga akar perbuatan yaitu ketamakan, kebencian dan kegelapan batin (Digha Nikaya III, 273). Ketamakan adalah dorongan untuk selalu berusaha mendekatkan diri dengan obyek yang tidak menyenangkan. Kebencian adalah dorongan untuk selalu menjauhkan diri dari obyek yang tidak menyenangkan. Dan timbulnya kedua dorongan itu disebabkan adanya ketidaktahuan akan kenyataan dunia bahwa segala sesuatu pasti berubah. Kita pasti akan berpisah dengan yang kita sayangi dan cintai; sebaliknya, kita tidak akan mampu menghindari dari bertemu dengan segala sesuatu yang kita tidak sukai. Semua itu karena danya proses dalam segala segi kehidupan ini.

Karena lemahnya pengendalian pikiran yang dimiliki, seseorang dalam kehidupan sehari-hari, cenderung akan lebih mudah memuaskan ketiga akar perbuatan itu daripada mengendalikannya. Oleh karena itu, dalam masyarakat sering terdengar pengertian bahwa berbuat baik lebih sulit daripada berbuat jahat. Hal ini juga telah disebutkan dalam Dhammapada XII, 7 yaitu sunguh mudah untuk melakukan hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat, tetapi sungguh sulit untuk melakukan hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi diri sendiri. Untuk mendidik seseorang agar dapat melakukan perbuatan baik, dibutuhkan waktu lama dan perhatian yang terus menerus, sedangkan untuk mengajarkan dia berbuat jahat, tidak perlu waktu lama dan biasanya seseorang langsung mahir meniru maupun melakukan kejahatan.

Dorongan memuaskan secara keliru ketiga akar perbuatan ini akan lebih diperkuat dengan adanya lingkungan yang tidak mendukung. Dalam Dhamma disebutkan bahwa seperti kayu cendana yang dibungkus kertas, maka kertasnya pun akan berbau harum; maka apabila seseorang tinggal di lingkungan yang baik, sikap dan perbuatannya cenderung untuk baik pula; sebaliknya kalau ia tinggal di lingkungan yang tidak baik maka perilakunyapun akan terpengaruh. Hal ini secara jelas disebutkan Manggala Sutta (khotbah Sang Buddha tentang Berkah Utama) bahwa seseorang janganlah bergaul dengan orang yang tidak bijaksana, bergaullah dengan orang bijaksana. Oleh karena itu, salah satu usaha menjadikan diri sendiri sebagai pelindung sejati adalah memiliki kemampuan untuk memilih lingkungan yang baik disamping adanya upaya lain dalam peningkatan moral pada diri seseorang tersebut. Dalam makalah ini akan dibahas tentang kiat meningkatkan kualitas batin agar menjadi benteng kemoralan dalam pergaulan di sepanjang jaman.

Pembahasan

Apabila mengamati kondisi masyarakat dewasa ini, tampaklah bahwa pelanggaran kesusilaan dalam berbagai bentuk kian meningkat frekuensinya. Secara sederhana, pelanggaran kemoralan yang sering terjadi apabila dihubungkan dengan lima pedoman latihan kemoralan yang diberikan oleh Sang Buddha akan seperti tabel di bawah ini :


NomorKemoralanPelanggaran:
1.Tidak membunuhMenyiksa, Membunuh,Tawuran massal, pengeroyokan
2.Tidak melakukan pencurianMencuri, menjarah, merampok, gendam
3.Tidak melanggar kesusilaanPerkosaan, pelecehan seksual, PIL, WIL
4.Tidak berbohongPenipuan, penggelapan
5.Tidak mabuk-mabukanNarkoba


Berbagai bentuk pelanggaran di atas, jelas sering terjadi bahkan gampang terjadi di sekitar kita. Bahkan mungkin di antara pelakunya justru melibatkan orang yang berhubungan dekat dengan kita. Oleh karena itu, jelaslah bahwa usaha untuk memperbaiki keadaan ini tidak bisa ditunda-tunda lagi. Seluruh anggota masyarakat hendaknya ikut berperan serta melakukannya. Langkah awal usaha ini hendaknya dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Kalau banyak individu yang dapat memperbaiki diri serta mampu mengendalikan diri, maka lingkungan pertamanya, yaitu rumah tangganya akan tenang, tentram dan bahagia. Jika banyak keluarga yang tenang dan bahagia maka masyarakat yang terbentuk oleh banyak keluarga yang tenang dan bahagia maka masyarakat yang terbentuk oleh banyak keluarga bahagia itu akan aman dan tentram. Jika banyak anggota masyarakat yang mampu mengendalikan diri, maka timbullah bangsa yang damai dan bahagia. Sedangkan banyak bangsa yang baik dan damai, maka kedamaian serta keamanan dunia akan menjadi kenyataan. Dengan demikian, sekali lagi, dengan memperbaiki diri sendiri, seseorang akan memberikan bantuan yang besar untuk keamanan dan perdamaian lingkungan maupun dunia.

Dalam usaha memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, ada beberapa hal yang diperlukan. Dimulai dengan mencari dan memiliki kesempatan tinggal di lingkungan yang mendukung. Namun, apabila ada kenyataannya kita tinggal di tempat yang tidak sesuai, maka kita hendaknya berusaha untuk menguatkan mental agar tidak gampang terpengaruh. Ibarat seseorang yang tangannya tidak terluka, tidak akan takut terpengaruh oleh racun yang digenggamnya. Dengan memiliki kualitas mental yang baik, seseorang akan mempunyai benteng yang tangguh, pelindung sejati di manapun ia berada.

Untuk mendapatkan kualitas batin yang baik ini, ada nasehat Sang Buddha yang bisa dilaksanakan. Nasehat ini terdapat dalam Anguttara Nikaya IV, 51 yaitu bahwa seseorang akan dapat meningkatkan kualitas batinnya, apabila ia memiliki :

1. Keyakinan
2. Kemoralan
3. Malu melakukan kejahatan
4. Takut akan akibat kejahatan
5. Banyak mengingat Dhamma dan melaksanakannya
6. Rela membagikan kepada mereka yang membutuhkan
7. Mampu membedakan hal yang berguna dan yang tidak berguna

1. KEYAKINAN
Dalam menjalani kehidupan ini, seseorang hendaknya memilih dan memiliki suatu keyakinan yang sesuai untuk dapat digunakan sebagai dasar perbuatannya. Keyakinan ini dapat berupa ketaatan pada suatu agama atau kepercayaan tertentu atau bisa juga mengikuti petunjuk orang bijaksana yang diseganinya. Perlu keyakinan ini karena didasari pengertian bahwa seseorang memerlukan pengalaman orang yang lain untuk bisa dicontoh dan dikembangkan dalam diri kita masing-masing. Perlunya mempunyai contoh dan pengalaman orang lain adalah karena waktu kehidupan (= usia) manusia sangatlah singkat. Kematian bisa datang setiap saat. Oleh karena itu, dengan mempelajari pengalaman yang baik dari orang lain, seseorang dengan cepat dapat meniru dan mengembangkannya dalam diri sendiri, sehingga akan memperoleh banyak manfaat dari contoh nyata tersebut. Dengan demikian, ia tidak akan menyia-nyiakan kehidupannya. Ia akan segara terbebas dari pengaruh negatif yang ada di sekitarnya.

