Rabu, 05 Mei 2010

Pandangan Agama Buddha Tentang Ekonomi oleh: Y.M. Bhikkhu Suguno

 
 
Pandangan Agama Buddha Tentang Ekonomi
oleh: Y.M. Bhikkhu Suguno

PENGANTAR
 
Dewasa ini, pengertian tentang ekonomi sebagai suatu disiplin ilmu adalah sangat kompleks. Sehingga tidak jarang kita dapatkan adanya perbedaan pengertian ataupun definisi yang diberikan oleh ekonom yang satu dengan yang lainya. Pada mulanya pengertian ekonomi, cukup sederhana, yaitu pengaturan administrasi sumber-sumber penghasilan di rumah tangga. Selanjutnya para ekonom mendefinisikan ekonomi dalam pengertian "kekayaan". Sebagai contohnya, Adam Smith dalam bukunya An inquiry into the Nature and causes of Wealth of Nations mendefinisikan ekonomi sebagai disiplin ilmu terapan tentang produksi dan penggunaan kekayaan. Pada saat sekarang definisi dari ekonomi lebih ditekankan pada determinasi dari beberapa permasalahan perdagangan. Sering juga ekonomi didefinisikan dalam pengertian "kesejahteraan" yang mana ekonomi merupakan sarana atau ilmu tentang bagaimana menambah produksi sehingga standard kehidupan atau kesejahteraan masyarakat bisa bertambah. 

Para ekonom yang memperhatikan tentang moral akan memberikan definisi ekonomi dalam pengertian yang cukup berbeda. Sebagai contohnya, Alfred Marshal mendefinisikan ekonomi sebagai suatu disiplin ilmu yang tidak hanya mempelajari tentang kekayaan materi, tetapi juga suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang manusia dalam hubungannya dengan pemenuhan kebutuhannya. Lebih lanjut Milton Spenser dalam bukunya Contemporary Economics mendefinisikan ekonomi sebagai "Suatu cara masyarakat memilih jalan yang tepat untuk memperdayagunakan sumber-sumber kekayaan yang terbatas, yang mana mempunyai beberapa penggunaan untuk memproduksi barang-barang kebutuhan dan manfaat lain untuk konsumsi saat sekarang dan yang akan datang". Mengingat sumber-sumber kekayaan yang sangat terbatas dan keinginan manusia akan keyaaan yang tidak terbatas, maka manusia yang bertanggung jawab harus menggunakan sumber-sumber kekayaan yang ada dengan sebaik-baiknya. 

Para ekonom modern menganggap bahwa manusia adalah mahluk berpikir dan motivasi-motivasi yang ada pada dirinya berdasar pada faktor-faktor ekonomi. Tidak seperti hewan yang dalam pemenuhan kebutuhannya sangat sederhana dan pada umumnya terbatas pada keperluannya; manusia memiliki keinginan (wants) yang tidak terbatas. Manusia mempunyai tendensi untuk memenuhi keinginan akan materi yang lebih banyak, dan pada kenyataannya keinginan tersebut tidak ada batasnya. Di jaman modern ini kekayaan materi atau pendapatan pribadi (per capita income) dijadikan sebagai ukuran kemakmuran suatu masyarakat atau suatu bangsa. Produksi dipacu setinggi-tingginya, tanpa memperhatikan harga atau nilai kemanusiaan, kemasyarakatan, dan lingkungan. Tidak jarang materi hanya ditujukan untuk pemuasan nafsu-nafsu indera dari manusia. Suatu hal yang dominan dari para ekonom di dunia barat adalah adanya kenyataan bahwa motif dari tindakan-tindakan yang mereka lakukan adalah untuk mencari keuntungan pribadi dan bukan kemauan mereka untuk menyediakan solusi terbaik untuk beberapa masalah yang berkaitan dengan ekonomi dan politik

PEMBAHASAN

I. Kondisi perekonomian di India pada Abad ke 6 SM

Keadaan perekonomian di India pada abad ke 6 SM dalam masa transisi dari sistem perekonomian yang menitik-beratkan pada sektor pertanian ke sistem perekonomian yang menitik-beratkan pada sektor perdagangan. Bisa dikatakan bahwa kedua sektor, yaitu negara (pemerintah) dan swasta, memegang peranan yang cukup penting dalam usaha menyediakan lapangan kerja dan mengembangkan kesejahteraan rakyat banyak. Pada zaman Sang Buddha, meskipun kedua sektor tersebut memegang peranan penting dalam pengembangan ekonomi, tetapi pengaruh sektor swasta adalah cukup besar. Hal ini bisa dilihat dengan munculnya beberapa multi-milioner (mahasetthi), seperti Visakha, Anathapindika, dan sebagainya, yang menguasai sebagian perekonomian yang ada pada waktu itu. Pada umumnya, tanah yang ada dikuasai oleh para raja atau pemimpin yang berkuasa, sedangkan perdagangan dikuasai oleh sektor swasta. 
 
Tentang jenis-jenis pekerjaan yang ada pada waktu itu bisa dilihat dari Kitab Jataka dan beberapa sutta seperti Tamo-tama Parayana Sutta, Kutadanta Sutta, dan sebagainya. Menurut sumber-sumber yang ada, mereka yang bekerja di bawah raja bisa dikelompokkan menjadi 25 kelompok yang masing-masing mempunyai tugas yang berbeda-beda. Di antaranya para prajurit, tukang masak, tukang potong rambut, pencuci, sekretaris, pembuat barang-barang kerajinan, akuntan, penjaga gajah, dan sebagainya. Sedangkan masyarakat yang bekerja diluar kerajaan bisa dibagi menjadi 18 kelompok, seperti tukang kayu, pandai besi, tukang batu, pengrajin kulit, pot, gading, tukang jagal, pemburu binatang, pelaut, dan masyarakat yang bekerja dalam bidang transportasi, perdagangan, dan sebagainya. 

Pada abad ke 6 SM, perdagangan barter sudah mulai ditinggalkan dan perdagangan dengan cara menilai barang dengan uang sudah mulai populer. Hampir semua transaksi perdagangan dilakukan dengan dengan alat pembayaran yang disebut dengan kahapana, sebuah logam (perunggu) yang beratnya sekitar 146 biji padi. Selain itu para pedagang menggunakan surat kuasa (seperti cek) yang bisa digunakan sebagai alat pembayaran. Demikian juga disebutkan bahwa sistem perbankan sudah dikenal. Mereka menggunakan meminjamkan uang kepada mereka yang memerlukan, dan interest (bunganya) ditentukan oleh hukum yang ada pada waktu itu. Sebagai contohnya, menurut hukum tersebut jika seseorang menabung, maka dia akan mendapatkan bunga dengan rate of interest 18 % per tahun. 

II. Tinjauan tentang materi atau kekayaan
Dari apa yang telah kita bahas di atas, kita dapat mempunyai gambaran bahwa definisi ekonomi adalah sangat kompleks. Dalam pengertian yang luas, ekonomi menyangkut semua aktivitas untuk mendapatkan kekayaan dan dalam pengertian yang lebih sempit, ekonomi mempelajari tentang motif yang digunakan oleh setiap orang untuk melindungi dan memuaskan segala keinginannya. Dalam hal ini, ekonomi sebagai suatu disiplin ilmu mempelajari tentang beberapa sebab di mana adanya ketergantungan materi dan kesejahteraan manusia dan juga beberapa sebab yang mempengaruhi dan mengontrol produksi barang-barang kebutuhan, cara penjualannya, dan sebagainya. 
 
Dikarenakan adanya keterkaitan semua aktivitas dan motif manusia dalam semua aspek ekonomi, maka ekonomi, menurut pandangan Agama Buddha, mempunyai hubungan yang erat dengan ilmu-ilmu etika. Pada dasarnya Agama Buddha adalah agama yang mementingkan etika dan perkembangan karakter individu. Menurut Agama Buddha, semua aktivitas yang dilakukan oleh manusia yang bervariasi, pada akhirnya harus ditujukan pada perkembangan moral dan perkembangan batin. Perlu diingat bahwa Agama Buddha tidak menentang manusia mencari kekayaan untuk memenuhi kebutuhannya. Sang Buddha dalam beberapa khotbah-Nya menerangkan bahwa materi adalah penting dalam kehidupan kita. Tetapi materi bukanlah satu-satunya tujuan yang harus dikejar-kejar dengan semua cara; materi sebaiknya digunakan sebagai sarana penunjang untuk mendapatkan kebahagiaan spiritual yang lebih tinggi. Jadi, materi atau kekayaan bukanlah satu-satunya tujuan, melainkan sebagai sarana untuk menciptakan kondisi yang menunjang kehidupan spiritual seseorang. Hal ini bisa kita lihat dari kisah yang menceritakan bahwa Sang Buddha tidak mengajarkan Dhamma kepada orang yang kelaparan. Pada suatu ketika Sang Buddha menerima murid yang datang dari jauh, yang kelihatan lelah, sehingga Beliau memerintahkan kepada para Bhikkhu untuk memberi makanan kepada orang tersebut, baru setelah makan Beliau mengajarkan Dhamma. Kelaparan sendiri dikategorikan sebagai salah satu penyakit (dalidda paramam roga). 

Jika pengumpulan kekayaan hanya merupakan suatu pekerjaan yang ditujukan untuk kepentingan diri sendiri, maka hasilnya sering kita dapatkan ketidak-puasan. Kita seharusnya menganggap kekayaan sebagai sesuatu untuk dinikmati dengan orang yang lain. Seandainya manusia dapat menyebarkan cinta kasihnya kepada mahkluk lain, tanpa adanya anggapan tentang perbedaan ras, warna kulit, dan sebagainya, maka dia akan mampu mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar. Dalam hal ini kebahagiaan bukan datang dari tanha, kebahagiaan yang diliputi oleh self-centred idea (untuk dirinya sendiri), tetapi hal tersebut merupakan kebahagiaan yang muncul dari chanda, kebahagiaan yang muncul dengan harapan orang lain juga ikut bahagia. Hal ini sangat penting untuk dijadikan pedoman untuk melaksanakan segala kegiatan yang berhubungan dengan ekonomi. Sebaiknya semua produksi ditujukan untuk kebahagiaan orang banyak, bukan untuk tujuan pribadi tanpa mementingkan kepentingan masyarakat. 

Kata STQ = artha (Sansekerta) dapat diartikan sebagai barang, uang, kekayaan, dan lain-lain. Dalam bahasa Pali kata attha mempunyai kedekatan arti dengan kata artha Namun kata attha dalam bahasa Pali mempunyai beberapa arti, salah satunya adalah "sesuatu yang didapat"; tentunya kesejahteraan, baik kesejahteraan fisik (dalam arti kekayaan) dan dalam pengertian spiritual, supreme arahantship. Selain itu, kata attha bisa diartikan sebagai sukses, dan pengertiannya dapat dilihat dari dua level, yaitu: sukses yang berhubungan dengan beberapa aspek ekonomi yang merujuk kepada kesejahteraan materi dan sukses dalam pengertian uttamattha atau kesuksesan tertinggi dimana perkembangan bathin seseorang, setelah melalui praktik dan meditasi yang tekun, bisa merealisasi Nibbana.

Menurut Agama Buddha, materi itu sendiri tidak bisa dianggap jahat atau sebaliknya. Memang pada kenyataannya uang (materi) bisa menjadi sumber pertengkaran, pertikaian dan pembunuhan, sehingga banyak orang berpendapat "uang adalah sumber atau akar dari segala kejahatan" (money is the root of all evils). Tetapi menurut pandangan Agama Buddha, materi bersifat netral dan tergantung pada manusia yang memiliki dan menggunakannya. Jika digunakan untuk kepentingan-kepentingan keagamaan, atau sosial - misalnya untuk membantu orang-orang yang memerlukan, maka materi akan membuahkan manfaat, baik dalam kehidupan sekarang dan dalam kehidupan yang akan datang. Sebaliknya jika materi digunakan untuk kepentingan pemuasan nafsu indera yang berlebihan, maka materi akan membawa kebahagiaan sementara saja. 

Agama Buddha tidak pernah melarang pengikutnya untuk mengumpulkan kekayaan (materi), tetapi Sang Buddha selalu mengajarkan bahwa dalam mengumpulkan kekayaan, hendaknya seseorang melakukannya dengan jalan yang benar. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa memiliki materi atau kekayaan merupakan salah satu sumber kebahagiaan (atthi sukha). Demikian juga akan muncul kebahagiaan jika seseorang dapat menikmati apa yang telah diperolehnya (bhoga sukha). Jika seseorang bekerja keras dan dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari, maka dia tidak akan jatuh ke dalam hutang (anana sukha). Ketiga macam kebahagiaan tersebut berkaitan erat dengan materi. Lebih lanjut Sang Buddha menerangkan kebahagiaan yang ke empat, yaitu: anavajja sukha (kebahagiaan yang didapat jika seseorang merasa bahwa dirinya telah berbuat sesuai dengan Dhamma). Dalam hal ini Sang Buddha tidak hanya mengajarkan bagaimana untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia ini, tetapi juga mengajarkan cara-cara yang harus dilaksanakan oleh seseorang sesuai dengan Dhamma, agar setelah ia meninggal bisa terlahir di alam-alam bahagia. Dalam Kitab Suci Tipitaka, tidak disebutkan teori-teori ekonomi secara comprehensif, tetapi Kitab Suci Tipitaka menerangkan beberapa pedoman atau petunjuk yang sangat penting dalam hubungannya dengan ekonomi. Meskipun Kitab Suci Tipitaka memuat nasihat-nasihat yang bersifat kuno, lebih dari 2.500 tahun lalu, tetapi nasihat-nasihat tersebut mempunyai relevansi dengan sebagian besar dari teori-teori yang terdapat dalam ekonomi modern. 

