Jumat, 16 April 2010

BAKTI KEPADA ORANG TUA Oleh : Mettadewi W., S.H., Ag


BAKTI KEPADA ORANG TUA
 Oleh : Mettadewi W., S.H., Ag.

PENDAHULUAN 

Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang tidak berbakti kepada orang tuanya. Mereka sering menyalahkan orang tuanya karena mereka menganggap bahwa orang tuanya tidak memberikan cinta kasih dan perhatian yang penuh kepada mereka. Mereka selalu menuntut cinta kasih dan perhatian dari orang tuanya karena mereka menganggap bahwa cinta kasih dan perhatian itu wajib diberikan oleh orang tua kepada mereka.. Mereka tidak menyadari bahwa anak yang baik seyogyanya tidak menuntut cinta kasih dan perhatian, tetapi melakukan kewajibannya dengan baik. 

Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang selalu menuntut agar orang tuanya dapat menjadi manusia yang sempurna dalam berbagai hal, seperti Ariya Puggala (makhluk suci). Anak-anak selalu menuntut agar orang tuanya berkelakuan baik dan bertutur kata ramah, tanpa pernah mengoreksi dirinya sendiri. Anak-anak selalu melihat sifat-sifat buruk yang dimilikinya oleh orang tuanya, tanpa pernah menyadari bahwa orang tuanya yang belum mencapai kesucian itu masih dapat berbuat salah. Anak-anak selalu mencela dan membenci orang tuanya jika orang tuanya berbuat salah. Tanpa pernah berusaha memberitahu kesalahan orang tuanya dengan cara yang bijaksana. Anak-anak tidak pernah menyadari bahwa orang tuanya dapat berwatak keras itu sesungguhnya karena pengalaman masa lalunya. Anak-anak tidak pernah menyadari bahwa sesungguhnya tidak mudah untuk merubah sifat dan watak orang tuanya yang keras itu. Anak-anak tidak pernah menyadari bahwa jika mereka tidak dapat merubah sifat dan watak orang tuanya yang keras itu, maka seharusnyalah mereka merubah pikiranya sendiri. 

Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang tidak menghormati dan tidak patuh kepada orang tuanya. Mereka sering mendelik, menentang, dan membangkang orang tuanya. Mereka datang dan pergi dari rumah tanpa memberitahukan kepada orang tuanya. Mereka pergi meninggalkan rumah pagi-pagi sekali dan kembali sampai jauh malam. Mereka tidak mengacuhkan teguran-teguran dan peringatan-peringatan yang diberikan orang tuanya. 

Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang sukar dididik dan diatur. Mereka keras kepala, malas, dan dungu. Mereka tidak mempunyai keinginan untuk belajar. Mereka berteman dengan orang-orang jahat dan segera meniru kebiasaan-kebiasaan jahat tersebut. Mereka menjadi nakal, suka berkelahi, gemar berjudi, tidak perduli lagi pada moral, terjerumus dalam kehidupan seks yang salah, masuk dalam kenikmatan narkotika, ganja, dan sejenisnya. Kemudian, mereka menarik saudara-saudaranya untuk ikut berbuat jahat, sehingga menambah kesedihan ornag tuanya. 

Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang tidak memperdulikan kesejahteraan, kebahagiaan, dan kesehatam orangtuanya. Mereka tidak pernah menanyakan apakah orangtuanya tidak menderita panas atau dingin, lapar atau haus. Mereka tidak pernah menanyakan, apakah orangtuanya dapat tidur nyenyak dan beristirahat dengan tenang. Mereka tidak pernah menanyakan apakah orangtuanya tidak menderita sakit apapun. Mereka tidak pernah melayani orangtuanya dengan baik. Mereka tidak pernah memperhatikan kesusahan orangtuanya, Mereka tidak pernah mengetahui bahwa orangtuanya sering menangis, meratap, dan berkeluh kesah. 

Di dunia ini sering dijumpai anak-anak yang melupakan kebaikan orang tuanya. Mereka tidak menyadari pengorbanan yang amat besar yang telah diberikan oleh orang tuanya kepada mereka. Mereka tidak tahu berterima kasih kepada orang tuanya. Mereka tidak berbakti kepada orang tuanya. Mereka tidak berusaha menghibur dan membahagiakan orang tuanya. Mereka tidak berusaha memenuhi keinginan-keinginan orang tuanya. Mereka baru menyadari semua itu ketika orang tuanya sudah meninggal dunia. Mereka baru menyesali semua sikap dan tingkah lakunya sebagai anak yang tidak berbakti. Penyesalan memang selalu datang terlambat. 

Dalam kitab suci Dhammapada Bab V ayat 67, Sang Buddha bersabda,
“Bilamana suatu perbuatan setelah selesai dilakukan
membuat seseorang menyesal,
maka perbuatan itu tidak baik.
Orang itu akan menerima akibat perbuatannya
dengan ratap tangis dan
wajah yang bergelimang air mata.”


PENGORBANAN ORANG TUA

Tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan manusia didunia ini tidak terlepas dari jasa dan pengorbanan orang tuanya. Pengorbanan orang tua telah diberikan sejak ibu mengandung, melahirkan, sampai anak-anaknya dewasa dan menikah, bahkan sampai orang tua meninggal dunia. Orang tua selalu berkorban untuk anak-anaknya, paling tidak dengan pemikiran kehidupan anak-anaknya. 

Pada saat ibu mengandung badannya seolah-olah menjadi seberat gunung. Selama mengandung, ibunya merasakan kesusahan setiap kali bangun tidur, seolah-olah mengangkat beban yang berat. Sepanjang hari, ibu terasa mengantuk dan lamban. Seperti orang sakit parah, ibu tidak mampu menelan makanan dan minumam dengan baik. Setiap hari ibu selalu gelisah memikirkan anaknya yang akan lahir, apakah cacat atau normal. Ibu juga khawatir dan takut akan kematian. 

Setelah sepuluh bulan berlalu, ibu menderita berbagai macam kesakitan waktu melahirkan. Ibu mempertaruhkan kehidupannya sendiri pada saat melahirkan anaknya. Darah ibu mengalir laksana darah seekor domba yang mengucur ketika disembelih. Ibu sangat letih dalam badan dan pikiran. Namun, ketika mendengar bahwa anaknya terlahir normal dan sehat, ia dipenuhi dengan kegembiraan yang melimpah. Tetapi sesudah itu, kesedihan datang kembali, karena rasa sakit kembali menyerang tubuhnya untuk beberapa waktu lamanya. 

Setelah anak lahir, ibu menggendongnya dan memberikan air susu yang merupakan darahnya sendiri. Ibu mengasuh anaknya dengan penuh kasih sayang. Ibu membersihkan kotoran anaknya tanpa merasa jijik. Ibu dan juga ayah menjaga anaknya siang dan malam. Mereka tidak pernah tidur nyenyak, karena selalu diganggu oleh tangis anaknya. Mereka tidak pernah memikirkan rasa laparnya, tetapi mereka selalu mengusahakan agar anaknya mendapat makanan dan minuman yang cukup. 

Ibu dan ayah selalu mencintai dan berusaha membahagiakan anak-anaknya. Mereka selaku berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Dengan rela, mereka menderita untuk kepentingan anak-anaknya. Mereka, terutama ayah, berusaha bekerja keras mencari uang untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Mereka berusaha memberikan berbagai ilmu pengetahuan dan ketrampilan kepada anak-anaknya, sehingga kelak anak-anaknya dapat bekerja sendiri. 

Orang tua memikirkan anak-anaknya. Orang tua ikut bersuka cita akan kebahagiaan anak-anaknya dan turut berduka akan kesulitan anak-anaknya. Bila anak bekerja berat, orang tuanya merasa sedih. Bila anak bepergian jauh, orang tua merasa khawatir akan keadaan anaknya. Dari pagi hingga malam, hati mereka selalu bersama anak-anaknya. Mereka selalu berdoa agar anak-anaknya selamat sejahtera, dan bahagia. 

Orang tua tidak pernah merasa bosan untuk mendidik dan membimbing anak-anaknya. Mereka mengajarkan sila atau kelakuan bermoral kepada anak-anaknya, dengan harapan agar anak-anaknya dapat tumbuh menjadi manusia yang bermoral baik. Mereka berusaha menumbuhkan hiri (malu berbuat jahat) dan ottappa (takut akan akibat perbuatan jahat) dalam diri anak-anaknya. Mereka berusaha menanakan ajaran cinta kasih, kerelaan memberi, menghormati yang lebih tua, toleransi, sopan santun, mempunyai tanggung jawab, dan lain-lain. 

Orang tua selalu berusaha melaksanakan kewajiban-kewajibannya, seperti yang tercantum dalam Sigalovada Sutta, dengan baik dan secara ikhlas. Terdapat lima kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya, yaitu :
1. Mencegah anaknya berbuat jahat.
2. Menganjurkan anaknya berbuat baik
3. Melatih anaknya untuk dapat bekerja sendiri
4. Mempersiapkan pasangan yang sesuai bagi anaknya.
5. Memberikan warisan pada waktu yang tepat.

BAKTI ANAK KEPADA ORANG TUA 

Jasa orang tua amat besar dan sulit terbalas oleh anak-anaknya selama hidupnya. Dalam Anguttara Nikaya Bab IV ayat 2 Sang Buddha memberikan perumpamaan sebagai berikut : “ Bila seorang anak menggendong ayahnya dipundak kiri dan ibunya di pundak kanan selama seratus tahun, maka anak tersebut belum cukup membalas jasa kebaikan yang mendalam dari orang tuanya.” 

Anak-anak amat berhutang budi kepada orang tuanya. Tanpa kasih sayang dan pengorbanan orang tua, anak-anak tidak mungkin dapat hidup bahagia. Sang Buddha pernah mengatakan bahwa orang tua laksana “ Brahma” bagi anak-anaknya. Oleh sebab itu, Anak-anak seyogyanya berbakti kepada orang tuanya. Sanak-anak seyogyanya merasa gembira dan bahagia bila berkumpul dengan orang tuanya. Anak-anak seyogyanya berlaku baik dan sopan terhadap orang tuanya. 

Dalam Dhammapada bab XXIII ayat 332, Sang Buddha bersabda, “Berlaku baik terhadap ibu merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini; berlaku baik terhadap ayah juga merupakan kebahagiaan. Berlaku baik terhadap pertapa merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini, berlaku baik terhadap Para Ariya juga merupakan kebahagiaan.” 

Anak–anak seyogyanya berusaha melakukan kewajibannya sebagai anak dengan sebaik-baiknya. Dalam Sigalovada Sutta diuraikan mengenai 5 macam kewajiban anak kepada orang tuanya, yaitu,
  1. Merawat dan menunjang kehidupan orang tuanya terutama dihari tua mereka.
  2. Membantu menyelesaikan urusan-urusan orang tuanya.
  3. Menjaga nama baik dan kehormatan keluarganya.
  4. Mempertahankan kekayaan keluarga, tidak menghambur-hamburkan harta orang tua dengan sia-sia.
  5. Memberikan jasa-jasa kebahagiaan kepada orang tuanya yang telah meninggal dunia.

1. Merawat dan menunjang kehidupan orang tua.
Anak-anak seyogyanya merawat dan menunjang kehidupan orang tuanya yang telah tua dengan hati yang tulus ikhlas. Anak-anak seyogyanya menanyakan kesehatan orang tuanya. Jika sakit, anak-anak seyogyanya mengajak orang tuanya berobat ke dokter, membantu meminumkan obat, menghiburnya, dan sebagainya. Anak anak seyogyanya membawakan makanan dan minuman yang enak bagi orang tuanya. Anak-anak seyogyanya menyempatkan diri untuk menemani orang tuanya pergi ke Vihara atau jalan-jalan ke tempat rekreasi. 

Anak-anak seyogyanya menyediakan tempat tinggal yang layak bagi orang tuanya yang ingin menginap. Anak-anaknya tidak patut menolak kedatangan orang tuanya yang ingin menginap. Anak-anak tidak patut saling melempar tanggung jawab diantara mereka dalam hal merawat dan menampung orang tuanya. Seharusnya anak berbahagia jika orang tuanya memilih tinggal dirumahnya, karena anak tersebut mempunyai kesempatan lebih banyak untuk membalas kebaikan orang tuanya. Anak yang berbakti tidak akan menempatkan orang tuanya di rumah jompo, walaupun dengan alasan orang tuanya lebih senang karena banyak teman.
 
2. Membantu menyelesaikan urusan-urusan orang tuanya.
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti mempunyai barbagai masalah, termasuk orang tu kita. Anak-anak seyogyanya berusaha membebaskan orang tuanya dari berbagai masalah dan kekhawatiran. Anak-anak seyogyanya menanyakan masalah-masalah yang dihadapi oleh orang tuanya dengan lemah lembut. Kemudian, anak-anak berusaha menghibur orang tuanya dengan mengatakan bahwa semua masalah pasti dapat terpecahkan. Tidak ada problem yang tidak terselesaikan. Tidak ada kesulitan yang tidak ada akhirnya. Selanjutnya, anak-anak berusaha membantu memecahkan masalah-masalah orang tuanya tersebut.
 
3. Menjaga nama baik dan kehormatan keluarga.
Anak-anak seyogyanya bertutur kata sopan dan berkelakuan baik. Anak-anak seyogyanya menjalankan Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari, yang berarti berusaha menghindari kejahatan. Anak-anak seyogyanya berusaha menambah kebaikan dengan berdana dan lain-lain. Anak-anak seyogyanya berusaha membersihkan pikirannya dari lobha (keserakahan), dosa ( kebencian), dan moha ( kebodohan). Anak-anak seyogyanya berusaha mengembangkan nialai-nilai spiritual dalam batinnya; melatih diri untuk menjadi baik; melatih kesabaran, toleransi, simpati, rendah hati, ramah, jujur, bijaksana, dan memiliki kesederhanaan. Dengan mempraktekkan ajaran-ajaran Sang Buddha dalan kehidupan sehari-hari anak, tersebut telah dapat menjaga nama baik dan kehormatan keluarga.
 
