PUISI DINASTI
~TANG ZHAO~
Anda Renungkan Pesan ini:
Khusus untuk orang sibuk,
Manusia mulai dari lahir...
10岁快乐成长,
Umur 10th hidup bahagia,
20岁为情彷惶,
Umur 20th bimbang krn cinta,
30岁基本定向,
Umur 30th menentukan masa depan,
40岁拼命打闯,
Umur 40th berjuang mati²an,
50岁回头望望,
Umur 50th menoleh ke belakang,
60岁告老还,
Umur 60th pamit pulang kampung,
70岁搓搓麻将,
Umur 70th bersantai maen mahyong,
80岁晒晒太阳,
Umur 80th berjemur dibawah sinar matahari,
90岁躺在床上,
Umur 90th rebah di ranjang,
100岁挂在墙上…
Umur 100th digantung di dinding...(Fotonya) Alias game over...
生得伟大 ....
Semasa hidup, sangat mulia...
死得凄凉
Setelah meninggal sangat merana
所以呀该吃就吃
Makanya, waktunya makan, makanlah...
该喝就喝.
Waktunya minum, minumlah...
遇事别往心里搁,
Ketemu masalah, jangan masukkan ke hati...
舒服一秒是一秒…
Rilekslah selagi bisa...
能牵手的时候,
Sewaktu bisa bergandengan tangan,
请别只是肩并肩.
Jangan hanya berdiri berdampingan.
能拥抱的时候,
Sewaktu bisa berpelukan,
请别只是手牵手.
Jangan hanya bergandengan tangan.
能在一起的时候,
Disaat bisa bersama,
请别轻易分开.
Tolong jangan gampang berpisah.
如果你真爱一个人
Jika kamu benar "Mencintai Seseorang",
请把此资讯转发九个好友也包括我
Tolong kirimkan berita ini kesemua teman baikmu/saudaramu termasuk aku,
表示我是你的朋友.
Berarti saya adalah sahabatmu/saudaramu.
若有三个回你,
Kalau ada 3 orang yg membalasnya,
证明你的好运会在农历八月十五中秋节实现!
Berarti rejeki baik kamu akan tiba
直到永远
Hingga selamanya!!
Semoga Pepatah tsb BISA Benar Tepat Maknanya..
Rabu, 17 Desember 2014
Bagaimana bisa bersumbangsih tanpa keluhan dan tanpa penyesalan?
Ada orang yang bertanya kepada Master Cheng Yen:
Bagaimana caranya agar kita bisa bersumbangsih tanpa keluhan dan tanpa penyesalan?
Master menjawab:
Harus bisa membebaskan batin dari perasaan "ingin memiliki" dan "takut kehilangan". Saya sendiri tidak memiliki perasaan "ingin memiliki" dan "takut kehilangan", saya merasa senang menyaksikan semua orang "bahagia" dan merasa tenang hati menyaksikan dunia ini bebas dari penderitaan, itu sebabnya saya tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merasa menyesal sepanjang perjalanan hidup saya.
Artikel ini dikutip dari "Majalah Bulanan Tzu Chi" edisi 461
Ada orang yang bertanya kepada Master Cheng Yen:
Bagaimana caranya agar kita bisa bersumbangsih tanpa keluhan dan tanpa penyesalan?
Master menjawab:
Harus bisa membebaskan batin dari perasaan "ingin memiliki" dan "takut kehilangan". Saya sendiri tidak memiliki perasaan "ingin memiliki" dan "takut kehilangan", saya merasa senang menyaksikan semua orang "bahagia" dan merasa tenang hati menyaksikan dunia ini bebas dari penderitaan, itu sebabnya saya tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merasa menyesal sepanjang perjalanan hidup saya.
Artikel ini dikutip dari "Majalah Bulanan Tzu Chi" edisi 461
Selasa, 16 Desember 2014
Pahami orang tua
"Memahami Orang Tua
Kita yang sudah Menua"
---------------------------------
Banyak anak muda yang merasa cukup terganggu dengan ayah/ibu yang sudah usia lanjut dan cerewet, suka ngomel, banyak bicara dll.
