Kamis, 02 September 2010

Kunci Suksesnya Pergaulan


Hari ini kita akan mencoba melihat Dhamma, ajaran Sang Buddha dari berbagai segi yang mungkin bermanfaat. Kalau sebagai generasi muda kita sudah bisa mengenal Dhamma, ini memang bahagia. Mengapa demikian? Karena Dhamma ajaran Sang Buddha, ibaratnya seperti supermarket. Di supermarket itu kalau kita mau cari tusuk gigi sampai linggis, ada! Mau cari korek kuping sampai cangkul, ada! Dhamma ajaran Sang Buddha juga demikian. Kita mau cari apa saja, ada. Karena Dhamma, dikatakan oleh Sang Buddha, adalah segala sesuatu yang bisa kita pikirkan dan yang tidak bisa kita pikirkan. Coba kata-kata ini direnungkan, Dhamma adalah segala sesuatu yang bisa kita pikirkan dan yang tidak bisa kita pikirkan". Itu adalah Dhamma! Jadi semua yang saudara pikirkan, misalnya saudara pikir tusuk-gigi itu juga Dhamma. Saudara pikir cangkul, juga Dhamma; saudara pikir buku, itu Dhamma; saudara pikir pohon itu Dhamma; semua adalah Dhamma, tidak ada yang lain.

Karena itu saudara sebagai generasi muda, mestinya saudara juga harus bertanya apakah ada Dhamma, ajaran Sang Buddha yang sesuai dengan kehidupan kita sebagai anak muda? Ini penting. Seperti tadi malam kita berdiskusi tentang teknik-teknik berorganisasi, itu pun ada di dalam Tripitaka. Bagaimana cara membuat peraturan, juga ada. Jadi kalau mau membuat peraturan, kita berpedoman pada cara Sang Buddha saja, karena bukankah kita ini muridnya Sang Buddha. Sang Buddha kalau membuat peraturan, demikian: Seandainya ada seorang bhikkhu yang bersalah, misalnya sore-sore ia makan. Tapi waktu itu belum ada peraturan, kemudian ada umat yang melihat dan melaporkan kepada Sang Buddha: "Wah Bhante, bhikkhu sore-sore kok makan, rasanya tidak pantas, seperti umat". Lalu Sang Buddha pikir-pikir: "Iya betul, tak pantas". Maka dibuatlah peraturan: "Mulai sekarang, para bhikkhu kalau sore tidak boleh makan". Tetapi yang makan terakhir itu jangan dimarahi. Karena apa? Karena hal itu dilakukan sebelum ada peraturan. Jadi ini tidak berlaku surut, tapi maju. Sang Buddha mengatakan, sumber yang membuat peraturan ini tidak perlu dikenakan peraturan. Kalau peraturan sudah dibentuk, orang-orang yang melakukan berikutnya itu baru kena peraturan. Bhikkhu makan sore, "Nah, kamu kena salah!" demikian.

Beberapa peraturan, misalnya voting atau menyelesaikan permasalahan, persengketaan, itu ada di dalam Tripitaka bahkan di dalam peraturan Vinaya bhikkhu. Kalau sekarang ada permasalahan, bagaimana cara mengatasinya? Bisa dengan menemukan kedua belah pihak itu untuk ditanya, bisa juga dengan diadakan voting. Jadi semua problem kehidupan kita, pemecahannya ada di sana. Mengenai rumus-rumus ekonomi misalnya, juga ada. Saudara jangan mengira bahwa ajaran Sang Buddha itu hanya untuk para bhikkhu. Pernah ada seorang saudagar pada masa Sang Buddha yang bertanya, "Bhante, bagaimana agar saya bisa mengembangkan usaha saya?" Dijawab oleh Sang Buddha demikian: "Kalau kamu punya keuntungan, anggap saja keuntungan kamu ini 100% maka yang 25% kamu gunakan untuk makan atau kebutuhan sehari-hari, 50% kamu gunakan untuk menambah modal, 25% yang berikutnya digunakan untuk saat-saat darurat, misalnya kalau ada kejadian yang mendadak. Artinya disimpan, kalau nanti kamu sakit tidak bisa kerja, ambillah simpanan ini, misalnya rumah kamu bocor, butuh pemugaran, kamu ambil dari simpanan ini". Nah, ini sudah ada teori ekonominya, cara membagi keuntungan, cara membagi hasil yang kita miliki. Jadi semuanya ada.

Bahkan dikatakan kalau mau memperluas wawasan, menggalang persatuan pun ada rumusnya. Mungkin sebagian dari saudara sudah pernah mendengar tentang hal ini, tapi ini perlu saya jelaskan lagi karena manfaat mendengarkan Dhamma sesungguhnya bermacam-macam. Manfaatnya yakni: bagi yang belum pernah mendengar, akan menambah wawasan baru. Bagi yang sudah pernah mendengar tapi belum jelas, bisa tambah jelas. Yang dulunya lupa, sekarang ingat, sehingga bisa menghilangkan keragu-raguan, bisa menambah kemantapan dan keyakinan.

Karena itu saya akan uraikan tentang bagaimana Dhamma ajaran Sang Buddha dapat diterapkan oleh saudara-saudara dalam memperluas wawasan dan menggalang persatuan. Artinya bagaimana? Kalau saudara sebagai pengurus atau pimpinan, agar saudara bisa mengatur dan mengendalikan anak buah; para staff supaya bisa saling bekerjasama. Atau kalau nanti saudara sudah perlu, misalnya: "Sekarang saya sudah kuliah, umur sudah sekian, sekarang saya perlu memperoleh pasangan hidup". Cara ini juga bisa dimanfaatkan.

Lalu, bagaimana caranya supaya kita bisa menggunakan Dhamma ini? Caranya mudah. Kalau saudara membutuhkan teman, membutuhkan anak buah agar menurut, membutuhkan kawan akrab, cara yang pertama yang harus saudara lakukan adalah mempunyai yang disebut dengan KERELAAN. Kerelaan artinya ikhlas, rela. Artinya saudara tidak memaksakan kehendak saudara sendiri. Contohnya misalnya seorang ketua atau pimpinan. Sebetulnya seorang ketua atau pimpinan itu bukan mengepalai, bukan mengatur, bukan menjadi boss tetapi justru menjadi pelayan, menjadi pengabdi. Siapa yang diabdi? Yaitu semua anggota atau anak buahnya. Kalau dirinya sebagai pelayan, sebagai pengabdi maka tugasnya apa? Yaitu membuat "boss-bossnya" berbahagia. Itu kuncinya.

Tidak hanya ketuanya, tapi wakil ketuanya, para sekjennya dengan staff-staffnya, pokoknya yang duduk sebagai pengurus, itu sesungguhnya adalah pengabdi bagi organisasi atau perusahaannya. Karena sebagai pengabdi maka harus mau berkorban, yaitu dengan adanya KERELAAN.

Kalau misalnya saudara mempunyai keinginan, "Saya ingin Waisak nanti upacaranya bisa meriah", ternyata kemeriahannya tak sesuai dengan apa yang saudara inginkan maka saudara jangan kecewa. Saudara harus mengecek diri sendiri, mungkin teknik yang saya gunakan kurang tepat. Teknik pendekatan saya mungkin kurang bagus. Demikian juga seandainya saudara mau mencari teman, kerelaan ini penting. Kalau saudara misalnya tahu minggu depan ada acara di Borobudur, saudara bisa mengeluarkan ide baik saudara, "Bagaimana kalau kita ke Borobudur sama-sama?" Ini adalah suatu kerelaan, rela bensinnya habis, rela olinya berkurang, rela bannya tambah tipis. Jangan seperti Yahudi, dimana perhitungannya, kalkulatornya jalan: "Kalau bensin saya berkurang sekian, hasilnya harus sekian, karena dengan pengorbanan sesedikit mungkin, bila perlu mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya". Ini teori Yahudi, saudara. Kalau demikian caranya, saudara bisa repot, teman pun menjadi susah didapat. Saudara mau menaksir si A, tetapi Hari Valentine saudara tidak kirim apa-apa. Saudara bilang, "Kirim-kirim roti toh yang pakai semut!" Nah, ini lalu bagaimana? Susah saudara! Jadi semuanya harus ada modal. Seperti kalau kita mau memancing ikan, harus ada umpannya. Kalau Yahudi, memancing ikan tidak pakai umpan, kalau perlu tidak usah pakai kail, ikannya datang sendiri, itu Yahudi. Kalau umpannya besar, ikannya besar, kalau umpannya teri, ikannya ya kecil. Kalau saudara pada hari Valentine kirim kepada 10 orang, masa satu pun dari 10 orang itu tidak ada yang kena? Kalau tidak kena, saudara betul-betul tidak ada hoki, tidak ada peruntungan. Karena itu adalah teori kemungkinan, "probabilitas". Kalau misalnya saudara mau melempar botol pakai gelang-gelang rotan, kalau melemparnya satu demi satu maka akan cenderung meleset, probabilitasnya fifty-fifty, tapi kalau saudara melempar sekaligus dengan 10 buah, masa tidak ada satu pun yang masuk? Kalau tak ada, itu namanya saudara tak ada "hoki".