2. KEMORALAN
Sebagai konsekuensi logis seseorang mengikuti suatu ajaran atau agama, maka ia akan dihadapkan pada kewajiban untuk mengindari kejahatan. Bentuk sederhana penghindaran kejahatan adalah seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu adanya lima latihan kemoralan yang terdiri dari latihan menghindari pembunuhan/penganiayaan, menghindari pencurian atau mengambil barang yang tidak diberikan secara sah, menghindari pelanggaran kesusilaan, menghindari kebohongan serta menghindari mabuk-mabukan atau menggunakan barang-barang yang dapat melemahkan atau bahkan menghilangkan kesadaran. pada mulanya, mungkin hanya sebagian dari kelima latihan ini yang berhasil dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dengan bertambahnya waktu, seseorang akan terbiasa dengan pelaksanaan kelima latihan tersebut. Dengan melaksanakan kelima latihan ini, maka pelanggaran yang telah disebutkan dalam tabel di atas akan dapat dihindari. Dengan demikian, orang yang konsekuen dengan pelaksanaan sila akan terbebas dari rasa bersalah, timbul keyakinan diri dalam pergaulan dan tidak dimusuhi oleh masyarakat sekitarnya.

3. MALU MELAKUKAN KEJAHATAN
Usaha memperbaiki diri, pada tahap awal masih membutuhkan fihak lain untuk mengawasi maupun menegur dan mengkritik. Oleh karena itu, dengan mengikuti suatu keyakinan tertentu serta lingkungan tempat seseorang berada telah mengetahui bahwa ia aktif di lingkungan kepercayaan tertentu, maka orang tersebut akan timbul rasa malu untuk melakukan kejahatan, atau pelanggaran sila. Rasa malu ini, paling tidak, akan menjadi rem yang baik untuk menghindari kesalahan lewat perbuatan maupun ucapan. Dalam Khuddaka Nikaya 409 disebutkan bahwa apabila Anda masih dapat mencela diri sendiri atas suatu hal, janganlah lakukan hal itu. Hanya saja, rasa malu masih belum mampu mengendalikan pikiran seseorang. Hanya dengan memiliki rasa malu, seseorang akan baik di ucapan dan perbuatan, namun belum tentu di pikirannya.

4. TAKUT AKAN AKIBAT KEJAHATAN
Kualitas batin yang lebih baik akan dapat timbul jika seseorang mulai menyadari sebab dan akibat dari sikap serta perbuatannya sendiri. Sikap ini bisa muncul apabila orang tersebut memiliki pengertian bahwa orang yang melakukan kebajikan akan mendapatkan kebahagiaan, sedangkan orang yang melakukan kejahatan akan mendapatkan penderitaan. Demikian pula, jika seseorang tidak mau disakiti maka hendaknya ia pun tidak menyakiti makhluk lain. Dalam Samyutta Nikaya I, 36 disebutkan bahwa apabila mencintai dirinya sendiri, seseorang tidak selayaknya melibatkan dirinya dengan kejahatan. Inilah perilaku menghindari kejahatan yang muncul karena kesadarannya sendiri. Sikap batin ini akan menyelaraskan perilaku yang baik dengan batin yang baik pula. Ia menjadi orang yang jujur dan tidak lagi munafik.

5. BANYAK MENGINGAT DHAMMA DAN MELAKSANAKANNYA
Telah memiliki rasa takut akan akibat perbuatannya sendiri memang sudah baik, hanya saja belum cukup. Seseorang perlu menambah pengetahuan keagamaanya dan juga melaksanakannya. Agama bukanlah setumpuk teori kebajikan yang hanya dipercaya saja. Agama adalah ajaran kebajikan yang perlu dilaksanakan dan dibuktikan manfaatnya dalam kehidupan ini. Ajaran yang dapat menyelesaikan permasalahan dan menimbulkan kebahagiaan adalah ajaran yang bermanfaat dan layak diikuti.

Agar memiliki banyak pengetahuan akan kebenaran, maka seseorang hendaknya rajin berkunjung ke tempat ibadah. Untuk para umat Buddha hendaknya rajin ke vihara agar dapat mendengarkan dan berdiskusi Dhamma dengan baik. Kejelasan pengertian Dhamma akan memberikan semangat untuk melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai hasil pelaksanaan Dhamma adalah kebahagiaan yang bisa dirasakan sendiri maupun lingkungannya. Dengan hasil pelaksanaan Dhamma, seseorang akan timbul keyakinan yang kuat akan manfaat Dhamma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya dan indah pada akhirnya.

6. RELA MEMBAGIKAN KEPADA MEREKA YANG MEMBUTUHKAN 

Kerelaan adalah merupakan salah satu pokok ajaran Sang Buddha di samping kemoralan dan konsentrasi. Latihan kerelaan diperlukan agar seseorang selalu siap menghadapi kesulitan hidup dalam bentuk apapun juga. Sesungguhnya, problem kehidupan muncul karena adanya ketidakpuasan dalam menerima kenyataan. Pikiran kita sibuk membandingkan jarak antara harapan dan kenyataan. Makin jauh jaraknya, makin terasa penderitaannya. Dengan semangat melatih kerelaan, seseorang akan lebih mudah menerima kenyataan, sebagaimana adanya. Ia akan dapat menjembatani jarak antara harapan dan kenyataan itu. Ia akan mampu mengevaluasi dan menentukan sikap untuk meningkatkan kualitas diri ataukah menunggu waktu agar harapan itu menjadi kenyataan. Kemudian, setelah seseorang bisa menerima kenyataan, barulah ia bisa mengevaluasi penyebab kenyataan tersebut. Apabila merupakan kenyataan manis, cobalah dicari penyebabnya dan kembangkanlah di masa mendatang agar kebahagiaan serupa itu akan terus bisa diperoleh. Sebaliknya, apabila mengalami kenyataan pahit, carilah penyebab penderitaan itu agar di masa depan dapat dihindari kondisi untuk munculnya penderitaan serupa. Dengan demikian, maka hidup kita akan selalu bahagia dan terjauhkan dari segala bentuk kekurangan maupun penderitaan yang sering dijadikan alasan atau kambing hitam untuk melakukan pelanggaran latihan kemoralan.