Namun tahukah Anda bahwa sebenarnya dengan cerewet,
suka cerita, ngomel, dll, ini sebenarnya bentuk verbal catharsis,
yaitu orangtua mengeluarkan unek-uneknya sehingga setelahnya hatinya akan menjadi lega dan nyaman.
Selama orangtua masih mau bicara, mengeluarkan pikiran dan terutama perasaannya dalam bentuk verbal, ini tentu sangat bagus,
daripada mereka hanya diam saja. Semakin mereka diam, tidak ada komunikasi, maka akan semakin tidak baik bagi diri mereka.
Sebagai anak kita perlu bijak memahami kondisi dan situasi orangtua kita.
Seorang rekan dokter yang sedang dalam proses sertifikasi hipnoterapis berkata,
"Walau saya bisa hipnoterapi, saya tidak akan mensugesti ibu saya agar tenang dan tidak cerewet lagi.
Memang Ibu saya ini cewewetnya minta ampun. Namun, justru inilah yang membuat Beliau bisa selalu sehat dan panjang umur. Saat ini Beliau berusia 92 tahun."
Saat kecil, kita cerewetnya minta ampun. Kita bicara hal-hal yang tidak penting, suka mengulang-ulang apa yang sudah dikatakan atau ditanyakan.
Namun, karena saat itu kita masih kecil, masih baru belajar bicara, cerewetnya kita dianggap lucu dan menyenangkan.
Saat seseorang menjadi tua,
suka atau tidak suka ia akan kembali seperti anak kecil.
Namun, karena sekarang tubuhnya sudah tua, renta, dan keriput, cerewetnya tidak lagi lucu dan menggemaskan, malah terkesan menjengkelkan.
Sayangilah orangtua apa adanya, dengan segala keluguan dan kekurangan mereka,
selama mereka masih ada bersama kita. Suatu saat nanti, saat suara mereka sudah tidak lagi terdengar, kita pasti akan kangen dan merasa kehilangan.
Ingat, nanti kita juga akan menjadi tua, renta, keriput & cerewet seperti orangtua kita.
Lahir, Tua, Sakit & Mati.
Nah, rekan-rekan, bagaimana menurut Anda ?
Kita yang sudah Menua"
---------------------------------
Banyak anak muda yang merasa cukup terganggu dengan ayah/ibu yang sudah usia lanjut dan cerewet, suka ngomel, banyak bicara dll.
Namun tahukah Anda bahwa sebenarnya dengan cerewet,
suka cerita, ngomel, dll, ini sebenarnya bentuk verbal catharsis,
yaitu orangtua mengeluarkan unek-uneknya sehingga setelahnya hatinya akan menjadi lega dan nyaman.
Selama orangtua masih mau bicara, mengeluarkan pikiran dan terutama perasaannya dalam bentuk verbal, ini tentu sangat bagus,
daripada mereka hanya diam saja. Semakin mereka diam, tidak ada komunikasi, maka akan semakin tidak baik bagi diri mereka.
Sebagai anak kita perlu bijak memahami kondisi dan situasi orangtua kita.
Seorang rekan dokter yang sedang dalam proses sertifikasi hipnoterapis berkata,
"Walau saya bisa hipnoterapi, saya tidak akan mensugesti ibu saya agar tenang dan tidak cerewet lagi.
Memang Ibu saya ini cewewetnya minta ampun. Namun, justru inilah yang membuat Beliau bisa selalu sehat dan panjang umur. Saat ini Beliau berusia 92 tahun."
Saat kecil, kita cerewetnya minta ampun. Kita bicara hal-hal yang tidak penting, suka mengulang-ulang apa yang sudah dikatakan atau ditanyakan.
Namun, karena saat itu kita masih kecil, masih baru belajar bicara, cerewetnya kita dianggap lucu dan menyenangkan.
Saat seseorang menjadi tua,
suka atau tidak suka ia akan kembali seperti anak kecil.
Namun, karena sekarang tubuhnya sudah tua, renta, dan keriput, cerewetnya tidak lagi lucu dan menggemaskan, malah terkesan menjengkelkan.