Hidup bersama di masyarakat juga begitu, kalau saudara ingin mencari teman, kerelaan itu penting. Seperti contohnya pada hari Valentine saudara kirim 10 paket kepada 10 orang. Kalau misalnya ada kebaktian di vihara, yang datang kok sedikit terus? Saudara bisa berpikir dan mencari ide kerelaan apa yang bisa diperbuat. Jangan jadi Yahudi, tapi harus dipikir "umpannya" apa. Misalnya kita berikan undian saja, setiap kali datang ke vihara umat diberi kupon undian. Setiap kali datang, diberi tanda-tangan; lima kali datang, berhak mendapat undian sepeda BMX, misalnya. Wah, itu pasti meriah, pasti rame yang datang ke vihara. Nah, sebetulnya ini adalah salah satu pancingan, umpan!

Kalau saudara berkesempatan pergi ke suatu tempat untuk mendengarkan khotbah Dhamma, hal tersebut juga bisa dijadikan umpan. Kalau selesai itu saudara pulang, saudara bisa laporan dengan teman-teman di vihara yang tidak ikut, "Sayang kamu tidak ikut, tidak dapat mendengarkan bagaimana caranya menggalang persatuan memperluas wawasan", misalnya begitu! Ini pancingan besar, saudara! Kalau saudara bisa praktikkan hal ini saja, kerelaan ini saja, maka teman saudara akan banyak. Bila malam Minggu saudara kesepian, saudara bisa buat umpan: "Ayo teman-teman satu kost, ini saya panggilkan penjual bakso, silakan beli semua, nanti saya yang bayar". Pasti temannya banyak. Modal...modal...! Jangan jadi Yahudi! Ini dasar pertama saudara. Jadi istilahnya, semua membutuhkan kerelaan kita.

Kerelaan tidak hanya berupa materi, tetapi kerelaan juga berwujud cara berbicara yang baik, karena kita bisa memperoleh teman apabila kita mempunyai tata bahasa ataupun kata-kata yang baik. Misalnya kalau kita mau menyuruh orang untuk memasang lampu neon. Kalau misalnya kita menyuruhnya: "Hei, pasangkan lampu!" Mungkin orang itu malah berkata begini: "Apa kamu, nantang ya! Memangnya saya pembantumu, kamu beri saya gaji berapa suruh pasang-pasang!" Tapi kalau cara perintahnya dengan kerelaan mengatur kata-kata yang lebih baik, "Ini lampunya kok gelap, saya ada lampu neon, tapi saya ada pekerjaan lain, bagaimana ya?" kalau sudah begini pasti ada yang menawarkan, "Ya sudah, sini saya yang betulin". Kebetulan, saudara bisa kerja yang lain, bukankah begitu?! Kita tidak memaksa dia. Bekerja juga begitu. Kalau saudara mau mengatur teman untuk bekerja, mengubah kata-kata seperti ini akan lebih bermanfaat. "Tolong ya, altarnya dibersihkan", misalnya. Itu lebih bermanfaat daripada: "Eh, ini dibersihkan! Kotor begini kayak kamarmu saja, acak-acakan!" Orang itu pasti mengomel. Tapi kalau, "Tolong ya, ini dibersihkan, biar seperti kamu, kamu kan selalu rapi", maka langsung dibersihkan dengan senang hati. Dengan kata-kata begitu saja orang sudah senang, ini sudah modal, orang itu bisa menurut sama kita.

Kalau saudara perhatikan, sebetulnya seorang bhikkhu itu tidak pernah menyuruh atau memerintah. Kalau bhikkhu menyuruh itu caranya lain, ini bahasa Dhamma. Saudara ingin tahu? Caranya begini: Karena bhikkhu tidak pegang uang maka dia tidak terlibat dalam hal jual maupun beli, termasuk mengeluarkan kata-kata, misalnya "Coba beli hio". Tidak ada! "Coba beli lilin", tidak ada! Tapi ia pakai bahasa Dhamma, "Tolong dicarikan lilin ya". "Bagaimana ya kamar kita kok gelap, padahal kita mau berkaca". Maka umat akan berkata, "Oh, ini bhante, silakan dipakai baterai atau lilin ini". Itu caranya, sehingga umat merasa bahwa ada sesuatu yang bermanfaat yang bisa dilakukannya.

Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, pengaturan kata-kata ini penting. Kalau saudara melihat penampilan teman saudara tidak mutu, misalnya ke vihara pakai celana pendek, padahal menurut peraturan tata kesopanan etika persembahyangan peribadatan umat Buddha, celana pendek itu "haram" masuk vihara. Bagaimana cara peringatannya? Mudah! Saudara jangan mengatakan "Eh, yang pakai celana pendek tidak boleh masuk, ini anak di bawah 5 tahun!" Bukan begitu. Caranya dengan berkata: "Saudara-saudara, memang zaman sekarang ini zaman serba susah, banyak malapetaka, apalagi akhir-akhir ini, bencana alam terjadi di mana-mana, kota Semarang banjir. Sepertinya di rumah bapak itu juga banjir di atas lutut". Kita tak usah pakai kata "celana pendek". Nanti orang itu bisa merasa sendiri, "Kok saya dikatakan kebanjiran, oh mungkin karena celana saya mini". Mungkin di lain waktu hal tersebut tidak diulangi lagi. Ini sebetulnya adalah kerelaan, keikhlasan mengenai ucapan.

Kalau para pengurus organisasi mempunyai keikhlasan berbuat yang lebih banyak, yang lebih tekun, yang lebih dalam maka hasilnya para anggotanya akan memperoleh kebanggaan. "Wah, pengurus ini hebat!" Kalau saudara ikhlas berjuang, ikhlas berbuat untuk kampus, misalnya, kampus juga akan menilai bahwa saudara bermanfaat, tidak hanya menghabis-habiskan tempat saja. Ini sesungguhnya adalah teknik kita.

Kalau saudara punya teman, juga begitu. Pulang dari vihara, apa salahnya saudara boncengkan teman saudara. Ada teman yang tidak datang ke vihara, apa salahnya saudara datang menengok ke rumahnya. Orang tidak membawa buku paritta, tidak bisa membaca paritta, apa salahnya saudara bukakan buku paritta, sehingga keakraban saudara lewat tata kata, tutur bahasa dan lewat perbuatan saudara, akan selalu menarik untuk menjadi sahabat orang lain. Ini adalah dengan cara kerelaan saja. Oleh karena itu, kunci keberhasilan yang perlu kita jalankan di dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah KERELAAN.

Kerelaan dibagi dua macam, yaitu kerelaan dalam bentuk materi dan kerelaan yang bukan materi. Kerelaan yang bersifat materi, misalnya dengan berdana. Kerelaan yang bukan materi adalah berupa kata-kata yang baik dan perbuatan yag baik, yang bermanfaat untuk pihak lain. Kalau semua ini saudara jalankan maka yakinlah, saudara akan sukses di dalam pergaulan saudara.

[Dikutip dari Mutiara Dhamma IX ]

Kiat Sukses Bisnis Dalam Era Globalisasi


Kiat Sukses Bisnis Dalam Era Globalisasi

Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera


PENDAHULUAN

Globalisasi di berbagai bidang dengan segala dampak positif dan negatifnya telah banyak dibahas secara umum maupun khusus dalam berbagai forum pertemuan oleh banyak fihak. Menyadari akan hal tersebut, maka dalam keterbatasan makalah ini fenomena itu tidak akan dibicarakan secara rinci. Hanya saja, berkenaan dengan era globalisasi tersebut banyak orang menduga bahwa dengan majunya jaman maka agama akan ditinggalkan oleh para pengikutnya. Dugaan ini sudah berkembang cukup lama, namun ternyata hal ini tidaklah selalu benar, minimal bila kita berbicara tentang agama Buddha. Hal ini juga telah diakui oleh ahli teologi Harvey Cox yang menjadi dosen senior di Harvard University. Beliau menyatakan bahwa gejala ini tidak diduga oleh para peramal 25 tahun yang lalu yang meramalkan bahwa agama semakin layu karena modernitas. Pernyataan tersebut telah dikutip John Naisbitt dalam Megatrends 2000 halaman 255.

Ajaran Sang Buddha yang dibabarkan hampir 3000 tahun yang lalu di India oleh Sang Buddha Gotama ternyata dapat selalu menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman. Ajaran Sang Buddha yang kita maksudkan di sini bukanlah bentuk-bentuk upacara ritual yang sesungguhnya hanyalah bagian dari tradisi belaka. Ajaran Sang Buddha atau sering disebut dengan BUDDHA DHAMMA adalah ajaran yang mengantar setiap orang yang melaksanakannya agar dapat hidup bahagia di dunia, terlahir di salah satu dari dua puluh enam jenis sorga setelah kematiannya dan jika usahanya berhasil maka ia pun akan dapat mencapai tujuan akhir semua umat Buddha yaitu Nibbana atau Nirwana atau Tuhan Yang Mahaesa di dunia ini maupun setelah kematiannya.

Dalam menghadapi berbagai tantangan pada era globalisasi ini, khususnya di bidang ekonomi, banyak ekonom dunia berpendapat bahwa sesungguhnya dalam Buddha Dhamma kita akan dapat menemukan jawabannya. Salah seorang ekonom kelahiran Jerman yang lebih dikenal sebagai bapak perintis gagasan teknologi madya, pendiri dan ketua Intermediate Technology Development Group di London, Dr. E.F. Schumacher, mengungkapkan dalam bukunya Kecil Itu Indah hal. 51 bahwa:

"Penghidupan yang benar" adalah salah satu dari delapan jalan utama di dalam Agama Buddha. Karena itu jelas bahwa ilmu ekonomi agama Buddha pasti ada.