4. Mempertahankan kekayaan keluarga.
Hasil jerih payah orang tua selama hidup merupakan harta warisan yang perlu di jaga agar dapat membawa manfaat. Anak-anak harus memanfaatkan harta tersebut dangan sebaik-baiknya untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
 
5. Memberikan jasa-jasa kebahagiaan kepada orang tuanya yang telah meninggal dunia.
Setelah orang tua meninggal dunia, anak-anak patut melakukan pattidana atau berbuat jasa kebaikan yang dilimpahkan kepada orang tuanya yang telah meninggal dunia tersebut. Jasa-jasa kebaikan yang dapat dilakukan oleh anak itu antara lain:
  1. Memanjatkan paritta-paritta suci
  2. Mencetak buku-buku Dhamma.
  3. Berdana kepada vihara-vihara yang membutuhkan
  4. Mempersembahkan jubah, Makanan, obat-obatan kepada Bhikkhu Sangha.
  5. Melepas semua makhluk hidup, seperti burung, kura-kura, ikan.
Itulah lima kewajiban yang seyogyanya dilakukan oleh anak kepada orang tuanya. Anak-anak seyogyanya berbakti kepada orang tua ketika masih hidup, karena itu akan lebih besar manfaatnya jika dibandingkan setelah orang tua meninggal dunia. Anak-anak seyogyanya berusaha menyempatkan diri di antara kesibukan-kesibukannya untuk mengunjungi dan memperhatikan orang tuanya. Jika anak-anak membutuhkan cinta dan perhatian dari orang tuanya, maka sesungguhnya orang tua juga membutuhkan cinta dan perhatian dari anak-anaknya. 

Dalam masyarakat kadang-kadang terjadi bahwa anak-anak yang sudah menikah mendapat banyak rintangan ketika ingin berbakti kepada orang tuanya. Anak laki-laki yang sudah menikah mungkin diancam oleh isterinya sedemikian rupa, sehingga ia takut dan mengikuti segala keinginan isterinya untuk tidak membantu dan memperhatikan orang tuanya. 

Hal ini dapat pula terjadi terhadap anak-anak perempuan yang sudah menikah. Ia dilarang oleh suaminya untuk berhubungan dengan orang tuanya. Ia dilarang untuk membantu orang tuanya yang kadang-kadang memang sedang dalam kesulitan. Ia tidak didukung oleh suaminya ketika ingin berbakti kepada ornag tuanya, bahkan ia dikritik dan dicela. Akhirnya, ia akan menjadi ragu dan bimbang, dan kemudian berhenti berbakti kepada orang tuanya. Sebab, ia tidak memiliki keberanian untuk merealisasikan niat baiknya itu. Ia menyadari semua tindakannya yang keliru setelah orang tuanya meninggal dunia. Ia menyesal, tetapi terlambat. Yang ia dapat lakukan kemudian adalah pelimpahan jasa atau pattidana. 

Sesungguhnya, umat Buddha yang baik tidak gentar terhadap kritikan dan celaan, apalagi dalam hal berbuat baik, seperti berbakti kepada orang tua. Sang Buddha pernah mengatakan, “ Janganlah berhenti berbuat baik hanya karena Anda dikritik. Jika Anda memiliki keberanian untuk melaksanakan perbuatan baik, walaupun dikritik, maka sesungguhnya Andalah orang besar dan dapat berhasil dimana pun.” 

Sesungguhnya, anak-anak yang baik akan tetap berbakti kepada orang tuanya walaupun orang tuanya berwatak keras dan berkelakuan buruk. Anak-anak yang baik akan menyadari kebenaran hukum karma, bahwa ia bisa mempunyai orang tua yang berwatak keras dan berkelakuan buruk itu juga disebabkan oleh karma lalunya yang kurang baik. Anak-anak yang baik tidak akan mencela dan membenci orang tuanya yang berbuat salah, karena ia meyadari bahwa orang tuanya yang belum mencapai kesucian itu masih bisa berbuat salah. Anak-anak yang baik tidak akan menganiaya atau membunuh orang tuanya yang mencaci makinya, karena ia memiliki hiri dan ottappa. Anak-anak yang baik akan dapat menerima kenyataan bahwa orang tuanya memiliki kekurangan-kekurangan. Anak-anak yang baik akan memberikan maaf kepada orang tuanya yang melakukan kesalahan-kesalahan. Selanjutnya, anak-anak yang baik akan berusaha melihat sifat-sifat baik yang dimiliki oleh orang tuanya, dan berusaha menyayangi orang tuanya dengan sepenuh hati, serta membimbing orang tuanya ke jalan yang benar dengan cara yang bijaksana. 

Dalam Angguttara Nikaya Bab IV ayat 2, Sang Buddha juga memberikan petunjuk mengenai cara terbaik untuk membalas budi dan jasa kebaikan orang tuanya, yaitu sebagai berikut :
“ Apabila anak dapat mendorong orang tuanya yang belum mempunyai keyakinan terhadap Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha), sehingga mempunyai keyakinan kepada Tiratana; apabila anak dapat membuka mata hati orang tua untuk hidup sesuai dengan Dhamma, membimbing mereka untuk memupuk kamma baik, berdana, melaksanakan sila, mengorong mereka mengembangkan kebijaksanaan, maka anak tersebut dapat membalas budi dan jasa-jasa kebaikan orang tuanya.” 

Sesungguhnya, dengan berbuat demikian, selain anak tersebut telah membalas jasa-jasa orang tuanya, ia juga telah menumpuk karma-karma baik bagi dirinya sendiri.

Sumber :
BAKTI ANAK KEPADA ORANG TUA ( Kumpulan Tulisan)
Oleh : Mettadewi W., S.H., Ag.
Diterbitkan oleh Yayasan Pancaran Dharma, Jakarta
Cetakan pertama, Juli 1999

Minggu, 11 April 2010

Tradisi CENG BENG & BUDDHA DHAMMA oleh Bhikkhu Dhammiko

Tradisi CENG BENG & BUDDHA DHAMMA

Ceramah Pagi Minggu, 21 Maret 2010 oleh Bhikkhu Dhammiko




Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammāsambuddhassa


Sukhā matteyyatā loke, atho petteyyatā sukhā’ti
”Berlaku baik terhadap ibu merupakan suatu kebahagiaan dalam dunia ini;
berlaku baik terhadap ayah juga kebahagiaan”
(Dhammapada 332)


Dalam budaya masyarakat Tionghoa, ada lima festival besar yang dirayakan dengan sukacita dan meriah. Adapun lima festival itu adalah:
1. Festival Musim Semi (Imlek) yang jatuh pada tanggal 1 bulan 1 (Cia Gwee) penanggalan Imlek;
2. Festival Ceng Beng, jatuh setiap tanggal 5 April menurut penanggalan Masehi;
3. Festival Musim Panas, jatuh setiap tanggal 5 bulan 5 (Go Gwee) menurut penanggalan Imlek;
4. Festival Musim Gugur, jatuh setiap tanggal 15 bulan 8 (Pe Gwee) menurut penanggalan Imlek;
5. Festival Musim Dingin, jatuh setiap tanggal 22 Desember menurut penanggalan Masehi.
Setiap festival memiliki makna, ciri khas, maksud dan tujuan tersendiri. Di samping itu, setiap festival juga memiliki makanan khas tersendiri pula. Imlek memiliki makan khas Kue Keranjang, Ceng Beng memiliki makanan Ketupat Opor Ayam, Musim Panas (Peh Cun, Indonesia) memiliki makan Bakcang dan Kue Cang, Musim Gugur (Tiongchiu) memiliki makanan Kue Bulan, dan Musim Dingin (Tangche) memiliki makanan Wedang Onde.

Dalam budaya masyarakat Tionghoa, dalam setahun ada dua persembahyangan yang ditujukan bagi keluarga yang telah meninggal, yaitu: sembahyang bulan 3 yang dikenal Ceng Beng, dan sembahyang di bulan 7 (Cit Gwee) yang dikenal Cioko atau Chau Tu. Apakah bedanya?

Sembahyang Ceng Beng adalah sembahyang yang ditujukan untuk keluarga yang telah meninggal yang masih dikenali, sedangkan sembahyang Cit Gwee atau Cioko lebih bertujuan ditujukan kepada keluarga yang telah dilupakan (makhluk-makhluk terlantar) oleh sanak keluarganya, yang terjadi karena keluarga mereka telah meninggal semua (generasinya habis) dan keluarga mereka telah meninggalkan agama leluhurnya, menganut agama baru yang tidak menekankan bakti kepada leluhur.

Pada saat Ceng Beng menjelang, masyarakat Tionghoa mendatangi makam keluarga mereka. Mereka datang untuk membersihkan makam-makam itu dari semak belukar, dari sinilah maka Ceng Beng berarti Bersih dan Terang, mengacu kepada makam leluhur yang dibersihkan. Setelah makam bersih, mereka melakukan tradisi ”Tee Coa” dengan ”Ko-Coa,” yaitu melempar kertas emas atau perak (Gin Cua/Kim Cua) untuk menandai makam keluarga mereka.

Ada banyak cerita berkenaan dengan latar belakang munculnya tradisi Ceng Beng, yang pada intinya semua cerita ini mengajarkan kepada kita untuk memiliki bakti kepada kedua orang tua kita dan para leluhur. Mengingat jasa-jasa mereka amat sangat besar kepada kita, anak-anaknya.

Dalam Sigalovada Sutta, kita bisa juga melihat begitu besarnya jasa orang tua kepada anak-anaknya. Mereka telah mencegah anaknya dari tindakan jahat, mendorong anaknya berbuat kebajikan, memberi anaknya pendidikan dan keterampilan, mencarikan pasangan, dan menyerahkan warisan ketika saatnya tiba.

Tidak berlebihan kalau dalam A
guttara Nikāya, Sang Buddha mengumpamakan ayah dan ibu laksana dewa, dewa tingkat tinggi, yaitu Brahma, dengan ungkapan, ”Brahma ti matapitaro”. Dalam sutta ini, Beliau pun menjelaskan bahwa orang tua, ayah dan ibu sebagai Pubba-achariya, guru awal, guru pertama bagi anak-anaknya.

Dalam bagian lain dalam Kitab A
guttara Nikāya, Sang Buddha menyatakan; ”Saya nyatakan bahwa ada dua orang yang tak pernah bisa dibalas budinya. Siapakah keduanya itu? Ayah dan Ibu.”

”Walaupun seseorang menggendong ibunya di bahu kanan dan ayahnya di bahu kiri, dan saat melakukan ini ia hidup seratus tahun; jika ia melayani mereka dengan mengusapi mereka dengan minyak, memijat, memandikan, dan menguruti kaki dan tangan mereka, seandainya mereka buang air sekalipun, semua itu belumlah cukup yang dilakukannya terhadap orang tuanya, dan ia belum membalas budi mereka. Seandainya seorang anak menempatkan orang tuanya sebagai raja cakkavati yang memiliki tujuh harta, belum cukup juga yang ia lakukan kepada orang tuanya, ia belum membalas budi mereka. Mengapa demikian? Ayah dan ibu sungguh berjasa terhadap anak-anaknya: mereka melahirkan, membesarkannya, memberinya makan, dan menunjukkan dunia kepada anaknya.”

”Namun, seseorang yang mendorong orang tuanya yang tidak punya keyakinan, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam keyakinan; seseorang yang mendorong orang tuanya yang tidak bermoral, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam kemoralan; seseorang yang mendorong orang tuanya yang kikir, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam kedermawanan; seseorang yang mendorong orang tuanya yang tersesat dalam kegelapan batin, menempatkan dan mengukuhkan mereka dalam kebijaksanaan. Anak seperti ini telah melakukan yang cukup bagi orang tuanya; ia telah membalas budi mereka dan lebih dari membalas budi terhadap apa yang dilakukan orang tuanya kepadanya.”

Karena itulah, berbahagialah kita sebagai anak yang masih memiliki orang tua, kita masih memiliki kesempatan untuk membalas jasa mereka. Tetapi bagi kita yang sudah tidak lagi memiliki orang tua, tidak perlu bersedih, masih ada bakti yang dapat kita tunjukkan kepada mereka dengan pelimpahan jasa (pattidana).

Sumber :
* A
guttara Nikāya
* Hari-hari Raya Tionghoa

MARILAH BERMEDITASI Bag. 2 - selesai Oleh: Sri Pannavaro Mahathera

MARILAH BERMEDITASI Bag. 2: Hubungan Pikiran, Perasaan dan Jasmani

Saya mau ke paragraph/chapter kedua, Tapi paragraph kedua ini ada
hubungannya dengan paragraph pertama.
Uraian yang pertama tadi harus diingat!!!
Saudara.. Kalo saudara punya anak di Amerika, di LA atau di New York?
Atau di jerman, saya tidak ingin menggunakan contoh Amerika. Sebab
nanti kalo pas ada yang punya anak di Amerika, nanti jangan-jangan
bhante ini meramal.
Malam-malam anda mendapatkan telepon.
Pak... Bu... setengah jam yang lalu anak bapak masuk ICU, tabrakan,
gak sadar sekarang....

Selama anda mencari / mengurus visa, pasport, mencari karcis, naik
pesawat 20 jam... 22 jam...
Bagaimana pikiran kita ini sebagai orang tua?
Was-was.. gelisah.. khawatir.. berkembang biak ( di pikiran ).
Kalo ibu mendengar, bapak mendengar anak ditabrak ( kecelakaan ),
koma, masuk ICU... Jauh....
Timbul gelisah khawatir...
Iki mengko kepiye.... sopo sing nulung ( ini nanti bagaimana.. siapa
yang menolong ), bisa sembuh tidak, yang nokoke Pien Zehuang sopo iki
engko ( yang beliin Pien Zehuang siapa ini nanti ).

Pertanyaan saya...
Ibu bapak senang apa susah?
Susah.... ( gak usah mikir-mikir itu jawabannya ), siapa yang senang
anaknya di ICU....

Pikiran itu ibu bapak.. Sangat cepat dan sangat kuat sangat
mempengaruhi perasaan.... ( tolong ini diingat-ingat, nanti ada contoh

lagi ).
Kalo perasaan ibu bapak susah, karena pikiran gelisah, membayangkan
anaknya, was-was.. khawatir..
Pikiran dengan cepat mempengaruhi perasaan, perasaannya susah.
Kalo ibu susah seperti itu, apakah makan rasanya enak?
Tidak enak... Kesukaannya apa toh dia? Soto.. cepat-cepatlah beliin soto..
Sotonya datang, di lihat saja..

Lain persoalan kalo anaknya yang ada di Jepang telepon, setelah kuliah
menghabiskan uang bertahun-tahun..
Mah... hari ini aku lulus. Tenan iki mah, gak ngapusi ( benar ini mah
gak bohong ).
Nanti hasilnya saya faks....
Lalu... ibu bapak.. Aduh anakku lulus... ( Pikirannya bereaksi anaknya
lulus, sukses, kewajiban sebagai orang tua satu langkah selesai ).
Pikiran mempengaruhi perasaan...
Perasaan ibu bapak bagaimana? Senang apa tidak senang anaknya lulus?
Senang... cepat sekali itu, Pikiran mempengaruhi perasaan itu cepat sekali.
Sangat cepat dan sangat kuat....