Sayangilah orangtua apa adanya, dengan segala keluguan dan kekurangan mereka,
selama mereka masih ada bersama kita. Suatu saat nanti, saat suara mereka sudah tidak lagi terdengar, kita pasti akan kangen dan merasa kehilangan.
Ingat, nanti kita juga akan menjadi tua, renta, keriput & cerewet seperti orangtua kita.
Lahir, Tua, Sakit & Mati.
Nah, rekan-rekan, bagaimana menurut Anda ?
Senin, 15 Desember 2014
Pandangan Salah
Berhati-hatilah, sangat banyak "pandangan2 salah" disekitar kita.
* Banyak ajaran2 yg mengatasnamakan Ajaran Buddha, mereka mengajarkan menghormati Orangtua, tata krama, sopan santun, retret memakai jubah putih, vegetarian, dsb....tetapi mereka bukan Ajaran Buddha Gotama , Ajaran Buddha ada 3 ciri utama : 1. Buddha Gotama yg mengajarkan Dhamma Ajaran Buddha 2. Memiliki Kitab Suci Tipitaka/Tripitaka 3. Adanya Anggota Sangha yg tidak berumah tangga. Inilah 3 ciri minimal Ajaran Buddha Gotama. Berhati2lah banyak yg terjebak dan tidak menyadari ini, mereka mengajarkan yg baik, tetapi yg baik belum tentu benar.
* Ada pandangan yg mengatakan bahwa zaman sekarang "tidak perlu" lagi baca Paritta, baca Sutra, Pelimpahan Jasa, laksanakan Sila dan meditasi. Yang penting sekarang adalah bakti sosial, membantu sesama....... ini pandangan yg salah besar.
Buddha mengajarkan Dana, Sila, Samadhi, Panna.
Baksos hanyalah sebagian dr Dana , yaitu berbuat baik dgn uang dan tenaga saja, sedangkan bila tidak diikuti tekad melaksanakan Sila maka masih terus berbuat kejahatan2 lain misalnya korupsi, menipu, menghalalkan segala cara dlm cari nafkah, suka marah2, emosi tidak stabil, mudah tersinggung, narkoba, menyeleweng dsb. Tentunya utk hidup bahagia saja susah, apalagi terlahir di alam bahagia nantinya.
Meditasi melatih pikiran dan batin kita supaya tenang, jernih sehingga berbuah kebijaksanaan. Dan sangatlah "mubazir" bila jasa2 kebajikan ini tidak di persembahkan dan dilimpahkan kepada makhluk lain yg membutuhkan.
* Banyak ajaran2 yg mengatasnamakan Ajaran Buddha, mereka mengajarkan menghormati Orangtua, tata krama, sopan santun, retret memakai jubah putih, vegetarian, dsb....tetapi mereka bukan Ajaran Buddha Gotama , Ajaran Buddha ada 3 ciri utama : 1. Buddha Gotama yg mengajarkan Dhamma Ajaran Buddha 2. Memiliki Kitab Suci Tipitaka/Tripitaka 3. Adanya Anggota Sangha yg tidak berumah tangga. Inilah 3 ciri minimal Ajaran Buddha Gotama. Berhati2lah banyak yg terjebak dan tidak menyadari ini, mereka mengajarkan yg baik, tetapi yg baik belum tentu benar.
* Ada pandangan yg mengatakan bahwa zaman sekarang "tidak perlu" lagi baca Paritta, baca Sutra, Pelimpahan Jasa, laksanakan Sila dan meditasi. Yang penting sekarang adalah bakti sosial, membantu sesama....... ini pandangan yg salah besar.
Buddha mengajarkan Dana, Sila, Samadhi, Panna.
Baksos hanyalah sebagian dr Dana , yaitu berbuat baik dgn uang dan tenaga saja, sedangkan bila tidak diikuti tekad melaksanakan Sila maka masih terus berbuat kejahatan2 lain misalnya korupsi, menipu, menghalalkan segala cara dlm cari nafkah, suka marah2, emosi tidak stabil, mudah tersinggung, narkoba, menyeleweng dsb. Tentunya utk hidup bahagia saja susah, apalagi terlahir di alam bahagia nantinya.
