Kamis, 02 September 2010

Kesakralan Magha Puja


Kesakralan Magha Puja


Di antara banyaknya umat Buddha di Indonesia, terdapat sebagaian umat Buddha yang masih belum mengerti tentang sebagian peringatan peristiwa penting dan bersejarah agama Buddha pada jaman Sang Buddha Gotama, yang patut diketahui oleh umat Buddha pada umumnya. Terdapat 4 (empat) peringatan agama Buddha setiap tahun secara berurutan, yaitu Waisak, Asadha, Kathina, dan Magha Puja. Nama-nama peringatan tersebut diambil dari nama penanggalan bulan buddhis pada jaman Sang Buddha Gautama. Peringatan-peringatan peristiwa penting dan bersejarah tersebut semuanya terjadi di saat bulan purnama sempurna (siddhi) sebagai ciri khasnya.

Magha Puja merupakan salah satu peringatan agama Buddha yang kurang diketahui oleh sebagian umat Buddha di Indonesia. Magha Puja merupakan peristiwa penting dan bersejarah bagi Agama Buddha yang terjadi di bulan Magha atau dapat dijumpai pada bulan Februari. Anggapan semen-tara umat Buddha menekankan bahwa hari peringatan hari Magha Puja bertepatan dengan 15 hari setelah tahun baru Imlek (Cap Go). Demikian jika 15 hari setelah 15 hari setelah tahun imlek maka pada malam harinya terlihat bulan sedang purnama. Tetapi jika diteliti dalam penanggalan hari, bulan, dan tahun buddhis maka yang sebenarnya peringatan hari Magha Puja tepat 1 (satu) hari sebelum Cap Go, yang berarti bahwa pada saat itu bulan purnama siddhi.

Magha Puja jika diungkapkan secara lebih menda-lam, maka peristiwa tersebut adalah luar biasa, dan tidak ditemukan peristiwa serupa lainnya di dunia sejak jaman Sang Buddha Gotama sampai sekarang ini. Peristiwa Magha Puja ini diawali ketika Sang Buddha berada di Taman Tupai, hutan bambu Veluvana-arama, di kota Rajagaha pada bulan Magha. Pada saat yang sama Sang Buddha dikunjungi oleh para Bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat dan memiliki beberapa kemampuan abhinna. Dengan keinginan sendiri dan tanpa saling memberitahukan terlebih dahulu satu dengan yang lain, Mereka masing-masing pergi untuk mengunjungi Sang Buddha. Pertemuan tanpa disengaja oleh para Bhikkhu Arahat di Taman Tupai itu dihadiri dalam jumlah mencapai 1250 orang Bhikkhu. Pada kesempatan itu Sang Buddha mengadakan uposatha dan melakukan Ehi Bhikkhu Upasampada kepada mereka, yaitu pentabisan bhikkhu dengan memakai ucapan Ehi Bhikkhu (datanglah, O, para Bhikkhu). Setelah mengadakan Ehi Bhikkhu Upasampada selanjutnya Beliau memberikan pembabaran Ovadapatimokkha kepada Mereka.

Ovadapatimokkha merupakan salah satu Dhamma yang sangat diminati oleh para Bijaksana, yang ingin melaksanakan kedisiplinan dalam bersila, terutama diminati oleh seorang Bhikkhu yang sedang melaksanakan kehidupan suci. Salah satu pembabaran Sang Buddha tentang Ovadapatimokkha yang sangat indah dan dikenal oleh banyak umat Buddha adalah

"Tidak melakukan segala kejahatan, senantiasa menyempurnakan kebaikan, dan menyucikan pikiran; Inilah ajaran para Buddha".

Pertemuan Agung para Bhikkhu Arahat tersebut dinamakan Caturangasanipata, yaitu pertemuan akbar yang didukung oleh 4 (empat) faktor peristiwa utama yang istimewa, yaitu :

  1. Berkumpulnya para Bhikkhu yang berjumlah 1250 orang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

  2. Mereka semuanya telah mencapai tingkat kesucian dan memiliki kemampuan abhinna.

  3. Mereka ditabiskan dengan memakai ucapan Ehi Bhikkhu.

  4. Sang Buddha membabarkan Ovadapatimokkha kepada Mereka.

Sebagai umat Buddha yang merayakan atau memperingati Magha Puja selayaknya telah mengetahui makna dari sejarah Magha Puja itu sendiri. Ditinjau dari segi nama peringatannya, Magha Puja, mempunyai arti bahwa di dalam melaksanakan perayaan atau peringatannya, umat Buddha melakukan puja se-hubungan dengan peristiwa akbar di bulan Magha pada jaman Sang Buddha Gotama. Pemujaan yang dilaksanakan oleh kita sebagai penerus Dhamma dalam Magha Puja bukan sekedar hanya memuja tanpa mengetahui apa yang seharusnya dipuja. Dalam pemantauan sementara waktu bahwa umat Buddha yang memperingati magha puja di Vihara-vihara atau di tempat-tempat pertemuan sangat jarang ditemui, dibandingkan dengan merayakan atau memperingati Waisak, Kathina. Hal ini disebabkan pemahaman dan kurang minatnya mereka dalam memperingati Magha Puja karena faktor-faktor salah satunya mereka tidak tertarik dengan apa yang sebenarnya yang terjadi pa-da Magha Puja. Ironisnya jika Magha Puja ini dilupakan sama sekali tanpa disentuh nilai-nilai yang harus ditanamkan terhadap umat Buddha.

Sesungguhnya jika dikaji mendalam tentang kesungguhan peringatan Magha Puja adalah sama hikmatnya dengan memperingati hari-hari besar agama Buddha lainnya. Jika di dalam peringatan Waisak kita memperingati 3 (tiga) peristiwa penting di bulan Wai-sak purnama siddhi, kemudian pada bulan Kathina kita peringati bulan Berdana, dan bulan Asadha adalah peringatan Pemutaran Roda Dhamma (Dhammacak-kappavattana Sutta) oleh Sang Buddha Gotama, maka untuk Magha Puja adalah peringatan yang tak kalah pentingnya bagi umat Buddha khususnya bagi para Bhikkhu yang menjalani kehidupan suci untuk menerapkan apa yang ada di dalam ulasan Sang Buddha mengenai Ovadapatimokkha. Di samping itu juga kita dapat memuja kepada Sang Buddha dan para Arya Sangha yang telah mencapai tingkat kesucian Arahat yang mendengarkan langsung Ovadapatimokkha dari Sang Buddha pada saat itu. Dengan melakukan pemujaan kepada yang patut dipuja maka dengan sendirinya kita dapat memperoleh suatu berkah.

Sangat disayangkan jika dalam peringatan Magha Puja yang diselenggarakan oleh umat Buddha kurang begitu diperhatikan kesaklarannya dan tidak sesuai lagi dengan peringatan Magha Puja yang sesungguhnya karena kurangnya informasi-informasi yang baik mengenai peringatan Magha Puja. Bahkan sebagian umat Buddha menganggap peringatan Magha Puja ini adalah identik dengan perayaan tahun baru Imlek dan Cap Go sehingga tidak mengherankan jika ada sementara umat yang menganggapnya demikian, mereka merayakan tahun baru Imlek, Magha Puja, dan Cap Go sekaligus di Vihara-vihara atau kelenteng.

Dalam peringatan Magha Puja pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan upacara-upacara peringatan hari raya Agama Buddha lainnya. Upacara pemujaan biasanya terdapat acara prosesi pemujaan (dupa, lilin, air, dan bunga) di depan altar. Pada upacara Magha Puja sendiri biasanya dilakukan pembacaan Magha Puja Gatha dan membacakan Paritta Khusus Ovada-patimokkhadipatha dalam bahasa Pali secara bersama-sama atau dilakukan pembacaan salah satunya sebagai ciri-cirinya. Selanjutnya seperti peringatan hari suci lainnya dilakukan puja bakti, meditasi dan Dhammadesana oleh Bhikkhu Sangha mengenai makna peringatan Magha Puja. Akan menjadi saklar upacara peringatan Magha Puja jika diselenggarakan dengan sungguh-sungguh walaupun dilaksanakan secara sederhana.

Segala upacara peringatan hari suci agama Buddha yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mempertebal keyakinan (saddha) terhadap Sang Tiratana. Seandainya kita terpaku terhadap pengadaan perayaan atau peringatan hari raya agama Buddha yang dilaksanakan dan sekedar melaksanakannya saja tetapi tidak memanfaatkan makna yang sesungguhnya untuk mengembangkan diri menjadi umat Buddha yang bijaksana, maka akan timbul suatu kejenuhan bagi kita. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa di dalam memperingati Magha Puja, hal yang ter-penting adalah memahami sepenuhnya sabda Sang Buddha mengenai Ovadapatimokkha. Tidak menutup kemungkinan untuk merayakannya sampai megah dan akbar. Tetapi tiada artinya jika merayakannya sampai megah dan akbar dengan mengeluarkan anggaran biaya yang cukup besar jika kita umat Buddha yang hadir tidak memahami bahkan tidak mengetahui makna Magha Puja sesungguhnya. Di samping Magha Puja, perayaan atau peringatan-peringatan suci agama Buddha lainnya perlu diperhatikan hal ini.

Dari perbandingan tulisan-tulisan di atas menyimpulkan bahwa sudah sangat baik sekali jika kita telah mengerti dan memahami arti sesungguhnya peringatan-peringatan suci agama Buddha dan menerapkan-nya dalam kehidupan kita sehari-hari tanpa harus mengadakan suatu upacara untuk merayakan atau memperingatinya bahkan sampai megah dan meriah. Sebagai contoh yaitu pada peringatan Waisak kita dapat mengambil salah satu makna yang terkandung di dalam Waisak dengan menerapkannya, misalnya menerapkan semangat pantang mundur terhadap suatu masalah yang kita hadapi. Pangeran Siddhatta mencapai Penerangan Sempurna seorang diri dengan bersemangat pantang menyerah karena walaupun terdapat kesulitan tiada sesuatu yang tidak dapat diwujudkan. Dalam Kathina kita dapat menerapkannya berupa berdana kepada Sangha yang merupakan lapangan jasa yang tiada taranya di alam semesta. Dalam Asadha kita juga dapat menerapkan dengan berlatih melakukan perwujudan terhadap Jalan Tengah Berfaktor Delapan dalam kehidupan kita sehari-hari. Demikian juga dengan Magha Puja dengan menerapkan Ovadapatimokkha yang senantiasa di-praktekkan sehari-hari dan sangat baik dilakukan da-lam kedisiplinan menjalankan kehidupan suci. Dengan demikian jika kita sebagai umat Buddha melaksanakan pemahaman dan praktek terhadap makna peringatan-peringatan suci agama Buddha maka kita te-lah memperingatinya secara saklar dan penuh hikmat. Sebagai umat Buddha kita perlu diingat bahwa melaksanakan Dhamma merupakan suatu pemujaan yang tertinggi kepada Sang Tathagata dibandingkan dengan adanya upacara-upacara besar pemujaan terhadap Sang Buddha yang sering kita selenggarakan selama ini.