Ini bukan hanya ajaran Buddha ibu bapak dan saudara.. Ibu bapak
cocokkan sendiri pengalaman sendiri.
Berpuluh-puluh tahun... betul tidak?
Pikiran sangat berpengaruh terhadap perasaan, perasaan sangat
berpengaruh terhadap jasmani.

Oh... bhante kalo begitu ya bhante.. Kalo pikiran ini bisa
di-KENDALIKAN, TEGUH, KUAT. Aduh bhante bagus sekali ya....?
Memang...
Kalo pikiran kita tidak labil, tidak mudah terombang-ambing oleh
berita apapun, cerita apapun... Pikiran saya bisa kuat, teguh, tenang,
kan bagus kan bhante???
Bagus... sangat bagus...
Perasaan tidak mudah terpengaruh.
Kalo perasaan tidak terpengaruh... jasmani tidak terpengaruh...

Tapi bagaimana bhante? Meneguhkan pikiran... menenangkan pikiran ini bagaimana?

Sulit saudara...

Pikiran itu LICIN... LIHAY... HALUS... TIDAK BISA DIRABA.. TIDAK BISA
DIDETEKSI.. BERGERAK SEENAK-ENAKNYA SENDIRI..

Lalu bagaimana bhante... bagaimana membuat pikiran ini Teguh... Kuat...
Sebab kalo pikiran tidak teguh tidak kuat... Aduh..
terombang-ambing.., perasaan kita terombang-ambing, susah-senang...,
sedih-gembira..., kecewa.. lalu sedih lagi. Dan itu merusak jasmani
kita, mempengaruhi jasmani kita.
Jadi pikiran itu harus dibuat kuat, teguh, tenang.. caranya bagaimana bhante?

Ibu bapak dan saudara caranya....

DIBALIK.............

Karena PIKIRAN MEMPENGARUHI PERASAAN DAN PERASAAN MEMPENGARUHI
JASMANI.. maka sekarang jasmaninya ditoto ( ditata / dikondisikan).

Karena kalo jasmaninya ditoto ( ditata/dikondisikan ), perasaan juga
ikut noto ( tertata/terkondisi ), dan perasaan itu sudah noto (sudah
tertata/terkondisi ) maka pikiran menjadi tenang.

Bisa dipahami ibu bapak?

Nah sekarang Chapter ketiga... Noto ( menata/mengkondisikan ) jasmani
bagaimana bhante???

=================================================

MARILAH BERMEDITASI - Bag. 3: Cara Menata Jasmani

Nah sekarang Chapter ketiga... Noto ( menata/mengkondisikan ) jasmani
bagaimana bhante???
Apa kalo rambut sudah putih terus disemir, kalo hidung bengkok terus
di... katanya sekarang ada yang ditarik-tarik.. ( operasi plastik )
saya tidak tahu.

Bagaimana apa jalannya juga harus pelan-pelan seperti macan kelaparan????
Tidak.....

Noto ( menata/mengkondisikan ) menurut pandangan Dhamma adalah "MEDITASI".

Loh bhante koq meditasi ada hubungannya dengan jasmani?
Iya.... karena yang paling gampang itu meditasi yang dihubungkan dengan jasmani.
Tidak dengan perasaan dulu atau pikiran.

Caranya bagaimana bhante?
Memperhatikan jasmaninya sendiri....
Gimana bhante? apa di ngiling-ngilingi terus...? ( Apa dilihat-lihat terus..? )
( Bhante Pannavaro sambil mempraktekkan melihat-lihat tangannya sendiri ).

Tidak...

Yang diperhatikan nafasnya sendiri.
Masuk.... Keluar... Masuk... Keluar..., duduk dengan tenang.
Tidak usah duduk sila.... duduk di kursi juga boleh. ( Tangan rileks
tidak menyandar ).

Masuk... Keluar... Masuk... Keluar...
Hanya begitu bhante?
Hanya begitu saudara....

Ada doa-doa? Tidak ada.
Ada lilin dupa? Tidak ada.
Ada patung Buddha? Tidak perlu.
Baca Paritta? Tidak perlu.

Jadi hanya begitu bhante?
Ya.. Hanya begitu ibu bapak saudara.

Menenangkan jasmani, membuat kondisi jasmani kita tenang...
Kalau jasmaninya dikondisikan begitu... Jasmani akan mengkondisikan perasaan..

Perasaannya tidak mulak-mulak ( tidak terombang-ambing / berguncang-guncang ).
Kalau perasaannya tenang... maka pikirannyapun menjadi tenang.


Sehari berapa kali bhante?
Satu kali gak usah dua kali... lebih bagus.
Optimal bagi yang berkeluarga 1/2 jam lebih boleh...
Mulai dari 10 menit dulu... 15 menit... 20 menit dan seterusnya.

Gak sempat bhante?
Hah.... gak sempat? Makan sempat.. ke wc sempat.. tidur sempat.. mati
juga nanti sempat.
Meditasi 1/2 jam sehari tidak sempat? ( B. Pannavaro sambil
menggeleng-gelengkan kepala ).

Sangat berharga.....

Gak usah rapal, gak usah mantra, gak usah doa, gak usah nyebut Buddha
atau yang lain, tidak usah bersila di kursi boleh, tidak usah ada ubo
rampe ( persembahan ) dupa lilin.
TIDAK ADA ONGKOS SAUDARA..... Murah sekali!

Kalo saudara mau beramal berdana, harus punya modal.....
Saudara mau berdana apa?
Saya mau menyumbang makanan.
Kalau saudara gak punya makanan yang mau diberikan apa? Saudara harus
punya makanan dulu.
Anda mau nyumbang obat. Anda harus punya obat dulu, baru bisa memberikan obat.
Aku mau berdana tenaga saja. Ya anda harus punya tenaga, baru bisa
membantu tenaga.
Kalau anda sakit dan berbaring di rumah sakit bagaimana mau menyumbang tenaga.
Aku ingin menyumbang berdana nasehat. Anda harus punya pengetahuan
baru bisa memberi nasehat.

Kalau meditasi?
ANDA TIDAK PERLU PUNYA APA-APA.....!

Jasmani akan sangat mempengaruhi perasaan.... Perasaan-perasaan akan
menjadi tenang... tenang...
Yang semula senang banget.. yang semula sedih banget...
Kalo sekarang perhatian kita memperhatikan nafas...
Perasaan itu meskipun untuk sementara dia akan turun..........

Apa betul bhante jasmani itu sangat mempengaruhi perasaan?
Sangat betul saudara.....

Kalau saudara suatu ketika merasa sesak.... Aduh sesak aku.. ( karena
sedih ataupun marah ), susah... aku...karena macam-macam masalah.
Tidak ada jalan keluar, belum bisa diselesaikan.
Untuk meringankan sementara sesaknya itu bagaimana saudara?

UNJAL AMBEKAN ( TARIK NAPAS )........ Rileks....
Meskipun hanya sebentar...

Itu suatu bukti kalo fisik ini ditenangkan... Emosi menjadi rileks....
Kalau perasaan terkondisi... maka pikiran akan menjadi tenang.

Nah.... Sekarang ikuti penjelasan yang lain.... Tetapi tetap ada
hubungannya dengan uraiannya ini...

=================================================

***** MARILAH BERMEDITASI - Bag. 4: Meditasi

Nah.... Sekarang ikuti penjelasan yang lain.... Tetapi tetap ada
hubungannya dengan uraiannya ini...

Tadi bhante mengatakan kalau pikiran mendapatkan reaksi, anaknya
sakit.. anaknya masuk ICU.. Suaminya tidak pulang... atau anaknya
lulus ujian... atau mendapatkan keuntungan yang besar.

Reaksi pikiran cepat sekali mempengaruhi perasaan.

Cepat sekali... Kuat sekali...

Perasaannya menjadi senang atau tidak senang, suka atau sedih.
Benar...

Tetapi sebaliknya...
Perasaan juga mempengaruhi pikiran..

Kalau perasaannya tenang... Pikirannya tenang.
Kalau perasaannya berkobar-kobar.. Pikirannya juga berkobar-kobar.

Saya ingin memberikan contoh-contoh...

JUSTRU PENGARUH PERASAAN ITU KUAT SEKALI TERHADAP PIKIRAN!

Apa saja gerak-gerik kita sehari-hari, yang kecil-kecil sekalipun. Apa
yang mendorong?

YANG MENDORONG PERASAAN....

Sekarang sudah jam delapan seperempat, saya bicara satu jam lebih. Dan
selama satu jam seperempat kira-kira... atau satu jam lebih.
Saya duduk tidak menyandar....

Apa yang dirasakan bhante?
Pegal....

Bhante senang apa tidak senang?
Tidak senang...

Perasaan tidak senang ini memerintahkan pada pikiran,
Nyendero-nyendero ( menyandarlah-menyandarlah ). Nanti kalo waktunya
tanya jawab menyandarlah.....

Waktu saya menyandar....
Apa yang timbul?
Enak... ( suka )

Enak ( suka ) lalu memerintahkan pada pikiran....
Menyandarlah terus....

Siapa yang memerintahkan pikiran?

PERASAAN...........

Kalo umat Buddha yang sudah lama, mengerti manusia itu kan 5 Khanda toh...

1. Yang kasar namanya JASMANI

2. PERASAAN ( VEDANA ). Menurut pengertian Dhamma perasaan ini bisanya
senang - tidak senang. Rasa asin, rasa asam itu pikiran dalam agama

Buddha. Rasa malu, rasa sedih itu pikiran...
Perasaan dalam pengertian psikologis buddhist hanya SUKA atau TIDAK
SUKA ( Senang atau Tidak Senang ), di tambah NETRAL ( ya netral boleh
diabaikan - Suka tidak... tidak suka juga tidak ).

3. INGATAN

4, PIKIRAN ( SANKARA ). Yang punya rencana, cita-cita, segala macam
ingat yang lalu, mau begini mau begitu. Katanya orang pikiran ini
tidak terbatas, dari jaman primitif sampai sekarang lalu kemudian
berkembang lagi.. batasnya tidak tahu pikiran ini.. Hebat sekali...

5. KESADARAN

JUSTRU YANG BERBAHAYA BUKAN SANKARA ( PIKIRAN ). YANG BERBAHAYA VEDANA
( PERASAAN ).

Karena perasaan itu yang menjadi provokator... Dia memprovokasi pikiran kita!
Apa saja ibu bapak boleh saja mencocokkan sendiri.

Saya lihat orang itu tadi duduknya sangat tenang.... Setelah agak lama
satu jam lebih... koq dia mulai goyang-goyang ( gelisah ).

Kenapa?
Pikirannya menyuruh bergoyang-goyang....

Mengapa pikirannya menyuruh bergoyang-goyang...?
Karena perasaannya kalo duduk tegap terus rasanya tegang dan TIDAK
SUKA, koq bhante ceramah belum berhenti-berhenti.....

Lalu perasaannya membujuk pikiran

EH PIKIRAN.... ITULOH... DUDUKNYA AGAK GOYANG-GOYANG, BIAR GAK
SAKIT... BIAR ENAK...

Itu... perasaan, yang menjadi biang keladinya....
Dia yang memprovokasi, dia yang menghasut segala macam.

Kalau senang... Dia menghasut pikiran.... lagi... lagi... lagi...
Kalau tidak senang... Dia menghasut pada pikiran.... singkirkan...
singkirkan... singkirkan...

Dia jalan lihat di rumah tetangganya... ada mangga bagus-bagus jatuh....
Melihat itu... perasaan langsung bereaksi... Lihat mangga... SENANG...
Lalu perasaan memerintahkan pikiran.... Ambil.... Ambil... Ambil...
Pikiran: Tapi kan kepunyaan orang, apa gak mencuri?
Kalau gak di simpan pemiliknya kamu kan tidak mencuri.... kan di situ
tergeletak.... Ambilah.. ga papa.
Pikiran begitu ramai, berdebat-debat terus....

Lalu..... Ambil...................
Tapi ambil... dipukulin orang satu kampung, karena loncat pagar.

Dipukulin enak atau tidak enak? ( Suka atau tidak suka? )
Tidak enak ( Tidak Suka ).

Suka atau Tidak Suka?
Tidak suka... wah.. sakit semua...

Suatu hari dia lihat mangga yang jatuh lagi... lebih banyak.
Sekarang perasaannya lain....

Sakit loh nanti... sakit loh nanti... dipukulin.
Ingatan akan yang sakit dan perasaan tidak suka karena di pukulin itu
memerintahkan pikiran:

Jangan ambil... Jangan ambil... Jangan ambil...

Mungkin pikiran masih membantah, tapi kemarin kan banyak orang....
Sekarang kan gak ada orang...

Ya.. nanti kalau kamu sudah meloncat, trus orangnya datang nanti kamu
mau lari kemana?
Ya.. nanti saya bilang. Ini nanti saya mau beresin supaya gak
berantakan taruh di pojok...

Oh... Pikiran ini LIHAY sekali..... Tetapi... pemicu / penyulut api
pertamanya adalah PERASAAN....

Tapi bagaimana bhante supaya perasaan tidak menjadi penghasut?

CARANYA:

JASMANI HARUS DIKONDISIKAN, KALAU JASMANI DIKONDISIKAN... MAKA
PERASAAN AKAN TERKONDISI TENANG, KALAU PERASAAN TERKONDISI MENJADI
TENANG.....
PROVOKATORNYA TIDAK GANAS.....

Dia tidak memprovokasi pikiran dengan seenaknya sendiri.... Karena
provokatornya mulai tenang.

Bagaimana menenangkan provokator?

JASMANI HARUS DIKONDISIKAN...
LATIHAN HARUS DIMULAI DENGAN JASMANI....
MEMPERHATIKAN NAFASNYA SENDIRI.

Apa yang saya uraikan ini ibu bapak dan saudara:

INILAH DASAR AJARAN DHAMMA, tidak lebih....

Semua orang termasuk orang yang tidak sekolah sekalipun, petani
sekalipun atau lebih dari itu, tidak intelektual sekalipun,

BISA MEDITASI......... Karena hanya memperhatikan nafasnya sendiri....

Itu meditasi Buddhist....
Meditasi Buddhist tidak hanya duduk diam saja....

---------------------------------------------------------------------------------

Kalo kita sudah terbiasa meditasi seperti itu...
Waktu meditasi jalan tiba-tiba perasaan muncul, senang sekali yang luar biasa.
Kita boleh berhenti sekarang. Memperhatikan perasaan yang muncul.

Eh... ini ada perasaan yang muncul.

Tugas kita hanya memperhatikan saja...
Tidak usah mencari...
Duh.. senang ini darimana ya? Tidak usah..
Sampai nanti dia tenggelam... Senangnya nanti tidak mengganggu lagi,
baru jalan lagi...