Meditasi melatih pikiran dan batin kita supaya tenang, jernih sehingga berbuah kebijaksanaan. Dan sangatlah "mubazir" bila jasa2 kebajikan ini tidak di persembahkan dan dilimpahkan kepada makhluk lain yg membutuhkan.
Karma atau Tuhan
Stephen Hawking: Sains Lebih Meyakinkan dari Tuhan
"Sebelum kita memahami ilmu pengetahuan, wajar kalau kita meyakini Tuhan lah yang menciptakan alam semesta. Tapi sekarang sains menawarkan penjelasan yang lebih meyakinkan"
Selengkapnya http://bit.ly/1voI7c9
-----------------
TUHAN atau KARMA, yang mana yang Nyata?
Sahabat,
sosok yg maha ini dulunya pernah membuat saya lemah dan goyah tanpa arah dan tujuan pasti... ketika dihadapkan kepada permasalahan kehidupan yg berat saya hanya bisa berdoa "Oh Tuhan Tolonglah.."
kemudian hari demi hari berlalu.... masalah yg saya hadapi akibatnya kutanggung sendiri jua... kemudian sambil menangis saya bertanya kepadanya "Mengapa dan Mengapa" tp tidak pernah ada jawaban sehingga terkadang munculllah pikiran menyalahi tuhan atas derita nasib & masalah yg menimpa saya... tak pernah saya berusaha untuk lebih banyak berbuat kebajikan... karena pikiran saya telah terpatri adanya suatu sosok yg dapat menolong saya di kehidupan ini ataupun setelah mati. hasilnya nol besar... yg ada hanya pikiran yg berusaha membenarkan semua kesemuan ini...dan semakin saya menjadi goyah dan ragu...
Kemudian saya mengenal yg namanya "Karma"
Setelah mengenal karma pikiran saya lebih terbuka & bersikap lebih bijaksana... dan tidak pernah saya menyesali beratnya masalah kehidupan yg saya hadapi yg merupakan buah karma yg dulu saya perbuat... sehingga membuat saya lebih damai dan terus menerus menambah perbuatan baik.... serta pikiran saya sudah tidak pernah menyalahkan tuhan lagi...damainya hatiku....
Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung
atau di manapun juga dapat ditemukan suatu tempat
bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan diri
dari akibat perbuatan jahatnya.
(Dhammapada syair 227.)
"Karenanya, Ananda,
bersemayamlah sebagai pulau bagi dirimu sendiri,
pelindungmu sendiri, tiada pelindung lain;
Dhamma sebagai pulaumu,
Dhamma sebagai pelindungmu,
tiada pelindung lain."
(Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya.)
"Sebelum kita memahami ilmu pengetahuan, wajar kalau kita meyakini Tuhan lah yang menciptakan alam semesta. Tapi sekarang sains menawarkan penjelasan yang lebih meyakinkan"
Selengkapnya http://bit.ly/1voI7c9
-----------------
TUHAN atau KARMA, yang mana yang Nyata?
Sahabat,
sosok yg maha ini dulunya pernah membuat saya lemah dan goyah tanpa arah dan tujuan pasti... ketika dihadapkan kepada permasalahan kehidupan yg berat saya hanya bisa berdoa "Oh Tuhan Tolonglah.."
kemudian hari demi hari berlalu.... masalah yg saya hadapi akibatnya kutanggung sendiri jua... kemudian sambil menangis saya bertanya kepadanya "Mengapa dan Mengapa" tp tidak pernah ada jawaban sehingga terkadang munculllah pikiran menyalahi tuhan atas derita nasib & masalah yg menimpa saya... tak pernah saya berusaha untuk lebih banyak berbuat kebajikan... karena pikiran saya telah terpatri adanya suatu sosok yg dapat menolong saya di kehidupan ini ataupun setelah mati. hasilnya nol besar... yg ada hanya pikiran yg berusaha membenarkan semua kesemuan ini...dan semakin saya menjadi goyah dan ragu...