7. MAMPU MEMBEDAKAN HAL YANG BERGUNA DAN YANG TIDAK BERGUNA
Sebagai persyaratan terakhir untuk perbaikan kualitas diri adalah bahwa seseorang hendaknya memiliki kemampuan untuk membedakan dan memilih hal yang bergunda dari hal yang tidak berguna. Kemampuan ini bida diperoleh dari pengalaman mencoba seseorang dengan pkiran jernih akan dapat menjalani kehidupan yang baik. Ia tidak akan gampang tergoyahkan oleh segala bentuk gangguan negatif yang ada di sekitarnya. Ia akan memiliki percaya diri untuk menentukan sikap tanpa harus takut dengan ancaman dari luar. Ia akan menjadikan dirinya sebagai pelindung sejati atas dirinya sendiri. Kebahagiaan akan menjadi hasil dari kebijaksanaannya menentukan langkah hidupnya.

Penutup

Dari penjelasan di atas, tampaklah bahwa sesungguhnya diri kita sendirilah yang menjadi penentu suka dan duka kehidupan kita sendiri. Apabila kita mampu mengendalikan dan meningkatkan kualitas diri maka kebahagiaan akan dapat didapatkan. Kebahagiaan karena memiliki kehidupan yang sehat lahir dan batin, terbebas dari perilaku yang menyimpang dari aturan-aturan kemoralan.


Pernah disampaikan dalam Seminar Demoralisasi dalam Keluarga di Millennium III, pada tanggal 16 Januari 2000 di Semarang. ]

Rabu, 17 November 2010

Rasa Bersalah dan Pengampunan



Rasa Bersalah dan Pengampunan
Oleh Ajahn Brahm


Beberapa tahun yang lampau, seorang wanita muda Australia datang menemui saya di wihara saya di Perth. Para bhikkhu memang sering dimintai nasihat untuk masalah-masalah umat, barangkali karena kami tidak pernah minta bayaran. Wanita ini datang dengan rasa bersalahnya. Enam bulan sebelumnya, dia mengajak sahabat dan pacar sahabatnya untuk berpergian naik mobil ke padang rumput. Sahabatnya tidak ingin pergi, begitupun pacarnya, tetapi tak asyik rasanya kalau main sendirian saja. Jadi dia membujuk dan merengek sampai akhirnya mereka menyerah dan bersedia pergi bersama-sama.

Lalu terjadilah kecelakaan: mobil mereka tergelincir di jalan batu yang longsor. Sahabatnya tewas, pacar sahabatnya lumpuh. Itu adalah gagasannya, tetapi dia sendiri selamat. Dia bercerita kepada saya dengan duka di matanya : “Kalau saja saya tidak memaksa mereka untuk pergi, sahabat saya pasti masih hidup dan pacarnya tidak akan kehilangan kaki. Seharusnya saya tidak membuat mereka pergi dengan saya. Saya merasa sangat bersalah.”

Pikiran pertama yang melintas di benak saya adalah untuk menenangkannya bahwa itu semua bukan salahnya. Dia tidak merencanakan untuk mengalami kecelakaan itu. Dia tidak berniat menyakiti sahabatnya. Semuanya sudah terjadi. Jangan merasa bersalah. Namun, pikiran berikutnya yang melintas adalah, “Berani taruhan dia pasti sudah mendengar nasehat semacam itu, ratusan kali dan tampaknya tidak mempan.” 

Jadi saya diam sejenak, merenungkan situasinya lebih dalam, lalu saya katakan kepadanya bahwa bagus juga kalau dia merasa begitu bersalah. Wajahnya berubah dari sedih menjadi terkejut, dan dari terkejut menjadi lega. Dia belum pernah mendengar perkataan seperti itu sebelumnya : bahwa dia semestinya merasa bersalah. Dugaan saya benar. Dia merasa bersalah akan perasaan bersalahnya. Dia merasa bersalah dan setiap orang bilang bahwa dia tidak boleh merasa bersalah. Karena itu, dia merasa “dua kali bersalah”, merasa bersalah karena kecelakaan itu dan merasa bersalah atas perasaan bersalahnya. Begitulah cara kerja pikiran kita yang ruwet ini.

Hanya ketika kita telah mengatasi lapisan pertama perasaan bersalahnya dan menegaskan bahwa tidak apa-apa kalau dia merasa bersalah, barulah kita bisa melanjutkan ke tahap berikut pemecahan masalahnya : “Lalu Sekarang bagaimana?”

Ada pepatah Buddhis yang sangat membantu : “Daripada mengeluhkan kegelapan, lebih baik menyalakan lilin.” Perasaan bersalah pada hakikatnya berbeda dengan penyesalan. Didalam kebudayaan kita, “bersalah” adalah keputusan yang diketok-palukan oleh hakim pengadilan. Dan jika tak ada seorang pun yang menghukum kita, kita akan menghukum diri sendiri, dengan satu dan lain cara. Perasaan bersalah berarti hukuman di dalam batin kita.

Jadi, wanita muda ini memerlukan suatu kiat pengampunan untuk membebaskannya dari perasaan bersalah. Sekadar memberitahukannya untuk melupakan apa yang terjadi tampaknya tak berkhasiat. Saya menyarankannya untuk menjadi relawan disebuah unit rehabilitasi korban kecelakaan lalu lintas di rumah sakit setempat. Karena di sini, saya piker, dia akan menanggalkan rasa bersalahnya dengan bekerja keras dan juga seperti yang biasanya terjadi pada kerja sukarela, dia akan sangat terbantu oleh orang-orang yang dibantunya.

 Sumber :
Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
108 Cerita Pembuka Pintu Hati
Oleh Ajahn Brahm

(Buku Wajib Punya, disarankan membeli di toko buku terdekat atau hubungi Penerbit)
Info lebih lanjut silahkan hubungi Ehipassiko Foundation 
http://www.facebook.com/comeandsee
atau
http://www.ehipassiko.net/

Pelaksanaan Agama Buddha Dalam Kehidupan Sehari Hari



Pelaksanaan Agama Buddha Dalam Kehidupan Sehari Hari
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu K. Sri. Dhammananda Nayake Mahathera



Buddha Dhamma sebagai suatu agama atau sebagai suatu cara hidup yang benar dihargai oleh orang-orang berintelek tinggi di banyak bagian dunia ini. Alasan yang sederhana ialah bahwa Sang Buddha, pendiri agama ini, adalah guru yang telah mencapai penerangan sempurna dan berpandangan luas. Cara hidup menurut agama Buddha sangatlah sederhana; bebas dari kepercayaan membuta dan dogma-dogma. Sayang sekali banyak orang yang belum mengerti bagaimana menempuh cara hidup yang benar menurut agama Buddha. Dewasa ini, di banyak bagian dunia ini, dan bahkan di antara masyarakat beragama Buddha sendiri, berbagai kepercayaan dan praktek masih dilakukan atas nama agama ini. Banyak diantara praktek-praktek ini sama sekali bukan ajaran asli Sang Buddha dan bahkan kadang-kadang bertentangan. Sebenarnya banyak orang telah mengabaikan dan melupakan cara hidup yang benar menurut agama Buddha. Banyak pula yang mempunyai pengertian yang keliru mengenai segi-segi panting tertentu dari agama ini. Dengan harapan untuk menghilangkan pandangan salah dan memberikan penerangan kepada masyarakat inilah, maka buku kecil ini diterbitkan.