Tiba-tiba ingat karena mungkin pernah ke Jepang, ada patung Buddha
besar... tidak diingat-ingat, tapi muncul dengan sendirinya..
Oh saya pernah melihat patung Buddha besar.
Kalo itu mengganggu jalannya berhenti.
Disadari ingatan muncul, sampai tidak mengganggu lagi baru jalan lagi.

Demikian juga waktu kita meditasi duduk.
Masuk... Keluar... Masuk.. Keluar... Masuk... Keluar...
Hanya mengamat-amati PASIF...

Masuk.... Nafas ini masuk kemana ya?
Ke paru-paru atau ke perut?
Tidak usah tanya...

Keluar... Yang keluar ini nafas baik atau nafas buruk ya?
Tidak usah nanya... Tidak usah menganalisa... Tidak usah mencari tahu...
Hanya lihat saja.... PASIF...

Koq timbul pikiran senang luar biasa....
Lain dengan senang-senang duniawi.
Oh... kayak begini... perasaan apa ini?
Sadari saja.....
Tidak usah mereka-reka, apa ini saya sudah nyampe?
Sadari saja...

Hanya itu bhante?
Iya hanya itu....

Kalau begitu meditasi Buddhist itu tujuannya apa?
Tujuannya supaya keawasan kita menjadi kuat....

Kalau keawasan kita kuat, maka keawasan itu bisa membuat emosi (
perasaan ) tenang...
Keawasan itu juga bisa untuk mengawasi pikiran...

Tidak untuk membangkitkan Khundalini, melihat mahluk halus, bisa
mengobati, bisa terbang...

TIDAK....

Karena kalau keawasan itu mengawasi emosi ( perasaan ), emosi (
perasaan ) menjadi tenang.

Kalau keawasan kita bisa mengawasi pikiran... oh AKU kita ini....
berkurang... berkurang... berkurang...

Hanya itu...

Apa yang muncul selama meditasi perhatikan saja.....
Jangan dianalisa, jangan ditanggapi, jangan dinilai, jangan dihakimi,
jangan diusir... tapi lihat saja...

Pengalaman-pengalaman yang pahit yang tidak enak...
Yang kotor... yang buruk... yang baik... lihat.. saja.

Hanya itu...

APA YANG SAYA SAMPAIKAN INI, IBU BAPAK SAUDARA... INILAH VIPASSANA..

Jadi nanti kalo ibu bapak dan saudara, ada yang ikut latihan Vipassana...
Apa yang saya uraikan ini akan menjadi penjelasan awal, saudara akan
mengerti dengan jelas kalau nanti guru meditasi menjelaskan.

Karena ada orang waktu itu atau kadang-kadang datang kepada saya..
Bhante... kalo saya meditasi di Dhamma Sundara ini, apalagi di depan stupa.
Cepat bhante masuknya... Kalau di rumah itu koq gak masuk-masuk....

Saya tidak bisa jawab...
Saya pikir masuk kemana????

Hanya kalo saya tanya nanti... dia tambah bingung...

Loh saya mau tanya.. Loh saudara masuk kemana?
Loh saya meditasi 30 tahun lebih sebagai bhikkhu, tiap hari juga
banyak sekali dan berusaha untuk sadar setiap saat.
Saya tidak pernah mengenal masuk-masuk itu....

Nah meditasi bhante bagaimana?

MEMPERTAHANKAN. MENGHADIRKAN AWARENESS ( KEAWASAN ), TERHADAP
GERAK-GERIK KITA, PERASAAN KITA, PIKIRAN KITA......

Ya... Terima Kasih

==============================================

MARILAH BERMEDITASI - Bag. 5: Tanya-Jawab Pertama


TANYA:

Sebenarnya apakah ada perbedaan antara perasaan mempengaruhi pikiran,
atau pikiran yang mempengaruhi perasaan?
Sebab sering kita dengar statement-statement bahwa: Jadi manusia yang
rasional... Atau kadang-kadang, laki-laki itu rasional sedangkan
wanita lebih emosional dan sebagainya. Terima kasih bhante.

JAWAB:

Kalo saya diminta untuk memberikan tanggapan singkat.
Timbal-balik, Interdipendensi

Semua reaksi pikiran pasti langsung mempengaruhi perasaan.
Perasaan yang dipengaruhi itu, suka dan tidak suka atau senang dan tidak senang.

Di dalam Buddhist biasanya senang dan tidak senang ini dibagi dua.

Kalo senang tidak senang itu datangnya dari sensasi tubuh. Makan enak,
melihat yang bagus, meraba yang dia suka disebut SUKHA, kalau melihat
yang buruk, merasakan yang dia tidak biasa maka disebut TIDAK SUKHA.

Tetapi kalau dia mengingat sesuatu kenangan terhadap yang baik,
kenangan terhadap yang enak / kenikmatan, atau berita-berita yang

bagus yang rangsangannya bukan dari jasmani disebut SENANG, kalau
rangsangannya dari pikiran tidak menyenangkan disebut TIDAK SENANG.

Jadi dalam bahasa pali dikatakan kalau rasa senang tidak senang itu
datang secara mental SOMANASA = SENANG dan DOMANASA = TIDAK SENANG.

Tetapi kalau rangsangannya dari jasmani ini, pegal... tidak dan
sebagainya, menyicipi makanan cocok tidak itu disebut SUKA=SUKHA dan
TIDAK SUKA=DUKKHA.

Tapi sebenarnya empat ini ya.. dua, senang atau tidak senang dan kalo
mau dilengkapi tambah lagi satu NETRAL. Netral itu,,, tidak ada
reaksi. Senang yang kagak dan tidak senang juga kagak.
Kalau saya meliihat benda ini ( sambil menunjukkan pena ) karena saya
sering melihat, tidak ada yang aneh. Saya melihat tidak senang...
tidak, senang... juga tidak. Ya biasalah... Jadi perasaan seperti suka
dan tidak suka tidak muncul.

Tetapi ada kalanya dan bahkan suka dan tidak suka itu yang sering
mempengaruhi kita. Dengan kadar yang berbeda-beda. Tidak sukanya bisa
kuat sekali... Sukanya bisa kuat sekali. Pikiran mempengaruhi
perasaan, setelah perasaan itu bergolak timbul suka atau tidak suka.

Sekarang perasaan yang memprovokasi pikiran, kecuali pikiran mempunyai
pandangan, mempunyai pertimbangan.

Ojo loh dosa ( Jangan loh dosa ), nanti dipukulin orang... tidak baik,
namamu jelek lo.., itu salah satu cara untuk pikiran tidak bergolak.
Tidak melaksanakan apa yang sedang diingat atau yang sedang muncul
dipikiran.

Tetapi itu CARA BIASA.....

Semua agama termasuk agama Buddha termasuk mengajarkan begitu.
Jangan loh ingat akibat karma loh, malu loh berbuat jahat, nanti kalo
kamu begitu keluargamu ikut malu loh, Jadi meskipun perasaan itu
senang mendorong, pikiran mau melakukan ada pertimbangan yang muncul.
Hanya itu cara biasa.

Keinginan pikiran dilawan dengan konsep.
Konsep malu, konsep etika, konsep pergaulan sosial, konsep hukum
karma, konsep dosa dihukum tuhan dan lain-lain.

Kalo CARA MEDITATIF lain....

Timbul pikiran mau mencuri mangga, tidak dilawan dengan konsep, tetapi
diawasi...
Eh.. pikiran mau mencuri.. dengan diawasi begitu keinginan mencuri itu
akan turun.. turun... turun..., tidak jadi mencuri.

Apa ya cukup kuat ya bhante pengawasannya itu?
Ya karena itulah latihan meditasi.
Kalau kesadarannya / Awarenessnya lemah, tidak kuat dia.... dia tetap mencuri.
Kalo Awareness kita masih lemah bagaimana bhante?
Kalo Awareness kita masih lemah atau kadang kalanya kita lemah, pakai
cara yang tradisional yang konvensional.

Konsep-konsep tentang dosa, akibat karma, malu kalau ketangkap....
dipakai semua untuk menghantam pikiran mau mencuri mangga itu.

Boleh itu dipakai bhante?

Boleh...
Tapi itu konsep dilawan dengan konsep.

Kitab suci agama Buddha yang banyak itu semuanya konsep.
Ceramah saya satu dua jam dan setiap Dhamma Class anda merekam... Ini
konsep semua...
Ada gunanya juga untuk melawan pikiran yang negatif. Kalau pikiran
yang bagus bagaimana? Bisa didorong juga dengan konsep.

Tetapi kalau anda melatih meditasi, mempunyai Awareness atau Sati (
dalam bahasa Pali ) mempunyai keawasan yang lumayan, sekarang timbul
pikiran ingin mencuri buah mangga tidak digempur dengan konsep, tetapi
DILIHAT SAJA... DISADARI SAJA....

Oh.... mau mencuri.. Nanti dia akan turun... berkurang... berkurang...

MEMBERSIHKAN KOTORAN BATHIN...

Tapi kalau digempur dengan konsep..
Jangan loh ya... Jangan... orang tua bisa malu.. buah karmanya nanti loh...

ITU KOTORAN BATHIN HANYA SEPERTI DITUTUP SAJA
( DITUTUP DENGAN KONSEP DOSA, TAKUT MALU, AKIBAT KARMA JELEK, APALAGI
GAK ADA KESEMPATAN )....
YA... NANTI DIA AKAN TUMBUH LAGI... MUNCUL LAGI.

TETAPI DENGAN CARA MEDITATIF KOTORAN BATHINNYA SEPERTI DIBERSIHKAN...
DIKIKIS... DIHABISKAN, DIKURANGI..

Misalnya apa?
Misalnya mau mengambil uang milik orang yang berada di atas meja yang
tidak ada orangnya.

Pertama mata melihat... mata lapor ke pikiran...
Ingatan muncul.. bahwa yang dilihat adalah uang..

Lalu pikiran bermain tidak ada orangnya..
Lalu perasaan muncul... itu cepat sekali prosesnya...
" Wah senang punya uang banyak senang / enak"

Lalu pikiran: Apalagi sekarang tidak punya uang...
Langsung perasaan senang yang muncul memprovokasi pikiran... ambil-ambil...

Kalau tidak ada pertimbangan... langsung ambil saja....
mata gelap orang bilang - Emosi ( Perasaan ) membutakan Pikiran

Kalau ada pertimbangan..
Ingat loh ya... ini di vihara loh...
Kualat loh... Jukuk duit engko ciker tangane loh. ( ambil uang nanti

tanganmu cacat loh )
Gak ingat hukum karma? Gak ingat orang tua? Gimana nanti kamu tertangkap....
Jangan-jangan...jangat berbuat jahat, banyak berbuat baik...
Uangnya itu nanti.. disimpan saja jangan di ambil.

ITU SEMUANYA KONSEP... untuk menggempur keinginan mencuri uang.
Sehingga tidak jadi ambil uang....

Gak jadi ambil uang... kan bagus bhante?

Bagus...

TAPI KOTORAN BATHIN TIDAK BERKURANG.... HANYA DITUTUP DENGAN KONSEP.

Ini cara yang konvensional...
Takut Tuhan, Takut neraka, Takut akibat karma, Takut hukum negara, Takut malu

Kalo cara meditatif bagaimana bhante?

Saya singkat saja...
Lihat uang... senang... mau mengambil...
Oh... mau ambil, diperhatikan saja keinginan mau mengambil itu.. nanti
dia turun.. turun.. turun...

Apalagi sebelum keinginan muncul...
Timbul perasaan suatu melihat uang "senang" (apalagi kalau itu bisa ditangkap )
Oh.... senang muncul...
Belum sampai dia memprovokasi pikiran..

Itu lebih lagi...

Lebih awal lagi dia melihat, mengetahui, menyadari.. Vedana Senang (
Perasaan senang ) karena melihat uang.
Belum sampai menghasut / memprovokasi pikiran.....

Tapi kalau dia luput...

Sampai perasaan itu menghasut pikiran.. tidak papa...
Sekarang pikirannya yang diperhatikan.
Sehingga kekuatan pikiran untuk mau mengambil itu.. turun... turun... turun...

ITULAH VIPASSANA

Sangat Universal cara ini.
Anda mempraktekkan cara ini, kalo anda beragama bukan Buddhist...
Keyakinan anda tidak... terganggu...
Dan anda tidak harus menjadi umat Buddha.... Untuk melatih Vipassana...

===========================================

MARILAH BERMEDITASI - Bag. 6: Tanya-Jawab Kedua ( Habis )

TANYA:

Dalam Praktek saya, Itu kesadaran saya bisa dikalahkan dengan AKU.
Kesadaran saya itu sadar benar, tapi AKU-nya ini kuat sekali. Sehingga
tujuannya tidak tercapai. Bagaimana supaya bisa mengalahkan AKU-nya
itu? Supaya kita itu bisa tenang.


JAWAB:

Bagus sekali… pertanyaan ini bagus sekali.
Dan sebetulnya jawabannya tidak sulit

Bhante… kalau saya selesai melakukan sesuatu mengatur ruangan ini,
mengatur dekor, membangun sesuatu, bangun pabrik, bangun apa…, anak
lulus..

AKU-kan muncul bhante? Meskipun tidak diucapkan… ( jangan diomongkan
loh.., nanti kalo bhante tahu.. dikira AKU-nya besar ).

Tapi di dalam pikiran muncul.

AKU sudah berhasil meluluskan anakku. Wah dekor ini bagus ya.. AKU
puas…, Oh gedung ini… dulu AKU yang mencarikan dana.., AKU yang
merancang.

Itukan AKU muncul bhante? Bagaimana bhante? Sayakan sudah meditasi?

Sederhana saudara sebetulnya saudara.. JANGAN DI MUSUHI AKU-nya.

Loh gimana bhante?

Lihat aja…. Eh… AKU lagi muncul ini…
Biar… saja….

Malulah AKU koq muncul terus…, ini kan tidak baik, katanya bhante ini
biang keladi. Nanti serakah bisa muncul, benci bisa muncul.
Gak baik ini... pikiranku koq begini?

Itu malah tidak baik. Memusuhi dirinya sendiri. Kebencian kepada dirinya.

Jadi bagaimana bhante?

Lihat saja… Oh… AKU lagi mau enjoy-enjoy. Mau mencari nama ini….
Nanti dia akan turun.. turun… turun…

Jadi kalau AKU muncul itu tidak dianggap noda bhante?

Di dalam vipassana semua diperhatikan, tidak dipilah-pilah mana noda,
mana bersih, mana jahat, mana kotor, mana mulia, mana rendah, mana
ingatan, mana rencana, tidak dikategorikan begitu. Semua yang muncul
dipikiran termasuk ke-AKU-an, keserakahan, ingin selingkuh, ingin
makan enak, ingin hubungan seks, ingin membunuh, semuanya
diperhatikan…. Saja.