[ Dikutip dari Gema Dhammavaddhana ]

Kenapa Umat Buddha Masih Banyak Yang Pindah Agama?



Kenapa Umat Buddha Masih Banyak Yang Pindah Agama?

Oleh Pandita Aryananda. S.


Mempelajari Ajaran (Dhamma) Sang Buddha jangan hanya kulitnya saja; kupaslah intisarinya; disana kita akan menemukan Kebenaran dan Kebahagiaan tertinggi.

Di negara kita dewasa ini terdapat lima agama besar yang mengalami perkembangan pesat. Dan kita tidak asing lagi mendengar masing-masing umat dari agama tersebut "menyeberang" ke agama lain atau kita kenal dengan pindah agama. Salah satu diantaranya adalah agama Buddha. Meskipun banyak kemajuan dan perkembangan, masih tetap ada kendala-kendala yang harus dihadapi umat Buddha sendiri, seperti adanya sebagian orang yang mengaku dirinya beragama Buddha tetapi sama sekali tidak mengenal Ajaran Sang Buddha. Dari sini dapat dimaklumi bila mereka masih belum yakin sepenuhnya pada Ajaran Sang Buddha, sehingga mudah tergoda untuk "menyeberang" dan memeluk agama lain.

Ada lagi yang mengatakan bahwa agama Buddha mengajarkan hal-hal yang suram, dan tidak mengenal kebahagiaan duniawi. Mereka menganggap umat Buddha memandang hidup ini secara pesimis; mereka sungguh memerlukan penjelasan yang tepat dan benar.

Dalam Anguttara Nikaya, Sang Buddha juga menguraikan tentang kebahagiaan hidup berumah tangga, disamping kebahagiaan orang yang meninggalkan kehidupan duniawi; baik kebahagiaan dalam keterikatan maupun kebahagiaan karena terbebas dari ikatan-ikatan; kebahagiaan jasmaniah dan kebahagiaan bathin.

Seorang umat Buddha akan menemukan kenyataan bahwa segala kebahagiaan (duniawi) diatas bersifat sementara (Anicca). Jadi jelaslah bahwa agama Buddha tidaklah pesimis seperti anggapan orang, melainkan bersifat realitis, aktual dan memandang hidup ini secara wajar atau apa adanya.

Di kalangan generasi muda juga sering ditemukan kendala-kendala, yang menghambat karma baik mereka untuk mengenal Buddha Dharma. Mereka sering terikat pada kesenangan semata, tanpa memperdulikan Kebahagiaan sejati. Apabila harapan mereka tidak tercapai mereka akan kecewa, frustasi dan tenggelam lebih jauh di dalam jurang kebodohan.

Salah satu kendala yang sering terlihat adalah bila seorang umat Buddha kebetulan memadu kasih dengan seorang penganut agama yang berbeda. Sering umat Buddha itu dengan mudahnya pindah agama, agar tetap bisa melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya.

Agama Buddha tidak pernah menarik umat dengan janji-janji muluk, pun tidak melarang umatnya untuk pindah agama. Seseorang bebas, dan berhak memilih agama yang dianggapnya paling benar dan sesuai dengan kepribadiannya. Tetapi apakah dengan pindah agama, urusan akan selesai?

Kita sering mendengar ajaran Sang Buddha yang membahas tentang Anicca, yang menyatakan segala sesuatu yang terdiri dari perpaduan unsur-unsur bersifat tidak kekal, selalu berubah. Kehidupan manusia juga begitu, suatu saat kita pasti akan berpisah dengan apa yang dicintai, berkumpul dengan yang dibenci, selalu berubah-ubah, menuju kehancuran.

Sang Buddha mengajarkan kita "Ehipassiko", yaitu undangan untuk dating dan melihat. Bila seseorang datang dan melihat (membuktikan) kebenaran Dharma dengan cara mempraktekkannya, ia akan menerapkan dan menjadikan ajaran Sang Buddha sebagai pedoman hidupnya. Dalam ajaran Sang Buddha tidak pernah dikatakan kepada kita datang hanya untuk percaya, tetapi datang untuk menyelidiki dan membuktikan kebenarannya. Menyelidiki dan membuktikan ajaran Sang Buddha tidak merupakan karma buruk atau berdosa seperti dalam ajaran agama lain, malahan hal itu dianjurkan oleh Sang Buddha sendiri, seperti yang Beliau katakan dalam Kalama Sutta:

"Jangan menerima sesuatu hanya karena wahyu,
Jangan menerima sesuatu hanya karena tradisi yang turun temurun,
Jangan menerima sesuatu atas dasar khabar angin,
Jangan menerima sesuatu hanya karena kitab suci,
Jangan menerima sesuatu hanya berdasarkan logika,
Jangan menerima sesuatu hanya karena pertimbangan nalar,
Jangan menerima sesuatu hanya karena sesuai dengan gagasan,
Jangan menerima sesuatu hanya karena sipembicara orang baik,
Jangan menerima sesuatu hanya karena hal itu disampaikan oleh seorang guru,
Tetapi setelah diamati dan di periksa dengan teliti, kemudian engkau temukan hal itu sebagai sesuatu yang beralasan, berguna dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain maka terimalah dan jadikanlah hal tersebut sebagai pedoman hidup".

Jika ada orang yang menghina agama Buddha janganlah kita marah atau membencinya, sebab dari zaman Sang Buddha sampai saat ini dalam perkembangannya agama Buddha tidak pernah menggunakan kekerasan yang menimbulkan penderitaan bagi umat manusia dan mahkluk-makhluk lainnya. Jangan kita samakan agama Buddha dengan agama lain yang mendapat hinaan dari orang lain, lantas marah, benci, emosi bahkan dapat terjadi pertumpahan darah. Dalam agama Buddha tidak ada istilah "perang suci", karena bagaimanapun perang akan membawa penderitaan seperti korban pembunuhan dan penganiayaan.

Sang Buddha dengan sifat welas asih-Nya mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa apabila ada yang merendahkan diri-Nya (Buddha), Dhamma dan Sangha maka janganlah marah, emosi, tersinggung atau benci, sebaliknya jika ada yang memuji diri-Nya janganlah bahagia, bersukacita. Jika kedua hal itu dilakukan maka akan merugikan diri kita sendiri dan akan menghambat diri kita untuk mencapai tingkat kesucian. Marilah kita lihat khotbah Sang Buddha dalam Brahmajala Sutta ;

"Para bhikkhu, bilamana orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Saya (Buddha), Dhamma dan Sangha; janganlah karena hal itu kamu membenci, dendam, atau memusuhinya. Bilamana karena hal itu kalian marah atau tersinggung, maka akan menghalangi jalan pembebasan diri kalian. Apakah kalian dapat merenungkan ucapan mereka itu baik atau buruk?"

"Tidak demikian, Sang Bhagava"

"Tetapi, bila mana ada orang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Saya (Buddha), Dhamma dan Sangha maka kalian harus menyatakan mana yang salah dan menunjukkan kesalahannya dengan mengatakan bahwa berdasarkan hal ini atau itu, ini tidak benar atau itu bukan begitu, hal demikian tidak ada pada kami dan bukan kami."

"Tetapi, para bhikkhu, bilamana ada orang yang memuji Saya (Buddha), Dhamma dan Sangha, janganlah karena hal tersebut kamu merasa bangga, gembira, dan bersuka cita. Bila kalian bersikap demikian, maka hal itu akan menghalangi jalan pembebasan diri kalian. Bilamana orang lain memuji Saya (Buddha), Dhamma dan Sangha maka kalian harus menyatakan apa yang benar dan menunjukkan faktanya dengan mengatakan, berdasarkan hal ini atau itu, ini benar, itu memang benar, hal itu ada pada kalian dan benar pada kalian."

Umat sering memandang, bahwa agama Buddha sangat terikat pada karma; dan didorong oleh ketakutannya akan Hukum Karma, ketakutan dalam menghadapi kenyataan dan tidak berani mempertanggungjawabkan perbuatannya, sehingga ia pindah ke agama lain. Apakah masalahnya akan selesai begitu saja? Apakah setelah pindah agama lantas ia tidak menderita lagi?

Sang Buddha mengajarkan kepada kita bahwa suatu perbuatan akan menghasilkan karma apabila adanya cetana atau kehendak untuk melakukannya. Sabda Sang Buddha ini terdapat dalam Anguttara Nikaya III : 415 :

"O bhikkhu, kehendak berbuat (cetana) itulah yang Kunamakan karma." Ada agama lain yang tidak percaya pada Hukum Karma tetapi mereka percaya pada balasan dari Tuhan. Sebenarnya balasan dari Tuhan itulah sebenarnya Hukum Karma (Hukum perbuatan). Dari sinilah penulis berpendapat, bahwa secara tidak langsung agama lain pun meyakini Hukum Karma, disamping masih percaya dan berpegang teguh pada takdir, sehingga meskipun pindah agama, Hukum Karma masih tetap berlaku pada kita.

Jika seorang umat Buddha mengatakan bahwa ia tidak pernah bahagia dalam agama Buddha kemudian pindah ke agama lain, maka hal ini adalah wajar-wajar saja. Jika umat tersebut mengatakan demikian apakah ia mengenal ajaran Sang Buddha atau sekedar agama Buddha KTP atau Tradisi? Penulis yakin jika umat yang belajar Dharma dengan tekun dan rajin serta sering mengikuti kebhaktian maka dia tidak akan pernah dapat dipengaruhi untuk pindah agama. Hanya umat Buddha KTP dan tradisilah yang paling sering pindah ke agama lain karena janji yang muluk-muluk dari agama tersebut.

Ada agama yang menyebarkan ajarannya dengan bujuk rayu dengan janji-janji muluk. Bahkan penyebarannya dari rumah-kerumah, demikianlah mereka mencari umat dengan cara mengobral ke sana-sini tanpa mengenal lelah. Jika ada umat Buddha yang tidak berpengetahuan tentang agama Buddha, akan mengikuti agama mereka.

Agama Buddha tidak pernah mengobral ajaran Sang Buddha ke sana-sini dengan tujuan mencari umat, karena agama Buddha meyakini Hukum Karma, jika orang tersebut mempunyai kaitan karma dengan agama Buddha maka ia akan datang dan tidak akan beralih lagi.

Penulis berpendapat bahwa umat Buddha yang mudah pindah agama disebabkan oleh :

  1. Kurangnya pengetahuan tentang agama Buddha. (Umat Buddha KTP & Tradisi).

  2. Tidak menggunakan logikanya atau akal sehat terhadap janji-janji muluk.

  3. Terpaksa (misalnya umat Buddha sakit dan ingin berobat atau pinjam uang ke orang beda agama, orang tersebut akan meminjamkan uang bahkan akan membantunya jika si sakit pindah ke agamanya).