Pengalaman melalui pembuktian merupakan ciri khas pendekatan yang digunakan dalam Agama Buddha untuk melihat suatu masalah, termasuk beberapa masalah yang berhubungan dengan ekonomi. Melalui pendekatan empiris inilah Sang Buddha mengajarkan bahwa "semua mahluk hidup karena makanan" atau "sabbe satta aharatthitika". Menyadari akan hal ini, Sang Buddha mengetahui bahwa setiap orang harus menempuh beberapa cara yang diperlukan untuk memperoleh makanan. Dalam hal ini Sang Buddha menganjurkan beberapa jalan dan petunjuk yang sebaiknya dijalankan oleh seseorang sesuai dengan norma-norma kemoralan. Misalnya, Sang Buddha menerangkan tentang norma-norma etika, seperti hukum kamma untuk mengontrol dan membimbing manusia dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Hal ini sangat berguna, karena pada kenyataanya, keinginan manusia akan pemuasan nafsu-nafsu indera adalah tidak terbatas. Tidak jarang manusia menggunakan segala cara untuk mendapatkan kekayaan, sehingga tidak jarang terjadi konflik, kebencian, pembunuhan dan sebagainya. Dengan diterangkan ajaran tentang kamma (hukum perbuatan), maka seseorang menjadi lebih percaya akan dirinya sendiri, dan tentunya dalam dunia perekonomian akan memberi pengaruh pada produksi, distribusi, konsumsi, dan semua aktivitas yang lain. 

III. Negara dan perekonomian
Agama Buddha menunjukkan bahwa kekurangan atau ketidak-beresan dalam pengaturan ekonomi akan menyebabkan perbedaan yang besar antara si kaya dan si miskin. Cakkavattisihanada Sutta dan Kutadanta Sutta, Digha Nikaya menyebutkan bahwa kerusuhan, pencurian, dan permasalahan lain dalam masyarakat disebabkan salah satunya dari kemiskinan, dan kemiskinan disebabkan karena ketidak-beresan dalam pengaturan sistem ekonomi. Sang Buddha menyadari adanya ketergantungan antara faktor fisik dan psikis, yang secara umum mempengaruhi perilaku kemasyarakatan. Menurut sutta tersebut, perlindungan atau penyediaan keamanan kepada masyarakat, tanpa memperhatikan ekonomi negara adalah belum cukup untuk mencapai kesejahteraan suatu bangsa. Sang Buddha menceritakan bagaimana Raja Maha Vijita yang mempunyai tentara yang kuat, tetapi kerajaaanya hancur karena dia gagal menyediakan pengaturan ekonomi yang baik bagi masyarakatnya. Kemiskinan akan mendorong seseorang untuk mencuri, sebab mereka yang kelaparan memerlukan makanan untk memelihara tubuhnya. Sehingga Sang Buddha menasihatkan bahwa untuk menciptakan masyarakat yang bermoral dan berakhlak, kondisi ekonomi yang ada dalam suatu masyarakat harus juga ditingkatkan. Oleh karena itu, jika dalam suatu masyarakat atau suatu bangsa terjadi kerusuhan, tingkat kejahatan meningkat, maka raja atau pemerintah mempunyai kewajiban untuk membangun ekonomi kerajaan atau negara. Raja atau pemerintah sebaiknya memberi atau menyediakan kapital kepada masyarakat yang memerlukan bantuan. 
 
Dalam hal penyelesaian suatu masalah negara, misalnya kerusuhan, pencurian, perampokan dan sebagainya, tidak dapat dilakukan dengan jalan pemberian secara acak-acakan. Lebih lanjut Sang Buddha menyatakan bahwa jika pemberian kapital kepada masyarakat dilakukan dengan jalan yang tidak tepat, maka akan menimbulkan kemalasan dan kejahatan tidak semakin berkurang. Orang akan malas dan cenderung melakukan kejahatan dengan dalih kelaparan agar mendapat simpati dari raja. Semula Raja Maha Vijita membagi-bagi kekayaannya dengan bebas kepada mereka yang melakukan pencurian, dengan harapan agar mereka menghentikan tindakan hina tersebut. Tetapi pada kenyataannya pencurian berlanjut dan semakin banyak. Menyadari hal ini, Raja Maha Vijita tidak lagi membagi-bagi kekayaannya secara bebas, tetapi melalui hal tersebut harus dilakukan dengan cara dan pengarahan yang benar. Bagi mereka yang terbukti melakukan pencurian sebagai suatu pekerjaan, maka hukuman akan dijatuhkan kepadanya. Tindakan tegas ini dilakukan oleh Maha Vijita demi kebahagiaan rakyatnya. 

Menurut Sang Buddha, penyediaan kapital kepada masyarakat harus dilakukan secara terarah dan terpadu dan diberikan kepada mereka yang betul-betul membutuhkan (ye janapadesu adana tesam dhanam anuppadeyasi), sedangkan pengaturan ekonomi yang tidak adil akan menyebabkan kemiskinan (adananam anuppadeyamana daliddam vipula gacchati). Kembali seperti apa yang telah disebutkan di atas, kemiskinan akan mendorong seseorang untuk melakukan penjarahan, pencurian, pembunuhan, dan sebagainya. Jika hal tersebut terjadi, maka raja atau pemerintah mempunyai kewajiban untuk menyelesaikannya, yaitu dengan jalan membangun sistem perekonomian yang cocok di suatu kerajaan atau negara tersebut. 

Kutadanta Sutta dan Cakkavattisihanada Sutta juga menerangkan bahwa kerusuhan, penjarahan, pencurian, perampokan dan sebagainya (dhassu-khila), yang disebabkan karena kemiskinan, tidak dapat diselesaikan dengan jalan menjatuhkan hukuman kepada para pelaku. Dalam kedua sutta tersebut, dijelaskan "… jika di dalam lingkungan kerajaaan, masyarakat menjadi gelisah, tidak aman, karena adanya perampokan atau kerusuhan di desa, di kota, di pasar, di jalan-jalan dan di seluruh lingkungan kerajaan, maka raja akan berpikir untuk menyelesaikanya dengan jalan menghukum, memenjarakan atau membuang mereka (…etam dhasukhilam vadhena va bandhena va janiya va garahaya va pabbajanaya samahanissami)". Cara ini tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang ada dalam masyarakat. Mereka yang lolos dari hukuman akan menyusun kekuatan untuk melawan raja atau pemerintah dan akan berlanjut melakukan penjarahan, pencurian, perampokan dan sebagainya. 

Selanjutnya, kedua sutta tersebut juga menerangkan bahwa dalam kondisi, di mana keadaan ekonomi masyarakat yang tidak stabil, raja atau pemerintah tidak dibenarkan untuk menaikkan pajak dengan alasan apapun (…janapade sa-upapile balim uddhareyya, akicca-kari). Tidak dibenarkan pula jika keadaan ekonomi suatu negara masih dalam keadaan kurang stabil, diadakan pesta besar (berfoya-foya), yang akan menghabiskan kekayaan negara. 

Melalui sistem pengaturan kekayaan yang tepat, suatu negara atau kerajaan bisa menjamin kemakmuran rakyatnya. Kedua sutta di atas menyebutkan bahwa bagi masyarakat yang memerlukan bantuan untuk melanjutkan usahanya, maka raja sebaiknya mengarahkan dan memberi bantuan kepada mereka. Bagi masyarakat yang mempunyai pekerjaan sebagai petani, maka sebaiknya raja memberi bantuan berupa biji-bijian dan makanan (ye janapade ussahanti kasi-gorakkhe tesam bhavam raja bija-bhattam anuppadetu), bagi mereka yang berdagang, kepadanya sebaiknya diberikan modal atau kapital (...vajijjaya tesam bhavam pabbatam anuppadetu), sedangkan kepada mereka yang bekerja sebagai pegawai, kepadanya sebaiknya diberikan nasi dan gaji (...janapadesu raja-porise tesam bhatta-vettanam pakappetu). Jika semua lapisan yang ada di masyarakat mempunyai usaha dan bekerja sesuai dengan pekerjaannya masing-masing, maka kemakmuran dan kesejahteraan bisa di dapat. Diceritakan bahwa setelah menerapkan nasihat-nasihat tersebut di lingkungan kerajaan Maha Jivita tidak ada orang yang menggangu orang lain dengan dalih kelaparan, sehingga masyarakat bisa hidup bersama keluarga mereka dengan bahagia, tenang, sejahtera (khematthita) dan aman meskipun tinggal dengan pintu terbuka (aparuta-ghara). 

Dalam hal ini sangat penting kiranya untuk diperhatikan bahwa menurut Agama Buddha sistem ekonomi harus ditujukan sebesar-besarnya untuk kepentingan dan kemakmuran rakyat dan bukan seballiknya. Oleh karena itu, penyediaan lapangan kerja kepada masyarakat merupakan faktor yang penting dalam usaha peningkatan kesejahteraan rakyat. Kutadanta Sutta menerangkan adanya keterkaitan antara pengangguran, kemiskinan, kelaparan dan tindakan kriminal yang ada dalam masyarakat, seperti pencurian, perampokan, dan sebagainya.

IV. Beberapa petunjuk Sang Buddha tentang cara mengumpulkan kekayaan
Pattakamma Sutta, Samyutta Nikaya menyebutkan bahwa terdapat empat hal di dunia ini yang dicita-citakan, diagung-agungkan, dan diharapkan oleh setiap orang, tetapi sangat susah untuk mendapatkannya. Empat hal tersebut adalah harapan untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan Dhamma, cita-cita agar menjadi orang terpandang dalam masyarakat, harapan agar mempunyai umur panjang dan selalu sehat, serta setelah meninggal bisa terlahir di alam-alam bahagia, yaitu terlahir di alam surga. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada kenyataanya keempat hal hal tersebut memang diharapkan oleh setiap orang. Perlu diingat bahwa untuk mendapatkan kekayaan adalah cukup mudah didapat, tetapi untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan Dhamma merupakan hal yang sulit didapat. Demikian juga setelah mendapatkan kekayaan kita mempunyai harapan agar kita menjadi orang yang terpandang. Jika seseorang mengumpulkan kekayaan dengan jalan yang benar, maka dia akan dihormati masyarakat, dan tentunya akan membawa efek kepada keluarga dan juga para gurunya. Perbuatan baik yang telah kita tanam menyebabkan orang bisa mendapatkan kesehatan dan umur panjang, tetapi menurut Agama Buddha tidak ada sesuatu yang terbentuk bersifat kekal. Oleh karena itu, setelah mendapatkan hal-hal tersebut di atas, maka harapan terahkir adalah kelahiran di alam-alam yang membahagiakan. Jadi, sudah jelas bahwa Sang Buddha menasihatkan kepada kita bahwa kekayaan atau materi bukanlah satu-satunya tujuan dalam hidup kita, dan dalam mengumpulkan materi seseorang diharapkan untuk memperhatikan norma-norma etika dan norma-norma keagamaan, sesuai dengan Dhamma. 
 
Lebih lanjut, sutta tersebut menerangkan bahwa dalam mengumpulkan kekayaan, sebaiknya seseorang mengumpulkannya dengan usaha dan semangat yang tinggi (utthanaviriyadhigatehi), dengan keringat sendiri (sedavakkhitehi), dan dengan jalan Dhamma (dhammikehidhammaladdhehi). Hal ini diterangkan lebih lanjut oleh Sang Buddha dalam Vyagghapajja Sutta, di mana setelah seorang milyuner yang bernama Dighajanu bertanya kepada Sang Buddha untuk mendapatkan beberapa nasihat agar dia bisa berbuat untuk kebahagiaan di dunia ini dan dunia berikutnya. Kemudian Sang Buddha mengajarkan bahwa hendaknya untuk mendapatkan kemajuan materi atau kekayaan, seseorang diharapkan melakukan segala pekerjaan dengan penuh usaha (utthana sampada), menjaga kekayaan yang telah ia dapat (arakkha sampada), hidup seimbang (samajivikata), dan bergaul dengan para sahabat yang bisa hidup bersama baik dalam keadaan susah dan senang. 

Sedangkan untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia-dunia berikutnya, Pattakamma Sutta dan Vyagghapajja Sutta menerangkan empat syarat yang diperlukan agar seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan di alam-alam berikutnya, yaitu:
  1. Saddha: seseorang mempunyai keyakinan kepada penerangan sempurna yang telah dicapai oleh Sang Buddha (Tathagatassa bodhi saddha), dimana Sang Buddha adalah seorang yang mendapat sebutan Bhagava, Arahat, Sammasambuddho, sempurna dalam pengetahuan serta tindak-tanduk-Nya, Sugato, pengenal segenap alam, pembimbing manusia yang tiada taranya untuk mencapai pembebasan, guru para dewa dan manusia, dan Beliau adalah seorang Buddha.
  2. Sila: seorang yang telah menyatakan dirinya sebagai upasaka atau upasika diharapkan untuk melaksanakan Pancasila, yaitu menghindari diri dari pembunuhan, pencurian, perzinaan, berbohong, dan minum-minuman keras yang memabukkan.
  3. Caga: praktik kemurahan hati, misalnya dengan jalan berdana yang ditujukan untuk mengurangi kemelekatan kepada materi.
  4. Pabba: pengembangan kebijaksanaan yang ditujukan untuk pembebasan dari penderitaan. Dalam hal ini seseorang akan bebas dari nafsu-nafsu keserakahan akan materi, keinginan jahat, kelambanan, kemalasan dan keragu-raguan.
Keempat hal ini adalah sangat penting, di mana seseorang tidak hanya mengejar materi belaka atau memandang materi sebagai tujuan yang harus dikumpulkan untuk pribadi, tetapi seseorang akan berpikir bahwa materi seharusnya digunakan sebagai salah satu sarana untuk melenyapkan penderitaan. 