Tidak di stop?

Tidak…
Tetapi juga tidak dikembangkan… Sederhana.

Kalo AKU-nya membara-bara bhante?

AKU yang berhubungan dengan kebencian. Aku dibohongi, Aku dilangkahi,
Harga diriku diinjak-injak…
Juga di perhatikan saja.
Kalo AKU berhubungan dengan keserakahan. Aku sukses, Aku berhasil, Aku
melakukan yang baik, Aku rendah hati, Aku tidak sombong…
Juga dibiarkan saja… Dilihat saja.


Lihat dengan PASIF….

Ya sukar bhante…

Oleh karena itu, sebelum mampu memperhatikan gejolak pikirannya.
Berusahalah memperhatikan perasaan. Karena jenisnya perasaan hanya dua
macam, Suka atau Tidak Suka – Senang atau Tidak Senang.

Sebelum memperhatikan perasaan…. Mulai dengan memperhatikan jasmani..
Langkah kaki . menyapu.

Ya tidak bisa bhante…. Sadar terus menerus….. sepanjang hari.

Ya memang tidak bisa…. Sebanyak mungkin….
Dan sekali sehari duduk diam. Memperhatikan nafasnya sendiri…



TANYA: ( Video Terpotong )


JAWAB:

Kalau kita meditasi duduk capek di punggung.
Ada dua hal.. capeknya ini disadari… bisa.
Atau rasa tidak senang. Oh.. ini gak senang… gak senang… Disadari
dulu, jangan diberi reaksi dulu.

Setelah disadari dulu capeknya atau tidak senangnya.
Koq masih capek terus…. Ya… di tegakkan dikit… atau buka mata sebentar
kemudian gerak-gerak sedikit. Tapi dengan kesadaran…

Kan meditasinya putus bhante?

Tidak putus.. kalo dilakukan dengan kesadaran….., tutup mata lagi…
perhatikan nafas…

Kalo ada nyamuk menggigit di pipi sini. …. Nggak mungkin perhatikan nafas…
Sadari Gatal…..
dan pikiran harus dijaga.
Ini nyamuk biasa atau demam berdarah?
Kalo nyamuk demam berdarah ini gimana kalo gak langsung di usir…
pikiran berjalan begitu.

Jangan turuti dulu…

Lalu timbul rasa tidak senang…. Oh… gak senang ini, gak senang ini…
Lalu timbul keinginan cepat-cepat digaruk…. Oh.. pikiran muncul ini…
sadari dulu… itu. Dari gatal… tidak senang… ingin garuk dan
sebagainya. Kalau sudah di sadari begitu, gatalnya tidak hilang baru
diberi reaksi. Tangannya dinaikkan diusap pipinya… naik.. turun…
hilang gatalnya tangannya diturunkan… semua dilakukan dengan penuh
perhatian. Mulai lagi nafasnya diperhatikan…. Masuk,,, keluar…

Boleh ya bhante begitu?

Boleh.. TAPI SEMUA DILAKUKAN DENGAN KEAWASAN.

Tidak pipi sakit…. Cekit Langsung pless…. Tangan menampar pipi….
Robot itu… Diperhatikan dulu… Diperhatikan dulu… jangan reaksi dulu.

Supaya apa?

Supaya emosi tidak meledak-ledak, dan pikiran tidak cepat memberikan
reaksi spontan. Perhatikan dulu sampai sejauh mana gatal ini.

Kaki sakit… ehm… sakit ini…
Pikiran: Cepat berdiri.. nanti lumpuh.. macam-macam ini muter pikirannya…
Oh… ini sakit… dijaga senetral mungkin. Tidak menganalisa, tidak
menghakimi, tidak mencari sebabnya.

JUST…… HANYA SADAR…

Lalu gak senang muncul…. Oh ini gak senang muncul.
Pikiran: Bergerak sedikit tidak papa… Oh ini pikiran sudah muncul…
ingin bergerak sedikit.

Sakitnya hilang…. Ya sudah kembali ke nafas, kalau belun hilang-hilang
mau menuruti bergerak sedikit… Ya boleh… bergerak saja dengan
kesadaran. Lalu kembali ke nafas…

Itulah Vipassana…. Selamat Melatih Vipassana.

Ada bahaya bhante melatih Vipassana kalau tidak ada guru?

Tidak ada. Selama anda mempunyai tujuan benar, untuk mengurangi
kotoran bathin, untuk menipiskan ke-AKU-an, Untuk mempertajam
keawasan, supaya ke-AKU-an tidak merajalela, supaya perasaan tidak
menjadi provokator yang ganas.

TIDAK ADA RESIKO UNTUK ITU……..

Tetapi kalo anda berlatih meditasi untuk membangkitkan kundhalini,
tenaga dalam, prana, bisa melihat mahluk halus, bisa membaca pikiran
orang, mempunyai kekuatan dalam yang luar biasa.

SAYA MOHON MAAF….. SAYA TIDAK BISA MEMBERIKAN KOMENTAR, KARENA SAYA
TIDAK MELATIH CARA MEDITASI SEPERTI ITU…………

Terima Kasih ( Habis )

Minggu, 04 April 2010

Menyelamatkan Burung-Burung dengan Kebijaksanaan oleh Master Cheng Yen — Tzu Chi

Menyelamatkan Burung-Burung dengan Kebijaksanaan
Oleh: Master Cheng Yen — Tzu Chi

Suatu ketika, seekor raja burung memimpin rombongannya yang terdiri dari lima ratus ekor burung untuk mencari makanan di luar istana. Mereka tanpa sengaja terbang melewati batas dan memasuki kebun milik seorang kaisar. Mendengar bahwa lima ratus ekor burung sedang berkeliaran di kebunnya, Sang Kaisar berpikir hal ini pasti akan menjadi pemandangan yang menakjubkan. Lalu, ia pun memerintahkan para pelayannya untuk menebar jala di atas kebun untuk menangkap burung-burung tersebut ketika mereka akan terbang kembali.

Burung-burung itu tidak tahu bahwa kaisar sudah memerintahkan agar jala dipasang di sana. Oleh karenanya, ketika mereka terbang, semua burung tertangkap.Dengan gembira, Sang Kaisar memerintah para pelayannya untuk memberi makan burung-burung itu dengan beras setiap hari. “Jika mereka sudah cukup gemuk, masaklah mereka sehingga saya dapat menyiapkan pesta untuk semua menteri!” demikian titah Sang Kaisar.
Sewaktu raja burung mendengar apa yang direncanakan Sang Kaisar, ia menyalahkan dirinya terhadap situasi ini. “Semua ini adalah salahku sehingga rakyatku terbang masuk ke kebun kaisar, dan sekarang mereka akan dibunuh untuk menjadi makanan Kaisar dan menteri-menterinya. Apa yang dapat aku lakukan?”
Sewaktu beras dibawa masuk, tiba-tiba raja burung mendapat ide. Ia memperingatkan semua burung, ”Jika kalian ingin terus hidup, jangan makan beras tersebut.” “Tapi, jika kami tidak makan, kami akan mati kelaparan! Bagaimana mungkin kami dapat hidup?” kata burung-burung itu pada rajanya.
Raja burung memberitahu mereka, “Kaisar memberi kita makan agar kita menjadi gemuk. Jika kita memakan beras itu dan menjadi gemuk, Kaisar akan segera membunuh kita untuk dijadikan makanan. Jadi, janganlah makan apapun dalam beberapa hari. Jika kita menjadi kurus, kita akan memiliki kesempatan yang baik untuk melarikan diri.”

Lima ratus burung tersebut selalu patuh pada raja burung sehingga mereka sama sekali tidak menyentuh beras yang diberikan oleh Kaisar. Prajurit yang menjaga burung-burung itu menghidangkan beras yang sangat banyak ke dalam sangkar mereka setiap hari, tetapi makanan tersebut tetap tidak dijamah. Raja burung berpikir keras, berusaha mencari jalan untuk membebaskan diri dari sangkar. Suatu hari, ia melihat lubang kecil di atas sangkar. Ia memerintahkan semua burung untuk mematuk lubang tersebut setiap hari. Beberapa hari kemudian lubang menjadi semakin besar dan cukup untuk dilewati burung-burung karena badan mereka sekarang menjadi kurus. Atas petunjuk raja, lima ratus ekor burung tersebut akhirnya diam-diam terbang keluar melalui lubang tersebut.

Melihat sangkar burung yang kosong, raja burung sangat gembira. Ia memilih untuk keluar paling akhir. Lima ratus ekor burung telah menunggu di luar sambil mengepak-ngepakkan sayap mereka. Ketika pada akhirnya raja burung terbang di angkasa bersama-sama dengan seluruh burung, suara merdu mereka segera menyelimuti udara.

=====================
Kita harus waspada pada tindakan-tindakan dan pikiran-pikiran kita. Jika kita ceroboh, penderitaan akan terjadi sebagai akibatnya.
Segala kesalahan dan penderitaan disebabkan oleh pikiran-pikiran kita. Jika kita patuh pada peraturan, kita akan hidup dengan aman. Jika kita hati-hati dan bijaksana di dalam tindakan kita, hidup kita akan damai dan bahagia.

Sumber: http://kmbij.wordpress.com/artikel-dhamma/

Lima Dasar Moral Umat Buddha

 
 
 
Lima Dasar Moral Umat Buddha

Bersama Ven S. Dhammika





1. Agama lain menerima gagasan tentang hal yang benar dan yang salah dari perintah "Tuhan". Anda umat Buddha, tidak percaya akan Tuhan sebagai suatu pribadi, jadi bagaimana Anda tahu mana yang benar dan mana yang salah?

Semua pikiran, ucapan, atau perbuatan yang dilandasi keserakahan, kebencian, dan itikad buruk yang menjauhkan dari pencapaian kesucian - Nibbana, adalah hal yang salah. Sedangkan pikiran, ucapan, atau perbuatan yagn dilandasi cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan, yang mendukung penyucian jalan ke Nibbana adalah hal yang baik.

Dalam agama theosentris, benar salahnya suatu perbuatan biasanya dinilai dari kesesuaiannya dengan perintah Tuhan (yang termaktub dalam kitab suci). Namun dalam agama humanosentris seperti agama Buddha, untuk mengetahui yang baik dan yang buruk, Anda harus mengembangkan pengertian dan kesadaran diri secara mendalam. Tata susila yang didasarkan pada pengertian dan kebijaksanaaan senantiasa lebih unggul dibanding berdasarkan ketaatan pada perintah semata. Untuk membedakan hal yang baik dan yang buruk, umat Buddha berpedoman pada tiga hal: tujuan, akibat yang menimpa diri sendiri, dan akibat yang akan menimpa orang lain. Apabila suatu tindakan bertujuan baik (dilandasi cinta kasih, welas asih dan kebijaksanaan); apabila berguna bagi diri sendiri dan orang lain untuk mengembangkan cinta kasih, welas asih, dan kebijaksanaan, maka tindakan tersebut adalah bermanfaat, baik, dan patut diteladani. Tentu saja ada berbagai pertimbangan. Kadang kita bermaksud melakukan suatu tujuan mulia, tetapi bisa jadi tindakan tersebut tidak bermanfaat batin diri sendiri maupun bagi orang lain. Kadang tujuan kita jauh dari kebaikan, namun tindakan kita justru menguntungkan orang lain. Di kesempatan lain, tindakan kita sama sekali tak bertujuan baik, hanya menguntungkan diri sendiri, namun menyebabkan penderitaan pihak lain. Dalam hal ini, tindakan kita merupakan campuran antara hal yang baik dan yang buruk. Apabila kita bertujuan buruk, tak berguna bagi diri sendiri, tak bermanfat bagi orang lain, hal seperti ini adalah buruk. Sedangkan bila tujuan kita baik, dan tindakan kita bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, hal ini sungguh baik.

2. Jadi agama Buddha memiliki aturan moralitas?

Benar. Umat Buddha memiliki lima dasar moralitas umat Buddha yang disebut sebagai Panca Sila (dari bahasa Pali : lima dasar moralitas),
Sila pertama adalah menghindari pembunuhan atau menyakiti segala bentuk kehidupan;
Sila kedua adalah menghindari pencurian atau mengambil yang tidak diberikan;
Sila ketiga adalah menghindari tindakan asusila (penyelewengan seksual);
Sila keempat menghindari diri dari berbohong dan berkata yang tidak benar (berkata kasar, fitnah, dll);
Sila kelima, menghindari diri dari penggunaan bahan-bahan yang dapat menyebabkan melemahnya atau berkurangnya kesadaran/ketagihan.

3. Tentu saja suatu ketika kita perlu membunuh. Misalnya memberantas serangga pembawa wabah penyakit, atau membunuh demi mempertahankan diri.

Mungkin hal itu baik bagi Anda. Tetapi bagaimana dengan makhluk yang Anda bunuh? Seperti halnya Anda, mereka juga berharap untuk tetap hidup. Tindakan membunuh mungkin bermanfaat bagi diri sendiri (baik), namun tak elak lagi merugikan makhluk lain (buruk). Jadi suatu ketika mungkin perlu membunuh, namun sekali lagi hal ini tidaklah benar-benar baik. Umat Buddha berusaha menghargai semua bentuk kehidupan, dan melatih diri sebisa mungkin tidak menyakiti makhluk apapun.

4. Anda juga memperhatikan semut dan kutu?

Umat Buddha berusaha mengembangkan sikap welas asih yang tidak membeda-bedakan, melingkupi seluruh bentuk kehidupan. Kami melihat dunia sebagai suatu kesatuan dimana setiap makhluk dan segala sesuatu menempati fungsinya masing-masing. Kami sangat berhati-hati untuk tidak merusak atau mengganggu keseimbangan alam. Lihatlah budaya mengeksploitasi alam yang disertai perusakan, manusia mengambil semuanya, tak bersisa, manusia berusaha menguasai dan menundukkan alam. Keseimbangan alam terganggu. Udara segar, tanah, sungai, dan laut tercemari; hewan dan tumbuhan mendekati kepunahan; bahkan iklim pun berubah. Seandainya saja manusia tidak terlalu serakah, situasi yang mencemaskan ini mungkin tidak akan terjadi. Kita semua seharusnya berusaha lebih menghargai kehidupan. Inilah yang dikatakan oleh Sila Pertama.

5. Mengenai berdusta, mungkinkah hidup tanpa berdusta?

Jika benar-benar tidak mungkin hidup dalam masyarakat atau berbisnis tanpa berdusta, hendaknya kita tidak merugikan orang lain. Umat Buddha berupaya melatih diri untuk hidup lebih jujur dan berterus terang. Sekali lagi, Pancasila Buddhis bukan merupakan suatu dogma semata, melainkan lebih sebagai tuntunan sikap terhadap diri sendiri, sesama, dan alam semesta.