Konsep ilmu ekonomi agama Buddha (Buddhism Economics) ini telah dilontarkannya pertama kali pada sebuah ceramah di London pada bulan Agustus 1968. (Warta Ekonomi, hal. 23)

Makalah ini disusun dan disajikan secara sederhana berdasarkan beberapa nasehat yang telah diuraikan oleh Sang Buddha. Isi tulisan ini diharapkan akan menjadi salah satu alternatif kita bisnis yang mungkin dapat diterapkan dalam menejemen perusahaan masing-masing dengan penyesuaian seperlunya agar dapat mewujudkan keberhasilan sesuai dengan sasaran yang hendak dicapai.


PEMBAHASAN

Telah diuraikan di atas bahwa salah satu tujuan Agama Buddha adalah untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia, maka agar lebih tegas memahami arah pencapaian kebahagiaan duniawi itu disebutkan dalam Anguttara Nikaya II, 65 bahwa terdapat empat keinginan wajar seorang manusia yang dapat dicapai yaitu:

1. Keinginan agar dapat menjadi KAYA dan kekayaan yang terkumpul diperoleh dengan cara yang benar dan pantas.

2. Keinginan agar kita beserta sanak keluarga dan kerabat dapat mencapai KEDUDUKAN SOSIAL yang tinggi.

3. Keinginan agar memperoleh USIA PANJANG.

4. Keinginan untuk terlahir di (salah satu dari 26 tingkat) SORGA setelah kehidupan ini dengan memanfaatkan sebaik-baiknya ketiga pancapaian sebelumnya.

Dengan demikian jelas bahwa bisnis di dalam Agama Buddha sangat didukung bahkan dapat dikatakan memperoleh prioritas. Sukses adalah harapan semua orang asalkan cara yang dipakai tidak menyalahi aturan kemoralan dan hukum negara.

Sebagian orang berpendapat bahwa kesuksesan adalah faktor kemujuran atau karma baik saja, hal ini jelas tidak benar seluruhnya. Ilmu sukses halaman 3, dikatakan bahwa jika sukses ditentukan oleh nasib mujur belaka maka tidak banyak gunanya kita membaca buku tentang orang sukses kecuali hanya untuk mengagumi nasib mujur yang mereka dapatkan. Alex S. Nitisemito dalam tulisannya mengungkapkan faktor-faktor yang dapat mendukung kesuksesan seseorang diantaranya ialah mempunyai jiwa perintis, ulet, tekun, dan berani mengambil resiko. Mereka juga harus mengerti peluang bisnis dan mampu memanfaatkannya ( halaman 77 ). Kesuksesan memang bukan sesuatu yang turun dari langit tetapi sukses memang membutuhkan perjuangan. Sama halnya dengan Sang Buddha dalam usahanya mencapai Kesucian atau Penerangan Sempurna, Beliau memerlukan perjuangan keras bahkan sangat keras! Kesucian atau Kebuddhaan yang Beliau capai bukanlah karunia dan bukan pula wahyu melainkan hasil perjuangan yang tidak kenal menyerah.

Dalam Anguttara Nikaya IV, 285 Sang Buddha menjabarkan bahwa keberhasilan usaha kita paling sedikit tergantung pada empat faktor utama yaitu:

1. UTTHANASAMPADA :
Rajin dan bersemangat di dalam bekerja.

Semangat, menduduki urutan pertama untuk menentukan kesuksesan kita karena pekerjaan kita tidak akan berhasil bila dikerjakan dengan setengah hati. Unsur dalam semangat adalah keinginan untuk menjadi orang nomor satu di lingkungan kita ( Warren Avis, hal. 77 ) Selain keinginan menjadi orang nomor satu, uang, kekuasaan dan status juga dapat memacu semangat kita. Semangat bekerja akan mudah didapat bila jenis pekerjaan yang dilakukan adalah menjadi kesenangan kita atau kalau dapat bahkan sejalan dengan hobby atau bakat kita. Dalam menghadapi situasi ekonomi saat ini yang sangat ketat persaingannya maka kepandaian saja bukanlah satu-satunya jaminan keberhasilan namun KETRAMPILAN atau KEMAMPUAN KHUSUS menjadi faktor penting menuju kesuksesan, disamping kerja keras, pelatihan, pengalaman dan strategi, tentu saja.

Schumacher juga menyebutkan bahwa Agama Buddha memandang kerja itu paling sedikit mempunyai tiga fungsi, yaitu:

1. memberi kesempatan kepada orang untuk menggunakan dan mengembangkan bakatnya.

2. agar orang dapat mengatasi egoismenya dengan jalan bergabung dengan orang lain untuk melaksanakan tugasnya.

3. menghasilkan barang dan jasa yang perlu untuk kehidupan yang layak.

( halaman 53 )

Hal senada juga dikatakan seorang ahli lainnya, Donald H. Bishop dalam tulisannya Is There a Buddhist Economic Philosophy? yang pada hakekatnya menyatakan bahwa kerja hendaknya dijadikan sumber kesenangan, kesempatan untuk mengembangkan kreatifitas, sarana untuk mengungkapkan potensi diri, dan mengembangkan bakat seseorang. Pekerjaan akan menjadi sarana membentuk watak, memupuk persaudaraan dengan sesama manusia dan juga menyejahterakan kehidupan kita. ( halaman 491 )

2. ARAKKHASAMPADA :
Penuh hati-hati menjaga kekayaan yang telah diperoleh.

Memelihara kesuksesan adalah hal pokok kedua yang kadang diremehkan oleh sebagian orang yang telah merasa berhasil dalam usahanya. Menjaga kesuksesan di sini termasuk menjaga SISTEM YANG DIGUNAKAN dan HASIL YANG DIDAPAT serta berusaha untuk lebih meningkatkannya lagi.

Meningkatkan sistem yang dipakai dan sekaligus akan meningkatkan hasil produksi kita dalam menejemen modern dikenal dengan istilah SWOT - Strength, Weakness, Opportunity, Threat. Hal serupa juga telah diuraikan caranya oleh Sang Buddha dalam salah satu unsur Jalan Mulia Berunsur Delapan yaitu DAYA UPAYA BENAR. Evaluasi ini disebutkan sebagai empat cara ( Padhana ) yang terdapat dalam Anguttara Nikaya II, 16:

a. Sangvarappadhana :
Usaha agar kekurangan yang BELUM dimiliki tidak timbul dalam diri kita, bandingkan dengan Opportunity.

b. Pahanappadhana :
Usaha untuk menghilangkan kekurangan yang SUDAH dimiliki, bandingkan dengan Weakness.

c. Bhavanappadhana :
Usaha untuk menumbuhkan kelebihan yang BELUM dimiliki, bandingkan dengan Threat.

d. Anurakkhappadhana :
Usaha untuk mengembangkan kelebihan yang SUDAH dimiliki, bandingkan dengan Strength.

Dapat disimpulkan di sini bahwa setelah mencapai keberhasilan suatu usaha hendaknya kita mau mencari faktor-faktor yang menyebabkannya dan kemudian berusaha untuk lebih meningkatkannya lagi sedangkan bila menemui kegagalan pun haruslah ia dijadikan sahabat kita. Hal ini bahkan dikatakan secara tegas oleh Alan Loy McGinnis bahwa kegagalan itu ibarat persimpangan jalan yang paling penting menuju kerja yang lebih termotivasi. ( halaman 70 )

3. KALYANAMITTATA :
Memiliki teman yang bersusila

Dalam pengertian Buddhis, teman dan lingkungan yang baik akan memberikan pengaruh cukup besar untuk kemajuan usaha kita. Teman tersebut akan mampu memberikan ide-ide segar dan dukungan moral agar kita maju dalam usaha. Digha Nikaya III, 187 memberikan kriteria dasar teman yang dapat memajukan usaha kita sebagai berikut,

a. teman yang mampu dan mau membantu didalam berbagai cara

b. teman yang simpati di kala suka dan duka

c. teman yang mampu dan mau memperkenalkan kita pada hal-hal yang bermanfaat untuk kemajuan usaha kita

d. teman yang memiliki perasaan persahabatan yaitu dapat memberikan kritik membangun dan jalan keluarnya, serta dapat memberikan pujian yang tulus agar memberikan dorongan semangat.

Sedangkan agar dapat memperoleh serta membina teman yang baik dan juga termasuk rekanan kerja yang sesuai perlu kita melaksanakan :

a. Dana : Kerelaan
b. Piyavaca : Ucapan yang menyenangkan dan halus
c. Atthacariya : Melakukan hal-hal yang berguna untuk orang lain
d. Samanattata : Memiliki ketenangan batin, tidak sombong

( Anguttara Nikaya II, 32 )

4. SAMAJIVITA :
Hidup sesuai dengan pendapatan, tidak boros dan juga tidak kikir

Materi dalam Agama Buddha bukanlah musuh yang harus dihindari, namun ia juga bukan pula majikan yang harus kita puja. Hendaknya kita bersikap netral terhadap materi serta mampu mempergunakannya sewajarnya sesuai dengan kebutuhan. Penggunaan materi yang seimbang dilakukan dengan membagi keuntungan yang didapat dalam beberapa bagian,

25% : digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari
50% : dipakai untuk menambah modal usaha
25% : disimpan sebagai cadangan di saat darurat
atau untuk berdana dan kegiatan sosial lainnya.