Dalam usaha mengumpulkan kekayaan, hendaknya seseorang harus melakukan segala kegiatannya dengan jalan yang benar. Misalnya, kepada para pedagang, Sang Buddha telah menasihati untuk menghindari penipuan dengan jalan menipu alat pengukur timbangan (tulakuta), dan menipu dalam dengan memalsu uang dan sebagainya. Selanjutnya, Angguttara Nikaya menjelaskan seseorang seharusnya menghindari diri dari lima macam perdagangan yang bisa membahayakan bagi dirinya sendiri dan juga mahkluk lain, seperti satta vanijja (perdagangan perbudakan), sattha vanijja (perdagangan persenjataan), mamsa vanijja (perdagangan mahluk hidup), majja vanijja (perdagangan minum-minuman keras), dan visa vanijja (perdagangan racun, termasuk ganja, morfin, dan sebagainya). Ambalatthika Rahulovada Sutta menegaskan kriteria tentang pekerjaan terbaik yang dilakukan oleh para pengikut Sang Buddha. Jika suatu pekerjaan yang dilakukan adalah menimbulkan manfaat untuk dirinya sendiri dan bermanfaat untuk orang lain serta bermanfaat untuk kedua-duanya maka pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang terpuji. Beberapa jenis pekerjaan seperti kerajinan, pertanian dan sebagainya merupakan pekerjaan yang terpuji.

V. Penggunaan kekayaan
Setelah seseorang mengumpulkan materi atau kekayaan, maka dia mempunyai kewajiban yang sangat penting, baik bagi dirinya sendiri dan orang lain. Pattakamma Sutta menjelaskan adanya empat hal yang harus di perhatikan bagi seorang perumah tangga dalam hal kekayaan yang telah dikumpulkanya (cattari kammani katta). Keempat hal tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Dia sebaiknya mempergunakan kekayaannya untuk kepentingan diri sendiri dan untuk pemenuhan kewajiban keluarga. Secara singkat dia harus menggunakan kekayaanya untuk dinikmati sebagai hasil jerih payahnya (attanam sukheti pineti sammasukham pariharati), sebagian kekayaan digunakan untuk merawat orang tua (matapitaro sukheti pineti sammasukham pariharati), dia juga harus merawat putra-putrinya, pembantu-pembantunya dan para pekerja yang telah membantu dalam usaha (puttadaradasakammakaraporise sukheti pineti sammasukham pariharati), serta dia mempunyai kewajiban untuk menjamu teman dan para pendatang dengan cara yang benar (mittamacce sukheti pineti sammasukham pariharati). Perlu diperhatikan bahwa istilah "sammasukham pariharati" atau "penggunaan secara benar" adalah sangat penting. Jadi sudah jelas bahwa kekayaan menurut Pattakamma Sutta sebaiknya digunakan untuk kepentingan diri sendiri dan juga untuk kebahagiaan orang lain.
  2. Dia mempunyai kewajiban untuk menjaga kekayaan yang telah dikumpulkanya dari bahaya-bahaya yang mungkin terjadi, seperti kebakaran (aggito), kebanjiran (udakato), pencurian (corato), dan dari pewaris yang tidak diinginkan (dayadato), serta orang-orang lain yang tidak diinginkan (tatharupasu apadasu bhogehi pariyodhaya vattanti).
  3. Dia mempunyai lima kewajiban yang lain (pabcabalim), yaitu: kewajiban kepada raja, misalnya membayar pajak (rajabali), kewajiban untuk menjamu tamu-tamu yang datang (atithibali), kewajiban kepada para deva (devatabali), dan kewajiban kepada para leluhur yang telah meninggal (pubbapetabali).
  4. Seorang perumah tangga juga mempunyai kewajiban kepada para samana dan brahmana yang telah melenyapkan kekotoran bathin, penuh perhatian, dan kesabaran (samanabrahmana madappamada pativirata khanti soracce vivattha attanam damenti). Dana, jika diberikan kepada para samana dan brahmana yang berpraktik sila dan penuh perhatian serta kesabaran akan membuahkan hasil yang baik, akan membuahkan kebahagian dan menghantarkan seseorang terlahir ke alam-alam yang bahagia (sukhavipakam saggasamvattanikam). Dana yang demikian, menurut agama Buddha, dikatakan sebagai kekayaan yang tidak dapat dicuri oleh siapapun. Kekayaan yang digunakan dengan cara tersebut di atas dikatakan sebagai kekayaan yang telah menuju ke tempat yang tepat (thanam gatam hoti pattagatam ayatanaso paribhuttam).
Dari apa yang telah diterangkan di atas, sudah jelas bahwa meskipun seseorang menggunakan kekayaan miliknya sendiri, dia diharapkan agar mempergunakannya untuk kepentingannya sendiri dan untuk kepentingan orang lain secara benar.

Pengaturan tentang kekayaan yang telah kita dapat, dapat dilihat di dalam Sigalovada Sutta yang terdapat dalam kitab Digha Nikaya sebagai berikut:

"ekena bhoge bhubjeyya (satu bagian untuk dinikmati) dvihi kammam payojaye (dua bagian untuk ditanamkan kembali ke dalam modalnya) catutabca nidhapeyya (bagian ke empat disimpan) apadasu bhavissanti (untuk menghadapi masa depan yang sulit)".
Menurut kitab ini bahwa kekayaan yang telah kita dapatkan dengan jalan yang benar, sebaiknya dibagi dalam empat kelompok, yaitu seperempat bagian untuk dinikmati sebagai hasil jerih payah, duaperempat bagian untuk diinvestasikan ke modalnya, dan seperempat bagian lagi disimpan sebagai cadangan jika mengalami kesulitan di masa yang akan datang. Mengenai bagian yang keempat, kata "nidhapeyya" dapat diartikan sebagai "disimpan" dalam pengertian yang lebih luas, misalnya disimpan di bank ataupun digunakan untuk menanam pubba kamma (kebajikan), misalnya untuk diberikan kepada tempat ibadah, para pertapa, dan sebagainya. Nasihat yang demikian ditegaskan dalam beberapa sutta yang ada dalam Tipitaka, misalnya Sangarava Sutta menyebutkan adanya tiga jenis orang, yang dikelompokkan berdasarkan pada tindakan mereka dalam penggunakan kekayaan yang telah ia dapatkan. Jenis pertama adalah mereka yang tidak menggunakan kekayaannya, baik untuk dirinya sendiri dan tidak membagi-bagi kekayaanya kepada orang lain untuk mendapatkan kebajikan (na attanam sukheti pineti na vibhajati na puññakaroti). Jenis orang yang kedua adalah ia yang menggunakan kekayaan untuk kebahagiaan dirinya sendiri, tetapi tidak untuk memanam kebajikan (attanam sukheti pineti na samvibhajati na puññam karoti). Sedangkan jenis orang ketiga adalah ia yang bisa menggunakan kekayaan untuk dinikmati bagi dirinya sendiri dan untuk kepentingan orang lain, demi memanam kebajikan (attanam sukheti pineti samvibhajati puññam karoti). Jenis orang yang ketiga adalah orang yang dipuji, karena ia tidak melekat pada kekayaan (adinnavadassanani) dan tahu penggunaan kekayaan untuk jalan kebebasan (nissaranapabba). Tentunya nasihat yang telah diberikan oleh Sang Buddha lebih dari duaribu limaratus tahun yang lampau ini, masih berguna bagi kehidupan yang kita sekarang. Pembagian tersebut adalah cara pembagian yang sangat sederhana, tetapi memiliki daya guna yang sangat efektif untuk mengembangkan ekonomi. Menurut kitab ini, separuh (duaperempat) bagian digunakan untuk pengembangan usaha, yang berarti bahwa Sang Buddha menekankan bahwa dalam dunia bisnis, faktor modal adalah sangat penting. 

Sebagai seorang perumah tangga yang baik, sebaiknya dia harus bisa hidup dengan seimbang, tahu akan berapa banyak uang atau kekayaan yang telah didapatkan dan tahu berapa banyak kekayaan yang bisa digunakan (samajivikata). Hendaknya dia tidak hidup dengan kikir (ajjadumarika) dan juga sebaliknya, dia tidak jatuh dalam gaya hidup yang bersifat konsumerisme, hidup dengan glamour, dan penuh dengan foya-foya (udumbarakhadika). Seseorang yang hidup dalam dunia konsumerisme yang berlebihan, diibaratkan oleh Sang Buddha sebagai seseorang yang ingin memetik sebuah apel untuk dimakan, tetapi menyebabkan jatuhnya semua apel yang ada di pohon tersebut. Sebaiknya, orang yang terlalu kikir diibaratkan sebagai seekor ayam yang hidup di timbunan padi, tetapi mati kelaparan dikarenakan kekurangan makanan. Jadi, penggunaan dan konservasi yang tepat dari kekayaan individu yang telah di dapat akan mempengaruhi kualitas hidupnya dan juga mempengaruhi ekonomi nasional. 

Dalam kaitannya dengan penggunaan kekayaan, Sang Buddha memuji mereka yang mengetahui berapa banyak uang yang didapat oleh seseorang dan mengetahui berapa banyak uang yang harus dikeluarkan, baik untuk kepentingan diri sendiri dan untuk kepentingan orang lain. Andha Sutta; Anguttara Nikaya menyebutkan bahwa orang yang tidak tahu cara mengumpulkan kekayaan dan juga cara menggunakan kekayaan diibaratkan sebagai orang buta (andha), orang yang hanya tahu cara mengumpulkan uang, tetapi tidak tahu cara menggunakannya diibaratkan sebagai orang yang mempunyai mata satu (ekacakkhu) dan seseorang yang mengetahuhi cara menggumpulkan dan menggunakan kekayaan yang telah didapatkannya dengan jalan yang benar diibaratkan sebagai orang yang bisa melihat dengan kedua matanya (dvecakkhu).

Menurut Agama Buddha peningkatan ekonomi suatu masyarakat ditujukan untuk menciptakan kondisi di mana mereka bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Sang Buddha juga menyadari sepenuhnya bahwa setiap orang mempunyai peranan yang besar dalam peningkatan perkembangan ekonomi negara. Oleh karena itu untuk mencipatakan kondisi ekonomi yang baik, Beliau memberikan tuntunan untuk mengatur secara tepat tentang ekonomi, terutama di rumah tangga, sehingga tingkat kehidupan masyarakat semakin baik. Mengingat adanya kecenderungan dari setiap orang untuk mengumpulkan kekayaan dengan segala cara, maka sering terjadi persaingan yang tidak sehat, pertengkaran, berlomba-lomba untuk mendapatkan kedudukan dan sebagainya. Oleh karena itu, maka Sang Buddha menasihatkan untuk mengumpulkan dan menggunakan kekayaan dengan jalan yang benar, sesuai dengan Dhamma. Hal ini semua ditujukan demi kesejahteraan manusia, baik di alam ini dan alam-alam berikutnya. 

Tamotama Parayana Sutta menjelaskan bahwa orang yang kaya, bisa mengerti akan kegunaan kekayaan dan menggunakannya dengan jalan yang benar akan terlahir di alam-alam yang membahagiakan (joti joti parayano). Demikian juga Sang Buddha memuji seseorang yang meskipun tidak kaya, tetapi menggunakan kekayaannya dengan benar akan terlahir di alam-alam yang membahagiakan (tamo joti parayano). Sebaliknya, seseorang yang menggunakan kekayaannya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, misalnya untuk berfoya-foya, maka setelah meninggal akan terlahir di alam-alam yang menyedihkan (joti tamo parayano). Tentunya jenis orang yang keempat yaitu "tamotama parayano" atau orang yang pergi dari tempat yang gelap menuju ke tempat yang gelap tidak dianjurkan. Memang orang yang miskin cenderung untuk melakukan kejahatan, tetapi seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha, dia bisa menjadi orang yang selamat dan bahagia di alam-alam berikutnya dengan berusaha dan berjuang keras. Menurut Agama Buddha kondisi ekonomi dan status sosial seseorang bisa berubah-ubah sesuai dengan usaha dan tindakan yang telah dilakukannya. 

Seorang perumah tangga, juga diharapkan untuk menghindari dari beberapa sebab yang membuat hilangnya kekayaan (apayamukha). Sigalovada Sutta menjelaskan adanya enam alasan yang menyebabkan hilangnya harta kekayaan, yaitu kecanduan akan minuman atau obat-obatan yang memabukkan, pergi ke jalan-jalan pada waktu yang tidak sesuai, terlalu sering pergi ke tempat-tempat pertunjukan, berjudi, bergaul dengan teman-teman yang tidak baik, dan kebiasaan bermalas-malasan. Lebih lanjut Anguttara Nikaya menerangkan bahwa pergi ke tempat-tempat pelacuran adalah salah satu sebab hilangnya kekayaan dan nama baik seseorang. Demikian juga Parabhava Sutta menjelaskan bahwa hal-hal tersebut di atas merupakan sebab-sebab keruntuhan seseorang.