Mengerti cara hidup menurut agama Buddha berarti harus menempuh cara hidup yang benar. Menghargai sifat kehidupan ini berarti mencapai suatu kehidupan nan bahagia dan damai.

Orang-orang tertentu yang disebut kaum intelektuil menggunakan Buddhisme hanya sebagai suatu dasar bagi pokok pembicaraan mereka dalam membahas segi-segi metafisika dan filsafat agama ini. Mereka mencemoohkan kebiasaan-kebiasaan kebudayaan umat Buddha yang telah diterima, bahkan menyalahkan kebiasaan-kebiasaaan demikian. Ini bukanlah sikap yang benar dan sehat dalam beragama. Suatu agama tanpa pengertian dan agama yang tidak meresap ke dalam kebudayaannya tak akan dapat bertahan, agama itu hanya akan menjadi filsafat kering dan menghilangkan beberapa waktu kemudian. Toleransi adalah hal utama dalam ajaran-ajaran Sang Buddha. Jika sesearang tidak dapat menerima pelaksanaan-pelaksanaan budaya tertentu, ia setidak-tidaknya harus membiarkan pelaksanaan-pelaksanaan tersebut. Dalam pada itu, seseorang harus meneliti makna dan arti yang mendasari pelaksanaan tersebut daripada ia mengeluarkan kata-kata yang gegabah dan tidak pada tempatnya.

Kebudayaan Buddhis telah meresap ke dalam setiap segi kehidupan kita. Kita mengetahui bahwa Buddhisme adalah suatu agama yang membimbing kita menuju kehidupan yang lebih baik di alam ini dan selanjutnya. Adalah tugas kita untuk menyelidiki, mempelajari, memahami dan melaksanakan hal-hal yang disediakan oleh agama kita untuk kita. Kita membutuhkan bimbingan agama kita untuk kehidupan sehari-hari. Upacara-upacara dan adat istiadat, meskipun diterima sebagai suatu bagian pelengkap bagi agama, tidaklah dengan sendirinya mengandung unsur agama. Pengembangan batin adalah segi terpenting dari agama. Untuk mencapai perkembangan batin ini, kita harus memulai dengan menumbuhkan dasar moral yang kuat sehingga kita mempunyai dasar yang teguh, dan dengan mengerti ajaran-ajaran Sang Buddha, kita dapat memperoleh inspirasi batin yang diperlukan. Rasa terima kasih dan penghormatan kita tertuju kepada Sang Guru Agung, Ajaran-ajaranNya dan Sangha tidak boleh dilupakan. Dengan demikian kita mempunyai tiga objek suci, Buddha, Dhamma dan Sangha, yang dalam bahasa Buddhis biasa kita sebut Tiratana yang harus kita hormati. Pencapaian pengembangan batin dan penghormatan pada Sang Tiratana adalah jalan yang dapat membawa kita kepada kehidupan yang benar menuju kedamaian, kebahagiaan dan keselamatan akhir. Inilah tujuan setiap umat Buddha. Sambil kita bercita-cita luhur, kita tidak boleh melupakan atau mengabaikan pelaksanaan atau kebiasaan agama sehari-hari yang mengingatkan kita pada tugas kita terhadap agama. Untuk mengingat semua hal yang bersangkutan dengan kewajiban-kewajiban keagamaan, maka suatu ikhtisar ringkas mengenai peraturan-peraturan agama dan pelaksanaannya akan diterangkan untuk para pembaca.

PERATURAN SEHARI-HARI

Sebagai umat Buddha, sudah selayaknya jika kita memiliki sebuah altar Buddha atau gambar Sang Buddha didalam rumah kita, bukan sebagai barang pameran tetapi sebagai objek penghargaan dan penghormatan. Lukisan indah dari Sang Buddha, yang melambangkan Metta (cinta kasih), kesucian dan kesempurnaan, berguna sebagai sumber hiburan dan inspirasi untuk menolong kita mengatasi segala kesulitan, keresahan atau kesalah pahaman yang perlu kita hadapi dalam kegiatan kita sehari-hari di dunia yang penuh kesukaran ini. Penghidupan penuh dengan perangkap. Perangkap demikian dapat dihindari jika kita ingat untuk melaksanakan ajaran-ajaran mulia dari Guru Agung kita. Sambil menghormati Sang Buddha, adalah suatu tugas yang paling menguntungkan, bila kita dapat bermeditasi walaupun sebentar saja, dengan memusatkan pikiran kita pada sifat-sifat agung dan mulia dari Sang Buddha, sehingga kita dapat menyempurnakan diri kita melalui inspirasinya.

MELAKSANAKANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Sebagai penganut, kita hendaknya membiasakan diri memberi penghormatan kepada Guru Agung ini setiap hari. Ini dapat dilakukan pada dini hari (pagi-pagi sekali) atau malam hari sebelum tidur. Sambil melakukan ini, adalah berfaedah, jika diusahakan untuk membacakan beberapa sutta. Inilah cara hidup nan mulia dari umat Buddha. Orang tua harus menananamkan kebiasaan-kebiasaan agama yang bermanfaat dan dihormati sepanjang zaman ini diantara anak-anak mereka sehingga mereka dapat menyadari dan menghargai pusaka mereka yang berharga.

Para orang tua yang beragama Buddha dianjurkan untuk menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah Minggu Buddhis atau kelas-kelas agama untuk melatih anak-anak itu menjadi anak-anak yang patuh dan menjadi warga negara yang baik. Selain umat Buddha dianjurkan untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan agama didalam keluarganya, mereka diingatkan untuk tidak melupakan atau mengabaikan kewajiban-kewajiban bersama terhadap kegiatan-kegiatan di vihara tempat kebaktian-kebaktian diadakan secara teratur pada hari-hari bulan purnama dan bulan madu (tanggal 1 dan 15 Candrasankala). Berkunjung ke wihara dan turut serta dalam kebaktian-kebaktian dapat dianggap sebagai perbuatan yang berjasa. Pelaksanaan delapan sila (ATTHA SILA) selama hari-hari tersebut (tanggal 1 dan 15 Lunar Calender) oleh para penganut merupakan suatu perbuatan yang layak dan berjasa. Mereka yang turut melaksanakan ini diminta untuk berpakaian putih sederhana dan tinggal di vihara selama 1 hari, dengan mencurahkan waktunya pada soal-soal keagamaan seperti meditasi, diskusi agama, rnembaca buku-buku agarna dan memancarkan cinta kasih (Metta).