( Digha Nikaya III, 188 )

Terlihat di sini bahwa dengan menggunakan rumus di atas, kemewahan dan kekikiran menjadi relatif sifatnya. Kita tidak akan gampang mengatakan seseorang hidup bermewah-mewah ataupun sebaliknya kikir dengan hanya melihat sepintas pengeluarannya. Semua pengeluaran hendaknya disesuaikan dengan pandapatan sehingga dengan demikian pastilah kemajuan ekonomi tercapai. Bahkan sehubungan dengan hal ini Warren Avis menyatakan bahwa salah satu kesalahan yang dilakukan kebanyakan wirausahawan ialah kurang mengendalikan pengeluaran (hal. 217) padahal dengan menekan biaya serendah mungkin akan memaksimalkan keuntungan (hal. 211)

PENUTUP

Uraian singkat di atas sesungguhnya hanyalah merupakan kulit untuk mengenal Buddha Dhamma dengan lebih dalam. Namun walaupun hanya kulit hendaknya dapat memberikan manfaat positif untuk kebahagiaan hidup kita.

Pengetahuan akan kita bisnis sukses dengan Buddha Dhamma telah di tangan kita semua, kini tinggal pada sikap kita sendiri, akankah kita melaksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya dalam dunia usaha kita? Teori terbaik pun tidak akan bermanfaat bila kita tidak melakukan dan melaksanakannya, sama dengan obat manjur tidak bermanfaat kalau si sakit tidak pernah mau meminumnya. Hal ini telah disabdakan oleh Sang Buddha:

Daripada seribu kata yang tidak berarti, adalah lebih baik sepatah kata yang bermanfaat, yang dapat memberi kedamaian kepada pendengarnya.

( Dhammapada VIII, 1 )

RENUNGAN :

Tugas yang harus dilaksanakan untuk meningkatkan pancapaian saat ini adalah:
1. Semangat dan kerja keras menghasilkan kekayaan.
2. Perawatan dan perhiasan menambah kecantikan.
3. Melaksanakan pekerjaan pada saat yang sesuai menjaga kesehatan.
4. Persahabatan sejati menumbuhkan kebajikan.
5. Pengendalian indria menjaga kehidupan suci.
6. Menghindari sengketa menumbuhkan persahabatan.
7. Pengulangan menghasilkan pengetahuan.
8. Bersedia mendengar dan bertanya menumbuhkan kebijaksanaan.
9. Mempelajari dan menguji memperdalam Ajaran Kebenaran (Dhamma).
10. Kehidupan yang benar menghasilkan kelahiran di alam-alam sorga.

( Anguttara Nikaya V, 136)

Kiat Menghadapi Kenakalan Remaja


Kiat Menghadapi Kenakalan Remaja
Oleh Yang Mulia Bhikkhu Uttamo Thera


Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang ternoda.
Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan, oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri; tak seorang pun yang dapat mensucikan orang lain.

(Dhammapada XII, 9)

PENDAHULUAN

Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi orangtua tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering menimbulkan kekuatiran bagi para orangtua. Masa remaja sering menjadi pembahasan dalam banyak seminar. Padahal bagi remaja, masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, para orangtua hendaknya berkenan menerima remaja sebagaimana adanya. Jangan terlalu membesar-besarkan perbedaan. Orangtua para remaja hendaknya justru menjadi pemberi teladan di depan, di tengah membangkitkan semangat, dan di belakang mengawasi segala tindak tanduk si remaja.

Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukannya sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungannya, orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.

PEMBAHASAN

Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian yang khusus sejak dibentuknya suatu peradilan untuk anak-anak nakal atau juvenile court pada tahun 1899 di Cook County, Illinois, Amerika Serikat. Pada waktu itu, peradilan tersebut berfungsi sebagai pengganti orangtua si anak - in loco parentis - yang memutuskan perkara untuk kepentingan si anak dan masyarakat. Dalam pandangan umum, kenakalan anak dibawah umur 13 tahun masih dianggap wajar, sedangkan kenakalan anak di atas usia 18 tahun dianggap merupakan salah satu bentuk kejahatan.

Dalam makalah ini hanya akan dibahas kenakalan yang dilakukan oleh para remaja dalam usia 13 s.d. 18 tahun.

Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah :

    1. PENGARUH KAWAN SEPERMAINAN

    Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas, misalnya anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang, dlsb.

    Pengaruh kawan ini memang cukup besar. Oleh karena itu dalam Manggala Sutta, Sang Buddha bersabda: Tak bergaul dengan orang tak bijaksana, bergaul dengan mereka yang bijaksana, itulah Berkah Utama.
    Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya.

    Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, selain remaja diarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak ‘kluyuran’ tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan teman yang baik. Dalam Digha Nikaya III, 188, Sang Buddha memberikan petunjuk tentang kriteria teman baik yaitu mereka yang:

      1.Memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati
      2.Menjaga barang-barang dan harta kita apabila kita lengah
      3.Memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya
      4.Tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan
      5.Membantu sanak keluarga kita

    Sebaliknya, dalam Digha Nikaya III, 182 diterangkan pula kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi:

    1.Penjudi
    2.Orang yang tidak bermoral
    3.Pemabuk
    4.Penipu
    5.Pelanggar hukum

    2. PENDIDIKAN

    Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua, Agama Buddha.

    Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malahan pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian mereka menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.

    Anak pasti juga mempunyai hobby tertentu. Seperti yang telah disinggung di atas, biarkanlah anak memilih jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun bakat dan hobby si anak. Tetapi bila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobbynya, maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihannya, sedangkan hobby adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai dikerjakan.

    3. PENGGUNAAN WAKTU LUANG

    Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Sering perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan, misalnya ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat bius, dsb.

    Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus. Tersesat.

    Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif itu akan merugikan diri sendiri dan juga orangtua maupun lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan orangtua hendaknya hanya membatasi keisengan mereka akan tetapi jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. Ada kemungkinan, keisengan remaja adalah semacam ‘refreshing’ atas kejenuhannya dengan urusan tugas-tugas sekolah. Dan apabila anak senang berkelahi, orangtua dapat memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu kelompok olahraga beladiri.

    Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya pula orangtua ikut memikirkannya pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh kesibukan sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi remaja. Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan batinnya. Remaja selain membutuhkan materi, sebenarnya mereka juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Kegiatan keluarga dapat berupa pembacaan Paritta bersama di cetiya dalam rumah ataupun melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble, monopoli dlsb. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati ke hati, misalnya dengan makan malam bersama, atau duduk santai di ruang keluarga. Pada hari Minggu, seluruh anggota keluarga dapat diajak kebaktian di vihara setempat. Mengikuti kebaktian, selain memperbaiki pola pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha Dhamma juga dapat menjadi sarana rekreasi. Hal ini dapat terjadi karena di vihara, kita dapat berjumpa dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para bhikkhu maupun pandita yang dijumpai. Selain itu, di hari libur, seluruh anggota keluarga dapat bersama-sama pergi berenang, ke taman ria, mal, dlsb.

    4. UANG SAKU

    Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’ seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.

    Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat.

    Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah:

    1.Anak menjadi boros
    2.Anak tidak menghargai uang.
    3.Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang.

    5. PERILAKU SEKSUAL

    Pada masa ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Oleh karena itu, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Sedangkan, pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.

    Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua dan kemudian mereka pacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.

    Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah fihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya dengan orangtua.

    Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis dimasa kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar dan bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan Buddha Dhamma. Sang Buddha telah memberikan pedoman untuk bergaul yang tentunya juga sesuai untuk pegangan hidup para remaja. Mereka hendaknya dididik selalu ingat dan melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis atau lima latihan kemoralan ini adalah latihan untuk menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.

KIAT POKOK MENGATASI KENAKALAN REMAJA

Sebagian besar orangtua di jaman sekarang sangat sibuk mencari nafkah. Mereka sudah tidak mempunyai banyak kesempatan untuk dapat mengikuti terus kemana pun anak-anaknya pergi. Padahal, kenakalan remaja banyak bersumber dari pergaulan. Oleh karena itu, orangtua hendaknya dapat memberikan inti pendidikan kepada para remaja. Inti pendidikan adalah sebuah pedoman dasar pergaulan yang singkat, padat dan mudah diingat serta mudah dilaksanakan. Pedoman ini telah diberikan oleh Sang Buddha dalam Kitab Suci Tipitaka, Anguttara Nikaya I, 51.

Dengan memberikan inti pendidikan ini, kemana saja anak pergi ia akan selalu ingat pesan orangtua dan dapat menjaga dirinya sendiri. Anak menjadi mandiri dan dapat dipercaya, karena dirinya sendirinyalah yang akan mengendalikan dirinya sendiri. Selama seseorang masih memerlukan fihak lain untuk mengendalikan dirinya sendiri, selama itu pula ia akan berpotensi melanggar peraturan bila si pengendali tidak berada di dekatnya.

Inti pendidikan ini terdiri dari dua hal yaitu :

  • HIRI = MALU BERBUAT JAHAT

    Benteng penjaga pertama agar remaja tidak salah langkah dalam hidup ini adalah menumbuhkan Hiri atau rasa malu melakukan perbuatan yang tidak benar atau jahat.

    Dalam memberikan pendidikan, orangtua hendaknya dengan tegas dapat menunjukkan kepada anak perbedaan dan akibat perbuatan baik dan tidak baik. Perbuatan benar dan tidak benar. Kejelasan orangtua menerangkan hal ini akan dapat menghilangkan keraguan anak dalam mengambil keputusan. Keputusan untuk memilih kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Penjelasan akan hal ini sebaiknya diberikan sejak dini. Semakin awal semakin baik.

    Berikanlah pengertian dan teladan tentang latihan kemoralan. Berikanlah kesempatan anak agar dapat meniru prilaku kebajikan orangtuanya. Ajarkan dan didiklah mereka untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk-mabukan. Pergunakanlah acara-acara di televisi sebagai alat pengajaran. Tunjukkan kepada mereka bahwa kejahatan tidak akan pernah menang. Kejahatan akan musnah pada akhirnya. Sebaliknya, walaupun kebaikan kadang menderita di awalnya akhirnya akan memperoleh kebahagiaan juga.