Penutup
Dalam situasi perkembangan perekonomian yang semakin memuncak, di mana para pengusaha real estate, pemegang saham, pedagang dan hampir setiap orang bersaing untuk memenangkan pertandingan perebutan uang, manusia cenderung semakin serakah dan menjadi mahluk yang mementingkan kepentingannya sendiri (egois). Banyak perusahaan dan para konglomerat menguasai perekonomian dan memainkan permainan serta menentukan ataupun menjatuhkan pihak-pihak lain yang dianggap menghalangi kemajuan mereka. Tidak jarang pula terjadi penindasan kepada orang-orang kecil (si miskin) yang menyebakan jurang pemisah antara mereka semakin tinggi. Bagi mereka yang berhasil menjadi kaya, cenderung untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan lingkungan dan orang-orang lain di sekitarnya. Sebagian masyarakat kaya, karena produksinya melimpah, untuk menjaga kestabilan harga yang ada, mereka harus memusnahkan apa yang dianggapnya tidak perlu. Padahal sebagian dari masyarakat yang lain hidup kelaparan. Orang yang kurang berhasil cenderung melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Hal yang demikian menyebabkan masalah-masalah sosial yang harus kita pecahkan bersama. Setelah mengetahui bahwa kekayaan yang ada bukanlah satu-satunya tolok ukur kebahagiaan, maka sebagian masyarakat mulai berpikir melalui cara pandang yang lain. Seperti yang telah diterangkan di atas, Sang Buddha setelah melihat akan bahaya dari paham materialisme, menerangkan tentang berbagai cara untuk mendapatkan kekayaan dan setelah itu menggunakannya dengan jalan yang benar demi manfaat kehidupan ini dan kehidupan-kehidupan yang akan datang. Boleh dikatakan bahwa Sang Buddha adalah seorang ekonom yang mementingan rakyat banyak, terutama rakyat kecil. 
 
Agama Buddha memberikan anjuran kepada para umat untuk mengembangkan kesejahteraannya, baik kesejahteraan materi maupun kesejahteraan batin. Seorang ekonom barat bernama E.F. Schumacher dalam bukunya "Small is Beautiful" setuju dengan Agama Buddha yang mengajarkan bahwa lobha (keserakahan) dan dosa (kebencian) akan menghambat seseorang untuk mengembangkan pandangan yang menitik-beratkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Demikian juga Kuji Nakano dalam bukunya "Seihin no Shiso" atau "The Philosophy of Honest Poverty" menekankan bahwa hidup sederhana (apicchata), yang disebut "seihin" atau "kejujuran dalam kesederhanaan (honest poverty)" akan muncul jika seseorang menjalankan kehidupannya dengan hidup bersih tanpa adanya keinginan-keinginan pribadi. Pandangan hidup yang demikian membuat orang tidak lagi berlomba-lomba untuk saling menjatuhkan dan akan menyadari akan pentingnya hidup bersama. Pandangan yang tidak menitikberatkan tujuan-tujuan pribadi, membuat rakyat Jepang bisa saling membantu. 

Dalam pandangan Agama Buddha, manusia bukanlah sebagai penguasa alam yang berkuasa untuk mengatur alam ini sesuai dengan apa yang diinginkannya. Kedudukan manusia di alam semesta ini tidaklah tertinggi (supreme), tetapi manusia adalah bagian dari alam; sehingga dia harus berusaha menyesuaikan diri dengan alam dan berusaha untuk menggunakan sumber-sumber kekayaan alam dengan sebaik-baiknya. Pandangan yang demikian tentunya cukup berbeda dengan teori yang mengatakan bahwa binatang dan segala sesuatu yang ada di dunia ini diciptakan oleh Tuhan untuk kepentingan manusia; dan kedudukan manusia di dunia adalah tertinggi (supreme). Pandangan yang demikian membuat manusia lebih agresif untuk menguras sumber-sumber kekayaan alam dan menaklukkan alam. Tetapi pada kenyataannya mereka mulai menyadari bahwa di satu sisi manusia boleh merasa bangga atas kemenangan dalam perang melawan alam, tetapi di sisi yang lain, setelah terjadi penipisan lapisan ozon, adanya berbagai jenis polusi, musnahnya beberapa spesis binatang dan tumbuhan dan sebagainya, mereka semua termasuk mahluk yang tidak berdosa harus menanggung akibat dari kemenangan tersebut. Oleh karena itu, introspeksi dan evaluasi diri adalah sangat penting. 

Seperti yang telah diterangkan di atas, bahwa menurut Agama Buddha, kekayaan bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu: kekayaan materi yang bisa dicuri dan kekayaan batin yang tidak bisa dicuri oleh siapapun. Sangiti Sutta menyebutkan kekayaan yang tidak bisa dicuri adalah kekayaan ariya yang disebut "satta ariya dhana" atau "tujuh kekayaan ariya" yaitu keyakindan (saddha), kemoralan (sila), malu untuk berbuat jahat (hiri), takut untuk melakukan perbuatan jahat (ottapa), pengetahuan Dhamma atau pendidikan (suta), kemurahan hati (caga) dan kebijaksanaan (pabba). Ketujuh macam kekayaan ariya tersebut jauh lebih baik daripada kekayaan materi dan satta ariya dhana merupakan kekayaan yang terbaik dan tertinggi (anuttaram uttamam dhanaggam

Mendut, June 1, 1998

Sumber: http://www.buddhistonline.com/dhammadesana/desana7.shtml

Minggu, 02 Mei 2010

Penjelasan Mengenai Dana Oleh : Bhikkhu Ledi Sayadaw (almarhum)

Penjelasan Mengenai Dana
Oleh : Bhikkhu Ledi Sayadaw (almarhum)
 
Penggolongan Menurut Pasangan Dua
  1. AMISA DANA dan DHAMMA DANA

    Amisa Dana : Pemberian dalam bentuk materi (termasuk uang)
    Dhamma Dana: Pemberian berupa pengetahuan Dhamma, misalnya: mengajar, memberikan khotbah, menulis, menerbitka dan memberi buku-buku Dhamma.

    Dari keduanya, Dhamma Dana memberikan hasil atau vipaka yang lebih tinggi dan berguna. Karena “SABDA DANAM DHAMMA DANAM JINATI”, artinya: dari semua pemberian, pemberian DHamma-lah yang tertinggi. Amisa Dana menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan materi. Dhamma Dana menghasilkan timbulnya kebijaksanaan dan pengetahuan.

  2. SAKKACA DANA dan ASAKKACCA DANA
    Sakkacca Dana: Pemberian dengan hati-hati, sopan dan penuh hormat.
    Asakkacca Dana : Pemberian tanpa sifat-sifat tersebut di atas. Misalnya memberikan makanan kepada hewan, tanpa memperhatikan segi-segi kebersihan dan sebagainya.

    Jika Asakkacca Dana menghasilkan buah maka seseorang akan mendapatkan sikap yang kurang hormat atau kasar dari teman-teman, anak-anak atau pelayan-pelayannya.

  3. PUJA DANA dan ANUGGAHA DANA
    Puja Dana : Pemberian kepada orang-orang yang menjalankan sila dan orang-orang mulia. Atau orang yang mempunyai status lebih tinggi sebagai tanda hormat.
    Anuggaha Dana : Pemberian kepada orang yang lebih rendah.

    Puja Dana menghasilkan buah yang lebih banyak dan tinggi. Anuggaha Dana-pun jika dilakukan dengan tepat, dapat juga membawa hasil buah akibat yang besar. Seorang Bodhisattva, Raja Vessantara memberikan seorang anaknya kepada seorang Brahmana rendahan yang bernama Jujaka. Tetapi karena Cetana (kehendaknya) demikian kuat, maka hasil yang diterimanya sangat besar.

  4. SAHATTHIKA DANA dan ANATTHIKA DANA

    Sahatthika Dana : Pemberian dengan tangan sendiri atau secara pribadi.
    Anatthika Dana : Pemberian dengan menggunakan perantara, misalnya dengan melalui seorang pelayan.

    Bila Anatthika Dana menghasilkan buah, mungkin disertai dengan tiadanya pengikut atau teman. Raja Rajanna dilahirkan di Alam Dewa Catumaharajika dengan menerima istana yang besar (atas dana yang dilakukan selama hidupnya  sebagia manusia. Tetapi karena dana yang diberikan dilakukan melalui pelayannya, maka ia tinggal sendirian di dalam istana Dewa tersebut, tanpa adanya pelayan atau pendamping.

  5. THAVARA DANA dan ATHAVARA DANA

    Thavara Dana : Pemberian yang bersifat tahan lama, misalnya stupa, rumah peristirahatan, vihara, sekolah, jembatan, sumur, menara air, tanah dan sebagainya.
    Athavara Dana : Pemberian yang sifatnya tidak tahan lama, misalnya,   makanan, pakaian dan uang.

    Thavara Dana menghasilkan buah yang lebih kuat. Athavara Dana dapat menghasilkan buah yang sama kuat dengan Thavara Dana, bila Athavara Dana dilakukan dengan teratur dan terus menerus (dalam jangka waktu tertentu).

  6. SAPARIVARA DANA dan APARIVARA DANA

    Saparivara Dana : Pemberian yang disertai dengan tambahan-tambahan lain yang lengkap.
    Asaparivara Dana : Pemberian yang tidak disertai dengan tambahan-tambahan lain.

    Pemberian nasi saja adalah Aparivara Dana, bila disertai dengan lauk pauk dan kue-kue, termasuk Saparivara Dana. Sama juga halnya dengan pemberian roti saja, adalah Aparivara Dana. Sedangkan bila disertai dengan mentega atau selai adalah Saparivara Dana. Bila Aparivara menghasilkan buah, biasanya akan cenderung untuk tidak lengkap, misalnya seseorang menerima rumah, mungkin tak ada dindingnya.

  7. NICCA DANA dan ANICCA DANA

    Nicca Dana : Pemberian yang dilakukan secara teratur dan tetap.
    Anicca Dana : Pemberian yang dilakukan kadang-kadang saja. Dalam Anggutara Nikaya dikatakan bahwa jika seseorang melakukan Nicca Dana dan Thavara Dana adalah seperti seorang Sotapana. Dia tidak akan dilahirkan di alam Apaya (Alam menyedihkan / neraka).

  8. SANKHARA DANA dan ASANKHARA DANA

    Sankhara Dana : Pemberian Dana setelah mendapat dorongan atau anjuran dari orang lain.
    Asankhara Dana : Pemberian yang dilakukan atas kehendak sendiri, tanpa dorongan dari orang lain.

    Sankhara Dana bila menghasilkan buah, akan menjadi seseorang lamban berpikir dan bodoh, dan buahnya sendiri terbatas sekali. Asankhara Dana bila menghasilkan buah, akan menjadikan seseorang cerdas dan pandai, buahnya tidak terbatas.

  9. JANA DANA dan AJANA DANA

    Jana Dana : Pemberian yang dilakukan dengan sepenuh pengertian (mengerti akan akibat-akibatnya).
    Ajana Dana : Pemberian yang dilakukan dengan tidak mengerti / mengetahui apa akibatnya.

    Ajana Dana menghasilkan Dvihetuka Patisandhi. Mereka yang dilahirkan dengan Dvihetuka Patisandhi tidak banyak yang dapat mereka capai dalam kehidupan spiritual, sebab mereka tidak mempunyai Amoha (kebijaksanaan). Jana Dana membawa kea rah Tihetuka Patisandhi. Mereka yang lahir dengan Tihetuka Patisandhi dapat mencapai tingkat Arahat dalam kehidupan sekarang ini.

  10. VATTA NISSITA DANA dan VIVATTA NISSITA DANA

    Vatta Nissita Dana : Pemberian yang dilakukan untuk mengharapkan keuntungan-keuntungan yang bersifat duniawi. Keuntungan Duniawi melipyti keinginan untuk dilahirkan di alam-alam dewa, dilahirkan sebagai anak orang kaya.
    Vivatta Nissita Dana :Pemberian dengan tujuan untuk membebaskan diri dari Samsara (kesengsaraan) dengan tercapainya Nibbana / Kebebasan.

    Perbedaan antara Vatta Nissita Dana dengan Vivatta Nissita Dana ini merupakan keistimewaan dalam ajaran agama Buddha. Vatta Nissita Dana tidak membentuk Paramita; sedangkan Vivatta Nissita Dana dapat membentuk Paramita. Vatta Nissita Dana dapat pula membentuk Paramita, tetapi cenderung untuk memperpanjang Samsara (roda perputaran hidup dan mati).

  11. DHAMMA DANA dan ADHAMMA DANA

    Istilah Dhamma di sini lain dengan istilah Dhamma dalam nomor 1. Dhamma di sini berarti “sesuai dengan hokum alam (Dhamma)” atau “tidak melanggar hokum alam (Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha)”

    Dhamma Dana : Pemberian berupa nasi, pakaian dan sebagainya.
    Adhamma Dana : Pemberian berupa minuman keras, senjata, mesiu dan sebagainya barang-barang yang berbahaya, yang mungkin menjadikan seseorang melanggar Panati atau Surameraya Sila.

    (Untuk daftar lima macam Adhamma Dana lihat pada penggolongan Pasangan Lima)

  12. DHAMMIKA DANA dan ADHAMMIKA DANA

    Dhammika Dana : Pemberian yang betul diberikan kepada seseorang atau Yayasan yang dituju sejak dari semula.
    Adhammika Dana : Pemberian yang sebetulnya akan diberikan kepada seseorang atau suatu Yayasan, tetapi orang itu merubah pikirannya dan memberikannya kepada orang lain atau Yayasan lain.