Kemudian saya mengenal yg namanya "Karma"
Setelah mengenal karma pikiran saya lebih terbuka & bersikap lebih bijaksana... dan tidak pernah saya menyesali beratnya masalah kehidupan yg saya hadapi yg merupakan buah karma yg dulu saya perbuat... sehingga membuat saya lebih damai dan terus menerus menambah perbuatan baik.... serta pikiran saya sudah tidak pernah menyalahkan tuhan lagi...damainya hatiku....
Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung
atau di manapun juga dapat ditemukan suatu tempat
bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan diri
dari akibat perbuatan jahatnya.
(Dhammapada syair 227.)
"Karenanya, Ananda,
bersemayamlah sebagai pulau bagi dirimu sendiri,
pelindungmu sendiri, tiada pelindung lain;
Dhamma sebagai pulaumu,
Dhamma sebagai pelindungmu,
tiada pelindung lain."
(Mahaparinibbana Sutta, Digha Nikaya.)
Dosa Sang Maha Kuasa
Bila ada Sang Maha Kuasa yg dapat mendatangkan bagi setiap mahluk ciptaanya keBahagiaan atau Penderitaan, perbuatan baik maupun jahat, maka yg Maha Kuasa itu diliputi Dosa, sedangkan manusia hanya menjalankan perintahnya saja !
~ Mahabodhi Jataka 528
_/\_ 阿彌陀佛
Semoga Semua Makhluk Berbahagia
Sadhu Sadhu Sadhu..
~ Mahabodhi Jataka 528
_/\_ 阿彌陀佛
Semoga Semua Makhluk Berbahagia
Sadhu Sadhu Sadhu..
Minggu, 14 Desember 2014
Kebahagiaan
KEBAHAGIAAN...
Ketika gelap, baru tersadarkan arti dari terang.
Ketika kekeringan, baru tersadarkan arti dari air.
Ketika kehilangan, baru tersadarkan arti dari memiliki.
Ketika sakit, baru tersadarkan arti dari kesehatan.
Ketika berpisah, baru tersadarkan arti dari kebersamaan.
Ketika mati, baru tersadarkan arti dari kehidupan.
Sungguh disayangkan "kesadaran"selalu datang terlambat...
Bukan kejadian yang membuat kita bahagia/ sedih tetapi saat harus memilih diantara keduanya.
Kemarin sudah tiada, esok belum tiba, kita hanya punya 1 hari yaitu hari ini.
Jangan sesali yang telah berlalu...
itu perbuatan sia2.
Yakini bahwa kebahagiaan adalah hasil dari memberi & melayani.
Tidak mungkin akan timbul kebahagiaan diatas penderitaan orang lain.
Syukurilah apa yang telah dimiliki, agar kebahagiaan selalu berada di sisi kita.
Jangan cari kesempurnaan tetapi sempurnakanlah yang telah ada.
Ketika gelap, baru tersadarkan arti dari terang.
Ketika kekeringan, baru tersadarkan arti dari air.
Ketika kehilangan, baru tersadarkan arti dari memiliki.
Ketika sakit, baru tersadarkan arti dari kesehatan.
Ketika berpisah, baru tersadarkan arti dari kebersamaan.
Ketika mati, baru tersadarkan arti dari kehidupan.
Sungguh disayangkan "kesadaran"selalu datang terlambat...
Bukan kejadian yang membuat kita bahagia/ sedih tetapi saat harus memilih diantara keduanya.
Kemarin sudah tiada, esok belum tiba, kita hanya punya 1 hari yaitu hari ini.
Jangan sesali yang telah berlalu...
itu perbuatan sia2.
Yakini bahwa kebahagiaan adalah hasil dari memberi & melayani.
Tidak mungkin akan timbul kebahagiaan diatas penderitaan orang lain.
Syukurilah apa yang telah dimiliki, agar kebahagiaan selalu berada di sisi kita.
Jangan cari kesempurnaan tetapi sempurnakanlah yang telah ada.
Langganan:
Postingan (Atom)