    Apabila anak sudah dapat dengan jelas membedakan kebaikan dan keburukan, tahap berikutnya adalah menumbuhkan rasa malu untuk melakukan kejahatan. Kondisikanlah pikiran anak punya rasa malu, merasa tidak pantas melakukan pelanggaran peraturan kemoralan baik yang diberikan oleh Sang Buddha maupun oleh masyarakat lingkungan. Mengkondisikan munculnya rasa malu dapat menggunakan cara seperti ketika orangtua mengenalkan pakaian kepada anak-anaknya. Orangtua selalu berusaha memberikan pakaian yang layak untuk anak-anaknya. Namun, apabila suatu saat anak mengenakan pakaian dengan tidak pantas atau mungkin tersingkap sedikit, orangtua segera membenahinya dan mengatakan, menegaskan bahwa hal itu memalukan. Sikap itu masih berkenaan dengan masalah pakaian fisik. Pakaian batin pun juga demikian. Orangtua bila mengetahui bahwa anaknya melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas maka katakan segera bahwa hal itu memalukan. Kemudian berikanlah saran agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Bila perbuatan itu masih diulang, berilah sanksi. Berilah hukuman yang mendidik bila perbuatan itu tetap diulang. Usahakan dengan berbagai cara agar anak tidak lagi mengulang perbuatan yang tidak baik itu.

  • OTTAPPA = TAKUT AKIBAT PERBUATAN JAHAT

    Apabila anak bertambah besar, orangtua selain menunjukkan bahwa suatu perbuatan tertentu tidak pantas, memalukan untuk dilakukan oleh anaknya, maka orangtua dapat meningkatkannya dengan memberikan uraian tentang akibat perbuatan buruk yang dilakukan anaknya. Akibat buruk terutama adalah yang diterima oleh si anak sendiri, kemudian terangkan pula dampak negatif yang akan diterima pula oleh orangtua, keluarganya serta lingkungannya. Orangtua dapat memberikan perumpamaan bahwa bila diri sendiri tidak ingin dicubit, maka janganlah mencubit orang lain. Artinya, apabila kita tidak senang terhadap suatu perbuatan tertentu, sebenarnya hampir semua orang pun bahkan semua mahluk cenderung tidak suka pula dengan hal itu. Rata-rata semua mahluk, dalam hal ini, manusia memiliki perasaan serupa. Penjelasan seperti ini akan membangkitkan kesadaran anak bahwa perbuatan buruk yang tidak ingin dialaminya akan menimbulkan perasaan yang sama bagi orang lain. Dan apalagi bila telah tiba waktunya nanti, kamma buruk berbuah, penderitaan akan mengikuti si pelaku kejahatan.

    Menumbuhkembangkan perasaan malu dan takut melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan inilah yang akan menjadi 'pengawas setia' dalam diri setiap orang, khususnya para remaja. Selama dua puluh empat jam sehari, 'pengawas' ini akan melaksanakan tugasnya. Kemanapun anak pergi, ia akan selalu dapat mengingat dan melaksanakan kedua hal sederhana ini. Ia akan selalu dapat menempatkan dirinya sendiri dalam lingkungan apapun juga sehingga akan mampu membahagiakan dirinya sendiri, orangtua dan juga lingkungannya. Orangtua sudah tidak akan merasa kuatir lagi menghadapi anak-anaknya yang beranjak remaja. Orangtua tidak akan ragu lagi menyongsong era globalisasi. Orangtua merasa mantap dengan persiapan mental yang telah diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, pendidikan anak di masa kecil yang sedemikian rumit tampaknya, akan dapat dinikmati hasilnya di hari tua.

    Sesungguhnya memang diri sendiri itulah pelindung bagi diri sendiri. Suka dan duka yang kita alami adalah hasil perbuatan kita sendiri. Sebab, oleh diri sendiri kejahatan dilakukan; oleh diri sendiri pula kejahatan dapat dihindarkan. Oleh karena itu, dengan memberikan pengertian yang baik tentang inti pendidikan tersebut kepada anak-anak, diharapkan anak akan dapat membawa diri dan menjaga dirinya sendiri agar dapat tercapai kebahagiaan. Kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Kebahagiaan bagi orangtuanya. Kebahagiaan bagi lingkungannya.


[ Dikutip dari Gema Dhammavaddhana ]

Kisah Tissa Thera

Kisah Tissa Thera


Gabbhameke upapajjanti, nirayam pâpakammino Saggam sugatino yanti, parinibbanti anâsavâ.

Sebagian orang terlahir melalui kandungan; pelaku kejahatan terlahir di alam neraka; orang yang berkelakuan baik pergi ke surga; dan orang yang bebas dari kekotoran batin mencapai nibbana.

(Dhammapada 126)

Ada seorang penggosok permata dan isterinya tinggal di Savatthi. Di sana juga berdiam seorang Thera yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat. Setiap hari pasangan ini memberi dana makanan kepada Thera itu.

Suatu hari ketika penggosok permata itu sedang memotong daging, utusan Raja Pasenadi dari Kosala tiba dengan membawa sebutir ruby, yang meminta untuk dipotong, dan diasah lalu dikembalikan. Si penggosok permata tersebut mengambil ruby dengan tangannya yang telah terkena darah, dan meletakkannya di atas meja serta pergi ke dalam rumah untuk mencuci tangannya.

Burung peliharaan keluarga ini melihat darah melumuri ruby dan mengira barang itu adalah sepotong daging, lalu mematuk dan menelannya di hadapan Sang Thera.

Ketika penggosok permata selesai mencuci tangannya dia mendapatkan bahwa ruby tersebut telah hilang. Ia bertanya kepada isteri dan anaknya, dan mereka menjawab bahwa mereka tidak mengambilnya. Kemudian dia bertanya kepada Sang Thera dan mendapat jawaban bahwa Sang Thera tidak mengambilnya. Tetapi dia merasa tidak puas. Karena tidak ada orang lain kecuali Sang Thera yang di dalam rumah itu. Penggosok permata berkesimpulan pastilah Sang Thera yang telah mengambil ruby yang berharga tersebut. Lalu dia memberi tahu istrinya bahwa dia harus menyiksa Sang Thera agar mengaku sebagai pencurinya.

Tetapi istrinya menjawab : "Thera ini telah menjadi pembimbing dan guru kita selama dua belas tahun, dan kita tidak pernah melihat Thera itu melakukan perbuatan jahat apapun, janganlah menuduh Thera itu. Lebih baik kita menerima hukuman dari raja daripada menuduh orang suci."

Tetapi sang suami tidak mendengarkan kata-kata istrinya. Dia mengambil tali dan mengikat Thera itu serta memukulnya berkali-kali dengan sebuah tongkat, sehingga sangat banyak darah yang mengalir dari kepala, telinga, dan hidung. Darah itu berceceran jatuh ke lantai.

Burung peliharaan penggosok permata melihat darah, lalu berniat untuk mematuknya, burung itu datang mendekat Sang Thera. Si penggosok permata yang pada saat itu sangat marah, menyepak burung dengan seluruh kekuatannya, sehingga burung itu mati seketika.

Kemudian Thera itu berkata, "Lihatlah, apakah burung itu mati atau tidak ?"

Penggosok permata berkata, "Kamu juga seharusnya mati seperti burung itu."

Ketika Sang Thera yakin bahwa burung itu telah mati, dia menjawab dengan pelan : "Muridku, burung itulah yang menelan ruby tersebut."

Mendengar itu,penggosok permata membelah badan burung tersebut, dan menemukan ruby di dalam perutnya. Kemudian penggosok permata menyadari bahwa dia telah bersalah dan menggigil ketakutan. Dia memohon kepada Sang Thera untuk mengampuninya dan terus menerima dana makanan di dalam rumahnya.

Thera itu menjawab, "Muridku, ini bukanlah kesalahanmu dan juga bukan kesalahanku. Ini terjadi disebabkan oleh apa yang telah kita perbuat dalam kehidupan lampau. Ini adalah hutang kita dalam proses kehidupan (samsara). Saya tidak sakit hati terhadapmu, fakta ini terjadi karena saya memasuki rumah. Mulai hari ini, saya tidak akan memasuki rumah manapun, saya hanya akan berdiri di muka pintu."

Segera setelah mengatakan hal ini, Sang Thera meninggal dunia akibat luka-lukanya.

Mendengar kejadian itu, bhikkhu-bhikkhu bertanya kepada Sang Buddha di mana pelaku kisah di atas terlahir kembali ?

Sang Buddha menjawab, " Burung itu terlahir kembali sebagai putra penggosok permata; penggosok permata terlahir kembali di alam neraka (Niraya); istri penggosok permata terlahir kembali di salah satu alam dewa; dan Sang Thera, yang telah mencapai tingkat kesucian arahat pada kehidupannya saat ini, merealisasi 'Kebebasan Akhir' (Parinibbana).

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 126 berikut : Sebagian orang terlahir melalui kandungan; pelaku kejahatan terlahir di alam neraka; orang yang berkelakuan baik pergi ke surga; dan orang yang bebas dari kekotoran batin mencapai nibbana.