PERAYAAN-PERAYAAN

Dalam menyelenggarakan perayaan-perayaan sosial atau keluarga, umat Buddha dinasehati untuk tidak bertingkah laku sedemikian rupa hingga melanggar dasar-dasar agama Buddha, misalnya Lima Sila dan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Tata susila Buddhis harus dipertahankan, Mereka tidak boleh membiarkan dirinya menjadi mabuk atau dipengaruhi oleh sesuatu bentuk kesenangan yang hina, namun mereka hendaknya mengadakan perayaan-perayaan tersebut dengan cara terhormat sepadan dengan kedudukan mereka sebagai umat Buddha yarig terpelajar. Dalam memperingati peristiwa-peristiwa kemasyarakatan, sebaiknya kita tidak melupakan segi-segi rohaniah peringatan tersebut. Suatu kunjungan ke wihara untuk menerima berkah Sang Tiratana sungguhlah tepat untuk setiap kesempatan.

TRADISI DAN ADAT ISTIADAT

Pelaksanaan tradisi dan adat istiadat kebangsaan tidak perlu dibuang bila seseorang menjadi umat Buddha atau mengikuti ajaran Sang Buddha. Sesungguhnya Sang Buddha menasihati para pengikutnya untuk menghormati tradisi dan adat istiadat mereka sendiri jika hal itu mempunyai arti penting dan tidak merugikan. Sebaliknya, jika praktik-praktik itu bertentangan dengan atau melanggar prinsip-prinsip Buddhis yang fundamental, membahayakan orang lain, atau menyusahkan, maka praktik-praktik itu hendaknya dibuang, betapapun hal itu ditujukan untuk maksud baik. Bahkan dalam mengatur fungsi-fungsi keagamaan kita, adalah tugas kita untuk menyusun fungsi-fungsi itu dengan cara-cara terhormat tanpa menyusahkan orang lain. Pengertian ini sangat penting dalam pelaksanaan agama kita dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai suku.

PEMBERKATAN RUMAH

Menempati suatu rumah baru atau pindah dari suatu rumah ke rumah lainnya sering diikuti dengan sesuatu bentuk peringatan atau upacara selamatan. Tidak ada keberatan untuk peringatan seperti itu, tetapi kemball -disini, terlepas dari segi sosial peringatan itu, adalah suatu tradisi Buddhis bagi keluarga yang bersangkutan untuk mengundang para bhikkhu untuk memberikan berkah demi kedamaian, kesejahteraan dan keselarasan rumah tangga itu.

PENGHORMATAN KEPADA PARA DEWA DAN "ROH" SUCI

Di banyak rumah umat Buddha, pesta-pesta tertentu atau perayaan-perayaan khusus diadakan untuk menghormati berbagai dewa dan "roh" suci yang dipuja di dalam rumah mereka atau di kuil-kuil. Walaupun tidak ada keberatan khusus sepanjang hal itu tidak melanggar azas-azas pokok Buddhis, namun harus ditarik suatu perbedaan terhadap kenyataan bahwa perayaan-perayaan yang demikian sifatnya tidaklah mernbantu dalam kemajuan batin kita kecuali untuk kemajuan duniawi. Hal-hal itu harus dengan jelas dibedakan dari Buddha Dhamma sendiri. Oleh karena itu kita jangan memperkenalkan kebiasaan-kebiasaan menurut adat atau tradisi ini sebagai kebiasaan-kebiasaan agama Buddha. Menurut ajaran-ajaran Sang Buddha cara yang tepat untuk mengenang atau menghormati dewa-dewa ini adalah melalui pemindahan jasa-jasa dengan jalan melaksanakan perbuatan-perbuatan berjasa dan memancarkan cinta kasih (Metta) kita kepada mereka melalui meditasi.

PEMBERKAHAN BAGI ANAK YANG BARU DILAHIRKAN

Orang tua anak yang baru melahirkan diminta untuk membawa anak itu ke wihara untuk menerima berkah Sang Tiratana setelah anak itu berusia satu bulan. Persembahan bunga, dupa, lilin atau buah-buahan boleh dilakukan di ruang pemujaan wihara itu dan bhikkhu-bhikku yang tinggal di wihara itu diminta untuk membacakan sutta-sutta untuk memberkahi anak tersebut. Jika dikehendaki, boleh juga dimintakan nasihat para bhikku itu untuk memberikan nama Buddhis yang cocok bagi anak tersebut.

PERNIKAHAN/PERKAWINAN

Telah diperhatikan bahwa banyak umat Buddha cenderung untuk melupakan kewajiban-kewajiban spiritual mereka berkenaan dengan peristiwa yang paling penting dan bertuah ini dalam kehidupan mereka, yaitu pernikahan. Biasanya di beberapa negara Buddhis pasangan yang bertunangan mengundang para bhikkhu untuk memberikan pemberkahan di rumah mereka ataupun di wihara sebelum hari pernikahan. Jika dikehendaki, pemberkahan itu dapat pula dilakukan setelah pernikahan yang biasanya berlangsung di Kantor Catatan Pernikahan atau dirumah pihak yang bersangkutan. Diharapkan agar pasangan-pasangan yang beragama Buddha dengan rajin menunaikan kewajiban-kewajiban agama mereka bila mereka menikah. Persembahan sederhana berupa bunga, dupa dan lilin adalah sernua yang diperlukan untuk kebaktian Pemberkahan sederhana yang diikuti oleh orang tua kedua pihak dan sanak keluarga serta kawan-kawan yang diundang. Pemberkahan demikian, yang diberikan pada hari bertuah, akan menjadi suatu sumbangan spiritual yang pasti untuk keberhasilan, langkah dan kebahagiaan pasangan yang baru menikah.

SAKIT

Seseorang yang sakit, selain menempuh pengobatan medis biasa, sebaiknya juga rnengundang para bhikkhu untuk melakukan suatu pemberkahan keagarnaan yang bertujuan mempercepat kesembuhan si pasien. Pemberkahan seperti itu dapat menanamkan pengaruh spiritual dan kejiwaan pada si pasien sehingga mempercepat penyembuhannya. Khususnya bila penyakit itu kebetulan berhubungan dengan sikap batin si sakit, suatu pelayanan spiritual oleh seorang bhikkhu akan sangat menolong. ~Dalam hal terdapat kepercayaan bahwa suatu penyakit disebabkan oleh pengaruh buruk dari luar atau "roh-roh" jahat, maka suatu kebaktian Pemberkahan dapat menjadi obat penawar yang baik. Tetapi, sebagai urnat Buddha yang mengerti, kita jangan menyerahkan diri pada kepercayaan atau khayalan keliru bahwa "roh-roh" jahat merupakan sebab penyakit kita.

Nasihat Sang Buddha:"Bilamana badanmu sakit, jangan biarkan pikiranmu menjadi sakit juga", sungguhlah benar. Sesuai dengan nasehat ini, kita harus mempergunakan kecerdasan dan pikiran sehat kita untuk mencari pengabatan medis yang cocok untuk penyakit kita daripada menyerah pada tahyulan Meskipun demikian, kita harus senantiasa ingat bahwa sakit merupakan bagian dan bidang dari kehidupan kita sehari-hari didunia ini, dan kita harus menerimanya dengan tenang.