  13. VATTHU DANA dan ABHAYA DANA

    Vatthu Dana : Pemberian barang materi.
    Abhaya Dana : Pemberian berupa suatu kebebasan kepada suatu makhluk dari bahaya atau dari kematian, misalnya membebaskan hewan-hewan dari kurungan (yang telah ditangkap), larangan untuk berburu di hutan, melatih / mematuhi Lima Sila (Pancasila) dan sebagainya.

  14. AJJHATIKA DANA dan BAHIRA DANA

    Ajjhatika Dana : Pemberian berupa anggota badan, misalnya mata, badan jasmani dan mengorbankan jiwa sendiri untuk kebaikan dan kebahagiaan orang lain.
    Bahira Dana : Pemberian biasa, tidak berupa anggota tubuh sendiri.

    Ada tiga macam Paramita (Kesempurnaan)
    1. Paramita biasa.
    2. Upa Paramita, yaitu pemberian anggota tubuh, tetapi tidak memberikanjiwa (hidup) seseorang.
    3. Paramattha Paramita, yaitu pemberian jiwa / hidup seseorang.

  15. SAVAJJA DANA dan ANAVAJJA DANA

    Savajja Dana : Pemberian yang disertai kekejaman atau pembunuhan makhluk hidup (binatang-binatang).
    Anavajja Dana : Pemberian yang tidak disertai denga kekejaman atau pembunuhan makhluk hidup.

    Savajja Dana bila menghasilkan buah, cenderung disertai dengan adanya bahaya-bahaya, atau dapat pula hilangnya jiwa seseorang.

  16. AGGA DANA dan UCCHITA DANA

    Agga Dana : Pemberian sesuatu yang terbaik dan terutama.
    Ucchita Dana : Pemberian berupa sesuatu yang bernilai rendah (barang sisa).

    Jika si penerima Ucchita Dana menghargai dan menyukai pemberian itu, maka Dana yang diberikan itu tetap akan membawa hasil yang besar. Yang paling penting adalah Cetana (kehendak) yang baik dan Sakkacca (sikap pikiran yang hormat dan sungguh-sungguh) dari si pemberi, misalnya orang kaya memberi orang miskin, pemberian tersebut nampaknya nilainya rendah di mata orang kaya, tetapi dalam pandangan si orang miskin, barang tersebut sangat diharagai. Demikian juga dengan pemberian kepada hewan-hewan.
  17. HINA DANA dan PANITA DANA

    Hina Dana : Pemberian yang bernilai rendah.
    Panita Dana : Pemberian yang bernilai tinggi.

    (Penjelasan sama dengan penjelasan nomor 16)

Penggolongan Menurut Pasangan Tiga
  1. HINA DANA, MAJJHIMA DANA dan PANITA DANA.
    1. Hina Dana : Pemberian yang dilakukan dengan harapan mendapat kemasyhuran.
    2. Majjhima Dana : Pemberian yang dilakukan dengan tujuan untuk dapat dilahirkan sebagai manusia yang kaya.
    3. Panita Dana : Pemberian yang dilakukan dengan harapan untuk mencapai kebebasan (Nibbana).
     
  2. DASA DANA, SAHAYA DANA dan SAMI DANA.
    1. Dasa Dana : Pemberian yang bernilai rendah, misalnya sesuatu yang biasa diberikan kepada seorang budak.
    2. Sahaya Dana : Pemberian yang mempunyai tingkat yang sama dengan apa yang biasa digunakan seseorang yang sama kedudukannya, misalnya sesuatu yang diberikan kepada seorang teman.
    3. Sami Dana : Pemberian yang bernilai tinggi, misalnya sesuatu yang bisa dipakai oleh para majikan atau raja-raja.
     
  3. LOKA DANA, ATTA DANA dan DHAMMA DANA
    1. Loka Dana : Pemberian yang dilakukan karena tradisi setempat (takut dipandang rendah  bila tidak ikut berdana).
    2. Atta Dana : Pemberian yang dilakukan untuk menjaga kewibawaan / pangkat seseorang.
    3. Dhamma Dana : Pemberian yang dilakukan karena ingin mempratekkan ajaran agama.
     
Penggolongan Menurut Pasangan Empat
  1. CATTU PACCAYA DANA
    Penggolongan ini meliputi empat macam kebutuhan seorang Bhikkhu :
    1. Civara Dana : Pemberian jubah kepada bhikkhu.
    2. Pindapatta Dana : Pemberian makanan kepada bhikkhu.
    3. Bhesajja Dana : Pemberian obat-obatan kepada bhikkhu.
    4. Senasana Dana : Pemberian tempat tinggal atau kuti kepada bhikkhu.
    Senasana Dana memberikan buah jasa yang paling tinggi. VIHARA DANAM SANHASA AGGAM BUDDHENA VANNITAM. Artinya: Sebuah tempat tinggal bhikkhu yang diberikan kepada Sangha dipuji oleh Sang Buddha sebagai pemberian hadiah tertinggi. SOCA SABBADODA HOTI, YO DADATI UPASSAYAM, yang berarti : seseorang yang mendirikan tempat tinggal bhikkhu sebagai hadiah kepada Sangha, sama nilainya dengan segala macam hadiah.
     
  2. DAKKHINA VISUDDHI DANA

    Penggolongan ini didasarkan atas:
    1. Sifat si pemberi yang berbudi luhur (menjalankan sila).
    2. Sifat si pemberi yang tidak berbudi luhur (tidak menjalankan Sila)
    3. Sifat si penerima yang berbudi luhur (menjalankan Sila).
    4. Sifat si penerima yang tidak berbudi luhur (tidak menjalankan Sila)
Bila keduanya berbudi luhur, pemberian tadi akan menghasilkan buah yang banyak; jika salah satunya tidak berbudi luhur, hasil yang diperolehnya hanya sedikit.

Penggolongan Menurut Pasangan Lima
ADHAMMA DANA (lihat nomor 11 dari Penggolongan Menurut Pasangan Dua), ada lima macam Adhamma Dana, yakni :
  1. Pemberian makanan minuman yang memabukkan, dan senjata dengan mesiunya.
  2. 2. Pemberian boneka-boneka untuk pertunjukkan, alat tari-tarian.
  3. Pemberian berupa hewan-hewan untuk maksud seksual.
  4. Pemberian berupa wanita-wanita untuk maksud seksual.
  5. Pemberian gambar atau karya-karya yang dapat menimbulkan Kilesa (kekotoran bathin).
Bila Seseorang memberikan racun, tali pengikat, pisau atau senjata-senjata lain secara sadar kepada seseorang yang ingin bunuh diri (juga cara-cara bunuh dirinya ikut diterangkan), hal itu termasuk Panatipata Kamma, bukan Kusala Kamma. Hal ini juga berlaku bagi seseorang yang sedang berusaha untuk membunuh orang lain. Tetapi, seandainya racun diberikan untuk tujuan penyembuhan penyakit, maka hal itu adalah Kusala Kamma.
Jika senjata-senjata dan mesiunya pertama-tama dibuat tak berbahaya, kemudian dapat digunakan di Vihara, maka hal itu adalah Kusala Kamma (perbuatan baik).
Pemberian berupa alat untuk menari, pertunjukkan dan sebagainya yang dapat menyebabkan timbulnya Kilesa (kekotoran bathin) adalah Akusala Kamma. Tetapi bila alat-alat seperti seruling, tambur, bedugdan sebagainya digunakan untuk menghasilkan suara-suara yang cocok dan sesuai untuk vihara, maka pemberian barang-barag tersebut tidak termasuk Akusala Kamma.
Bila barang-barang/obat-obatan yang memabukkan diberikan tidak dengan maksud untuk mabuk-mabukkan, tetapi untuk obat (dengan ditelan atau untuk dipakai diluar) dengan tujuan utama untuk menyembuhkan penyakit, maka hal itu adalah Kusala Kamma.
Pemberian hewan-hewan dan manusia (wanita) untuk menjalankan Kusala Kamma, dan tidak untuk maksud seksual atau perbuatan tidak bermoral lainnya, dapat dikatakan sebagai Dhamma Dana.
Di Dalam Velamaka Sutta, urutan daripada buah jasa yang diperoleh sesuai dengan tingkat-tingkat si penerima dan sesuai dengan hakikat / sifat perbuatan Dana tersebut adalah sebagai berikut :
  1. Memberikan makanan kepada seseorang yang telah mencapai kesucian tingkat Sotapanna (tingkat pertama), akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada memberikan Dana ke-empat jurusan, yang dilakukan oleh Brahmana Velamaka selama 7 tahun, 7 bulan dan 7 hari.
  2. Memberikan makanan sekali kepada seorang Sakadagami (Kesucian kedua) akan lebih banyak menghasilkan buah daripada 100 orang Sotapana.
  3. Kepada seorang Anagami akan menghasilkan buah jasa lebih banyak daripada 100 orang Sakadagami.
  4. Kepada seorang Arahat (Kesucian terakhir) akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada 100 orang Anagami (Kesucian ketiga)
  5. Kepada seorang Pacceka Buddha (Buddha “Diam”) akan menghasilkan buah jasa yang lebih banyak daripada 100 orang Arahat.
  6. Kepada seorang  Samma Sambuddha (Buddha “Sempurna”) akan menghasilkan buah jasa yang jauh lebih banyak daripada 100 orang Pacekka Buddha.
  7. Pemberian kepada Sangha (Pesamuan para Bhikkhu), akan menghasilkan buah jasa jauh lebih banyak daripada Samma-Sambuddha.
  8. Pemberian sebuah Catudisa Sanghika Vihara menghasilkan buah jasa yang jauh lebih banyak. Ini adalah pemberian berupa dana materi yang tertinggi.
  9. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah Berlindung kepada Sang Tiratana.
  10. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah mematuhi / melaksanakan Pancasila Buddhis.
  11. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah melatih Samatha Bhavana untuk beberapa saat.
  12. Lebih menghasilkan buah jasa yang besar adalah melatih Vipassana Bhavana / Meditasi Pandangan Terang.
Seseorang dapat mencapai Nibbana dengan salah satu dari lima cara berikut ini :
  1. Sebagai seorang Savaka Buddha atau seorang Arahat, Pengikut Ariya biasa dari Sang Buddha.
  2. Sebagai seorang Mahavasaka atau pengikut sang Buddha dengan disertai suatu kemampuan istimewa. Di zaman Sang Buddha ada 80 Mahasavaka.
  3. Sebagai seorang Aggasavaka atau Pengikut Utama Sang Buddha. Setiap Buddha selalu mempunyai 2 orang Aggasavaka, yaitu Pengikut Utama Sebelah Kiri dan Pengikut Utama Sebelah Kanan.
  4. Sebagia seorang Pacceka Buddha atau Buddha Diam (Tak mempunyai kemampuan untuk membimbng orang lain menuju pencapaian Tingkat Kesucian).
  5. Sebagai seorang Sammasambuddha atau seorang Buddha Yang Maha Sempurna. Mencapainya dengan usaha sendiri, dan dapat membimbing orang lain menuju Pencapaian Tingkat Kesucian.
Untuk mencapai tingkat Sammasambuiddha, seseorang harus memenuhi syarat melakukan tiga macam Paramita. Untuk menjadi seorang Pacceka Buddha dan Aggasavaka, seseorang harus melakukan dua macam Paramita. Sedangkan untuk menjadi seorang Arahat biasa (Savaka Buddha atau Mahasavaka), dibutuhkan satu macam Paramita saja.

Penjelasan singkat ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana cara melakukan pemberian yang baik. Sangat diharapkan agar penjelasan tersebut dapat membantu kita dalam menerapkan dasar-dasar Kamma yang baik.

 Sumber: Kalyanadhammo (Bodhi Buddhist Centre http://www.reocities.com/bbcid1/ad/ajaran14.htm)

Minggu, 25 April 2010

FILSAFAT ILMU PENGETAHUANNYA BUDDHISME Oleh : GERALD DU PRE



FILSAFAT ILMU PENGETAHUANNYA
BUDDHISME
Oleh :
GERALD DU PRE

Psikologi, atau Ilmu Jiwa, itu tidak hanya merupakan studi khusus mengenai bidang pengetahuan tertentu saja, tetapi juga membicarakan beberapa hal tentang sifat pengetahuan itu sendiri. Sama seperti itu, Filsafat Mahayana itu tidak hanya merupakan studi khusus mengenai filsafatnya Buddhisme saja, tetapi juga membicarakan filsafat pengetahuan secara umum.

Saya akan membahas Filsafat Pengetahuan (= Philosophy of Knowledge)-nya Buddhisme disini, khususnya mengenai Madhyamika atau Ajaran Jalan Tengah (= Middle Doctrine), dan akan menyampaikan argumentasi saya bahwa itu didalam realitasnya merupakan Filsafat Ilmu Pengetahuan (= Philosophy of Science) yang bersifat revolusioner.

Telah diketahui dengan baik bahwa Buddhisme itu mengenal kasunyataan empiris, - yaitu yang dinamai samvrti-satya, atau kasunyataan relative dari Aliran Madhyamika. Seperti para sarjana, umat Buddha juga menghargai penggunaan secara ketat logika dan definisi yang tepat dari istilah-istilah. Didalam Buddhisme, sama seperti pada Ilmu Pengetahuan, theori itu didasarkan pada observasi dan praktik. Umat Buddha, seperti para sarjana, juga menentang dogma, dan tidak memiliki naskah-naskah suci yang dihormati seperti terhadap authoritas-authoritas yang paling tinggi. Mereka mempercayai kebebasan bertanya dan toleransi, serta secara terus menerus mengingatkan, seperti sikap Newton, untuk menentang metafisika.