Seorang umat Buddha yang baik harus mempunyai prinsip dan tidak mudah tergoyahkan oleh isu-isu yang merusak. Jika ada informasi-informasi yang mencemarkan agama Buddha, buktikan dan selidikilah sesuai yang tercantum didalam Kalama Sutta. Sang Buddha juga menyatakan dalam Dhammapada tentang prinsip sesorang bijaksana; Dhammapada ; Bab VI : 81, Orang Bijaksana, "Laksana sebuah batu karang yang tak tergoyahkan angin, maka demikian pula para bijaksana tak tergoyahkan oleh celaan dan pujian".

Saya harapkan kepada seluruh umat Buddha , pada zaman sekarang ini banyak sekali cara-cara yang digunakan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab untuk mempromosikan ajarannya dengan janji yang muluk-muluk dan mencaci maki ajaran yang lain. Semua ajaran itu tidak akan mempengaruhi kita jika kita menerimanya dengan analisa yang lebih mendalam. Yakinlah saudara-saudari se-Dharma bahwa tidak ada ajaran yang dapat membuat kita suci tanpa usaha dari kita sendiri. Walaupun ajarannya bagus tetapi kita malas mempraktekkannya juga sia-sia. Suci atau tidaknya adalah tergantung pada diri kita sendiri. Seperti yang disabdakan Sang Buddha dalam Dhammapada Bab XII : 165 tentang Diri Sendiri ;

"Oleh diri sendiri Kejahatan dilakukan,
Oleh diri sendiri pula seseorang ternoda,
Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan,
Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci,
Suci atau tidak suci itu tergantung pada diri sendiri,
Tak seorang pun dapat menyucikan orang lain."

Jika ada ajaran yang mengatakan dengan ditisarana atau dibaptis bisa langsung suci, kaya dan sebagainya tanpa melalui usaha, ini adalah omong kosong.

Demikianlah naskah ini saya buat. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Semoga semua makhluk hidup dalam keadaan tenang, tentram, sejahtera dan berbahagia.

Sabbe satta averahontu, Sabbe satta bhavantu sukkhitatha...

Sadhu...Sadhu,....Sadhu,.....

[ Dikutip dari Majalah Manggala edisi 40 tahun 1993 ]

Kemarahan

Kemarahan
Oleh R. Nanda


Apakah Anda pernah marah pada seseorang? Bagaimanakah pikiran Anda sewaktu Anda memarahi seseorang? dan kedua pertanyaan itu kita balik menjadi, Apakah seseorang pernah marah pada Anda? Bagaimanakah pikiran Anda sewaktu seseorang memarahi Anda?

Tentu kita semua pernah dimarahi dan memarahi seseorang, jika kita dimarahi oleh seseorang dan kita belum dapat mengatasi kemarahan maka kita akan marah juga, banyak hal yang dapat terjadi jika ada dua orang yang saling memarahi dan keduanya tidak dapat mengendalikan pikirannya, ucapannya dan perbuatannya. Ada juga yang dimarahi tetapi orang tersebut tidak dapat membalasnya pada saat itu dan ada kemungkinan pikirannya yang penuh dengan rasa dosa (kebencian) akan menjadi dendam dan berusaha untuk membalasnya.

Dengan pertanyaan diatas tentu kita sudah bisa merasakan bagaimana rasanya dimarahi, Apakah kita harus marah? Apakah dengan marah maka akan menyelesaikan masalah ?. Tentu kita tidak harus marah dan kemarahan tidak dapat menyelesaikan masalah, bahkan menghilangkan suatu keceriaan dan senyum persahabatan.

Kemarahan bersumber dari pikiran kita dan kemarahan adalah suatu bentuk pikiran yang harus dihancurkan karena kemarahan dapat menyebabkan penderitaan. Kita dapat lihat dan dengar yang sekarang banyak terjadi penderitaan yang disebabkan oleh kemarahan, karena kemarahan sudah terpancing keluar maka apapun akan dihabisi / dihancurkan / dimusnahkan tanpa rasa belas kasihan, dan jika sudah seperti itu maka manusia bukanlah manusia tetapi seperti binatang atau bahkan lebih buruk daripada binatang yang marah karena diganggu, tetapi manusia membantai manusia yang tak tahu menahu hanya untuk pikiran jahatnya, atau manusia merasa dirinya hebat dan kuat jika dia ditakuti oleh semua orang karena dia bisa membantai / menghancurkan / memusnahkan yang dia inginkan, sesungguhnya orang itu adalah orang lemah dan picik.

Sesungguhnya menaklukkan ribuan orang bukanlah disebut orang hebat melainkan yang dapat menaklukkan diri sendirilah yang disebut orang hebat, seperti diungkapkan di atas bahwa sumber kemarahan adalah pikiran, jadi pikiran itulah yang harus kita hancurkan makan kita disebut pemenang.

Setiap kali kita akan marah maka kita perhatikanlah pikiran kita lalu kita dapat berpikir "Begini toh orang marah!" dan kita jaga marah itu jangan sampai keluar, jangan kita lakukan kesalahan kedua yaitu Akusala Vacikamma (perbuatan buruk yang dilakukan oleh ucapan) karena kita telah melakukan Akusala Manokamma (perbuatan buruk yang dilakukan oleh pikiran), dan jangan kita biarkan pikiran kita dipenuhi dosa (kebencian) maka marah itu akan hilang dan Anda disebut pemenang.

Perlu kita perhatikan jika kita ingin memarahi orang lain berusahalah untuk berhitung dahulu dalam pikiran kita sampai angka 100 dan berhitungnya sesuai dengan detak jarum detik atau Anda dapat bercermin ketika Anda marah dan Anda perhatikan wajah Anda yang sedang marah, mungkin cara seperti itulah yang harus dilakukan oleh orang yang pemarah dan ingin memarahi orang lain dan alangkah lebih baik jika Anda hilangkan sama sekali rasa marah itu.

Pikiran yang penuh dengan rasa benci dan marah akan sangat berbahaya bagi kesehatan fisik kita karena dapat menimbulkan penyakit-penyakit, bahkan sering kita dengar orang tua kita berkata "Janganlah cepat marah nanti cepat tua". Sifat marah itu sendiri bukan merupakan faktor tunggal penyebab penyakit jantung koroner. Tetapi diyakini bahwa setiap episode kemarahan akan menambah stess pada jantung, yakni dalam bentuk peningkatan tekanan darah. Kalau episode kemarahan ini berlangsung bertahun-tahun, artinya sifat pemarah tersebut menetap pada diri individu, maka dampak buruk pada jantung berpeluang besar untuk terjadi,. (gampang marah buruk bagi jan-tung dan kekebalan tubuh, Kompas, 02 Februari 1997). Sebaliknya pikiran tenang dan damai akan mendatangkan kesehatan pada pikiran dan jasmani juga kita akan disukai dan dicintai oleh semua orang.

Marilah kita membulatkan tekad dengan mengendalikan pikiran dengan jalan memancarkan rasa cinta kasih kita kepada semua makhluk, janganlah sampai kita rusak senyum persahabatan dengan senyum kebencian dan "Semoga semua makhluk selamanya hidup berbahagia, bebas dari kebencian".

Sebagai penutup penulis menuliskan Dhammapada 104, LPD (Sahasa Vagga 5) :

Penaklukan diri sendiri itulah yang jauh lebih luhur. Bahkan dewata maupun Gandhabba, Mara maupun Brahma tidak dapat mengalahkan kembali orang semacam itu, yang memiliki pengendalian dan penguasaan diri.

[ Dikutip dari Gema Dhammavaddhana ]

Kemanakah Seseorang Akan Melangkah



Kemanakah Seseorang Akan Melangkah


Oleh Raju Anandani


Sayang apabila seseorang telah dilahirkan sebagai manusia tetapi melupakan sama sekali tujuan hidupnya. Begitu asyik menikmati kesenangan inderawi, membaktikan diri kepada hal-hal duniawi, sehingga tidak mempunyai waktu untuk memikirkan yang lain. Sibuk dengan dunai beserta segala daya tariknya, dengan akibat lupa akan muat yang tak dapat dihindarkan itu; serta tetap bersikap demikian walaupun sering melihat bagaimana handai-taulannya satu-persatu pergi untuk tidak kembali lagi. Mereka pergi dengan tangan kosong dan meninggalkan semuanya di dunia ini. Kadang seseorang berpikir bahwa kematian hanya berlaku untuk orang lain dan bukan untuk diri mereka. Mereka terlalu sibuk bekerja dan melupakan siklus lahir dan mati, serta juga tak berusaha berhenti sejenak untuk merenungkannya. Mereka menghamburkan seluruh tenaganya, menjadi budak dari pikirannya dan tertipu oleh keinginannya. Sibuk bekerja dan tidak berhenti sebentar untuk memikirkan tujuan utama hidup manusia.



RUMAH KITA SEDANG TERBAKAR tetapi kita sibuk berusaha MEMADAMKAN API RUMAH ORANG LAIN. Rumah kita sendiri sedang dirampok, tetapi kita sibuk menjaga rumah orang lain. Kita hampir tidak dapat menanggung beban kita yang berat, tetapi kita menjadikan diri sebagai hewan beban buat orang lain. Kita tidak saja menipu diri sendiri melainkan juga dunia.



Pikiran bagaikan bola lampu. Bagaimana terangnya suatu bola lampu, tidak dapat memancarkan cahayanya apabila terbungkus oleh banyak lapisan kain hitam yang tebal. Meskipun ia menyala, ruangan di mana ia beraa tetap gelap gulita. Tetapi pada saat kita mulai melepaskan pembungkusnya maka ruangan akan menjadi semakin terang dan sewaktu pembungkus yang terakhir dibuka, ia akan menjadi terang-menderang. Semua daya upaya dan teknik yang digunakan haruslah ditujukan untuk menaklukkanb pikiran. Setiap agama mempunyai tujuan yang sama dan menekankan betapa pentingnya menaklukkan pikiran. Untuk mengendalikan pikiran seseorang, kadang ia mencoba seribu satu macam cara, sepertiL Berpaling pada pembacaan kitab suci, penyiksaan diri, beribadat, dan mandi di sungai suci, membaca ayat-ayat suci dan buku keagamaan, memberi sedekah dan membuat amalm membakar kemenyan dan api suci, meninggalkan rumah dan mengasinkan diri di hutan berantaram, menyembunyikan diri di gua pengunungan.



Dengan berdisplin, kita memncoba untuk melepaskan keterikatan pikiran dari benda keduniawi, tetapi karena pikiran kita tidak terikat pada sesuatu yang unggul, lebih luhur, maka ia akan memberontak dan melawan serta berbalik ke dunia dengan kekuatan dan kelicikan yang sama seperti semula. Seseorang boleh membisu, meninggalkan sanak keluarga, melarikan diri ke hutan atau gua, meninggalkan pakaian, meninggalkan rumjah dan hidup atas sedekah orang lain, berziarah ke berbagai tempat suci, menjalani penyikasaan diri, namun kalau belum dilatih dengan benar maka pikiarn tetap tidak akan kehilangan kekotoran dan keterikatannya kepada benda-benda duniawi. Karena terjerat dalam kecintaan dan keterikatan pada dunia dan kesenangan duniawi, maka pikiran mengembar tanpa tujuan bagai seekor rusa yang mempunyai kelenjar wangi di pusatnya, tetapi berlari ke sana ke mari di dalam hutan secara membabi-buta guna mencari bau wangi itu. Dengan berlatih meditasi, misalnya meditasi vipassana, kita dapat belajar mengendalikan pikiran. Sila, samadhim dan panna akan membawa kita menuju ke tujuan yang sebenarnya, untuk mendapatkan penerangan sempurna.