6. Baiklah, bagaimana dengan alkohol? Saya kira minum sedikit saja tidak akan memabukkan.

orang minum alkohol dengan bukan untuk suatu rasa. Ada yang minum untuk mencari pelarian dari tekanan hidup, ada juga yang minum untuk pergaulan. Sedikit saja alkohol bisa memperngaruhi atau mengganggu kesadaran diri, apalagi dalam jumlah besar, alkohol sangat merusak tubuh dan pikiran.

7. Apakah minum alkohol sedikit saja dikatakan melanggar sila? Bukanlah itu hal yang sepele?

Memang sepele. Tetapi bila untuk hal-hal yang sepele saja Anda tidak bisa, berarti tanggung jawab dan tekad Anda tidak cukup kuat; bagaimana mungkin Anda bisa melatih diri untuk hal-hal yang lebih besar?

8. Pancasila Buddhis bersifat negatif. Pancasila memuat hal-hal yang hendaknya tidak dilakukan, tetapi tidak mengatakan hal-hal yang hendaknya dilakukan.

Pancasila merupakan dasar moralitas umat Buddha, jadi belum mencakup semuanya. Kita mulai belajar mengenali kebiasaan buruk alamiah kita dan berusaha untuk menghentikannya. Itulah fungsi Pancasila sebagai dasar. Setelah kita berhenti berbuat buruk, kemudian kita mulai berbuat baik. Sebagai contoh, berbicara. Sang Buddha menganjurkan agar mulai dengan manahan diri untuk tidak berbicara tidak benar.

Selanjutnya, kita berbicara dengan benar, halus, sopan, dan pada saat yang tepat. Beliau bersabda:

"Meninggalkan pembicaraan yang tidak benar, dia menjadi pembicara kebenaran, dapat diandalkan, dapat dipercaya, dia tidak memperdayai dunia. Meniggalkan pembicaraan yang jahat, dia tidak mengulang di sana apa yang dia dengar di sini, tidak mengulang di sini apa yang dia dengar di sana, dalam upaya memecah belah mesyarakat. Dia mendamaikan yang bermusuhan dan mengakrabkan kembali yang berseteru. Keharmonisan adalah kegembiraannya, keharmonisan adalah kebahagiaannya, keharmonisan adalah kasih sayangnya, inilah yang mendorong dia berbicara. Meninggalkan pembicaraan yang kasar, dia berbicara tanpa cela, nyaman didengar, ramah tamah, menggembirakan hati, halus tutur katanya, disukai banyak orang. Meninggalkan obrolan kosong, dia berbicara pada saat yang tepat, apa yang sebenarnya, tidak bertele-tele, mengenal Dhamma dan kedisiplinan. Dia membicarakan hal yang bermanfaat dan berharga, sesuai dengan keadaannya, pantas untuk diungkapkan, dirumuskan dengan baik, dan tepat pada sasarannya." (MI 179)
 
Sumber: http://www.dhammacakka.org/forum/archive/index.php?t-3866.html 

Sabtu, 03 April 2010

BUDDHA, PENGENDALI PIKIRAN Oleh: Piyadassi Mahathera



BUDDHA, PENGENDALI PIKIRAN
Oleh: Piyadassi Mahathera

Orang yang mempelajari agama Buddha secara objektif yang dengan teliti membaca buku tentang agama Buddha di masa awalnya secara menyeluruh, (dalam buku manapun) akan menemukan kepribadian yang dinamis dari seorang manusia yang telah mencapai Penerangan Tertinggi dan Kebebasan Mutlak melalui kesempumaan moral, intelektual dan spiritual. Seorang guru yang berusaha dengan semangat tanpa kenal lelah dan tekad yang bulat untuk menyebarkan kebenaran yang telah disadari-Nya. Orang yang memiliki kepribadian dinamis itu adalah Buddha.

Buddha bukanlah seorang filsuf di antara ahli filsafat lainnya, melainkan seorang Guru suci yang telah mencapai Penerangan, yang ajaran-Nya bertujuan merombak pikiran dan kehidupan umat manusia. Semangat pengorbanan diri, cinta kasih yang tanpa batas, kebaikan hati dan toleransi yang terkombinasi dengan kepribadian-Nya yang luar biasa, membangunkan mereka yang mengikuti-Nya dari ninabobo kebodohan dan membangunkan mereka untuk menyadari kebenaran.
 
Ajaran-Nya berawal di India Utara tetapi pesan-Nya menarik perhatian seluruh dunia. Buddha berbicara kepada seluruh umat manusia dan untuk sepanjang jaman. Ajaran dan disiplin-Nya (dhamma-vinaya) adalah untuk seluruh umat manusia, apapun bahasa yang mereka gunakan, apapun pakaian yang mereka kenakan, apapun negara yang mereka sebut "rumah". Bahasa Buddha adalah kebenaran. Beliau mengenakan pakaian kebenaran dan seluruh dunia adalah "rumah"Nya; karena kebenaran terdapat dimana-mana dan setiap saat dapat disadari oleh setiap orang. Inilah yang dimaksud keuniversalan Buddha Dharma atau Agama Buddha. Kebenaran yang dibicarakan dalam Agama Buddha bukan konsep, oleh karena itu tidak dapat disebarkan hanya dengan kata-kata saja. Buddha dapat menuntun kita dengan menunjukkan jalan menuju kebenaran, kita sendiri yang harus mengikuti cara-cara meditasi untuk menyadari kebenaran dan menjadikannya milik sendiri.
 
Buddha adalah Pengendali Pikiran. Beliau mengembangkan pengendalian pikiran berkat meditasi dan berbagai bentuk peningkatan spiritual lain dalam rangkaian kehidupan berturut-turut. Dengan inilah Beliau dapat memahami dan menyatakan kebenaran pokok mengenai kehidupan, mengenai arti dan tujuannya. Meskipun begitu kebanyakan orang yang tertarik pada agama Buddha dewasa ini bukanlah memperhatikan kebenaran-kebenaran pokok ini, tetapi mempelajari, bagaimana ia dapat menghasilkan penyelesaian yang berguna untuk mengatasi keragu-raguan dan kesulitan yang mengacaukan dan membingungkan dirinya dalam usaha untuk memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan.
 
Salah satu kebenaran pokok yang telah dinyatakan oleh Buddha adalah kekuatan yang luar biasa dari pikiran. Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang siswa-Nya, Beliau menjelaskan kebenaran ini dengan tegas sekali, "Dunia dikuasai oleh pikiran, dengan pikiran dunia terbentuk; semuanya terjadi di bawah kekuasaan pikiran."1) Ilmu pengetahuan belum sepenuhnya menyelidiki kekuatan dan pikiran, tetapi lebih dari 2500 tahun yang lalu Buddha telah menyadari keunggulannya dalam setiap aspek kehidupan. Agama Buddha di masa awal memandang pikiran merupakan suatu kekuatan besar yang harus dikembangkan dalam usaha untuk mencapai tujuan tertinggi, Nirwana (Nibbana). Agama Buddha yang juga tidak mengingkari dunia yang penuh persoalan dan dampak luar biasa yang diakibatkan oleh dunia fisik terhadap kehidupan rohani, menekankan lebih pentingnya pikiran manusia. Kekuatan pikiran merupakan hal yang sangat nyata.
 
Banyak orang yang mencari ilham dan kebahagiaan dari sumber-sumber di luar dirinya merasa kecewa. Hanya ketika seseorang menyadari keunggulan pikiran dan mengerti bahwa pikiran yang dimiliki seseorang dapat membuat dunia ini menjadi surga atau neraka bagi dirinya sendiri, maka ia akan belajar bagaimana untuk merasa bahagia. Sang Pengendali Pikiran memberikan pertolongan lebih lanjut, seperti yang dikatakan dalam Dhammapada (165):
 
"Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan. Oleh diri sendiri pula seseorang ternoda. Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan. Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci. Suci atau tidak suci itu tergantung pada diri sendiri.Tak seorang pun dapat membuat orang lain suci."
 
Selain itu Sang Pengendali Pikiran berkata: "Engkau sendirilah yang harus berusaha, Para Buddha hanya menunjukkan jalan."2) Kebenaran-kebenaran yang berharga ini mengajarkan manusia untuk menemukan kebahagiaan di dalam dirinya sendiri dan melalui dirinya sendiri.
Kebenaran pokok lain yang datang dari Sang Pengendali Pikiran adalah:

"Segala sesuatu yang terbentuk adalah tidak kekal, Mereka timbul dan lenyap, itulah sifat dasarnya; Mereka dilahirkan dan meninggal dunia,
Terbebas dari hal ini merupakan kebahagiaan tertinggi." (D. ii.157)
 
"Segala hal yang memiliki sifat untuk timbul, memiliki sifat untuk lenyap."3) Perubahan ini merupakan inti dari segala sesuatu. Manusia tidak berbahagia karena semua hal yang diinginkannya - istri dan anak-anak, kekayaan dan kekuasaan - tidak bertahan selamanya. Dalam pekerjaan apa pun setiap orang mengalami kecemasan yang sama untuk mempertahankan apa yang dicintainya. Hanya jika manusia menyadari kebenaran pokok mengenai ketidakkekalan segala sesuatu maka ia akan melatih dirinya sendiri untuk melepaskan diri dari nafsu keinginan, karena nafsu keinginan rendah membawa ketidakbahagiaan. Dalam hubungan ini, Sang Pengendali Pikiran mengucapkan sabda sebagai berikut: "Dari nafsu keinginan timbul kesedihan, Dari nafsu keinginan timbul ketakutan, Bagi orang yang telah bebas dari nafsu keinginan, Tiada lagi kesedihan maupun ketakutan" (Dhp. 216)
 
Buddha kadangkala lebih memperhatikan tujuan yang mengandung unsur pengobatan daripada analisis obyektif. Akan tetapi yang terutama mendapat perhatian-Nya adalah pandangan analitis terhadap segala sesuatu, karena hal ini membantu seseorang untuk memahami sesuatu sebagaimana hakekat yang sesungguhnya. Melalui meditasi, Buddha menemukan akar dari penyakit-penyakit universal yang terdapat di hati dan pikiran manusia. Pengetahuan-Nya yang luar biasa sampai ke dalam cara berpikir menempatkan Buddha sebagai Pengendali Pikiran, seorang ahli psikologi, dan seorang ilmuwan terbesar. Tidak disangkal, caranya mencapai kebenaran-kebenaran dari kehidupan rohani ini tidak selalu bersifat eksperimen, namun apa yang ditemukan oleh Buddha tetap benar, dan dalam kenyataannya telah dibuktikan oleh para ahli percobaan. Akan tetapi tujuan Buddha terkait dengan penyelidikan ini berbeda dengan tujuan para ilmuwan. Para ilmuwan lebih memusatkan perhatian untuk memperoleh pengetahuan objektif mengenai sifat-sifat dasar, tetapi pernyataan Buddha tentang sifat-sifat dasar dari pikiran dan jasmani di arahkan untuk mencapai kebebasan, pembebasan tertinggi dari keterikatan. Ajaran-Nya banyak menekankan fenomena pikiran dan mental karena hal ini memainkan peranan penting dalam menimbulkan perbuatan. Dalam agama Buddha pikiran merupakan basis, "Pikiran mendahului segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran membentuk segalanya." (Dhp.1)
 
Buddha adalah seorang manusia. Bahkan sesudah Beliau menjadi Buddha Beliau tidak menyatakan diri-Nya sebagai Dewa, Tuhan atau Brahma, yang menciptakan dunia dan mengadili nasib manusia. Ia adalah seorang MANUSIA di antara banyak manusia. Bila ditanya siapakah Dia, jawabannya adalah: "Aku seorang yang telah sadar" dan Beliau menyimpulkan pencapaianNya dalam kata-kata berikut ini:

"Aku mengetahui apa yang harus diketahui, Apa yang harus dikembangkan telah Kukembangkan. Apa yang harus ditinggalkan telah Kutinggalkan,
Maka, Aku adalah BUDDHA, Dia yang bangun." (Sn. 558)
 
Pengikut-Nya, menyadari bahwa kebahagiaan dan penderitaan adalah akibat dari perbuatan baik dan perbuatan tidak baik yang dilakukan seseorang, tidak memohon kepada-Nya dan tidak mengharapkan dari-Nya balas jasa ataupun hukuman. Mereka berlindung kepada Buddha dengan menyadari bahwa hidup-Nya dan ajaran-Nya menawarkan pada mereka sebuah teladan dan tuntunan. Dengan mengikuti ajaran-Nya mereka mampu meningkatkan kehidupan rohani dari tingkat yang lebih rendah menuju yang lebih tinggi, dan akhimya mencapai kebahagiaan yang merupakan hasil dari perkembangan spiritual tertinggi, kebahagiaan Nirwana.
 
Buddha dapat juga disebut sebagai seorang revolusioner dalam pengertian sesungguhnya. Tujuan-Nya yang utama adalah mengadakan perubahan dalam kehidupan rohani manusia, termasuk dunia dan menunjukkan jalan menuju kesucian batin, kedamaian dan kebahagiaan. Akan tetapi Beliau menemukan bahwa masyarakat India sangat memerlukan perubahan secara radikal, karena begitu banyaknya ketimpangan sosial, serta diskriminasi ekonomi dan sosial. Sejauh mengenai perhatian pada ketimpangan ekonomi, Buddha berhasil menciptakan jaminan ekonomi yang stabil dalam kelompok para bhikkhu dan bhikkhuni. Apa pun dasarnya wihara dan dana yang disumbangkan oleh umat awam kepada Sangha selalu merupakan milik Sangha, dan bukan milik perseorangan.
 
Bagaimanapun juga, Bhagawa menentang semua bentuk diskriminasi sosial. Ketika membicarakan Dharma dalam ajaran-Nya, Beliau tidak membeda-bedakan kasta, suku, kelas, jenis kelamin ataupun perbedaan lainnya Pria dan wanita dari berbagai pekerjaan - kaya dan miskin, kalangan rendah dan kalangan atas, yang terpelajar dan yang buta huruf, brahmana dan luar kasta, pangeran dan fakir miskin, orang suci dan penjahat — semuanya mengindahkan Buddha, berlindung kepada-Nya dan mengikuti jalan menuju kedamaian dan penerangan yang telah ditunjukkan oleh Beliau kepada mereka. Jalan ini terbuka bagi semua orang.
 