Kiamat : Versi Buddhis


Pada suatu ketika bumi kita ini akan hancur lebur dan tidak ada. Tapi hancur leburnya bumi kita ini atau kiamat bukanlah merupakan akhir dari kehidupan kita. Sebab seperti apa yang telah diuraikan di halaman terdahulu, bahwa di alam semesta ini tetap berlangsung pula evolusi terjadinya bumi. Lagi pula, bumi kehidupan manusia bukan hanya bumi kita ini saja tetapi ada banyak bumi lain yang terdapat dalam tata surya - tata surya yang tersebar di alam semesta ini.

Kiamat atau hancur leburnya bumi kita ini menurut Anguttara Nikaya, Sattakanipata diakibatkan oleh terjadinya musim kemarau yang lama sekali. Selanjutnya dengan berlangsungnya musim kemarau yang panjang ini muncullah matahari yang kedua, lalu dengan berselangnya suatu masa yang lama matahari ketiga muncul, matahari keempat, matahari kelima, matahari keenam dan akhirnya muncul matahari ketujuh. Pada waktu matahari ketujuh muncul, bumi kita terbakar hingga menjadi debu dan lenyap bertebaran di alam semesta.

Pemunculan matahari kedua, ketiga dan lain-lain bukan berarti matahari-matahari itu tiba-tiba terjadi dan muncul di angkasa, tetapi matahari-matahari tersebut telah ada di alam semesta kita ini. Dalam setiap tata surya terdapat matahari pula.

Menurut ilmu pengetahuan bahwa setiap planet, tata surya, dan galaxi beredar menurut garis orbitnya masing-masing. Tetapi kita sadari pula, karena banyaknya tata surya di alam semesta kita ini, maka pada suatu masa garis edar tata surya kita akan bersilangan dengan garis orbit tata surya lain, sehingga setelah masa yang lama ada tata surya yang lain lagi yang bersilangan orbitnya dengan tata surya kita. Akhirnya tata surya ketujuh menyilangi garis orbit tata surya kita, sehingga tujuh buah matahari menyinari bumi kita ini. Baiklah kita ikuti uraian tentang kiamat yang dikhotbahkan oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu :

Bhikkhu, akan tiba suatu masa setelah bertahun-tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun, tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan, maka semua bibit tanaman seperti bibit sayuran, pohon penghasil obat-obatan, pohon-pohon palem dan pohon-pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan mati .....

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kedua muncul. Ketika matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau kecil surut, kering dan tiada .....

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari ketiga muncul. Ketika matahari ketiga muncul, maka semua sungai besar, yaitu sungai Gangga, Yamuna, Aciravati, Sarabhu dan Mahi surut, kering dan tiada .....

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keempat muncul. Ketika matahari keempat muncul, maka semua danau besar tempat bermuaranya sungai-sungai besar, yaitu danau Anotatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chaddanta, dan Mandakini surut, kering dan tiada .....

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kelima muncul. Ketika matahari kelima muncul, maka air maha samudra surut 100 yojana*, lalu surut 200 yojana, 300 yojana, 400 yojana, 500 yojana, 600 yojana dan surut 700 yojana. Air maha samudra tersisa sedalam tujuh pohon palem, enam, lima, empat, tiga, dua pohon palem, dan hanya sedalam sebatang pohon palem. Selanjutnya, air maha samudra tersisa sedalam tinggi tujuh orang, enam, lima, empat, tiga, dua dan hanya sedalam tinggi seorang saja, lalu dalam airnya setinggi pinggang, setinggi lutut, hingga airnya surut sampai sedalam tinggi mata kaki.

Para bhikkhu, bagaikan di musim rontok, ketika terjadi hujan dengan tetes air hujan yang besar, mengakibatkan ada lumpur di bekas tapak-tapak kaki sapi, demikianlah dimana-mana air yang tersisa dari maha samudra hanya bagaikan lumpur yang ada di bekas tapak-tapak kaki sapi.

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keenam muncul. Ketika matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung, mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap. Para bhikkhu, bagaikan tungku pembakaran periuk yang mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap, begitulah yang terjadi dengan bumi ini.

Demikianlah, para bhikkhu, semua bentuk (sangkhara) apa pun adalah tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikkan, bebaskanlah diri kamu dari semua hal.

Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari ketujuh muncul. Ketika matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung terbakar, menyala berkobar-kobar, dan menjadi seperti bola api yang berpijar. Cahaya nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan gunung Sineru tertiup angin sampai ke alam Brahma.

Bagian-bagian dari puncak gunung Sineru setinggi 1, 2, 3, 4, 5 ratus yojana terbakar dan menyala ditaklukkan oleh amukan nyala yang berkobar-kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang berkobar-kobar bumi dengan gunung Sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Bagaikan mentega atau minyak yang terbakar hangus tanpa sisa. Demikian pula bumi maupun debu tidak tersisa sama sekali.

Catatan
*) Yojana adalah semacam ukuran yang ada di masa Sang Buddha yang jauhnya kira-kira 7 mil.

[ Dikutip dari Website Samaggi-Phala WWW.Samagghi-Phala.or.id ]

Keyakinan Dalam Agama Buddha



Keyakinan Dalam Agama Buddha
Oleh: YM Bhikkhu Jinadhammo Mahathera


Umat Buddha di seluruh dunia menyatakan ketaatan dan kesetiaan mereka kepada Buddha, Dhamma dan Sangha dengan kata-kata dalam suatu rumusan kuno yang sederhana, namun menyentuh hati dan terkenal dengan nama TISARANA atau Tiga Perlindungan.

Rumusan itu berbunyi sebagai berikut:

Buddham Saranam Gacchami – Aku berlindung kepada Buddha
Dhammam Saranam Gacchami – Aku berlindung kepada Dhamma
Sangham Saranam Gacchami – Aku berlindung kepada Sangha
(selalu diucapkan ketika Visudhi Tisarana sebagai bukti pernyataan seorang umat telah beragama Buddha).

Rumusan ini disabdakan oleh Sang Buddha Siddharta Gotama sendiri bukan oleh para siswanya, kepada Enam puluh orang arahat siswa beliau, ketika mereka akan berangkat menyebarkan Dhamma demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Sang Buddha bersabda “Para Bhikkhu, ia yang akan ditahbiskan menjadi Samanera dan bhikkhu hendaknya setelah mencukur rambut kepala dan mengenakan jubah kuning kemudian bersujud kepada para bhikkhu: guru, Upajayo dan Kammavaca sebagai pelaksana upasampada dengan merangkapkan kedua tangan di dada dan berkata “Aku berlindung kepada Buddha, Aku berlindung kepada Dhamma, Aku berlindung kepada Sangha.”

Sang Buddha Siddharta Gotama menetapkan rumusan tersebut bukan hanya bagi mereka yang akan ditabhiskan menjadi Samanera atau bhikkhu tetapi juga kepada umat biasa (umat awam). Setiap orang yang memeluk agama Buddha baik ia seorang awam maupun seorang bhikkhu menyatakan keyakinan eengan kata-kata rumusan Tisarana tersebut. Nampaklah betapa luhurnya kedudukan Buddha Dhamma Sangha.

Bagi umat Buddha berlindung kepada Tisarana merupakan ungkapan ‘keyakinannya’. Tisarana adalah ungkapan keyakinan atau saddha bagi umat Buddha. Saddha yang diungkapkan dengan kata ‘berlindung’ itu mempunyai 3 (tiga) aspek:

  1. Aspek kemauan seorang umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan penuh kesadaran, bukan sekedar sebagai kepercayaan teoritis, adat kebiasaan atau tradisi belaka. Tiratana akan benar-benar menjadi kenyataan bagi seseorang, apabila ia sungguh-sungguh berusaha mencapainya. Karena adanya unsur kemauan inilah, maka dalam agama Buddha merupakan suatu tindakan yang aktif dan sadar yang ditujukan untuk mencapai kebebasan, dan bukan suatu sikap yang pasif menunggu berkah dari atas.

  2. Aspek pengertian inilah mencakup pengertian akan perlunya perlindungan yang memberi harapan yang menjadi tujuan bagi semua mahluk dalam samsara ini, dan pengertian akan adanya hakekat dari perlindungan itu sendiri.

Adanya Tiratana sebagai perlindungan telah diungkapkan sendiri oleh Sang Siddharta Gotama. Tetapi hakekatnya Tiratana sebagai perlindungan terakhir hanya dapat dibuktikan oleh setiap orang dengan mencapainya dalam bathinnya sendiri. Dalam diri seseorang perlindungan itu akan timbul dan tumbuh bersama dengan proses untuk mencapainya.

Buddha sebagai perlindungan pertama, mengandung arti bahwa setiap orang mempunyai benih kebuddhaan dalam dirinya, bahwa setiap orang dapat mencapai apa yang telah dicapai oleh Sang Buddha.

“Seperti sayalah para penakluk yang telah melenyapkan kekotoran bathin”.
(Ariya pariyesana Sutta, Majjhima Nikaya).

Sebagai perlindungan, Sang Buddha bukanlah pribadi petapa Gotama melainkan para Buddha sebagai manifestasi dari Bodhi atau Kebuddhaan yang mengatasi keduniawian “Lokuttara”.

Dhamma sebagai perlindungan ke dua, bukan berarti kata-kata yagn terkandung dalam kitab suci atau konsepsi ajaran yang terdapat dalam bathin manusia biasa yang masih berada dalam alam keduniawian atau lokiya, melainkan “empat tingkat kesucian” (sotapanna, sakadagami, anagami dan arahat) beserta Nibbana yang dicapai pada akhir jalan.