Seorang pertapa pernah mengatakan kepada seorang tukang kebun: "Kebunku adalah dunia ini; Ketrampilanku adalah berbuatan baik; Lahanku adalah sila; Kapakku adalah konsentrasi/meditasi; Gagangnya adalah kewaspadaan; Pohon yang kutebas adalah kemelekatan; Dengan ini aku selalu bisa menebas dan memutuskan pohon kemelekatan dan menuai hasilnya"...



Beliau juga pernah mengatakan: "Meditasi yang berbaik adalah kesabaran; Kebahagiaan yang terbaik adalah kepuasan; Kejahatan yang terburuk adalah keserakahan; Kebaikan yang terbaik adalah belas kasihan; Senjata yang tercanggih adalah mengampuni.



Seseorang yang menanam padi, akan memanen padi; Seseorang yang menanam racun, tidak dapat mengharapkan akan memanen madu".....



Untuk menempuh kebenaran dan menjalani Dhamma, terutama di zaman sekarang, tentu saja banyak rintangan dan godaan.



Socrates harus terpaksa meminum racun karena mengatakan kebenaran



Galileo harus menderita karena berani mengatakan bahwa bumi ini berbentuk seperti bola....



Mahatma Gandi ditembak karena mengusahakan perdamaian.....



Sang Buddha pernah berkata, "Saya tidak bertentangan dengan dunia, namun dunialah yang bertentangan dengan saya"....



Seorang filsuf pernah menuliskan empat peraturan yang sederhana:

  1. Sederhana dalam berpakaian, makanan, dan cara hidup setiap hari

  2. Bersikap suci dalam hidup, seperti bunga teratai yang tak ternoda oleh lumpur

  3. Berdoa dan bermeditasilah setiap saat seperti bunga Diasy yang selalu menghadap ke matahari

  4. Bersiap diri untuk mengabdi dan menolong kepada sebanyak mungkin orang yang anda jumpai.

Bunga Padma mempunyai akar yang berada di dalam air, namun ia tetap kering.... Sebuah perahu harus masuk ke dqalam air untuk berlayar ke tujuan, tetapi air tidak boleh masuk ke dalam perahu karena ia akan tenggelam.....



Contoh yang mudah, kita dapat menjumpai kehidupan yang kontras di India, di masa industri nuklir. Stasiun angkasa luar yang sedang bekerja mengirimkan sunyal-sinyak ke makhluk-makhluk nagkasa-luar di planet-planet lain, berada berdampingan denga kuil-kil di mana para pendeta membacakan mantera-mantera kuni yang telah berusia ribuan tahun lamannya. Para ilmuwan dan pendeta dapat hidup rukun.



Kita harus selalu bercermin pada ajaran-ajaran luhur Sang Buddha dan mempraktekkan Dhamma dengan sungguh-sungguh walaupun lingkungan tidak mendukung. Sang Buddha bersabda, "Siapa yang melihat Aku, melihat Dhamma; siapa yang melihat Dhamma, melihat Aku".....



Akhir kata, seorang penyari pernah menuliskan:



"Apabila Dhamma adalah angin, aku akan menjadi awan; melayang melewati langit, menunju "Pembebasan".



Apabila Dhamma adalah lautan, aku akan menjadi kapal lalu, menyebrangi lautan Dhamma, menuju pelabuhan "penerangan sempurna", terbebaskan dari belenggu tumibal-lahir.



Apabila Dhamma adalah bulan purnama, aku akan menjadi bintang yang jatuh; terjatuh bersujud di bawah pohon Bodhi, agar manusia mempraktekkannya.



Apabila Dhamma adalah sinar, aku akan menjadi cerminl mereflesikan pantulannya ke jalan spiritual, memancarkan cinta kasih yang universal.



Aku akan tetap menjadi, membagi apa yang di anugerahkan Dhamma kepadaku.



Dhammaku yang luhur, aku akan tetap mengikutinya"......





[
Dikutip dari Buku Mutiara Dhamma XIV ]

Kekuatan Dhamma


Kekuatan Dhamma

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Sri Pannavaro Sanghanayaka Mahathera


Saudara-saudara, sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2000. Banyak sekali yang menyebutkan bahwa awal tahun 2000 adalah saat kita memasuki milenium ketiga. Padahal sesungguhnya milenium yang ketiga itu baru dimulai pada tanggal 1 Januari tahun 2001. Tetapi Saudara, tidak apalah, kapanpun millenium ketiga itu disepakati dimulai, sesungguhnya perubahan-perubahan dan terus perubahan-perubahan terjadi dan mengalir sejak saat ini bahkan setiap saat. Menurut Dhamma, kesunyataan atau kebenaran sifat dari kehidupan, bahkan sifat dari segala sesuatu adalah perubahan. Adalah sangat salah kalau kita berfikir bahwa perubahan itu baru akan mendadak terjadi setelah kita memasuki tahun 2000 atau bahkan tahun 2001. Perubahan tidak pernah berhenti, perubahan terus terjadi. Itulah sifat segala sesuatu, itulah sifat kehidupan kita.

Saudara-saudara, abad ini demikian juga tentunya abad kemudian ditandai dengan penemuan-penemuan, penggunaan-penggunaan teknologi, berkembangnya ilmu pengetahuan dengan amat pesat sekali. Sangat sering pertanda ini digunakan untuk menandai kemajuan. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan penggunaan teknologi secara luas sangat banyak dirasakan oleh semua orang dengan ungkapan kemajuan, kemudahan, kenyamanan bahkan keberhasilan. Saudara-saudara, meskipun demikian marilah kita merenung dengan pikiran yang jernih dan bersama-sama bertanya kepada diri kita, kemudian marilah kita menjawab dengan jujur apakah kemajuan, kemudahan bahkan keberhasilan yang kita lihat sekarang seantero pelosok dunia membuat kehidupan ini benar-benar bahagia. Kesulitan-kesulitan berkurang, penderitaan menjadi lebih sedikit, ketegangan, persoalan-persoalan kehidupan menjadi semakin ringan. Jawabnya, hampir semua orang menjawab "tidak". Tidak mengherankan Saudara, karena ilmu pengetahuan dan teknologi meskipun amat membantu, tetapi harus diingat, ilmu pengetahuan dan teknologi dengan alat-alat yang dihasilkan dan kemudahan-kemudahan yang diberikan kepada kita semata-mata berhubungan dengan materi.

Dalam kehidupan ini Saudara, demikian juga Dhamma mengingatkan kepada kita, memang kita membutuhkan materi untuk kelangsungan kehidupan kita, untuk keluarga kita, demikian juga untuk masyarakat, untuk bangsa dan negara ini. Tetapi Saudara, sesuatu yang sangat-sangat penting yang harus diingat adalah "Materi bukan segala-galanya". Pada saat-saat tertentu kita akan merasakan, bahkan melihat materi tidak bisa berbuat banyak. Saudara-saudara, dalam suasana yang sedemikan kompleks, persaingan yang sedemikian keras dan terbuka, persoalan-persoalan juga berkembang dengan lebih pelik sekali. Menghadapi hal-hal di masyarakat, menghadapi persoalan-persoalan yang mungkin muncul dengan 1001 macam warna di masyarakat maupun di keluarga kita masing-masing, manusia acap kali merasa lemah. Seolah-olah tidak mampu lagi mengahadapi, kehabisan jalan, habis semangat untuk bertahan, habis semangat untuk maju mengisi kehidupan ini karena persoalan-persoalan ini suatu saat amat membebani kita. Tidak heran Saudara, bisa kita maklumi bersama karena memang semangat kita suatu saat sangat kuat tetapi pada saat yang lain sangat lemah, lemah sekali. Pada saat-saat kita lemah pada saat itulah kita memerlukan kekuatan.

Manusia memerlukan perlindungan untuk menghadapi persoalan-persoalan yang datang silih berganti, yang seperti di depan saya sebutkan sangat hebat sekali suatu saat menimpa kehidupan kita. Dalam keadaan yang seperti itu Saudara, manusia mencari pertolongan, perlindungan, kekuatan bahkan dan kadang-kadang manusia mencari dari manapun juga untuk bisa segera lepas dari segala macam beban yang rasanya menghimpit dengan amat berat sekali. Mereka pergi mungkin ke tempat-tempat keramat, ke tempat-tempat pemujaan yang dianggap ampuh. Ke gunung-gunung yang besar ke kekuatan-kekuatan alam yang mungkin dipercayai bisa memberikan bantuan kekuatan pada dirinya untuk mengatasi dalam menghadapi persoalan-persoalan kehidupan yang berat itu.

Saudara-saudara, umat Buddha tentu sudah dibekali dengan perlindungan. Sejak awal seseorang mengenal Ajaran Agama Buddha dan kemudian menerimanya dengan kesadaran dan pengertian, maka sejak awal orang ini kemudian menyebutkan, menyatakan dengan kesungguhan "Aku berlindung kepada Buddha, aku berlindung kepada Dhamma, aku berlindung kepada Sangha". Buddham saranam gacchami, Dhammam saranam gacchami, Sangham saranam gacchami. Saat pertama sekali seseorang mengucapkan aku berlindung kepada Buddha, Dhamma dan Sangha dengan sadar dan mengerti apa yang diucapkan, pada saat itulah dia sebagai umat Buddha, dia sudah menjadi umat Buddha, sekalipun tidak dengan upacara yang resmi, tidak dengan pentahbisan pemercikan air dan sebagainya. Pernyataannya berlindung kepada Tri Ratna itu yang diucapkan dengan sadar dan dimengerti artinya yang membuat seseorang menjadi umat Buddha.

Saudara-saudara, tetapi benarkah kita sudah dilindungi atau bagaimanakah kita berlindung dengan mengucapkan aku berlindung kepada Tri Ratna, Buddha Dhamma dan Sangha? Apakah sudah benar aku dilindungi dari segala macam kesulitan, kesusahan, penderitaan dan segala macam? Saudara-saudara, jawabnya adalah ya, untuk sementara. Seseorang yang telah menyatakan berlindung kepada Tri Ratna, Buddha Dhamma dan Sangha secara kejiwaan, secara psikologis dia telah mempunyai perlindungan. Perasaannya menjadi puas, perlindungan seperti itulah yang mungkin boleh diistilahkan sebagai perlindungan emosional. Emosinya mendapatkan perlindungan, timbullah rasa mantap, rasa aman, aman secara psikologis. Inilah yang saya sebutkan sebagai ya, orang yang menyatakan berlindung kepada Tri Ratna dia merasa mempunyai perlindungan sementara. Saudara-saudara, tetapi menyatakan berlindung kepada Tri Ratna saja, kemudian seseorang merasa mendapatkan perlindungan, rasanya sudah dilindungi, bukanlah cara berlindung yang sesungguhnya. Bukanlah cara berlindung yang benar dan berlindung seperti itu hanya bisa memberikan kepuasan emosi, tidak menyelesaikan pendertitaan, tidak mengurangi persoalan-persoalan yang menghimpit, hanya melegakan emosi kita.