Sebagai orang yang bertingkah laku sesuai dengan apa yang di- khotbahkan-Nya, Buddha selalu memusatkan perbuatan kepada Empat Keadaan Luhur (brahmavihara): cinta kasih (metta), belas kasih (karuna), simpati atau bahagia melihat kebahagiaan orang lain (mudita) dan keseimbangan batin (upekkha). Buddha dikenal sebagai orang yang telah meletakkan gada (nihita danda), seseorang yang telah meletakkan senjata (nihita sattha). Satu-satunya senjata yang berhasil digunakan-Nya adalah cinta kasih dan belas kasih. Beliau mempersenjatai diri dengan kebenaran dan belas kasih.
 
Beliau adalah penjelajah terbesar di dunia. Ia berjalan dan berjalan terus sepanjang jalan raya dan jalan kecil di India, merangkul semuanya kedalam pancaran kasih dan kebijaksanaan-Nya yang tidak terbatas.
Ia bergerak di antara pria dan wanita, bukan sebagai manusia super atau penjelmaan dewa, tetapi sebagai manusia seutuhnya. Dalam kenyataannya, sifat dasar kemanusiannyalah yang terlihat nyata dalam catatan kehidupan dan kegiatan-Nya yang tertulis dalam Kitab Suci. Buddha membuat orang-orang mengerti bahwa semua orang dapat menjadi Buddha asalkan mau mengembangkan sifat dasar penting yang dapat menuntun menuju penerangan.
 
Buddha memiliki rasa humor yang tinggi dan sifat ramah yang membuah orang-orang yang datang berhubungan dengan-Nya merasa senang. Namun, agak lucu pula bila kita perhatikan bahwa sebagian orang pada zaman itu, terutama anggota kepercayaan lain, merasa takut kepada Buddha dan tidak berani mengirimkan para murid dan pengikut mereka kepada Buddha, takut kalau-kalau mereka beralih agama. Hal ini tampak jelas dalam catatan berikut ini:
 
Suatu ketika Nigantha Nataputta (Jaina Mahavira) ingin mengirim seorang siswanya yang terkenal, Upali, menemui Buddha untuk menyangkal kata-kata-Nya dalam perdebatan. Kemudian Dighatapassin, pengikut Jaina, berkata kepada Nataputta: "Bagiku, Yang Mulia, sebenarnya tidak perlu sekali mengirim Upali untuk menyangkal kata-kata Petapa Gotama, karena Petapa Gotama penuh tipu daya; Ia tahu mantra sihir yang dengan itu menarik para pengikut dari sekte-sekte lain. (Gotamo mayavi avattananim mayam janati)" (M.56; A. ii, 190).
 
Mereka mungkin tidak menyadari bahwa metta yang dimiliki Buddha, kebesaran cinta kasih dan kebaikan hatinyalah yang menarik orang- orang kepada-Nya dan bukan dengan "muslihat yang menarik hati."
 
Buddha merupakan perwujudan dari metta, contoh dari cinta kasih dalam tuntunan dan keteladanan. Dalam perdebatan, Beliau selalu tenang dan menghadapi penantang tanpa merasa terganggu, tanpa menunjukkan kemarahan. Saccaka, lawan debatnya, pada akhir perdebatan dengan Buddha, tidak dapat menahan diri untuk berkata: "Bagus sekali, mengagumkan, Gotama yang baik, walau dicecar secara bertubi-tubi, walau diserang dengan kata-kata yang penuh tuduhan, sifat Gotama yang baik begitu jelas, dan wajahnya menunjukkan kebahagiaan sebagai seorang Arahat, yang sempuma, yang telah mencapai Penerangan Tertinggi." (M36)
 
Bahkan ketika orang-orang menyerang-Nya dan berusaha mempermalukan dengan kata-kata kasar, air muka Buddha tidak pernah berubah. Dikatakan bahwa Beliau tersenyum, senyuman selalu mengawali ucapan-Nya (mihita pubbangama).
 
Ernest F. Fenollosa menilai: "Kesan terhadap tokoh ini (Buddha), berdasar pandangan orang untuk pertama kali, menunjukkan Dia memiliki kesucian yang hebat. Anggaplah berkelakar, seorang Kristiani yang berwawasan luas (=dirinya sendiri) juga dapat dengan bebas terdorong untuk membungkukkan diri di hadapan senyuman-Nya yang manis dan penuh kekuatan."
 
Tak ada sifat manusia yang menjadi milik khusus (prerogatif) agama, negara, ras atau kebudayaan tertentu. Bagi mereka, semua memiliki mata untuk melihat dan pikiran untuk mengerti akan menyadari bahwa sifat-sifat seperti persahabatan, belas kasih dan kebesaran hati umumnya terdapat dalam diri setiap umat manusia. Akan tetapi ketika orang-orang itu salah jalan dan tersesat, mereka membicarakan dan merencanakan "perang demi keadilan" - kita bahkan membaca mengenai "perang suci". Perang adalah perang; "adil ataupun suci"; tidak pemah membawa kedamaian. Semua bentuk perang adalah biadab.
 
Suatu kejadian pada suatu ketika membawa Buddha menuju medan perang. Sakya dan Koliya, dua negara yang bertetangga sampai di ambang peperangan karena memperebutkan air Sungai Rohini. Mengetahui bencana yang akan timbul, Bhagawa lalu menghampiri mereka dan menanyakan kepada mereka manakah yang lebih berharga, air atau darah manusia. Mereka mengakui bahwa darah manusia lebih berharga. Bhagawa berbicara kepada mereka dan perang yang hampir pecah dapat dicegah.4)
 
Dalam bidang agama dan filosofi, perubahan terbesar yang dilakukan, oleh Buddha ketika Beliau mengecam konsep atta atau atman, roh yang kekal, diri atau aku yang kekal. Ajaran mengenai anatta, tanpa roh yang kekal, semata-mata merupakan ajaran agama Buddha. Buddha menunjukkan bahwa menjadi apapun, dengan berbagai maksud kita menamakan pria, wanita atau pribadi, bukanlah merupakan sesuatu yang statis melainkan dinamis. Perpaduan antara jasmani dan rohani selalu dan terus menerus berubah.
Kini jika seseorang melihat kehidupan dari pandangan ini dan mengerti secara analitis bahwa keberadaannya merupakan rangkaian agregat rohani dan jasmani secara keseluruhan, ia melihat benda-benda sebagaimana yang sesungguhnya. la tidak berpegang pada pandangan salah mengenai "kepercayaan akan adanya pribadi" (sakkaya ditthi), kepercayaan terhadap adanya roh atau diri yang kekal, abadi, tidak berubah dan tetap, karena ia mengetahui melalui pengertian benar bahwa seluruh bentuk kehidupan yang nyata merupakan rangkaian sebab-musabab yang saling bergantungan (paticca samuppada). Melihat bahwa segala sesuatu disebabkan oleh sesuatu yang lain dan kehidupan berhubungan dengan keadaan itu, ia menyadari bahwa sebenarnya tak ada "aku", tidak ada prinsip aku yang kekal, tak ada diri atau sesuatu mengenai diri, tidak dalam proses kehidupan sekarang maupun di luar kehidupan saat ini. Oleh karena itu, ia bebas dari pikiran mengenai jiwa mikrokosmis (jivatma) atau jiwa makrokosmis (paramatma) atau bahkan jiwa kosmis.
Buddha tidak mengakui segala bentuk atman, jiwa atau diri, besar atau kecil yang kekal, karena hal-hal itu hanya merupakan bayangan dalam pikiran. Beliau bertanya: "Ketika suatu atman, jiwa atau diri tidak ditemukan, bukankah bodoh untuk menyatakan alam semesta sebagai atman atau diri dan mengatakan: aku akan menjadi atman setelah kematian, kekal, abadi, tidak berubah dan akan tetap sebagai atman untuk selama nya?"'5)
 
Barang siapa yang berakar pada pemikiran mengenai jiwa atau diri itu akan merasa takut dan khawatir ketika ia mendengar bahwa segala keindahan yang disenanginya akan hancur dan ia akan dihancurkan. Oleh karenanya ia menyukai pemikiran mengenai atman, jiwa atau diri yang kekal untuk mempertahankan dirinya sendiri. Itu sebabnya mengapa Buddha mengingatkan para pengikut-Nya agar memandang Beliau bukan sebagai juru selamat yang menyelamatkan jiwa makhluk ciptaannya, tetapi sebagai seorang guru yang menuntun mereka pada jalan yang benar dan mendorong mereka untuk memiliki kepercayaan pada diri sendin. Beliau juga menerangkan kepada para siswa-Nya bahwa jika Beliau meninggal dunia nanti, mereka harus mencari tempat berlindung dan perlindungan dalam diri mereka sendiri sebagaimana juga di dalam Dharma, ajaran-Nya dan bukan pada tempat lain (attasarana anannasarana dhammasarana anannasarana)6)
Namun, sebagian orang terpelajar, tidak dapat menerima ajaran tanpa aku ini, dan oleh karena itu mereka mencoba untuk mengubah ajaran Buddha dengan mengakui pemikiran mengenai "diri" (atta). Radhakrishnan, contohnya, salah menerjemahkan Dhammapada ayat 160 yang berbunyi: "Diri sendiri adalah tuan dari diri sendiri, siapa pula yang dapat menjadi tuan bagi dirinya sendiri? Setelah dapat menaklukkan dirinya sendiri dengan baik, seseorang akan menemukan tuan yang hanya sedikit orang saja dapat menemukannya."7) Di sini kata "atta" tidak memiliki hubungan dengan jiwa atau diri. Kata itu digunakan sebagai refleksi atau kata ganti tak tentu yang berarti saya sendiri, kau sendiri, aku sendiri, diri sendiri atau lain-lain. Berikut ini adalah terjemahan yang benar: "Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri sendiri, karena siapa pula yang dapat menjadi pelindung bagi dirinya? Setelah dapat mengenali dirinya sendiri dengan baik, ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari."
 
Para peterjemah juga salah mengartikan kata kunci "natha" yang berarti perlindungan, pertolongan dan bukan "tuan". Penjelasan pada ayat itu mengatakan "nattho ti patitha"; nattha artinya perlindungan (bantuan, tempat berlindung, pertolongan). Pikirkan lawan katanya "anatha". Apakah artinya menjadi "tanpa tuan"'? Tidak, ini artinya tanpa bantuan, tanpa perlindungan, tanpa pertolongan. Terjemahan yang salah menimbulkan pemikiran yang keliru mengenai diri yang besar menguasai diri yang kecil, jiwa makrokosmis menguasai jiwa mikrokosmis.
 
Sebagian orang suka berpikir keliru bahwa Buddhisme dapat diperbandingkan dengan filsafat Marxisme karena keduanya dianggap menyangkal Dewa yang kekal dan roh yang kekal. Salah bila mengatakan bahwa agama Buddha mempengaruhi filsafat Marx, atau ajaran agama Buddha mendekati dasar-dasar ajaran Marxisme. Ajaran Buddha mengenai hukum sebab akibat moral (kamma), kehidupan sebelum kelahiran, kehidupan setelah kematian (punnabhava) dan kebebasan tertinggi dari keterikatan (Nibbana), sama sekali asing bagi Marxisme.
 
Penganut Marxisme percaya bahwa tidak ada yang hidup terpisah dari materi. Bahkan pikiran merupakan hasil dari materi. Mereka percaya bahwa setelah kematian badan jasmani, "kepribadian" yang berhenti hidup.
Bagi penganut agama Buddha pertanyaan mengenai agama dan asal mulanya bukanlah merupakan pertanyaan yang bersifat metafisika, tetapi merupakan pertanyaan yang bersifat psikologis dan intelektual. Baginya agama bukan semata-mata keyakinan atau kitab wahyu ataupun ketakutan terhadap sesuatu yang tidak diketahui atau ketakutan terhadap makhluk gaib yang memberi pahala terhadap perbuatan baik dan memberi hukuman terhadap perbuatan jahat yang dilakukan oleh makhluk ciptaannya. Tidak hanya perhatian mengenai teologi, tetapi lebih kepada soal psikologis dan intelektual yang diakibatkan karena pengalaman merasa dukkha, yaitu penderitaan, konflik dan ketidakpuasan terhadap keberadaan empiris dalam sifat kehidupan.
 
Ketika kita mempertimbangkan isi ajaran agama Buddha, kita dapat melihat sesungguhnya ajaran agama Buddha berbeda dengan ajaran agama lain terutama mengenai konsep penciptaan. Ada banyak kepercayaan dalam agama Buddha, tetap tidak dapat dimasukkkan di antara agama-agama yang terpusat pada penciptaan dan kekuatan-kekuatan supranatural. Agama Buddha tidak mengenal Dewa pencipta yang kekal dan tidak menganjurkan upacara pemujaan dalam bentuk apa pun dan permohonan kepada para dewa. Tidak ada kepercayaan terhadap kekuatan supernatural di luar manusia yang menguasai nasibnya. Dalam agama Buddha manusia menghubungkan seluruh pencapaian dan prestasinya kepada usaha dan pengertiannya sendiri. Agama Buddha bersifat antroposentris, tidak teosentris. Bagi umat Buddha, agama merupakan pandangan hidup, kurang lebih mengenai pandangan moral, latihan spiritual dan intelektual yang menuntun ke arah pencapaian pengetahuan tertinggi, yang mengakhiri seluruh penderitaan dan kelahiran yang berulang-ulang dan berhasil mencapai kebebasan batin yang sempurna.
 
Dilihat dari pandangan filosofis, Buddha tidak merisaukan masalah yang dikhawatirkan oleh para ahli filsafat Timur maupun Barat dari zaman dahulu hingga sekarang. Dalam pandangan-Nya masalah-masalah metafisika hanya membingungkan manusia dan mengganggu keseimbangan rohaninya. Beliau tahu bahwa pemecahannya tidak akan menghindari seseorang dari penderitaan, dari ketidakpuasan terhadap sifat kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Beliau tidak ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, dan pada saatnya menahan diri untuk menjelaskan hal itu yang dirumuskan secara salah.
 
Tantangan dari agama Buddha merupakan sarana yang mendorong para pemikir keagamaan untuk meninjau kembali definisi kuno mereka tentang agama, dan menemukan definisi baru yang dapat selaras dengan agama Buddha. Cara umat Buddha memahami kebenaran tertinggi, bangun dari kebodohan untuk mencapai pengetahuan sempurna, tidak tergantung hanya kepada perkembangan kepandaian teoritis intelektual akademis, tetapi kepada pelaksanaan dari ajaran yang praktis. Gabungan yang menyenangkan dari teori dan praktik inilah yang menuntun penerangan dan pembebasan akhir.