PEMAKAMAN

Manusia harus mati dan kematian akan tiba pada saatnya. Namun, kematian adalah suatu peristiwa sedih dan memilukan bagi manusia. Upacara penguburan hendaknya juga upacara yang khidmat, sesuai dengan peristiwanya

Bertentangan dengan kepercayaan popular dalam masyarakat, upacara pemakaman Tionghoa yang sangat ramai, rumit dan kadang-kadang menyolok yang menelan biaya jutaan rupiah dan sering dikatakan sebagai kebiasaan normal bagi umat Buddha sebenarnya sama sekali bukanlah pelaksanaan Buddhis. Kebiasaan-kebiasaan itu hanya merupakan pengabdian adat istiadat dan tradisi kuno yang berasal dari generasi lampau. Orang-orang yang beragama lain sering heran bila melihat upacara seperti itu, apakah acara itu untuk memperingati sesuatu hari raya yang gembira atau upacara pemakaman yang khidmat. Meskipun agama Buddha tidak berkeberatan terhadap penerusan pelaksanaan itu, sepanjang praktik-praktik itu tidak bertentangan dengan ajaran Sang Buddha, namun terasa bahwa sudah waktunya pelaksanaan-pelaksanaan yang memboroskan, tidak ekonomis, dan tidak penting yang tidak bermanfaat bagi almarhum harus dihapuskan. Pelaksanaan upacara-upacara tradisional yang demikian rumit atau upacara kematian yang kadang-kadang berlangsung sampai berhari-hari atau berminggu-minggu harus pula dikurangi atau dibuang Pelaksanaan tradisional lainnya adalah pembakaran kertas tepekong dan rumah-rumahan kertas simbolis, yang dimaksudkan untuk kepentingan orang yang meninggal dunia. Hal ini jelas tidak bersifat Buddhis dan harus dilenyapkan.

Upacara pemakaman secara Buddhis hendaknya sederhana, khidmat, terhormat dan penuh arti. Bhikku-bhikku boleh diundang ke rumah orang yang meninggal dunia untuk membacakan sutta-sutta sebelum pemakaman. Pelayanan seperti ini diberikan dengan sukarela oleh para bhikkhu tanpa sesuatu pembayaran. Persembahan bunga-bunga dan pembakaran hio dan lilin adalah kebiasaan normal dan dapat diterima. Pada hari pemakaman, pelayanan para bhikkhu dapat dimintakan lagi untuk melaksanakan kebaktian di rumah dan di pekuburan. Telah menjadi kebiasaan bagi orang-orang Tionghoa untuk menyajikan segala jenis masakan termasuk babi dan ayam sebagai persembahan simbiolis untuk orang yang meninggal dunia. Ini juga merupakan suatu kebiasaan tradisionil yang tidak dianjurkan oleh Buddha Dhamma. Persembahan bunga yang sederhana beserta pembakaran dupa dan lilin sudah cukup sebagai persembahan simbolis.

Penyembelihan binatang-binatang tak bersalah untuk dipergunakan sebagai persembahan korban bagi orang-orang yang telah meninggal dunia jelas bertentangan dengan ajaran-ajaran Sang Buddha yang welas asih dan hendaknya dihapuskan sama sekali.

PENGUBURAN DAN PERABUAN

Banyak umat Buddha mempersoalkan apakah seorang yang meninggal dunia harus dikubur atau diperabukan. Buddha Dhamma bersikap lunak dalam persoalan ini. Tidak ada aturan yang keras dan ketat, meskipun di beberapa negara Buddhis perabuan merupakan kebiasaan yang lazim. Pilihan atas sesuatu cara pada dasarnya tergantung pada "permintaan terakhir" dari orang yang meninggal dunia atau atas kebijaksanaan keluarga terdekat.

Namun, dalam pandangan modern, perabuan dianjurkan sebagai suatu bentuk pengaturan mayat yang sesuai dengan syarat-syarat kesehatan. Dengan meningkatnya standar kesehatan dan terjadinya ledakan penduduk, tanah yang dapat dipakai menjadi tidak cukup, sehingga sebaiknya dilakukan perabuan dan tanah yang berharga dapat dipergunakan untuk yang masih hidup daripada dipenuhi dengan batu nisan yang tak terkira banyaknya. Baik dalam penguburan atau perabuan, telah diperhatikan bahwa orang-orang tertentu memasukkan benda-benda berharga milik orang yang meninggal dunia ke dalam peti mati atau tempat perabuan dengan harapan dan keyakinan bahwa orang yang meninggal dunia mendapat keuntungan daripadanya. Terlepas dari rasa sentimen terhadap perbuatan itu, adalah suatu pandangan keliru untuk mengharapkan bahwa penguburan dan pembakaran benda-benda tersebut akan mendatangkan jasa. Daripada dimasukkan kedalam peti mati atau tempat perabuan, lebih baik barang-barang berguna seperti pakaian, sepatu dan lain-lainnya disumbangkan kepada kaum fakir miskin atau kepada lembaga-lembaga amal. Setiap pertolongan kepada kaum fakir miskin merupakan suatu perbuatan berjasa.

PENGATURAN ABU

Pertanyaan sering diajukan tentang apakah yang harus dilakukan terhadap abu jenazah yang telah diperabukan. Tidak ada aturan yang keras dan ketat tentang pengaturannya. Abu itu dapat disimpan dalam sebuah guci dan diletakkan dalam suatu pagoda yang khusus didirikan dalam sebuah wihara untuk maksud itu atau dapat disimpan di mana saja menurut kehendak keluarga terdekat. Pada umumnya, setelah kebaktian singkat abu jenazah ditaburkan ke dalam laut atau sungai.

MENGHORMATI ORANG YANG MENINGGAL DUNIA

Telah dikatakan bahwa persembahan bunga-bunga adalah suatu bentuk penghormatan yang lazim untuk mengenang orang yang meninggal dunia. Namun, dalam hubungan ini juga, dilakukan hal-hal yang berlebih-lebihan karena pada upacara-upacara kita melihat karangan-karangan bunga bernilai ratusan ribu rupiah bertumpuk-tumpuk diatas makam, yang hanya dibersihkan sebagai sampah dalam satu atau dua hari berikutnya. Untuk menghindari pemborosan seperti ini, suatu kebiasaan yang lebih dapat diterima dan lebih layak telah disetujui oleh orang-orang masa kini yang lebih mengerti. Kebiasaan itu ialah bahwa sebagai pengganti karangan bunga, manisan atau kertas tepekong, keluarga terdekat dari orang yang meninggal dunia memberitahukan dalam surat kabar bahwa kawan-kawan atau sanak saudara yang ingin menghormati orang yang meninggal dunia itu dapat berdana kepada lernbaga-lembaga keagamaan atau panti derma atas nama orang yang meninggal dunia itu. Dalam beberapa hal, suatu yayasan khusus tempat orang yang meninggal dunia itu pernah berkecimpung aktif selama hidupnya ditunjuk sebagai penerima dana. Perubahan sikap ini sangat masuk akal dan menggembirakan. Sangat dianjurkan agar kebiasaan seperti ini dapat diikuti oleh semua umat Buddha yang mengerti.