Siapakah sesungguhnya Tri Ratna itu Saudara? Buddha Dhamma dan Sangha, Saudara. Buddha, Dhamma dan Sangha sesungguhnya mempunyai inti "Kesadaran Agung". Karena kesadaran agung, pertapa atau Bodhisattva Siddharta mencapai penerangan sempurna menjadi Buddha Yang Sempurna. Dhamma mengajarkan kesadaran agung yang harus kita latih, yang harus kita pupuk untuk menyadari proses, fenomena kehidupan kita, perasaan kita, pikiran kita, kehidupan kita. Sedangkan Sangha adalah batin mereka-mereka yang telah mencapai kesucian, kebebasan-kebebasan dari penderitaan secara total karena telah mengembangkan kesadaran agung.

Saudara-saudara, pada suatu ketika, saya memberikan sebuah buku kepada seorang pejabat tinggi, buku tentang meditasi. Saya jelaskan kepada pejabat tinggi ini, buku ini sangat baik. Meskipun sudah lama, lebih dari 20 tahun saya menjadi Bhikkhu, pada waktu saya membaca buku ini saya mendapat pengetahuan yang amat berharga. Kemudian pejabat ini bertanya kepada saya, "Bhante, kalau boleh saya mengetahui, apakah yang menjadi kata kunci ajaran agama Buddha?" Suatu pertanyaan yang sederhana Saudara, tetapi menantikan jawaban yang tidak sederhana. Baiklah, saya menjawab kepada pejabat tinggi ini: "Bapak, kata kunci seluruh ajaran agama Buddha boleh disimpulkan dengan kesadaran dan pengertian yang benar serta lengkap". Itulah kata kunci ajaran agama Buddha.

Saudara-saudara, kesulitan dan penderitaan menurut hukum kesunyataan atau hukum alam yang universal pasti muncul, berkembang karena ada kondisi, karena ada sebab-sebab yang mengakibatkan kesulitan, persoalan, ketegangan, bahkan penderitaan dan kesengsaraan itu muncul dan menjadi beban kita. Tidak ada fenomena, kejadian, demikianlah kalimat yang mudah yang muncul yang kita rasakan dalam kehidupan kita ini, yang menyenangkan atau pun yang tidak menyenangkan, yang muncul mendadak sontak begitu saja, seolah-olah seperti hadiah atau hukuman dari atas langit. Tidak saudara, segala macam yang kita alami dalam kehidupan ini muncul karena sebab-sebab, kondisi-kondisi, faktor-faktor yang mendahului, yang membuat, yang mengakibatkan segala fenomena, kejadian yang kita alami ini muncul dan kita rasakan.

Saudara-saudara, sekarang kalau kita menggunakan kesadaran kita, kewaspadaan kita, kejelian kita mengamat-amati gerak-gerik pikiran kita, gerak-gerik perasaan kita yang setiap hari dirangsang, ditarik-tarik, digoda-goda oleh nafsu, oleh kenikmatan, oleh kebencian, oleh yang menarik, oleh yang menjemukan dan sebagainya. Kemudian perasaan dan pikiran kita itu bergerak, kita ingin demikian, kita ingin seperti itu, kita ingin begini kita ingin begitu. Kemudian kita merencanakan dan kemudian kita melakukan. Itulah awal munculnya segala macam persoalan kehidupan ini. Adalah sangat benar saudara kalau di dalam kotbahnya yang pertama sebelum Sang Buddha memulai pengabdian 45 tahun kepada dunia ini, dalam kotbahnya yang pertama beliau menyampaikan dengan terang, dengan jelas sekali, penderitaan ini disebabkan oleh nafsu keinginan. Dalam menganalisa penderitaan manusia, Sang Buddha tidak pernah melibatkan apalagi kemudian menarik-narik untuk dijadikan sebab, menarik-narik makhluk-makhluk halus, makhluk-makhluk dari atas langit menjadi sebab penderitaan. Tidak Saudara, penderitaan ini seratus persen disebabkan oleh nafsu keinginan kita.

Tetapi Saudara, sekarang pertanyaan muncul. Kalau nafsu keinginan mengakibatkan penderitaan maka kalau nafsu keinginan itu dikurangi, penderitaan tentu akan berkurang. Tetapi kalau demikian apakah kita tidak boleh mempunyai keinginan Bhante? Apakah kita tidak boleh maju, karena kalau kita mempunyai keinginan kita akan menderita. Saudara-saudara, yang menjadi masalah utama sesungguhnya bukan keinginan. Apakah yang menjadi masalah utama? Racun yang meracuni keinginan kita itulah yang membuat kemudian keinginan itu menumbuhkan, mengakibatkan penderitaan, kesulitan, persoalan yang sambung menyambung dan kemudian kesengsaraan yang tidak habis-habisnya.

Oleh karena itulah Saudara, tidak dilarang kita mempunyai keinginan. Tetapi marilah kita waspadai keinginan kita, kemudian kita memanggil semua pengertian kita, kita pertimbangkan keinginan itu apapun keinginan itu, dengan pertimbangan pengertian kita yang benar dan lengkap. Dengan demikian keinginan itu tidak akan membuat kita kemudian tersiksa dan menderita. Pada saat timbul perasaan senang, pada saat timbul persasaan tidak senang, pada saat pikiran kita ingin demikian, ingin begini , ingin begitu, eh nanti dulu. Sekarang kita periksa keinginan itu, dengan pengertian kita yang lengkap. Inilah yang dikatakan sampajanna. Apakah keinginan itu benar, apakah keinginan saya itu bermanfaat, o.. memang benar dan bermanfaat. Tetapi apakah saya cukup mempunyai kemampuan untuk melaksanakan keinginan itu. Meskipun itu benar Saudara, meskipun itu bermanfaat. Kalau seseorang, kalau kita tidak mampu, tidak mempunyai kemampuan yang cukup dalam melaksanakan, maka meskipun benar dan bermanfaat, keinginan itu akan mengakibatkan kesulitan dan penderitaan. Bukankah demikian Saudara?

Suatu ketika timbullah keinginan untuk mempunyai rumah yang lebih besar, untuk mempunyai kendaraan yang lebih mewah. Memang ini bukan kejahatan, memang ini bermanfaat, tetapi mampukah kita melaksanakan itu sekarang? Dengan segala cara itu akan ditempuh. Nah keinginan yang tidak sesuai dengan kondisi atau kemampuan yang kita punyai akan menjadi sumber penderitaan. Anak-anak kita Saudara, di sekolah mereka melihat dan belajar komputer, melihat teman-temannya menggunakan motor. Kemudian mereka pulang ke rumah dan mereka minta kepada orang tuanya dibelikan komputer dan motor. Yah, sebagian orang mungkin mampu, tetapi sebagan besar keluarga kita di daerah-daerah tidak mampu untuk itu. Anak ini tidak pernah mendapatkan pelajaran mengendalikan diri, tidak melepaskan tetapi menunda keinginan mengendalikan diri. Tidak pernah! Yang dia tahu, dia marah karena orang tua tidak bisa memberikan motor dan komputer. Yang dia sudah merasakan kenyamanannya, yang dia sudah menggunakan berkali-kali di sekolah atau di rumah teman-temannya. Kemudian keinginannya ini mengakibatkan penderitaan. Bukankah begitu Saudara? Seseorang mungkin menginginkan pasangan, istri yang cocok tetapi kemudian meleset, itupun penderitaan. Kalau mendapatkan pasangan yang sesuai, istri yang cantik, yang setia, yang rendah hati, aduh mungkin bahagia sekali. Tetapi setelah lima tahun, enam tahun, kemudian bosan! Eh, timbul keinginan mencari istri yang baru, meskipun mungkin tidak resmi. Keinginan ini kalau diikuti akan menimbulkan penderitaan, kesulitan, masalah yang tidak ringan.

Saudara-saudara, bukankah demikian penderitan dan kesulitan yang datang pada kita? Oleh karena itu marilah kita gunakan kesadaran kita, kewaspadaan kita, kejelian kita untuk mengamat-amati gerak-gerik keinginan kita. Kalau timbul keinginan ini atau keinginan itu sekalipun itu baik dan bermanfaat, marilah kita panggil segala pengertian kita, kemudian kita saring, kita seleksi apakah keinginan ini sesuai untuk saya. Kalau kita menggunakan kesadaran dan pengertian yang lengkap, sati dan sampajanna dalam Bahasa Pali, maka keinginan yang timbul itu akan terseleksi, terpilih sehingga tidak mengakibatkan penderitaan, kesengsaraan, kesulitan, tekanan mental yang datang tidak henti-hentinya.

Saudara-saudara, mengerti penderitaan berakar atau timbul dari keinginan yang berkelebihan, keinginan yang beracun keinginan yang tidak benar, kemudian mengerti kita harus menggunakan kesadaran kita dan mempertimbangkan semua keinginan dengan pengertian yang lengkap. Itulah saudara berlindung yang benar kepada Tri Ratna. Berlindung dengan cara yang demikian akan memberikan kekuatan Dhamma kepada kita. Kekuatan untuk mengurangi dan menyelesaikan penderitaan, kekuatan untuk tidak membuat penderitaan baru dengan mewaspadai, mengamat-amati, menyadari gerak-gerik keinginan kita, selera kita dan kemudian kita panggil pengertian kita untuk memberikan pertimbangan, kemudian untuk memberikan keputusan. Dengan demikian keinginan kita ini akan sesuai di jalan Dhamma. Keinginan yang membawa kita maju, sejahtera, bahagia tetapi bukan keinginan yang mengakibatkan penderitaan, beban mental, kesulitan, ketegangan dan kesengsaraan yang tidak ada habis-habisnya.

Saudara-saudara, saya ingin berhenti sebentar, sekali lagi marilah kita renungkan, bukanlah makhluk halus yang membuat kita menderita, bukan dari atas langit yang membuat kita sengsara dan kemudian dikatakan terkena percobaan atau hukuman. Tetapi keinginan yang sembrono, keinginan yang tidak terkendali, keinginan yang tidak dipertimbangkan karena tidak ada kesadaran dan kewaspadaan, keinginan itu kemudian kita turuti, merambah, berkembang dan itulah yang kemudian mengakibatkan penderitaan. Mengerti ini dengan jelas dan terang Saudara, adalah cara yang benar untuk menyelesaikan penderitaan dan itulah berlindung yang benar kepada Buddha, Dhamma dan Sangha.