Catatan:
1. A. ii, 117
2. Dhp. 276
3. Vin. i, 10; S. v, 420.
4. AA. I, 241; SnA 357; Thag A. 141.
5. Alagaddupama Sutta, M. 22, 138
6. Maha Parinibbana Sutta D. 16, 100.
7. S. Radhakrishnan, Gautama the Buddha (Hinds Kitabs, Bombay)






--
Sumber : Spektrum Ajaran Buddha, kumpulan tulisan Piyadassi Mahathera
Penerbit : Yayasan Pendidikan Buddhis Triratna, Jakarta, 2003
Y.A. Piyadassi adalah bhikkhu Srilanka. Beliau telah wafat pada tanggal 18 Agustus 1998 di Colombo, Srilanka.


Dikutip dari: http://www.wayn.com/waynblog.html?wci=viewentry&entry_key=93861

Kamis, 01 April 2010

MARILAH BERMEDITASI Oleh: Sri Pannavaro Mahathera



MARILAH BERMEDITASI

Oleh: Sri Pannavaro Mahathera


Transkrip Dhamma Class di Vihara Dhamma Sundara Solo
27 Agustus 2008
Ditulis oleh: Locky Thitasilo

MARILAH BERMEDITASI - Bagian 1: Sebab Penderitaan

Para ibu, bapak dan saudara-saudara,

Saya akan berbicara dengan topik yang lebih mendalam tidak hanya
dasar. Mendengarkan Ajaran Buddha agak berbeda dengan mendengarkan
uraian-uraian lain, tetapi mendengarkan Ajaran Buddha, uraian-uraian
Agama Buddha yang disebut Dhamma sebetulnya tidak begitu
mendengar
lalu mengerti secara intelektual dalam bahasa jawa secara nalar.
Tetapi mendengarkan uraian Dhamma itu seperti mendengar, kemudian
merefleksikan ke dalam. Dalam bahasa yang mudah merefleksikan itu
mencocokkan dengan kehidupannya sendiri yang dialami sendiri. Sehingga
saya sering mengatakan mendengarkan uraian Dhamma atau uraian ajaran
Buddha Gautama itu guru agung seperti bercermin.

Kalau ibu atau saudari ulang tahun, ulang tahun perkawinan ada kenalan
yang baik sekali yang dulu pernah mendapatkan jasa, pernah ditolong
datang memberikan kado gelang tretes ( berlian ) betulan bukan
imitasi. Pertanyaan saya adalah bagaimana reaksi ibu atau saudari,
Senang Apa tidak senang?
Senang....
Tidak usah di pikir karena itu saya mengatakan jangan mikir, karena
kalo mikir malah nanti jawabannya itu nanti tidak tulus. Orang pinter
biasanya... Senang apa tidak ya???

Itu kalo wanita, kalo pria mungkin mendapatkan hadiah jam dari Swiss.
Kalo anda mendapatkan kado jam dari Swiss asli, apalagi yang
memberikan teman baik yang bisa dipercaya.
Bapak atau saudara senang apa tidak senang?
Senang....

Ibu, bapak dan saudara
Pertanyaan saya adalah kalo gelang tretes itu datang di sini, kalo jam
dari swiss itu datang di sini. Menjadi hadiah saudara.
Saudara senang apa tidak senang?
Senang bhante...

Dimana letaknya senang itu?
Di sini....? ( sambil menunjukan dada / hati )
Apa di sini? ( sambil menunjukkan gelang atau jam )

Dimana yang merasakan senang itu?
Di sini ( sambil menunjukan dada / hati )

Gelang dan jam adalah benda mati. Meskipun gelang mahal bertabur
berlian dan Jam mahal. Di kedua benda itu tidak ada senang.

Di dalam bahasa yang kasar: Loh yang merasakan senang di sini koq (
sambil menunjukkan dada/ hati ) yang senangnya di sini... bukan di
situ ( di gelang atau jam ).

Suatu ketika kondangan lalu gelangnya dipakai, tetapi karena sesuatu
hal waktu pulang berliannya itu copot beberapa butir. Dilihat bolong (
berlubang ), entah kecantol tas ( tersangkut ), entah kecantol pakaian
( tersangkut pakaian ). Atau jam swiss yang mahal itu jatuh... kepijek
( terinjak ) pecah.

Kalo mata berliannya itu hilang, jamnya itu pecah, riek ( hancur ).
Ibu, bapak bagaimana reaksinya?
Senang apa tidak senang?
Tidak senang bhante...

Dimana letaknya tidak senang itu?
Letaknya tidak senang itu di jam yang riek ( hancur ) / gelang yang
berlubang berliannya atau di sini ( sambil menunjuk dada/hati )?
Jawabannya: Di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).

Oleh karena itulah menurut guru Agung Buddha Gautama, yang membuat
kita senang atau tidak senang, yang membuat kita menderita, yang
membuat kita susah. Semuanya itu muncul di dalam dan dari dalam diri
kita ini! Tidak ada sangkut pautnya yang ada di luar!

Karena kalo kita susah, sedih di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).
Kalo kita senang, gembira juga di sini ( sambil menunjuk dada/hati ).
Tidak di luar....!!!!

Tetapi kalo ibu bapak ada yang kritis, bisa bilang. Ya bhante sedih di
sini ( sambil menunjuk dada/hati ), gembira juga di sini ( sambil
menunjuk dada/hati ). Tapi jalarannya kan di luar bhante. Kalo saya
tidak mendapat gelang tretes ( berlian )/jam, kita kan tidak bisa
ujug-ujug ( tiba-tiba ) senang. Karena gelang tretes saya senang,
karena jamnya rusak saya menderita.
Jalarannya kan yang di luar juga bhante.... tidak hanya di dalam (
sambil menunjuk dada/hati ).

Betul? Ibu, bapak dan saudara?
Kelihatannya betul.... tapi tidak betul.

Apa betul kalo ada gelang tretes, ada jam datang lalu kita menjadi senang?
Iya bhante... kalo gak ada gelang atau jam, mana bisa kita menjadi senang.
Iya kalo gelang atau jam itu datang ke pak Budi, kalo gelang atau jam
itu datang ke pak Joni...
Pak Budi senang tidak?
Tidak senang...

Loh mengapa tidak senang?
Jamnya ke sana ( sambil menunjukkan ke Pak Joni ), bukan ke sini (
sambil menunjukkan ke Pak Budi ).

Katanya kalo ada jam atau gelang tretes senang....
Ini ada jam ada gelang tretes tapi pergi ke sana, tidak ke sini. (
pergi ke orang lain tidak ke saya ).
Saya senang atau tidak?
Tidak...

Kenapa gak senang bhante? Karena gelang dan jamnya ke situ koq bukan ke sini.

Kenapa dia susah, sedih?
Gelangnya hilang bhante... tidak hanya berliannya yang copot tapi
hilang. Lupa naruh entah kemana. Pembantu entah siapa ambil.
Jadi yang membuat dia menderita itu apa?
Yang membuat dia menderita itu ya.. gelangnya yang hilang atau jamnya
yang riek ( hancur ) terinjak.

Apa betul???
Kalo yang hancur itu, yang hilang itu gelangnya atau jamnya orang lain
saya tidak menderita...
Jadi ibu bapak dan saudara, apa sebab yang membuat menderita ini?
Yang membuat menderita itu adalah jam-KU, gelang-KU. Itulah yang
membuat menderita. AKU...

Karena kalau jamnya dia, gelangnya dia... aku tidak menderita.
Kalo jamnya atau gelang anaknya, dia ikut menderita
Kalo jamnya atau gelangnya temannya, dia sedikit menderita.
Kalo jamnya atau gelangnya orang lain yang kita tidak kenal... Oh....
sama sekali tidak menderita!

Mengapa?
Karena bukan jam-KU, bukan gelang-KU, bukan jamnya anak-KU, bukan
gelangnya anak-KU. Gelang dan jamnya milik orang lain, Aku tidak
kenal.... maka tidak menderita.

Berhati-hatilah dengan AKU ibu, bapak dan saudara.
Itu yang membuat kita menderita......

Mengapa bisa menderita bhante?
Karena terlalu lengketnya, terlalu senangnya, terlalu besarnya
AKUnya.... maka dia menderita.
Berharga, mahal, milyaran
Tetapi barang yang sama yang berharga, mahal, milyaran
Kalo ini rusak tetapi bukan milik-KU..... AKU tidak apa-apa.... tenang
.. tentram.

Jadi sang AKU-lah

Apa yang saya sampaikan ini adalah The Fact of Life..., The Truth....,
Kesunyataan Hidup.
Saudara tidak perlu mendengar uraian saya, lalu meng-iya-kan, tetapi
saudara bisa mencocokkan apa yang saudara pernah alami ibu, bapak
sekalian dalam kehidupan sehari-hari.
Benar... Tidak???

Ibu, bapak dan saudara jangan sepelekan AKU.
Ada orang mengatakan.. Ah... bhante.. AKU kan bukan kejahatan toh..,
paling kalo AKU-nya besar itu hanya akan dikatakan: Orang koq
Sombong-Sombing banget....!!! Arogan....
Paling kan hanya dikatakan begitu... kan bhante...

Kalo ada upacara pasti ingin minta duduk di depan...
Kalo suatu ketika yang terima tamu tidak mengerti lalu didudukkan di
belakang sana...
AKU di suruh duduk di belakang sana???
AKU ini ... jasaku ini tidak dihargai.. Itu orang tidak tahu AKU ini siapa???

Saya pernah diberitahu seorang bhikkhu, Oh... dia bukan pemimpin bhante...
Kalo orang seperti itu adalah pemuka bukan pemimpin.
Koq bisa???
Dia ingin duduk di muka.. kelihatan di muka..
Oh beda ya.. pemuka sama pemimpin...
Oh ya... beda bhante... ( joke )

Jangan Meremehkan ke-AKU-an ibu, bapak dan saudara...

Ke-AKU-an punya anak... Anaknya ke-AKU-an adalah:

Kalo dia senang..
AKU ingin senang lagi.. AKU ingin senang terus.. AKU ingin senang yang
lebih banyak..
*KESERAKAHAN..... ( Anaknya ke-AKU-an itu keserakahan ).
Kalo dia untung..
AKU ingin untung terus.. AKU gak mau rugi.. tidak ada pedagang yang mau rugi.
AKU ingin sukses terus..
AKU ingin sehat terus..
Kalo sudah tua, AKU ingin tua terus.. Loh koq bisa bhante? Siapa yang
ingin mati? Kalo sudah terlanjur tua kan, AKU ingin tua terus..
( Itu KESERAKAHAN)

dan

Kalo tidak senang..
**KEBENCIAN muncul pada saat keserakahan tidak mendapatkan pemenuhan.


Tetapi kalo kesenangannya mendapatkan pemenuhan... Oh..
KESERAKAHAN-nya membara-bara.

( Joke )
Saya pernah bertemu dengan seorang pejabat. Dia ingin mencalonkan
dirinya lagi, dia ingin menjabat lagi.
Pak... apa bapak menjabat itu enak toh?
Ya... bhante enaknya cuma 10%..
Oh.... begitu. Loh yang 90% pak?
Yang 90% enak banget.... bhante... ( Peserta Dhamma Class meledak tertawa ).
Oh makanya kepingin lagi menjabat. Saya pikir enaknya hanya 10%....
yang 90% tidak enak...
Ternyata yang 10% enak.. dan yang 90% enak banget...

Nanti kalo gagal bagaimana?
Kalo gagal dia bisa kecewa... Jengkel... Bisa-bisa marah.
Tidak senang pada yang maju... Tidak senang pada yang berhasil..
Itu anaknya KEBENCIAN...

Jadi sang AKU punya anak KEBENCIAN dan KEBENCIAN punya anak "SENANG
MELIHAT ORANG LAIN GAGAL / MEMBALAS DENDAM"

Anaknya KESERAKAHAN apa? Anaknya KESERAKAHAN " IRI HATI / TIDAK SENANG
MELIHAT ORANG LAIN SUKSES"

Itu semua adalah keturunan AKU.
Sang AKU mempunyai anak ingin... ingin.. ingin... lagi.. lagi.. lagi..
( KESERAKAHAN ), terhalang marah maka kebencian muncul.. kekejian
muncul.. kejahatan muncul.
Semuanya lahir dari sang AKU. Sang AKU mempunyai anak.. beranak -
pinak.. ( berkembang biak ) melahirkan kejahatan-kejahatan.

Ibu, bapak dan saudara.... ibu bapak bisa memahami ya.. yang saya uraikan..
Sang AKU sangat berbahaya dan sebab penderitaan itu adalah sang AKU.
Tidak ada sangkut pautnya dengan yang di luar sama sekali!!!
Apapun yang di luar terjadi jungkir-terbalik, kalo sang pikiran (
AKU-nya ) terkendali... anda tidak perlu menderita.

Bhante saya mendengar penderitaan itu.. terjadi karena karma-karma
buruk berbuah. Dulu kita melakukan / berbuat yang buruk-buruk..
melakukan karma buruk.. lalu berbuah.. buahnya karma buruk katanya
penderitaan. Buah karma baik katanya kebahagiaan.
Jadi penderitaan itu bukan akibat dari perbuatan yang buruk / akibat
karma yang buruk bhante?
BUKAN.... saudara...

Saudara yang sudah menjadi umat Buddha sudah lama, pernah mendengar toh..?
Empat Kesunyataan Mulia:

1. Ada Dukha

2. Apakah Sebabnya Dukha? Apakah sebabnya dukha di sebut akibat karma
buruk berbuah maka membuat kita menderita ( Dukha ). TIDAK....
Sebabnya dukha adalah Tanha. Apakah Tanha itu? KEINGINAN yang luar
biasa. Darimana datangnya Tanha.. sang AKU. Sang AKU ingin lagi..
ingin lagi.. ingin lagi... Kalo tidak senang ingin menghancurkan..
ingin menyingkirkan terus.. terus.. terus.. sampai
tidak menghalangi AKU lagi.

Jadi bhante kalo perbuatan buruk / karma buruk kita berbuah, itu kita
tidak menderita?
Terserah saudara.. saudara mau menderita atau tidak menderita!!!
Jadi kalo karma buruk kita berbuah, apa kita mesti menderita bhante?
TIDAK... Tergantung pada kita. Pada yang di dalam ini... mau menderita
atau tidak... tergantung yang di dalam. Tidak tergantung akibat yang
muncul.

Dari cerita ini lagi... ibu bapak bisa melihat. Tidak ada hubungannya
kesusahan, ketegangan, penderitaan itu dengan yang di luar ini. Tidak
ada sangkut pautnya!!!
Susah, menderita, sengsara itu karena " KITA SENDIRI SEPENUH-PENUHNYA"
Karena apa bhante?
Karena sang AKU kita biarkan....
Jangan main-main dengan sang AKU.. bukan masalah persoalan sombong-sombing saja.
Berbahaya.. ia menjadi biang penderitaan...

Baik.. paragraph pertama, chapter pertama saya tutup...