Tetapi, saya dapat mendengar bantahan-bantahan, baik dari umat Buddha, maupun dari para sarjana. Lebih penting dari semuanya, adalah bahwa filsafat Madhyamika itu meng-claim bahwa kasunyataan yang relative itu didasarkan pada sunyata, suatu istilah yang dipergunakan untuk menunjukkan paramartha-satya atau kasunyataan yang paling tinggi (= ultimate truth), yang dikatakan sebagai diluar definisi. Jadi, tampaknya, Buddhisme itu berpegang teguh pada pandangan yang religious, yaitu berpendapat bahwa ilmu pengetahuan itu membicarakan pengetahuan tentang dunia material, tetapi Buddhisme juga berpendapat bahwa dunia ini didasarkan pada sesuatu yang bersifat immaterial, tidak bersifat material -, yang keadaannya lebih riil dari keadaan riilnya dunia yang nampak ini.

Memang banyak umat Buddha yang mengatakan bahwa sunyata itu mewakili kasunyataan spiritual (= spiritual truth), yang keadaannya sangat berbeda dari kasunyataan material-nya ilmu pengetahuan. Terhadap pandangan yang demikian ini, banyak para sarjana yang menjawab bahwa filsafat Madhyamika, dengan meng-claim adanya eksistensi kasunyataan yang paling tinggi, tetapi menolak menerangkan apa sesungguhnya yang dimaksud dengan kasunyataan yang paling tinggi itu, berarti mengaburkan keseluruhan pengertian tentang pengetahuan, dan berpendapat bahwa filsafat mereka itu paling tidak bernilai, dan bahkan bersifat destruktif.

Itu di mata para sarjana jelas nampak keadaannya seperti Agama Kristen yang berpakaian baju Dunia Timur. Di Dunia Barat, para ahli theologi Kristen yang hidup di Abad Pertengahan percaya bahwa dunia spiritual, dunia surga, itu tidak dapat dilihat, namun keadaannya lebih riil dari pada dunia yang dapat kita lihat ini. Mereka mengecilkan arti pengalaman keindriaan, dengan mengatakan bahwa pengalaman keindriaan itu merupakan sumber illusi, atau kepalsuan, dan kesalahan. Kemudian, para filsuf metaphysis berpegang teguh pada hakekat pandangan yang sama seperti tersebut dimuka tadi. Para ahli filsafat pengetahuan dari Dunia Barat setuju terhadap pandangan bahwa salah satu innovasi, atau pembaharuan, dari ilmu pengetahuan, yang besar, adalah ide yang mengatakan bahwa pengalaman keindriaan, - suatu pengalaman yang diperoleh ketika organ-organ indria berkontak dengan objek -, itu menjadi basis pengetahuan. Spekulasi atau dogma tentang dunia-dunia, atau alam-alam, diluar pengalaman keindiriaan, itu bersifat metaphysis, yang dapat benar, tetapi juga dapat tidak benar.

Buddhisme itu, saya yakini, tidak memajukan, atau mendukung pandangan tentang kasunyataan, dari Agama Kristen, yang demikian itu. Di Tanah Air Pangeran Siddhartha, yaitu India, disitu doktrin-doktrin religi-nya adalah apa yang sekarang dinamai Hinduisme. Hinduisme mempunyai filsafat pengetahuan yang sangat mirip dengan pandangan tersebut diatas, yang lalu dirumuskan oleh Agama Kristen. Sama seperti pandangan Agama Kristen, Hinduisme percaya bahwa pengalaman keindriaan itu bersifat illusi, bersifat palsu, dan dipercayai pula bahwa yang riil, adalah Ke-Aku-an yang tidak tampak (= invisible Self), yang berada dibelakang dunia yang tampak ini.

Semua Umat Buddha mengetahui betapa gigihnya Pangeran Siddhartha menolak pandangan pengetahuan dari Hinduisme, dengan mengemukakan doktrin dasar dari Buddhisme, yang dinamai Anatta. Sang Buddha menolak dunia metaphysis atau dunia religious-nya Hinduisme, yang diterangkan sebagai diluar pengalaman keindriaan; dan yang berpendapat bahwa dunia tersebut lebih rill dari pengalaman keindriaan. Sang Buddha telah mengemukakan doktrinnya tentang Sunyata, atau Kekosongan (= Emptiness), sebagai jawaban yang radikal terhadap pandangan Hinduisme, dan beberapa jawaban yang radikal terhadap pandangan Hinduisme, dan beberapa abad kemudian para filsuf Madhyamika telah mempertahankan pandangan tersebut sebagai yang sama dengan istilah Tathata. 1. Jadi, Pangeran Siddhartha, dan kemudian para filsuf Madhyamika telah mengemukakan secara berulang-ulang bahwa sunyata itu tidak merupakan dunia yang bersifat metaphysis, tidak mysterious, atau kabur, dan bukan merupakan sesuatu pengertian atau konsep yang sama sekali abstrak. Jadi, itu tidak bersifat spiritual, didalam arti kata yang metaphysis atau abstrak.

"Seorang yang telah memperoleh Kemenangan atas ketidaktahuan, pernah mengatakan bahwa kekosongan itu adalah mirip sesuatu penghapus semua pandangan-pandangan; tetapi orang-orang yang telah memperoleh kekosongan itu, lalu memiliki pandangan-terang, yang tak dapat dilenyapkan dari alam pikirannya." 2.

Sunyata itu diterangkan sebagai keadaan tidak terdapatnya segala sesuatu, tetapi juga bukan keadaan yang hampa dari sesuatu. Sunyata itu bukan suatu eternalisme, atau keadaan yang abadi, namun juga bukan merupakan essensi yang selalu ada, yang terdapat dibelakang semua phenomena, atau gejala-gejala, dan pula bukan suatu nihilisme. Sunyata, berarti kekosongan (= emptiness), dan diterangkan bersifat kosong, suatu kekosongan yang sempurna. Apa yang dapat diterangkan lebih lanjut mengenai keadaan yang kosong itu?

Saya percaya bahwa bagi umat Buddha, terutama dari aliran Madyamika, filsafat pengetahuan (= philosophy of knowledge) itu adalah filsafat ilmu pengetahuan (= philosophy of science), karena saya percaya bahwa sunyata itu menunjuk kepada pengalaman, suatu pengalaman aktual itu sendiri - (= actual experience itself).

Sunyata itu berkeadaan rill, merupakan keadaan tidak terdapatnya sesuatu, namun bukan keadaan yang hampa dari sesuatu; berkeadaan jelas dan dapat dihayati secara langsung, namun tidak mungkin dapat kita tangkap pengertiannya sepenuhnya dengan fikiran kita; merupakan sesuatu yang semua sifat-sifatnya dapat disebutkan, namun hanya melalui pengalaman yang aktual sajalah kemungkinannya sunyata itu dapat ditunjukkan ciri-cirinya. Hanya dalam arti yang demikian itu filsafat Mahayana dapat mengungkapkan arti sunyata, dan yang harus dirasakan, atau dihayati sendiri oleh orang yang ingin mengetahui makna sunyata itu. Pangeran Siddhartha sendiri dengan jelas mendasarkan ajarannya atas pengalaman, dan Buddhisme secara keseluruhan itu membicarakan pengalaman. Aliran Yogacara dan Vijnanavada, dari Buddhisme, itu secara khusus mengidentifikasi sunyata dengan pengalaman.

Namun, sunyata itu bukan berarti suatu konsep tentang "pengalaman", seperti yang disarankan oleh aliran Yogacara dan Vijnanavada. Sunyata itu berarti kekosongan (= voidness = emptiness), yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah keadaan kosong dari sesuatu konsep.

Sunyata itu menunjukkan pengalaman yang aktual itu sendiri,- suatu pengalaman yang sifatnya langsung atas penglihatan, pendengaran, pencecapan, penciuman, perabaan, dan fikiran yang konseptual. Jadi, sunyata itu ada disini, ada sekarang ini, merupakan pengalaman yang aktual atas kata-kata yang terdapat didalam halaman buku ini, atas cahaya yang terdapat di kamar ini, atas penghayatan bahwa kita sedang duduk di atas kursi ini, atas kicau burung yang ada diluar kamar kita itu. Untuk menunjukkan counteraksi-nya dari kesan negatifnya, yang diberikan oleh istilah sunyata, pengalaman yang aktual ini juga ditunjukkan oleh istilah partner-nya, yaitu istilah tathata, atau kesedemikianan (= thusness = suchness = thatness). Istilah tathata, menunjukkan pengalaman yang aktual yang secara sederhana diungkapkan dengan berkata "itu" (= that"), seperti yang dilakukan seseorang yang sedang menunjukkan sebuah kamar, dengan lambaian tangannya.

Oleh karena sunyata itu menunjukkan pengalaman yang aktual, dan lalu Pangeran Siddhartha mengajarkan pandangan yang ilmiah tentang pengalaman, - yaitu dengan mengatakan bahwa yang dinamai pengalaman itu adalah sesuatu yang dapat dilihat dan dapat didengar secara langsung -, maka pengalaman itu lalu menjadi authoritas yang paling tinggi. Hal yang demikian itu menjadikan Sang Buddha merupakan filsuf bidang filsafat ilmu pengetahuan yang pertama di dunia. Ketika Nagarjuna berkata bahwa kasunyataan yang relative itu berdasarkan pada sunyata, beliau berarti mengatakan bahwa theori ilmu pengetahuannya didasarkan pada pengalaman yang langsung, - dan keterangan yang demikian ini secara tepat, dapat kita katakan uraiannya merupakan filsafat ilmu pengetahuan, didalam wujud intisarinya, atau didalam kalimat yang ringkas.

Lalu, mengapa Pangeran Siddharta dan Nagarjuna, keduanya menolak mengatakan secara tepat, tentang apa yang beliau maksudkan dengan istilah sunyata itu? Itu akan tidak banyak menimbulkan problema, apabila diartikan sebagai hanya berupa pengalaman keindriaan (= sense experience). Ketika para filsuf bidang filsafat ilmu pengetahuan, dari Dunia Barat, berbicara tentang pengalaman, yang mereka maksudkan adalah pengalaman keindriaan. Tetapi para ahli ilmu jiwa mempergunakan istilah tersebut dalam arti yang luas. Mereka sadar bahwa emosi itu merupakan bagian dari pengalaman, bahwa kata-kata dan angka-angka, serta konsep-konsep itu juga merupakan bagian dari pengalaman. Pangeran Siddhartha, seorang psychologi, atau ahli ilmu jiwa, yang ilmiah, itu memahami pengalaman didalam arti yang luas, seperti yang dimaksudkan oleh para ahli ilmu jiwa.

Sang Buddha itu memanglah pandangannya tentang pengalaman bersifat inklusif, - yaitu suatu pandangan yang tidak hanya logis, tetapi juga berdasarkan pengetahuan yang diperoleh secara langsung, karena beliau telah mencapai Penerangan Sempurna (= Enlightenment = Kesadaran Nirvana). Kalau orang tidak begitu mengalami kesukaran didalam memahami apa yang dimaksud dengan "pengalaman yang aktual", maka orang mengalami kesukaran jika akan memahami pengertian "pengalaman yang total", dan mudah mengalami kesalahpengertian terhadap suatu posisi philosophis, misalnya idealisme. Pangeran Siddhartha mengetahui bahwa para penganutnya akan mudah mengalami kesalah-pengertian seperti yang dimaksudkan diatas itu.
"demikianlah... yang akan dialami oleh anda
anda sekalian, di masa-masa yang akan datang. Suttanta-Suttanta yang diucapkan oleh Sang Tathagata, itu begitu dalam, begitu sangat dalam maknanya, sehingga apabila dikemukakan mengenai pengertian dunia, dan pengertian kekosongan, dengan kalimat yang biasa, mereka tidak akan mau mendengarkannya. Tetapi apabila Suttanta-Suttantanya diungkapkan didalam bentuk syair... dengan beraneka ragam kata-kata yang indah-indah, dengan aneka ragam ungkapan-ungkapan... maka mereka akan mau mendengarkannya." 3
Pengalaman yang demikian sifatnya itu, tidak dapat didefinisikan, karena semuanya ada didalam lingkupnya dan semua konsep dan definisi-definisi itu telah ada didalamnya. Tidak ada sesuatu yang dapat diperbandingkan dan dipertentangkannya. Untuk menamai pengalaman yang demikian itu akan membuatnya menjadi pengertian yang bersifat metaphysis, dan lalu dengan cepat akan mencemarkannya menjadi suatu ide tentang essensi atau substrasi yang berada dibelakang atau dibawah pengalaman yang aktual. Atas dasar ini Candrakirti menamakannya vijnana (= kesadaran atau pengalaman), yang sejenis seperti pengertian Atman atau Ke-Aku-an menurut faham Hindu (Hindu Self) didalam bentuk yang terselubung. 4. Juga :
"Apabila terdapat beberapa hal yang bersifat tidak-kosong (= non-empty), tentu juga terdapat beberapa hal yang diistilahkan sebagai kosong (= empty); lalu apabila tidak terdapat sesuatu yang sifatnya tidak-kosong, lalu dimana mungkinnya terdapat sesuatu yang sifatnya kosong?." 5.
Dan dengan demikian, baik Pangeran Siddhartha, maupun Nagarjuna, tidak mengatakan bahwa sunyata itu dapat ditunjukkan, tetapi hanya menyarankan agar orang mempelajari therapy meditasi menurut Buddhisme, yang memungkinkan sang meditator dapat memahami pengalaman total, secara langsung.