Saudara-saudara sekalian, tidak cukup kita menyatakan dengan sepenuh hati aku berlindung kepada Buddha, kepada Dhamma, kepada Sangha. Tetapi menggunakan kesadaran, mengamat-amati pikiran, keinginan kita, kemudian memanggil pengertian untuk memberikan pertimbangan dan keputusan, itulah cara untuk mengakhiri penderitaan. Setidak-tidaknya mengurangi penderitaan dan persoalan dalam kehidupan ini. Itulah Saudara, jalan keluar dan kekuatan yang amat besar yang diberikan oleh Guru Agung kita Sang Buddha kepada kita. Berlindung yang benar kepada Tri Ratna, Buddha Dhamma dan Sangha, seseorang akan melihat penderitaan, sebab penderitaan, jalan untuk melenyapkan penderitaan dan dengan berlindung yang benar ini, sabba dukkhapamujati, semua penderitaan akan lenyap.

[ Dari Kaset Khotbah Hut XIV Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya ]

Kebingungan Di Zaman Modern


Kebingungan Di Zaman Modern

Oleh: Yang Mulia Bhikkhu K. Sri. Dhammananda Nayake Mahathera


Zaman modern sekarang ini ditandai dengan perubahan cepat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan terjadi begitu cepatnya, sehingga dunia yang berputar dan terpencar-pencar tidak sempat kita lihat dengan mata kepala sendiri. Dunia tidak lagi berada dalam ketenangan seperti pada masa lalu. Hal ini adalah wujud zaman di mana masyarakat tradisional terancam hancur berhadapan dengan misteri dari modernisasi.

Perubahan terjadi sangat cepat mengikuti perkembangan zaman. Perubahan pada masa lalu akan memakan waku ratusan atau bahkan ribuan tahun, namun kini telah berubah sedemikian cepatnya hampir seperti kasus Ricky Galant yang menderita progenia. Ia meninggal dunia pada bulan Maret 1967 di Kanada, pada usia 11 tahun. Ricky menderita gejala usia tua, pengerasan urat nadi, kebotakan, kulit yang kendur, dan keriput. Ciri khas orang yang telah berusia 90 tahun terjadi pada dirinya yang masih berusia 11 tahun.

Seratus tahun kehidupan umat manusia belakangan ini, berubah sangat besar, yang dimulai dari negara-negara berkembang meluas ke seluruh dunia.

Kita menyaksikan ledakan penduduk dunia; cepatnya pertumbuhan industri ekonomi dan urbanisasi; perkembangan pengetahuan yang belum pernah terjadi sebelumnya; perkembangan teknologi yang begitu cepat; pengikisan nilai tradisional serta perkembangan maupun hilangnya norma baru beserta sub kebudayaan.

Perubahan dalam lingkungan ini mempunyai dampak yang sangat besar terhadap dimensi sosial kebudayaan. Perubahan cepat yang tak terelakan membuat perubahan bentuk masyarakat yang besar-besaran, membawa ketidak-teraturan dan kekacauan pada semua tingkat pengalaman maupun kebiasaan manusia; perseorangan, keluarga, masyarakat serta semuanya.

Kebingungan Tingkat Perorangan

Sekarang ini, hampir tidak mengherankan bahwa apa yang disebut masyarakat yang sangat maju diliputi oleh keserakahan, ketakutan, kebencian. Bertambahnya jumlah orang yang mengalami kegelisahan, frustasi, iri hati, dan kemarahan. Banyak, terutama kaum muda yang dibesarkan dalam lingkungan kekayaan dan kemewahan, hidupnya menjadi tidak berarti.

Karena kemarahan dan frustasi, mereka bergabung dengan gerakan protes terhadap segala sesuatu. Mereka menentang cara konvensional yang dilakukan oleh "penguasa" dan membantu terjadinya proses kemerosotan, standar moral, kehancuran kehidupan keluarga, dan pemujaan yang berlebih-lebihan terhadap seni, dansa, dan mode dalam masyarakat mereka.

Tak dapat disangkal lagi, dengan perubahan dan kemakmuran yang demikian, orang menjadi kesepian dan bosan. Ini bukan merupakan suatu hal yang janggal bahwa di dunia yang berpenduduk lebih dari 4,5 milyar, orang masih dapat merasa kesepian. Sampai taraf tertentu, memang demikian adanya. Tetapi sendirian bukan berarti seseorang merasa kesepian. Seorang meditator mungkin sendirian di dalam hutan, namun ia menggunakan waktunya untuk mengambangkan pikirannya. Seseorang dapat berada di tengah-tengah pesta, meskipun di tengah keramaian, namun ia sangat dikuasai perasaan kesepian yang kuat.

Seperti dikatakan orang, "Ketika sendirian, saya tidak kesepian karena saya bebas melakukan apa yang saya suka. Seringkali bila saya bersama orang lain dalam masyarakat, saya mengalami kesepian dan merasa asing dan curiga terhadap diskriminasi, formalitas, tata cara dan tradisi di mana masyarakat kita yang penuh dengan hal-hal tersebut".

Kebosanan

Ikatan yang dekat dengan kesepian adalah kebosanan. Kebosanan merupakan keadaan jiwa yang mengganggu manusia dalam berbagai tingkat. Sebagian orang hampir tidak pernah merasakan kebosanan, sementara yang lainnya merasa kebosanan merupakan ciri pembawaannya. Yang terakhir mungkin mempunyai segalanya —kekayaan, kekuasaan, bahkan kesuksesan namun tetap merasakan kebosanan.

Mereka melihat hidupnya hampa, diisi dengan pekerjaan rutin dan kurang mempunyai arah hidup. Mereka berusaha mengatasi kebosanan dengan melakukan hal-hal yang kurang pantas seperti berpakaian menyolok atau tata rambut yang seronok, berjudi, terlibat pencurian dan perkelahian yang memalukan, yang sesungguhnya hanyalah untuk menciptakan kesenangan dalam hidup mereka. Tetapi karena mereka asyik dengan diri mereka sendiri dan keinginan yang serakah, untuk mengalihkan usaha mereka ke arah kebaikan, namun kebosanan itu tetap berlanjut tanpa mereda. Seperti suatu usaha yang sia-sia, mencoba menimbun jurang tanpa dasar dengan segenggam batu kerikil.

Kadang-kadang keluar dari jurang kebosanan,orang beralih pada alkohol untuk menghilangkan kebosanan maupun kesepian mereka. Sayangnya alkohol tidak dapat membersihkan kesulitan seseorang; malah hanya memperburuk persoalan, bagaikan menuang bensin ke dalam api.

Penyalahgunaan Obat Bius

Penyebab utama lain dari kemerosotan jasmani dan batin manusia adalah penyalahgunaan obat bius seperti heroin, kokain, dan mariyuana. Penggunaan narkotik telah menciptakan momok bagi dunia karena kecanduan obat bius, menimbulkan pribadi kasar dan masalah sosial. Akibat dari penyalahgunaan obat bius lebih serius dan mematikan daripada alkohol. Kematian dapat terjadi karena penggunaan obat bius yang berlebihan, seperti anak senator Robert Kennedy yang meninggal pada usia sekitar 20 tahunan. Pencurian, perampokan, kejahatan seksual, penipuan dilakukan karena obat bius.

Ibu-ibu yang menggunakan narkotik dan alkohol mempunyai resiko yang tinggi mempunyai bayi yang cacat. Akibat dari obat bius, orang tua tidak mengindahkan anak-anaknya, saudara laki-laki melawan saudara perempuannya, istri melawan suami. Sekali seseorang ketagihan obat bius, kesempatan untuk menghentikannya dan tidak mengulangi lagi mendekati angka nol.

Pemerintah menghabiskan dana yang sangat besar untuk merehabilitasi pecandu obat bius dan menjalin kerja sama internasional untuk menghentikan lalu lintas obat bius, bisnis yang bernilai miliaran dollar. Negara kehilangan sumber tenaga kerja karena manusia menjadi tidak produktif, sehingga tidak dapat menyumbangkan tenaga untuk kesejahteraan nasional. Pengeluaran untuk penjagaan dan pencegahan kejahatan semakin ditingkatkan seiring dengan meningkatnya sindikat kejahatan obat bius.

Sebagai warga negara yang baik adalah tugas kita untuk membantu dengan cara yang dapat kita lakukan, paling tidak melalui lembaga keagamaan dan sosial pendidikan untuk mencegah anak-anak kita dan anggota masyarakat lainnya jatuh ke dalam perangkap obat bius. Kita harus melindungi mereka dari hal-hal yang berhubungan ketagihan obat bius, yang sama artinya dengan neraka dan siksaan dunia. Jauhkan dari ancaman obat bius dan bantulah yang lain melakukan hal ini; ini pasti merupakan suatu cara membantu yang sangat baik bagi umat manusia.

Kebingungan di Dalam Keluarga

Di zaman perubahan sosial budaya yang pesat ini, mungkin tidak ada lembaga yang berubah begitu radikal seperti suatu keluarga. Dalam masyarakat pertanian, keluarga lebih besar daripada di daerah perkotaan, karena anak-anak merupakan sumber tenaga kerja yang murah dalam pertanian. Ayah adalah pencari nafkah dan pasti adalah kepala keluarga. Perceraian jarang terjadi pada keluarga yang dilengkapi dengan ekonomi yang memadai, bekal agama dan pendidikan cukup baik. Ketidakcocokan bukanlah merupakan alasan retaknya suatu perkawinan yang baik.

Karena modernisasi masyarakat, banyak fungsi-fungsi yang ada dalam keluarga bergeser pada lembaga-lembaga lainnya. Sekolah mengambil alih fungsi pendidikan dan keluarga tidak lagi merupakan suatu unit ekonomi. Sukses di dalam perkawinan lebih banyak diukur dengan hubungan emosional dan kurang diukur dari kriteria keadaan ekonomi.

Sekarang ini, orang menikah karena "cinta yang romantis", persahabatan, dan "kebahagiaan" daripada untuk kepuasan standar kehidupan. Jika anda menikah karena "cinta", apa yang akan terjadi —kira-kira— bila suatu saat cinta itu hilang.

Perceraian

Dahulu, suatu perkawinan mungkin berakhir dengan kematian pasangan hidup. Perceraian kelihatannya tidak hanya kurang baik di mata masyarakat, tetapi juga timbulnya kesulitan yang semakin besar. Tetapi, dengan kemajuan teknologi dan meningkatnya standar hidup, orang cenderung hidup lebih panjang dan kebosanan rupanya perlahan-lahan merayap dalam kehidupan perkawinan mereka.

Banyak orang bercerai untuk menghindari kebosanan. Dalam masyarakat industri, separuh dari perceraian terjadi setelah menikah selama delapan tahun dan seperempatnya setelah menikah selama lima belas tahun. Dalam kehidupan mereka, banyak perceraian tidak hanya sekali tetapi berkali-kali.