Penghormatan kepada orang yang meninggal dunia biasanya pertama-tama diberikan oleh keluarga terdekat orang yang meninggal dunia itu. Penghormatan ini dengan mudah dapat diberikan oleh anak-anaknya atau keluarga terdekatnya dalam membantu mempersiapkan mayat ke dalam peti jenazah. Sayang sering terjadi bahwa karena ketahyulan yang keliru, ketakutan atau prasangka yang tidak semestinya, maka kewajiban atau penghormatan terakhir hi jarang dilakukan oleh orang yang bersangkutan. Sebagai gantinya beberapa orang petugas dipekerjakan untuk membersihkan dan membajui mayat itu. Seharusnya tidaklah demikian. Prasangka dan ketahyulan harus dihilangkan. Penghormatan harus diberikan kepada orang yang meninggal dunia.

UPACARA PERINGATAN

Penyelenggaraan upacara keagamaan untuk peringatan di wihara atau di rumah merupakan suatu bentuk lain untuk menghormati orang yang meninggal dunia. Ini dapat diikuti dengan perbuatan jasa yang lain dengan memberikan dana kepada bhikkhu-bhikkhu dan orang-orang miskin. Penyelenggaraan upacara peringatan biasanya dilakukan pada hari ketujuh setelah seseorang meninggal dunia dan juga pada bulan ketiga atau hari keseratusnya. Selanjutnya upacara itu dapat dilakukan pada hari peringatan tanggal kematiannya. Bagi mereka yang mampu, suatu bentuk perbuatan jasa yang lebih patut dipuji adalah berdana kepada yayasan keagamaan atau panti derma guna menghormati orang yang telah meninggal duniai atau menerbitkan buku-buku keagamaan untuk dibagikan pada masyarakat untuk memberi penerangan mengenai ajaran Sang Buddha nan agung.

Sumber: Day to Day Buddhist Practices, by Ven K. Sri Dhammananda. Diterjemahkan oleh: Budhiarta B.Sc. Penerbit: Yayasan Dhamma Jaya, Surabaya ] 

Selasa, 16 November 2010

TELAAH MUSIBAH

 
TELAAH MUSIBAH
Oleh Dr. K. Sri Dhammananda Maha Nayaka Thera
 
 
Pembabar adalah bhikkhu asal Sri Lanka yang menjadi Ketua Sangha Malaysia dan Singapura. Artikel ini dituliskan berdasarkan ceramah yang disampaikan dalam "Dewan Berkah Dharma untuk Korban Tsunami", di Stadium Negara, Kuala Lumpur, Malaysia, pada tanggal 15 Januari 2005. Sumber: The Buddhist Channel, 24 Februari 2005. Judul asal: The Anatomy of Disaster. Penerjemah: Suheryati, Palembang. Penyunting: Handaka Vijjananda, Yangon. Pelansir: Ehipassiko Foundation.

 
Prahara tsunami yang melanda negara-negara yang berbatasan dengan Samudera Hindia pada Desember tahun lalu telah mempertontonkan kedahsyatan kekuatan alam dengan berbagai cara. Banyak orang mempertanyakan penyebab terjadinya bencana semacam itu; apakah ini suatu pertanda "murka Tuhan" untuk menghukum umat manusia atas segala kesalahan yang diperbuat di bumi?
 
Sebelum kita melangkah dan membuat asumsi-asumsi bahwa beberapa kekuatan eksternal adalah penyebab kerusakan besar-besaran seperti itu, terlebih dahulu kita harus belajar memahami sifat hakiki keberadaan, khususnya keberadaan manusia.
 
Kata "manusia" diturunkan dari kata Sanskerta "manussa" yang berarti 'manusia'. Kata "manussa" berasal dari "mana" yang berarti 'pikiran'. Di antara segenap alam kehidupan, manusia adalah satu-satunya makhluk yang berkesempatan untuk menjadi Buddha. Manusia mempunyai kesempatan ini karena mereka memiliki kecerdasan dan kebijaksanaan untuk mempertanyakan keberadaan mereka, bagaimana dan mengapa mereka terlahirkan di dunia ini, dan tentang arti kehidupan itu sendiri.
 
Melalui pengerahan kecerdasan seperti itu, manusia mampu mengembangkan pengetahuan mendalam tentang sifat kehidupan, apa yang membentuk kehidupan manusia, dan sifat makhluk itu sendiri. Melalui penyelidikan seperti ini, Buddha mengajarkan kepada kita bahwa segenap makhluk hidup dan alam semesta merupakan gabungan berbagai unsur dan energi.
 
Unsur-unsur ini—tanah, angin, air, dan panas—diatur oleh hukum-hukum kosmik alamiah dan universal yang berlangsung dalam siklus abadi pemunculan, pertumbuhan, penuaan, dan pelenyapan. Dunia objek-objek bernyawa dan tak bernyawa ini eksis di atas berbagai dasar kondisi dan keberlangsungan fenomena mental dan fisik yang diatur oleh hukum-hukum alam (dhammaniyama).
 
Buddha berbicara tentang lima hukum alam, salah satunya adalah hukum energi (utuniyama). Energi, dalam kedua wujud panas dan dingin, menyebabkan banyak perubahan di dalam tubuh dan lingkungan. Energi selalu dalam keadaan mengalir, terus berubah, dan selalu mencari keseimbangan. Inilah kaidah yang mengatur perubahan-perubahan di dalam tubuh, seperti usia tua dan sakit, atau dalam konteks ekologis berkenaan dengan hal-hal seperti iklim, musim, dan pergerakan bumi.
 
Buddha telah menerangkan dengan sangat gamblang bahwa kerja hukum ini tidak terbatas pada dunia fisik ini saja, tetapi juga di segenap alam semesta. Hukum ini mempengaruhi setiap tata surya dan semua bentuk metafisika kosmik, baik berupa materi maupun non-materi. Semua unsur ini mengalami perubahan, mengalami ketidakseimbangan dari waktu ke waktu.
 
Begitu pula kehidupan, kehidupan manusia dan bumi dikendalikan oleh hukum-hukum alam. Mereka menjadi renta, mati, dan lahir, lagi dan lagi, tunduk pada suatu siklus kosmik nan tak berkesudahan. Bencana terjadi dari waktu ke waktu karena unsur-unsur dasar seperti air, tanah, angin, dan api senantiasa dalam perubahan konstan dan perlu mencari keseimbangan. Karena itulah Buddha mengatakan bahwa kehidupan manusia adalah tidak memuaskan (dukkha), karena manusia juga mengalami perubahan semacam itu. Dikarenakan perubahan universal ini, tanpa pandang status atau spesies, setiap makhluk mengalami dukkha.
 