Dalam memberikan argumentasinya dari titik-kedudukan bahwa kasunyataan yang bersifat absolut dan yang paling hakiki itu hanyalah pengalaman itu sendiri, lalu Nagarjuna mengsistematisir ajaran Pangeran Siddhartha, dan kemudian mengatakan bahwa semua kata-kata, semua lambang-lambang, semua konsep-konsep itu hanya dapat membahas kasunyataan didalam sifatnya yang relative atau empiris saja.

Para sarjana menerima secara keseluruhan pembatasan atas lambang-lambang itu, dan sangat menyadari bahwa kasunyataan yang paling tinggi, yang dapat mereka harapkan untuk diperoleh adalah kasunyataan yang bersifat relative. Mereka mengetahui bahwa penggunaan dari sesuatu kata yang bersifat deskriptif itu bersifat relative hubungannya dengan pengalaman yang sedang diuraikan, dan bahwa arti dari sesuatu bagian dari suatu theori itu bersifat relative hubungannya dengan arti bagian-bagian yang lainnya. Theori-theori itu adalah merupakan model-model symbolis atau konseptual, dan tetap disesuaikan dengan keterangan dari informasi baru, yang diperoleh dari observasi, serta tetap selalu dinilai kebenarannya atas dasar theori-theori lainnya. Sebaliknya, observasi itu dapat menumbangkan keseluruhan theori dan dapat melahirkan theori yang baru. Para sarjana itu, salah satu tugasnya adalah menyusun model-model dunia. Mereka tidak pernah mempergunakan kata-kata yang sifatnya sama sekali bersifat absolut atau paling hakiki.

Oleh karena itu, Buddhisme itu tidak mengadakan argumentasi, tidak memiliki pertentangan, dengan ilmu pengetahuan. Baik Buddhisme, maupun ilmu pengetahuan, itu tidak mendewakan konsep-konsep. Keduanya memandang angka-angka dan kata-kata serta logika sebagai alat-alat yang berguna untuk melaksanakan tugas-tugas yang penting, tidak memperlakukannya sebagai tujuan itu sendiri. Jadi, umat Buddha itu menerima validitasnya ilmu pengetahuan, dan apabila mereka bersaing dengan sesuatu hypothesa ilmiah, mereka melakukannya berdasarkan landasan empiris.

Ilmu pengetahuan Dunia Barat itu tidak hanya merupakan kasunyataan yang relative; itu juga merupakan suatu sistem yang sehat, atau baik, yang mencakup segala sesuatu, dan yang paling sukses, dari kasunyataan yang bersifat relative, yang pernah diperkembangkan oleh Manusia. Itu merupakan suatu kesatuan, telah distandardisasi, bersifat akkumulatif, dan tersebar luas di dunia. Buddhisme itu dapat memperoleh keuntungan dari sistem kasunyataan relative yang demikian itu, - suatu kasunyataan relative yang berasal dari penyelidikan yang bebas, yang berakar pada sekumpulan theori yang bersifat empiris dan akkumulatif. Buddhisme mengkritik loncatan yang tak berdisiplin dari satu fakta ke fakta yang lainnya (vicikiccha). Ilmu pengetahuan Dunia Barat dapat menolong Buddhisme untuk menyatukan dan mengsistematisir dharmanya dan menghubungkannya dengan secara berhasil dengan sekumpulan theori ilmiahnya Dunia Barat.

Para filsuf bidang filsafat ilmu pengetahuan dari Dunia Barat mungkin telah bersiap-siap untuk menyetujui pendapat bahwa Buddhisme telah memajukan filsafat ilmu pengetahuan, seperti yang argumentasinya telah saya kemukakan dimuka tadi. Tetapi mereka mungkin berkeadaan sangat ragu-ragu tentang yang dilakukan oleh buddhisme dengan istilah Kasunyataan yang bersifat hakiki atau yang paling tinggi (= Ultimate Truth), yang akan disumbangkan oleh Buddhisme terhadap ilmu pengetahuan itu. Didalam keinginan mereka untuk menggaris bawahi bahwa ilmu pengetahuan itu hanya membicarakan kasunyataan yang relative, mereka (para sarjana, para ahli ilmu pengetahuan) itu telah memisahkan, atau mengeluarkan dari lingkupnya, semua yang absolut dan yang hakiki, dari filsafat mereka. Mungkin mereka merasa bahwa filsafat ilmu pengetahuan-nya Madhyamika itu dengan menggaris bawahi pengalaman yang total, dan kurang begitu menghargai pengalaman keindriaan, serta menamakan itu sebagai kasunyataan yang absolut, berkeadaan jauh dari bersifat revolusioner; hal yang demikian itu dikatakan sebagai bersifat "mystic" yang tidak usah dikemukakan, karena kurang perlu, dan bersifat kabur. Tetapi kita dapat mengatakan bahwa mereka berkata secara tepat, apabila mereka mengatakan bahwa pengalaman yang total itu merupakan satu-satunya kasunyataan yang absolut, atau yang hakiki, dan filsafat ilmu pengetahuannya Buddhisme itu bersifat begitu revolusioner.

Pertama, dengan mengemukakan perlunya dimiliki pandangan bahwa filsafat ilmu pengetahuan yang sempurna itu hendaklah memiliki kasunyataan yang hakiki atau yang paling tinggi, dan kasunyataan yang relative, dapat mencegah filsafat ilmu pengetahuan terpecah, menjadi ilmu pengetahuan yang bersifat "material" di satu fihak, dan religi yang bersifat "spiritual" dan philosophi metaphysis, di fihak satunya lagi. Pandangan filsafat ilmu pengetahuan, yang sempurna, hendaklah memiliki kedua aspek tersebut diatas.

Karena keterpecahan yang demikian itu benar-benar telah terjadi di Dunia Barat, maka kita telah mengalami penderitaan tentang dualisme itu, hingga sekarang ini. Di Dunia Barat itu perkembangan filsafat ilmu pengetahuan berjalan secara sangat lambat. Ilmu pengetahuan itu secara setingkat demi setingkat memperbedakan dirinya dari pandangan yang bersifat religious atau metaphysis mengenai kasunyataan dan pengetahuan, tetapi tidak perlu menyerang pandangan tersebut. Banyak sarjana-sarjana yang juga telah menerima kasunyataan religious tersebut, dan beberapa lainnya tetap melanjutkan bersikap demikian, bahkan hingga sekarang. Pandangan yang secara setingkat demi setingkat muncul, adalah bahwa ilmu pengetahuan itu membicarakan sejenis kasunyataan, yang bersifat praktis, dan menyangkut masalah sehari-hari, yang membicarakan bekerjanya dunia material, sedang religi, filsafat metaphysis, syair-syair, seni dan musik, itu membicarakan kasunyataan yang tidak terikat waktu, yang membicarakan dunia rohani.

Sebagai hasilnya, maka ilmu pengetahuan itu telah memperoleh reputasi yang diberi cap berkeadaan dangkal, dan bersifat tehnis, serta didalam beberapa hal bersifat terbatas dan tidak lengkap. Orang-orang mencari-cari disana-sini, tentang apa yang kurang pada ilmu pengetahuan; mereka mencarinya didalam tempat-tempat yang tampaknya kurang tepat, yaitu pada astrology, pada alchemy, dan pada black magic, tetapi juga mencarinya pada kesenian, serta pada Religi-Religi yang sudah mantap, untuk mencari yang bersifat transcendent, karena sesuatu yang sifatnya tidak mengalami perubahan-perubahan itu akan memberikan tempat yang damai bagi mereka. Namun usaha-usaha penyelidikan mereka itu biasanya sia-sia belaka.

Filsafat ilmu pengetahuannya Buddhisme telah menyatukan kasunyataan "material" dan kasunyataan "spiritual" didalam filsafat yang terpadu. Dengan melakukan hal yang demikian itu, filsafat ilmu pengetahuannya Buddhisme dapat melenyapkan sifat kekakuan yang menekan dari kasunyataan materialnya ilmu pengetahuan, dan dapat melenyapkan sifat spiritualnya dari semua sifat metaphysisnya ilmu pengetahuan, dan membawanya kembali ke pengalaman langsung, yang dihayati di dunia nyata ini, dan sekarang ini.

Didalam Buddhisme, perkataan rohani (= spirit), apabila digunakan, berarti pengalaman aktual yang bersifat total. Itu tidak pernah berarti essensi, atau roh (= soul), atau suatu alam ideal yang makhluk yang bersifat abadi (= immortal being). Apabila perkataan "spiritual" dipakai pada Buddhisme, maka itu yang dimaksudkan adalah pengalaman. Itu menunjukkan bukan terhadap sesuatu pengalaman yang khusus, tetapi kepada pengalaman total, dan terhadap pemahaman yang langsung atas pengalaman total, melalui penghayatan Penerangan Sempurna. Pengalaman yang sama, yang menjadi basis ilmu pengetahuan, didalam keseluruhannya, menjadi basis dari kebebasan.

Didalam Buddhisme aliran Mahayana, yang dinamai zat (= matter), adalah pengalaman yang dikonseptualisasikan. Agar supaya membentuk suatu model yang bersifat simbolis atau konseptual, dari pengalaman, yaitu misalnya pengalaman mengenai dunia, atau tubuh, atau otak, tugas kita akan terasa enak, tidak sukar, apabila kita mau menganggap pengalaman itu sebagai zat (= matter = stuff), Dunia material itu sesungguhnya tidak berat, padat, atau menekan. Itu hanyalah merupakan suatu model konseptual dari pengalaman, yang juga ada didalam pengalaman. Jadi, istilah rupa, yang dipergunakan oleh Buddhisme aliran Theravada, itu berarti zat (= matter), dan oleh aliran Mahayana, berarti bentuk (= form), atau model konseptual.

Filsafat pengetahuannya Mahayana, tentang alam, itu terbagi menjadi roh (= spirit) dan zat (= matter), dan mentransformasikannya menjadi kekosongan (= emptiness) dan bentuk (= form), yaitu menjadi pengalaman total dan model-model konseptual. Dan itu mentransformasikan pandangan yang religious dari dunia material, yang muncul dari dan berada didalam dunia spiritual, menjadi pandangan ilmiah tentang model-model konseptual, yang muncul dari dan berada didalam pengalaman aktual yang bersifat total.

Itu cukup bersifat revolusioner, tetapi filsafat ilmu pengetahuannya Mahayana, memiliki keterangan lebih lanjut. Dengan mengatakan bahwa pengalaman aktual yang bersifat total, itu saja yang merupakan kasunyataan yang hakiki, maka itu membuat tidak bersuaranya semua metaphysika, baik yang ada didalam, maupun yang ada diluar, dari ilmu pengetahuan. Itu memperkuat fakta bahwa kasunyataan yang ilmiah itu tidak pernah lebih dari kasunyataan yang relative, yang memiliki nilai yang besar, tetapi diterangkan lebih lanjut, dan dikatakan bahwa suatu kasunyataan, yang verbal, atau yang numerical, yang sifatnya religious, dan philosophis, atau jenis lainnya semacam itu, dapat juga tidak pernah meng-claim untuk berkeadaan lebih besar nilainya dari pada kasunyataan yang bersifat empiris dan relative. Itu menolak validitasnya sesuatu kasunyataan yang absolut dan yang hakiki lainnya, dengan pernyataan oleh sesuatu system non-ilmiah dari fikiran, karena adalah tidak mungkin ada sesuatu, yang berada diatas, disebelah sananya, atau diluar pengalaman yang bersifat total.

Penolakan Pangeran Siddhartha terhadap Ke-Aku-an Hindu (= Hindu Self) itu mungkin dapat diperluas sampai kepada Yang Absolut dari sesuatu filsafat yang metaphysis, Dewa, Surga, dan Neraka, saya fikir, oleh karena itu juga "Diri saya"; semuanya adalah konsep-konsep, hanya kata-kata, yang terdapat didalam pengalaman. Semua kumpulan fikiran, - dari Agama-Agama, Filsafat-Filsafat, dan Buddhisme itu sendiri semuanya adalah model-model konseptual, dan semua terbuka bagi testing secara langsung, terhadap pengalaman dengan sifat ketatnya dari methode ilmiah. Bahkan apabila Surga dan Neraka itu ternyata, setelah dibuktikan secara ilmiah, benar-benar ada, itu tetap hanya merupakan bagian dari pengalaman total, dan tidak akan dapat didalam cara apa pun, melebihi, atau bersifat transcendent, diatas pengalaman total.

Nagarjuna, bahkan melangkah lebih lanjut lagi, - yaitu didalam arah bersaing dengan yang absolut lainnya, didalam system pemikiran lainnya. Beliau tidak menyampaikan argumentasinya dari sudut pandangan ilmiahnya sendiri, dan menyadari bahwa itu adalah hanya salah satu dari banyak sudut pandangan ilmiah lainnya. Nagarjuna mempergunakan methode dialectic, yaitu beliau menyampaikan seperangkat uraian, untuk membuktikan ketidak-benaran dari semua filsafat metaphysis, atas dasar istilahnya sendiri. Inilah sebabnya mengapa tulisan-tulisan Nagarjuna itu penuh dengan begitu banyak hal-hal yang sangat cemerlang, tetapi dengan analisa philosophis yang sangat sukar.