Statistik menunjukkan perceraian lebih tinggi terjadi pada mereka yang terlibat show bisnis. Orang teater seperti Joan Fontaine, menikah berkali-kali, mengatakan bahwa perkawinan benar-benar suatu omong kosong dan orang bijaksana dapat saja hidup dan bercinta lebih baik tanpa ikatan perkawinan. Seorang bintang film terkenal dengan bangga mengumumkan kepada pemirsa TV diiringi dengan tepuk tangan hadirin yang antusias, bahwa ia mempunyai lima belas suami. Tentu saja ini adalah kemerosotan moral umat manusia, memuji gagalnya usaha seorang wanita untuk hidup dan membangun kehidupan keluarga bahagia bersama dengan lima belas mantan suami.

Sementara, orang selalu mengharapkan perkawinan yang bahagia untuk melengkapi seluruh hidup mereka. Harapan ini tidak selalu dapat terpenuhi. Dalam hiruk pikuk pengejaran cinta, pernikahan demikian kelihatannya kurang mampu menjanjikan kehidupan cinta yang panjang. Banyak orang yang memasuki ikatan perkawinan mengetahui bahwa hubungan seperti itu mungkin tidak panjang. Banyak orang memasuki apa yang dalam istilah sosiologi disebut sebagai "poligami berseri", mereka mengganti pasangan nikah seperti perusahaan mengganti mobil.

Dengan bertambahnya tingkat perceraian, timbullah masalah sosial lainnya. Anak-anak terluka secara emosional atau bahkan secara kejiwaan, menjadi trauma akan pengalaman perceraian orang tuanya. Kenakalan remaja sering dapat ditelusuri pada keluarga yang tidak bahagia pada pengalaman masa kanak-kanak. Cara yang dipakai orang untuk memuaskan kekurangpuasan mereka menciptakan masalah tidak hanya untuk mereka sendiri tetapi juga keturunan mereka dan orang lain.

[ Dikutip dari Majalah Jalan Tengah edisi No. 60 Tahun ke-5, Judul Asli: Confusion in the Modern Age; Voice of Buddhism, Malaysia Vol. 29, No. 2, Desember 1991; Alih Bahasa: Joe Hoey Beng, SE; Editor: Nani Linda, SH
]

Kebijaksanaan Dhamma

Kebijaksanaan Dhamma
Oleh: Yang Mulia Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera


Saat ini saya akan membicarakan suatu uraian Dhamma yang agak luas dan mendalam. Oleh karena itu saya minta perhatian saudara, karena mungkin uraian ini bukan sesuatu yang mudah ditangkap. Meskipun memang hampir semua ajaran Sang Buddha bukan ajaran yang sederhana. Ajaran Sang Buddha adalah suatu ajaran yang jelas; Sang Buddha tidak pernah mengajarkan ajaran yang samar-samar atau dengan perumpamaan-perumpamaan yang mungkin bisa disalah-tafsirkan.

Sang Buddha selalu mengajarkan Dhamma dengan terang dan jelas itu seperti kalau kita melihat suatu benda, siapa yang mempunyai mata akan dapat melihat benda itu dengan terang dan jelas. Ajaran Sang Buddha yang terang dan jelas itu akan menjadi terang dan menjadi jelas, kalau saudara melihatnya dengan pikiran, dengan pengertian dan perenungan; karena ajaran Sang Buddha tidak hanya menawarkan: "Anda percaya atau tidak!" Tidak hanya begitu.

Kalau ajaran Sang Buddha itu hanya menawarkan 'Anda percaya atau tidak', maka itu sesuatu yang amat mudah. 'Kalau anda tidak mau percaya, ya sudah; tetapi kalau anda percaya maka anda akan memperoleh manfaat'. Ajaran Sang Buddha sama sekali tidak demikian. Meskipun saudara mendengar tetapi kalau mendengar dengan telinga, tidak mendengar dengan pemikiran maka belum tentu saudara bisa menangkap apa yang diajarkan Sang Buddha.

Saudara-saudara, untuk mengerti agama Buddha memang harus menggunakan akal; dalam bahasa Indonesia sering dikatakan penalaran. Kalau saudara tidak menggunakan penalaran, saudara bisa mendengar tetapi tidak mengerti. Apalagi kalau kita menguraikan hal-hal yang sangat mendalam, karena ajaran Sang Buddha ini tidak hanya mengajarkan saudara menjadi orang yang baik tetapi ingin mengajak saudara menjadi orang yang bijaksana. Mengapa demikian?

Karena menjadi orang yang baik saja tidak cukup, sangat tidak cukup! Orang yang baik tapi kurang memiliki kebijaksanaan, maka bila suatu saat ia menghadapi persoalan, ia akan luntur, ia akan meninggalkan kebaikan yang dilakukannya. Buddha Dhamma mengajarkan kita bagaimana menjadi orang yang baik dan dilengkapi dengan kebijaksanaan. Oleh karena itu, berusahalah untuk mengerti Dhamma dengan baik. Dhamma itu seolah-olah permata atau pelita yang kalau kita dalam kebingungan, keruwetan, Dhamma itu memberikan kita arah sehingga memberikan semangat untuk melanjutkan kehidupan ini.

Ajaran Sang Buddha yang pertama adalah jangan menjadi orang bodoh. Bodoh yang dimaksud Sang Buddha ini bukan bodoh karena kurang sekolah, tetapi bodoh tidak mengerti sifat kehidupan ini. Dhamma membuat saudara menjadi mengerti tentang kehidupan ini, menjadi bijaksana.

Saudara-saudara, tidak usah kita mempunyai keinginan yang macam-macam, yang macam-macam itu adalah yang 'wonder-wonder', yang ajaib-ajaib. Saya tidak cenderung untuk bicara tentang dewa, makhluk halus, alam lain, meskipun itu memang ada dibicarakan oleh Sang Buddha, tetapi sangat sedikit. Apakah yang menjadi tujuan utama Sang Buddha? Yang menjadi tujuan utama Sang Buddha adalah bagaimana umat manusia ini bisa menjadi bijaksana. Kebijaksanaan itu sangat mahal sekali harganya, dan sangat berguna. Bukan melihat dewa, bukan melihat makhluk halus.

Dalam kehidupan ini, kita mengalami bermacam-macam perubahan. Bila itu perubahan yang menyenangkan, tidak jadi masalah; dari rendah menjadi tinggi, dari miskin menjadi kaya, dari kecil menjadi dewasa, semua orang dapat menerimanya; Dhamma, agama, tidak perlu campur tangan. Tetapi sebaliknya, dari yang berpangkat menjadi tidak berpangkat, dari kaya menjadi menurun, kalau tinggi menjadi rendah, kalau di atas kemudian sekarang menjadi di bawah, kalau utuh kemudian pecah, kalau sehat kemudian sakit, kalau sekarang rambut hitam kemudian menjadi warna keputih-putihan, siapkah saudara menghadapi itu? Hal-hal itu tidak bisa dihindari. Setiap saat kita bisa meninggal, dan kita tidak tahu kapan kita meninggal. Ini adalah kenyataan dari kehidupan ini. Biasanya kenyataan yang tidak enak, orang-orang tidak mau mengerti. Manusia inginnya bicara tentang surga, bahagia, untung besar, dan sebagainya, tetapi sulit menerima perubahan yang tidak menyenangkan.

Ada satu contoh, kenyataan yang terjadi. Seorang ibu di Samarinda punya anak 2 orang, satu perempuan, satu laki-laki. Yang perempuan sudah lulus SMA dan kuliah di Petra, Surabaya. Yang laki-laki ini baru lulus dari SMA dan mendaftarkan di suatu Perguruan Tinggi di Yogya, dan kemudian dia ikut posma. Suatu ketika perutnya sakit, teman-temannya membawanya ke rumah sakit, sampai kemudian masuk ICU. Malamnya meninggal dunia. Ibunya yang di Samarinda ditelpon, dan spontan besok paginya dia datang. Orangtuanya ini pingsan berkali-kali. Orangtua ini tidak pernah mengira, tidak pernah diramal, tidak pernah punya firasat, bahwa anaknya yang sekolah di Yogya akan meninggal di sana. Tidak pernah terpikir. Dan kenyataannya anaknya telah meninggal. Tetapi seleranya, pikirannya, tidak bisa menerima kalau anaknya meninggal.

Saudara-saudara, apakah seseorang yang pikirannya belum siap, seperti si ibu yang belum siap menerima kenyataan tersebut, lalu anaknya akan hidup kembali? Tidak bisa. Terjadilah konflik di dalam batin si ibu. Konflik itu perang. Konflik yang dahsyat itu bukan perang antara suami dan istri, tapi perang antara selera/nafsu kita dengan kenyataan. Kenyataannya anaknya sudah meninggal, tapi seleranya tidak mau kalau anaknya meninggal, jadi perang terus. Siapa yang menang? Kenyataan yang menang. Tetapi kalau dia sudah mau menerima kenyataan bahwa anaknya sudah meninggal, pada saat itu stresnya akan berkurang, ketegangan mentalnya akan berkurang. Tetapi selama dia masih belum bisa menerima anaknya meninggal, selama itu dia konflik. Mungkin satu bulan, dua bulan, tiga bulan, sampai mungkin satu tahun, dua tahun, penasaran terus.

Apakah semua orang akan mengalami kasus seperti ibu yang di Samarinda itu? Belum tentu. Tetapi yang pasti, saudara akan mengalami perubahan yang tidak sesuai dengan keinginan saudara. Sudah siapkah saudara menerima semua itu? Jadi, hanya sekedar menjadi orang baik itu tidaklah cukup. Kalau orang ini tidak dilengkapi dengan kebijaksanaan, maka ia kemudian akan meninggalkan kebaikan.

"Saya sudah berbuat baik sekian lamanya, tapi kok saya masih menghadapi bermacam-macam kesulitan. Ah... apa gunanya melakukan kebaikan, apa perlunya melakukan kebaikan, saya tidak mendapat manfaat dari kebaikan yang saya lakukan". Orang seperti itu tidak dilengkapi dengan kebijaksanaan. Kebijaksanaan Dhamma itu yaitu mengerti sifat kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.

Pengertian yang lainnya lagi. Kalau kita berdagang, maka resikonya kita bisa mengalami kerugian. Itu sudah hukumnya. Inilah Dhamma. Kalau saudara berdagang tetapi saudara tidak siap menerima kerugian, maka saudara akan menjadi orang yang sangat kecewa. Demikian juga bila punya mobil baru, resikonya mungkin bisa digores orang, ditabrak oleh sopir, hancur, harus begini. Sebetulnya jawabannya mudah. Saudara mengalami begitu karena saudara punya mobil. Kalau anda tidak ingin resiko seperti itu, jangan punya mobil, selesai! Mudah sekali. Semakin banyak saudara punya keinginan atau hawa nafsu, bila tidak dilengkapi dengan kebijaksanaan, saudara akan semakin menderita.

Punya anak juga harus menanggung resiko, seperti misalnya anak nakal, tidak mau pulang ke rumah, menghabiskan uang dan lain-lain. Itu resikonya, saudara. Bila tidak ingin punya persoalan dengan anak, jangan punya anak. Lalu apakah kita tidak boleh punya anak, tidak boleh punya mobil, tidak boleh punya rumah? Bukan demikian.