Sangha sebagai perlindungan ke tiga bukan berarti kumpulan para bhikkhu-bhikkhu yang anggota-anggotanya yang masih belum bebas dari kekotoran bathin (bhikkhu Sangha), melainkan pasamuan para bhikkhu suci yang telah mencapai tingkat-tingkat kesucian (ariya Sangha).

Mereka ini menjadi teladan yang patut dicontoh. Namun landasan sesungguhnya dari perlindungan ini ialah kemampuan yang ada pada setiap orang untuk mencapai tingkat-tingkat kesucian itu.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa Buddha, Dhamma dan Sangha dalam aspeknya sebagai perlindungan mempunyai sifat mengatasi keduniawian (Lokuttara). Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Buddha, Dhamma dan Sangha merupakan manifestasi daripada yang mutlak, esa, yang menjadi tujuan terakhir semua makhluk.

Buddha Dhamma dan Sangha sebagai Tiratana adalah bentuk kesucian yang tertinggi yang dapat ditangkap oleh pikiran manusia biasa dan oleh karena itu diajarkan sebagai perlindungan yang tertinggi oleh Sang Buddha.

Buddha Dhamma dan Sangha atau Tiratana adalah manifestasi, perwujudan, pengejawantahan dari Ketuhanan Yang Mahaesa dalam alam semesta ini, yang dipuja dan dianut oleh seluruh umat Buddha di dunia ini.

  1. Aspek perasaan yang berlandaskan aspek pengertian di atas, dan mengandung unsur-unsur keyakinan, pengabdian dan cinta kasih.

Pengertian akan adanya perlindungan memberikan keyakinan yang kokoh dalam diri sendiri serta menghasilkan ketenangan dan kekuatan. Pengertian akan perlunya perlindungan mendorong pengabdian yang mendalam kepadanya dan pengertian akan hakekat perlindungan memenuhi bahtin dengan cinta kasih kepada yang maha tinggi, yang memberikan semangat, kehangatan dan kegembiraan.

Dari uraian diatas dapat dirumuskan bahwa “berlindung” dalam agama Buddha berarti “suatu tindakan yang sadar, yang bertujuan untuk mencapai pembebasan yang berlandaskan pengertian dan dorongan oleh keyakinan. Atau secara singkat suatu tindakan-tindakan sadar dari pada keyakinan, pengertian dan pengabdian.

Ketiga aspek daripada berlindunga ini sesuai dengan aspek kemauan, aspek pengertian dan aspek perasaan dari bathin manusia. Oleh karena itu untuk mendapatkan pengembangan bathin yang harmonis, ketiga aspek ini harus dipupuk bersama-sama.

Berlindung kepada Tiratana sebagai pengucapan kata-kata belaka tanpa dihayati, berarti kemerosotan dari suatu kebiasaan kuno yang mulia. Perbuatan demikian melenyapkan makna dan manfaat dari perlindungan. Berlindung kepada Tiratana seharusnya merupakan ungkapan dari suatu dorongan bathin yang sungguh-sungguh seperti seseorang yang apabila melihat suatu bahaya besar akan bergegas mencari perlindungan. Orang yang melihat rumahnya terkabar tidak akan memperoleh kesempatan hanya dengan memuja keamanan dan kebebasan di luar tanpa bertindak untuk mencapainya.

Tindakan pertama ke arah keselamatan dan kebebasan ialah dengan berlindung secara benar, yaitu suatu tindakan sadar daripada keyakinan, pengertian dan pengabdian.

Aku berlindung kepada Buddha:

Disamping kita berlindung kepada Buddha Siddharta Gotama, Buddha yang sekarang “Paccuppanna Buddha”, kita berlindung juga kepada Buddha yang telah lampau (Atita Buddha) dan Buddha-Buddha yang akan datang (Anagata Buddha).

Aku berlindung kepada Dhamma:

Yang dimaksud dengan kita berlindung kepada Dhamma adalah berlindung kepada Dhamma yang lampau (Atita Dhamma), Dhamma yang sekarang (Pacuppanna Dhamma), dan Dhamma yang akan datang (Anagata Dhamma).

Aku berlindung kepada Sangha:

Yang dimaksud dengan kata berlindung kepada Sangha adalah berlindung kepada sangha yang lampau (atita Sangha), Sangha yang sekarang (Pacuppanna Sangha), dan Sangha yang akan datang (Anagata Sangha).

Aku tidak mencari perlindungan lain, Sang Buddha, Dhamma dan Sangha pelindungku yang tiada bandingannya, semoga demi kebenaran dalam kata-kata ini, kebahagiaan dan kejayaan menjadi bagianku, secara hikmah dan menundukkan kepala pada kaki yang maha suci aku menghormati beliau semoga Dhamma mengampuni aku dan semoga sangha mengampuni aku.

Demikianlah tulisan ini kami ambil dari buku pengetahuan Dhamma yang mana sangat membantu anda terutama bagi yang belum mengerti sama sekali mengenai perlindungan dalam agama Buddha yang selama ini dianut dan dipercayainya.



Kesurupan


Sepulang dari tamasya, sekujur tubuh si Santi (bukan nama sebenarnya) kejang-kejang dan mulutnya berkomat-kamit mengeluarkan kata-kata yang maksudnya sulit untuk dimengerti. Kedua orang tua Santi telah berusaha kemana-mana mencari paranormal dan ahli kebathinan (istilah awamnya dikenal dengan sebutan dukun) untuk menyelamatkan nyawa Santi, tetapi semuanya sia-sia saja dan akhirnya Santi diberitakan meninggal dunia dengan kondisi yang menggenaskan. Setelah pemakaman Santi, terdengarlah isu-isu yang menyatakan bahwa semasa hidupnya, Santi sangat doyan berbicara sembarangan (cakap kotor, kasar dan adakalanya melecehkan siapapun juga). Ada lagi yang mengatakan bahwa Santi telah kesurupan "Mbah", karena dia terlalu sombong dan berbicara yang nggak-nggak sewaktu tamasya.

Disisi lain, ada juga yang bangga bisa kesurupan "mbah" ini dan itu. Banyak dijumpai terutama sekali di kalangan umat yang mengaku beragama Buddha tetapi tidak mengenal sama sekali ajaran Sang Buddha (alias Buddha KTP) menjadi korban oknum-oknum yang menyatakan bisa kesurupan "mbah" ini dan itu. Dan yang lebih kocaknya lagi adalah oknum tersebut mengaku bisa kesurupan apapun juga sesuai dengan "order" dari si korban.

Dari kedua jenis kesurupan ini, bisa disimpulkan bahwa kesurupan tipe yang pertama adalah bukan kehendak dari si pemilik tubuh, sedangkan kesurupan tipe kedua adalah keinginan dari si pemilik tubuh (mengundang makhluk alam halus "peta" memasuki/ mendiami tubuhnya untuk sementara waktu). Mengapa semua ini bisa terjadi ? Kalau diterjemahkan, makna "kesurupan" secara sederhana adalah menerima getaran-getaran atau gaya-gaya bathin dari luar dan secara utuh mempengaruhi/ mengalahkan bathin si pemilik tubuh. Untuk tipe kesurupan yang pertama bisa saja terjadi pada setiap makhluk, terutama sekali dikarenakan kekuatan "kusala karma-perbuatan baik" yang melekat di tubuhnya sudah mulai melemah, dalam arti "aura-cahaya tubuh" nya telah mulai redup. Makhluk di alam setan "peta bumi" boleh dikatakan sama usilnya dengan manusia. Manusia pada umumnya berani mengganggu atau menggoda temannya ataupun orang lain karena orang tersebut tidak memberikan perlawanan. Seandainya orang tersebut bertambah takut maka akan semakin menjadi-jadilah dia menggoda dan mengganggu serta jika memungkinkan sekalian menyakiti dan membunuhnya. Demikian pula halnya dengan orang yang dimana simpanan kusala karmanya mulai melemah dan auranya mulai redup dan merupakan sasaran yang empuk bagi makhluk yang berada di alam kegelapan untuk mencoba menyakiti dan menerobos masuk ke dalam tubuh orang tersebut. Bagi yang tidak sanggup mempertahankan "sati-kesadaran" nya akan menderita pada proses kesurupan ini dan adakalanya makhluk alam rendah yang berhasil menembus pertahanan ini akan merasa betah mendiami rumah yang baru ini bagaikan penjajah yang berhasil menjarah negara lain dan enggan melepaskan daerah jajahannya. Orang yang kesurupan yang tidak tertangani dengan baik, akan meninggal dunia lebih awal dari semestinya jika tidak ditolong sedini mungkin.

Untuk menghindari dari kesurupan yang tidak diinginkan maka hanya ada satu cara yang bisa ditempuh yaitu memperbanyak perbuatan baik "kusala kamma" agar aura tetap cemerlang seperti sediakala. Makhluk alam rendah berani menampakkan ataupun memasuki tubuh sesesorang dikarenakan aura mulai memudar. Sejauh yang diketahui, rasanya belum pernah kedengaran seorang Bhikkhu/ni sampai kesurupan "mbah" ini dan itu. Perihal kesurupan yang tidak mempan terhadap anggota Sangha (para Bhikkhu/Bhikkhuni) adalah dikarenakan banyaknya timbunan kusala karma yang melekat ditubuh mereka sehingga aura bercahaya demikian terangnya melindungi dan membentengi si pemilik tubuh.

Aura yang terang benderang akan menyilaukan makhluk alam rendah sehingga takut untuk mendekati apalagi memasuki (menyurupi) tubuh seseorang. Aura bisa diibaratkan bagai cahaya matahari yang menyilaukan dan menyakitkan jika ditatap langsung dengan mata polos.