Dia membuktikan bahwa tidak ada religi atau philosophi yang secara logis dapat mendukung pernyataannya sendiri, dengan mengatakan bahwa pengetahuannya meliputi kasunyataan yang absolut, dan dengan demikian memungkinkan filsafat ilmu pengetahuannya meng-claim bahwa hanya filsafat ilmu pengetahuannya sendiri yang merupakan filsafat pengetahuan yang valid.

Kalau kita ringkaskan semua yang telah kita kemukakan diatas itu, maka dapatlah kita jelaskan bahwa filsafat ilmu pengetahuannya Buddhisme itu sungguh-sungguh bersifat revolusioner, dengan alasan-alasan sebagai berikut ini :

Ilmu-ilmu pengetahuan mengetahui bahwa kasunyataan yang ilmiah adalah bersifat relative atau empiris, serta didasarkan pada pengalaman yang aktual. Buddhisme juga menerima kasunyataan empiris, dan mendapati bahwa itu terdapat pada sunyata. Saya percaya bahwa Sunyata itu menunjuk kepada pengalaman yang aktual, dan dengan demikian Buddhisme juga berkata bahwa kasunyataan yang empiris itu haruslah terdapat pada pengalaman yang aktual.

Saya percaya bahwa filsafat ilmu pengetahuannya Buddhisme itu bersifat revolusioner, karena tidak didasarkan kepada pengalaman keindiriaan, tetapi didasarkan kepada pengalaman total; dan karena Buddhisme mengatakan bahwa hanya pengalaman aktual yang total saja yang merupakan kasunyataan yang hakiki, atau yang paling tinggi. Ini mencegahnya untuk tidak mengalamai pecahnya menjadi ilmu pengetahuan yang sifatnya "material", yang berat, dan prosaic, serta religi, philosophi, dan seni, yang sifatnya "spiritual", liberal, dan transcendent. Itu mencakup yang bersifat "material", dan yang bersifat "spiritual", technology dan liberal, yang keduanya terdapat pada satu filsafat ilmu pengetahuan. Lagi pula, itu secara khusus menolak kasunyataan yang religious, dan metaphysis, dan mengemukakan claimnya bahwa hanya filsafat ilmu pengetahuan (= philosophy of science) saja, satu-satunya yang valid, dari filsafat pengetahuan (= philosophy of knowledge) yang ada.

Kalau Dunia Barat itu sangat hebat didalam hal systematisasinya dan applikasinya kasunyataan empiris, maka Dunia Timur, memiliki, pada Buddhisme, suatu filsafat ilmu pengetahuan yang lebih tua dan lebih maju dari pada yang dimiliki Dunia Barat. Seluruh sejarah ilmu pengetahuan itu perlu ditulis ulang kembali. Pangeran Siddhartha, yang kemudian menjadi Buddha, itu adalah merupakan filsuf bidang filsafat ilmu pengetahuan, yang pertama, yang memberikan kepada Dunia Timur, tradisi ilmiah setua seperti yang dimiliki oleh Dunia Barat, dan sumbangan utamanya kepada Dunia Filsafat, adalah berupa meletakkan dan membuat filsafat ilmu pengetahuan bersifat universal dan revolusioner.

 (Sumber: http://samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=907&multi=T&hal=0)
REFERENSI:
1. T.R.V. Murti "The Central Philosophy of Buddhisme" (= Filsafat Central-nya Buddhism), Penerbitan: George Allen and Unwin, London, 1960, yang terhadap mana, artikel ini banyak menggambil bahan
2. Madhyamika Karika,
Bab. 13.8
Diterjemahkan dari "Early Madhyamika in India and China" (= Madhyamika pada masa-masa awal di India dan China), oleh Richard H. Robinson
3. Samyutta-Nikaya II
Bab : XX.7
Pali Text Society (= Perhimpunan Studi Naskah-Naskah berbahasa Pali)
4. Madhyamakavatara
Bab. VI
5. M.K. Bab. 13.7 Lihat catatan diatas.

Senin, 19 April 2010

Tuntunan Meditasi Cinta Kasih (Metta Bhavana) oleh Ajahn Chah

 
Tuntunan Meditasi Cinta Kasih
(Metta Bhavana)

oleh Ajahn Chah


Meditasi ini dapat dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok dengan salah seorang di antaranya membacakan instruksi dengan perlahan dan suara yang halus. Tanda titik titik pada akhir paragraf menunjukkan suatu masa hening sebelum masuk ke instruksi berikutnya. Disarankan meditasi ini dilakukan selama kurang lebih satu setengah jam.
Meditasi ini adalah meditasi cinta-kasih. Meditasi dilakukan dengan menggunakan teknik visualisasi yang sederhana dengan menggunakan pikiran kita yang biasa kita gunakan untuk berpikir. Sebagai contoh, jika saya menyarankan untuk membayangkan sebuah bunga, kita akan dapat melakukannya dengan mudah. Tidak peduli apakah bunga itu adalah bunga mawar atau bunga teratai, atau apapun warnanya itu, atau bahkan bagaimanapun jelasnya objek itu tergambar di dalam batin anda –- sesuatu yang berproses dengan lancar itu sudah cukup.

Sekarang duduklah dengan tegak, perhatikan jika ada ketegangan pada wajah anda. Kendorkan ketegangan di sekitar mata, sekitar rahang dan mulut. Arahkan perhatian anda pada daerah sekitar hati/dada –- suatu daerah di tengah-tengah dada, di sekitar tulang dada dan sekitar tulang rusuk. Tarik napas dan rasakan napas. Rasakan seolah-olah anda bisa menarik napas dan mengeluarkan napas dari daerah di tengah-tengah dada anda itu. Pada saat anda menarik napas, katakan kepada diri anda: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK –-mengharapkan diri sendiri sehat sejahtera, biarkan muncul dengan alami suatu perasaan simpati yang halus terhadap diri anda. Biarkan masa lalu terjadi, lepaskan ia; dan pada saat ini, pusatkan saja perhatian anda pada napas, pada hati/dada, serta pada pikiran simpati yang muncul, dengan alami dan seimbang. Tarik napas dan katakan pada diri anda sendiri: SEMOGA ORANG LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK. Secara alami kembangkan irama ini –- menarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, mengeluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Jika pikiran berkelana, maka dengan halus, wajar dan penuh kesabaran, tarik kembali perhatian anda. Ada suatu pergerakan yang lembut, kembali pada daerah sekitar dada, pada napas, pada perasaan simpati -– tarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, keluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … …

Apa yang kita lakukan adalah mencoba menyelaraskan diri kita dengan energi cinta-kasih dan kasih-sayang di alam semesta. Membuka diri dan menyerap energi tersebut, membiarkannya masuk ke dalam diri kita, menyegarkan diri kita, melalui napas dan kekuatan pikiran sebagai media aliran energi tersebut. Tarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Kemudian salurkan energi itu kepada setiap orang: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Pertahankan ketenangan dan kehalusan napas anda, biarkan energi napas menyegarkan diri kita; tarik napas ke daerah sekitar dada, keluarkan napas dari daerah sekitar dada. ……

Membuka diri terhadap energi cinta kasih dari alam semesta. Tarik napas, biarkan diri anda menjadi lebih peka dan lebih banyak menyerap energi tersebut. Keluarkan napas, hati anda menjadi lebih terbuka dan lebih luas, pancarkan keluar: SEMOGA ORANG LAIN SELALU DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Dan pada saat kita telah siap… tarik napas yang dalam dan halus ke daerah sekitar dada, biarkan perasaan cinta kasih dan energi napas memenuhi diri kita. Tahan sebentar dengan alami, dengan nyaman. Biarkan perasaan cinta kasih masuk semakin dalam dan menguatkan perasaan nyaman tersebut. Biarkan ia memenuhi seluruh tubuh kita, meresap ke dalam tubuh. Keluarkan napas, dengan perlahan dan halus, dari daerah sekitar dada: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. Lakukan itu beberapa kali –- napas masuk yang dalam, tahan sebentar dan keluarkan. … …

Sekarang, kita mulai dengan visualisasi dan bekerja lebih banyak pada napas-keluar. Terus menjaga napas masuk anda seperti sebelumnya, napas masuk ke dalam daerah sekitar dada dengan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Untuk napas keluar, mula-mula bayangkan dalam pikiran anda sosok ayah dan ibu kita – tidak peduli di mana pun mereka berada, dekat atau jauh, masih hidup atau pun sudah meninggal. Bayangkan kedua-duanya sekaligus atau satu per satu -- tergantung mana yang paling mudah dilakukan. Bayangkan mereka berada beberapa meter di depan kita, dan pada saat kita mengeluarkan napas, arahkan pikiran-pikiran simpati dan penerimaan kita terhadap mereka. Jadi, tarik napas dengan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK...dan pada saat mengeluarkan napas, dengan membayangkan sosok ayah dan ibu kita: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … …

Berikutnya: bawa ke dalam pikiran kita, guru-guru spiritual kita, yakni mereka yang telah menolong kita, membimbing kita, mendorong kita dan memberikan petunjuk kepada kita dalam hidup kita. Bersama napas-keluar, dengan sikap perasaan berterima kasih, pikirkan: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Bawa ke dalam pikiran anda sekarang, keluarga kita; suami/istri kita, anak-anak, kakak dan adik kita, bisa sekaligus dalam satu kelompok atau satu per satu. Bersama napas-keluar, dengan perasaan kasih sayang, pikirkan: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … …

Sekarang bawa ke dalam pikiran anda, teman terdekat kita atau teman-teman yang lain, yang kita rasakan akan mendapatkan manfaat dari pikiran-pikiran simpati kita. Bersama napas-keluar, bawa mereka ke dalam pikiran dan berharap semoga mereka dalam keadaan yang baik; suatu rengkuhan yang lembut, suatu sikap penuh kasih sayang. ......

Tarik napas ke daerah sekitar dada: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Keluarkan napas dari daerah sekitar dada: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. Bawa ke dalam pikiran anda sekarang, mereka yang berlatih bersama-sama kita, mereka berada di sekitar kita; arahkan pikiran kita keluar, melingkupi mereka semua: SEMOGA MEREKA SEMUA DALAM KONDISI YANG BAIK DAN DAMAI. … …

Sekarang bawa ke dalam pikiran, bentuk Bumi kita seperti kita melihatnya dari luar angkasa. Arahkan pada objek yang penuh warna-warni tersebut, pikiran-pikiran kita: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. Keluarkan napas: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. … …

Dan sekarang bawa ke dalam pikiran kita, suatu bentuk dari kekosongan yang luas dan tak terbatas. Arahkan pikiran kita ke ruang yang tak terbatas itu: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. Biarkan pikiran anda terbuka luas; biarkan hati anda terbuka seluas-luasnya. Tiada lagi batasan antara tubuh anda dengan alam semesta –- tiada batasan – luas – menembus ruang dan waktu. … …

Sekarang dengan hati-hati, dengan sedikit lebih memfokus, bawa kembali perhatian kita ke arah daerah di sekitar dada, suatu titik di tengah-tengah dada kita. Tarik napas dengan halus dan dalam serta munculkan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Tahan sebentar... biarkan pikiran, sebagai perasaan yang simpati tersebut, menyebar ke seluruh tubuh, memberikan energi dan menyegarkan kita. Kemudian dengan perlahan dan halus, keluarkan napas melalui daerah sekitar dada. Lakukan hal yang sama satu atau dua kali – tarik napas yang dalam, tahan sebentar dan keluarkan. … …

Sekarang bawa ke dalam pikiran, seseorang yang pernah anda sakiti, baik secara disengaja ataupun tidak, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal... dan dengan menyebut nama orang itu, katakan: MAAFKANLAH SAYA... Ingat kembali mereka yang pernah anda sakiti... sebut nama mereka dan katakan: MAAFKANLAH SAYA.

Berikan perhatian yang dalam pada daerah sekitar dada. Biarkan ia tetap terbuka... dan sekarang bawa ke dalam pikiran anda, seseorang yang pernah menyakiti anda. Sebut nama orang itu dan katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... Bawa ke dalam pikiran seseorang yang menyakiti anda, sebut nama orang itu dan katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU.

Sekarang dengan menyebut nama kita sendiri, katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... Dengan menyebut nama kita sendiri, katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... dan... KAMU SAYA MAAFKAN... KAMU SAYA MAAFKAN.

Menyatulah dengan perasaan-perasaan kasih sayang itu. Bawa perasaan-perasaan itu ke dalam hati anda; rangkul mereka dengan lembut... Sekarang dengan hati-hati, kembalilah ke napas –- energi napas masuk ke dalam daerah sekitar dada: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Resapi dan penuhi diri anda dengan perasaan tersebut. Kemudian keluarkan napas melalui daerah sekitar dada: SEMOGA ORANG LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK.

Begitu sederhana –- menarik napas, menyatu dengan energi. Mengeluarkan napas, mendoakan agar semua orang selalu dalam kondisi yang baik. Mengeluarkan napas untuk semua orang. ...

[ Sumber: SEEING THE WAY, Buddhist Reflections on the Spiritual Life, An anthology of teachings by English-speaking disciples of Ajahn Chah. Alih bahasa: Junarto Mintaredja.] 
 Sumber: http://www.what-buddha-taught.net/BI/Ajahn_Chah_Meditasi_Cinta_Kasih.htm