Kalau saudara menginginkan yang banyak, tidak ingin mempunyai barang-barang yang banyak, itu baik, itu salah satu cara. Tetapi ada cara yang lain. Silakan punya mobil, silakan punya rumah yang besar, silakan punya pabrik yang besar, silakan punya anak, punya istri, punya suami, dan sebagainya, tetapi siap dengan resiko yang akan dihadapi. Kalau tidak siap dengan resiko yang akan dihadapi lebih baik tidak punya. Jadi Sang Buddha itu menjelaskan kepada kita seperti menjelaskan aksioma. Banyak keinginan, banyak masalah; banyak barang-barang, banyak masalah. Sedikit keinginan, sedikit masalah; sedikit barang-barang, sedikit masalah. Itu cara yang pertama.

Cara yang kedua: siap mempunyai barang-barang tetapi siap juga mengalami perubahan. Itulah pilihan untuk saudara. Mengurangi masalah dengan mengurangi keinginan. Atau mengurangi masalah dengan menambah kebijaksanaan. Siap menerima perubahan setiap saat. Kalau saudara tidak siap menerima perubahan, lebih baik saudara tidak banyak keinginan.

Dari penjelasan ini saudara akan melihat dengan jelas bahwa menjadi orang baik saja tidaklah cukup. Saudara harus siap menghadapi perubahan. Perubahan atas istri, atas suami, atas anak, atas rumah, atas pekerjaan. Saudara tidak bisa mengatakan: "Aku tidak mau perubahan". Tidak bisa saudara.

"Aku mau perubahan yang baik-baik saja. Aku tidak mau perubahan yang tidak menyenangkan". Memang keinginan kita itu begitu, tetapi kondisi tidak memungkinkan begitu. Inilah Dhamma.

Saudara melihat dewa, melihat mahluk halus, itu memang sulit. Sulit sekali. Saudara harus meditasi, mengembangkan Jhana, harus mempunyai dibbacakkhu, baru bisa melihat makhluk halus. Tetapi saudara, ada yang lebih sulit daripada melihat dewa, melihat makhluk halus. Namun walaupun lebih sulit, bukan berarti tidak bisa didapatkan. Apa yang lebih sulit dari melihat makhluk halus itu? Yang lebih sulit adalah melihat Perubahan.

Seperti yang sudah saya jelaskan di depan, sudah siapkah saudara melihat perubahan; perubahan yang tidak enak yang akan saudara hadapi? Itu lebih sulit daripada melihat Dewa. Inilah kebijaksanaan Dhamma.

Satu cerita di zaman Sang Buddha ada seorang pertapa yang bisa berjalan di atas air, menyeberangi sungai. Dia menunjukkan kepandaiannya itu di depan Sang Buddha.

"Pertapa, berapa lama kamu bisa mempunyai kepandaian seperti itu?" tanya Sang Buddha. "Dua puluh tahun, Bhagava".

Kalau kita mendengar jawaban seperti itu, kita akan mengatakan,"Aduh, kamu hebat sekali! Dua puluh tahun dengan keuletan, kesungguhan bermeditasi sehingga bisa berjalan di atas air. Aku tidak mampu".

Tetapi komentar Sang Buddha berbeda. Apa komentar Sang Buddha?

"Pertapa kalau Aku dengan uang satu ketip bisa menyeberang sungai (yaitu dengan mengupah perahu menyeberang sungai), tidak perlu 20 tahun".

Bukan sinis, saudara. Kalau Sang Buddha bukan maha bijaksana, tidak mungkin Beliau akan memberikan jawaban seperti itu, tetapi mungkin akan memuji, "Hebat meditasimu, tinggi meditasimu, Aku memujimu, engkau berhasil".

Itu kalau kita. Tetapi Sang Buddha maha bijaksana. Kebijaksanaan Sang Buddha itu membuat Sang Buddha memberikan komentar yang sangat tepat sekali.

"Dengan uang satu ketip, Aku bisa menyeberang sungai, tidak perlu 20 tahun bersusah payah". Itulah kebijaksanaan.

Oleh karena itu, umat Buddha tidak perlu terheran-heran mendengar yang wonder-wonder, tentang kegaiban, kesaktian, karena itu tidak seberapa kalau dibandingkan dengan kebijaksanaan, apalagi kebijaksanaan Dhamma, sangat tinggi nilainya, tidak bisa dibandingkan sekalipun dengan kegaiban atau kesaktian. Justru Sang Buddha menghargai sangat rendah kesaktian dibandingkan dengan kebijaksanaan. Inilah yang ditunjukkan Sang Buddha.

Cobalah saudara mempunyai wawasan yang luas. Orang yang wawasannya luas tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, tidak mudah naik darah, tidak mudah brangasan. Itulah orang yang kuat. Sekalipun dipancing-pancing, dia akan tenang. Bukan tenang masa bodoh, tetapi tenang karena dia tidak ingin terpancing.

Saudara, apakah yang saya maksudkan dengan pandangan yang luas? Yaitu pandangan yang tidak hanya melihat pada satu arah. Itu bukan pandangan Buddhis. Pandangan seorang umat Buddha harus melihat pada banyak faktor. Satu sebab atau satu faktor tidak mungkin membuat satu keadaan. Satu keadaan itu banyak sekali faktornya. Kalau saudara mau mengerti ini, saudara adalah seorang umat Buddha yang baik. Tetapi kalau saudara tidak mau mengerti ini, meskipun saudara mempunyai altar, rajin baca paritta, saya sulit menganggap saudara sebagai umat Buddha.

Yang membuat seseorang menjadi umat Buddha itu adalah cara berpikirnya, bukan upacaranya. Kalau saudara yang siap menjadi umat Buddha, saudara harus siap mengubah cara berpikir yang tidak sesuai dengan Dhamma.

Saya pernah mencontohkan demikian. Kalau anda ingin makan pisang goreng, anda harus punya pisang. Kalau tidak punya pisang apa yang akan digoreng? Jika punya pisang tapi tidak punya minyak, mau menggoreng dengan apa? Apakah dengan air? Tidak hanya punya pisang, harus punya minyak, tepung, gula, air, wajan, kompor, minyak kompor, sumbu kompor, korek api, ada manusia dan manusia itu mau menggoreng pisang goreng. Dua belas sebab/faktor untuk bisa makan pisang goreng. Nah, kalau beli kan tidak usah 12 sebab/faktor, Bhante?

Kalau beli, sebabnya lebih banyak lagi. Saudara mau beli pisang goreng dengan apa? Dengan duit. Duitnya dari mana? Ya, minta dari ibu. Khan harus punya ibu. Minta dari kenalan khan harus punya kenalan. Saudara punya kenalan sebabnya bagaimana. Saya kenal dengan dia itu sebabnya panjang. Kan begitu. Itulah Paticcasamuppada. Itulah Dhamma.

Saya tidak berbangga hati. Saudara boleh belajar dari sistem-sistem yang lain apakah saudara akan menemui pelajaran seperti ini? Sulit. Inilah penemuan Sang Buddha yang luar biasa. Yang membuat kita terbuka, pandai, bijaksana, tidak hanya sekedar menjadi baik.

Dari pelajaran ini, kita menarik kesimpulan, tidak ada alasan untuk sombong. Anda bisa membuat pisang goreng, yang membantu itu banyak sekali, dan semuanya itu yang saudara tidak bisa buat sendiri. Ada orang lain yang membuat kompor, penggorengan, ada orang lain yang menjual minyak, ada orang lain yang membuat terigu, gula, ada orang lain yang menjual gula. Bagaimana saudara bisa mengatakan hal ini pisang gorengku. Aku membuat pisang goreng ini sendirian. Tidak masuk akal saudara.

Demikian juga misalnya saudara menolong orang sakit, saudara mencarikan obat, kemudian memberikannya kepada orang sakit itu.

Kalau ditanya, "Siapa yang menolong, yang memberikan obat kepada dia? O... saya".

Untuk berbicara sehari-hari, boleh. Siapa yang membuat pisang goreng ini. Kok enak? Saya. Untuk berbicara sehari-hari, boleh.

Saudara tidak usah menjelaskan: 'Pisang goreng ini bukan saya sendiri yang buat. Saya sebagian, yang lain ada minyak, ada air, ada tepung, ada gula. Yang bikin gula, tepung, orang lain'. Sudah beragama Buddha, kok jadi sinting.

Lalu apa gunanya Bhante menjelaskan begitu? Gunanya untuk mendidik mental kita, mengerti siapa kita sesungguhnya, agar kita tidak sombong. Yang menolong orang sakit itu, bukan saudara. Saudara adalah sebagian faktor dari perbuatan menolong. Tidak ada aku yang menolong, yang ada hanya proses menolong. Ini lebih tinggi lagi. Bila saudara tidak mengerti yang ini, tidak usah pusing, tinggalkan saja. Ingat-ingat pisang goreng saja.

Mengapa hanya ada proses menolong, tidak ada aku yang menolong? Bagaimana saudara bisa mengatakan aku yang menolong, karena bukan saudara sendiri yang menolong. Kalau tidak ada orang yang akan saudara tolong, saudara mau menolong siapa? Ada orang sakit, ada saudara, saudara ingin menolong, ada obat; nah, terjadilah pertolongan.

Jadi siapa yang berbuat baik saudara? Ya, bareng-bareng. Yang sakit, obatnya, dan orang yang menolong itu. Itulah Anatta. Yang ada hanya kebaikan, tidak ada AKU yang berbuat baik; karena saudara tidak bisa berbuat baik sendirian. Bagaimana saudara bisa berbuat baik sendirian, sedangkan itu harus punya pasangan. Mengerti saudara?

Ini sudah kelas tinggi. Itulah Dhamma, sangat mendalam sekali. Orang yang mengerti Dhamma dengan benar, kebijaksanaannya akan tinggi sekali. Meskipun saudara berkeluarga, berumah tangga, masih muda, orang sakti tidak dapat mengukur sampai di mana kebijaksanaan saudara. Mungkin sudah tinggi, mungkin masih rendah. Dan zaman yang modern seperti ini, kebijaksanaan yang saya sebutkan tadi sangat perlu. Kita tidak hanya sekedar pasang dupa, pasang lilin, minta selamat, minta rejeki, itu tidak cukup. Saudara harus punya kebijaksanaan. Dunia semakin maju, persaingan semakin keras, saudara tidak boleh menjadi bodoh, tapi harus bijaksana.

Semoga apa yang saya sampaikan ini menambah pengertian saudara menjadi lebih luas, mempunyai bekal yang cukup untuk menghadapi kehidupan ini, sehingga saudara tidak perlu merasa kecil hati, putus asa, dan sebagainya. Dan yang paling penting, saudara tidak menjadi salah tingkah, tidak salah langkah, karena saudara sudah mempunyai kebijaksanaan yang lengkap. Semoga Sang Triratna selalu memberkahi kita.

[Dikutip dari Mutiara Dhamma XI ]