Demikianlah kesurupan tipe yang pertama dimana tanpa kehendak dari si pemilik tubuh, makhluk dari alam lain masuk seenaknya tanpa izin. Lalu.... bagaimana dengan tipe kesurupan yang kedua ? Kesurupan tipe yang kedua ini adalah mengosongkan pikiran sehingga bathin menjadi pasif dan getaran dari luar dengan mudah menerobos/ memasuki sipemilik tubuh. Kesurupan tipe kedua inilah yang dalam prakteknya banyak dijumpai memperdaya umat Buddha yang hanya sebatas KTP. Dan tidak sedikit korbannya mengalami banyak hal yang fatal sebagai akibat dari ulahnya yang tidak bertanggung jawab. Banyak dijumpai umat Buddha KTP yang menyakini oknum yang mampu kesurupan ini dan itu, terperdaya akan akal bulus si oknum. Misalnya secara "medis" sikorban dinyatakan menderita penyakit "hipertensi-darah tinggi", tapi karena percaya pada si oknum yang mengaku mampu kesurupan "mbah" ini dan itu, enggan memakan obat-obatan yang telah diresepkan, malahan mengikuti nasehat si oknum yang mampu kesurupan ini dan itu. Memakan ramuan jampi-jampi sehingga akhirnya diberitakan si korban terpaksa "check out-pindah" dari alam manusia.... alias meninggal dunia. Didalam agama Buddha, praktek "kesurupan" tidak dibenarkan karena bisa menghambat/ menekan proses kemajuan bathin menuju ke arah kesucian. Agar terlepas dari praktek "kesurupan" baik yang tidak dikehendaki maupun yang diinginkan, marilah kita kembali mengembangkan "kesadaran" melalui praktek "meditasi" yang benar, agar yang namanya "dukkha-derita" jauh keberadaannya dari lingkaran "samsara : kematian dan kelahiran yang tanpa adanya awal dan akhir".

Oleh sang Buddha telah dibabarkan bahwa terdapat 4 dasar kesadaran "cattari Satti-patthana" yang sudah seharusnya dikembangkan agar kita terlepas dari "kesurupan" makhluk ini dan itu. Keempat dasar kesadaran tersebut terdiri dari :

  1. Kayanupassana-perenungan terhadap tubuh jasmani. Kita hendaknya senantiasa melatih diri dalam meditasi dan mewaspadai :

    • Pernafasan. Setiap saat dan setiap detik, kita benar-benar menyadari keluar masuknya udara, dan semua aroma yang tersebar di sekitar kita, baik yang harum, busuk, maupun yang tidak berbau sama sekali. Kesemuanya itu harus diketahui keberadaannya dengan jelas, dengan kata lain kita benar-benar menyadari apapun yang ada di lingkungan kita.

    • Posisi Tubuh. Menyadari dengan baik posisi tubuh yang sedang terjadi, apakah pada waktu tersebut kita sedang duduk, berdiri maupun berbaring. Tidak akan pernah merasakan "Fly-melayang-layang" dikala masih duduk, berdiri maupun berbaring. Penguasaan diri sangat baik dan tidak tergoyahkan adalah hal yang mutlak harus dimiliki/ dikuasai.

    • Waktu Bergerak. Menyadari dengan baik apakah gerak langkahnya maju, mundur atau diam sama sekali. Dengan kata lain bahwa semua gerak-gerik anggota tubuh dikala bangun, mandi, makan, memakai pakaian, bekerja dan lain sebagainya, dikuasai dengan sebaik-baiknya. Semua gerak-gerik badan jasmani terkontrol dan terawasi dengan penuh perhatian disamping "kesadaran" dibina dengan sebaik-baiknya.

  2. Vedananupassana-Perenungan terhadap perasaan Kita hendaknya senantiasa melatih diri dalam "meditasi" dan mewaspadai :

    • Perasaan Senang. Dikala menikmati sesuatu yang menyenangkan atau yang menggembirakan, hendaknya jangan sampai terlena (lupa daratan). Dikala ber "uang", hendaknya disadari bahwa suatu hari kelak mungkin saja mengalami kepailitan. Begitu juga dikala masih sehat "jasmani dan rohani" hendaknya selalu dimanfaatkan untuk penimbunan perbuatan-perbuatan baik. Dan yang terpenting adalah dikala masih bernafas janganlah disia-siakan kehidupan ini dengan perbuatan-perbuatan tercela.

    • Perasaan Sakit. Terlahirkan di alam manusia ini "sehat dan sakit" datangnya silih berganti. Dikala sakit mendera badan jasmani, hendaknya pikiran ini senantiasa terlatih dengan baik untuk tidak mencelakakan orang lain. Orang baru pantas dikatakan baik jika seandainya dia berada dalam kondisi yang menggenaskan dan memiliki kesempatan untuk berbuat "jahat" untuk melepaskan penderitaannya, namun dia tidak melakukannya. Orang beginilah yang pantas dikatakan orang baik !

    • Perasaan Netral. Bathinya benar-benar seimbang dan tidak tergoyahkan bagaikan batu karang yang bediri kokoh yang tidak tergoncangkan oleh gempuran ombak.

  3. Cittanupassana-Perenungan terhadap kondisi bathin. Kita hendaknya senantiasa melatih diri dalam "meditasi" dan mewaspadai :

    • Keserakahan sebagai Keserakahan. Menuntut lebih dari yang dibutuhkan serta tidak dimilikinya sifat puas akan apa yang telah dimiliki adalah merupakan ciri khas orang yang serakah. Cara untuk menekan "keserakahan" ini adalah dengan rutinnya "dana" disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Tanpa pernah memberi dan melepaskan kemelekatan (sesuatu yang telah dimilikinya) maka keserakahan tidak akan pernah berhasil dibasmi habis sampai keakar-akarnya.

    • Kebencian sebagai Kebencian. Merasa diperlakukan dengan tidak sewajarnya ataupun iri atas keberhasilan orang lain adalah merupakan salah satu bibit awal tercetusnya "kebencian" didalam kehidupan ini. Hidup yang diliputi oleh kabut kebencian akan menghambarkan keceriaan hidup. Hanya dengan "Metta-Cinta kasih" yang universallah kebencian bisa diatasi atau dibabat keakarnya yang mendalam.

    • Kebodohan sebagai Kebodohan. Semua orang menyadari bahwa rokok dan minuman alkohol yang berkadar tinggi akan merusak kesehatan, tetapi kenyataannya kedua "racun" ini sangat laris dipasaran. Mengapakah hal ini terjadi ? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena tebalnya kabut kebodohan yang telah menyelimuti mata bathin seseorang. Agar terlepas dari kebodohan, hanya ada satu cara yang harus ditempuh, yaitu dengan mempelajari, menyelami dan mengamalkan "Dharma-kebenaran" di dalam setiap derap langkah yang akan dilalui. Hanya dengan "Dharma-kebenaran" ajaran sang Buddha-lah, kebijaksanaan bisa diraih. Dengan dimilikinya kebijaksanaan maka kebodohan akan terkikis habis setahap demi setahap.

  4. Dhammanupassana-Perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran. Kita hendaknya senantiasa melatih diri dalam "meditasi" dan mewaspadai bentuk-bentuk pikiran yang mungkin timbul. Didalam sabda-Nya, Sang Buddha menekankan bahwa pikiran sangat dominan sekali mempengaruhi "Kebahagiaan dan Kesusahan" yang dialami oleh setiap makhluk. Oleh karena itu, Sang Buddha bersabda:

    Orang bijaksana hendaknya menjaga pikiran
    yang sukar diawasi, sangat halus
    dan cenderung mengarah pada objek yang digemari
    Pikiran yang terjaga dengan baik
    akan membawa kebahagiaan

    Selanjutnya Sang Buddha pun menekankan bahwa pikiran yang terarah secara benar akan membuat seseorang menjadi mulia dan memperoleh pahala baik, melebihi apa yang dapat diberikan oleh Ibu, Ayah atau Sanak Keluarga.

    Kesimpulan

    Kesurupan bisa saja dialami oleh setiap manusia. Seseorang bisa mengalami kesurupan adalah dikarenakan lemahnya "sati-kesadaran" bersemayam ditubuhnya. Boleh disimpulkan bahwa kesurupan yang dialami oleh setiap manusia, apakah itu atas kehendak si pemilik tubuh maupun yang bukan adalah suatu hal yang sangat patut untuk dikasihani. Kesurupan bisa diibaratkan bagai tamu yang datang ke rumah kita dan langsung berkuasa, memerintah ini dan itu, bertindak semau gue dan adakalanya merusak apapun yang disekitarnya. Hanya orang-orang yang kurang berbuat kebajikanlah yang menjadi sasaran empuk bagi makhluk dari alam rendah "peta" untuk dikuasai dan dikontrol tubuhnya.

    Agar terlepas dari kesurupan yang bertentangan dengan ajaran Sang Buddha, marilah kita bersama-sama melaksanakan pembinaan kesadaran "Cattari Satti-patthana" dengan melaksanakan
    a. Kayanupassana (Perenungan terhadap tubuh jasmani)
    b. Vedanupassana (Perenungan terhadap perasaan)
    c. Cittanupassana (Perenungan terhadap kesadaran bathin)
    d. Dhammanupassana (Perenungan terhadap bentuk-bentuk pikiran)

    Semoga dengan adanya perenungan ini, kita hendaknya memiliki "kesadaran" yang mantap serta bermanfaat bagi semua makhluk pada umumnya dan bagi bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia yang tercinta pada khususnya.