Di satu sisi, ajaran Buddha mengajarkan kepada kita bahwa kita adalah arsitek dari nasib kita sendiri dan bahwasanya sebagai manusia pada akhirnya kita dapat mengendalikan kekuatan kamma kita, namun demikian, umat buddha tidak menganut kepercayaan bahwa segala sesuatu disebabkan oleh kamma belaka. Umat Buddha tidak mengabaikan peran yang dimainkan oleh kekuatan-kekuatan lain dari alam. Seperti yang kita lihat, kamma hanyalah salah satu aspek dari hukum alam. Oleh karena itu, paham yang menggampangkan bahwa semua pengalaman hidup hanya disebabkan oleh kamma adalah tidak benar.
 
Pemahaman adanya berbagai unsur yang bersemayam di alam fisik dan mental ini akan membantu kita untuk memperoleh pemahaman yang lebih jernih mengenai bagaimana suatu kejadian tunggal bisa diakibatkan oleh lebih dari satu penyebab dan bagaimana berbagai faktor penentu bisa serempak terlibat dalam pengondisian peristiwa atau pengalaman tertentu. Biasanya, ketika ada lebih dari satu kaidah yang bekerja, kaidah yang lebih dominanlah yang akan berlaku.
 
Sebagai contoh, suhu (utuniyama) yang ekstrem dapat mempengaruhi kondisi pikiran (cittaniyama) dan mengakibatkan seseorang gampang merasa tidak nyaman; atau kekuatan tekad membaja (cittaniyama) mungkin untuk sementara waktu mengatasi pengaruh lingkungan (utuniyama) negatif dan buah kamma (kammaniyama). Dalam kasus bencana alam, energi kamma menjadi non-aktif karena dahsyatnya daya pergerakan tanah dan air, seperti gempa bumi dan tsunami. Pemusnahan akibat bencana tsunami Asia adalah suatu perunjukan tak berdayanya hukum kamma terhadap hukum alam (utuniyama).
 
Gelombang pemusnah yang merenggut ratusan ribu kehidupan berlangsung tanpa pandang kebaikan para korban. Mereka yang punya kamma baik dan punya kamma buruk sama-sama menderita. Tak seorang pun, dan apa pun, mampu melarikan diri dari kekuatan seperti ini, yang menunjukkan bahwa ketidak-kekalan adalah sesuatu yang kekal adanya. Ajaran Buddha dilandaskan pada penerimaan akan kebenaran universal ini. Memiliki pemahaman mendalam mengenai pengetahuan tersebut akan memungkinkan kita untuk menerima dengan batin seimbang apa yang tidak dapat diubah, dan oleh karena itu memungkinkan kita menyalurkan energi positif untuk penggunaan yang lebih produktif, lebih spiritual.
 
Mengembangkan belas kasih dan mempertahankan kebaikan adalah hal yang penting bagi manusia sebagai cara untuk belajar hidup dengan perubahan yang terus-menerus seperti itu. Untuk hidup tenang tidak berarti kita harus menaklukkan alam. Kita perlu memiliki pemahaman dan penghargaan mendalam terhadap kekuatan-kekuatan alam. Inilah alasan yang tepat; menyalahkan kekuatan-kekuatan eksternal (seperti Tuhan) atas petaka besar akibat bencana tsunami adalah hal yang keliru. Tak perlu menyalahkan siapa pun, dan tak ada apa pun yang perlu dipersalahkan.
 
Tidak perlu mencari-cari alasan tindakan Tuhan karena bencana tsunami dengan jelas telah menunjukkan kefanaan unsur-unsur bumi. Hal ini telah nyata-nyata membuka mata kita terhadap keterkondisian alam, kefanaan, dan ketiadaan inti yang ajek. Inilah pula alasan bahwa kita perlu belajar untuk tidak mengembangkan nafsu keinginan terhadap hal-hal duniawi. Kemelekatan terhadap diri fisik kita sendiri dan terhadap lingkungan pasti akan membuat kita lebih menderita karena kelahiran kembali pada masa mendatang bisa membuat kita mengalami kekuatan-kekuatan hukum alam yang tak terduga seperti itu. Kita bahkan dapat menggunakan peristiwa ini sebagai suatu pelajaran demi keselamatan, yaitu untuk berusaha terlahir di "tempat yang sesuai" (patiropadesavaso, dari Mangala Sutta, Ceramah Tentang Berkah), bebas dari penderitaan yang disebabkan oleh hukum-hukum alam seperti itu.
 
Bencana ini juga merupakan pengingat tepat waktu bagi kita untuk mengkaji kembali bagaimana kita hidup, dan untuk meninjau kembali hubungan kita dengan alam. Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan (paticcasamuppada) menjelaskan tentang kejadian pikiran dan tubuh dalam suatu ikatan saling interaksi dan ketergantungan. Apa yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan membawa dampak jauh melampaui keberadaan jasmani kita ini. Jika kita mencemari tanah, dampaknya akan datang menghantui kita melalui air yang tercemar. Jika kita mengambil sikap selalu ingin menaklukkan alam, berpikir bahwa kepandaian kita adalah yang paling unggul, kita harus siap-siap menghadapi konsekuensi kemurkaan alam.
 
Bencana adalah suatu pengingat bagi kita untuk kembali menyikapi kebenaran silam akan kebersahajaan. Ini terasa benar dalam masa-masa dewasa ini, ketika pembangunan yang berlebihan telah menyebabkan menganganya ketidakseimbangan ekologis. Studi menunjukkan bahwa jika gosong karang di lepas pantai Sri Lanka masih utuh, itu akan berperan sebagai penyangga untuk mengurangi dampak ombak yang menghantam pantai. Sepanjang pantai India, keberadaan rawa bakau telah menunjukkan dengan jelas bahwa karya alam semacam itu dapat membantu mencegah musibah yang lebih besar.
 
Hidup bersahaja dalam masyarakat dewasa ini tidak berarti menyerah pada kemiskinan. Hal ini berarti memiliki kemampuan dan kesadaran untuk hidup selaras dengan alam sekitar. Itu berarti tidak merusak alam dan menciptakan llingkungan buatan untuk memuaskan selera kita. Hidup dalam kebersahajaan berarti saling mendorong untuk menjadi baik dan berbelas kasih, sehingga nilai-nilai kemanusiaan mengungguli hasrat-hasrat keduniawian.
 
Tatkala dunia berduka untuk para korban, marilah kita memupuk rasa belas kasih dan melimpahkan jasa bagi mereka yang meninggal. Kita dapat melakukan hal ini dengan berbagai cara. Satu, kita berbuat jasa dengan kita sendiri memberikan usaha pertolongan, sehingga kita dapat memberikan bantuan langsung bagi mereka yang menderita. Yang kedua, kita memancarkan energi batin positif untuk orang-orang yang meninggal agar mereka terlahir kembali dengan lebih baik. Yang ketiga, mari kita juga memancarkan pikiran cinta kasih untuk para relawan penolong yang pada saat ini tengah berbuat yang terbaik untuk menyokong para korban.
 
Semoga kita semua belajar untuk menjadi sadar dan lebih peka terhadap diri kita dan alam sehingga kita dapat hidup selaras dengan alam dan semesta.